Anda di halaman 1dari 32

Laporan Praktikum Kimia Dasar

IKATAN KIMIA

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041 20 1088

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANA TEKNIS MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
Laporan Praktikum Kimia Dasar

IKATAN KIMIA

Disusun dan diajukan oleh:

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041 20 1088

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh:

Makassar, 13 November 2020

Asisten, Praktikan,

FIORELLA BADZLI IRHEN


IRZHA ADIWIRA LIE
NIM. H041 20 1088
NIM. H031 17 1505
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan

Alam yang berkaitan dengan sifat-sifat zat, struktur zat, perubahan zat,

hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang menggambarkan perubahan zat,

serta konsep-konsep dan teori-teori yang menjelaskan terjadinya perubahan

zat. Kajian ilmu kimia meliputi struktur materi, komposisi, sifat,

perubahannya serta energi yang terlibat dalam perubahan tersebut. (Wahdan

dkk., 2017). Sejak penemuan struktur elektronik atom-atom, ahli kimia kini

mampu menyelidiki bagaimana cara-cara atom dari jenis yang satu

bergabung dengan jenis yang lain membentuk senyawa dengan Ikatan

Kimia. Ikatan kimia sendiri adalah gaya tarik menarik antara atom-atom

sehingga atom-atom tersebut tetap berada bersama-sama dan terkombinasi

dalam senyawaan. Gagasan tentang pembentukan ikatan kimia ditermukan

oleh Lewis dan Langmuir serta Kossel. Dalam pembentukan ikatan kimia,

golongan gas mulia ssngat sulit membentuk ikatan kimia. Diduga bila gas

mulia bersenyawa dengan unsur lain, tentunya ada suatu keunikan dalam

konfigurasi slsektronnya yang mencegah persenyawaan dengan unsur lain.

Bila dugaan tersebut benar, maka suatu atom yang bergabung dengan atom

lain membentuk suatu senyawa mungkin mengalami perubahan dalam

konfigurasi elektronnya yang mengakibatkan atom-atom tersebut lebih

menyerupai gas mulia (Elida,1996).


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah membedakan senyawa yang mempunyai

ikatan elektrovalen dan ikatan kovalen serta membedakan reaksi pembentukan

kompleks dan bukan kompleks.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini, yaitu:

1. membedakan senyawa yang mempunyai ikatan elektrovalen dan

ikatan kovalen.

2. membedakan reaksi pembentukan kompleks dan bukan kompleks.

I.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah memperhatikan perubahan yang

terjadi atau reaksi yang terjadi pada setiap tabung reaksi. Serta membedakan

senyawa elektrovalen dan kovalen dengan cara dilarutkan dalam larutan

AgNO3 setiap sampel dan kemudian dibuktikan dengan terbentuk atau

tidaknya endapan, membedakan reaksi senyawa kompleks dan bukan

kompleks dengan cara ditetesi larutan KCNS pada setiap sampel, serta

kekuatan ikatan sampel berdasarkan tingkat keasaman dengan cara ditetesi

indikator metil orange (MO).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Ikatan Kimia

Suatu atom yang bergabung dengan atom lain membentuk suatu

senyawa mungkin mengalami perubahan dalam konfigurasi elektronnya

yang mengakibatkan atom-atom tersebut menyerupai gas mulia.

Berdasarkan gagasan tersebut, lemudian dikembangkan suatu teori yang

disebut Teori Lewis. Di mana dalam teori tersebut dikemukakan; (a)

elektron-elektron yang berada pada kulit terluar (elektron valensi)

memegang peranan utama dalam pembentukan ikatan kimia, (b)

