Anda di halaman 1dari 33

Laporan Praktikum

Kimia Dasar

KESETIMBANGAN ASAM BASA

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041201088

KELOMPOK IV

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
Laporan Praktikum Kimia Dasar

KESETIMBANGAN ASAM BASA

Disusun dan diajukan oleh:

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041201088

Laporan praktikum telah diperiksa dan disetujui oleh :

Makassar, Desember 2020

Asisten Praktikan

YOHANES YOSEPH DEO FIORELLA BADZLI IRHEN LIE


NIM : H031171504 NIM : H041201088
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indikator adalah pewarna atau pigmen yang bisa terisolasi dari berbagai

sumber, termasuk tanaman, jamur, dan ganggang. Hampir semua bunga misalnya,

berwarna merah, warna biru, atau ungu mengandung pigmen organik disebut

antosianin yang berubah warna dengan pH. Penggunaan pewarna alami sebagai

indikator asam basa pertama kali dilaporkan di Indonesia tahun 1664 oleh Sir Robert

Boyle dalam kumpulan esainya Sejarah Eksperimental Warna. Boyle membuat sebuah

kontribusi penting untuk teori awal asam dan dasar dengan menggunakan indikator

untuk klasifikasi eksperimental dari zat ini. Semua indikator pH berubah warna

tergantung apakah mereka menyumbangkan atau menerima proton, dimana asam

bertindak sebagai donor proton sedangkan basa bertindak sebagai akseptor proton.

(Bhise, 2014).

Indiktor pH biasanya asam lemah atau basa lemah yang berubah warna sesuai

pH larutan yang dengannya telah ditambahkan. Beberapa indikator pH standar adalah

fenolftalein, metil jingga, biru metelin, dan lain lain, tidak ada indikator yang

memiliki perubahan warna terjadi pada rentang pH, yang berbeda untuk indikator

yang berbeda (Pradeep, 2013). Pada dasarnya pengendalian pH bertujuan untuk

mengatur harga pH sesuai dengan nilai yang diinginkan. Besar pH diperoleh dari

proses titrasi antara asam dan basa. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya

percobaan ketimbangan asam basa pada suatu larutan (Chandra, 2012).


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan kesetimbangan asam basa adalah untuk mengetahui

pH larutan asam lemah menggunakan kertas pH universal, mengukur suhu larutan,

serta menentukan pengaruh pengeceran terhadap nilai pH, tetapan kesetimbangan

ionisasi, dan derajat ionisasi larutan asam lemah.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini, yaitu:

1. menentukan pH larutan asam lemah dengan menggunakan kertas pH universal, dan

pH indikator yang digunakan.

2. menentukan pengaruh pengenceran terhadap nilai pH dan tetapan.

3. menentukan derajat ionisasi asam lemah berdasarkan nilai pH.

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan dari melakukan praktikum ini adalah untuk mengetahui

pengaruh pengenceran terhadap pH larutan, tetapan kesetimbangan ionisasi, dan

derajat ionisasi larutan asam formiat dan asam asetat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan

Kesetimbangan Kimia menjelaskan keadaan di mana laju reaksi manju dan

laju reaksi balik sama besar dan di mana konsentrasi reaktan dan produk tetap tidak

berubah seiring berjalannya waktu. Keadaan setimbang dinamik ini ditandai dari

hanya adanya satu konstanta kesetimbangan. Perubahan konsentrasi dapat

mempengaruhi posisi keadaan kesetimbangan, atau lebih tepatnya, jumlah relatif

reaktan dan produk. Perubahan tekanan dan volume mungkin dapat memberikan

pengaruh yang sama terhadap sistem gas pada kesetimbangan. Hanya perubahan suhu

yang dapat mengubah nilai konstanta kesetimbangan. Katalis dapat mempercepat

tercapainya keadaan kesetimbangan dengan mempercepat reaksi maju dan ereaksi

balik, tetapi katalis tidak dapat mengubah posisi kesetimbangan atau konstanta

kesetimbangan (Chang, 2003).

