Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH : SARAF

SOL (Space Occupying Lesion)

DI RUANG DAHLIA RS PMI BOGOR

OLEH :

Lisna Lismayanti

18190100028

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

2019
A. Anatomi Fisiologi
Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus
dansaling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi,
menafsirkandan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan
lainnya. Sistem tubuhyang pentng ini juga mengatur kebanyakan aktivitas
system-system tubuh lainnya,karena pengaturan saraf tersebut maka terjalin
komunikasi antara berbagai systemtubuh hingga menyebabkan tubuh berfungsi
sebagai unit yang harmonis. Dalamsystem inilah berasal segala fenomena
kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasidan gerakan. Jadi kemampuan untuk
dapat memahami, belajar dan memberi respon terhadap suatu rangsangan
merupakan hasil kerja integrasi dari system saraf yang puncaknya dalam bentuk
kepribadian dan tingkah laku individu.Jaringan saraf terdiri Neuroglia dan Sel
schwan (sel-sel penyokong) serta Neuron (sel-sel saraf). Kedua jenis sel
tersebut demikian erat dan terintergrasi satu sama lain nya sehingga bersama-
sama berfungsi sebagai satu unit.
Bagian – Bagian Sel Saraf
Sel saraf terdiri dari Neuron dan Sel Pendukung
1. Neuron adalah unit fungsional sistem saraf yang terdiri
dari badan sel dan perpanjangan sitoplasma.
a. Badan sel atau perikarion : suatu neuron
mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron.
Bagian ini tersusun dari komponen berikut :
 Satu nukleus tunggal, nucleolus yang menanjol dan organel lain
seperti konpleks golgi dan mitochondria, tetapi nucleus ini tidak
memiliki sentriol dan tidak dapat bereplikasi.
 Badan nissi, terdiri dari reticulum endoplasma kasar dan ribosom-
ribosom bebas serta berperan dalam sintesis protein.

1
 Neurofibril yaitu neurofilamen dan neurotubulus yang dapat dilihat
melalui mikroskop cahaya jika diberi pewarnaan dengan perak.
b. Dendrit adalah perpanjangan sitoplasma yang biasanya berganda
dan pendek serta berfungsi untuk menghantar impuls ke sel tubuh.
c. Akson
Suatu prosesus tunggal, yang lebih tipis dan lebih panjang dari
dendrite. Bagian ini menghantar impuls menjauhi badan sel ke
neuron lain, ke sel lain (sel otot atau kelenjar) atau ke badan sel
neuron yang menjadi asal akson.

Gambar Stuktur Neuron


2. Sel Neuroglia
Neuroglia (berasal dari nerve glue) mengandung berbagai macam se
yang secara keseluruhan menyokong, melindungi, dan sumber nutrisi sel
saraf pada otak dan medulla spinalis, sedangkan sel Schwann merupakan
pelindung dan penyokong neuron-neuron diluar sistem saraf pusat.
Neuroglia jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan
perbandingan sekitar sepuluh banding satu. Ada empat sel neuroglia yang
berhasil diindentifikasi yaitu :
a) Astrosit adalah sel berbentuk bintang yang memiliki sejumlah prosesus
panjang, sebagian besar melekat pada dinding kapilar darah melalui

2
pedikel atau “kaki vascular”. Berfungsi sebagai “sel pemberi makan”
bagi neuron yang halus. Badan sel astroglia berbentuk bintang dengan
banyak tonjolan dan kebanyakan berakhir pada pembuluh darah sebagai
kaki perivaskular. Bagian ini juga membentuk dinding perintang antara
aliran kapiler darah dengan neuron, sekaligus mengadakan pertukaran zat
diantara keduanya. Dengan kata lain, membantu neuron mempertahankan
potensial bioelektris yang sesuai untuk konduksi impuls dan transmisi
sinaptik. Dengan cara ini pula sel-sel saraf terlindungi dari substansi yang
berbahaya yang mungkin saja terlarut dalam darah, tetapi fungsinya
sebagai sawar darah otak tersebut masih memerlukan pemastian lebih
lanjut, karena diduga celah endothel kapiler darahlah yang lebih berperan
sebagai sawar darah otak.
b) Oligodendrosit menyerupai astrosit, tetapi badan selnya kecil dan jumlah
prosesusnya lebih sedikit dan lebih pendek. Merupakan sel glia yang
bertanggung jawab menghasilkan myelin dalam susunan saraf pusat. Sel
ini mempunyai lapisan dengan subtansi lemak mengelilingi penonjolan
atau sepanjang sel saraf sehingga terbentuk selubung myelin.
c) Mikroglia ditemukan dekat neuron dan pembuluh darah, dan dipercaya
memiliki peran fagositik. Sel jenis ini ditemukan di seluruh sistem saraf
pusat dan dianggap berperan penting dalam proses melawan infeksi.
d) Sel ependimal membentuk membran spitelial yang melapisi rongga
serebral dan ronggal medulla spinalis. Merupakan neuroglia yang
membatasi system ventrikel sistem saraf pusat. Sel-sel inilah yang
merupakan epithel dari Plexus Coroideus ventrikel otak,
3. Selaput Myelin
Merupakan suatu kompleks protein lemak berwarna putih yang
mengisolasi tonjolan saraf. Mielin menghalangi aliran Natrium dan
Kalium melintasi membran neuronal dengan hamper sempurna. Selubung
myelin tidak kontinu di sepanjang tonjolan saraf dan terdapat celah-selah

3
yang tidak memiliki myelin, dinamakan nodus ranvier, Tonjolan saraf
pada sumsum saraf pusat dan tepi dapat bermielin atau tidak bermielin.
Serabut saraf yang mempunyai selubung myelin dinamakan serabut
myelin dan dalam sistem saraf pusat dinamakan massa putih (substansia
Alba). Serabut-serabut yang tak bermielin terdapat pada massa kelabu
(subtansia Grisea).
Myelin ini berfungsi dalam mempercepat penjalaran impuls dari
transmisi di sepanjang serabut yang tak bermyelin karena impuls berjalan
dengan cara “meloncat” dari nodus ke nodus lain di sepanjang selubung
myelin. Cara transmisi seperti ini dinamakan konduksi saltatorik.
Hal terpenting dalam peran myelin pada proses transmisi di sebaut
saraf dapat terlihat dengan mengamati hal yang terjadi jika tidak lagi
terdapat myelin disana. Pada orang-orang dengan Multiple Sclerosis,
lapisan myelin yang mengelilingi serabut saraf menjadi hilang. Sejalan
dengan hal itu orang tersebut mulai kehilangan kemampuan untuk
mengontrol otot-otonya dan akhirnya menjadi tidak mampu sama sekali.