pembentukan ikatan kimia mungkin terjadi dengan dua cara yaitu karena

adanya perpindahan satu atau lebih elektron dari satu atom ke atom lain

sedemikiran rupa sehingga terdapat ion positif dan ion negatif yang

keduanya saling tarik menarik karena muatannya berlawanan, membentuk

sebuah ikatan ion, cara kedua yaitu karena adanya pemakaian bersama

pasangan elektron di antara atom-atom yang berikatan. Jenis ikatan yang

terbentuk disebut ikatan kovalen, dan (c) perpindahan elektron atau

pemakaian bersama pasangan elektron berlangsung sedemikian rupa

sehingga setiap atom yang berikatan mempunyai suatu konfigurasi elektron

yang mantap, yaitu konfigurasi dengan 8 elektron valensi (Elida, 1996). Satu

alat yang penting dalam pembentukan ikatan kimia ialah diagram titik

elektron Lewis, yang menggambarkan perpindahan atau pemakaian bersama

elektron di antara atom. Model ikatan menurut Lewis dapat menjelaskan

rumus senyawa, tetapi tidak memberikan informasi mengenai bentuk


molekul. Untuk menjelaskan bentuk, model Lewis harus didukung oleh alat

kedua, yaitu teori Tolakan Pasangan Elektron Kulit Valensi (VSEPR.

Valence Shell Electron Pair Repulsion) (Oxtoby, 2001).

Konsep tentang ikatan kimia pertama kali dikemukakan pada tahun

1916 oleh Gilbert Newton Lewis dari Amerika dan Albrecht Kossel dari

Jerman. Penemuan konsep tentang iktakan kimia ini didasari dari beberapa

kenyataan tentang sifat-sifat atom dalam unsur yaitu sebagai berikut:

 Kenyataan bahwa unsur gas mulia (gologan VIIIA) yaitu He, Ne, Ar, Kr,

Xe dan Rn sukar membentuk senyawa. Hal ini mengindikasikan bahwa

unsur gas mulia memiliki susunan elektron yang stabil

 Setiap atom mempunyai kecenderungan untuk memiliki susunan elektron

yang stabil seperti gas mulia

 Untuk memperoleh susunan elektron yang stabil hanya dapat dicapai

dengan cara berikatan dengan atom lain, yaitu dengan cara melepaskan

elektron, menangkap elektron, maupun pemakaian elektron secara

bersama-sama (Sulakhudin, 2019).

2.2 Ikatan Kimia

Bila dua atom atau lebih saling berdekatan, elektron- elektronnya

berinteraksi dan membentuk susunan elektron baru di seputar inti yang

memiliki energi potensial total yang lebih rendah daripada atom terisolasi.

Pengurangan energi ini menstabilkan susunan itu telatif terhadap atom

terisolasi tersebut melalui pembentukan ikatan kimia. Ikatan kimia terbentuk

melalui penggunaan elektron bersama atau pengalihan elektron di antara


atom. Terdapat dua konsep ideal megenai model ikatan kimia. Bila elektron

digunkan bersama di antara atom, ikatan diantaran keduanya disebut Ikatan

Kovalen. Bila elektron berpindah dari satu atom ke atom lain, ikatan yang

dihasilkan disebut Ikatan Ionik. Kebanyakan ikatan nyata tidak ada yang

benar-benar ionik atau sepenuhnya kovalen. Molekul nyata menunjukkan

adanya suatu kontinum dari ikatan ionik murni sampai ikatan kovalen murni,

dan kebanyakan memiliki sifat campuran antara ionik dan kovalen. Ikatan

yang terjadi karena perpindahan muatan secara parsial ialah kovalen polar

(Oxtoby, 2001).

Setiap gugus atom yang netral yang bergabung cukup kuat

dinyatakan sebagai satuan yang disebut molekul. Gaya tarik antara dua ato

dalam molekul disebut ikatan kimia. Dalam atom terisolasi maka setiap

elektron hanya dipengaruhi oleh satu inti dan elektron-elektron yang lain.