Kebanyakan reaksi kimia dilangsungkan dengan cara mencampurkan reaktan

tertentu dalam bejana reaksi yang dijaga pada T dan P tetap dan menunggu sampai

produk yang diharapkan tersebut muncul secara spontan. Dalam prakteknya, sejumlah

besar reaksi tidak dapat berlangsung secara sempurna tetapi lebih cenderung

mendekati suatu keadaan atau posisi kesetimbangan. Posisi kesetimbangan ini,

merupakan akhir dari reaksi tersebut, merupakan suatu pencampuran antara produk

yang dihasilkan dan reaktan yang tidak terpakai dan berada dalam jumlah yang telatif

tetap. Begitu kesetimbangan tercapai, praktis tidak ada lagi reaktan yang berubah
menjadi produk kecuali kondisi eksperimen dari reaksi (suhu dan tekanan) tersebut

berubah (Oxtoby dkk., 2001).

2.2 Kesetimbangan Asam Basa

Kesetimbangan asam-basa merupakan suatu topik utama yang sangat penting

dalam kimia dan bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi, kedokteran,

dan pertanian. Titrasi yang melibatkan asam dan basa digunakan secara luas dalam

pengendalian analitik banyak produk komersial, dan penguraian asam dan basa

mempunyai pengaruh yang penting atas proses-proses metabolisme dalam sel hidup.

Walaupun zat-zat dengan sifat asam dan basa telah dikenal dalam ratusan tahun.

Perlakuan terhadap kesetimbangan asam-basa kuantitatif baru dapat dilakukan setelah

tahun 1887, sejak Arrhenius mempresentasikan teorinya tentang penguraian

elektrolitik. Dalam larutan berair, menurut Arrhenius, asam teruai menjadi ion-ion

hidrogen dan anion, dan basa terurai menjadi ion-ion hidroksida dan kation

(Day, 2002).

Asam: HX H+ + X-

Basa: BOH OH- + B+

Asam lemah dan basa lemah tidak pernah terionisasi sepenuhnya di dalam air.

Jadi, pada kesetimbangan larutan asam lemah, misalnya, mengandung asam tak

terionisasi seperti ion H dan basa konjugasi. Namun, semua spesies ini larut, sehingga

sistem tersebut merupakan contoh kesetimbangan yang homogen (Chang, 2003).

Asam Lemah adalah asam yang di dalam sebuah larutannya hanya sedikit mengalami

reaksi ionisasi atau mempunyai derajat ionisasi yang kecil. Reaksi ionisasi yang

terjadi pada asam lemah merupakan reaksi kesetimbangan ionisasi. Misalnya, untuk

asam lemah HA, setiap satu molekul HA yang terionisasi akan menghasilkan sebuah
ion H+ dan sebuah ion A-. Oleh karena itu, [H+] yang berasal dari HA akan selalu

sama dengan konsentrasi ion atau [H+] = [A-] (Ridwan dan Rahmawati, 2017).

2.3 Ketetapan Kesetimbangan dan Parsial

Keadaan kesetimbangan ini ditentukan oleh tetapan kesetimbangan untuk

reasi. Dari tetapan ini, komposisi dari campuran reaksi pada keadaan kesetimbangan

dapat dihitung. Dengan mengetahui tetapan kesetimbangan untuk reasi, dan

ketergantungannya pada kondisi eksperimen, peneliti dapat mengubah kondisi untuk

memaksimalkan hasil dari reaksi itu. Oleh karena itu, perhitungan komposisi dalam

kesetimbangan untuk reaksi tertentu, dan ketergantungannya pada kondisi

eksperimen, adalah hal yang sangat penting dalam kimia. Tetapan kesetimbangan

empiris untuk reaksi dilambangkan dengan Kc sesuai yang tercantum pada hukum aksi

massa yang dikemukakan oleh C.M. Guldberg dan P.Waage (Oxtoby dkk., 2001).

Hukum aksi massa empiris bermakna ganda. Pertama, nilai Kc dan Kp

merupakan sifat hakiki yang sudah melekat pada reaksi kimia itu sendiri, dan tidak

tergantung pada konsentrasi awal spesifik dari reaktan dan produk yang diseleksi

untuk satu percobaan tertentu dengan reaksi. Kedua, magnitudo Kc dan Kp

memberikan informasi langsung tentang sifat dasar keadaan atau posisi

kesetimbangan reaksi. Jika tetapan kesetimbangan amat besar, maka pada

kesetimbangan, konsentrasi atau tekanan parsial produk akan lebih besar daripada

konsentrasi atau tekanan parsial reaktan. Begitu pula sebaliknya. Jika nilai tetapan
kesetimbangan hampir sama maka reaktan dan produk akan ada dalam jumlah yang

sebanding pada kesetimbangan (Oxtoby dkk., 2001).

