Anda di halaman 1dari 11

1.

Pengertian

Trauma mata merupakan penyebab umum kebutaan unilateral pada anak dan
dewasa muda; kelompok usia ini mengalami sebagian besar cedera mata yang
parah. Dewasa muda-terutama pria-merupakan kelompok yang paling
mungkin mengalami trauma tembus mata. Kecelakaan dirumah, kekerasn,
ledakan aki, cedera yang berhubungan dengan olahraga, dan kecelakaan lalu
lintas merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma
mata. Selain itu, semakin banyak trauma mata yang terjadi akibat kecelakaan
oleh tali bungee atau senapan angin paintball. Pemakaian sabuk pengaman
mobil mengurangi insidens cidera akibat kaca yang berasal dari pecahan kaca
mobil bagian depan. Masih belum jelas apakah kantong udara (air bag)
meningkatkan atau menurunkan insidens cedera pada mata. Trauma mata
yang berat dapat menyebabkan cedera multiple pada palpebrae, bola mata,
dan jaringan lunak orbita. (Paul Riordan-Eva, 2009). Trauma mata adalah
kondisi mata yang mengalami trauma (rudapaksa) baik oleh zat kimia
maupun oleh benda keras dan tajam (Anas, 2010).
2. Etiologi

Trauma mata dibagi menjadi :


1.    Trauma Mata Mekanik
a.    Trauma mata tumpul (contusio oculi)
Trauma tumpul adalah trauma pada mata yang akibat benturan mata dengan
benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras. Trauma tumpul
dapat menyebabkan cedera perforasi dan non perforasi. Cedera perforasi
dapat menyebabkan bahaya seperti infeksi intra okuler, retensi serpihan benda
asing didalam bola mata dan kerusakan struktur mata yang lebih dalam dan
lebih halus. Trauma tumpul pada mata dapat mengenai organ eksterna atau
interna mata.
b.    Trauma mata tajam (perforasi trauma)
Cedera tajam atau tembus disebabkan oleh benda tajam atau benda asing yang
masuk ke mata seperti kaca, logam atau partikel kayu berkecepatan tinggi,
percikan proses pengelasan, dan peluru. Benda memasuki mata melalui
kelopak mata, sclera atau kornea. Prognosis visual akibat cedera ini bersifat
jelek. (istiqomah, indriana N. 2003)
2.    Trauma Mata Fisika
a.    Trauma radiasi sinar inframerah
Sinar inframerah dapat mengakibatkan kerusakan pada lensa, iris dan kapsul
disekitar lensa. Hal ini terjadi karena sinar yang terkumpul dan ditangkap
oleh mata selama satu menit tanpa henti akan menagkibatkan pupil melebar
dan terjadi kenaikan suhu lensa sebanyak 9 derajat selsius, sehingga
mengakibatkan katarak dan eksfoliasi pada kapsul lensa.
b.    Trauma radiasi sinar ultraviolet
Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat,
mempunyai panjang gelombang antara 350 – 295 nM. Sinar ultra violet
banyak dipakai pada saat bekerja las dan menatap sinar matahari.
Sinar ultra violet akan segera merusak sel epitel kornea, kerusakan ini akan
segera baik kembali setelah beberapa waktu dan tidak memberikan gangguan
tajam penglihatan yang menetap.
c.    Trauma radiasi sinar X dan sinar terionisasi
Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan kerusakan pada kornea yang
dapat bersifat permanen. Katarak akibat pemecahan sel epitel yang tidak
normal dan rusaknya retina dengan gambarandilatasi kapiler, perdarahan,
mikroaneuris mata dan eksudat. Atrofi sel goblet pada konjungtiva juga dapat
terjadi dan mengganggu fungsi air mata.
3.    Trauma Mata Kimia
a.    Trauma asam
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan
ataupun penggumpalan bahan protein permukaan. Biasanya akan terjadi
kerusakan pada bagian superfisisal saja, tetapi bahan asam kuat dapat
bereaksi yang mengakibatkan trauma menjadi lebih dalam.
b.    Trauma basa
Trauma basa pada mata akan memberikan reaksi yang gawat pada mata.
Alkali dengan mudah dan cepat dapat menembus jaringan kornea, bilik mata
depan dan bagian retina. Hal ini terjadi akibat terjadinya penghancuran
jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi
proses persabunan disertai dangan dehidrasi
3. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul menurut (Ilyas S. , 2004) :
 Tajam penglihatan menurun
 Tekanan bola mata rendah
 Bilik mata dangkal
 Bentuk dan letak pupil yang berubah
 Terlihatnya ada ruptur pada kornea dan sklera
 Terdapat jaringan yang proplaps, seperti cairan mata, iris, lensa, badan
kaca, atau retina
 Konjungtiva kemotis

