Anda di halaman 1dari 100

i

BUKU MANUAL PRODUK

PT. WIJAYA KARYA BETON. Tbk

BUKU MANUAL PRODUK

PC SPUN PILE
WB-PST-MNL -201.001 -S.A (REVISI 01)
ii

@2019
OLEH PT WIJAYA KARYA BETON. TBK
REVISI 01

Semua rancangan dan karya seni yang tertera pada buku ini
dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta serta hanya dapat
dipakai untuk keperluan yang telah ditentukan dan tidak boleh
diperbanyak tanpa seizin dari PT Wijaya Karya Beton. Tbk
iii

PT. WIJAYA KARYA BETON. Tbk

BUKU MANUAL PRODUK

PC SPUN PILE
WB-PST-MNL -201.001 -S.A (REVISI 01)
4

DAFTAR ISI
MARKING DAN SPESIFIKASI PRODUK 1 PENCEGAHAN KARAT PADA PELAT SAMBUNG 58

PENGANGKATAN PRODUK 3 PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG DENGAN ARCH WELDING 61


TABEL BATAS PENGANGKATAN TIANG PANCANG 8 PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG DENGAN LAS 63

PENGANGKUTAN TIANG PANCANG (TRAILER) 10 JENIS CACAT HASIL PENGELASAN 64

POLA TUMPUKAN TIANG PANCANG PADA TRAILER 16 PERLENGKAPAN PENYAMBUNGAN LAS 66

PENGANGKUTAN TIANG PANCANG (TONGKANG/BARGE) 17 KERUSAKAN PADA TIANG PANCANG SAAT PEMANCANGAN 69

PENANGANAN TIANG PANCANG DI LAPANGAN 22 PERBAIKAN TIANG PANCANG 72

ALAT PANCANG (PILE RIG) 27 UJI BEBAN PADA TIANG PANCANG 74

INSTALASI TIANG PANCANG (IMPACT HAMMER) 28 UJI KEUTUHAN TIANG PONDASI 78

PERMASALAHAN PADA PEMANCANGAN 44 UJI KUAT LENTUR TIANG 80

INSTALASI TIANG PANCANG DI AIR 48 DAFTAR LAMPIRAN 81

INSTALASI TIANG PANCANG METODE JACKING 49 LAMPIRAN PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG 82

INSTALASI TIANG PANCANG METODE INNER BORE 56 LAMPIRAN TIPE HAMMER TIANG PANCANG 83

LAMPIRAN UJI BEBAN PADA TIANG PANCANG 91


1

MARKING DAN SPESIFIKASI PRODUK

MARKING PRODUK

Pelat Posisi angkat tambahan


sambung untuk penegakan dengan
2 titik angkat
Sepatu

Tip shoe
1m 1/3 L
POSISI ANGKAT PENEGAKAN TIANG

Pelat Pelat
sambung sambung

1/5 L 3/5 L 1/5 L


POSISI ANGKAT DI PABRIK DAN STOCKYARD
2

IDENTIFIKASI PRODUK SPESIFIKASI MATERIAL

Marking titik angkat


penegakan tiang
Logo WIKA BETON ITEM REFERENSI SPESIFIKASI
Spesifikasi tiang
Tanggal Produksi Material ASTM C33 Memenuhi persyaratan
Nomor Produk SNI 03-6861.1-2002

Semen SNI 2049-2015 Standar tipe 1 / tipe khusus


Marking titik angkat
di pabrik dan
stockyard ASTM C 494 Tipe F : High range
Admixture SNI 03-2495-1991 water reducer

Spesifikasi khusus ASTM A416 Grade D-Class I-SBPD


PC Bar SNI 7701-2016 1275/1420
PC BAR
Diameter PC BAR
Panjang tiang Spiral Wire JIS G3532 SWM-P (Round type)
Tipe ( B-bottom ; M-middle)
Kelas tiang
Diameter tiang Pelat Sambung JIS G3101 SS400 atau setara

AWS A.5.1 E6013


Sambungan Las ANSI/AWS D1.1-900 NIKKO Steel RB26/RD 260,
Kode Pabrik
LION 26 atau setara
Kode Jalur Nomor urut
produksi
3