Gambar 2.4 Struktur Gambar Myelin dan Nodus Ranvier


4. Synaps
Synaps merupakan tempat dimana neuron mengadakan kontak dengan
neuron lain atau dengan organ-organ efektor, dan merupakan satu-satunya
tempat dimana suatu impuls dapat lewat dari suatu neuron ke neuron

4
lainnya atau efektor. Ruang antara satu neuron dan neuron berikutnya
dikenal dengan celah sinaptik (Synaptic cleft). Neuron yang
menghantarkan impuls saraf menuju sinaps disebut neuron prasinaptik dan
neuron yang membawa impuls dari sinaps disebut neuron postsinaptik.

Gambar Sinaps dari Neuron


Sinaps sangat rentan terhadap perubahan kondisi fisiologis :
1. Alkalosis
Diatas PH normasl 7,4 meningkatkan eksitabilitas neuronal. Pada PH 7,8
konvulsi dapat terjadi karena neuron sangat mudah tereksitasi sehingga memicu
output secara spontan.
2. Asidosis
Dibawah PH normal 7,4 mengakibatkan penurunan yang sangat besar pada
output neuronal. Penurunan 7,0 akan mengakibatkan koma.
3. Anoksia
Atau biasa yang disebut deprivasi oksigen, mengakibatkan penurunan
eksitabilitas neuronal hanya dalam beberapa detik.
4. Obat-obatan
Dapat meningkatkan atau menurunkan eksitabilitas neuronal.

5
o Kafein menurunkan ambang untuk mentransmisi dan mempermudah
aliran impuls.
o Anestetik local (missal novokalin dan prokain) yang membekukan suatu
area dapat meningkatkan ambang membrane untuk eksitasi ujung saraf.
o Anastetik umum menurunkan aktivasi neuronal di seluruh tubuh.
5. Impuls Saraf
Impuls yang diterima oleh reseptor dan disampaikan ke efektor akan menyebabkan
terjadinya gerakan atau perubahan pada efektor. Gerakan tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Gerak sadar
Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja
atau disadari. Impuls yang menyebabkan gerakan ini disampaikan melalui
jalan yang panjang. Bagannya adalah sebagai berikut.
Impuls > Reseptor > Saraf Sensorik > Otak > Saraf Motorik >
Efektor (Otot)
b. Gerak refleks
Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari.
Impuls yang menyebabkan gerakan ini disampaikan melalui jalan yang sangat
singkat dan tidak melewati otak..
Contoh gerak refleks adalah sebagai berikut:
1) Terangkatnya kaki jika terinjak sesuatu.
2) Gerakan menutup kelopak mata dengan cepat jika ada benda asing yang
masuk ke mata.
3) Menutup hidung pada waktu mencium bau yang sangat busuk.
4) Gerakan tangan menangkap benda yang tiba-tiba terjatuh.
5) Gerakan tangan melepaskan benda yang bersuhu tinggi.
6. Saraf Pusat Manusia

6
Sistem saraf pusat merupakan pusat dari seluruh kendali dan regulasi pada tubuh,
baik gerakan sadar atau gerakan otonom. Dua organ utama yang menjadi
penggerak sistem saraf pusat adalah otak dan sumsum tulang belakang.
Otak manusia merupakan organ vital yang harus dilindungi oleh tulang
tengkorak. Sementara itu, sumsum tulang belakang dilindungi oleh ruas-ruas
tulang belakang. Otak dan sumsum tulang belakang sama-sama dilindungi oleh
suatu membran yang melindungi keduanya. Membran pelindung tersebut
dinamakan meninges. Meninges dari dalam keluar terdiri atas tiga bagian, yaitu
piameter, arachnoid, dan durameter. Cairan ini berfungsi melindungi otak atau
sumsum tulang belakang dari goncangan dan benturan.
Selaput ini terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
a) Piamater. Merupakan selaput paling dalam yang menyelimuti sistem saraf
pusat. Lapisan ini banyak sekali mengandung pembuluh darah.
b) Arakhnoid. Lapisan ini berupa selaput tipis yang berada di antara piamater
dan duramater.
c) Duramater. Lapisan paling luar yang terhubung dengan tengkorak. Daerah di
antara piamater dan arakhnoid diisi oleh cairan yang disebut cairan
serebrospinal. Dengan adanya lapisan ini, otak akan lebih tahan terhadap
goncangan dan benturan dengan kranium. Kadangkala seseorang mengalami
infeksi pada lapisan meninges, baik pada cairannya ataupun lapisannya yang
disebut meningitis.

7
Gambar Lapisan Otak
1) Otak
Otak merupakan organ yang telah terspesialisasi sangat kompleks. Berat
total otak dewasa adalah sekitar 2% dari total berat badannya atau sekitar 1,4
kilogram dan mempunyai sekitar 12 miliar neuron. Pengolahan informasi di
otak dilakukan pada bagian-bagian khusus sesuai dengan area penerjemahan
neuron sensorik. Permukaan otak tidak rata, tetapi berlekuk-lekuk sebagai
pengembangan neuron yang berada di dalamnya. Semakin berkembang otak
seseorang, semakin banyak lekukannya. Lekukan yang berarah ke dalam
(lembah) disebut sulkus dan lekukan yang berarah ke atas (gunungan)
dinamakan girus.
Otak mendapatkan impuls dari sumsum tulang belakang dan 12
pasang saraf kranial. Setiap saraf tersebut akan bermuara di bagian otak yang
khusus. Otak manusia dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu otak depan,
otak tengah, dan otak belakang. Para ahli mempercayai bahwa dalam
perkembangannya, otak vertebrata terbagi menjadi tiga bagian yang
mempunyai fungsi khas. Otak belakang berfungsi dalam menjaga tingkah
laku, otak tengah berfungsi dalam penglihatan, dan otak depan berfungsi
dalam penciuman.

