Anda di halaman 1dari 28

SEMINAR KASUS

KONSEP TEORI DAN ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN


DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Dosen Pengampuh: Eko Mardiyaningsih, M.Kep.Ns.Sp.Kep.Mat

OLEH

MUHAMAD ATDI PURWOKO

012201017

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN TRANSFER


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah swt., yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya,
sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas ini.

Dalam pembuatan tugas ini, banyak kesulitan yang saya alami terutama disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan dan sumber-sumber info yang masih terbilang terbatas. saya
ucapkan terimakasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan saya tugas ini. Semoga
tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan tugas yang saya buat ini yang masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu,saya memohon maaf apabila ada kekurangan ataupun kesalahan.
Kritik dan saran sangat diharapkan agar tugas ini menjadi lebih baik serta berguna dimasa yang
akan datang.Amin.

Ungaran, Maret 2021


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap tahun dunia terdapat jutaan perempuan yang mengalami kehamilan.
Kehamilan tersebut dapat terjadi pada perempuan dengan berbagai niat kehamilan.
Berdasarkan niat kehamilan tersebut, maka kehamilan dapat dibedakan menjadi 3,
yaitu kehamilan yang diinginkan, kehamilan yang direncanakan dan kehamilan yang
tidak diinginkan. Kehamilan disebut diinginkan apabila kehamilan terjadi pada suami
istri yang menginginkan anak lagi, kehamilan disebut tidak direncanakan, apabila
kehamilan terjadi pada pasangan suami istri yang masih menginginkan anak, tetapi
kehamilan terjadi lebih cepat dan kehamilan disebut tidak diinginkan apabila
kehamilan terjadi pada pasangan suami istri yang sudah tidak menginginkan anak lagi
(Erol, 2010).
Kehamilan adalah hal yang wajar bagi seseorang wanita yang ditakdirkan
untuk melahirkan dan melanjutkan keturunan. Proses kehamilan menjadi hal yang
ditunggu dan menjadi hal yang baik jika kehamilan diinginkan, tetapi menjadi tidak
baik ketika kehamilan tersebut tidak diinginkan. khususnya pada remaja, karena pada
masa ini alat reproduksi belum cukup matang untuk melakukan fungsinya. Kehamilan
pada remaja juga mengandung banyak resiko, salah satunya dikarenakan rahim
remaja yang masih belum siap untuk mendukung kehamilan serta rasa malu akan
perubahan bentuk tubuh secara fisiologis. Remaja yang hamil diluar pernikahan juga
memiliki resiko untuk melakukan aborsi atau tetap melanjutkan kehamilanya dengan
berbagai dampak yang tidak aman, misalnya perdarahan yang berujung kematian
pada ibu atau bayi , ibu juga belum siap secara psikis, belum siap melanjutkan peran
sebagai orang tua, sehingga ibu merasa stress dan cemas (Kusmiran, 2014).
Kehamilan tidak diinginkan dapat menimbulkan berbagai permasalahan baik
pada bayi atau ibu. Misalnya, anak yang ibu dan keluarga yang belum menginginkan
kehamilan akan berakibat pada anak, seperti anak mengalami masalah perkembangan
mental. Anak – anak yang lahir karena kehamilan yang tidak direncanakan memiliki
skor perkembangan yang lebih rendah. Hal ini bisa timbul dari orang tua yang belum
siap secara mental maupun ekonomi untuk menjalankan peranya sebagai orang tua
(Nawati & Nurhayati, 2018).
Kehamilan tidak diinginkan pada remaja merupakan salah satu dampak dari
perilaku seks bebas. Hasil survei dari badan pusat statistik tahun 2012
mengungkapkan, angka kehamilan remaja pada usia 15 – 19 tahun mencapai 48 dari
1.000 kehamilan (BKKBN,2014). Beberapa faktor yang menyebabkan kehamilan
tidak diinginkan antara lain kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi,
pergaulan bebas, serta perkembagan teknologi yang dapat membuat remaja
mengakses hal – hal yang negatife. Faktor lain yang memicu kehamilan tidak
diinginkan adalah pemerkosaan dan kurangnya pengetahuan tentang tindakan yang
dapat memicu kehamilan. Pada masa remaja, yang merupakan masa peralihan dari
anak – anak menuju dewasa, rentan terjerumus ke pergaulan bebas yang
menyebabkan seks bebas, karena rasa keingintahuan yang besar. Perilaku tersebut
memiliki banyak dampak negative, diantaranya kehamilan tidak diinginkan (KTD),
aborsi, resiko terkena infeksi penyakit menular seksual (IMS) seperti ulkus mole,
klamidia, trikonomiasis, scabies, sifilis, kutil kelamin, herpes genital, gonorrhea, dan
resiko tertular hiv/aids.Penyebaran penyakit menular seksual akibat seks bebas, salah
satunya adalah hiv/aids menjadi masalah yang kini dihadapi dunia. Di Indonesia,
peningkatan jumlah individu yang terpapar hiv/aids tergolong banyak. Di Indonesia
disebut sebagai Negara yang mengalami peningkatan jumlah orang dengan hiv/aids
tertinggi di asean sejak 2001 sampai sekarang ini. Keadaan ini membuat pemerintah
berkepentingan untuk menekan laju pertumbuhan pengidapnya di Indonesia (Irfan,
2016).
Berdasarkan uraian tadi, mengungkapkan terdapat hubungan antara perilaku
seks bebas terhadap angka kejadian kehamilan tidak diinginkan (KTD) serta
penularan penyakit menular seksual, penulis tertarik untuk membuat makalah asuhan
keperawatan terhadap kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.

