Anda di halaman 1dari 4

Nama : Nurwulansari Maelani

Jurusan : Ilmu Administrasi Negara

Tugas.2

Kerjakan tugas Berikut :

1. Jelaskan tentang Catur Tertib Pertanahan!

2. Jelaskan macam pengadilan landreform dan kewenangannya!

3. Jelaskan tata cara pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum!

Jawaban :

1. Sebagaimana disebutkan, dasar hukum Catur Tertib Petanahan adalah Keputusan


Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1979 tentang Rencana Pembangunan
Lima Tahun Ketiga (REPELITA III) 1978/80-1983/84. Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 7 tahun 1979 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun Ketiga
(REPELITA III) 1978/80-1983/84 pada Pasal 1 menyebutkan bahwa rencana
pembangunan selama tahun 1978/80-1983/84 yang termuat dalam lampiran
merupakan bagian dari pola dasar pembganunan nasional yang di dalamnya tercantum
Catur Tertib Pertanahan. Catur Tertib Pertanahan yang menjadi landasan dalam
melaksanakan penatataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan
pemeliharaan tanah ini berisi kebijaksanaan untuk :

 Tertib hukum

Yaitu yang dimaksud tertib hukum adalah tiap-tiap bidang tanah diberikan jaminan
kepastian hukum tentang kepemilikan hak atas tanah yang memiliki hubungan hukum
yangsah dengan tanah yang bersangkutan menggunakan dokumen yang dibuat
menurut peraturan perundangan yang berlaku.

 Tertib administrasi

Berupa upaya memperlancar usaha masyarakat terkait pelayanan di bidang agraria


agar pelayanan dapat lancar, tertib, murah, cepat, dan tidak berbelit-belit dengan
berdasarkan pelayanan umum yang adil dan merata. Tertib administrasi ini
merupakan salah satu butir Tertib yang diperbaharui dalam Keputusan Kepala Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia tentang Sapta Tertib Pertanahan Nomor
277/KEP-7.1/VI/212 yang berisikan :

– Menjalankan Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP) dengan konsisten

– Mengembangkan Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP)

– Ketaatan menindaklanjuti Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)


– Pengelolaan buku tanah, surat ukur, peta, warkah secara baik dan tertib

– Pencatatan setiap surat masuk dan surat keluar

– Menjawab surat-surat masuk sesuai aturan

– Terselenggaranya tata persuratan yang tertib dan lebih efektif/efisien

– Standarisasi naskah dinas

– Penataan arsip pertanahan (peta, buku tanah, surat ukur, warkah) dalam manajemen
arsip modern

– Tersedianya Standard Operating Procedure (SOP) dalam setiap kegiatan

– Tersusunnya petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam setiap kegiatan

 Tertib Penggunaan Tanah

Tertib penggunaan tanah adalah memastikan bahwa tanah harus benar-benar


digunakan sesuai dengan kemampuannya untuk sebesar-besarnya kemamkuran
rakyat, dalam hal ini terkait peruntukannya yang tidak terlepas dengan
memperhatikan kondisi kesuburan dan potensi pengembangan kemampuan tanah.
Dengan fokus penggunaan secara optimal serasi dan seimbang, pemanfaatan di daerah
perkotaan yang menciptakan suasana aman, tertib, lancar, dan sehat. Dan tidak
terdapat konflik kepentingan antar sektor terkait peruntukannya.

 Tertib pemeliharaan dan lingkungan hidup

Mengupayakan keterkaitan tanah dalam kelangsungan lingkungan hidup, memastikan


pemberian hak pemanfaatan/penggunaannya melaksanakan kewajiban terkait
pemeliharaan dan lingkungan hidup.

Pada dasarnya catur tertib pertanahan mengatur agar upaya pembangunan dan
kebijakan pemerintahan yang bersinggungan dengan urusan pertanahan
memperhatikan 4 aspek catur pertanahan tersebut, sehingga program pemerintah
selanjutnya melaksanakan prinsip-prinsip tersebut. Hal ini dibuktikan dengan tindak
lanjut dari Kepres ini, beberapa contohnya adalah Keputusan Menteri Negara
Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nomor 4 tahun 1995, Keputusan Menteri Negara
Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nomor 5 tahun 1995 beberapa surat edaran
Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 410-2650
tanggal 12 September 1995 tentang Pencanangan Gerakan Nasional Sadar Tertib
Pertanahan, surat edaran Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 410-2767 tanggal 22 September 1995 tentang Gerakan Nasional Sadar Tertib
Pertanahan, dan lain-lain terkait peraturan perundangan lainnya tentang Pertanahan,
yang menyebutkan tentang Catur Tertib Pertanahan.
2. UU NO. 21, LN 1964 / NO. 109 TLN. NO. 2701
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGADILAN LANDREFORM

