Anda di halaman 1dari 10

TUGAS 2

TEORI AKUNTANSI

Nama: Komang Dewi Mulyani


Nim: 031190016
Kelas: Teori Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TERBUKA
TUGAS TUTORIAL 2

1. Metode untuk menilai persediaan menggunakan LIFO dilarang dalam SAK,


mengapa demikian? Jelaskan!

Jawab:

Metode LIFO yaitu barang yang dijual pertama adalah barang yang masuk gudang
terakhir, sehingga nilai persediaan akhir yang dilaporkan sebesar nilai harga pokok
pada pembelian pertama. Metode ini biasanya diterapkan ketika inflasi sedang
berlangsung sehingga menutup kerugian atas naiknya harga barang maka
didahulukan barang yang terakhir masuk untuk dijual. 
Metode LIFO kerap kali disukai oleh pihak historicus karena dalam periode-
periode inflasi metode ini memberikan ukuran marjin kotor yang lebih tepat.
Kelemahannya bahwa ukuran persediaan di neraca menjadi kurang tepat. Para
futuris lebih cenderung mendukung FIFO karena metode ini memberikan ukuran
aktiva yang lebih baik di neraca. Kelemahannya bhwa metode ini menghasilkan
ukuran harga pokok penjualan yang kurang tepat.
Karena adanya perdebatan ini akhirnya menciptakan berbagai ukuran aktiva yang
potensial. Banyaknya ukuran ini mencerminkan beragamnya penggunaan
akuntansi karena masing – masing menyarankan ukuran yang berbeda yang
mengakibatkan walaupun ada keuntungan yang pasti jika satu konsep yang
menyeluruh bisa diterima secara luas, sesuatu analisis yang mendalam atas pola-
pola penggunaan menunjukkan bhwa konsep penilaian saja tidak dapat memenuhi
semua tujuan dengan sama baiknya.
Sehingga metode ini menurut standar akuntansi internasional sudah tidak
dipergunakan lagi. Hal ini berlaku pula dengan standar akuntansi yang diterapkan
di Indonesia. PSAK yang menjadi acuan akuntan Indonesia dalam pembukuan
telah menyesuaikan dengan IFRS yang dipakai secara global.

Berikut beberapa alasan kenapa LIFO tidak digunakan lagi sebagai referensi
untuk menambah wawasan anda dalam hal persediaan :

a. Perbedaan Laba
Alasan pertama kenapa LIFO  tidak digunakan lagi adalah karena adanya
perbedaan laba yang cukup signifikan. Dibanding dua metode lainnya terdapat
selisih yang cukup jauh dalam laba operasi yang dihasilkan jika menggunakan
metode LIFO dalam menaksir persediaan.
b. Mampu Mengurangi Kualitas Laporan Keuangan
Penggunaan metode LIFO juga tidak merepresentasikan recent cost level of
inventory  . Hal ini membuat nilai persediaan tidak memiliki nilai yang relevan
atau keadaan yang sebenarnya. Pada akhirnya hal ini mengurangi kualitas dari
laporan keuangan itu sendiri.
c. Dapat Digunakan Untuk Memanipulasi Pajak
Kelemahan dari metode LIFO ialah mampu digunakan untuk memanipulasi laba
perusahaan. Penggunaan metode ini seperti dikatakan sebelumnya dapat
memperkecil laba perusahaan. Alhasil dengan kecilnya laba maka pajak yang
ditanggung perusahaan juga akan jauh lebih kecil. Tentunya hal ini dapat
mengurangi pendapatan negara.
Contoh Metode LIFO
Untuk memahami lebih jauh pengaruh metode LIFO ini maka berikut contoh
soal yang digunakan dengan membandingkan metode LIFO dan FIFO serta
Average.
Bapak Adi memiliki transaksi persediaan pada 2018 yakni sebagai berikut :
1. 14 Juli dilakukan pembelian 100 unit @Rp.1.000
2. 18 Juli dilakukan pembelian kembali 200 unit @Rp.2.000
3. 20 Juli dibeli 75 unit dengan harga Rp.1.500
4. Pada akhir Juli diketahui persediaan hanya ada 50 unit saja
5. Setiap barang dijual dengan harga Rp.2.500 per unitnya
Metode FIFO
100 unit @ Rp.1.000 Rp.100.000
200 unit @Rp.2.000 Rp. 400.000
25 unit @Rp. 1.500 Rp. 37.500
50 unit yang tidak terjual @Rp.1.500 Rp. 75.000
Jumlah persediaan terpakai dengan menggunakan metode FIFO ialah Rp.
100.000+ Rp.400.000 + Rp.37.500= Rp.437.500
Metode Average
100 unit @ Rp.1.000 + 200 unit @Rp.2.000+75 @Rp.1500 Rp. 612.500
Harga rata-rata per unit ialah Rp.612.500 : 575= Rp.1.065

