Anda di halaman 1dari 18

Kasus 2: Askep pada Anak dengan HIV/AIDS

Makalah disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan HIV/AIDS

Dosen Pengampu: Ns. Ani Widiastuti, M.Kep, Sp.Kep.MB

Disusun Oleh:

Tutor Kelas C

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

2019
Prevalensi dan Pengertian HIV/AIDS

Siti Alifah Nadia Putri 1710711120

Sarah Nurul Izzah M 1710711132

Prevalensi HIV-AIDS di Indonesia

Data yang dirilis oleh Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI


menunjukkan bahwa ibu rumah tangga menepati jumlah penderita AIDS terbanyak di
Indonesia. Banyaknya ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV berpotensi menularkan
virus HIV pada anak yang dikandungnya jika tidak ditangani secara medis dengan
baik. Banyak Anak dengan HIV/AIDS yang akhirnya menjadi yatim piatu akibat
kedua orang tuanya meninggal karena AIDS, dan juga banyak dari anak dengan
HIV/AIDS (ADHA) yang harus hidup bersama kedua orang tuanya yang juga positif
HIV. UNICEF (2008) menyatakan bahwa sekitar 50 persen bayi yang terinfeksi HIV
meninggal sebelum merayakan ulang tahun kedua mereka dan lebih dari 15 juta anak
kehilangan seorang atau kedua orangtua mereka akibat penyakit terkait AIDS. Di
berbagai belahan dunia 2,3 juta anak di bawah 15 tahun hidup dengan HIV, dimana
sekitar 530 ribu di antaranya baru terinfeksi pada tahun 2006, kebanyakan melalui
penularan dari ibu ke anak, cara penularan yang sebenarnya dapat dicegah bila
memperoleh penanganan medis yang optimal. Data dari Ditjen PP & PL Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia sampai dengan triwulan III tahun 2014 jumlah
penderita AIDS pada usia 0 – 14 tahun mencapai 2,9 %. Data terbaru dari hasil
pemetaan populasi kunci oleh Komisi Penaggulangan AIDS kota Surakarta
menunjukkan ibu rumah tangga dan anak menjadi pengidap HIV terbanyak di Kota
Surakarta.
Grafik Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun sd Maret 2017

*Jumlah AIDS yang dilaporkan mengalami perubahan karena adanya validasi data
bersama Dinkes Provinsi pada Juli 2016

Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah RNA retrovirus yang
menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), di mana terjadi
kegagalan sistem imun progresif.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang
berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan infeksi virus HIV.
Penularan HIV ke Bayi dan Anak, bisa dari ibu ke anak, penularan melalui
darah, penularan melalui hubungan seksual (pelecehan seksual pada anak). Penularan
dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar
(85%) berusia subur (15-44 tahun), sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang
bisa terjadi saat kehamilan (in uteri).
Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui transfusi fetomaternal
atau kontak antara kulit atau membran mucosa bayi dengan darah atau sekresi
maternal saat melahirkan . semakin lama proses kelahiran, semakin besar pula risiko
penularan, sehingga lama persalinanbisa dicegah dengan operasi sectio caecaria.
Transmisi lain juga terjadi selama periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular
melaui ASI dari ibu yang positif sekitar 10% (Nurs dan Kurniawan, 2013:161).
Penatalaksanaan Medis

Ayu Nuraini Soleha 1710711030

Indah Cahyasari 1710711116

Febby Fereza 1710711135

Perawatan

Menurut Hidayat (2008) perawatan pada anak yang terinfeksi HIV antara lain:

1. Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah
kemungkinan terjadi infeksi
2. Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
3. Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid,
yaitu azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke
DNA virus, sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
4. Mengatasi dampak psikososial
5. Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan
prosedur yang dilakukan oleh tenaga medis
6. Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu
memperhatikan perlindungan universal (universal precaution)

Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Tapi apabila terinfeksi HIV maka terapinya yaitu :

1. Pengendalian infeksi oportunistik Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan


pemulihan infeksi oportuniti, nosokomial, atau sepsis, tindakan ini harus
dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
2. Terapi AZT (Azitomidin) Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan
menghambat enzim pembalik transcriptase.
3. Terapi antiviral baru Untuk meningkatkan aktivitas sistem immun dengan
menghambat replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obatan ini adalah: didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4
dapat larut.
4. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron
5. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat
replikasi HIV
6. Rehabilitasi bertujuan untuk memberi dukungan mental-psikologis, membantu
megubahperilaku resiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko,
mengingatkancara hidup sehat dan mempertahankan kondisi hidup sehat.
7. Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang
sehat, hindari sters, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana
menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari
masyarakat.

