Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KE- 2

KESEHATAN MENTAL
“Kebahagiaan, Subjective Well Being dan kondisinya Berbagai Negara”

Dosen Pembina: Dr. Marjohan, M.Pd, Kons

DISUSUN OLEH:
NAMA : FARHAN MUHTADI
NIM : 18006259

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Kebahagiaan, Subjective Well Being dan kondisinya Berbagai Negara

Konsep Kebahagiaan

Dalam KBBI arti kebahagian yaitu keadaan atau perasaan senang (bebas dari segala yang
menyusahkan) dan arti kebahagiaan itu sendiri adalah kesenangan atau ketentraman hidup
(lahir batin); keberuntungan dan kemujuran yang bersifat lahir dan batin.

Kebahagiaan bisa merujuk ke banyak arti seperti rasa senang (pleasure), kepuasan hidup,
emosi positif, hidup bermakna, atau bisa juga merasakan kebermaknaan (contentment).
Beberapa peneliti menggunakan istilah well-being sebagai istilah dari kebahagiaan
(happiness) itu sendiri. Konsep well-being sendiri mengacu pada pengalaman dan fungsi
psikologis secara optimal.

Subjective Wellbeing (SWB)

SWB mengaitkan bagaimana seseorang mengevaluasi hidupnya. Yang meliputi beberapa


variable seperti kepuasaan dalam hidup dan kepuasaan pernikahan dan tidak adanya depresi.
Agar dapat mengetahui seseorang bahagia atau tidak orang tersebut akan diminta agar bisa
menjelaskan tentang keadaan dirinya sendiri. Jika ada tampak dan bahwa ada aspek efekif
yang terlibat saat seseorang mengevaluasi kebahagiaanya. Sedangkan dalam menilai
kepuasan hidup lebih melibatkan aspek kognitif karena terdapat beberapa penilaian.

Eddington dan Shuhman menjelaskan Subjective well being dapat diartikan sebagai
penilaian individu terhadap kehidupannya yang meliputi penilaian kognitif mengenai
kepuasan hidup dan penilaian afektif mengenai mood dan emosi seperti perasaan emosional
positif dan negative.

Diener (dalam Sofa) menjelaskan bahwa individu dikatakan memiliki subjective well-
being tinggi jika mengalami kepuasaan hidup, sering merasakan kegembiraan, dan jarang
merasakan emosi yang tidak menyenangkan seperti kesedihan atau kemarahan. Kepuasaan
terhadap hidup mencakup juga komponen negertif tentang kesejahteraan rata-rata saat
seorang individu melihat bagaimana kehidupannya. Diener berpendapat hal ini merujuk pada
keteidaksesuaian antara keadaan saat ini dengan yang telah direncanakan sebelumnya.

Mengukur SWB

Umumnya kebanyakan peneliti menggunakan skala Positive Affect Negative Affect


Schedule (PANAS) untuk mengukur domain afektif dari SWB dan Satifaction with Life
Scale (SWLS) untuk mengukur domain kognisi dari SWB. Namun laporan properti
psikometris kedua skala tersebut dalam bahasa Indonesia masih sedikit. Kalaupun ada,
biasanya hanya diperoleh dari sampel dalam jumlah kecil dengan skala yang sudah
dimodifikasi. Oleh karena itu, luaran lain dari penelitian ini adalah adanya informasi properti
psikometris kedua skala tersebut dalam bahasa Indonesia dengan sampel dalam jumlah besar
mulai dari remaja sampai dewasa Indonesia.

Hubungan Interpersonal dan SWB

Kesejahteraan subyektif atau subjective well-being merupakan evaluasi individu terhadap


keseluruhan hidupnya. Suatu kondisi yang dikatakan sejahtera atau well-being adalah ketika
individu berada dalam kondisi yang bahagia, merasa senang, rendahnya tingkat depresi, sehat
secara mental dan fisik, atau memiliki kualitas hidup yang baik. Subjective well-being terdiri
atas dua komponen. Pertama yaitu evaluasi kognitif terdiri atas kepuasan hidup secara global
dan kepuasan di setiap aspek kehidupan seperti pekerjaan atau pernikahan. Kedua yaitu
evaluasi afektif, terdiri atas emosi positif dan emosi negatif. Berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi subjective well-being, kepribadian merupakan salah satu prediktor yang
cukup menentukan tinggi rendahnya tingkat subjective well-being.

Karir- pekerjaan dan SWB

Dalam menjalankan suatu pekerjaan terjadinya rutinitas, supervise dan kompleksitas


tugas yang secara tidak sadar dapat mempengaruhi kemampuan kontrol seseorang sehingga
ia mampu merasakan emosi dan persepsi yang positif mengenai tempat kerjanya.
Penilaian positif salah satu bagian kesejahteraan subjektif ini bisa dilihat dari bagaimana
seseorang memaknai suatu pekerjaannya dan apakah ia merasakan perasaan bahagia. Ketika
seseorang menilai lingkungan kerja sebagai lingkungan yang menarik, menyenangkan dan
penuh dengan tantangan dapat dikatakan bahwa ia merasa bahagia dan menunjukkan kinerja
yang optimal. Maka dari situlah terjadinya kebahagiaannya.

Kesehataan dan SWB

Seligman (dalam Ika Kurnia) menyatakan bahwa kebahagian adalah kesehatan yang
dipersepsikan oleh individu (kesehatan subjektif) bukan kesehatan yang sebenernya dimiliki
(kesehatan objektif). Kesehatan merupakan salah satu factor mencapai kebahagian.

Kesehatan yang dapat membawa kabahagian adalah ketika individu bisa menerima rasa
sakitnya tanpa beban, bukan individu yang berfikir bahwa dirinya akan bahagia saat
penyakitnya berangsur-angsur membaik. Karena jika diingat bahwa sakit jasmani terkadang
dialami karena tekanan psikis atau biasa disebut psikosomatis, maka dari itu kesehatan yang
dimaksud disini saat individu dapat mendatangkan kesehatan pada dirinya sendiri.

Agama dan SWB

Diener (2009) menyatakan bahwa secara umum orang yang religious cenderung untuk
memiliki tingkat well-being yang lebih tinggi dan lebih spesifik. Religiusitas dengan segala
aspek-aspek didalamnya secara konsisten membantu seseorang meningkatkan kemampuan
penyesuaian diri sehingga mencapai kondisi. Subjective well-being. Seseorang yang religious
selalu mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya, dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta
hidup akan terasa lebih aman, damai dan sejahtera.
Daftar Pustaka

Eddington, N., & Shuman, R. 2008. Subjective well being (happiness). California: Continuing
Psychology Education Inc.

Ika Kurnia Rahayu. 2015. Kesejahteraan Subjectif (Subjective well being) pada Istri Narapidana
sekaligus penderita kanker ovarium. Skripsi Maulana Malik Ibrahim.

Sofa Indriyani dkk. 2014. Subjective Well Being pada Lansia Ditinjau dari Tempat Tinggal.
Developmental and Clinical Psychology. 3 (1). Hal.66.

Watson, D., Clark, L. A., & Tellegen, A. 1988. Development and validation of brief measures of
positive and negative affect: the PANAS scales. Journal of Personality and Social
Psychology. 54(6).1063.

Anda mungkin juga menyukai