Anda di halaman 1dari 17

Manajemen keperawatan

Makalah QBL 10: Timbang Terima dan

QBL 13: Ronde Keperawatan

Dosen Pengampu: Ns. Tatiana Siregar, S.Kep, MM

Disusun oleh:

Kelas Tutor E Manajemen Keperawatan

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN

2019

1
Daftar Isi

Timbang Terima
A. Pengertuan Timbang Terima/Overan ......................................................................... 3
B. Komponen Overan ..................................................................................................... 5
C. Pedoman Overan ........................................................................................................ 5
D. Pedoman Pre Confrens .............................................................................................. 6
E. Pedoman Post Confrens ............................................................................................. 6
Ronde Keperawatan
A. Pengertian Ronde Keperawatan ................................................................................ 8
B. Tahapan Ronde Keperawatan .................................................................................... 9
C. Hal yang Dipersiapkan dalam Ronde Keperawatan ................................................. 10
D. Komponen Terlibat dalam Ronde Keperawatan ...................................................... 10
E. Prosedur Pelaksanaan Ronde Keperawatan ............................................................. 11
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 17

2
Timbang Terima
A. Pentingnya timbang terima / overan dinas di bidang kesehatan
1. Meningkatkan kemampuan komunikasi yang baik
2. Akan terjalin suatu kerjasama antar anggota
3. Menyampaikan tindakan yang sudah dan belum dilakukan
4. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindak lanjuti
5. Sebagai sumber informasi
6. Melakukan cross check ulang tentang hal-hal yang dapat dilaporkan
7. Menyusun rencana kerja untuk selanjutnya
8. Sebagai forum diskusi

Pentingnya timbang terima / overan dinas di bidang keperawatan


• Tujuan:
a. Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
b. Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
c. Akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang bertanggung jawab antar
anggota tim perawat.
d. Terlaksananya asuhan keperawatan terhadap klien yang berkesinambungan.
• Manfaat bagi Perawat:
a. Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat
b. Menjalin hubungan kerjasama dan bertanggung jawab antar perawat
c. Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien yang berkesinambungan
d. Perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna dan
meminimalkan terjadinya kesalahan tindakan.
• Manfaat bagi Pasien:
a. Pasien dan keluarga menjadi lebih nyaman.
b. Pasien dan keluarga dapat menyampaikan masalah secara langsung bila ada
yang belum terungkap.
• Manfaat bagi Pendidikan:
a. Memiliki mahasiswa / mahasiswi yang berkompeten
b. Meningkatkan derajat pendidikan khususnya keperawatan
• Manfaat bagi Mahasiswa:
a. Mahasiswa dapat menerapkan komunikasi yang baik
b. Menjadikan suatu bimbingan belajar yang baik.
c. Sebagai dasar acuan menerapkan operan dengan baik saat praktik
klinik/Rumah Sakit.

Pengertian supervisi
Secara etimologi “supervisi” berasal dari kata “super” dan “vision” yang masing-
masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi secara etimologis supervisi berarti
penglihatan dari atas. Pengertian semacam itu merupakan arti kiasan yang

3
menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi daripada yang
dilihat.
1. Supervisi adalah merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar,
mengobservasi, mendorong, memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara
terus menerus pada setiap perawat dengan sabar, adil serta bijaksana (Kron, 1987).
2. Supervisi adalah proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan bawahannya sesuai dengan rencana,
perintah, tujuan atau kebijakan yang telah ditentukan (Mc Farland, 1988 dalam
Harahap, 2004).
3. Supervisi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka pemantauan disertai dengan
pemberian bimbingan, penggerakan atau motivasi dan pengarahan (Depkes,
2008).
4. Supervisi klinik tidak diartikan sebagai pemeriksaan atau mencari kesalahan, tetapi
lebih kepada pengawasan partisipatif, mendahulukan penghargaan terhadap
pencapaian hasil positif dan memberikan jalan keluar terhadap hal yang masih
belum dapat dilakukan. Perawat tidak sekedar merasa dinilai akan tetapi
dibimbing untuk melakukan pekerjaannya secara benar (Keliat, 2006).
5. Supervisi menurut Nursalam (2015) merupakan suatu bentuk dari kegiatan
manajemen keperawatan yang bertujuan pada pemenuhan dan peningkatan
pelayanan pada klien dan keluarga yang berfokus pada kebutuhan, keterampilan,
dan kemampuan perawat dalam melaksanakan tugas.
Jadi Supervisi adalah suatu proses yang menunjang manajemen dimana sebagian
besar kegiatan merupakan bimbingan dan sebagian kecil pengawasan. Supervisi
mempunyai pengertian yang luas, yaitu segala bantuan dari pemimpin atau
penanggung jawab keperawatan yang tertuju untuk perkembangan para perawat
dan staf lain dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan. Kegiatan supervisi
berupa dorongan, bimbingan dan kesempatan untuk pertumbuhan keahlian dan
ketrampilan perawat.