2.4 Larutan Penyangga dan Hidrolisis Garam

Larutan penyangga adalah larutan yang dapat mempertahankan pH larutan. pH

ini dipertahankan dengan penambahan sedikit asam, sedikit basa dan air yang tidak

melebihi kapasitas. Hal ini karena jika ditambahkan melebihi kapasitasnya larutan

kehilangan kemampuan mempertahankan pH larutan (Stephanie dkk., 2019). Kerja

buffer didefinisikan sebagai kerja yang membuat pH larutan hampir tidak berubah

dengan penambahan asam atau basa. Larutan yang memiliki kerja buffer disebut

larutan bufer. Sebagian besar larutan buffer terbentuk dari kombinasi garam dan asam

lemahnya. Cairan tubuh organisme adalah larutan buffer, yang akan menekan

perubahan pH yang berbahaya bagi makhluk hidup (Takeuchi, 2006). Hidrolisis

adalah proses penguraian senyawa garam dengan air. Senyawa garam NaCN

merupakan salah satu senyawa garam yang terhidrolisis sebagian. Senyawa garam ini
+
un ersif t s , eng n ers m n re ksi: N N( ) → N (aq) + CN- (aq)

Berdasarkan reaksi tersebut, ion Na+ merupakan asam konjugasi dari basa kuat NaOH

dan ion CN- merupakan basa konjugasi dari asam lemah HCN (Kb = 4 x 10-6 ).

Sehingga yang mampu mengalami hidrolisis adalah ion CN- (Darmiyanti dkk., 2017).

Misalnya, dari natrium asetat, garam yang dihasilkan atau yang terbentuk dari asam

asetat dan natrium hidroksida, merupakan asam yang bersifat asam lemah. Sebaliknya,

dari amonium klorida, garam yang terbentuk atau yang dihasilkan dari asam kuat HCl

dan basa lemah amonia, bersifat asam lemah. Fenomena ini disebut hidrolisis garam.

Sebagai rangkuman, dalam hidrolisis garam dari asam lemah dan basa kuat, bagian

anion dari garam bereaksi dengan air menghasilkan ion hidroksida (Takeuchi, 2006).
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan asam formiat

(HCOOH), larutan asam cuka (CH3CHOOH), aquades, kertas pH universal, tissue

roll, larutan pH indikator metil merah, merah neral, brom cresol green, timol biru,

thymolphthalein, bromtimol biru, metil orange, dan kertas label.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu semprot, 2 pipet

volume 5 mL, pipet tetes, 5 labu ukur 50 mL, gelas kimia 100 mL, kertas pH

universal, plat tetes, termometer, dan bulb.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pengenceram Asam Formiat

Diambil asam formiat 5 mL 0,1 M dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL

menggunakan pipet volume. Ditambahkan aquades sebelum batas garis meniskus,

pipet volume lalu dihimpitkan dengan labu ukur dengan tujuan tidak terjadi

penambahan volume larutan yang dapat merubah nilai molarotasnya, kemudian

dihomogenkan. Prosedur ini diulang sebanyak 5 kali menggunakan larutan hasil

pengenceran pertama yang merupakan larutan induk (dilakukan pengenceran

bertingkat). Tahap analisis, diambil 5 mL larutan asam formiat 0,1 M dan dimasukkan

ke dalam gelas kimia, kemudian diukur suhunya menggunakan termometer. Setelah

mengukur dan mencatat hasil dari pengukuran suhu. Selanjutnya, teteskan asam
formiat 0,1 M ke plat tetes lalu diukur pH-nya menggunakan kertas pH universal.

Untuk memastikannya kembali, dilakukan penambahan indikator (larutan penunjuk)

yang sesuai dengan pengukuran. Dilakukan pengukuran suhu dan pH dengan

perlakuan yang sama pada pengenceran 2 sampai pengenceran 5 kali. Asam formiat

0,1 M yang telah diukur memiliki pH sekitar 3, maka indikator yang digunakan salah

satunya adalah Bromphenol Blue yang memiliki range pH 2,6-4,6. Ditetesi indikator

Bromphenol Blue ke plat tetes yang terdapat larutan asam formiat. Diamati dan dicatat

perubahan warna yang terjadi.

