Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN HASIL PRAKTEK PROFESI

KEPERAWATAN GERONTIK DI RPUK MUARA KASIH


BOGOR

Laporan ini disusun untuk memenuhi Tugas Profesi Ners


Pada Mata Ajar Keperawatan Gerontik
Disusun Oleh :
SYARIF MUSTOPA
21218070

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
JAKARTA
2018
LAPORAN PENDAHULUAN LANSIA

A. Konsep Dasar Lansia


1. Pengertian Lanjut Usia
Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan
dan fenomena bilogis, kehidupan itu akan diakhirir dengan proses penuaan
yang berakhir dengan kematian. (Hutapea, 2005). Lanjut usia merupakan
istilah tahap akhir dari proses penuaan, menurut BKKBN tahun 1998
batasan penduduk lanjut usia ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan
yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dn aspek sosial.
Menurut Notoatmodjo tahun 2007 usia lanjut adalah kelompok orang yang
sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka
waktu beberapa dekade. Usia lanjut merupakan tahap perkembangan
normal yang akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut
dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Menurut Undang-Undang RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 19
ayat 1 bahwa manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya
mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial. Perubahan ini
akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan.
2. Klasifikasi Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lanjut usia meliputi :
a. Usia pertengahan (midle age) yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b. Usia lanjut (eldery) antara 60-74 tahun
c. Usia lanjut Tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
Lansia dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Menurut UU No. 13/Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia
disebutkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari 60 tahun.
Depkes RI (2003) mengklasifikasikan lansia dalam kategori berikut:
a. Pralansia (prasenilis), seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi, seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial, lansia yang masih mampu melakukan
pekerjaandan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e. Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
3. Tipe Lansia
Dalam Nugroho (2000), banyak ditemukan bermacam-macam tipe lansia.
Beberapa yang menonjol diantaranya:
a. Tipe arif bijaksana
Lansia ini kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri
dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,
rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan dan menjadi
panutan.
b. Tipe mandiri
Lansia ini senang mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan
yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan dan teman pergaulan,
serta memenuhi undangan.
c. Tipe tidak puas
Lansia yang selalu mengalami konflik lahir batin, menentang proses
penuaan yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya
tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi,
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani,
dan pengkritik.
d. Tipe pasrah
Lansia yang selalu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti
kegiatan beribadat, ringan kaki, melakukan berbagai jenis pekerjaan.
e. Tipe bingung
Lansia yang sering kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri,
merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh.
Lansia dapat pula dikelompokkan dalam beberapa tipe yang bergantung pada
karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan
ekonominya. Tipe ini antara lain:
a. Tipe optimis
Lansia yang santai dan periang, penyesuaian cukup baik, memandang
lansia dalam bentuk bebas dari tanggung jawab dan sebagai kesempatan
untuk menuruti kebutuhan pasifnya.
b. Tipe konstruktif
Mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidup, mempunyai toleransi
tinggi, humoris, fleksibel, dan sadar diri. Biasanya sifat ini terlihat sejak
muda.
c. Tipe ketergantungan
Lansia ini masih dapat diterima di masyarakat, tetapi selalu pasif, tidak
berambisi, masih sadar diri, tidak mempunyai inisiatif, dan tidak praktis
dalam bertindak.
d. Tipe defensif
Sebelumnya mempunyai riwayat pekerjaan/jabatan yang tidak stabil,
selalu menolak bantuan, emosi sering tidak terkontrol, memegang teguh
kebiasaan, bersifat kompulsif aktif, dan menyenangi masa pensiun.
e. Tipe militan dan serius
Lansia yang tidak mudah menyerah, serius, senang berjuang dan bisa
menjadi panutan.
f. Tipe pemarah dan frustasi
Lansia yang pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, selalu
menyalahkan orang lain, menunjukkan penyesuaian yang buruk, dan
sering mengekspresikan kepahitan hidupnya.
g. Tipe bermusuhan
Lansia yang selalu menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan,
selalu mengeluh, bersifat agresif dan curiga. Umumnya memiliki
pekerjaan yang tidak stabil di saat muda, menganggap menjadi tua
sebagai hal yang tidak baik, takut mati, iri hati pada orang yang masih
muda, senang mengadu untung pekerjaan, dan aktif menghindari masa
yang buruk.
h. Tipe putus asa, membenci, dan menyalahkan diri sendiri
Bersifat kritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak memiliki ambisi,
mengalami penurunan sosio-ekonomi, tidak dapat menyesuaikan diri,
lansia tidak hanya mengalami kemarahan, tetapi juga depresi menganggap
usia lanjut sebagai masa yang tidak menarik dan berguna.
Berdasarkan tingkat kemandirian yang dinilai berdasarkan kemampuan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari (indek Katz), lansia
dikelompokkan menjadi beberapa tipe, yaitu:
1. Lansia mandiri sepenuhnya
2. Lansia mandiri dengan bantuan langsung dari keluarganya
3. Lansia mandiri dengan bantuan tidak langsung
4. Lansia dengan bantuan badan sosial
5. Lansia di panti wredha
6. Lansia yang dirawat di RS
7. Lansia dengan gangguan mental

4. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Potter dan Perry (2009) tujuh kategori utama tugas
perkembangan lansia meliputi :
a. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
Lansia harus menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya
penuaan sisitem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi. Hal ini tidak
dikaitkan dengan penyakit, tetapi merupakan hal yang normal.
b. Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan
Lanisa umumnya pensiun dari pekerjaan purna waktudan oleh karena
itu mungkin perlu untuk menyesuaikan dan membuat perubahan
karena hilangnya peran bekerja.
c. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan
Mayoritas lansia dihadapkan pada kematian pasangan, teman, dan
kadang anaknya. Kehialangan ini sering sulit diselesaikan, apalagi bagi
lansia yang menggantungkan hidupnya dari seseorang yang
meninggalkannya dan sangat berarti baginya.
d. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup
Lansia dapat mengubah rencana kehidupannya, misalnya kerusakan
fisik dapat mengharuskan pindah kerumah yang lebih kecil dan untuk
seorang diri.
e. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa
Lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan
anank-anaknya yang telah dewasa.
f. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup
Lansia harus belajar menerima aktivitas dan minat baru untuk
mempertahankan kualitas hidupnya. Seseorang yang sebelumnya aktif
secara sosial sepanjang hidupnya mungkin merasa relatif mudah untuk
bertemu orang baru dan mendapat minat baru. Akan tetapi seseorang
yang introvert dengan sosialisasi terbatas , mungkin menemui
kesulitan bertemu orang aru selama pensiun.
5. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
a. Sistem kardiovaskular
1) Jantung
a) Kekuatan otot jantug menurun
b) Katup jantung mengalami penebalan dan menjadi kaku
c) Kelistrikan jantung menjadi kurang efektif dalam menjalankan
tugasnya dan impuls yang dihasilkan melemah
2) Pembuluh darah
a) Dinding arteri menjadi kurang elastis
b) Dinding kapiler menebal sehingga menyebabkan melambatnya
pertukaran antara nutrisi dan zat sisa metabolisme antara sel
dan darah
c) Dinding pembuluh darah yang semakin kaku akan
meningkatkan tekanan darah sistolik maupun diastolik.
3) Darah
a) Volume darah menurun sejalan denganpenurunan volume
cairan tubuh akibat proses menua
b) Aktivitas sumsum tulang mengalami penurunan sehingga
terjadi penurunan jumlah sel darah merah, kadar hematokrit
dan kadar hemoglobin.
c) Kontraksi jantung melemah, volume darah yang dipompa
menurun, dan cardiac output mengalami penurunan sekitar 1%
per tahun.

