Anda di halaman 1dari 6

Chapter 12

Audit Procedures in Response to Assessed Risks: Substantive Tests

Kelompok 8

Muh. Nanda Alfian (A031191102)

Novita Putri Tesalonika (A031191105)


MENILAI RISIKO KESALAHAN MATERIAL

Jenis Potensi Salah Saji

Aspek penting dari proses audit melibatkan pengenalan faktor-faktor risiko dan kemudian
menghubungkan faktor-faktor tersebut dengan asersi yang kemungkinan besar salah saji.
Faktor risiko dapat mempengaruhi potensi salah saji dalam laporan keuangan dengan dua cara.
Beberapa risiko memiliki efek pervasif pada laporan keuangan dan mempengaruhi beberapa
saldo akun dan asersi. Faktor risiko lain adalah asersi spesifik.

Besarnya Potensi Salah Saji

Beberapa potensi salah saji lebih signifikan daripada yang lain. Berikut adalah beberapa contoh
bagaimana auditor dapat mempertimbangkan besarnya potensi salah saji dalam laporan
keuangan.

1. Adanya persediaan lebih signifikan bagi produsen daripada untuk hotel atau banyak
perusahaan jasa lainnya
2. Persediaan lebih rentan terhadap pencurian untuk perhiasan daripada untuk
perusahaan kayu
3. Depresiasi aset tetap lebih signifikan bagi produsen kertas daripada untuk biro iklan
4. Kelengkapan pendapatan diterima di muka lebih signifikan bagi perusahaan perangkat
lunak daripada untuk pengecer tempat jualan

Kemungkinan Salah Saji

Setelah auditor mengidentifikasi risiko salah saji material, auditor juga harus
mempertimbangkan seberapa besar kemungkinannya. Setelah auditor mengidentifikasi
berbagai risiko bisnis, risiko inheren, dan risiko kecurangan yang mungkin mempengaruhi
laporan keuangan, ia harus mempertimbangkan kecukupan sistem pengendalian internal.
Semakin besar efektivitas pengendalian yang diterapkan perusahaan, semakin kecil
kemungkinan salah saji material.

Menentukan Risiko Deteksi

Auditor menggunakan model risiko audit untuk menghubungkan bukti yang diperoleh dari
prosedur penilaian risiko tentang risiko inheren dan risiko pengendalian, termasuk risiko
kecurangan, dengan keputusan tentang risiko deteksi. Risiko deteksi adalah risiko bahwa
auditor tidak akan menemukan salah saji material yang ada dalam sebuah asersi. Tingkat risiko
deteksi yang direncanakan dapat diterima ditentukan untuk setiap asersi laporan keuangan
yang signifikan. Risiko deteksi yang direncanakan ditentukan berdasarkan hubungan dalam
model berikut:

AR
DR=
IR x CR

MERANCANG PENGUJIAN SUBSTANTIF

Melakukan Prosedur Audit Lebih Lanjut

Auditor kemungkinan besar akan melaksanakan prosedur audit penilaian risiko lebih lanjut jika
bukti yang diperoleh selama audit tidak mengkonfirmasi penilaian risiko sebelumnya.

Menggunakan Teknologi Informasi untuk Mendukung Pengujian Substantif

Ketika klien menggunakan teknologi informasi untuk aplikasi akuntansi yang signifikan, auditor
memiliki kesempatan untuk menggunakan paket perangkat lunak audit agar audit lebih efektif
dan efisien. Selain menggunakan teknik audit berbantuan komputer untuk pengujian
pengendalian, perangkat lunak audit telah dikembangkan untuk berbagai macam aplikasi
pengujian substantif.

Perangkat Lunak Audit yang Umum

Perangkat lunak audit umum adalah perangkat lunak auditor yang dapat digunakan untuk
menganalisis dan menguji file komputer klien. Penggunaan perangkat lunak audit
memungkinkan auditor mengerjakan data dalam jumlah besar dengan efektif.