I. Penatalaksanaan bayi/anak yang telah tertular


1. Terhadap Etiologi
Diberikan obat-obatan antiretroviral

Tabel 4. Macam-macam antiretroviral

Golongan obat Nama generik Singkatan

Nucleoside-reserve Azidotimidin/zidovudin AZT


Transcriptase
Didanosin DDI

Stavudin D4T

Zalbitabin DDC

Lamivudin 3TC

Protease Inhibitor (PI) Indinavir IDV

Ritonavir
Saquinavir

Non-Nucleoside-Reserve

Transcriptase Inhibitor (NNRTI) Nevirapin

Pada pemberian pengobatan dengan antiretroviral sebagai indikator


pemakaian/ kemajuan sering dipakai perhitungan jumlah CD4 serta
menghitung beban viral (viral load).

Tabel 5. Terapi antiretroviral menurut tahapan klinis infeksi-HIV

Keadaan klinis penyakit Pedoman terapi

Sindroma Retroviral Akut (2-4 minggu PI + (1 atau 2 NRTI)

setelah terpajan)

Asimtomatik dengan beban virus Didanosin

< 10.000/ml Kombinasi 2 NRTI

Simtomatik / asimtomatik PI + (1 atau 2 NRTI)

Dengan beban virus > 10.000/ml

Berlanjutnya penyakit setelah terapi Pindah ke terapi PI – NRTI

dengan 2 NRTI

Pada wanita hamil dengan infeksi HIV dapat diberi AZT 2 kali sehari peroral
sejak minggu ke 36 kehamilan sampai persalinan tanpa memandang jumlah
CD4, serta dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya. Pada bayi yang baru
lahir bila ibunya HIV positif, dapat diobati dengan AZT sampai 6 minggu.
Sebenarya pada bayi / anak pengukuran viral-load penting karena rentang
jumlah CD4 yang sangat bervariasi selama masa pertumbuhannya.
Sebagai profilaksis pasca pajanan dapat diberikan AZT sampai 4 minggu.
Zidovudin (Azidothymidine), mempunyai efek mempengaruhi proses
replikasi virus.

Dosis yang dianjurkan untuk anak-anak 80, 120, 160 mg/m2, diberikan secara
intravena setiap 6 jam, selama 1-2 bulan, diikuti peroral selama 1-2 bulan
dengan dosis satu sampai satu setengah kali dosis intravena.

Pemeriksaan Penunjang

Nada Mutiara 1710711028

Yahya Syukria 1710711060

Nir Ashmah 1710711122

Menurut Hidayat (2008) diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan menguji HIV. Tes ini
meliputi tes Elisa, latex agglutination dan western bolt. Penilaian Elisa dan latex
agglutination dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan
positif HIV harus dipastikan dengan tes western bolt.
1. Tes untuk diagnosa HIV:
 ELISA dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak
(positif; hasil tes yang positif dipastikan dengan western bolt)
 Western bolt dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV dan untuk
mengidentifikasi hasil tes yang positif
 P24 antigen test (positif untuk protein virus yang bebas)
 Kultur HIV (positif, kalau dua kali uji kadar secara berturut-turut mendeteksi
enzim reverse transcriptase atau antigen P24 dengan kadar yang meningkat)
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun
 LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
 CD4 Limfosit (menurun, mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi
terhadap antigen)
 Rasio CD4/CD8 limfosit (menurun)
 Serum mikroglobulim B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya
penyakit)
 Kadar immunoglobulin (meningkat)

Tes lain adalah dengan cara menguji antigen HIV, yaitu tes antigen P24 (polymerase chain
reaction) atau PCR. Bila pemeriksaan pada kulit, maka dideteksi dengan tes antibodi
(biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu HIV.

Dengan mempergunakan metoda virus diagnostic assay (RNA polymerase chain reaction
(PCR)DNA PCR, atau kultur virus) diagnosis infeksi HIV dapat ditegakkan pada usia 1
bulan, umumnya dianosis telah dapat ditegakkan pada semua bayi pada 8 bulan. Antibodi ibu
dapat terdeteksi hingga 12 samapai 15 bulan, tes serologi yang positif pada bayi tidak bernilai
diagnostik hingga usia 18 bulan.