50 unit yang tidak terjual @Rp.1.065 Rp. 53.250


Menurut metode rata-rata nilai persediaan yang terjual ialah 525 unit x Rp.1.065
= Rp.559.125
Metode LIFO
75 unit @ Rp.1.500 Rp.112.500
200 unit @Rp.2.000 Rp. 400.000
50 unit @Rp.1.000 Rp. 50.000
50 unit yang tidak terjual Rp. 50.000
@Rp.1.000
Jumlah unit yang terjual Rp.112.500+Rp.400.000+Rp.50.000 =
Rp.562.500
Jika diimplementasikan dalam laporan rugi maka hasilnya akan sangat jelas
terlihat sebagai berikut :
Metode FIFO Average LIFO
Pendapatan Rp.812.500 Rp.812.500 Rp.812.500
Harga Pokok Penjualan Rp.437.500 Rp.559.125 Rp.562.500
Laba Sebelum Pajak Rp.375.000 Rp. 253.375 Rp. 250.000

Setelah melihat contoh kasus diatas akan sangat terlihat bahwa dibandingkan
metode average maupun FIFO laba yang dihasilkan paling kecil ialah dengan
menggunakan metode LIFO. Inilah yang menyebabkan pajak tidak
memberlakukan metode ini dalam penilaian persediaan wajib pajak badan.
Kesimpulan dari larangan penggunaan metode LIFO adalah  karena dengan
menggunakan metode LIFO perusahaan dapat meminimalkan laba sehingga
memperkecil biaya pajak penghasilan. Seiring dengan berjalannya waktu harga
pembelian persediaan terus mengalami peningkatan yang dapat disebabkan oleh
inflasi, maka jika perusahaan menggunakan metode LIFO akan mengakibatkan
kerugian bagi negara karena setoran ke kas negara semakin sedikit. Oleh karena
itu, metode yang boleh digunakan berdasarkan ketentuan perpajakan di Indonesia
hanya metode Average atau metode FIFO.
Sumber referensi : BMP Teori Akuntansi Modul 4
https://www.jurnal.id/id/blog/2018-perbedaan-metode-persediaan-fifo-lifo-dan-
average/
https://www.kompasiana.com/auliadz/5f4890ead541df24d4506852/mengapa-pajak-
tidak-mengakui-metose-lifo
2. PT XYZ memiliki kekayakan bersih Rp 150 juta pada 2 Januari 2019 dan pada 31
Desember 2020 menjadi Rp 200 juta. Untuk mempertahankan kapasitas produksi
fisik perusahaan, diperlukan biaya Rp 150 juta dengan tingkat harga umum naik
10% selama periode tersebut. Tentukan besarnya money maintenance, GPP-
money maintenance, productivity capacity maintenance, dan GPP- productivity
capacity maintenance.