Rekonsiliasi Data Audit Detail dengan Buku Besar

Langkah pertama yang penting melibatkan memperoleh catatan terperinci dari klien dan
menguji data untuk memastikan bahwa data pendukung cocok dengan buku besar. Jika file
memiliki tanggal selain akhir bulan, yang tidak cocok dengan buku besar klien, kemungkinan
auditor akan mengirimkan konfirmasi dalam jumlah yang salah. Oleh karena itu, langkah
pertama yang penting melibatkan penggunaan perangkat lunak audit umum untuk
menjumlahkan informasi rinci dan membandingkan total pengendalian dengan buku besar
(pada tanggal interim) atau dengan laporan keuangan (pada akhir tahun).

Pemilihan dan Pencetakan Sampel-sampel Audit


Komputer dapat diprogram untuk memilih sampel audit sesuai kriteria yang dispesifikasi oleh
auditor. Sampel-sampel tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Piutang usaha
pelanggan secara individual mungkin dipilih untuk konfirmasi, atau auditor mungkin tertarik
dalam memperoleh daftar seluruh item yang nilainya melebihi jumlah normal tertentu. Sampel-
sampel tersebut dipilih berdasarkan berbagai kriteria.

Pengujian Kalkulasi dan Pembuatan Perhitungan

Kegunaan umum lainnya dari komputer adalah untuk menguji keakuratan perhitungan dalam
mesin yang dapat membaca arsip data. Pengujian penjumlahan ke samping, penjumlahan ke
bawah atau perhitungan lain dapat dilakukan. Kuantitas persediaan dapat dihitung dengan
biaya per unit dan jumlah persediaan yang dikalkulasi ulang.

Menguji Seluruh Populasi

Perangkat lunak audit umum memungkinkan auditor untuk menyaring seluruh populasi daripada
mengandalkan prosedur pengambilan sampel. Perangkat lunak audit yang digeneralisasi
memungkinkan auditor dengan cepat mengembangkan catatan waktu dari pengiriman hingga
penerimaan pembayaran untuk setiap transaksi penjualan.

Peringkasan Data dan Pelaksanaan Analisis

Auditor biasanya menginginkan data klien disusun Kembali dalam cara yang akan sesuai
dengan tujuan tertentu. sebagai contoh, auditor ingin menentukan pos-pos persediaan yang
bergerak lambat, saldo debet utang usaha, atau piutang usaha yang telah jatuh tempo.

Pilihan Audit dalam Merancang Pengujian Substantif

Tes substantif merupakan bagian penting dari proses memperoleh bukti-bukti yang cukup
kompeten seperti yang dipersyaratkan oleh ketiga standar kerja lapangan. Pengujian substantif
memberikan bukti tentang kewajaran setiap pernyataan laporan keuangan yang signifikan, atau
dapat mengungkapkan kesalahan moneter atau salah saji dalam pencatatan atau pelaporan
transaksi dan saldo.

Waktu Tes Substantif

Tingkat risiko deteksi yag dapat diterima dapat mempengaruhi waktu pengujian substantif.
Pilihan tentang waktu pengujian substantif adalah tentang apakah akan dilakukan pengujian
substantif atas saldo pada tanggal neraca, atau tanggal sebelum tanggal neraca atau tidak. Jika
risiko pengendalian rendah dan risiko deteksi tinggi, pengujian dapat dilakukan beberapa bulan
sebelum akhir tahun. Sebaliknya, ketika risiko deteksi untuk suatu asersi rendah, pengujian
substantif biasanya akan dilakukan pada atau mendekati tanggal neraca.

Pengujian Substantif Sebelum Tanggal Neraca

Seorang auditor dapat melakukan pengujian substantif atas rincian akun pada tanggal interim.
Keputusan untuk melakukan pengujian sebelum tanggal neraca harus berdasarkan apakah
auditor dapat mengendalikan bertambahnya risiko audit bahwa salah saji yang material akan
ada dalam akun tersebut pada tanggal neraca namun tidak dapat dideteksi oleh auditor. Risiko
tersebut semakin besar jika periode waktu yang tersisa antara tanggal pengujian interim dan
tanggal neraca diperpanjang.