3.3.2 Pengenceran Asam Asetat

Diambil CH3COOH 5 mL 0,1 M dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL

menggunakan pipet volume. Ditambahkan aquades sebelum batas garis meniskus,

pipet volume lalu dihimpitkan dengan labu ukur dengan tujuan tidak terjadi

penambahan volume larutan yang dapat merubah nilai molarotasnya, kemudian

dihomogenkan. Prosedur ini diulang sebanyak 5 kali menggunakan larutan hasil

pengenceran pertama yang merupakan larutan induk (dilakukan pengenceran

bertingkat). Tahap analisis, diambil 5 mL larutan asam asetat 0,1 M dan dimasukkan

ke dalam gelas kimia, kemudian diukur suhunya menggunakan termometer. Setelah

mengukur dan mencatat hasil dari pengukuran suhu. Selanjutnya, teteskan asam asetat

0,1 M ke plat tetes lalu diukur pH-nya menggunakan kertas pH universal. Untuk

memastikannya kembali, dilakukan penambahan indikator (larutan penunjuk) yang

sesuai dengan pengukuran. Dilakukan pengukuran suhu dan pH dengan perlakuan

yang sama pada pengenceran 2 sampai pengenceran 5 kali. Diamati dan dicatat setiap

pengukuran yang dilakukan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Pengenceran Asam Formiat


Percobaan pH larutan sebelum pH larutan setelah
pengenceran pengenceran
A 2 2

B 2 3

C 3 4

D 4 5

E 5 6

Tabel 4.2 Pengenceran Asam Asetat


Percobaan pH larutan sebelum pH larutan setelah
pengenceran pengenceran
A 3 3

B 3 4

C 4 4

D 4 5

E 5 5

Tabel 4.3 pH Larutan Asam Formiat


Percobaan Konsentrasi (M) pH larutan
A 0,1 2

B 0,01 3

C 0,001 4

D 0,0001 5
E 0,00001 6

Tabel 4.4 pH Larutan Asam Asetat


Percobaan Konsentrasi (M) pH larutan
A 0,1 3

B 0,01 4

C 0,001 4

D 0,0001 5

E 0,00001 5

4.2 Pembahasan

Percobaan kesetimbangan asam basa diakukan dengan pengenceran larutan

asam lemah dalam hal ini asam asetat dan asam formiat. Asam lemah yaitu asam

asetat dengan konsentrasi 0,1 M diencerkan menjadi konsentrasi 0,01 M, 0,001 M,

0,0001 M, dan 0,00001 M. Kemudian diukur pH nya menggunakan kertas pH

universal. Untuk percobaan asam asetat konsentrasi 0,1 M diperoleh nilai pH 3, untuk

konsentrasi 0,01 M diperoleh nilai pH 4, untuk konsentrasi 0,001 M diperoleh nilai

pH 4, untuk konsentrasi 0,0001 M diperoleh nilai pH 5, dan untuk konsentrasi

0,00001 M diperoleh nilai pH 5. Sedangkan pada percobaan asam formiat konsentrasi

0,1 M diperoleh nilai pH 2, untuk konsentrasi 0,01 M diperoleh nilai pH 3, untuk

konsentrasi 0,001 M diperoleh nilai pH 4, untuk konsentrasi 0,0001 M diperoleh nilai

pH 5, dan untuk konsentrasi 0,00001 M diperoleh nilai pH 6. Maka dapat disimpulkan

bahwa apabila semakin kecil konsentrasi maka nikai Ka-nya semakin kecil pula.

Sedangkan pada perbandingan derajat ionisasinya, apabila semakin kecil konsentrasi

maka derajat ionisasinya semakin besar.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:

1. pH larutan asam lemah dapat ditentukan menggunakan kertas pH universal dengan

melihat kecocokan warna sesuai dengan warna yang telah ditetapkan dan pH

larutan asam lemah juga dapat dittentukan menggunakan pH indikator dengan

melihat perubahan warna yang terjadi.

2. pengenceran berpengaruh terhadap nilai pH, ketetapan keseimbangan ionisasi dan

derajat ionisasi larutan asam lemah. Semakin encer larutan, maka semakin besar

nilai pH, semakin kecil nilai tetapan ionisasi, dan semakin kecil derajat ionisasi.