Pengertian timbang terima / overan dinas


Timbang terima memiliki beberapa istilah lain, diantaranya yaitu handover, handoffs,
shift report, signout, signover, cross coverage, dan overan dinas.
• Handover adalah transfer tentang informasi (termasuk tanggung jawab dan
tanggung gugat) selama perpindahan perawatan yang berkelanjutan yang
mencakup peluang tentang pertanyaan, klarifikasi dan konfirmasi tentang pasien
(Friesen, 2008).
• Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan sesuatu (laporan) yang
berkaitan dengan keadaan klien (Nursalam, 2008).
• Handover merupakan proses pelimpahan tanggung jawab dalam merawat pasien
yang dilakukan seorang tenaga kesehatan pada tenaga kesehatan lain (Criscitelli,
2013).
• Handover merupakan pengalihan tanggung jawab professional dan akuntabilitas
untuk beberapa / semua aspek perawatan pasien, kepada sesama profesi / antar
profesi untuk sementara atau dalam jangka waktuyang lama (Manser, 2011).

4
Kesimpulan: Timbang terima adalah proses transfer informasi dari seorang tenaga
kesehatan ke tenaga kesehatan yang lain tentang laporan yang berkaitan dengan
pasien saat pergantian shift.

B. Komponen Operan

Menurut Lardner et.all ( 1996 ) operan jaga atau handover memiliki 3 komponen yaitu :

1. Persiapan
Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan tanggung jawab.
Meliputi faktor informasi yang akan disampaikan oleh perawat jaga sebelumnya.
2. Pertukaran shift jaga
Dimana antara perawat yang akan pulang dan datang melakukan pertukaran
informasi. Waktu terjadinya operan itu sendiri yang berupa pertukaran informasi yang
memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara perawat yang shift sebelumnya
kepada perawat shift yang datang
3. Pengecekan ulang informasi
Dilakukan oleh perawat yang datang tentang tanggung jawab dan tugas yang
dilimpahkan. Merupakan aktivitas dari perawat yang menerima operan untuk
melakukan pengecekan data informasi pada medical record atau pada pasien
langsung.

C. Pedoman Operan

Waktu Kegiatan :Awal pergantian shift

5
Tempat :Nursing Station / Konter Perawat

Penanggung Jawab :Kepala Ruangan / PJ Shift

Kegiatan :

1. Karu/Pj Shift membuka acara dengan salam


2. Pj Shift yang mengoperkan, menyampaikan :
a. Kondisi/keadaan pasien : Dx Keperawatan, Tuk yang sudah dicapai, tindakan
yang sudah dilaksanakan, hasil asuhan
b. Tindak lanjut untuk shift berikutnya
3. Perawat shift berikutnya mengklarifikasi penjelasan yang sudah disampaikan
4. Karu memimpin ronde ke kamar pasien
5. Karu merangkum informasi overan, memberikan saran tindak lanjut
6. Karu memimpin acara doa bersama dan menutup acara
7. Bersalaman

D. Pre dan Post Conference

Pre-Conference

• diskusi tentang aspek klinik setelah operan dan sebelum melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien.
Post-Conference

• diskusi tentang aspek klinik sebelum operan dan sesudah melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien.

Tujuan pre dan post conference

Pre-Conference

 Membantu mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan


merencanakan evaluasi hasil
 Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan
 Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien

Post-Conference

• untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan


membandingkan masalah yang dijumpai.