- Perkara-perkara yang timbul di dalam pelaksanaan peraturan-peraturan landreform


perlu mendapat penyelesaian yang cepat, agar tidak menghambat pelaksanaan
landreform; berhubung dengan sifat-sifat yang khusus dari perkara-perkara yang
timbul karena pelaksanaan landreform diperlukan suatu badan pengadilan tersendiri
dengan susunan, kekuasaan dan acara yang khusus pula, dengan membentuk Undang-
Undang Pengadilan HAM.
- Dasar hukum Undang-Undang ini adalah : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan
Pasal 24 Undang Undang Dasar; Undang-Undang Nomor 19 tahun 1964 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman; Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor I/ MPRS/1960 dan Nomor
II/MPRS/1960; Undang Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok
Pokok Agraria; dan Undang Undang Nomor 10 Prp tahun 1960 jo Keputusan Presiden
Nomor 239 tahun 1964.
- Dalam Undang-undang ini mengatur tentang : Pengadilan Landreform. Pengadilan
Landreform ini tidak bermaksud untuk memutus segala perkara mengenai tanah atau
agraria sebagai suatu kebulatan. Hal ini disebabkan, karena sifatnya yang khusus
untuk memperlancar berjalannya landreform dan lagi pula tidak mengurangi
wewenang Pengadilan Negeri untuk memutus tentang soal-soal tanah, soal waris-
mewaris dan sebagainya yang bila juga akan dibebankan kepada Pengadilan
landreform, pasti akan menghambat pelaksanaan Landreform. Pengadilan Landreform
diadakan dalam dua tingkat, Pengadilan Landreform sehari-hari adalah Pengadilan
Landreform Daerah, sedang di Jakarta diadakan sebuah Pengadilan Landreform Pusat
yang berdaerah hukum seluruh wilayah Republik Indonesia dan ditugaskan sebagai
Pengadilan Banding. Tentang Hukum Acara ditentukan bahwa pada umumnya
dipergunakan Hukum Acara yang berlaku untuk Pengadilan Negeri bagi Pengadilan
Landreform Daerah atau Pengadilan Tinggi bagi Pengadilan Landreform Pusat.
Pengecualian terdapat dalam pasal-pasal yang bersangkutan. Hukum Acara tersebut
berlaku juga dalam pemeriksaan pidana landreform, terhadap tertuduh anggota
Angkatan Perang, hanya Ketua sidang adalah Ketua atau Ketua Pengganti atau hakim
Pengadilan Tentara dari angkatan yang bersangkutan, demikian juga jaksa dan
penyidiknya.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah


Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum disahkan Presiden DR. H. Susilo
Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 Januari 2012. UU Nomor 2 Tahun 2012
Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum mulai
berlaku dan diundangkan oleh Amir Syamsudin, Menkumham RI dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 22 dan Penjelasan Atas Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum ke dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5280 pada tanggal 14 Januari 2012 di Jakarta.

Hukum tanah nasional mengakui dan menghormati hak masyarakat atas tanah dan
benda yang berkaitan dengan tanah, serta memberikan wewenang yang bersifat publik
kepada negara berupa kewenangan untuk mengadakan pengaturan, membuat
kebijakan, mengadakan pengelolaan, serta menyelenggarakan dan mengadakan
pengawasan yang tertuang dalam pokok-pokok Pengadaan Tanah sebagai berikut:
1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin tersedianya tanah untuk
Kepentingan Umum dan pendanaannya.
2. Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum diselenggarakan sesuai dengan:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah;
b. Rencana Pembangunan Nasional/Daerah;
c. Rencana Strategis; dan
d. Rencana Kerja setiap Instansi yang memerlukan tanah.
3. Pengadaan Tanah diselenggarakan melalui perencanaan dengan melibatkan semua
pemangku dan pengampu kepentingan.
4. Penyelenggaraan Pengadaan Tanah memperhatikan keseimbangan antara kepentingan
pembangunan dan kepentingan masyarakat.
5. Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum dilaksanakan dengan pemberian Ganti
Kerugian yang layak dan adil.

Terimakasih !!!

Anda mungkin juga menyukai