3. derajat ionisasi suatu asam lemah dalam tingkat keasamanyang berbeda, tetap

menunjukkan jumlah yang sama, hal ini menunjukkan bahwa nilai derajat ionisasi

suatu asam lemah tidak berpengaruh terhadap perubahan pH.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Asisten

Sebaiknya kakak lebih memperhatikan pemahaman praktikan apakah

praktikan mengerti atau tidak mengenai praktikum ini.

5.2.2 Saran untuk Praktikum

Sebaiknya memberikan penunjukkan hasil reaksi yang lebih mendetail.

5.2.3 Saran untuk Laboratorium

Sebaiknya alat-alat yang ada di laboratorium lebih dijaga kualitas dan

kebersihannya guna menunjang kegiatan praktikum yang lebih efisien.


DAFTAR PUSTAKA

Bhise, S.H., Namdeo, G.S., Bhagyashree, S.S., Nayana, V.P., dan Sanobar, S.S., 2014,
Acalypha Wilkesiana as Natural pH Indicator, International Journal of
Natural Products Research, 4(1): 33-35.

Chandra, A. D., 2012, Rancang Bangun Kontrol pH Berbasis Self Tuning PID Melalui
Metode Adaptive Control, Jurnal Teknik Pomits, 1(1): 1-6.

Chang, R., 2003, Kimia Dasar; Konsep-Konsep Inti Jl.2 Ed.3, diterjemahkan oleh
Achmadi, S, S., Erlangga, Jakarta.

Darmiyanti, W., Rahmawati, Y., Kurniadewi, F., dan Ridwan, A., 2017, Analisis
Model Mental Siswa dalam Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle
8E pada Materi Hidrolisis Garam. Jurnal Riset Pendidikan Kimia, 1(1), 38-51.

Day, R.A., dan Underwood, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, , Erlangga, Jakarta.

Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., dan Nachtrieb, N.H., 2001, Kimia Modern Jl.1 Ed.4,
diterjemahkan oleh Achmadi, S.S., Erlangga, Jakarta.

Pradeep, D.J., dan Kapil, D., 2013, A Novel Inexpensive and Less Hazardous Acid-
Base Indicator, Journal of Laboratory Chemical Education, 1(2): 34-38.

Ridwan, A., dan Rahmawati, Y., 2017, Bahan Ajar Asam Basa Berbasis STEAM
(Science, Technology Engineering, Art and Matchematics), LPPM Universitas
Negeri Jakarta, Jakarta.

Stephanie, M. M., Fitriyani, D,, Paristiowati, M., Moersilah, Yuamaniar, dan


Rahmawati, Y., 2019, Analisis Miskonsepsi pada Materi Larutan Penyangga
Menggunakan Two-Tier Diagnostic Test, Jurnal Riset Pendidikan Kimia, 9(2),
58-66.

Takeuchi, Y., 2006, Buku Teks Pengantar Kimia, diterjemahkan oleh Ismunandar,
Iwanami Publishing Company, Tokyo.
Lampiran 1. Bagan Kerja

A. Pengenceran Asam Formiat

HCOOH 0,1 M

− Disiapkan 5 labu ukur 50 mL.

− Dimasukkan 5 mL HCOOH 0,1 mL ke dalam labu ukur 50 mL

menggunakan pipet volume.

− Ditambahkan akuades sampai batas yang ditentukan dan

dihimpitkan dengan labu ukur.

− Proses pengenceran ini diulang sebanyak 5 kali pada labu ukur

yang berbeda dan dilakukan secara bertingkat.

− Dimasukkan HCOOH 0,1 M ke dalam gelas kimia dan mengukur

suhunya menggunakan thermometer, selanjutnya teteskan HCOOH

pada plat tetes dan diukur pHnya menggunakan kertas pH

universal.

− Dilakukan penambahan indikator yang sesuai range pengukuran pH

untuk memastikan kembali tingkat keasaman pada larutan

HCOOH.

− Diamati dan dicatat hasil pengukuran yang telah dilakukan.

Hasil
B. Pengenceran Asam Asetat

CH3COOH 0,1 M

− Disiapkan 5 labu ukur 50 mL.

− Dimasukkan 5 mL CH3COOH 0,1 mL ke dalam labu ukur 50 mL

menggunakan pipet volume.

− Ditambahkan akuades sampai batas yang ditentukan dan

dihimpitkan dengan labu ukur.

− Proses pengenceran ini diulang sebanyak 5 kali pada labu ukur

yang berbeda dan dilakukan secara bertingkat.