8
Gambar Otak
a) Prosencephalon
Prosencephalon terdiri atas cerebrum, talamus, dan hipotalamus.
1) Cerebrum
Merupakan bagian terbesar dari otak, yaitu mencakup 85% dari volume
seluruh bagian otak. Bagian tertentu merupakan bagian paling penting dalam
penerjemahan informasi yang Anda terima dari mata, hidung, telinga, dan
bagian tubuh lainnya. Bagian otak besar terdiri atas dua belahan (hemisfer),
yaitu belahan otak kiri dan otak kanan. Setiap belahan tersebut akan mengatur
kerja organ tubuh yang berbeda.besar terdiri atas dua belahan, yaitu hemisfer
otak kiri dan hemisfer otak kanan. Otak kanan sangat berpengaruh terhadap
kerja organ tubuh bagian kiri, serta bekerja lebih aktif untuk pengerjaan
masalah yang berkaitan dengan seni atau kreativitas. Bagian otak kiri
mempengaruhi kerja organ tubuh bagian kanan serta bekerja aktif pada saat
Anda berpikir logika dan penguasaan bahasa atau komunikasi. Di antara
bagian kiri dan kanan hemisfer otak, terdapat jembatan jaringan saraf
penghubung yang disebut dengan corpus callosum.

9
Gambar Belahan pada Prosencephalon
2) Talamus
Mengandung badan sel neuron yang melanjutkan informasi menuju otak
besar. Talamus memilih data menjadi beberapa kategori, misalnya semua
sinyal sentuhan dari tangan. Talamus juga dapat menekan suatu sinyal dan
memperbesar sinyal lainnya. Setelah itu talamus menghantarkan informasi
menuju bagian otak yang sesuai untuk diterjemahkan dan ditanggapi.
3) Hipotalamus
Mengontrol kelenjar hipofisis dan mengekspresikan berbagai macam hormon.
Hipotalamus juga dapat mengontrol suhu tubuh, tekanan darah, rasa lapar,
rasa haus, dan hasrat seksual. Hipotalamus juga dapat disebut sebagai pusat
kecanduan karena dapat dipengaruhi oleh obatobatan yang menimbulkan
kecanduan, seperti amphetamin dan kokain. Pada bagian lain hipotalamus,
terdapat kumpulan sel neuron yang berfungsi sebagai jam biologis. Jam
biologis ini menjaga ritme tubuh harian, seperti siklus tidur dan bangun tidur.
Di bagian permukaan otak besar terdapat bagian yang disebut telensefalon
serta diensefalon. Pada bagian diensefalon, terdapat banyak sumber kelenjar
yang menyekresikan hormon, seperti hipotalamus dan kelenjar pituitari
(hipofisis). Bagian telensefalon merupakan bagian luar yang mudah kita amati
dari model torso

10
Gambar Pembagian Fungsi pada Cerebrum

Beberapa bagian dari hemisfer mempunyai tugas yang berbeda terhadap


informasi yang masuk. Bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut.
a. Temporal, berperan dalam mengolah informasi suara.
b. Oksipital, berhubungan dengan pengolahan impuls cahaya dari penglihatan.
c. Parietal, merupakan pusat pengaturan impuls dari kulit serta berhubungan
dengan pengenalan posisi tubuh.
d. Frontal, merupakan bagian yang penting dalam proses ingatan dan
perencanaan kegiatan manusia.

b) Mesencephalon
Mesencephalon merupakan bagian terkecil otak yang berfungsi dalam
sinkronisasi pergerakan kecil, pusat relaksasi dan motorik, serta pusat
pengaturan refleks pupil pada mata. Mesencephalon terletak di permukaan
bawah cerebrum. Pada mesencephalon terdapat lobus opticus yang berfungsi
sebagai pengatur gerak bola mata. Pada bagian mesencephalon, banyak
diproduksi neurotransmitter yang mengontrol pergerakan lembut. Jika terjadi

11
kerusakan pada bagian ini, orang akan mengalami penyakit parkinson.
Sebagai pusat relaksasi, bagian mesencephalon banyak menghasilkan
neurotransmitter dopamin.

c) Myelencephalon
Myelencephalon tersusun atas cerebellum, medula oblongata, dan pons varoli.
Myelencephalon berperan dalam keseimbangan tubuh dan koordinasi gerakan
otot. Myecenphalon akan mengintegrasikan impuls saraf yang diterima dari
sistem gerak sehingga berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh
pada saat beraktivitas. Kerja myelencephalon berhubungan dengan sistem
keseimbangan lainnya, seperti proprioreseptor dan saluran keseimbangan di
telinga yang menjaga keseimbangan posisi tubuh. Informasi dari otot bagian
kiri dan bagian kanan tubuh yang diolah di bagian cerebrum akan diterima
oleh cerebellum melalui jaringan saraf yang disebut pons varoli. Di bagian
cerebellum terdapat saluran yang menghubungkan antara otak dengan
sumsum tulang belakang yang dinamakan medula oblongata. Medula
oblongata berperan pula dalam mengatur pernapasan, denyut jantung,
pelebaran dan penyempitan pembuluh darah, gerak menelan, dan batuk. Batas
antara medula oblongata dan sumsum tulang belakang tidak jelas. Oleh karena
itu, medula oblongata sering disebut sebagai sumsum lanjutan.