Jawab:

 Money Maintenance:
Net Asset 31 Desember 2020 Rp 200.000.000
Net Asset 2 Januari 2019 Rp 150.000.000
Laba Rp 50.000.000

 GPP – Money Maintenance:


Net Asset 31 Desember 2020 Rp 200.000.000
Net Asset 2 Januari 2019 Rp 150.000.000

Penyesuaian GPL =
10% x 150.000.000 = Rp 15.000.000
Rp 165.000.000
Laba Rp 35.000.000
 Productive Capacity Maintenance:
Net Asset 31 Desember 2020 Rp 200.000.000
Bagian yang diperlukan untuk memper-
tahankan kapasitas produksi perusahaan Rp 150.000.000
Laba Rp 50.000.000
 GPP - Productive Capacity Maintenance
Net Asset 31 Desember 2020 Rp 200.000.000
Bagian untuk mempertahankan
kapasitas produksi yang diperlukan
Net Asset 2 Januari 2019 Rp 150.000.000

Penyesuaian GPL =
10% x Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000
Rp 165.000.000
Laba Rp 35.000.000

Sumber: BMP Teori Akuntansi Modul 5


3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan laba komprehensif serta sebutkan komponen-
komponen penyusunnya!

Jawab:

Laba komprehensif juga merupakan laba yang dihasilkan oleh perusahaan sebagai
barometer keberhasilkan perusahaan.

Laba komprehensif menurut PSAK ( Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan )


adalah Laba komprehensif adalah kenaikan kekayaan perusahaan yang
dipengaruhi oleh berbagai hal yang TIDAK ADA hubungannya dengan operasi
normal perusahaan. Contoh laba komprehensif misalnya : Laba yang dihasilkan
dari adanya perubahan nilai tukar. Unsur laba seperti ini tidak dimasukkan ke
dalam laba bersih karena dianggap memberikan sedikit informasi tentang kinerja
ekonomi dari operasi normal perusahaan.
Laba komprehensif (comprehensive income) mencakup semua item yang
memengaruhi ekuitas pemilik tetapi bukan merupakan hasil transaksi dengan
pemilik saham. Beberapa item masuk dalam perhitungan laba bersih, dan beberapa
lainnya termasuk dalam pendapatan komprehensif lain. Tetapi, ini tidak mencakup
investasi dan penarikan oleh pemilik. Laba komprehensif juga merupakan laba
yang dihasilkan oleh perusahaan sebagai barometer keberhasilkan perusahaan.

Di dalam laporan laba-rugi komperensif, tercatat bagaimana kinerja keuangan


perusahaan dalam hitungan laba bersih. Laporan ini sendiri berfungsi untuk
investor dalam mengetahui kesehatan finansial dari sebuah perusahaan sehingga
bisa memprediksi arus kas perusahaan untuk masa mendatang.Karena di dalam
laba komperensif ada istilah laba bersih, maka kamu harus mengetahui jika laba
bersih itu adalah keuntungan yang didapatkan perusahaan dalam suatu periode
yang tercantum di laporan keuangan 

Sebagian besar perusahaan menggunakan konsep pemeliharaan modal keuangan


dalam penyusunan laporan keuangan. Dalam konsep ini terlihat komponen yang
terlibat dalam laporan laba rugi Komperhensif, antara lain:
1. Penghasilan
 Ini menyebabkan adanya kenaikan dari segi modal, dalam penambahan
aset atau penurunan hutang tetapi tidak berasal dari kontribusi pemilik
modal. Adapun unsur-unsur dalam penghasilan, yaitu pendapatan (revenue)
dan keuntungan (gain).  Pada dasarnya pendapatan adalah kenaikan laba
atau dapat pula dikatakan pendapatan adalah suatu proses arus penciptaan
barang atau jasa oleh perusahaan dalam suatu kurun waktu tertentu. FASB
lebih menyukai definisi pendapatan yang lebih sempit yang memandang
pendapatan dihasilkan dari kegiatan utama atau pusat dari perusahaan yang
berkesinambungan. Hal ini untuk membedakan pendapatan dengan
keuntungan (gain), yang didefinisikan sebagai kenaikan dalam ekuitas dari
kegiatan periferal atau insidental. Hendriksen lebih suka mendefiniskan
keuntungan sebagai transfer kekayaan yang tidak disangka-sangka.
Pendapatan diukur dengan nilai pertukaran produk atau jasa perusahaan.
Nilai pertukaran ini ekuivalen kas atau nilai sekarang yang didiskontokan
dari klaim uang yang akhirnya akan diterima dari transaksi
pendapatanBeban, beban malah menyebabkan adanya penurunan dalam
bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau bertambahnya hutang tetapi
tidak berasal dari kontribusi pemilik modal. Beban menurut FASB
didefinisikan sebagai arus ke luar atau penggunaan lain aktiva atau
terjadinya kewajiban (atau keduanya) dari penyerahan atau produksi
barang, pemberian jasa atau pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan
operasi terbesar atau utama yang berkelanjutan dari perusahaan tersebut.