b. Sistem pernapasan
1) Cavum thorak
a) Menjadi kaku seiring dengan proses klasifikasi kartilago
b) Vertebrae thorakalis mengalami pemendekan dan osteoporosis
menyebabkan postur bungkuk yang akan menurunkan ekspansi
paru dan membatasi pergerakan thorak.
2) Otot bantu pernapasan
Otot abdomen melemah sehingga menurunkan usaha napas baik
inspirasi maupun ekspirasi
3) Perubahan intrapulmonal
a) Daya recoil paru semakin menurun seiring pertambahan usia
b) Alveoli melar dan tipis, jumlah alveoli yang berfungsi
menurun
c) Peningkatan ketebalan membran alveoli – kapiler, menurunkan
area permukaan fungsional untuk terjadinya pertukaran gas.
c. Sistem muskuloskeletal
1) Struktur tulang
a) Penurunan massa tulang menyebabkan tulang menjadi rapuh
dan lemah.
b) Columna vertebralis mengalami kompresi sehingga
menyebabkan penurunan tinggi badan
2) Kekuatan otot
a) Regenerasi jaringan otot berjalan lambat dan massa otot
berkurang
b) Otot lengan dan betis mengecil dan bergelambir
c) Seiring dengan inaktivitas otot kehilangan fleksibilitas dan
ketahanannya.
3) Sendi
a) Keterbatasan rentang gerak
b) Kartilago menipis sehingga sendi menjadi kaku, nyeri dan
mengalami inflamasi.

d. Sistem integumen
1) Kulit
a) Elastisitas kulit menurun, sehingga kulit berkerut dan kering
b) Kulit menipis sehingga fungsi kulit sebagai pelindung bagi
pembuluh darah yang terletak dibawahnya berkurang
c) Lemak subkutan menipis
d) Penumpukan melanosit menyebabkan terbentuknya pigmentasi
yang dikenal sebagai aged spot
2) Rambut
a) Aktivitas folikel rambut menurun sehingga rambut menipis
b) Penurunan melanin sehingga terjadi perubahan warna rambut
3) Kuku
Penurunan aliran darah ke kuku menyebabkan bantalan kuku menjadi
tebal, keras dan rapuh dengan garis longitudinal.
4) Kelenjar keringat
Terjadi penurunan jumlah dan ukuran. Regulasi suhu tubuh terganggu
karena penurunan produksi keringat. Sehingga meskipun suhu
lingkungan tinggi, lansia bisa saja tidak berkeringat.

e. Sistem gastrointestinal
1) Cavum oris
Reabsorbsi tulang bagian rahang dapat menyebabkan tanggalnya gigi
sehingga menurunkan kemampuan mengunyah
2) Esofagus
a) Reflek telah melemah sehingga meningkatkan resiko aspirasi
b) Melemahnya otot halus sehingga memperlambat waktu
pengosongan.
3) Lambung
Penurunan sekresi asam lambung menyebabkan gangguan absorbsi
besi, vitamin B12, dan protein.
4) Intestinum
Peristaltik menurun dan melemahnya peristaltik usus menyebabkan
inkompetensi pengosongan bowel.

f. Sistem genitourinaria
1) Fungsi ginjal
a) Aliran darah ke ginjal menurun karena penurunan cardiac output
dan laju filtrasi glomerulus menurun
b) Terjadi gangguan dalam kemampuan mengkonsentrasikan urine.
2) Kandung kemih
Tonus otot menghilang dan terjadi gangguan pengosongan kandung
kemih dan penurunan kapasitas kandung kemih.
3) Miksi
a) Pada pria, dapat terjadi peningkatan frekuensi miksi akibat
pembesaran prostat
b) Pada wanita, peningkatan frekuensi miksi dapat terjadi akibat
melemahnya otot perineal.
4) Reproduksi wanita
a) Terjadi atropi vulva
b) Penurunan jumlah rambut pubis
c) Sekresi vaginal menurun, dinding vagina menjadi tipis dan kurang
elastik.
5) Reproduksi pria
Ukuran testis mengecil dan ukuran prostat membesar.

g. Sistem persarafan
1) Neuron
Terjadi penurunan jumlah neuron di otak dan batang otak, sintesa dan
metabolisme neuron berkurang, serta massa otak berkurang secara
progresif.
2) Pergerakan
Sensasi kinestetik berkurang, gangguan keseimbangan, dan penurunan
reaction time.
3) Tidur
Dapat terjadi insomnia dan mudah terbangun di malam hari dan tidur
dalam serta tidur REM berkurang.