Luas Pengujian Substantif

Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima juga akan mempengaruhi tingkat pengujian
substantif. Jika risiko deteksi tinggi, tes yang kurang ekstensif dapat dilakukan. Sebaliknya, jika
risiko deteksi untuk suatu pernyataan rendah, pengujian substantif biasanya akan lebih
ekstensif. Luas digunakan dalam praktik untuk mengartikan jumlah item atau ukuran sampel
yang akan diterapkan pada tes atau prosedur tertentu.

Pengujian Susbtantif Kepegawaian

Tugas seperti audit estimasi akuntansi seperti pengevaluasian keusangan persediaan


memerlukan tingkat keahlian dan pengalaman industri yang lebih besar daripada
pengobservasian eksistensi persediaan. Pengujian substantif harus ditugaskan kepada personil
dengan keahlian, kemampuan, dan pengalaman yang cukup.

Pertimbangan Khusus dalam Merancang Pengujian Substantif

Terdapat dua pertimbangan yang difokuskan pada bagian ini dalam merancang tes substantif,
yaitu:
1. Relasi antara saldo neraca audit dan akun di laporan laba rugi
Ketika sedang melakukan pengujian terhadap asersi saldo akun, auditor sering
mempelajari kewajaran dari presentasi transaksi. Auditor mempelajari terjadinya
penjualan ketika munculnya akun piutang. Hal ini menendakan adnaya suatu hubungan
antara akun di saldo neraca dan akun di laporan laba rugi
2. Akun yang berhubungan dengan transaksi pihak yang berhubungan.
AU 334 menyatakan bahwa auditor harus mengidentifikasi transaksi pihak yang
berhubungan dalam perencanaan audit. Contoh transaksi ini seperti transaksi dengan
perusahaan yang berafiliasi. Obyektif auditor dalam auditing hal ini adalah untuk
mendapatkan masalah pembuktian dalam hal tujuan, sifat, dan cakupan dari transaksi
ini dan efeknya terhadap laporan keuangan. Auditor kemudian diwajibkan untuk
menentukan substansi ekonomi dari transaksi dnegan pihak yang berhubungan dan
efeknya terhadap laporan keuangan.

MENGEMBANGKAN PROGRAM AUDIT UNTUK TES SUBSTANTIF


AU 311.09 menyatakan bahwa keputusan auditor mengenai rancangan tes substantive
diwajibkan untuk mendokumnetasikan kertas kerja dalam bentuk program audit tertulis.
Program audit ini terdiri atas daftar prosedur audit ynag harus dilaksanakan. Kerangka kerja
umum untuk mengembangkan program audit harus memenuhi dua tugas, yaitu:
1. Harus mendeskripsikan sikap dari prosedur yang harus dilaksanakan.
Keputusan mengenai waktu, cakupan, dan staffing dari prosedur audit biasanya di
dokumentasikan dalam kertas kerja audit itu sendiri. Program audit substantive
kemudian harus cukup mendetail untuk menyediakan sebuah outline untuk pekerjaan
yang harus diselesaikan, dasar untuk mengkoordinasi, mengawasi, dan mengendalikan
audit, dan catatan dari pekerjaan yang dilakukan.
2. Harus memastikan bahwa bukti audit harus didapatkan untuk semua asersi laporan
keuangan (obyektif audit).
Setiap program audit substantive harus menutupi seluruh asersi laporan keuangan yang
relevan. Dalam melakukan hal ini, diuraikan kerangka kerja yang memastikan bahwa
auditor merencanakan setiap ujian audit untuk setiap asersi dalam laporan keuangan.

Anda mungkin juga menyukai