PENGANGKATAN PRODUK
Persyaratan
1. Kapasitas angkat crane atau hoist cukup untuk mengangkat berat tiang pancang.
2. Saat pengangkatan, crane dalam posisi stationary, tiang diangkat vertikal secara perlahan dan pergerakan swing boom crane menggunakan kecepatan
rendah.
3. Swivel rotasi dan sling/wire ropes angkat yang digunakan dalam kondisi baik dan layak digunakan.
4. Tiang diangkat dengan mengalungkan sling angkat pada posisi marking rantai (posisi titik angkat tiang pancang).
5. Untuk pengangkatan tanpa lifting beam, sudut sling angkat terhadap tiang pancang minimal 600.
6. Tiang diangkat satu persatu atau maksimal 2 (dua) tiang sekaligus.
7. Untuk pengangkatan dengan “hook C” pada ujung tiang, sudut rantai/sling angkat terhadap tiang pancang minimal 450.
8. Panjang tiang yang yang diperbolehkan diangkat dengan metode “hook C” harus mengikuti tabel batasan pengangkatan (halaman : 8-10)
9. Posisi tiang saat pengangkatan dalam posisi horisontal dengan toleransi kemiringan 4%.

Sling dikalungkan pada posisi Sling dikalungkan Hook C dikaitkan pada ujung tiang
marking pengangkatan tiang dan pada posisi marking dan posisi produk rata horizontal.
posisi produk rata horisontal pengangkatan tiang
dan posisi produk
rata horisontal
Panjang tiang dibatasi
sesuai tabel hal. 8-10

Lifting beam
Min.
0
60 Hook "C " 0
Min. 45
4

Tiang pancang diangkat sekaligus Posisi boom crane masih dalam Saat penegakan tiang, posisi sling
2 (dua) tiang. Jaga kondisi saat radius operasi terhadap beban yang angkat pada marking “segitiga”
pengangkatan agar seimbang/ diangkat terpenuhi. (marking pengangkatan tiang).
stabil dengan mengalungkan sling
pada posisi marking pengangkatan. Posisi sling/wire rope vertikal Untuk tiang yang diangkat dengan
terhadap posisi tiang pancang yang bantuan roll untuk penegakan,
Sling angkat di posisi marking diangkat. posisi sling diikat pada dua marking
pengangkatan dan posisi produk titik angkat.
rata.

Marking titik angkat


penegakan tiang

PASTIKAN KAPASITAS Mak. Radius operasi


CRANE DAN SLING CUKUP
UNTUK MENGANGKAT
BEBAN.

Penegakan tiang dengan satu titik angkat

o
Min. 60

Penegakan tiang dengan dua titik angkat


menggunakan roll
5

DILARANG! DILARANG! DILARANG!


Tiang pancang dipindahkan dengan Tiang pancang terbentur saat Tiang pancang jatuh akibat
diseret. Berbahaya! Resiko tiang diangkat. Berbahaya! Resiko tiang kapasitas sling angkat putus.
di-reject akibat retak atau gompal di-reject akibat retak atau gompal Berbahaya! Resiko korban jiwa
pada tiang pancang. pada tiang pancang. dan tiang pancang di-reject karena
retak/patah saat tiang jatuh.

PUTUS!

DISERET! TERBENTUR!
6

DILARANG! DILARANG! DILARANG!


Tiang pancang diangkat sekaligus Posisi sling angkat tidak sesuai Pekerja/orang berada di bawah
lebih dari dua. Berbahaya! Resiko marking untuk pengangkat tiang. tiang pancang dan ikut pada tiang
tiang pancang slip dan jatuh akibat Sangat berbahaya! Resiko tiang yang diangkat. Sangat berbahaya!
tiang tidak stabil. jatuh atau terbentur akibat tidak Resiko korban jiwa akibat tertimpah
seimbang. tiang atau jatuh terpeleset.

POSISI SLING TIDAK


TIANG SEIMBANG / SESUAI
DIANGKAT MARKING
LEBIH DARI PEKERJA
PENGANGKATAN GELANTUNGAN!
DUA!

TERBENTUR! PEKERJA DI
BAWAH
TIANG !
7

DILARANG! DILARANG! DILARANG!


Kondisi tanah landasan crane angkat Radius operasi boom crane angkat Posisi sling angkat tidak vertikal
tidak padat. Sangat Berbahaya! melebihi radius operasi maksimum. terhadap posisi tiang pancang yang
Resiko alat crane angkat terjungkal Berbahaya! Resiko alat crane diangkat. Berbahaya! Resiko korban
dan roboh saat mengangkat tiang. angkat terjungkal dan roboh saat jiwa atau tiang pancang retak akibat
mengangkat tiang. terbentur tiang pancang yang
terayun saat diangkat.

Mak. Radius operasi

CRANE
OVERTURNING! TERBENTUR!