Gambar Cerebellum, pons varoli, dan medula oblongata

12
Pons varoli dan medula oblongata, selain berperan sebagai pengatur sistem
sirkulasi, kecepatan detak jantung, dan pencernaan, juga berperan dalam pengaturan
pernapasan. Bahkan, jika otak besar dan otak kecil seseorang rusak, ia masih dapat
hidup karena detak jantung dan pernapasannya yang masih normal. Hal tersebut
dikarenakan fungsi medula oblongata yang masih baik. Peristiwa ini umum terjadi
pada seseorang yang mengalami koma yang berkepanjangan. Bersama otak tengah,
pons varoli dan medula oblongata membentuk unit fungsional yang disebut batang
otak (brainstem).
2) Medulla Spinalis
medulla spinalis merupakan perpanjangan dari sistem saraf pusat. Seperti
halnya dengan sistem saraf pusat yang dilindungi oleh tengkorak kepala yang
keras,medula spinalis juga dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang. Medula spinalis
memanjang dari pangkal leher, hingga ke selangkangan. Bila medula spinalis ini
mengalami cidera ditempat tertentu, maka akan mempengaruhi sistem saraf
disekitarnya, bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan di area bagian bawah tubuh,
seperti anggota gerak bawah (kaki).
Secara anatomis, medula spinalis merupakan kumpulan sistem saraf yang
dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang. Sumsum tulang belakang atau biasa
disebut medulla spinalis ini, merupakan kumpulan sistem saraf dari dan ke otak.
Secara rinci, ruas-ruas tulang belakang yang melindungi medula spinalis ini adalah
sebagai berikut:
Medulla spinalis terdiri dari 31 pasang saraf spinalis yang terdiri dari 7 pasang
dari segmen servikal, 12 pasang dari segmen thorakal, 5 pasang dari segmen
lumbalis, 5 pasang dari segmen sacralis dan 1 pasang dari segmen koxigeus

13
Gambar Medula Spinalis

1) Vertebra Servikalis (ruas tulang leher) yang berjumlah 7 buah dan


membentuk daerah tengkuk.
2) Vertebra Torakalis (ruas tulang punggung) yang berjumlah 12 buah dan
membentuk bagian belakang torax atau dada.
3) Vertebra Lumbalis (ruas tulang pinggang) yang berjumlah 5 buah dan
membentuk daerah lumbal atau pinggang.
4) Vertebra Sakralis (ruas tulang kelangkang) yang berjumlah 5 buah dan
membentuk os sakrum (tulang kelangkang).
5) Vertebra koksigeus (ruas tulang tungging) yang berjumlah 4 buah dan
membentuk tulang koksigeus (tulang tungging)
7. Saraf Tepi Manusia
Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf medula
spinalis. Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf
medula spinalis keluar dari sela-sela ruas tulang belakang. Tiap pasang serabut saraf
otak akan menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke hidung, mata, telinga, dan

14
sebagainya. Sistem saraf tepi terdiri atas serabut saraf sensorik dan motorik yang
membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi
dibagi menjadi dua, berdasarkan cara kerjanya, yaitu sebagai berikut.
1) Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar bekerja atas dasar kesadaran dan kemauan kita. Ketika
Anda makan, menulis, berbicara, maka saraf inilah yang mengkoordinirnya.
Saraf ini mene-ruskan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, dan
meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke semua otot kerangka tubuh.
Sistem saraf sadar terdiri atas 12 pasang saraf kranial, yang keluar dari otak
dan 31 pasang saraf spinal yang keluar dari sumsum tulang belakang 31
pasang saraf spinal. Saraf-saraf spinal tersebut terdiri atas gabungan saraf
sensorik dan motorik. Dua belas pasang saraf kranial tersebut, antara lain
sebagai berikut.
a) Saraf olfaktori, saraf optik, dan saraf auditori. Saraf-saraf ini
merupakansaraf sensori.
b) Saraf okulomotori, troklear, abdusen, spinal, hipoglosal. Kelima saraf
tersebut merupakan saraf motorik.
c) Saraf trigeminal, fasial, glossofaringeal, dan vagus. Keempat saraf
tersebut merupakan saraf gabungan dari saraf sensorik dan motorik. Agar
lebih memahami tentang jenis-jenis saraf kranial.
2) Sistem Saraf Tak Sadar (Otonom)
Sistem saraf ini bekerja tanpa disadari, secara otomatis, dan tidak di bawah
kehendak saraf pusat. Contoh gerakan tersebut misalnya denyut jantung,
perubahan pupil mata, gerak alat pencernaan, pengeluaran keringat, dan lain-
lain. Kerja saraf otonom ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh hipotalamus
di otak. Coba Anda ingat kembali fungsi hipotalamus yang sudah dijelaskan di
depan. Apabila hipotalamus dirangsang, maka akan berpengaruh terhadap
gerak otonom seperti contoh yang telah diambil, antara lain mempercepat

15
denyut jantung, melebarkan pupil mata, dan menghambat kerja saluran
pencernaan.Sistem saraf otonom ini dibedakan menjadi dua.
1. Saraf Simpatik
Saraf ini terletak di depan ruas tulang belakang. Fungsi saraf ini
terutama untuk memacu kerja organ tubuh, walaupun ada beberapa yang
malah menghambat kerja organ tubuh. Fungsi memacu, antara lain
mempercepat detak jantung, memperbesar pupil mata, memperbesar
bronkus. Adapun fungsi yang menghambat, antara lain memperlambat
kerja alat pencernaan, menghambat ereksi, dan menghambat kontraksi
kantung seni.
2. Sistem Saraf Parasimpatik
Saraf ini memiliki fungsi kerja yang berlawanan jika dibandingkan
dengan saraf simpatik. Saraf parasimpatik memiliki fungsi, antara lain
menghambat detak jantung, memperkecil pupil mata, memperkecil
bronkus, mempercepat kerja alat pencernaan, merangsang ereksi, dan
mepercepat kontraksi kantung seni. Karena cara kerja kedua saraf itu
berlawanan, makamengakibatkan keadaan yang normal.