1.       Ekstra Okular
a.          Mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata
b.          Ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea, oleh
kedipan bola mata.
c.          Lakrimasi hebat.
d.          Benda asing dapat bersarang dalam torniks atas atau konungtiva
e.          Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat
2.       Infra Okuler
a.          Kerusakan pada tempat masuknya mungkin dapat terlihat di kornea,
tetapi benda asing bisa saja masuk ke ruang posterior atau limbus
melalui konjungtiva maupun sklera.
b.          Bila menembus lensa atau iris, lubang mungkin terlihat dan dapat
terjadi katarak.
c.          Masalah lain diantaranya infeksi skunder dan reaksi jaringan mata
terhadap zat kimia yang terkandung misalnya dapat terjadi siderosis.

1. Lagaltafmas                 : Keadaan tidak


menutupnya mata secara
sempurna (Ramali, dkk.
2005)
2. Katarak                       : Kekeruhan pada lensa
yang terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan)
lensa, denaturasi proteksi
lensa, atau akibat kedua-
duanya.
3. a. Akut                        : Penyakit mata yang
disebabkan oleh tekanan
infra akuler yang
b. Kronik                     : meningkat mendadak
sangat tinggi
Penyakit mata dengan
gejala peningkatan
4. Kebutaan                     : tekanan bola mata
sehingga terjadi
kerusakan anatomi dan
fungsi mata yang
permanent. (ilyas 1997)
Tidak dapat melihat
karena kerusakan mata
(Ramali, dkk. 2005)

4. Pemeriksaan Diagnostik

a) Slit lamp : untuk melihat kedalaman cedera di segmen anterior bola mata.
b) Tes fluoresin : digunakan untuk mewarnai kornea, sehingga cedera
kelihatan jelas.
c) Tonometri : untuk mengetahui tekakan bola mata.
d) Pemeriksaan fundus yang didilatasikan dengan oftalmoskop indirek :
untuk mengetahui adanya benda asing intraokuler.
e) Tes Seidel : untuk mengetahui adanya cairan yang keluar dari mata. Tes
ini dilakukan dengan cara memberi anastesi pada mata yaang akan
diperiksa, kemudian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji
menggunakan slit lamp dengan filter kobalt biru, sehingga akan terlihat
perubahan warna strip akibat perubahan pH bila ada pengeluaran cairan
mata.
f) Pemeriksaan CT-Scan dan USG B-scan : digunakan untuk mengetahui
posisi benda asing.
g) Electroretinography (ERG) : untuk mengetahui ada tidaknya degenerasi
pada retina.
h) Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal
tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
i) Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur
internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.
j) Pemeriksaan Radiologi : pemeriksaan radiologi pada trauma mata sangat
membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing.
k) Kertas Lakmus : pada pemeriksaan ini sangat membantu dalam
menegakkan diagnosa trauma asam atau basa.

5. Patofisiologi
Trauma mata bisa disebabkan oleh karena mekanik dan non mekanik, semua
ini menciderai organ-organ mata yang menyebabkan terjadinya trauma mata.
Trauma mata yang diakibatkan oleh cedera mekanik pada jaringan bola mata
akan menimbulkan suatu atau berbagai akibat klasik seperti: rasa sakit akibat
trauma, gangguan penglihatan berupa penglihatan kabur, perabengkalan,
perdarahan atau luka terbuka dan bentuk mata berubah.
Trauma yang diakibatkan oleh cidera non mekanik pada bola mata akan
menimbulkan berbagai akibat seperti : erosi epitel kornea, kekeruhan kornea.
Bila pada cidera radiasi juga terjadi efek kumulasi. Bila radiasi berkurang
maka lesi terimis yang ditimbulkan sinar red (irivisible rays) dapat berupa
kekeruhan kornea, atratosi iris, katarak (Mangunkusumo, 1988)
6. Askep