B. Tujuan
1. tujuan umum
Mahasiswa mampu mempelajari konsep teori dan asuhan keperawatan tentang kehamilan
tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.

2. tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teori dan asuhan keperawatan tentang
kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
b. Mahasiswa mampu menyusun aplikasi keperawatan dalam asuhan keperawatan
kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
c. Mahasiswa mampu menyusun asuhan keperawatan pada kehamilan tidak diinginkan
dan penyakit menular seksual.

C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Sebagai proses belajar dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan tentang kehamilan
tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
2. Bagi rumah sakit
Sebagai sumber referensi atau pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien.

3. Bagi perawat
Dapat meningkatkan kualitas seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
bagi pasien.

D. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Manfaat
D. Sistematika Penulisan

BAB II ISI MAKALAH

A. kehamilan tidak diinginkan


2.1 Definisi Kehamilan Tidak Diinginkan
2.2 Penyebab Kehamilan Tidak Diinginkan
2.3 pencegahan kehamilan tidak diinginkan
2.4 penanganan kasus kehamilan tidak diinginkan

B. penyakit menular seksual


2.1 definisi penyakit menular seksual pada ibu hamil
2.2 penyebab penyakit menular seksual pada ibu hamil
2.3 pencegahan penyakit menular seksual pada ibu hamil
2.4 penanganan penyakit menular seksual pada ibu hamil

C. Asuhan keperawatan……………….

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar Pustaka
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kehamilan tidak diinginkan


2.1 Pengertian

Kehamilan tidak diinginkan atau unwanted pregnancy dikenal sebagai suatu


kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya proses kelahiran dari suatu
kehamilan. Kehamilan ini bisa merupakan suatu proses dari suatu perilaku seksual atau
hubungan seksual yang disengaja maupun yang tidak disengaja.Kehamilan remaja
merupakan problem yang sulit dan memalukan bagi setiap keluarga, karena
bagaimanapun remaja yang terlanjur hamil diluar nikah mencerminkan buruknya pola
asuh, lemahnya penegakan disiplin, dan rendahnya penerapan etika moral ditengah
keluarga. Sikap tersebut terbentuk karena dalam pandangan masyarakat, hamil diluar
nikah merupakan pelanggaran etika. Kehamilan tidak diinginkan dianggap mencemari
tubuh, tidak menghormati etik seksual, tidak menjaga kesucian dan dianggap tidak
mampu mengekang dorongan seksual. Penolakan anggota masyarakat terhadap
keberadaan para remaja yang hamil menyebabkan banyak remaja yang hamil diluar nikah
menarik diri dari pergaulan dan mengasingkan diri sendiri ketempat yang asing atau
ketempat yang tidak mengenal mereka, dengan tujuan menghindari cibiran. Selain
masalah yang seperti pengucilan dan cemoohan, para remaja juga dapat terkena resiko
lain, seperti penyakit menular seksual. Penyakit menular seksual tentu berbahaya, bukan
hanya kepada ibu tetapi juga ke bayi yang dikandung.( Ahmad, 2020).

