Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara untuk memperhitungkan unsur-unsur
biaya kedalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam
harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan yaitu full costing variabel costing dan Activity
based costing.

Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan
semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun
tetap. Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan
laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi
produksi, administrasi dan penjualan.

Variabel costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang
terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya
produksi variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik
bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.

Penggunaan sistem tradisional (istilah yang digunakan untuk pembebanan overhead pabrik
dengan satu cost pool atau satu dasar pembebanan) aka menghasilkan kesalahan perhitungan
biaya, khususnya produk yang memiliki volume tinggi dan biaya tenaga kerja langsung tinggi
akan kelebihan pembebanan biaya. Untuk mengatasi masalah yang timbul dalam pembebanan,
maka dikembangkan metode ABC (Activity Based Costing) pada perusahaan manufaktur di
Amerika Serikat pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Selama periode tersebut, Consentrium for
Advanced Management-Internasional, sekarang dikenal dengan nama CAM-1, mengembangkan
bentuk dasar untuk mempelajaridan menyusun prinsip-prinsip yang pada akhirnya dikenal
dengan nama activity based costing.

ABC (Activity Based Costing) didefinisikan sebagai suatu sistem pendekatan perhitungan
biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan. Sistem ini
dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab timbulnya biaya adalah aktivitas yang
dilakukan dalam suatu perusahaan, sehingga wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak
langsung dilakukan berdasarkan aktivitas tersebut (Hongren, 2005).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan Full Cost, Variable Cost, dan Activity Based Costing (ABC)?

2. Apa perbedaan Full cost, Variabel Cost dan Activity Based Costing?

3. Bagaimana Metode Penentuan Biaya Produk?

4. Apa Manfaat dan Keterbatasan dari Sistem ABC?

5. Bagaimana Kelebihan dan Kelemahan dari Sistem ABC?

1.3 TUJUAN

1. Menjelaskan tentang Full Cost, Variable Cost, dan Activity Based Costing.

2. Menjelaskan perbedaan Full cost, Variabel Cost dan Activity Based Costing?
3. Menjelaskan tentang Metode Penentuan Biaya Produk.

4. Menjelaskan Manfaat dan Keterbatasan dari Sistem ABC.

5. Menjelaskan tentang kelebihan dan Kelemahan dari Sistem ABC

BAB II
PEMBAHASAN

FULL COSTING AND VARIABLE COSTING

1. Full Costing
Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan
semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun
tetap. Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan
laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi
produksi, administrasi dan penjualan.

2. Variabel Costing
Variabel costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang
terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.

3. Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing


Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada
perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur
biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget),
sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul
kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya
produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat
dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana
biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau
kurang.

Perbedaan antara kedua konsep tersebut terletak pada tujuan utamanya, yaitu konsep
variabel costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan internal sedangkan konsep full
costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan eksternal

Perbedaan dalam Penentuan Harga Pokok Produk;


Pada metode full costing, semua elemen biaya produksi baik tetap maupun variabel dibebankan
ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu elemen harga pokok produk meliputi:
 BBB
 BTKL
 BOP variabel
 BOP tetap

Sedangkan pada metode variabel costing hanya memasukkan atau membebankan biaya produksi
variabel ke dalam harga pokok produk. Elemen harga pokok produk meliputi:
 BBB
 BTKL
 BOP variabel
Perbedaan dalam Penentuan Harga Pokok Persediaan;
Pada metode full costing BOP tetap dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu
jika sebagian produk masih ada dalam persediaan atau belum terjual maka sebagian BOP tetap
masih melekat pada harga pokok persediaan. Metode variable costing tidak membebankan BOP
tetap ke dalam harga pokok produk, akan tetapi BOP tetap langsung dibebankan ke dalam laba-
rugi sebagai biaya periode. Oleh karena itu produk yang masih ada dalam persediaan atau belum
terjual hanya dibebani biaya produksi variabel atau BOP tetap tidak melekat pada harga pokok
persediaan.