Bila atom bergabung, maka elektron-elektron dari satu atom dipengaruhi

oleh elektron-elektron dan inti dari atom-atom yang lain. Interaksi ini dapat

menghasilkan suatu gaya tarik antara dua atom. Jika hal ini terjadi, maka

susunan elektron yang terbentuk harus memberikan suatu keadaan yang

lebih stabil. Atau dengan lain perkataan, pembentukan suatu ikatan kimia

diharapkan terbentuk molekul yang berada pada tenaga lebih rendah bila

dibandingkan terhadap atom-atom yang terisolasi (Sastrohamidjojo, 2018).

2.2.1 Ikatan Elektrovalen

Ikatan Elektrovalen atau Ikatan Ion merupakan ikatan yang terjadi

karena adanya gaya tarik menarik antar ion negatif (anion) dengan ion
positif (kation). Gaya tarik menarik ini disebut juga sebagai gaya

elektrostatik. Ikatan elektrovalen murni dapat diamati sebagai molekul bebas

pada keadaan gas hanya dengan suhu yang sangat tinggi. Pada suhu kamar,

senyawa ionik terdapat dalam bentuk kristal yang disebut kristal ion. Ikatan

Ionik menghasilkan kristal yang sangat besar dalam keadaan padat. Kristal

ion terdiri dari ion positif dan ion negatif, dengan susunan/struktur yang

teratur dan ditentukan oleh muatan dan jari-jari ion pembentuknya (Hasan

dkk, 2017). Pembentukan ikatan ion dapat terjadi dari reaksi atom yang

mempunyai potensial ionisasi rendah artinya tidak banyak tenaga yang

dibutuhkan untuk melepapskan elektron terluar, dengan atom yaang

memiliki afinitas elektron tinggi artinya tenaga yang dilepaskan bila elektron

menambah pada atom netral untuk menghasilkan suatu konfigurasi gas

mulia yang disebut oktet (Sastrohamidjojo, 2018).

2.2.2 Ikatan Kovalen

Ikatan kovalen terjadi bila terdapat emakaian bersama sepasang

atau lebih elektron yang menyebabkan atom-atom yang berikatan

memperolah susunan oktet. Ikatan kovalen umumnya terjadi antara

unsur-unsur nonlogam. Unsur nonlogam disebut juga unsur

elektronegatif, misalnya unsur H (hidrogen), unsur-unsur golongan VI A

dan VII A (Elida,1996). Berdasarkan jumlah ikatan, ikatan kovalen

dibedakan menjadi ikatan kovalen tunggal, ikatan kovalen rangkap dua,

kovalen rangkap tiga, dan ikatan kovalen koordinasi. Berdasarkan

kepolaran, ikatan kovalen dibedakan menjadi ikatan kovalen polar dan non
polar. Ikatan kovalen memiliki titik didih dan titik leleh rendah.Bentuk

larutan kovalen polar dapat menghantarkan arus listrik (Saraha dkk, 2017).

Ikatan kovalen tertentu mempunyai sifat-sifat yang tertentu pula, yaitu

polaritas. Jika dua atom dihubungkan dengan elektron-elektron yang

digunakan bersama melalui ikatan kovalen, kedua inti dipertahankan oleh

kabut elektron yang sama. Namun dalam kebanyakan hal dua inti terebut

tidak dikelilingi oleh elektron yang sama, kabut elektron lebih rapat di

sekitar satu atom daripada atom yang lain. Akibatnya satu ujung ikatan

relatif negatif sedangkan ujung ikatan yang lain relatif positif, hingga terjadi

kutub negatif dan kutub positif. Ikatan seperti itu disebut ikatan kovalen

polar atau memiliki polaritas. (Sastrohamidjojo, 2018).

2.2.3 Ikatan Kovalen Koordinasi

Ikatan kovalen yang terjadi bila pasangan elektron yang digunakan

bersama hanya berasal dari salah satu atom yang berkatan (disebut donor),

sesangkan atom yang lain hanya menyediakan tempat. Ikatan kovalen

koordinat dapat terjadi bila suatu atom (atau molekul) memiliki pasangan

elektron bebas yang tidak digunakan. Beberapa molekul senyawa yang di

dalamnya mengandung ikatan kovalen koordinat adalah H2SO4 dan NH4+.