Kehamilan tidak diinginkan merupakan tantangan social dan kesehatan global


meliputi kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy) dan diinginkan yaitu 80
juta kehamilan pertahun. Dampak kehamilan tidak diinginkan akan menimbulkan
berbagai permasalahan baik pada bayi maupun pada ibu, salah satunya adalah aborsi
yang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada bayi dan perdarahan pada ibu. Selain itu,
dampak lain adalah terjangkitnya penyakit menular seksual yang bisa diderita bayi atau
ibu (Nawati &Nurhayati, 2018).

Penyakit menular seksual adalah infeksi yang menular melalui hubungan intim.
Pennyakit ini dapat ditandai dengan ruam atau lepuhan yang nyeri diarea kelamin. Ada
banyak jenis penyakit menular seksual, diantaranya Chlamydia, gonorea, sifilis,
trikomoniasis, dan HIV. Penyakit ini menyebar melalui hubungan intim,baik secara
vaginal, anal atau oral. Untuk HIV/AIDS dapat membahayakan ibu dan juga bayi dalam
kandungan, karena bayi yang lahir dengan orang tua yang mengalami HIV, mempunyai
resiko tertular juga (Asrori & Qurbaniah, 2017).
2.2 Pencegahan kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
Menurut Ahmad (2020), beberapa hal yang dilakukan adalah:
1. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
2. Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan kegiatan positife
3. Hindari perbuatan yang akan menimbulkan dorongan seksual, seperti meraba –
raba tubuh.
4. Memilih kontrasepsi yang cocok dan efektif.
5. Tidak bergonta – ganti pasangan seksual.

2.3 Etiologi
Adapun faktor medis yang mempengaruhi pada pergaulan bebas dan berakibat remaja
dengan gampangnya melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan sehingga
menyebabkan kehamilan. Pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung
jawab.

1. Faktor lingkungan
Orang tua kurangnya perhatian untuk memberikan pendidikan seks yang baik dan benar.
Dimana dalam hal ini orang tua bersikap tidak terbuka terhadap anak bahkan cenderung
membuat jarak dengan anak dalam masalah seksual.

2. Teman, tetangga dan media


Pergaulan yang salah serta penyalahgunaan dari media elektronik yang salah. Dapat
membuat para remaja berpikiran bahwa seks bukanlah hal yang tabu lagi.

3. Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan

Pengetahuan yang setengah – setengah membuat gairah seksual tidak tertahan. Hal ini
akan meningkatkan resiko dampak negatife seksual, remaja akan mencari informasi
tersebut dari sumber lain, seperti teman, buku, film, majalah dan internet.

4. Perubahan zaman
Pada zaman modern sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem –
sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem yang lain, yang
bertentangan dengan nilai moral dan agama, seperti fasion dan film.

5. Perubahan kadar hormone


Perubahan kadar hormone pada remaja meningkatkan libido atau dorongan seksual yang
membutuhkan penyaluran melalui dorongan seksual.
6. Semakin cepatnya usia pubertas
Semakin cepatnya usia pubertas, sedangkan pernikahan semakin tertunda akibat tuntutan
kehidupan saat ini menyebabkan resiko, apabila tidak diberikan pengarahan penyaluran
seksual yang benar.
7. Adanya trend baru dalam berpacaran dikalangan remaja
Dimana kalau dulu melakukan hubungan seksual diluar meskipun dengan rela sendiri
sudah dianggap beban. Namun sekarang sudah pula bergeser nilainya, yang dianggap
seks bebas adalah jika melakukan (Ahmad, 2020).

2.4 Patofisiologi
Kehamilan remaja membawa dampak buruk. Dampak buruk itu memungkinkan terjadinya “
kemacetan persalinan” akibat tidak seimbangnya antara pinggul ibu dan janinnya. Karena
pada wanita usia remaja belum berkembang sempurna.