6
Syarat Pelaksanaan Conference

Pre conference

 Dilaksanakan sebelum pemberian asuhan keperawatan


 Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
 Topik yang dibicarakan harus dibatasi: keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana
dan data-data yg perlu ditambahkan
 Yang terlibat : kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim
Post conference

 Dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan


 Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
 Topik yang dibicarakan harus dibatasi: keadaan pasien, evaluasi tindakan yg sudah
dilakukan dan data-data yg perlu ditambahkan
 Yang terlibat : kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim

Pelaksanaan conference

1. Dipimpin oleh ketua tim / PJ tim


2. Isi conference:
a. Rencana tiap perawat (rencana harian)
b. Tambahan rencana dari ketua tim atau PJ tim
3. Waktu : Dilakukan setelah operan
4. Tempat : Dilakukan di meja masing2 tim
5. Penanggung jawab
a. Ketua tim atau PJ tim membuka acara
b. Ketua tim atau PJ tim menanyakan rencana harian masing – masing perawat
pelaksana
c. Ketua tim atau PJ tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan
asuhan yang diberikan saat itu

7
Ronde Keperawatan

A. Pengertian Ronde Keperawatan

Kozier et al (2004) menyatakan bahwa ronde keperawatan merupakan prosedur di


mana dua atau lebih perawat mengunjungi pasien untuk mendapat informasi yang akan
membantu dalam merencanakan pelayanan keperawatan dan memberikan kesempatan
kepada pasien untuk mendiskusikan masalah keperawatannya serta mengevaluasi
pelayanan keperawatan yang telah diterima pasien.

Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah


keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh perawat selain melibatkan pasien untuk
membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu harus dilakukan
perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat pelaksana yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim kesehatan (Nursalam, 2002).

8
Ronde keperawatan merupakan proses interaksi antarapengajar dan perawat atau
siswa perawat di mana terjadi proses pembelajaran. Ronde keperawatan dilakukan oleh
teacher nurse atau had nurse dengan anggota stafnya atau siswa untuk pemahaman yang
jelas tentang penyakit dan efek perawatan untuk setiap pasien (Clement, 2011).

Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat untuk membahas lebih
dalam masalah dan kebutuhan pasien serta merupakan suatu proses belajar bagi perawat
dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.
Kepekaan dan cara berpikir kritis perawat akan tumbuh dan terlatih melalui suatu
transfer pengetahuan dan pengaplikasian konsep teori kedalam praktik keperawatan.

Karakteristik dari Ronde Keperawatan:


1. Pasien dilibatkan secara langsung.
2. Pasien merupakan fokus kegiatan.
3. PA, PP dan Konselor melakukan diskusi bersama.
4. Konselor memfasilitasi kreativitas.
5. Konselor (ahli gizi, fisioterapi) membantu mengembangkan kemampuan PA dan PP
dalam meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
Manfaat
1. Masalah pasien dapat teratasi.
2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi.
3. Terciptanya komunikasi keperawatan yang professional.
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan.
5. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat dan benar.

B. Tahapan Ronde Keperawatan

a. Pra ronde
Tahap awal sebelum dilakukan ronde keperawatan perawat harus menentukan
kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah yang langka), menentukan
tim ronde, mencari sumber atau literatur, membuat proposal, mempersiapkan pasien:
informed concent dan pengkajian dan yang terakhir diskusi tentang diagnosis
keperawatan, data yang mendukung, asuhan keperawatan yang dilakukan, dan
hambatan selama perawatan.
b. Pelaksanaan ronde

Setelah persiapan awal selesai, maka ronde keperawatan bisa dilakukan


dimulai dengan penjelasan tentang pasien oleh perawat primer yang difokuskan pada
masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan dilaksanakan dan atau telah
dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu didiskusikan, kemudian dilanjutkan
dengan diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut dan yang terakhir pemberian
justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau kepala ruangan tentang masalah
pasien serta rencana tindakan yang akan dilakukan.

9
c. Pasca ronde

Setelah kegiatan ronde keperawatan selesai dilakukan, maka dilakukan


evaluasi, revisi dan perbaikan, serta kesimpulan dan rekomendasi penegakkan
diagnosis, intervensi keperawatan selanjutnya.