PCR DNA HIV adalah metode virologi yang dianjurkan untuk mendiagnosa infeksi HIVpada
bayi dan dapat mengidentifikasi 38% bayi yang terinfeksi pada 48 jam dan 96% pada 28 hari.
Pemeriksaan diagnostik virus harus dilakukan pada usia 48 jam, umur 1 sampai 2 bulan, dan
pada usia 3 sampai 6 bulan. Pemeriksaan tambahan pada usia 14 hari sering dilakukan karena
sensitivitas meningkat secara cepat pada usia 2 minggu. PCR RNA HIV memiliki sensitivitas
selama minggu pertama kehidupan 25% sampai 40%, meningkat menjadi 90% sampai 100%
pada usia 2 sampai 3 bulan. Namun, PCR RNA HIV yang negatif tidak dapat digunakan
untuk menyingkirkan adanya infeksi, dengan demikian, tidak direkomendasikan sebagai
pemeriksaan lini pertama. Kultur HIV rumit dan tidak rutin dilakukan.

Infeksi HIV pada bayi yang terpajan ditegakkan bila uji virologi positif pada dua kesempatan
yang terpisah. Infeksi HIV dapat disingkirkan pada bayi yang tidak diberi ASI dengan
setidaknya dua uji virologi dilakukan pada usia lebih dari 1 bulan, dengan satu tes yang
dilakukan setelah 4 bulan; atau setidaknya dua tes antibodi negatif yang dilakukan setelah
usia 6 bulan dengan interval minimal 1 bulan. Hilangnya antibodi HIV ditambah dengan PCR
DNA HIV yang negatif memperkuat diagnosis bukan infeksi HIV. Hasil uji antibodi HIV
yang positif terus-menerus setelah usia 18 bulan menunjukkan adanya infeksi.

Komplikasi pada anak dengan HIV/AIDS

Dwi Arini 1710711034

Desiana Rachmawati 1710711038

Hillalia Nurseha 1710711046

Nurhidayah P 1710711113

Komplikasi pada anak HIV/AIDS dapat mengenai berbagai sistem organ tubuh.
Penyakit jantung yang terkait dengan infeksi HIV atau infeksi oportunistik yang meliputi
perikarditis dan miokarditis. Komplikasi kardiovaskular infeksi HIV seperti kardiomiopati
dan perikarditis telah dikurangi dengan terapi antiretroviral yang sangat aktif, tapi
aterosklerosis koroner prematur sekarang menjadi masalah yang berkembang karena obat
antiretroviral dapat menyebabkan gangguan metabolisme yang serius menyerupai orang-
orang dalam sindrom metabolik. Keterlambatan motorik, hipotonia, hipertonia, dan tanda
traktus piramidal menunjukan telah terjadi ensefalopati di sistem saraf pusat. Kejadian diare
kronik pada anak dengan infeksi HIV bervariasi antara 30-90%. Lesi esofageal, kelainan
hepatobilier dan diare merupakan penyakit yang paling sering, dan dapat menyebabkan
malabsorbsi, maldigesti, penurunan asupan nutrisi sehingga menyebabkan malnutrisi.
Trombositopenia terjadi pada 40% pasien dengan infeksi HIV selama sakit . Penurunan
produksi trombosit pada infeksi HIV mungkin terkait dengan kerusakan ultrastruktural pada
megakaryosit. Anemia dapat dapat terjadi 20% dari pasien pada saat diagnosis. Pada
kebanyakan pasien penyebabnya adalah multifaktorial. Faktor yang berkontribusi secara
umum adalah penekanan sumsum tulang, penyebab iatrogenik, kekurangan vitamin,
penekanan produksi eritropoietin, dan respon eritropoietin rendah. Infiltrasi sumsum tulang
dengan limfoma atau sarkoma kaposi. Penekanan sumsum tulang dapat disebabkan oleh
patogen seperti Mycobacterium Avium Complex, Parvovirus B19, atau CMV dan infeksi
jamur diseminata. Neutropenia yang diamati pada 10% pasien dengan infeksi HIV
asimptomatik dan 50% pada pasien dengan AIDS. Gagal ginjal akut umumnya disebabkan
oleh efek samping dari obat yang dipakai untuk infeksi terkait HIV, seperti asiklovir,
adefovir, aminoglikosida, amfoterisin, beta laktam (interstitial nephritis), sidofovir,
foskarnet, gansiklovir, pentamidin, sulfonamid, dan trimetoprim (kandungan kotrimoksazol).

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Pada pengkajian anak positif HIV dimasa perinatal sekitar usia 7-15 tahun.