h. Sistem sensori
1) Penglihatan
a) Penurunan kemampuan memfokuskan objek dekat
b) Terjadi peningkatan densitas lensa dan akumulasi lemak di sekitar
iris, menimbulkan adanya cincin kuning keabu-abuan
c) Produksi air mata menurun
d) Penurunan ukuran pupil dan penurunan sensitivitas pada cahaya
e) Kemampuan melihat di malam hari menurun, iris kehilangan
pigmen sehingga bola mata berwarna biru muda atau keabu-abuan.
2) Pendengaran
Penurunan kemampuan untuk mendengarkan suara berfrekuensi tinggi
dan serumen mengandung banyak keratin sehingga mengeras.
3) Perasa
Penurunan kemampuan untuk merasakan rasa pahit, asin, dan asam.
4) Peraba
Penurunan kemampuan untuk merasakan nyeri ringan dan perubahan
suhu.

6. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia


Menurut Azizah (2011), maslah fisik yang sering ditemukan pada lansia
adalah :
a. Mudah Jatuh
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata
yang melihat kejadian yang mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk dilantai atau ditempat yang lebih rendah dengan
atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.
b. Mudah Lelah
Disebakan oleh :
1) Faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan atau perasaan depresi)
2) Gangguan organik
3) Pengaruh obat-obatan
c. Berat Badan Menurun
Disebabkan oleh :
1) Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang gairah hidup
atau kelesuan
2) Adanya penyakit kronis
3) Ganguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan
terganggu
4) Faktor-faktor sosioekonomi (pensiun)
d. Sukar Menahan Buang Air Besar
Disebabkan oleh :
1) Obat-obat pencahar perut
2) Keadaan diare
3) Kelainan pada usus besar
4) Kelainan pada ujung saluran pencernaan (pada rektum usus)
e. Gangguan Pada Ketajaman Pengkihatan
Disebabkan oleh :
1) Presbiop
2) Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata berkurang)
3) Kekeruhan pada lensa mata (katarak)
4) Tekanan dalam mata yang meninggi (glukoma)

B. Konsep Dasar Penuaan

1. Pengertian Proses Penuaan


Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia.
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai
dari satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Menua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui
tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis, maupun psikologis. Memasuki usia tua
berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang
ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan-
gerakan lambat, dan postur tubuh yang tidak proforsional (Nugroho,
2008).
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya
daya tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh.
Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit
yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Proses menua sudah mulai
berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, misalnya denagn
terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf dan jaringan lain
sehingga tubuh “mati” sedikit demi sedikit (Nugroho, 2008).