16
Gambar Saraf Parasimpatik dan Simpatik
B. Pengertian
SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah
mengenai adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak.
Terdapat beberapa penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti
kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor pada intracranial
(Smeltzer & Bare, 2013).
Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas
yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak. Tumor otak merupakan salah
satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas maupun tidak. Tumor ganas
disusunan saraf pusat adalah semua proses neoplastik yang terdapat dalam
intracranial atau dalam kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh

17
sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-selsaraf di
meaningen otak, termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang
(Neuroglia), sel epitel pembuluh darah dan selaput otak. (Fransisca, 2008: 84).
Kranium merupakan tempat yang kaku dengan volume yang terfiksasi
maka lesi-lesi ini akan meningkatkan tekanan intracranial. Suatu lesi yang
meluas pertama kali dengan cara mengeluarkan cairan serebrospinal dari
rongga cranium. Akhirnya vena mengalami kompresi, dangan gangguan
sirkulasi darah otak dan cairan serebrospinal mulai timbul dan tekanan
intracranial mulai naik. Kongesti venosa menimbulkan peningkatan produksi
dan penurunan absorpsi cairan serebrospinal dan meningkatkan volume dan
terjadi kembali hal-hal seperti diatas.
C. Penyebab dan Manifestasi Klinik
Gejala terjadinya spesifik sesuai dengan gangguan daerah otak yang terkena.
Menyebutkan tanda-tanda yang ditunjukkan lokal, seperti pada ketidaknormalan
sensori dan motorik. Perubahan pengelihatan dan kejang karena fungsi dari
bagian-bagian berbeda-beda dan otak. Lokasi tumor dapat ditentukan pada
bagiannya dengan mengidentifikasi fungsi yang dipengaruhi oleh adanya tumor.
1. Tumor lobus frontal
Sering menyebabkan gangguan kepribadian, perubahan status emosional dan
tingkah laku dan disintegrasi perilaku mental. Pasien sering menjadi ekstrim
yang tidak teratur dan kurang merawat diri dan menggunakan bahasa cabul.
2. Tumor cerebellum (atur sikap badan / aktifitas otak dan
keseimbangan)
Mengatakan pusing, ataksia (kehilangan keseimbangan / berjalan yang
sempoyongan dengan kencenderungan jatuh, otot tidak terkoordinasi dan
nigtatius (gerakan mata berirama tidak sengaja) biasanya menunjukkan gerak
horizontal.
3. Tumor korteks motoric

18
Menimbulkan manifestasi gerakan seperti epilepsy, kejang jarksonian
dimana kejang terletak pada satu sisi.
4. Tumor lobus frontal
Sering menyebabkan gangguan kepribadian, perubahan status emosional dan
tingkah laku dan distulegrasi perilaku mental. Pasien sering menjadi ekstrim
yang tidak teratur dan kurang merawat diri dan menggunakan bahasa cabul.
5. Tumor intra cranial
Dapat menghasilkan gangguan kepribadian, konfusi, gangguan fungsi bicara
dan gangguan gaya berjalan, terutama pada pasien lansia. Tipe tumor yang
paling sering adalah meningioma, glioblastana (tumor otak yang sangat
maligna) dan metastase serebral dari bagian luar.
6. Tumor sudut cerebelopointin
Biasanya diawali pada jaring saraf akustik dan memberi rangkaian gejala
yang timbul dengan semua karakteristik gejala pada tumor otak.
Tanda dan gejala peningkatan TIK :
a) Sakit kepala
b) Muntah
c) Papiledema
d) Tinitus dan kelihatan vertigo, segera ikuti perkembangan saraf-saraf
yanga mengarah terjadinya tuli (gangguan fungsi saraf cranial ke VIII /
vestibulochorlearis / oktavus)
e) Kesemutan dan rasa gatal-gatal pada wajah dan lidah (berhubungan
dengan cranial ke V/trigemirus)
f) Terjadi kelemahan atau paralisis (keterbatasan saraf cranial ke VII /
fecialis)
g) Pembesaran tumor menekan serebelum, mungkin ada abnormalitas pada
fungsi motorik (aktivitas otot, sikap badan dan keseimbangan)
D.

19
E. Patofisiologi
Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan edema serebral
 Aktivitas kejang dan tanda – tanda neurologis fokal
 Hidrosefalus
 Gangguan fungsi hipofisis
Pada fase awal, abses otak ditandai dengan edema local, hyperemia,
infiltrasi leukosit / melunaknya parenkim trombosis sepsis dan edema, beberapa
hari atau minggu dari fase awal terjadi proses uque fraction ataudinding kista
berisi pus. Kemudian rupture maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa
timbul meningitis.

Tumor otak menyebabkan gangguan neurolagis. Gejala-gejala terjadi


berurutan Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan
klien. Gejala neurologic pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh
tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan vocal terjadi apabila penekanan
pada jaringan otak dan infiltrasi / inovasi langsung pada parenkim otak
dengan kerusakan jaringan neuron.

Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang


tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan
mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan
dengan kompersi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak.

Peningkatan intracranial dapat diakibatakan oleh beberapa factor :


bertambahnya masa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan
perubahan sirkulasi serebrospinal. Pertumbuhan tumor akan menyebabkan
bertambahnya massa karena tumor akan mengambilkan ruang yang relative
dari ruang tengkorak yang kaku.

20
Tumor ganas menimbulkan odem dalam jaringan otak. Mekanisme
belum sepenuhnya dipahami namun diduga disebabkan selisih osmotik yang
menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena oedema yang disebabkan
kerusakan sawar darah otak semuanya menimbulkan kenaikan volume
inntrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebro spinal dari vantrikel laseral
keruang sub arachnoid menimbulkan hidrosephalus.

Peningkatan intracranial akan membahayakan jiwa bila terjadi secara


cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.
Mekanisme kompensasi memrlukan waktu berhari-hari / berbulan-bulan untuk
menjadi efektif dan oleh karena itu tidak bergun apabila tekanan intracranial
timbulcepat.

Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah


intrakranial, volume cairan cerborspinal, kandungan cairan intra sel dan
mengurangi sel-selparenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati
mengakibatkan herniasiulkus/ serebulum.herniasi timbul bila girus medalis
lobus temporalis bergeser ke interior melalui insisuratentorial oleh massa
dalam hemisterotak. Herniasi menekan ensefalon menyebabkan kehilangan
kesadaran da nmenekan saraf ketiga. Pada herniasi serebulum tonsil sebelum
bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu massa poterior,
( Suddart, Brunner. 2001).

21
F. Patways

Tumor otak

Penekananjaringanotak Bertambahnyamassa

Invasijaringanotak Nekrosis jar. otak Penyerapancairanotak

Kerusakan jar. Neuron Gang.Suplai Hipoksiajar Obstruksi vena di otak


( Nyeri ) darah ingan

Kejang Gang.Neurolog Gang.Fungsi Gang.Perfu Oedema


isfokal otak sijaringan

Defisitneurolog Disorientasi Peningkatan TIK Hidrosefalus


is

 Aspirasisek Resti.Cidera Perubanah


resi proses pikir
 Obs.
Jlnnafas
Bradikardiprogresif, Bicaraterganggu, Hernialisulk
 Dispnea
hipertensisitemik, afasia us
 Hentinafas gang.pernafasan
 Perubahan
polanafas
Ancamankemat Gang.Komunikasi Menisefalontek
ia verbal anan
Gang.Pertuka
ran gas
Cemas Mual, muntah, Gang.ke
papileodema, sadaran
pandangankabur,
( Suddart, Brunner. 2001 ) Gang. Rasa penurunanfungsipendeng
nyaman aran, nyerikepala

22
G. Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan,
jejas tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi
tentang sistem vaskuler.
2. MRI : Membantu dalam mendeteksijejas yang kecil dan tumor didalam batang
otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang
menggunakan CT Scan
3. Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan
untuk memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.
4. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor
5. Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal pada
daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi
lobus temporal pada waktu kejang (Doenges, 2000).
H. Penatalaksanaan
Tumor otak yang tidak terobati menunjukkan ke arah kematian, salah satu
akibat peningkatan TIK atau dari kerusakan otak yang disebabkan oleh tumor.
Pasien dengan kemungkinan tumor otak harus dievaluasi dan diobati dengan
segera bila memungkinkan sebelum kerusakan neurologis tidak dapat diubah.
Tujuannya adalah mengangkat dan memusnahkan semua tumor atau banyak
kemungkinan tanpa meningkatkan penurunan neurologik (paralisis, kebutaan)
atau tercapainya gejala-gejala dengan mengangkat sebagian (dekompresi).
1. Pendekatan pembedahan (craniotomy)
Dilakukan untuk mengobati pasien meningioma, astrositoma kistik pada
serebelum, kista koloid pada ventrikel ke-3, tumor kongenital seperti demoid
dan beberapa granuloma. Untuk pasien dengan glioma maligna, pengangkatan
tumor secara menyeluruh dan pengobatan tidak mungkin, tetapi dapat
melakukan tindakan yang mencakup pengurangan TIK, mengangkat jaringan
nefrotik dan mengangkat bagian besar dari tumor yang secara teori

23
meninggalkan sedikit sel yang tertinggal atau menjadi resisten terhadap radiasi
atau kemoterapi.
2. Pendekatan kemoterapy
Terapi radiasi merupakan dasar pada pengobatan beberapa tumor otak, juga
menurunkan timbulnya kembali tumor yang tidak lengkap transplantasi sumsum
tulang autologi intravens digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima
kemoterapi atau terapi radiasi karena keadaan ini penting sekali untuk menolong
pasien terhadap adanya keracunan sumsum tulang sebagai akibat dosis tinggi
radiasi.
Kemoterapi digunakan pada jenis tumor otak tertentu saja. Hal ini bisa
digunakan pada klien :
a) Segera setelah pembedahan/tumor reduction kombinasi dengan terapi radiasi

b) Setelah tumor recurance

c) Setelah lengkap tindakan radiasi

3. Pendekatan stereotaktik
Stereotaktik merupakan elektroda dan kanula dimasukkan hingga titik tertentu
di dalam otak dengan tujuan melakukan pengamatan fisiologis atau untuk
menghancurkan jaringan pada penyakit seperti paralisis agitans, multiple
sklerosis & epilepsy. Pemeriksaan untuk mengetahui lokasi tumor dengan sinar
X, CT, sedangkan untuk menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor sambil
meminimalkan pengaruh pada jaringan otak di sekitarnya dilakukan
pemeriksaan Radiosotop (III) dengan cara ditempelkan langsung ke dalam
tumor.

24
I. Focus pengkajian keperawatan
PENGKAJIAN PRIMER
1. Airway
Adanya sumbatan obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk. Jika ada obstruksi maka lakukan :
a. Chin lift / jaw trust
b. Suction / hisap
c. Guedel airway
d. Intubasi trakhea dengan leher ditahan (imobilisasi) pada posisi netral.
2. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan
yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi,
whezing, sonor, stidor/ ngorok, ekspansi dinding dada.
3. Circulation
TD dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran
mukosa pucat, dingin, dan sianosis pada tahap lanjut.
4. Disability
Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap nyeri
atau atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur GCS. Adapun
cara yang cukup jelas dan cepat adalah dengan metode AVFUAwake : A,
Respon bicara :V, Respon nyeri : P, Tidak ada respon : U
5. Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera yang
mungkin ada, jika ada kecurigan cedera leher atau tulang belakang, maka
imobilisasi inline harus dikerjakan.