1. Pada ibu, perdarahan pada kehamilan maupun pasca persalinan, hipertensi selama
kehamilan, solusio plasenta dan resiko tinggi meninggal akibat perdarahan.
2. Pada bayi, kehamilan belum waktunya (premature), pertumbuhan janin terhambat, lahir
cacat dan berpenyakitan serta berat badan lahir rendah.

2.5 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah:
1. Keguguran
Keguguran pada usia remaja dapat terjadi tanpa disengaja, misalnya karena
cemas, terkejut, stress. Tetapi ada juga yang dilakukan secara sengaja dengan dibantu
tenaga non professional, sehingga menyebabkan akibat yang serius seperti tingginya
tingkat kematiandan infeksi alat kelamin, yang akhirnya menimbulkan kemandulan.
2. Persalinan premature dan BBLR
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi, terutama rahim yang
belum siap dalam proses kehamilan. Berat badan lahir rendah (BBLR) juga
dipengaruhi rendahnya gizi yang kurang saat hamil dan umur yang muda. Cacat
bawaan dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan
akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan kurang, keadaan psikologis ibu
kurang stabil dan juga genetic yang mempengaruhi keadaan bayi. Ibu yang hamil pada
usia muda, biasanya pengetahuan akan gizinya masih kurang Sehingga akan membuat
bayi lahir premature dan BBLR.

3. Mudah terjadi infeksi


Keadaan gizi buruk, tingkat social ekonomi rendah dan stress memudahkanterjadinya
infeksi saat hamil terlebih dikala nifas.

4. Anemia atau kekurangan gizi


Penyebab anemia saat hamil adalah kurang pengetahuan akan pentingnya gizi
pada saat hamil muda, karena ibu mayoritas mengalami anemia, tambahan zat besi
dalam tubuh berfungsi meningkatkan sel darah merah sangat dibutuhkan.

5. Keracunan kehamilan
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin
meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam preklamasia atau eklamasia.
6. Kematian ibu yang tinggi
Kematian pada ibu pada saat melshirksn banyak disebabkan perdarahan dan
infeksi. Selain itu, angka kematian akibat gugur kandungan dan aborsi juga tinggi
yang kebanyakan dilakukian oleh tenaga non professional atau dukun bayi.
7. persalinan yang lama.
8. diasproporsi fetopelvis
Kehamilan yang dialami oleh remaja biasanya akan membentuk krisis psikologis
selama kehamilan, diantaranya adalah menyadari kehamilanya dan menginformasikan
kepada pasangan dan orang tua, keputusan untuk mengandung janin sampai lahir,
menyiapkan kebutuha keuangan, menghadapi hubungan interpersonal dirumah dan
sekolah, koping gambaran perubahan tubuh dan koping terhadap masalah keterikatan
dan menjadi orang tua (Ahmad,2020).

2.6 Manifestasi Klinis


Pada ibu yang memiliki resiko tinggi dalam kehamilan memiliki tanda bahaya, sebagai
berikut:
1. Muntah terus menerus dan tidak bisa makan.
2. Perdarahan
3. Pucat pada konjungtiva muka, telapak tangan menunjukkan anemia
4. Demam tinggi, biasanya karena infeksi.
5. Keluar air ketuban sebelum waktunya.
6. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak (Fauziah &
Sutejo, 2012).

2.7 Pemeriksaan penunjang


1. Ultrasonografi, mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multiple, mendeteksi
abnormalitas, melokalisasi plasenta dan kantung cairan amnion pada amniosintesis.
2. Amniosintesis terhadap perbandingan lestin terhadap sfingomielin mendeteksi
adanya fosfatidilgliserol (fg), mengukur densitas optikal cairan untuk mendeteksi
hemolisis dari ketidaksesuaian Rh atau infeksi pada cairan.
3. Tes gula darah.
4. Jumlah trombosit: penurunan berhubungan dengan hemolisis, peningkatan enzim
hepar atau jumlah trombosit rendah.
5. Golongan darah serta pemerijksaan untuk antibody pada klien Rh- negatife

2.8 Penatalaksanaan
1. Sering memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur, minimal 4 kali
kunjungan selama masa kehamilan.
2. Imunisasi tetanus 2 kali selama kehamilan dengan jarak 1 bulan, untuk mencegah
tetanus bayi baru lahir.
3. Memantau kondisi ibu dan janin.
4. Menentukan skrining atau deteksi dini bahaya kehamilan dan resiko penularan
penyakit pada kehamilan.