2. Beban
Beban juga bisa dikelompokkan lagi menjadi dua unsur, yaitu beban
(expense) dan kerugian (loss). Beban merupakan beban yang berasal dari
aktivitas operasi utama perusahaan, misalnya aktivitas penjualan barang
dagang bagi perusahaan dagang. Sementara kerugian merupakan beban
yang berasal dari transaksi insidental. Beban diukur secara umum dengan
biaya historis. Pengukuran sekarang dan biaya kesempatan dari ekivalen
kas masa kini. Beban diakui ketika produk atau jasa dikonsumsi atau
digunakan dalam proses perolehan pendapatan, dan dilaporkan bersama,
mengikuti atau mendahului penggunaan barang atau jasa tersebut.

3. Adanya komponen pendapatan komperhensif lain


Berisi pos-pos pendapatan dan beban yang tidak diakui dalam laba rugi.
Komponen pendapatan komperhensif lain-nya, antara lain sebagai berikut :

a. Perubahan dalam surplus revaluasi aset tetap dan aset tak berwujud.


Surplus revaluasi adalah selisih antara nilai revaluasi dengan nilai
tercatat aset tetap dan aset tak berwujud yang diukur menggunakan
model revaluasi.
b. Keuntungan dan kerugian akturial atas program manfaat pasti yang
diakui.
c. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan
keuangan dari entitas asing.
d. Keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan yang
dikategorikan sebagai tersedia untuk dijual.
e. Bagian afektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai
dalam rangka lindung nilai arus kas.
 
 Sumber : BMP Teori Akuntansi Modul 5

https://www.harmony.co.id/blog/mengenal-laporan-komperhensif-laba-rugi-
dalam-perusahaan

4. Pendapatan dan beban masing-masing memiliki kriteria pengakuan. Jelaskan


kapan pendapatan dan beban boleh diakui!

Jawab:

a. Pengakuan pendapatan

Menurut FASB, pendapatan tidak boleh diakui sampai ia:


1. Dihasilkan
2. Direalisasi atau dapat direalisasi
Pendapatan (revenue) secara umum didefinisikan sebagai hasil dari suatu
perusahaan yang biasa diukur dengan satuan harga pertukaran yang berlaku dan
diakui ketika pendapatan itu telah direalisasikan atau dihasilkan. Pendapatan harus
diakui setelah kejadian penting atau setelah peoses penjualan pada dasarnya telah
diselesaikan.
ARS 3 memberikan suatu peraturan umum untuk pengakuan yang menyatakan
bahwa “ pendapatan harus diidentifikasi dengan periode selama saat itu kegiatan
ekonomi utama yang penting untuk penciptaan dan disposisi barang dan jasa telah
diselesaikan, asalkan pengukuran objektif atas hasil hasil kegiatan tersedia”.

Karena pendapatan merupakan bagian dari laba, peraturan untuk pengakuan


pendapatan adalah bagian dari peraturan untuk pengakuan laba. Oleh karena itu,
kunci untuk menentukan kapan laba harus diakui adalah penentuan kapan ia telah
dihasilkan dan diralisasi. Secara umum bahwa pendapatan harus diakui dan
dilaporkan ketika kegiatan yang utama diselesaikan apabila pengukurannya dapat
diuji dan bebas dari bias. Alternatif pengakuan pendapatan adalah konsep kejadian
kritis, yaitu mengakui pendapatan segera setelah ketidakpastian telah cukup
diselesaikan. Suatu perluasan konsep ditemukan dalam monograf AAA tahun
1964, The Realization Concept, menyatakan bahwa pendapatan harus diakui lebih
lambat jika fungsi atau kegiatan ekonomi tambahan terjadi sesudah waktu itu.
b. Pengakuan beban