2. Teori Proses Penuaan


Secara umum, proses menua didefinisikan sebagai perubahan yang
terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan detrimental.
Keadaan tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan
beradaptasi terhadap lingkungan untuk dapat bertahan hidup.
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori
biologi dan teori psikologis.
a. Teori biologi
1) Teori genetik
Teori ini menyebutkan bahwa manusia dan hewan terlahir dengan
program genetik yang mengatur proses menua selama rentang
hidupnya. Setiap spesie di dalam inti selnya memiliki suatu jam
genetik/jam biologis sendiri dan setiap spesies mempunyai batas usia
yang berbeda-beda yang telah diputar menurut replikasi tertentu
sehingga bila jam ini berhenti berputar maka ia akan mati.
2) Wear and tear theory
Menurut teori “pemakaian dan perusakan” disebutkan bahwa proses
menua terjadi akibat kelebihan usaha dan stres yang menyebabkan sel
tubuh menjadi lelah dan tidak mampu meremajakan fungsinya. Proses
menua merupakan suatu proses fisiologis.
3) Teori nutrisi
Teori nutrisi menyatakan bahwa proses menua dan kualitas proses
menua dipengaruhi intake nutrisi seseorang sepanjang hidupnya.
Intake nutrisi yang baik pada setiap tahap perkembangan akan
membantu meningktakan kualitas kesehatan seseorang. Semakin lama
seseorang mengkonsumsi makanan bergizi dalam rentang hidupnya,
maka ia akan hidup lebih lama dengan sehat.
4) Teori mutasi somatik
Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya mutasi somatik
akibat pengaruh lingkungan yang buruk. Terjadi kesalahan dalam
proses transkripsi DNA dan RNA dan dalam proses translasi RNA
protein/enzim. Kesalahan ini terjadi terus menerus sehingga akhirnya
akan terjadi penurunan fungsi organ atau perubahan sel normal.
5) Teori stres
Teori ini mengungkapkan bahwa proses menua terjasi akibat
hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan
tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan
usaha, dan sel yang menyebabkan sel tubuh lelah terpakai.
6) Slow immunology theory
Menurut teori ini, sistem imun menjadi efektif dengan bertambahnya
usia dan masuknya virus ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan
kerusakan organ tubuh.
7) Teori radikal bebas
Radikal bebas terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti
karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat
melakukan regenerasi.
8) Teori rantai silang
Teori ini mengungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang tua dan
usang menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.
Ikatan ini menyebabkan penurunan elastisitas, kekacauan, dan
hilangnya fungsi sel.

b. Teori psikologis
1) Teori kebutuhan dasar manusia
Menurut hierarki Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, setiap
manusia memiliki kebutuhan dan berusaha untuk memenuhi
kebutuhannya itu. Dalam pemenuhan kebutuhannya, setiap individu
memiliki prioritas. Ketika individu mengalami proses menua, ia akan
berusaha memenuhi kebutuhan di piramida tertinggi yaitu aktualisasi
diri.
2) Teori individualisme Jung
Kepribadian ini seseorang tidak hanya berorientasi pada dunia luar
namun juga pengalaman pribadi. Keseimbangan merupakan faktor
yang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Menurut teori
ini proses menua dikatakan berhasil apabila seseorang individu
melihat ke dalam dan nilai dirinya lebih dari sekedar kehilangan atau
pembatasan fisiknya.

3) Teori pusat kehidupan manusia


Teori ini berfokus pada identifikasi dan pencapaian tujuan kehidupan
seseorang menurut lima fase perkembangan, yaitu:
a) Masa anak-anak; belum memiliki tujuan hidup yang realistik.
b) Remaja dan dewasa muda; mulai memliki konsep tujuan hidup
yang spesifik.
c) Dewasa tengah; mulai memiliki tujuan hidup yang lebih kongkrit
dan berusaha untuk mewujudkannya.
d) Usia pertengahan; melihat ke belakang, mengevaluasi tujuan yang
dicapai.
e) Lansia; saat berhentu untuk melakukan pencapaian tujuan hidup.
4) Teori tugas perkembangan
Menurut tugas tahapan perkembangan ego Ericksson, tugas
terkembangan lansia adalah integrity versus despair. Jika lansia dapat
menemukan arti dari hidup yang dijalaninya, maka lansia akan
memiliki integritas ego utnuk menyesuaikan dan mengatur proses
menua yang dialaminya. Jika lansia tidak memiliki integritas maka ia
akan marah, depresi dan merasa tidak adekuat, dengan kata lain
mengalami keputusasaan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penuaan


a. Hereditas atau penuaan genetik
b. Nutrisi atu makanan
c. Status kesehatan
d. Pengalaman hidup
e. Lingkungan
f. Stres

C.
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. Definisi Hipertensi
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik
lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau
lebih besar 95 mmHg (Kodim Nasrin, 2003).

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan


hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme
pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2000)

Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg
atau tekanan diastolic lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostic ini dapat
dipastikan dengan mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang
terpisah (FKUI, 2001)

B. Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan
besar yaitu : ( Lany Gunawan, 2001 )
1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya,
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.

Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi,


sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun
hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab
yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output
atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi
atautransport Na.
2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang
mengakibatkantekanan darah meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua
sertapelabaran pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun. 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. Meskipun hipertensi
primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian
telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi.
Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor keturunan. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi. Ciri perseorangan. Ciri
perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur
( jika umur bertambah maka TD meningkat ), Jenis kelamin ( laki-laki
lebih tinggi dari perempuan ), Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit
putih )
2. Kebiasaan hidup. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya
hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ),
Kegemukan atau makan berlebihan, Stress, Merokok, Minum alkohol,
Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
1. Ginjal : Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor
2. Vascular : Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol, Vaskulitis
3. Kelainan endokrin : DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme
4. Saraf : Stroke, Ensepalitis, SGB
5. Obat – obatan : Kontrasepsi oral, Kortikosteroid

C. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi
sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf
simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi,
kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang
dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi
yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan
rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi untuk pertimbangan gerontology.
Perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer
bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat
dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
sekuncup), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).
Pathway

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : (Menurut : Edward K
Chung, 1995 )
1. Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu :
1. Mengeluh sakit kepala, pusing
2. Lemas, kelelahan
3. Sesak nafas
4. Gelisah
5. Mual muntah
6. Epistaksis
7. Kesadaran menurun

E. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas
akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan
penyakit hipertensi meliputi :
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis
penatalaksanaan:
1. Penatalaksanaan Non Farmakologis.
a. Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat
menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas
rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
b. Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging, bersepeda atau berenang.
2. Penatalaksanaan Farmakologis.
Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
a. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d. Tidak menimbulakn intoleransi.
e. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat – obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
golongan penghambat konversi rennin angitensin.

F. Pemeriksaan penunjang
1. Hemoglobin / hematokritUntuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap
volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor
resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia. BUN : memberikan informasi
tentang perfusi ginjal
2. Glukosa. Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi )
dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan
hipertensi )
3. Kalium serum. Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron
utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
4. Kalsium serum. Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi
5. Kolesterol dan trigliserid serum. Peningkatan kadar dapat
mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa
(efek kardiovaskuler)
6. Pemeriksaan tiroid. Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi
dan hipertensi
7. Kadar aldosteron urin/serum. Untuk mengkaji aldosteronisme primer
( penyebab )
8. Urinalisa. Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan
atau adanya diabetes.
9. Asam urat. Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
10. Steroid urin. Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
11. IVP. Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit
parenkim ginjal, batu ginjal / ureter
12. Foto dada. Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran
jantung
13. CT scan. Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
14. EKG. Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.

G. Komplikasi
Dalam perjalannya penyakit ini termasuk penyakit kronis yang dapat
menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain :
1. Stroke
2. Gagal jantung
3. Ginjal
4. Mata

H. Kemungkinan Diagosa Keperawatan


1. Nyeri akut : sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral
2. Resiko penurunan curah jantung b/d vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas
ventrikuler,
3. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

I. Intervensi
Diagnosa Tujuan dan
No Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
1 Nyeri akut b.d agen NOC : NIC :
injury biologis
  Pain Level, Pain Management
  Pain control, Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif termasuk
Setelah dilakukan
lokasi, karakteristik, durasi,
asuhan keperawatan
frekuensi, kualitas dan faktor
selama..x24 jam
presipitasi
nyeri dapat teratasi
dengan Kriteria Observasi reaksi nonverbal
Hasil : dari ketidaknyamanan

Mampu mengontrol
3.      Gunakan teknik komunikasi
nyeri (tahu penyebab terapeutik untuk mengetahui
nyeri, mampu pengalaman nyeri pasien
menggunakan tehnik
4.      Kaji kultur yang
nonfarmakologi
mempengaruhi respon nyeri
untuk mengurangi
nyeri, mencari
5.      Evaluasi pengalaman nyeri
bantuan) masa lampau

Melaporkan bahwa
6.      Evaluasi bersama pasien dan
nyeri berkurang tim kesehatan lain tentang
dengan ketidakefektifan kontrol nyeri
menggunakan masa lampau
manajemen nyeri
7.      Bantu pasien dan keluarga
Mampu mengenali untuk mencari dan menemukan
nyeri (skala, dukungan
intensitas, frekuensi
8.      Kontrol lingkungan yang
dan tanda nyeri)
dapat mempengaruhi nyeri
Menyatakan rasa seperti suhu ruangan,
nyaman setelah nyeri pencahayaan dan kebisingan
berkurang
9.      Kurangi faktor presipitasi
Tanda vital dalam nyeri
rentang normal
10.  Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)