CRANE
OVERTURNING!
LANDASAN LUNAK!
8

TABEL BATAS PENGANGKATAN TIANG PANCANG

Penegakan tiang dengan Penegakan tiang dengan dua titik


satu titik angkat angkat menggunakan roll
Tiang diangkat dengan
mengkaitkan “hook C”
pada ujung tiang.

SIMBOL : SIMBOL : Panjang tiang yang berada pada


bagian kiri garis batas tebal

Dia. Tebal Berat Mcrack Mbreak Panjang Tiang (m)


Kelas
(mm) (mm) (kg/m) t.m t.m
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

300 60 113 A2 2.50 3.75


A3 3.00 4.50
B 3.50 6.30

C 4.00 8.00

350 65 145 A1 3.50 5.25


A3 4.20 6.30
B 5.00 9.00

C 6.00 12.00

400 75 191 A2 5.50 8.25


A3 6.50 9.75
B 7.50 13.50

C 9.00 18.00
9

Panjang TiangTiang (m)


Panjang
Dia. Tebal Berat Kelas Mcrack Mbreak
(mm) (mm) (kg/m) Kelas t.m t.m
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

450 80 232 A1 7.50 11.25

A2 8.50 12.75
A3 10.00 15.00

B 11.00 19.80

C 12.50 25.00

500 90 290 A1 10.50 15.75

A2 12.50 18.75
A3 14.00 21.00
B 15.00 27.00

C 17.00 34.00

600 100 393 A1 17.00 25.50

A2 19.00 28.50
A3 22.00 33.00
B 25.00 45.00

C 29.00 58.00

800 120 641 A1 40.00 60.00

A2 46.00 69.00
A3 51.00 76.50

B 55.00 99.00

C 65.00 130.00

1000 140 946 A1 75.00 112.50

A2 82.00 123.00
A3 93.00 139.50
B 105.00 189.00

C 120.00 240.00
10

Dia. Tebal Berat Mcrack Mbreak Panjang Tiang (m)


Kelas
(mm) (mm) (kg/m) t.m t.m
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

1200 150 1237 A1 120.00 180.00

A2 130.00 195.00
A3 145.00 217.50
B 170.00 306.00

C 200.00 400.00

PENGANGKUTAN TIANG PANCANG (TRAILER)


Persyaratan angkutan trailer :
1. Jalur pengiriman sudah di-survey untuk memastikan kondisi rute perjalanan ke lokasi dapat dilalui oleh trailer. Yang harus diperhatikan adalah
kelandaian jalan, radius tikungan minimum, kelas jalan dan jembatan, clearance di bawah jembatan, rintangan lain seperti kabel dan pohon, dan tingkat
kepadatan lalu lintas.
2. Trailer dalam kondisi baik dimana ban trailer tidak gundul dan tekanan udara ban sama serta kondisi bak trailer rata dan kokoh.
3. Berat tiang pancang yang diangkut tidak melebihi kapasitas trailer.
4. Tiang pancang ditumpuk seimbang/simeteris dengan posisi tiang antar lapisan tumpukan satu garis (cosentris) pada sumbu tiang.
5. Tumpuan tumpukan tiang pancang menggunakan kayu ukuran 6/12 dengan jarak tumpuan maksimal 3m.
6. Posisi kayu tumpuan antar lapisan pada posisi satu garis (cosentris) pada arah vertikal.
7. Pada setiap lapis tumpukan dipasang ganjal kayu/spi pada sisi luar tiang untuk mencegah tiang mengelinding.
8. Rangkaian tumpukan tiang pancang diikat kencang dengan sling/rantai ke bak trailer pada posisi sama dengan kayu tumpuan.
9. Kait/cantolan sling /rantai pada bak trailer kuat menahan rantai/sling.
10. Kedua sisi bak trailer dipasang tiang penahan tepi yang kokoh sebagai pengaman agar tiang tidak jatuh apabila rantai putus.
11. Untuk tiang yang keluar dari area bak maksimum 2m dan jarak ujung tiang terhadap tumpuan pertama maksimum 1/5 dari panjang tiang.
11

0,5 - 1m maks. 3m maks. 3m maks. 3m 0,5 - 1m CL


Sling/
rantai
Kayu tumpuan (6/12) Kayu tumpuan (6/12)
Kayu
tumpuan
Sling/rantai (6/12)

Tiang tepi Tiang tepi


Kayu
ganjal

1 Tiang ditumpuk seimbang/simetris dan cosentris antar lapisan.


2 Tumpuan dengan kayu 6/12 dengan jarak mak. 3m dan posisi tumpuan cosentris antar lapis.
3 Tiang diikat kencang oleh sling/rantai ke bak trailer pada posisi kayu tumpuan.
4 Kayu ganjal/spi dipasang pada kedua sisi luar tumpukkan tiang tiap lapis.
5 Tiang tepi dipasang pada kedua sisi bak trailer.