Beban adalah biaya yang terjadi untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Ini
harus diakui pada saat yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan olehnya.
Menurut FASB beban berhubungan dengan operasi utama perusahaan, sedangkan
kerugian berasal dari kejadian yang insidental bagi operasi perusahaan. Oleh
karena itu, kerugian harus dibatasi pada arti pemakaian atau penghapusan biaya
yang tidak berhubungan dengan pendapatan dari suatu periode. Beban diukur
secara umum dengan biaya historis. Pengukuran sekarang dan biaya kesempatan
dari ekivalen kas masa kini. Sehingga, beban diakui ketika produk atau jasa
dikonsumsi atau digunakan dalam proses perolehan pendapatan, dan dilaporkan
bersama, mengikuti atau mendahului penggunaan barang atau jasa tersebut.
Menurut definisi, beban terjadi ketika barang dan jasa dikonsumsi atau digunakan
dalam proses perolehan pendapatan. Waktu atau pelaporan beban dilakukan
dengan mencatat kegiatan ini dalam akun atau menyertakannya dalam laporan
keuangan.
Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya
yang timbul dan perolehan pos penghasilan tertentu. Proses yang biasanya disebut
pengaitan biaya dengan pendapatan (matching of costs with revenues) ini
melibatkan pengakuan pendapatan dan beban secara gabungan atau bersamaan
yang dihasilkann secara langsung dan bersama-sama dari transaksi atau peristiwa
lain yang sama.

Sumber : BMP Teori Akuntansi Modul 5

5. Jelaskan apakah perbedaan laba ekonomi dan laba akuntansi!

Jawab:

Laba ekonomi
Laba ekonomi adalah jumlah maksimum yang dapat dikonsumsikan pada periode
tertentu dan seseorang masih tetap mempertahankan modalnya tidak berkurang
sebagaimana saldo di awal. Pada awal abad XX Fischer, Lindahl, dan Hick
menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi mencakup tiga tahap, yaitu sebagai berikut.
a. Physical Income, yaitu konsumen barang dan jasa pribadi yang
sebenarnya memberikan kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan,
laba jenis ini tidak dapat diukur.
b. Real Income adalah ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan
terhadap kesenangan fisik.
c. Money Income merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan
untuk konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Laba Akuntansi
Laba akuntansi adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari
transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang
dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu. Menurut Belkaoui, definisi
tentang laba itu mengandung lima sifat berikut.
a. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi,
yaitu timbulnya hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil tersebut.
b. Laba akuntansi didasarkan pada postulat “periodik” laba itu, artinya
merupakan prestasi perusahaan itu pada periode tertentu.
c. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan
batasan tersendiri tentang apa yang termasuk hasil.
d. Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk
biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan hasil
tertentu.
e. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip matching artinya hasil dikurangi
biaya yang diterima/dikeluarkan dalam periode yang sama.
Most (1982) merumuskan perbedaan antara laba ekonomi dan laba akuntansi
adalah:
Laba Akuntansi + Perubahan Aktiva Berwujud yang tidak direalisasi – Perubahan
Aktiva Berwujud yang terjadi pada awal periode + Perubahan nilai Aktiva Tidak
Berwujud = Laba Ekonomi

Perbedaan pemahaman mengenai laba muncul karena berbagai alasan, yaitu


karena:
a. Benda atau produk dan jasa yang akan dinilai (biaya historis, biaya
ganti, biaya realisasi, present value)
b. Unit ukur ( bisa unit ukur uang atau ukuran kemampuan tenaga beli)
Berdasarkan perbedaan pandangan dan alasan di atas muncullah berbagai polemik
atau perbedaan persepsi tentang laba ini.
Sumber : BMP Teori Akuntansi Modul 5