Perbedaan dalam Penyajian Laporan Laba-Rugi:


Perbedaan di dalam penyajian laporan laba-rugi antara metode full costing dengan variable
costing dapat ditinjau dari segi:
Pada metode full costing, biaya digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Biaya produksi, meliputi BBB, BTKL dan BOP tetap maupun BOP variabel .
2) Biaya non produksi atau biaya periode, meliputi semua biaya yang tidak termasuk dalam
harga pokok produk sehingga harus dibebankan langsung ke laporan laba-rugi periode
terjadinya.

Pada metode variable costing, biaya digolongkan menjadi:


1) Biaya variabel (variable costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya berubah secara
proporsional sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Biaya ini dikelompokkan ke dalam:
- Biaya variabel produksi, yaitu BBB, BTKL dan BOP variabel.
- Biaya variabel non produksi, yaitu biaya pemasaran variabel biaya adminstrasi dan umum
variabel biaya finansial variable.

2) Biaya tetap (fixed costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak
dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Biaya tetap pada konsep variable costing disebut
pula dengan biaya periode atau disebut pula biaya kapasitas.

ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

1. Pengertian Activity Based Costing


ABC ( Activity Based Costing ) adalah metode penentuan biaya produk yang
pembebanan biaya overhead berdasarkan pada aktivitas yang dilakukan dalam kaitannya dengan
proses produksi.
Pengertian biaya produk ditentukan oleh tujuan manajerial yang ingin dipenuhi. Definisi biaya
produk dapat memberikan gambaran mengenai prinsip dasar manajemen biaya, yaitu biaya yang
berbeda untuk tujuan yang berbeda . Sebagai contoh , manajemen tertarik pada analisis
profitabilitas starategis. Untuk mendukung tujuan ini, manajemen membutuhkan informasi
mengenai semua penerimaan dan biaya yang berkaitan dengan produk.
Berdasarkan kepentingan pelaporan eksternal, biaya produk dapat diklasifikasi menjadi tiga
komponen, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Biaya bahan baku adalah penggunaan bahan-bahan yang dapat dilacak secara langsung ke dalam
produk atau jasa yang dihasilkan. Biaya ini dapat dialokasikan langsung ke produk karena
observasi secara fisik dapat digunakan untuk mengukur kuantitas yang dikonsumsi oleh setiap
produk. Bahan yang menjadi bagian dari produk berwujud atas penyediaan jasa juga dapat
diklasifikasikan sebagai bahan baku. Contoh bahan baku,yaitu: kayu di pabrik mabel, baja
dipabrik mobil, terigu di pabrik roti,dan bahan bakar di maskapai penerbangan.

2. Biaya Per Unit


Biaya per unit ( unit cost ) adalah biaya yang yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap satu unit
produk. Biaya yang dihitung berasal dari pembebanan biaya ke obyek biaya seperti produk,
konsumen, pemasok,dan bahan mentah.

Biaya Total
Biaya Per Unit = Jumlah unit diproduksi
Perhitungan biaya per unit produk yang pertama, harus ditentukan terlebih dahulu apa dan
berapakah biaya total. Perlu juga dibatasi apakah biaya total itu hanya berupa biaya produksi
atau termasuk biaya pemasaran. Kedua, harus ditentukan cara mengukur biaya yang akan
dibebankan dalam biaya total.
Pengukuran akan dilakukan berdasarkan biaya sesungguhnya ataukah biaya yang diestimasikan
saja. Ketiga, pemilihan metode pembebanan suatu biaya ke dalam biaya produk yang akan
digunakan.

3. Pentingnya Penentuan Biaya Per Unit Produk


Manajemen perlu menentukan biaya per unit produk untuk berbagai kepentingan,baik yang
bersifat strategis maupun taktis , diantarnya sbb:
1. Dasar penentuan harga. Jika manajemen mengetahui biaya produksinya maka mereka akan
dapat menentukan harga yang sekiranya tidak akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

2. Dasar pembuatan keputusan. Jika manajemen mengetahui biaya produksi sebuah produk maka
mereka dapat membandingkannya dengan harga jual produk pesaing. Berdasarkan hal tersebut,
manajer akan dapat menentukan apakah sebaiknya produk dihentikan produksinya atau dapat
terus dilanjutkan.
Banyak keputusan strategis dibuat berdasarkan pada biaya per unit. Oleh karena itu, akurasi
dalam penentuan biaya unit menjadi penting. Contoh keputusan strategis tersebut adalah
keputusan penentuan pemosisian produk ( product positioning ) dan penentuan harga jual
produk.