Keluhan utama dapat berupa :

 Demam : suhu : 38,5


 Diare yang berkepanjangan
 Takipneu : RR: 30 x/mnt
 Batuk menetap >1 bln
 Sesak napas
 Berat badan menurun drastis : turun dari 24kg menjadin13,5kg
 Sulit menelan
 Faringitis dan sarcoma kaposi
 Lemas
 Limfadenopati
 Dermatitis

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Mata
 Adanya cotton wall spot (bercak katun wol) pada retina
 Infeksi pada tepi kelopak mata
 Mata merah, perih, gatal, berair, serta berkerak
 Lesi pada retina dengan gambaran bercak/eksudat kekuningan
2. Pemeriksaan Mulut
 Adanya sarcoma Kaposi pada mulut dimulai sebagai bercak merah datar
kemudian menjadi biru dan sering pada palatum
3. Pemeriksaan Telinga
 Adanya nyeri
 Kehilangan pendengaran
4. Sistem Pernafasan
 Adanya batuk yang lama dengan atau tanpa sputum
 Sesak nafas
 Takipneu
 Hipoksia
 Nyeri dada
 Nafas pendek waktu istirahat
 Gagal nafas
5. Pemeriksaan Sistem Pencernaan
 Berat badan menurun
 Anoreksia
 Nyeri pada saat menelan
 Kesulitan menelan
 Bercak putih kekuningan pada mukosa mulut
 Selaput lender kering
 Hepatomegali
 Mual dan muntah
 Kolitis akibat diare kronis
 Pembesaran limfa
6. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular
 Suhu tubuh meningkat
 Nadi cepat, tekanan darah meningkat
 Gejala gagal jantung kongestif sekunder akibat kardiomipati karena HIV
7. Pemeriksaan Sistem Integumen
 Adanya vericela (lesi yang sangat luas)
 Haemorargie
 Herpes zoster
 Nyeri panas serta malaise
8. Pemeriksaan Sistem Perkemihan
 Didapatkan air seni yang berkurang
 Proteinuria
 Adanya pembesaran kelenjar parotis
 Limfadenopati
9. Pemeriksaan Sistem Neurologi
 Adanya sakit kepala
 Somnolen
 Sukar berkonsentrasi
 Perubahan perilaku
 Nyeri otot
 Kejang-kejang
 Ensefalopati
 Gangguan psikomotor
 Meningitis
10. Pemeriksaan Sistem Muskuloskeletal
 Nyeri persendian
 Letih, gangguan gerak
 Nyeri otot

B. ANALISA DATA

No. Data Masalah Etiologi


1. Data Objektif: Ketidakseimbangan Kurang asupan makan
 Berat badan yang nutrisi: kurang dari
semakain menurun dari kebutuhan tubuh
24kg menjadi 13.5kg
dalam sebulam
perawatan
 Pada rongga mulut dan
faring ditemukan bercak
putih
 Mengeluh nyeri
menelan
 Pasien dinyatakan ada
faringitis dan sarcoma
Kaposi.

NO Data Masalah Etiologi


2. Ds : Kekurangan Volume Kehilangan cairan
- VJ selama ini sering Cairan aktif (diare)
mengeluh demam, lemas dan
diare berkepanjangan disertai
batuk.

Do :
- TD 100/60 mmHg
- Suhu 38,5 C
- Nadi 120x/menit
- Berat badan VJ turun dari 24
kg menjadi 13,5 kg selama
sebulan perawatan

NO Data Masalah Etiologi


3. Ds : Hipertermi Penyakit (HIV)
- VJ selama ini sering
mengeluh demam dan lemas.

Do :
- TD 100/60 mmHg
- Suhu 38,5 C
- Nadi 120x/menit
- RR 30 x/menit

NO Data Masalah Etiologi


4. Ds : Ketidakefektifan pola Hiperventilasi
- Pasien mengeluh sesak napas napas

Do :
- TD 100/60 mmHg
- Nadi 120x/menit
- RR : 30 x/menit
- Pasien tampak sianosis

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kuranf asupan
makanan
b. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare)
c. Hipertermi b.d penyakit (HIV)
d. Ketidakefektifan pola napas b.d hiperventilasi
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
1. Setelah dilakukan tindakan Mandiri:
keperawatan 3x24 jamdiharapka  Identifikasikan adanya alergi atau
masalah keperawatan intoleransi makanan yang dimiliki
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang pasien
dari kebutuhan tubuh berhubungan  Tentukan apa yang menjadi
dengan kurang asupan makanan dapat preferensi makanan bagi pasien
teratasi dengan criteria hasil:  Monitor intake/asupan nutrisi untuk
mengetahui energy yang adekuat
Status Nutrisi (1004):  Timbang pasien setiap hari pada jam
 Asupan gizi terpenuhi yang sama
 Asupan makan terpenuhi  Amati turgor kulit dan mukosa bibir
 Energi adekuat secara berkala
 Hidrasi adekuat  Diskusikan dengan pasien dan
keluarga mengenai persepsi atau
Pengetahuan Diet Sehat (1854): factor penghambat keinginan untuk
 Intake nutrisi terpenuhi makan
 Intake cairan terpenuhi
 Berat badan adekuat Kolaborasi:
 Konsultasikan dengan dokter jika
Nafsu Makan (1014): tanda dan gejala diare menetap.