11.  Kaji tipe dan sumber nyeri


untuk menentukan intervensi

12.  Ajarkan tentang teknik non


farmakologi

13.  Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri

14.  Evaluasi keefektifan kontrol


nyeri

15.  Tingkatkan istirahat

16.  Kolaborasikan dengan dokter


jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil

17.  Monitor penerimaan pasien


tentang manajemen nyeri.

2 Penurunan curah NOC : NIC :


jantung b/d respon
Cardiac Pump Cardiac Care
fisiologis otot jantung
effectiveness
1.      Evaluasi adanya nyeri dada
Circulation Status ( intensitas,lokasi, durasi)

Vital Sign Status 2.      Catat adanya disritmia


jantung
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
3.      Catat adanya tanda dan gejala
selama…x24 jam, penurunan cardiac putput
pasien  tidak terjadi
4.      Monitor status
penurunan curah
kardiovaskuler
jantung dengan
Kriteria Hasil : 5.      Monitor status pernafasan
yang menandakan gagal
1.      Tanda Vital dalam
jantung
rentang normal
(Tekanan darah,
6.      Monitor abdomen sebagai
Nadi, respirasi) indicator penurunan perfusi

2.      Dapat mentoleransi


7.      Monitor balance cairan
aktivitas, tidak ada
8.      Monitor adanya perubahan
kelelahan
tekanan darah
3.      Tidak ada edema
9.      Monitor respon pasien
paru, perifer, dan
terhadap efek pengobatan
tidak ada asites
antiaritmia
4.      Tidak ada
10.  Atur periode latihan dan
penurunan kesadaran
istirahat untuk menghindari
kelelahan

11.  Monitor toleransi aktivitas


pasien

12.  Monitor adanya dyspneu,


fatigue, tekipneu dan ortopneu

13.  Anjurkan untuk menurunkan


stress

Vital Sign Monitoring

1.      Monitor TD, nadi, suhu, dan


RR

2.      Catat adanya fluktuasi


tekanan darah

3.      pernapasan

3 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :


b/d
  Energy conservation Energy Management
ketidakseimbangan
  Self Care : ADLs
suplai dan kebutuhan 1.      Observasi adanya pembatasan
oksigen. klien dalam melakukan
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan aktivitas
selama...x24
2.      Dorong anal untuk
jam,pasien
mengungkapkan perasaan
menunjukan tidak
terhadap keterbatasan
terjadi intoleransi
aktivitas 3.      Kaji
dengan adanya factor yang
Kriteria Hasil : menyebabkan kelelahan

     4.      Monitor nutrisi  dan sumber


Berpartisipasi dalam
aktivitas fisik tanpa energi yang adekuat
disertai peningkatan
5.      Monitor pasien akan adanya
tekanan darah, nadi
kelelahan fisik dan emosi
dan RR
secara berlebihan
2.      Mampu melakukan
6.      Monitor respon
aktivitas sehari hari
kardiovaskuler  terhadap
(ADLs) secara
aktivitas
mandiri
7.      Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat pasien

Activity Therapy

1.      Kolaborasikan dengan Tenaga


Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan progran terapi
yang tepat.

2.      Monitor respon fisik, emosi,


social dan spiritual
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2008. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta,
EGC.
Smeltzer, Suzanne; and Benda G Bare. (2008), Buku Saku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC,                   3.    Etiologi
Dep Kes RI, 2010.   Diet Rendah garam, Pozi Pusat Dep Kes RI, Jakarta
Mansjoer Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media
Aesculapius Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan perawatannya.
Jakarta: Salemba MedikaSoeparman dkk, 2007,   Ilmu Penyakit dalam,
Jilid 1, edisi 2. UI Press, Jakarta.