C. Hal yang Dipersiapkan dalam Ronde Keperawatan

Supaya ronde keperawatan yang dilakukan berhasil, maka bisa dilakukan persiapan
sebagai berikut:

a. Menentukan kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah yang langka).

b. Menentukan tim ronde keperawatan.

c. Mencari sumber atau literatur.

d. Membuat proposal.

e. Mempersiapkan klien : informed consent dan pengkajian.

f. Diskusi : apa diagnosis keperawatan ?; Apa data yang mendukung ?; Bagaimana


intervensi yang sudah dilakukan?; Apa hambatan yang ditemukan selama perawatan?

D. Komponen Terlibat dalam Ronde Keperawatan

Komponen yang terlibat dalam kegiatan ronde keperawatan ini adalah perawat primer
dan perawat konselor, kepala ruangan, perawat associate, yang perlu juga melibatkan
seluruh anggota tim kesehatan lainnya.

1. Peran Ketua Tim (Perawat Primer) dan Anggota Tim (Perawat Associate)

Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk
memaksimalkan keberhasilan, antara lain:

- Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.

- Menjelaskan masalah keperawata utama.

- Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan.

- Menjelaskan tindakan selanjutnya.

- Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.

2. Peran Ketua Tim Lain (Perawat Primer) dan/Perawat Konselor

- Memberikan justifikasi.

- Memberikan reinforcement.

10
Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang
rasional.

- Mengarahkan dan koreksi.

- Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari.

Selain perawat, pasien juga dilibatkan dalam kegiatan ronde keperawatan ini untuk
membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan.

Kriteria Pasien

Pasien yang dipilih untuk yang dilakukan ronde keperawatan adalah pasien yang
memiliki kriteria sebagai berikut :

- Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan


tindakan keperawatan.

- Pasien dengan kasus baru atau langka.

E. Prosedure Pelaksanaan Ronde Keperawatan

Tujuan umum : Menyelesaikan masalah-masalah klien yang belum teratasi

2. Tujuan khusus :

1. Meningkatkankemapuanvalidasidatapasien
2. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan
3. Menjustifikasi maslaah-masalah yang belum teratasi
4. Mendiskusikan penyelesaian masalah dengan perawat primer lain
5. Melaksanakan pelayanan kesehatan dengan memberi kepuasan kepada konsumen
sehingga melebihi apa yang diharapkannya dan menjadi perawat yang profesional
6. Menemukan masalah dan merumuskan intervensi keperawatan yang tepat sesuai
dengan masalah pasien
7. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan
8. Menumbuhkan cara berfikir yang kritis
9. Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja

3.Manfaat

1. Masalah pasien dapat teratasi

2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi

3. Terciptanya komunikasi keperawatan yang profesional

11
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan

5. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan denagn tepat dan benar

4.Kebijakan

1. Dilakukan minimal sebulan sekali untuk meningkatkan kemapuan kognitif, afektif


dan psikomotir perawat.

2. Perawat pelaksana membantu mengembangkan kemapuan ketua tim dan perawat


pelaksana meningkatkan kemampuan mengatasi masalah

3. Melibatkan tim kesehatan lain

Tahap persiapan

• Menetapkan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksaan ronde keperawatan

• Catatan keperawatan dan medis pasien

• Pemberian inform concent pada klien/keluarga

• Menyiapkan literature atau referensi terkait dengan penyakit klien

• Menyiapkan buku dan alat tulis notulen ronde keperawatan

5.Prosedur pelaksanaan

1. Menentukan topic karena kasus yang akan dibahas dalam ronde keperawatan harus
ditetapkan paling lambat satu hari sebelum pelaksanaan

2. Menentukan tugas dan peran

• Peran ketua tim dan perawat pelaksana

a. Menjelaskan keadaan dan data demografi klien

b. Menjelaskan masalah keperawta utama

c. Menjelaskan hasil yang didapat

d. Menentukan tindakan selanjutnya

• Peran kepala ruangan

a. Memeberikan justifikasi

b. Memberikan reinforcement

12
c. Menilai kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta rasional
tindakan