B. Penyakit menular seksual pada ibu hamil.


2.1 Pengertian
Infeksi menular seksual atau penyakit menular seksual adalah adalah penyakit
yang penularan utamanya melalui hubungan seksual. Dulu kita kenal juga dengan
dengan nama penyakit kelamin. Jika melakukan hubungan seks beresiko dapat
terkena penyakit kelamin atau infeksi menular seksual ini.
Infeksi menular seksual disebut juga penyakit menular seksual, pengertian dari
penyakit ini adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual,
baik sekas vaginal, oral maupun anal dengan pasangan yang berganti atau sudah
tertular (Abrori & Qurbaniah, 2017).

2.2 penyebab dan jenis IMS


Berdasarkan profil rumah sakit penyakit infeksi Sulianti Suroso (2010), beberapa
pathogen menular seksual yang paling umum dapat disebabkan oleh bakteri, virus
dan parasit dibawah ini.
a. Common infeksi bakteri.
b. Infeksi virus umum, seperti AIDS, herpes.
c. Organism parasit, seperti tricomoniasis vaginalis, pembengkakan penis.

2.3 Cara penularan IMS


Menurut depkes Amiruddin (2019), penularan IMS dapat melalui beberapa
cara, yakni bisa melalui hubungan seksual, berkaitan dengan prosedur medis dan
bisa berasal dari infeksi endogen. Ims tidak bisa ditularkan melalui kontak
seksual seperti berjabat tangan, makan bersama, berenang kolam renang umum
dan gigitan serangga. Penularan IMS melalui cara – cara berikut ini:
a. Klamidia dapat ditularkan melalui seks oral, vagina atau dubur dengan
pasangan yang terinfeksi.
b. Sifilis ditularkan melalui kontak seksual, termasuk seks oral dengan orang
yang terinfeksi dengan pengecualian sifilis congenital, yang menyebar dari
ibu ke aninya.
c. Herpes mulut atau herpes kelamin biasanya ditularkan dari orang ke orang
melalui berciuman .
d. HIV AIDS dapat ditularkan melalui hubungan intim, transfuse darah, jarum
suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin
atau menyusui, serta kontak lainya dengan cairan – cairan tubuh.
e. Gonorea ditularkan secara langsung dari seseorang ke orang lain melalui
kontaks seks. Namun penyakit gonorea ini dapat juga ditularkan melalui
ciuman atau kontak badan yang dekat.
f. Hepatitis B ditularkan melalui kontak sekual dengan individu yang terinfeksi,
penggunaan narkoba suntik dan paparan cairan tubuh yang terinfeksi, serta
menular vertical dari ibu ke bayi.
g. Jengger ayam bisa menular melalui kontak kulit, misalnya jari tangan yang
meraba bagian yang terinfeksi.

2.4 Manifestasi klinis


1. Pada perempuan
Banyak perempuan tidak mengalami gejala IMS walaupun sudah
terinfeksi. Jika terdapat geala bisa berupa menstruasi menjadi tidak
teratur, rasa sakit diperut bagian bawah, keputihan yang tidak wajar, rasa
gatal didaerah kelamin, rasa sakit pada vagina saat berhubungan seksual,
adanya luka disekitar kelamin, bau tak sedap serta demam.

2. Pada laki – laki


Rasa sakit atau panas saat kencing, keluarnya darah pada saat
kencing atau ejakulasi, keluarnya cairan keputihan (nanah) dari penis
bukan pada saat ejakulasi, adanya luka atau koreng pada alat kelamin,
serta gatal yang tidak wajar pada penis, anus dan sekitarnya.