25
PENGKAJIAN SEKUNDER

1. Identitas klien : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan,


agama, suku bangsa, tanggal masuk rumha sakit dan askes.
2. Keluhan utama : nyeri kepala disertai penurunan kesadaran.
3. Riwayat penyakit sekarang : demam, anoreksi dan malaise peninggian
tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal.
4. Riwayat penyakit dahulu : pernah, atau tidak menderita infeksi telinga (otitis
media, mastoiditis) atau infeksi paru – paru (bronkiektaksis, abses paru,
empiema), jantung (endokarditis), organ pelvis, gigi dan kulit).
5. Aktivitas / istirahat
Gejala : malaise
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi, seperti endocarditis.
Tanda : TD : meningkat, Nadi : Menurun (berhubungan dengan
peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor).
b. Eliminasi
Gejala : Tidak ada, dan Tanda : adanya inkonteninsia dan atau retensi.
c. Nutrisi
Gejala : Kehilangan nafsu makan, disfagia (pada periode akut).
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
d. Hygiene
Gejala : -) , dan Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan,
perawatan diri (pada periode akut).

26
e. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, timbul kejang, gangguan penglihatan.
Tanda : Penurunan status mental dan kesadaran. Kehilangan memori, sulit
dalam keputusan, afasia, mata : pupil unisokor (peningkatan TIK),
nistagmus, kejang umum lokal.
f. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher /
pungung kaku.
Tanda : Tampak terus terjaga, menangis / mengeluh.
g. Pernapasan
Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (episode awal). Perubahan mental
(letargi sampai koma) dan gelisah
h. Keamanan
Gejala : adanya riwayat ISPA / infeksi lain meliputi : mastoiditis, telinga
tengah, sinus abses gigi, infeksi pelvis, abdomen ataukulit, fungsi lumbal,
pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala.

27
J. Fokus Intervensi Keperawatan
INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Ketidakefektifan perfusi NOC: 1. Pantau TTV
jaringan otak  System Neurologis: Kemampuan system saraf perifer 2. Pantau hasil AGD
Factor yang berubungan : dan system saraf pusat untuk menerima merespon 3. Kaji adanya nyeri kepala
 Perubahana ftinitas dan berespon terhadap stimulus internal dan 4. Kaji tingkat kesadaran
hemoglobin eksternal 5. Kaji tonus otot, pergerakan motorik, gaya berjalan dan
 Gangguan aliran arteri atau Tujuan dan criteria evaluasi kesesuaian
vena Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama x24 jam 6. Pemantauan Tekanan Intrakranial
Batasan karakteristik : 7. Perhatikan perubahan pasien sebagai respon terhadap
Subjektif  Menunjukan status sirkulasi dan kognisi, yang stimulus
 Nyeri Kepala dibuktikan oleh indicator sebagai berikut: 8. Berikan obat-obatan untuk meningkatkan volume
Objektif Indikator Saat Target intravaskuler sesuai program
 Perubahan status mental dikaji 9. Tinggikan bagian kepala termpat tidur hingga 45 derajat
 Perubahan respon motorik TD sistolik dan diastolik tergantung pada kondisi pasien dan program dokter.
 Ketidaknormalan dalam Ekpansi dada simetris
berbicara Berkomunikasi dengan jelas
Menunjukan perhatian dan
konsentrasi dan orientasi
kognitif
Mengolah informasi
Note : 1. Gangguan ekstrem; 2. Berat; 3. Sedang;
4. Ringan 5. Tidak ada gangguan

INTERVENSI KEPERAWATAN

28
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Pola Nafas tak efektif NOC: 1. Pemantauan pernapasan: pantau kecepatan, irama,
Factor yang berubungan :  Status pernapasan: kepatenan jalan napas; jalur napas kedalaman dan upaya pernapasan
 Penurunan energy dan trakeobronkial bersih dan terbuka untuk pertukaran 2. Perhatikan pergerakan dada, amati kesimetrisan,
kelelahan gas adanya penggunaan otot-otot
 Hiperventilasi  Status respirasi: ventilasi; pergerakan udara kedalam 3. Auskultasi suara napas
 Sindrom hipoventilasi dan keluar paru 4. Catat perubahan pada Peemeriksaann AGD
 Nyeri  Status tanda vital; TTV dalam rentang normal 5. Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang tehnik
 Kelelahan otot-otot pernapasan Tujuan dan criteria evaluasi relaksasi untuk memperbaiki pola pernapasan,
Batasan karakteristik Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 3x24 jam 6. Instruksikan kepada pasien dan keluarga bahwa mereka
Subjektif : harus memberitahu nakes pada saat terjadi
 Dispnea  Menunjukkan pola pernapasan efektif yang ketidakefektifan pola pernapasan
dibuktikan oleh status pernapasan, status ventilasi 7. Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan
 Napas pendek
dan pernapasan yang tidak terganggu, kepatenan meringankan sesak nafas
Objektif
jalan napas dan tidak ada penyimpangan tanda vital 8. Lakukan fisioterapi dada
 Bradipnea
yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut: 9. Berikan oksigen
 Penurunan tekanan inspirasi- 10. Monitor aliran oksigen
ekspirasi Indikator Saat dikaji Target
11. Berikan obat bronkodilator sesuai program
 Penurunan vntilasi semenit Frekuensi pernafasan
12. Berikan obat nyeri untuk mengoptimalkan pola napas
 Penurunan kapasitas vital Irama pernafasan
 Napas dalam Kedalaman inspirasi
 Peningkatan diameter anterior- Penggunaan otot bantu
posterior nafas
 Napas cuping hidung Suara nafas tambahan
 Ortopnea Note : 1. Berat ; 2. Cukup berat; 3. Sedang;
 Pengunaan otot bantu asesoris 4. Ringan 5. Tidak ada gangguan
untukbernapas