A.    PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien meliputi nama, usia (dapat terjadi pada semua usia),
pekerjaan ,jenis kelamin (kejadian lebih banyak pada laki-laki daripada
wanita).
2.      Keluhan utama
Klien biasanya mengeluh adanya penurunan penglihatan, nyeri pada
mata, danketerbatasan gerak mata.
3.      Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit  yang mungkin diderita klien seperti DM yang dapat
menyebabkan infeksi yang pada mata sulit sembuh.
4.      Riwayat penyakit sekarang
Yang perlu dikaji adalah jenis trauma, bahan yang menyebabkan trauma,
lama terkena trauma, dan tindakan apa yang sudah dilakukan pada saat
trauma terjadi dan sebelum dibawa ke RS.
5.      Riwayat psikososial
Pada umumnya klien mengalami berbagai derajat ansietas, gangguan
konsep diri dan ketakutan akan terjadinya kecacatan mata, gangguan
penglihatan yang menetap atau mungkin kebutaan. Klien juga dapat
mengalami gangguan interaksi sosial.
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Tanda-tanda Vital (nadi, suhu, tekanan darah, dan pernapasan)
b.      Pemeriksaan persistem
1)      B1(Breath) :disertai gangguan pernapasan jika trauma menyebar ke
mukosa hidung.
2)      B2 (Blood) :perdarahan jika trauma melibatkan organ tubuh lain selain
struktur mata.
3)      B3 (Brain) :pasien merasa pusing atau nyeri karena adanya peningkatan
TIO (tekanan intraokular).
4)      B4 (Bladder) :kebutuhan eliminasi dalam batas normal.
5)      B5 (Bowel) :idak ditemukan perubahan dalam sistem gastrointestinal.
6)      B6 (Bone) :ekstremitas atas dan bawah tidak ditemukan adanya
kelainan.
c.       Pemeriksaan khusus pada mata :
1)      Visus (menurun atau tidak ada)
2)      Gerakan bola mata ( terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian
pergerakan bola mata)
3)      Adanya perdarahan, perubahan struktur konjugtiva, warna, dan memar.
4)      Kerusakan tulang orbita, krepitasi tulang orbita.
5)      Pelebaran pembuluh darah perikornea.
6)      Hifema.
7)      Robek kornea
8)      Perdarahan dari orbita.
9)      Blefarospasme.
10)  Pupul tidak beraksi terhadap cahaya, struktur pupil robek.
11)  Tes fluoresens positif.
12)  Edema kornea.
13)  Nekrosis konjugtiva/sklera.
14)  Katarak.
d.      Data Penunjang Lain
1)      Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin
mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau
kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
2)      Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa,
trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan
jaringan pembuluh darah akibat trauma.
3)      Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal
tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
4)      Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur
internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.
B.     DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1.      Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan
tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
2.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan
sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3.      Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan
dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera. Lingkungan
secara terapetik dibatasi.
4.      Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit, prognosis.
C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada
kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
Tujuan : nyeri berkurang, hilang atau terkontrol.
Kriteria Hasil :
a.       Klien akanmelaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan
nyeri setelah intervensi.
b.      Klien tidak gelisah.
c.       Klien mampu melakukan tindakan mengurangi nyeri.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji derajat nyeri setiap hari atau sesering mungkin jika diperlukan
Rasional : nyeri trauma umumnya menjadi keluhan utama terutama nyeri
akibat kerusakan kornea.
b.      Terangkan penyebab nyeri dan faktor/tindakan yang dapat
memprovokasi nyeri.
Rasional : nyeri disebabkan oleh efek kimiawi atau fisik benda dan nyeri
dapat meningkat akibat provokasi: menekan mata terlalu kuat; gerakan
mata tiba-tiba.
c.       Lakukan kompres pada jaringan sekitar mata.
Rasional : kompres dingin mungkin diperlukan pada trauma fisik akut dan
jika kondisi stabil (agak lama), dapat digunakan teknik kompres hangat
(jika tidak ada perdarahan).
