Anda di halaman 1dari 3

Fitokrom paling berpengaruh pada proses photomofogenesis, karena sebagian besar pada tahap

perkembangan tanaman. Biasanya, tumbuhan responsif terhadap panjang gelombang cahaya di


wilayah spektrum biru, merah dan jauh-merah melalui aksi beberapa sistem fotosensori yang
berbeda. The fotoreseptor untuk panjang gelombang merah dan jauh-merah dikenal
sebagai phytochromes. Tanaman menggunakan fitokrom untuk mendeteksi dan merespons
panjang gelombang merah dan merah jauh. Fitokrom adalah sinyal protein yang mempromosikan
fotomorfogenesis sebagai respons terhadap cahaya merah dan cahaya merah jauh. Fitokrom
adalah satu-satunya fotoreseptor yang diketahui menyerap cahaya dalam spektrum cahaya merah
/ merah jauh (600-750 nm) secara khusus dan hanya untuk tujuan fotosensori. Fitokrom adalah
protein dengan pigmen penyerap cahaya yang melekat yang disebut kromofor . Kromofor adalah
tetrapirol linier yang disebut fitokromobilin . Ada dua bentuk fitokrom: penyerap cahaya merah,
Pr, dan cahaya merah jauh, Pfr. Pfr, yang merupakan bentuk aktif dari fitokrom, dapat
dikembalikan ke Pr, yang merupakan bentuk tidak aktif, perlahan-lahan dengan menyebabkan
kegelapan atau lebih cepat melalui penyinaran oleh cahaya merah jauh. Apoprotein fitokrom ,
protein yang bersama dengan gugus prostetik membentuk molekul biokimia tertentu
seperti hormon atau enzim , disintesis dalam bentuk Pr. Setelah mengikat kromofor, holoprotein ,
apoprotein yang digabungkan dengan kelompok prostetiknya, menjadi sensitif terhadap cahaya.
Jika menyerap cahaya merah, ia akan mengubah konformasi ke bentuk Pfr yang aktif secara
biologis. Bentuk Pfr dapat menyerap cahaya merah jauh dan beralih kembali ke bentuk Pr. Pfr
mempromosikan dan mengatur fotomorfogenesis sebagai respons terhadap cahaya FR,
sedangkan Pr mengatur de-etiolasi sebagai respons terhadap cahaya R. Sebagian besar
tumbuhan memiliki banyak fitokrom yang dikodekan oleh gen yang berbeda . Bentuk fitokrom
yang berbeda mengontrol respons yang berbeda tetapi ada juga redundansi sehingga dengan
tidak adanya satu fitokrom, yang lain dapat mengambil fungsi yang hilang. Ada lima gen yang
menyandikan fitokrom dalam model genetik Arabidopsis thaliana , PHYA-PHYE . PHYA
terlibat dalam regulasi fotomorfogenesis sebagai respons terhadap cahaya merah jauh. PHYB
terlibat dalam pengaturan perkecambahan biji fotoreversibel sebagai respons terhadap cahaya
merah. PHYC memediasi respon antara PHYA dan PHYB. PHYD dan PHYE memediasi
pemanjangan ruas dan mengontrol waktu di mana tanaman berbunga. Analisis molekuler dari
gen fitokrom dan fitokrom pada tumbuhan tingkat tinggi (pakis, lumut, alga) dan bakteri
fotosintetik telah menunjukkan bahwa fitokrom berevolusi dari fotoreseptor prokariotik yang
mendahului asal tumbuhan. 