 Keinginan untuk makan  Konsultasikan dengan ahli gizi


terpenuhi mengenai cara meningkatkan asupan

 Rangsangan untuk makan energy dari makanan.

terpenuhi  Diet tinggi protein


2. Setelah dilakukan intervensi Manajemen Cairan (4120) :
keperawatan selama 3x24 jam 1. Jaga intake/asupan yang akurat dan catat
masalah kekurangan volume cairan output
dapat teratasi yang dibuktikan dengan 2. Monitor status hidrasi (misalnya
pasien menunjukkan : membrane mukosa lembab, denyut nadi
adekuat)
Hidrasi (0602) : 3. Monitor tanda-tanda vital
- TD normal (110/70 – 120/80) 4. Berikan terapi IV, seperti yang ditentukan
- Nadi normal (60-100x/menit) 5. Distribusikan cairan selama 24 jam
- Suhu normal (36,5-37,5 C)
- Membrane mukosa lembab Manajemen Diare (0460) :

- Tidak ada diare 1. Instruksikan pasien atau anggota keluarga


untuk mencatat warna, volue, frekuensi, dan
konsistensi tinja
2. ukur diare/ouput pencernaan
3. Monitor tanda dan gejala diare
4. Ajari pasien cara penggunaan obat
antidiare secara tepat

3. Setelah dilakukan intervensi Perawatan demam (0355) :


keperawatan selama 3x24 jam 1. Pantau suhu dan tanda˗tanda vital
masalah Hipertermi dapat teratasi lainnya
yang dibuktikan dengan pasien 2. Monitor warna kulit dan suhu
menunjukkan : 3. Dorong konsumsi cairan
4. Fasilitasi istirahat, terapkan
Termoregulasi (0564) : pembatan aktivitas: jika dierlukan
- Tidak ada perubahan warna 5. Berikan obat atau cairan IV
kulit (misalnya, antipiretik,
- Melaporkan kenyamanan agenantibakteri, dan agen anti
suhu menggigil)
-
Tanda˗tanda vital (0563) : Pengaturan suhu (0308) :
- TD normal (110/70 – 120/80) 1. Monitor suhu paling tidak 2 jam,
- Nadi normal (60-100x/menit) sesuai kebutuhan
- Suhu normal (36,5-37,5 C) Sesuaikan suhu lingkungan untuk kebutuhan
- RR normal (16–24 x/menit) pasien
4. Setelah dilakukan intervensi Monitor TTV (6680) :
keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor TD, nadi, dan status
masalah ketidakefektifan pola napas pernafasan dengan tepat
dapat teratasi yang dibuktikan dengan 2. Monitor irama dan laju pernapasan
pasien menunjukkan : (misalnya, kedalaman dan
kesimetrisan)
Status pernafasan (0415) : 3. Monitor pola pernapasan abnormal
- TD anak normal (95/60 – (misalnya, sheyne-stokes, kussmaul,
110/73) dll)
- Nadi anak normal (70 - 120) 4. Monitor sianosis sentral dan perifer
- Frekuensi pernapasan anak Terapi Oksigen (3320) :
normal (14 - 22) 1. Siapkan peralatan oksigen dan

- Irama pernapasan normal berikan melallui sistem humidifier

- Kedalaman inspirasi normal 2. Monitor aliran oksigen

- Saturasi oksiggen 3. Monitor peralatan oksigen untuk


memastikan bahwa alat tersebut tidak
- Tidak ada sianosis
mengganggu upaya pasien untuk
bernafas.
4. Berikan oksigen tambahan seperti
yang diperintahkan
5. Periksa perangkap (alat) pemberian
oksige secara berkala untuk
memastikan bahwa konsentrasi (yang
telah) ditentukan sedang diberikan

DAFTAR PUSTAKA
Aulia, Arif. (2017, 09 September). HIV AIDS pada Anak. Diperoleh 21 April 2019, dari
https://www.academia.edu/8303813/HIV_AIDS_pada_Anak.

Darmono. FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI SISTEM KEKEBALAN. Jakarta:


Universitas Indonesia, 2016.

Marcdante, dkk., 2013. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Keenam.

Elsevier - Local. Jakarta.