4. Penentuan Biaya Per Unit Produk


Biaya per unit produk dihitung dengan cara berikut ini.
Biaya per unit = BBB TOTAL + BTKL total + Biaya Overhead total
Unit diproduksi total
5. Metode Penentuan Biaya Produk

Terdapat dua kelompok pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung biaya produk, yaitu
pendekatan berbasis unit ( konvensional ) dan pendekatan berbasis aktivitas ( actifity based
costing- ABC ) . Pada pendekatan konvensional terdapat dua metode yang lazim dipergunakan,
yaitu metode tarif tunggal ( plantwide rate ) dan metode tarif departemental ( departmental rate ).

A. Tarif Tunggal

Berdasarkan pendekatan tarif tunggal, biaya overhead diasumsikan hanya dipicu oleh satu
pemicu pada semua fasilitas produksi ( pabrik ) dan produk. Terdapat dua tahapan dalam
perhitungan biaya overhead produk.

1) Penentuan tarif pembebanan overhead

Anggaran overhead diakumulasi menjadi satu untuk seluruh pabrik dengan langkah – langkah
sbb:

• Biaya diakumulasi secara sederhana dengan cara langsung menambahkan semua biaya yang
diharapkan akan terjadi selama satu periode dalam satu fasilitas pabrik.

• Setelah biaya diakumulasi, dihitung tarif pembebanannya berdasarkan satu pemicu (driver)
level unit .

2) Pembebanan biaya overhead

Biaya overhead dibebankan ke dalam produk menggunakan dasar tarif yang telah ditentukan.
Pembebanan biaya overhead ke dalam produk dilakukan dengan menggunakan formula berikut
ini.
Overhead dibebankan total = Tarif overhead Aktivitas
sesungguhnya. Setelah biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produkdiketahui, angkah
terakhir perhitungan biaya produk adalah menjumlahkannya dengan biaya bahan baku
sesungguhnya yang digunakan ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya.

6. Tahap Pengaplikasikan Sistem ABC


1. Tiga tahap pengaplikasikan ariff ABC yaitu :
a. Identifikasi biaya sumber daya untuk berbagai macam aktivitas dapat dilakukan dengan cara
membedakan aktivitas berdasarkan cara aktivitas mengonsumsi sumber daya.Dengan cara ini,
aktivitas dikelompokan menjadi empat level aktivitas
b. Aktivitas level unit ( unit-level activities ) adalah aktivitas yang dilakukan dalam rangka
menghasilkan satu unit individual dari produk atau jasa.Contohnya penggunaan bahan baku,
penggunaan tenaga kerja langsung, dan inspeksi unit.
c. Aktivitas level batch ( batch-level activities ) adalah aktivitas yang dilakukan untuk
menghasilkan setiap grup dari produk atau jasa. Perusahaan biasanya mengelompokkan dalam
satu grup apabila produk atau jasa dihasilkan oleh satu proses yang dijadwalkan dalam satu
waktu atau proses secara bersamaan. Contohnya pengesetan mesin-mesin produksi, pemesanan
pembelian, penjadwalan produksi, penanganan bahan, dan pengiriman produk.
d. Aktivitas level produk ( product-level activities ) adalah aktivitas yang dilakukan untuk
mendukung produksi dari satu tipe produk atau jasa yang spesifik. Contohnya adalah
pendesainan produk, modifikasi produk, dan administrasi suku cadang produk.
e. Aktivitas level fasilitas ( facility-level activities ) merupakan aktivitas pendukung operasi
secara umum. Aktivitas ini tidak disebabkan oleh adanya produk atau dalam rangka memenuhi
kebutuhan konsumen. Aktivitas ini juga dapat ditelusur pada produk unit individual, batch , atau
produk. Contohnya adalah keamanan pabrik, pajak bumi dan bangunan, perawatan bangunan,
dan penutup bukuan.
2. Mengalokasikan biaya ke dalam objek biaya
ABC menggunakan dasar pemicu konsumsi biaya sumber daya dalam mengalokasikan biaya
sumber daya ke dalam produk. Biaya sumber daya dapat dialokasikan ke dalam aktivitas
berdasarkan estimasi atau penelusuran langsung. Penelusuran langsung membutuhkan
pengukuran penggunaan sumber daya yang sesungguhnya.
2. Mengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya
Pemicu biaya aktivitas harus dapat menjelaskan naik turunnya biaya. Pengalokasikan biaya
aktivitas ke dalam objek biaya dilakukan dengan menggunakan ariff pembebanan. Rumusnya:
Tarif overhead dibebankan = Anggaran biaya overhead per pool aktivitas
7. Manfaat Dan Keterbatasan Sistem ABC
Manfaat dari sistem ABC adalah sebagai berikut:

 Pengukuran profitabilitas yang lebih baik.

 Pembuatan keputusan yang lebih baik.

 Perbaikan proses (process improvement).

 Estimasi biaya.

 Penentuan biaya kapasitas tak terpakai.


Selain manfaat ABC jga memiliki beberapa keterbatasan. Berikut ini keterbatasan-keterbatasan
yang terdapat dalam ABC.

 Alokasi. Tidak semua biaya memeiliki aktivitas atau pemicu konsumsi sumber daya yang
sesuai.
 Pengabaian Biaya. Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi oleh sistem ABC cenderung
tidak memuaskan semua biaya yang terkait dengan produk atau jasa, seperti:biaya untuk
aktivitas pemasaran,riset periklanan, pengembangan dll.

 Biaya dan waktu. Salah-satu kendala dalam penerapan ABC adalah besarnya biaya aplikasi
dan lamanya proses implementasi ABC.
8. Kelebihan Dan Kelemahan Sistem ABC
Kelebihan sistem ABC adalah sebagai berikut:

 Biaya produk yang lebih akurat, baik pada industri manufaktur maupun industri jasa
lainnya khususnya jika memiliki proporsi biaya overhead pabrik yang lebih besar.

 Biaya ABC memberikan perhatian pada semua aktivitas, sehingga semakin banyak biaya
tidak langsung yang dapat ditelusuri pada aobjek biayanya.

 Sistem ABC mengakui banyak aktivitas penyebab timbulnya biaya sehingga manajemen
dapat menganalisis aktivitas dan proses produksi tersebut dengan lebih baik (fokus pada
aktivitas yang memiliki nilai tambah) yang pada akhirnya dapat melakukan efisiensi dan
akhirnya menurunkan biaya.

 Sistem ABC mengakui kompleksitas dari deversitas proses produksi modem yang banyak
berdasarkan transaksi/ transaction based (terutama perusahaan jasa dan manufaktur
berteknologi tinggi) dengan menggunakan banyak pemicu biaya (multiple cost drivers).
 Sistem ABC juga memberi perhatian atas biaya variabel yang terdapat dalam biaya tidak
langsung.
 Sistem ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya berdasarkan berbagai objek biaya.
Baik itu proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk.
Walaupun penerapan sistem ABC memiliki banyak keuntungan, tetapi penerapan tersebut tidak
membuat seluruh biaya akan mudah dibebankan kepada objek biayanya dengan mudah. Hal ini
disebabkan biaya-biaya yang di kelompokkan dalam sustaining level ketika dialokasikan sering
kali juga menggunakan dasar yang bersifat arbiter. Misalnya, biaya keamanan pabrik merupakan
contoh dari sustaining level, ketika membebankan hal tersebut pada objek biaya yang berupa
produk, maka mungkin digunakan pendekatan yang arbiter, seperti berdasarkan jumlah jam kerja
tenaga kerja dengan alasan semakin lama proses produksi maka membutuhkan jasa keamanan
semakin besar.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya
produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa
memperhatikan perilakunya. Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan
tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan
berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.

Variabel costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang
terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya
produksi variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik variabel.

ABC (Activity Based Costing) adalah suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan
berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan.Sistem ABC mjuga membahas tentang
penentuan biaya per unit produk.Perhtungan biaya produk dilakukan dengan menjumlahkan
semua komponen biaya produ, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,dan baiya
overhead. Kelompok (pool) adalah gabungan dari aktivitas yang memiliki kesamaan sifat.
Dengan sistem ABC kita dapat mempelajari dan menyusun prinsip-prinsip yang ada dalam
sistem ABC.