Pada H2SO4 yang menjadi atom donor adalah atom S, sedangkan pada

senyawa NH4+ yang menjadi donor adalah atom N. Proses pembentukan ion

NH4+.dari molekul NH3 yang berikatan dengan ion H+. Molekul NH3

memiliki pasangan elektron bebas yang belum dipakai, sedangkan ion H +

mempunyai tempat untuk sepasang elektron. (Elida,1996).


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah NaCl

(Natrium klorida), AgNO3 (Perak nitrat), CHCl3 (Kloroform), HCl (Asam

klorida), CH3COOH (Asam asetat), C2H5OH (Etanol), indikator metil

orange (MO), CuSO4 (Tembaga sulfat), NH4OH (Amonium hidroksida),

BaCl2 (Barium klorida), K3Fe(CN)6 (Kalium ferisianida), K4Fe(CN)6

(Kalium ferosianida) FeCl3 (Besi (III) klorida), KCNS (Kalium Tiosianat)

dan kertas label.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi,

rak tabung reaksi dan pipet tetes.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pengendapan Garam Klorida

Menyiapkan 2 tabung reaksi yang masing-masing diberi label

sebagai penanda dimana tabung reaksi (1) NaCl dan tabung reaksi (2)

CHCl3. Kemudian masing-masing tabung ditambahkan 1 mL AgNO3.

Tabung reaksi (1) ditambahkan NaCl sebanyak 2-3 tetes. Dan tabung reaksi

(2) ditambahkan CHCl3 sebanyak 2-3 tetes. Setelah itu kedua tabung

dihomogenkan. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.


3.3.2 Reaksi dengan Indikator Metil Orange (MO)

Menyiapkan 3 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) ditambahkan

HCl sebanyak 2 mL. Setelah itu ditambahkan indikator metil orange

sebanyak 3 tetes. Tabung reaksi (2) ditambahkan CH3COOH sebanyak 2

mL. Setelah itu ditambahkan indikator metil orange sebanyak 3 tetes.

Tabung reaksi (3) ditambahkan C2H5OH sebanyak 2 mL. Setelah itu

ditambahkan indikator metil orange sebanyak 3 tetes. Ketiga tabung

dihomogenkan. Dicatat dan diamati perubahan yang terjadi.

3.3.3 Pengendapan Garam Hidroksida

3.3.3.1 Reaksi Dengan Sedikit NH4OH

Menyiapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) untuk BaCl2

dan tabung reaksi (2) untuk K4Fe(CN)6. Tabung reaksi (1) ditambahkan 1

mL CuSO4, kemudian ditambahkan NH4OH sebanyak 3 tetes. Setelah itu

ditambahkan BaCl2 sebanyak 3 tetes lalu tabung dihomogenkan. Diamati

dan dicatat perubahan yang terjadi. Tabung reaksi (2) ditambahkan 1 mL

CuSO4 kemudian ditambahkan NH4OH sebanyak 3 tetes. Setelah itu

ditambahkan K4Fe(CN)6 sebanyak 3 tetes. Tabung dihomogenkan. Diamati

dan dicatat perubahan yang terjadi.

3.3.3.2 Reaksi Dengan NH4OH Berlebih

Menyiapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) untuk BaCl2

dan tabung reaksi (2) untuk K4Fe(CN)6. Tabung reaksi (1) ditambahkan 1

mL CuSO4, kemudian ditambahkan NH4OH sebanyak 1 mL, ditambahkan


BaCl2 sebanyak 3 tetes lalu tabung dihomogenkan. Diamati dan dicatat

perubahan yang terjadi. Tabung reaksi (2) ditambahkan 1 mL CuSO4,

kemudian ditambahkan NH4OH sebanyak 1 mL, ditambahkan K4Fe(CN)6

sebanyak 3 tetes lalu tabung dihomogenkan. Diamati dan dicatat perubahan

yang terjadi.