29
INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri NOC: 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Factor yang berubungan :  Tingkat kenyamanan : tingkat persepsi positif meliputi lokasi, karakteristik, awitam durasi frekuensi,
Agen – agen penyebab cedera : terhadap kemudahan fisik psikologis kualitas, intensitas ,atau keparahan nyeri dan factor
biologis, kimia, fisik dan  Pengendalian nyeri : tindakan individu untuk presipitasinya
psikologis mengendalikan nyeri 2. Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan
Batasan karakteristik  Tingkat nyeri : keparahan nyeri yang dapat diamati 3. Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala
Subjektif atau dilaporkan (1-10)
Mengungkapkan secara verbal Tujuan dan criteria evaluasi 4. Pengaturan posisi yang nyaman
atau melaporkan nyeri dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5. Terapi oksigen
isyarat x 24 jam :Menunjukan tingkat nyeri 6. Monitor TTV
Objektif Indicator sebagai berikut: 7. Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang
 Posisi untuk menghindari nyeri Indikator Saat Target dapat menungkatkan nyeri dan tawarkan strategi
 Perubahan selera makan dikaji koping yang ditawarkan
 Perubahan ekspresi misal : 8. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab
Nyeri yang dilaporkan
gelisah, merinih, meringis, nyeri,
Ekspresi nyeri pada wajah
menangis 9. Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis
Ketegangan otot (relaksasi, distraksi, terapi)
 Bukti nyeri dapat diamati Durasi episode nyeri
 Gangguan tidur 10. Pemberian analgetik
Merintih dan menangis 11. Laporkan pada dokter jika tindakan tidak berhasil
Gelisah
Ket : 1. Sangat Berat; 2. Berat; 3. Sedang
4. Ringan; 5. Tidak ada

INTERVENSI KEPERAWATAN

30
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Hambatan mobilitas fisik NOC: 1. Monitor kemampuan pasien untuk beraktivitas
Factor yang berubungan :  Ambulasi; kemampuan untuk berjalan dari suatu 2. Ajarkan dan bantu pasien dalam proses berpindah
 Perubahan metabolisme sel tempat ke tempat lain 3. Ajarkan dan dukung pasein dalam latihan ROM aktif
 Penurunan kekuatan otot  Mobilitas ; kemampuan untuk bergerak 4. Ajarkan teknik ambulasi dan berpindah dengan aman
 Ketidaknyamanan Tujuan dan criteria evaluasi 5. Awasi seluruh upaya mobilitas dan bantu pasien bila
 Kaku sendi atau kontraktur Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama x24 jam perlu
 Gangguan muskuloskeletal : pasien akan mempertahankan mobilitas yang 6. Berikan penguatan positif selama aktivitas
 Nyeri dibuktikan dengan indikator sebagai berikut: 7. Ubah posisi pasien
 Program pembatasan gerak Indikator Saat Target 8. Bantu pasien untuk berjalan, duduk, berdiri, dan
 Malnutrisi dikaji ambilasi dengan jarak tertentu sesuai kebuthan
Batasan karakteristik Keseimbangan 9. Terapkan, sediakan alat bantu (tongkat, walker, atau
 Dispnea saat beraktivitas Performa posisi tubuh kursi roda)
 Gerakan lambat Pergerakan sendi dan otot 10. Dorong latihan ROM
 Keterbatasan rentang gerak 11. Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi
Berjalan
 Penurunan kemampuan Bergerak dengan mudah
melakukan keterampilan Note : 1. Berat; 2. Cukup Berat; 3. Sedang;
kasar/halus 4. Ringan 5. Tidak ada gangguan
 Ketidaknyamanan

31
INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nutrisi Kurang Dari NOC: 1. Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan
Kebutuhan Tubuh :  Status gizi; tingkat ketersediaan zat gizi untuk makan
Factor yang berhubungan : memenuhi kegiatan metabolic 2. Pantau nilai laboratotium, khususnya Hb, Ht,
 Kesulitan mengunyah atau  Status gizi: pengukuran biokimia; komponen dan albumin, dan elektrolit
menelan kimia cairan yang mengindikasikan status nutrisi 3. Ketahui makanan kesukaan pasien
 Kurang pengetahuan dasar  Status gizi: asupan makanan dan cairan; jumlah 4. Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi
tentang nutrisi makanan dan cairan yang dikonsumsi tubuh dalam kebutuhan nutrisi
 Hilang nafsu makan waktu 24 jam 5. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan
 Mual dan muntah Tujuan dan criteria evaluasi asupan
Batasan karakteristik Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6. Timbang pasien pada interval yang tepat
Subjektif x 24 jam : 7. Ajarkan metode untuk perencanaan makan
 Kram abdomen  Memperlihatkan status gizi: asupan makanan dan 8. Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang
 Nyeri abdomen cairan, yang dibuktikan indicator sebagai berikut: berizi dan tidak mahal
Indikator Saat Target 9. Manajemen nutrisi: berikan informasi yang tepat
 Menolak makan
dikaji tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana
Objektif
memenuhinya
 Bising usus hiperaktif Makanan oral, pemberian
10. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan
 Kurang informasi/informasi makanan lewat selang, atau
kebutuhan protein pasien yang mengalami
yang salah nutrisi parenteral total
ketidakadekuatak asupan protein
 Kurangnya minat terhadap Asupan cairan oral
makanan atau IV
 Rongga mulut terluka Ket : 1. Tidak adekuat 2. Sedikit adekuat;
 Kelemahan otot yang 3.Cukup adekuat 4. Adekuat 5. Sangat Adekuat
berfungsi untuk menelan atau
mnengunyah

32
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, F. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Brunner & Suddarth (2003). Keperawatan Medical-Bedah Vol 2. Penerbit : Buku


Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges M.E, Moorhouse M.F & Geissler A.C (2009). Rencana Asuhan
Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasin
Perawatan Pasien. Edisi 3. Penerbit : Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

McPhee, S. J., & Ganong, W. F. (2012). Patofisiologi penyakit pengantar menuju


kedokteran klinis. Jakarta: EGC. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2013).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol
2. Alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih,
Penerbit : Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2012), Patofisiologi Konsep Klinis Proses _ Proses
Penyakit, Penerbit : Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Wilkinson, J.M. & Ahern R.N (2012). Buku Saku Diagnosa Keperawtan (Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC). Edisi Ke-9 Penerbit : Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.

33