2.5 Komplikasi
IMS dapat menyebabkan penyakit serius. Infeksi ini tidak hanya
dapat mempengaruhi organ seksual tetapi dapat menjadi
berkepanjangan dan mempengaruhi organ – organ lain dan bahkan
mengakibatkan kematian.
Sebagian besar infeksi menular seksual akan menimbulka peradangan
dan kerusakan jaringan kulit, selaput lender dan genital. Selain itu,
IMS dapat menyebabkan komplikasi dikemudian hari berupa
kemandulan, kehamilan diluar kandungan, kematian janin, keguguran,
kebutaan, kerusakan otak, kenker leher rahim dan bahkan mengancam
kesehatan bayi.

2.6 Pencegahan IMS


Pencegahan IMS terdiri dari dua bagian, yakni pencegahan primer
dan sekunder, pencegahan primer terdiri dari penerapan perilaku
seksual aman dan penggunaan kondom. Sedangkan pencegahan
sekunder dilakukan dengan menyediakan pengobatan dan perawatan
pada pasien yang sudah terinfeksi dengan infeksi menular seksual.
Langkah terbaik untuk mencegah adalah dengan menghindari kontak
langsung, dengan cara:
1. Menunda kegiatan sekas bagi remaja.
2. Menghindari berganti gentian pasangan seksual.
3. Memakai kondom dengan benar dan konsisten.

2.7 penatalaksanaan penyakit menular seksual.

Setiap ibu hamil dapat mengkonsumsi lebih dari satu obat.


Beberapa obat – obatan yang termasuk adalah ARV adalah
lamivudine (3TC), zidovudine, (ZDV), nevirapine, indinavir dan
nelfinafir. Penggunaan obat akan disesuaikan dengan usai kehamilan
karena beberapa obat menyebabkan cacat pada janin.
Konsep Asuhan Keperawatan

3.1 pengkajian

Adapun hal – hal yang perlu dikaji pada klien dengan kehamilan resiko tinggi

adalah sebagai berikut:

1. identitas klien

mengkaji identitas klien dan penanggung jawabnyang meliputi nama, umur,

agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, diagnose

medis.

2. Keluhan utama

Kaji adanya perdarahan pervagina.

3. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat pasien pergi

kerumah sakit atau puskesmas pada saat pengkajian. Manifestasi klinis

yang mengindikasikan adanya kehamilan adalah berhentinya menstruasi

dan pembesaran payudara.

b) Riwayat kesehatan dahulu

c) Riwayat kehamilan dan persalinan

Biasanya ditemukan kehamilan pada usia muda dan kehamilan yang

berdekatan.
4. Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi

Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi,

drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa

tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya

keterbatasan fisik dan seterusnya.

b. Palpasi

1) Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat

kelembaban dan tekstur kulit untuk menentukan kekuatan kontrak

uterus.

2) Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,

memperhatikan posisi janin, atau mencubitkan kulit mengamati turgor.

Pemeriksaan Leopold 1, 2,3 dan Leopold 4.

3) Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan atau tonus otot atau repon

nyri abnormal.

c. Perkusi

1) Menggunakan jari : tekuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang

menunjukkan ada tidaknya cairan, massa dan konsolidasi.

2) Menggunakan pali perkusi: tekuk lutut dan amati ada tidaknya reflex

atau gerakan pada kaki bawah, memeriksakan reflex kulit perut apakah

ada kontraksi dinding perut atau tidak.

d. Auskultasi
Mendengarkan suara nafas, bunyi jantung, abdomen untuk bising usus ada

denyut jantung janin.

5. Pemeriksaan fisik

a. Kepala
Inspeksi : Bentuk normal, rambut bersih, tidak berketombe tidak
berminyak dan tidak ada bekas luka operasi dan jahitan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
b. Wajah
Inspeksi : Terlihat simetris, tidak terdapat luka , tidak ada bekas operasi
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan pada wajah dan hidung.
c. Mata
Insepeksi :Konjungtiva berwarna merah muda, Sclera berwarna putih, tidak
mengunakan alat batu penglihatan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan benjolan
d. Telinga
Inspeksi :Bentuk simetris, lubang telinga terlihat bersih, pendengaran baik,
tidak memakai alat bantu pendengaran
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan benjolan
e. Leher
Inspeksi : pergerakan bebas, tidak ada luka
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. kelenjar Tyroid tidak teraba, kelenjar
getah bening tidak teraba. Tekanan vena jugularis tidak
meningkat, dan tidak ada krepitasi
f. Dada
Inspeksi : Tidak ada luka operasi, dada terlihat simetris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi :Suara paruparuSonordansuarajantungpekak
Auskultasi: Suara paru vesikuler