3.3.3.2 Reaksi Tanpa NH4OH

Tabung reaksi (1) ditambahkan 1 mL CuSO4, kemudian

ditambahkan BaCl2 sebanyak 3 tetes lalu tabung dihomogenkan. Diamati

dan dicatat perubahan yang terjadi. Tabung reaksi (2) ditambahkan 1 mL

CuSO4, kemudian ditambahkan K4Fe(CN)6 sebanyak 3 tetes lalu tabung

dihomogenkan. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

3.3.4 Reaksi Dengan KCNS

Menyiapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) ditambahkan

1 mL FeCl3, kemudian ditambahkan KCNS sebanyak 2-3 tetes lalu tabung

dihomogenkan. Tabung reaksi (2) ditambahkan K3Fe(CN)6, kemudian

ditambahkan KCNS sebanyak 2-3 tetes lalu tabung dihomogenkan. Diamati

dan dicatat perubahan yang terjadi.


BAB IV

HASIL DAN
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Tabel Pengamatan

Tabel 1. Pengendapan garam klorida


Larutan Ditambah AgNO3 Keterangan
NaCl
Larutan keruh, endapan putih. Ikatan ion
CHCl3
Tidak terdapat endapan dan terdapat 2 fasa Ikatan kovalen

Tabel 2. Reaksi dengan indikator metil orange (MO)


Larutan Ditambah MO Keterangan

HCl Larutan merah bata Asam kuat

CH3COOH Larutan merah Asam lemah

C2H5OH Larutan jingga Basa lemah

Tabel 3. Pengendapan garam hidroksida


Ditambah Pereaksi
Larutan Keterang
BaCl2 K4Fe(CN)6 an

CuSO4+ NH4OH Larutan biru keruh dan Larutan merah bata dan Senyawa
Sedikit terdapat endapan terdapat endapan kompleks
CuSO4 + NH4OH Larutan biru keruh dan Larutan merah bata, dan Senyawa
Berlebih terdapat endapan putih terbentuk endapan. kompleks

Larutan biru muda dengan Larutan merah bata dan Bukan senyawa
CuSO4
endapan putih. terdapat endapan kompleks

Tabel 4. Reaksi dengan kalium tiosianat (KCNS)


Larutan Ditambah KCNS Keterangan

FeCl3 Larutan berwarna merah kecoklatan Senyawa kompleks

Tidak mengalami perubahan warna


K4Fe(CN)6 Bukan senyawa kompleks
dan tidak terdapat endapan

4.1 Reaksi

4.1.1 Reaksi Pengendapan Garam Klorida

NaCl + AgNO3 AgCl↓ + NaNO3

CHCl3 + AgNO3 tidak bereaksi

4.1.2 Reaksi Pengendapan Garam Hidroksida

CuSO4 + 2NH4OH (sedikit) Cu(OH)2 + (NH4)2SO4

Cu(NH3)4SO4 + BaCl2 Cu(NH3)4Cl2 + BaSO4↓

Cu(NH3)4SO4 + K4Fe(CN)6 [Cu(NH3)4]2 [Fe(CN)6] + 2K2SO4↓

CuSO4 + 4NH4OH (berlebih) Cu(NH3)4SO4 + 4H2O


Cu(NH3)4 SO4 + BaCl2 Cu(NH3)4Cl2 + BaSO4↓

Cu(NH3)4SO4 + K4Fe(CN)6 [Cu(NH3)4]2[Fe(CN)6 + 2K2SO4↓

CuSO4 + BaCl2 CuCl2 + BaSO4

CuSO4 + K4Fe(CN)6 Cu2[Fe(CN)6] + 2K2SO4

4.1.3 Reaksi dengan KCNS

FeCl3 + 3KCNS Fe(CNS)3 + 3KCl

K4Fe(CN)6 + KCNS tidak bereaksi

4.2 Pembahasan

Percobaan pertama dilakukan pengendapan garam klorida.

Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan AgNO3 dengan NaCl dan

CHCl3. Hasilnya, endapan terbentuk ketika dilarutkan dengan NaCl. Ketika

dipecah maka akan menjadi Na+, Cl-, Ag+, dan NO3-. Karena terdiri dari ion-

ion yang sangat mudah bereaksi terutama Na+ maka kedua senyawa tersebut

dapat bereaksi di mana atom positif bergabung dengan atom negatif dan

sebaliknya. Ikatan ini lah yang dikenal dengan ikatan ion. Sedangkan untuk

CHCl3, Larutan tidak mengalami perubahan apapun, yang menunjukkan

bahwa tidak terjadi reaksi antara kedua larutan. CHCl3 termasuk ikatan

kovalen, karena terjadi pemakaian bersama pasangan elektron valensi antara

atom C, H, dan Cl. Ikatan kovalen biasanya terjadi antara atom-atom yang

memiliki perbedaan elektronegativitas yang rendah dan atom-atomnya sukar

diganti oleh atom lain sehingga tidak dapat bereaksi meskipun direaksikan
dengan senyawa lain.

Percobaan kedua dilakukan dengan menggunakan indikator metil

orange atau MO. Penambahan MO dilakukan pada larutan HCl, CH3COOH

dan C2H5OH. Larutan HCl yang di tetesi berubah warna menjadi merah

terang karena bersifat asam kuat. Larutan CH3COOH berubah warna

menjadi merah redup karena bersifat asam lemah. Larutan C2H5OH berubah

warna menjadi jingga karena ia bersifat basa. Tingkat keasaman dari tinggi

kerendah yaitu HCl, CH3COOH, C2H5OH sehingga semakin kuat tingkat

keasaman maka ikatannya semakin kuat pula.

Percobaan ketiga yang menggunakan garam hidroksida yang

semua senyawanya bereaksi. Hal ini ditandani dengan adanya terjadi

perubahan warna setelah dicampurkan. Lain halnya dengan larutan dengan

penambahan NH3, hanya yang direaksikan dengan FeCl3 saja yang bereaksi

sedangkan ketika dengan larutan CuSO4. Menurut Svehla (1985), larutan

CuSO4 setelah ditambahkan NH4OH bereaksi dengan BaCl2 dan K4Fe(CN)6

akan terbentuk endapan berturut-turut endapan biru dan endapan cokelat

sedangkan pada praktikum didapatkan hasil yaitu pada saat sepasang tabung

reaksi pertama masing-masing diisi dengan BaCl2 dan K4Fe(CN)6,

didapatkan larutan yang berubah menjadi berwarna biru keruh terdapat

endapan berwarna putih, sedangkan yang berubah menjadi warna biru

terdapat endapan warna cokelat, kedua tabung reaksi membentuk ikatan ion

dan merupakan senyawa kompleks. Kita juga dapat membedakan yang mana

senyawa kompleks dan bukan dengan melihat apakah terbentuk endapan

atau tidak setelah direaksikan.


Percobaan reaksi pembentukan senyawa kompleks bertujuan untuk

membedakan senyawa kompleks dan bukan kompleks dengan melihat

apakah terjadi perubahan warna atau tidak, berbeda dengan percobaan 3

yang juga melihat adanya endapan, FeCl3 ditambah KCNS mengalami

perubahan warna menjadi merah kecokelatan dan termasuk senyawa

kompleks dan senyawa K3Fe(CN)6 ditambah KCNS tidak mengalami

perubahan warna dan bukan termasuk senyawa kompleks. KCNS berfungsi

untuk sebagai pendeteksi warna.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Ikatan ion dan ikatan kovalen dapat dibedakan berdasarkan terjadinya

endapan. Apabila terbentuk endapan maka termasuk ikatan ion dan apabila

tidak terbentuk endapan maka termasuk ikatan kovalen. Ikatan kovalen akan

semakin kuat apabila tingkat keasaman suatu senyawa semakin tinggi.