Fitokrom adalah reseptor cahaya, suatu pigmen yang digunakan oleh tumbuhan untuk menyerap atau
mendeteksi cahaya. Sebagai sensor, fitokrom terangsang oleh cahaya merah dan infra merah, cahaya
infra merah memiliki panjang gelombang yang lebih besar daripada cahaya merah. Fitokrom detemukan
pada semua tumbuhan. Molekul yang serupa juga ditemukan pada bakteri. fisiologi adaptasi terhadap
lingkungan seperti fotoperiodisme (pengaturan saat berbunga pada tumbuhan ), perkecambahan,
pemanjangan dan pertumbuhan kecambah (khususnya pada tanaman dikotil), morfologi daun,
pemanjangan ruas batang, serta pembuatan (sintesis ) klorofil. Secara struktur kimia bagian sensor
fitokrom adalah suatu kromofor dari kelompok bilin (jadi disebut fitokromobilin), yang masih sekeluarga
dengan klorofil atau hemoglobin (kesemuanya memiliki kerangka heme). Kromofor ini dilindungi atau
diikat oleh apoprotein, yang juga berpengaruh terhadap kinerja bagian sensor. Kromofor dan apoprotein
inilah yang secara bersama-sama disebut sebagai fitokrom. Akumulasi fitokrom dalam bentuk Pr pada
perkecambahan dalam kondisi gelap adalah stabil. Sekali dipaparkan pada cahaya dan dikonfersikan
pada Pfr, fitokrom mengalami transformasi yang menyebabkan hilangnya Pfr dan fitokrom total. Seperti
yang telah diperkirakan, fitokrom disintesis dalam bentuk Pr yang meyerap warna merah, yang stabil
dan terakumulasi pada biji dan kecambah dalam kondisi gelap. Kecambah yang mengalami etiolasi, telah
menjadi sumber yang disukai dalam penelitian fitokrom sejak awal karena dua alasan. Pertama ,
kecambah yang mengalami etiolasi mengakumulasi sejumlah besar pigmen. Kedua, ketidakadaan klorofil
menyebabkan kemungkinan yang lebih besar dalam mengukur fitokrom secara langsung pada jaringan
dengan spektrofotometer yang diadaptasi untuk digunakan dengan optic rapat, bahan yang
menghamburkan cahaya. Dengan cara ini, perubahan jumlah total fotokrom dan proporsi Pr dan Pfr
dapat diamati bersamaan dengan control penyinaran. Penelitian secara in vivo ini telah mengkonfirmasi
banyak prediksi awal. Pada perkecambahan dalam kondisi gelap, paparan gelombang cahaya merah
yang singkat mengubah Pr menjadi Pfr. Gelombang cahaya Far-red meniadakan efek cahaya merah dan
membatalkan respon fisiologis. Hal ini menunjukkan bahwa Pfr, setidaknya pada kondisi perkecambahan
kondisi gelap, relative tidak stabil dan jika tidak dihilangkan se4cara fitokimia, konsentrasinya akan
berkurang dalam keadaan gelap selama kurang lebih 1 – 1,5 jam. Kehilangan Pfr bersamaan dengn
penurunan jumlah total fitokrom. Kejadian kinetic ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa kedua bentuk
pigmen merupakan subyek degradasi kimia yang irrevelsibel. Pr Terakumulasi pada keadaan gelap
hingga tingkat sintesisnya sesuai dengan tingkat degradasi Pr. Berdasarkan perlakuan cahaya merah
yang mengubah Pr menjadi Pfr kandungan total fotokrom menurun karena tingkat degradasi Pfr
mencapai 100 kali lebih besar dibandingkan dengan tingkat degradasi Pr. Fitokrom berfungsi sebagai
fotodetektor yang memberitahukan tumbuhan apakah ada cahaya atau tidak. Selain itu fitokrom juga
berfungsi memberikan informasi pada tumbuhan mengenai kualitas cahaya. Saat proses
perkecambahan, fitokrom memiliki sangat membantu memacu perkembangan akar. Cahaya merah yang
ditangkap oleh fitokrom memiliki banyak fungsi. Cahaya merah yang memacu perkembangan
perkecambahan biji, biru atau merah jauh dapat menghambat perkecambahan. Beberpa percobaan
tentang perkecambahan biji telah dilakukan. Pemberian perlakuan cahaya merah jauh setelah perlakuan
cahaya merah, tidak terjadi perkembangan atau perkcambahan. Namun pemberian cahaya merah (Pr)
setelah cahaya merah jauh (Prf) akan membentuk kecambah. Dengan kata lain, pemberian cahaya
akhirlah yang mempengaruhi terhadap perkecambahan biji. Sistem fitokrom juga memberikan informasi
pada tumbuhan mengenai kualitas cahaya. Cahaya matahari meliputi radiasi cahaya merah dan merah
jauh. Dengan demikian selama siang hari fotoreverso Pr dan Pfr mencapai suatu keseimbangan dinamis
dengan rasio kedua fitokrom tersebut menunjukkan jumlah relatif cahaya merah dan cahaya merah
jauh. Mekanisme pengindraan ini memungkinkan tumbuhan menyesuaikan diri dengan perubahan
cahaya.
Tanaman menunjukkan berbagai respon terhadap sinar UV. UVR8 telah terbukti sebagai reseptor
UV-B. Tanaman mengalami perubahan fotomorfogenik yang berbeda sebagai akibat dari radiasi
UV-B . Mereka memiliki fotoreseptor yang memulai perubahan morfogenetik pada embrio
tanaman ( hipokotil , epikotil , radikula ). Paparan sinar UV pada tanaman memediasi jalur
biokimia, fotosintesis, pertumbuhan tanaman dan banyak proses lain yang penting untuk
perkembangan tanaman. Fotoreseptor UV-B, UV Resistance Locus8 (UVR8) mendeteksi sinar
UV-B dan emumculkan respons fotomorfogenik. Respon ini penting untuk memulai
pemanjangan hipokotil, ekspansi daun, biosintesis flavonoid dan banyak proses penting lainnya
yang mempengaruhi sistem akar-pucuk. Paparan sinar UV-B dapat merusak DNA di dlam sel
tumbuhan, namun UVR8 menginduksi gen yang diperlukan untuk menyesuaikan tanaman
dengan radiasi UV-B, gen ini bertanggung jawab atas banyak jalur biosintesis yang melibatkan
perlindungan dari kerusakan UV, Stres oksidatif dan fotorepair kerusakan DNA.