d.      Kolaborasi pemberian analgesik.
Rasional : analgesik berfungsi untuk menigkatkan ambang nyeri.
e.       Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada klien.
Rasional : mengurangi nyeri dengan manipulasi psikologis.
2.      Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan
peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
Tujuan : tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
a.       Klien memperlihatkan perilaku penjagaan daerah luka.
b.      Tidak terdapat tanda infeksi selama fase perawatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kali perilaku sehari-hari yang memungkinkan timbulnya infeksi mata.
Rasional : berbagai tindakan mungkin tidak disadari oleh klien sebagai hal
yang dapat menyebabkan infeksi, seperti menggosok atau memegang
mata.
b.      Terangkan berbagai perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.
Rasional : perilaku yang dapat menyebabkan infeksi dapat diidentifikasi
dari perilaku klien yang telah klien lakukan atau belum dilakukan oleh
klien.
c.       Ajarkan perilaku yang baik untuk mengurangi resiko infeksi.
Rasional : menigkatkan pemahaman klien akan pentingnya perilaku
mencegah infeksi.
d.      Ajarkan berbagai tanda infeksi.
Meningkatkan pengetahuan klien tentang tanda infeksi mata yang mungkin
dapat terjadi sebagai akibat komplikasi dari penyakit sekarang.
e.       Anjurkan klien untuk melaporkan sesegera mungkin apabila mengenali
tanda infeksi.
Rasional : menigkatkan rasa percaya dan kerjasama perawat-klien.
3.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan Sensori Perseptual :
Penglihatanberhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status
organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
Tujuan : klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses
rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
Kriteria Hasil :
a.       Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang memperngaruhi fungsi
penglihatan.
b.      Klien mengidentifikasi dan menunjukan pola-pola alternatif untuk
menigkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji ketajaman penglihatan klien.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b.      Dekati klien dari sisi yang sehat.
Rasional : memberikan rangsang sensori, mengurangi rasa isolasi/terasing.
c.       Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :
1)      Orientasikan klien terhadap ruang rawat
2)      Letakan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata
yang lebih sehat.
3)      Berikan pencahayaan cukup.
4)      Hindari cahaya menyilaukan.
Rasional : meningkatkan kemapuan persepsi sensori.
d.      Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat
diterima : auditorik, taktil.
Rasional : menigkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan
4.      Diagnosa Keperawatan : Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang penyakit, prognosis.
Tujuan : tidak terjadi kecemasan.
Kriteria Hasil :
a.       Klien mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang.
b.      Klien berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji derajat kecemasan, faktor yang menyebabkan kecemasan, tingkat
pengetahuan dan ketakutan klien akan penyakit.
Rasional : umumnya faktor yang menyebabkan kecemasan adalah
kurangnya pengetahuan dan ancaman aktual terhadap diri. Pada klien
dengan trauma mata rasa nyeri dan penurunan lapang penglihatan
menimbulkan ketakutan utama.
b.      Orientasikan tentang penyakit yang dialami klien, prognosis dan tahap
perawatan yang akan dijalani klien.
Rasional : menigkatkatan pemahaman klien akan penyakit. Jangan
memberikan keamanan palsu seperti mengatakan penglihatan akan segera
pulih atau nyeri akan segera hilang. Gambarkan secara objektif tahap
pengobatan, harapan proses pengobatan, dan orientasi pengobatan masa
berikutnya.
c.       Beri kesempatan kepada klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Rasional : menimbulkan rasa aman dan perhatian bagi klien.
d.      Beri dukungan psikologis.
Rasional : dukungan psikologis dapat berupa penguatan tentang kondisi
klien, keaktifan klien dalam melibatkan diri dalam perawatan maupun
mengorientasikan bagaimana kondisi penyakit yang sama menimpa klien
yang lain.
e.       Terangkan setiap prosedur yang dilakukan, jelaskan tahap perawatan
yang akan dijalani.
Rasional : mengurangi rasa ketidaktahuan dan kecemasan yang terjadi.

Anda mungkin juga menyukai