Adapun yang termasuk ikatan ion adalah NaCl sedangkan yang termasuk

ikatan kovalen adalah CCl4 dan CHCl3.

2. Senyawa kompleks dan bukan kompleks dapat dibedakan dengan dua

cara yaitu adanya pengendapan dan adanya perubahan warna. Termasuk

senyawa kompleks yaitu jika terjadi perubahan warna atau terbentuk

endapan, begitupun sebaliknya bukan senyawa kompleks apabila tidak

terjadi perubahan warna atau pengendapan. Adapun yang termasuk senyawa

kompleks yaitu CuSO4 + NH4OH sedikit, CuSO4 + NH4OH berlebih, dan

FeCl3, sedangkan yang bukan senyawa kompleks yaitu CuSO4 dan

K3Fe(CN)6.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Praktikum

Sebaiknya pada video praktikum diberikan keterangan yang lebih

lanjut mengenai pembahasan pembahasan terkait percobaan.


5.2.2 Saran untuk Asisten

Sebaiknya asisten lebih memerhatikan praktikan apakah praktikan

telah mengerti sepenuhnya atau belum menganai praktikum terkait.


DAFTAR PUSTAKA

Elida, T., 1996, Pengantar Kimia, Gunadama, Jakarta.

Hasan, M., Fiti, Z., Rahmayani, R.F.I., 2017, Ikatan Kimia, Syiah Kuala
University Press, Banda Aceh.

Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., dan Nachtrieb, N.H., 2001, Prinsip-Prinsip


Kimia Modern, diterjemahkan oleh Achmadi, S.S., Erlangga, Jakarta.

Saraha, A.R., Rakhman, K.A., dan Rahman, N.A., 2017, Kimia Dasar 1,
CV.Rasi Terbit, Bandung.
Sastrohamidjojo, H., 2018, Kimia Dasar, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Sulakhudin, 2019, Kimia Dasar: Konsep Dan Aplikasi Dalam Ilmu


Tanah, Deepublish, Yogyakarta

Wahdan, W.Z., Sulistina, O., dan Sukarianingsih, D., 2017, Analisis


Kemampuan Berargumentasi Ilmiah Materi Ikatan Kimia Peserta
Didik SMA, MAN, dan Perguruan Tinggi Tingkat I. Jurnal
Pembelajaran Kimia,2(2);30-40.
Lampiran 1. Bagan Kerja

1. Pengendapan Garam Klorida

NaCl CHCl3

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak

2-3 tetes.

- Ditambahkan dengan larutan AgNO3 1 mL.

- Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

Hasil

2.Reaksi dengan Indikator Metil Orange

HCl CH3COOH C2H5OH

- Dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi sebanyak

2 mL

- Ditambahkan metil jingga (MO) 3 tetes.

- Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

Hasil
3. Pengendapan Garam Hidroksida

CuSO4 + NH4OH CuSO4 + NH4OH


CuSO4
(sedikit) (berlebih)

- Masing-masing larutan dimasukkan ke

dalam 6 tabung reaksi yang berbeda-beda

sebanyak 1 mL. Setiap larutan dalam 2

tabung reaksi. Ditambahkan NH4OH

sampai tidak terjadi endapan.

- Tabung reaksi (1), (3). Dan (5) ditetesi

BaCl2, tabung reaksi (2), (4) dan (6)

ditetesi K4Fe(CN)6 masing-masing

sebanyak 3 tetes.

- Diamati dan dicatat perubahan yang

terjadi.

Hasil

4. Reaksi dengan KCNS

FeCl3 K4Fe(CN)6

- Ditambahkan KCNS 2-3 tetes

- Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

Hasil
Lampiran 2. Dokumentasi Percobaan

2.1 Pengendapan Garam Klorida

2.2 Reaksi dengan Indikator Metil Orange (MO)

2.3 Pengendapan Garam Hidroksida


2.4 Reaksi dengan KCNS

Anda mungkin juga menyukai