g. Jantung
Inspeksi : Bentuk simetris , Ictus Cordis terlihat di Ics 5
Palpasi : Teraba ictus cordis dengan 2 jari, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
kelainan pada jantung
Perkusi : suara jantung pekak
Auskultasi :Suara jantung Reguler
h. Abdomen
Inspeksi : Bentuk normal, tidak ada spider navi, tidak ada straight
march,tidak ada distensi abdomen, tidak ada keluhan kembung
Auskultasi : Bising usus 20x / menit
Palpasi : Bentuk normal, tidak ada luka
Perkusi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hati
i. Genetalia
Inspeksi : tidak ada perdarahan.
Palpasi : Tidak di kaji
j. Ekstremitas
Inspeksi : tidak ada luka, simestris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

6. Pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan terkait kadar haemoglobin di trisemester pertama, kedua,

hematokrit, eritrosit dan trombosit.


3.2 Diagnosa keperawatan

1. Risiko kehamilan tidak dikehendaki berhubungan dengan tidak menggunakan

alat kontrasepsi ditandai dengan penyakit menular seksual.

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gangguan adaptasi kehamilan

ditandai dengan distress psikologis.

3. Nyeri kronis berhubungan dengan gangguan imunitas (mis. HIV, virus

varicella-zoster) ditandai dengan infeksi.


3.3 Perencanaan Keperawatan

Diagnosa keperawatan Tujuan dan kreteria hasil Intervensi rasional


1.Risiko kehamilan tidak dikehendaki (L.07057) penerimaan (I.07216) Manajemen O: agar klien mengetahui

(D.0073) kehamilan kehamilan Tidak Dikehendaki tentang hal terkait


Kategori : fisiologis Setelah dilakukan tindakan Observasi: kehamilanya.
Subkategori: reproduksi dan
keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Identifikasi nilai – nilai N: untuk memberikan
seksualitas.
diharapkan pasien mampu keyakinan terhadap pengetahuan dan jalan
Definisi : berisiko mengalami
menerima kehamilan dengan kehamilan keluar.
kehamilan yang tidak diharapkan, baik
kreteria hasil: 2. Identifikasi pilihan E: untuk menanbah
karna alas an waktu yang tidak tepat
1. Verbalisasi penerimaan terhadap kehamilannya. pengetahuan klien.
atau karena kehamilan yang tidak
kehamilan meningkat dari Terapeutik : C:untuk menghindari hal
diinginkan.
skala 1 (menurun) 1. Diskusikan konflik yang buruk dan perawatan

menjadi skala 5 terjadi dengan adanya lebih maksimal.

(meningkat). kehamilan.

2. Verbalisasi perasaan yang 2. Berikan konseling

dialami meningkat dari kehamilan.

skala 1 (menurun) Edukasi:


menjadi skala 5 1. Informasikan perubahan

(meningkat). yang terjadi selama

3. Kemampuan kehamilan.

menyesuaikan diri dengan Kolaborasi:

kehamilan meningkat, 1. Rujuk jika mengalami

dari skala 1 9menurun) komplikasi kehamilan.

menjadi skala 5

(meningkat).

4. Perasaan menarik diri

turun, dari skala 1

(meningkat) menadi skala

5 (menurun).
2.Gangguan Rasa Nyaman (D.0074) (L.08064) Status Kenyamanan (I.08245) Perawatan O: agar klien memahami

Kategori : psikologis Setelah dilakukan tindakan Kenyamanan. kondisinya.


Subkategori: nyeri dan kenyamanan keperawatan selama 3 x 24 jam, Observasi: N: untuk menanmabh
Definisi : perasaan kurang senang, lega
diharapkan status kenyamanan 1. Identifikasi pemahaman kenyamanan.
dan sempurna dalam dimensi fisik,
pasien meningkat dengan kreteria tentang kondisi, situsi dan E: untuk menambah
psikospiritual, lingkungan dan sosial.
hasil: perasaanya. pengetahuan klien.