d. Mengarahkan dan koreksi

e. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari

3. Langkah-langkah kegiatan

• Tahap pra interaksi

a. Cek catatan keperawatan dan medis pasien

b. Tetapkan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde


keperawatan

c. Berikan inform concent pada keluarga dan pasien

d. Membuka kegiatan ronde denagn mengucap salam

e. Menjelaskan tentang hasil yang diharapkan dari hasil ronde

f. Menjelaskan tentang pasien oleh perawat primer yang difokuskan pada


masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan dilaksanakan dan
atau lenih dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu didiskusikan

g. Memberi kesempatan kepada anggota tim untuk berdiskusi dan


mengajukan pendapat atau pertanyaan

h. Mengajak peserta menuju ruangan pasien

• Tahap orientasi

a. Memberikan salam dan memerkenalkan diri

b. Menjelaskan tentang kegiatan yang dilakukan oleh ketua tim atau perawat
primer

• Tahap kerja

a. Memberi kesempatan klien untuk bertanya sebelum kegiatan dilakukan

b. Jaga privasi klien

c. Mempersilahkan tim untuk validasi, intervensi dan edukasi sesuai untuk


kebutuhan pasien

d. Memberi kesempatan pasein dan keluarga untuk menyampaikan


permasalahannya

• Tahap terminasi

13
a. Evaluasi perasaan klien

b. Simpulkan kegiatan ronde keperawatan tidak didepan pasien

c. Beri reinforcement positif kepada tim

d. Buat rencana tindak lanjut setelah kegiatan ronde keperawatan

e. Kontrak pertemuan selanjutnya

f. Menutup kegiatan ronde keperawatan

g. Dokumentasi

h. Catat dalam motulen ronde keperawatan

6.Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan Ronde Keperawatan

Waktu Tahap Kegiatan Pelaksana Tempat


1 hari Pra ronde Pra ronde Penanggung Ruang
sebelum 1. Menentukan kasus jawab perawatan
ronde dan topik
2. Menentukan tim
ronde
3. Keperawaran
4. Menentukan
literature
5. Membuat proposal
6. Mempersiapkan
pasien
7. Memberikan inform
concent pada
klien/keluarga
8. Diskusi pelaksanaan
5 menit Ronde Pembukaan : Karu Nurse station
1. Salam pembuka
2. Memperkenalkan tim
ronde
3. Menyampaikan
identitas dan masalah
pasien
4. Menjelaskan tujuan
ronde
30 menit ronde Penyajian masalah : PP Nurse station
1. Memberi salam dan Karu, PP, Ruang
ememperkenalkan perawat perawatan

14
pasien dan keluarga konselor
kepada tim ronde
2. Menjelaskan riwayat
penyakit dan
keperawatan pasien
3. Menjelaskan
masalah pasien dan
rencana tindakan
yang telah
dilaksanakan serta
menetapkan prioritas
yang perlu
didiskusikan
Validasi data
1. Menjaga privasi
klien
2. Mencocokkan dan
menjelaskan kembali
data yang telah
disampaikan
3. Diskusi antar
anggota tim dan
pasien tentang
masalah keperawatan
tersebut
4. Pemberian justifikasi
oleh perawat primer
atau konselor atau
kepala ruangan
tentang masalah
pasien serta rencana
tindakan yang akan
dilakukan
5. Menentukan
tindakan
keperawatan pada
masalah prioritas
yang telah ditetapkan
6. Mengevaluasi
perasaan klien
7. Buat rencana tindak
lanjut setelah
kegiatan ronde
keperawatan

15
8. Kontrak pertemuan
selanjutnya
10 menit Pasca ronde 1. Simpulkan kegiatan Karu, Nurse station
ronde keperawatan supervisor,
tidak didepan pasien perawat
2. Beri reinforcement konselor
positif kepada tim
3. Menutup kegiatan
ronde keperawatan
4. Dokumentasi
5. Catat dalam motulen
ronde keperawatan
penutup

DAFTAR PUSTAKA

16
Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil kesehatan Indonesia 2007.Jakarta : Depkes RI
Jakarta.

Kozier, B., et al. 2004. Fundamental of Nursing: Concepts, Process and Practice. (7thed).
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Kron, T & Gray. A. (1987). The Management of Patient Care. Philadelphia: WB. Saunders
Company.

Lardner, R. (1996). a literature review.Effective shift handover.

Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan


Profesional.Jakarta : Salemba Medika.

17