− Dimasukkan CH3COOH 0,1 M ke dalam gelas kimia dan

mengukur suhunya menggunakan thermometer, selanjutnya

teteskan CH3COOH pada plat tetes dan diukur pHnya

menggunakan kertas pH universal.

− Dilakukan penambahan indikator yang sesuai range pengukuran pH

untuk memastikan kembali tingkat keasaman pada larutan

CH3COOH.

− Diamati dan dicatat hasil pengukuran yang telah dilakukan.

Hasil
Lampiran 2. Perhitungan

A. Asam Formiat

1. Pengenceran Asam Formiat

1) Konsentrasi 0,1 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,1 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,01 M

2) Konsentrasi 0,01 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,01 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,001 M

3) Konsentrasi 0,001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,0001 M

4) Konsentrasi 0,0001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,0001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,00001 M

5) Konsentrasi 0,00001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,00001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,000001 M
2. Kesetimbangan Asam Formiat

1) Konsentrasi 0,1 M

Kan =

Ka1 =

Ka1 =

Ka1 = 10-3

2) Konsentrasi 0,01 M

Kan =

Ka2 =

Ka2 =

Ka2 = 10-4

3) Konsentrasi 0,001 M

Kan =

Ka3 =

Ka3 =

Ka3 = 10-5

4) Konsentrasi 0,0001 M

Kan =

Ka4 =
Ka4 =

Ka4 = 10-6

5) Konsentrasi 0,00001 M

Kan =

Ka5 =

Ka5 =

Ka5 = 10-7

3. Penentuan Derajat Ionisasi

1) Konsentrasi 0,1 M

αn =

α1 =

α1 =

α1 = 10 %

2) Konsentrasi 0,01 M

αn =

α2 =

α2=

α2 = 10 %

3) Konsentrasi 0,001 M

αn =

α3=
α3 =

α3 = 10 %

4) Konsentrasi 0,0001 M

αn =

α4 =

α4 =

α4 = 10 %

5) Konsentrasi 0,00001 M

αn =

α5 =

α5 =

α5 = 10 %

Rata-rata jumlah ionisasi

̅=

̅=

̅ = 0,05324

B. Asam Asetat

1. Pengenceran Asam Asetat

1) Konsentrasi 0,1 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,1 M . 5 mL = M2 . 50 mL
M2 = 0,01 M

2) Konsentrasi 0,01 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,01 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,001 M

3) Konsentrasi 0,001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,0001 M

4) Konsentrasi 0,0001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,0001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,00001 M

5) Konsentrasi 0,00001 M

M 1 . V1 = M2 . V2

0,00001 M . 5 mL = M2 . 50 mL

M2 = 0,000001 M

2. Kesetimbangan Asam Asetat

1) Konsentrasi 0,1 M

Kan =

Ka1 =

Ka1 =

Ka1 = 10-5
2) Konsentrasi 0,01 M

Kan =

Ka2 =

Ka2 =

Ka2 = 10-6

3) Konsentrasi 0,001

Kan =

Ka3 =

Ka3 =

Ka3 = 10-5

4) Konsentrasi 0,0001 M

Kan =

Ka4 =

Ka4 =

Ka4 = 10-6

5) Konsentrasi 0,00001 M

Kan =

Ka5 =

Ka5 =
Ka5 = 10-5

3. Penentuan Derajat Ionisasi

1) Konsentrasi 0,1 M

αn =

α1 =

α1 =

α1 = 1 %

2) Konsentrasi 0,01 M

αn =

α2 =

α2=

α2 = 1 %

3) Konsentrasi 0,001 M

αn =

α3=

α3 =

α3 = 10 %

4) Konsentrasi 0,0001 M

αn =

α4 =

α4 =

α4 = 10 %
5) Konsentrasi 0,00001 M

αn =

α5 =

α5 =

α5 = 100 %

Rata-rata jumlah ionisasi

̅=

̅=

̅ = 0,00968
Lampiran 3. Dokumentasi Percobaan

Gambar 1. Pembuatan larutan dengan konsentrasi berbeda

Gambar 2. Pengukuran suhu larutan


Gambar 3. Pengukuran pH larutan

Gambar 4. Uji coba indikator untuk melihat perubahan warna


Lampiran 4. Referensi

Anda mungkin juga menyukai