1. Kesejahteraan fisik Terapeutik: C:agar pengobatan lebih

meningkat, dari skala 1 1. Ciptakan lingkungan yang maksimal.

(menurun) menjadi skala nyaman.

5 (meningkat). 2. Dukung keluarga terlibat

2. Kesejahteraan psikologis dalam pengobatan.

meningkat, dari skala 1 Edukasi :

(menurun) menjadi 5 1. Jelaskan mengenai terapi

(meningkat) pengobatan.

3. Dukungan sosial dari Kolaborasi:

keluarga meningkat, dari 1. Kolaborasi dengan tim

skala 1( menurun) medis lain, terkait

menjadi 5 (meningkat). pemberian analgetik

4. Menyalahkan diri sendiri terkait penyakit menular

menurun dari skala 1 seksual.

(meningkat) menjadi 5 2. Kolaborasikan dengan

(menurun). keluarga dalam dukungan


ke klien.
3. Nyeri kronis (D.0078) (L.08066) Tingkat Nyeri (I.08238) Manajemen nyeri O: untuk mengetahui

Kategori : psikologis Setelah dilakukan tindakan Observasi: karakteristik dan hal


Subkategori: nyeri dan kenyamanan keperawatan selama 3 x 24 jam, 1. Identifikasi lokasi, penyebab nyeri muncul.
Definisi : pengalaman sensorik atau
diharapkan tingkat nyeri pasien karakteristik, durasi, N: untuk meredakan nyeri.
emosional yang berkaitan dengan
menurun dengan kreteria hasil: frekwensi, kualitas, E: agar nyeri lebih bisa
kerusakan jaringan actual atau
1. Kemampuan intensitas nyeri dikontrol.
fungsional, dengan onset mendadak atau
menuntaskan aktifitas 2. Identifikasi factor yang C: agar penyembuhan lebih
lambat dan berintensitas ringan hingga
meningkat, dari skala 1 memperberat dan maksimal.
berat dan konsisten, yang berlangsung
(menurun) menjadi skala memperingan nyeri.
lebih 3 bulan.
5 (meningkat). Terapeutik:

2. Keluhan nyeri menurun, 1. Berikan teknik

dari skala 1 (meningkat) nonfarmakologis untuk

menjadi 5 (menurun). mengurangi rasa nyeri

3. Ekspresi meringis dan seperti teknik nafas dalam

gelisah menurun, dari dan relaksasi distraksi

skala 1 (meningkat) 2. kontrol lingkungan yang


menjadi skala 5 memperberat nyeri.

( menurun). Edukasi:

1. jelaskan penyebab,

periode, dan pemicu nyeri.

2. Jelaskan strategi

meredakan nyeri.

Kolaborasi:

1. Kolaborasikan pemberian

analgetik.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah menguraikan dan membahas asuhan keperawatan kehamilan tidak

diinginkan dan penyakit menular seksual, mahasiswa diharapkan paham akan konsep

asuhan keperawatan serta seluk – beluk kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular

seksual.

B. SARAN

Diharapkan penulis dapat menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapat dalam

pemberian asuhan keperawatan dengan kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular

seksual agar bisa dijadikan pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, M. (2020). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi. Bandung: Media sains indonesia.

Surbakti, E. B. (2009). Kenalilah Anak Remaja Anda. Jakarta: PT Gramedia.

Abrori., & Qurbaniah, M. (2017). Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Pontianak: UM Pontianak

Pers.

Fauziah, S., & Sutejo. (2012). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Kehamilan: Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.

Nuraeni, R., & Wianti, A. (2018). Asuhan Keperawatan Gangguan Maternitas. Cirebon:

Loverinz Publishing.

Amiruddin, R. (2019). Kebijakan Dan Respons Epidemik Penyaki Menular Seksual. Bogor:
Percetakan IPB.

Realita, F., & Rahmawati, A. (2016). PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN.

Ismarwati., & Utami, I. (2017). FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN PADA REMAJA.

Nawati., & Nurhayati, F. (2018). DAMPAK KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN TERHADAP

PERAWATAN KEHAMILAN DAN BAYI (STUDI FENOMENOLOGI).