Standar rantai sling untuk pengikatan pada trailer :


1 Material : Grade 80
2 Dimension : S R F

12,7mm 38mm 43mm

3 Working Load Limit (WLL) = 5,4 ton ( 25% dari nilai MBL )
4 Memiliki sertifikat produk dengan nilai proof test 50% dari Maximum Breaking Load (MBL)
12

maks. 1/5 L tiang

0,5 - 1m maks. 3m maks. 3m 0,5 - 1m


Sling/rantai
Sling/rantai
Kayu tumpuan
(6/12)
Kayu tumpuan (6/12)
Kayu ganjal

maks. 2m
(keluar bak)

1 Panjang tiang keluar dari bak maksimum 2m 1 Tiang diameter lebih kecil ditumpuk
PANJANG TIANG ≤ 15m Jarak ujung tiang terhadap tumpuan pertama diatas tiang yang diameternya lebih
2
(BAK TRAILER 12m) maksimum 1/5 dari panjang tiang. besar
3 Pasang rambu pada bagian ujung tiang yang keluar bak trailer belakang.

maks. 1/5 L tiang

0,5 - 1m maks. 5m 0,5 - 1m 0,5 - 1m maks. 5m 0,5 - 1m

Sling/rantai

Kayu tumpuan (6/12)

1 Jarak ujung tiang terhadap kayu tumpuan maksimum 1/5 dari panjang tiang.
PANJANG TIANG > 15m Pasang rambu pada bagian ujung tiang yang keluar bak trailer belakang.
2
(BAK SLIDING Maks. 18m)
13

DILARANG! DILARANG!
Posisi tumpuan kayu tiang pancang antar Rute trailer melewati jalan rusak/bergelombang dan tanjakan/turunan
lapis tidak cosentris (satu garis). Sangat TITIK TUMPUAN curam. Sangat berbahaya! Resiko trailer tidak mampu melewati jalan
berbahaya! Resiko tiang pancang di- TIDAK CO-SENTRIS ! dan dapat menimbulkan kecelakaan akibat terguling.
reject karena retak.

KONDISI JALAN
RUSAK & TANJAKAN/
TURUNAN CURAM !

DILARANG! DILARANG!
Tiang pancang lapis bawah ditumpuk Tiang pancang ditumpuk oleh barang/
oleh tiang pancang yang lebih besar/ benda berat. Sangat berbahaya! Resiko BARANG/BENDA
TIANG BESAR/
berat. Sangat berbahaya! Resiko tiang BERAT DITUMPUK tiang pancang di-reject karena retak/cacat BERAT DITUMPUK
pancang di-reject karena tiang pada lapis PADA LAPIS ATAS ! pada tiang akibat beban tumpukan. DIATAS TIANG
PANCANG !
bawah retak akibat beban tumpukan.
14

DILARANG! DILARANG! DILARANG!


Tiang pancang ditumpuk tanpa kayu Kayu lunak digunakan sebagai kayu tumpuan Tiang pancang lapis bawah ditumpuk oleh
tumpuan. Berbahaya! Resiko permukaan tiang pancang. Sangat berbahaya! Resiko tiang pancang yang lebih besar/berat.
tiang pancang cacat akibat gesekan antar kayu tumpuan patah saat perjalanan Sangat berbahaya! Resiko tiang pancang
tiang dan kesulitan memasang/melepas akibat posisi tumpukan tiang tidak di-reject karena tiang pada lapis bawah
sling angkat saat handling. cosentris terhadap tiang di bawahnya. retak akibat beban tumpukan.

TIANG DIANGKAT TUMPUAN KAYU LUNAK TIANG BESAR/BERAT


TANPA KAYU ! & POSISI TIANG TIDAK DITUMPUK PADA LAPIS ATAS !
COSENTRIS ANTAR LAPIS !

KAYU PATAH!
15

DILARANG! DILARANG! DILARANG!


Sisi luar lapisan tiang tidak dipasang kayu Posisi tumpukan tiang tidak simetris pada Akses jalan memiliki alinyemen curam
ganjal/ spi & tiang penahan tepi. Sangat bak trailer. Sangat berbahaya! Resiko ban dan tikung memiliki radius yang kecil.
berbahaya! Resiko tiang pancang tidak trailer pecah dan resiko trailer terguling Sangat berbahaya! Resiko tiang pancang
stabil dan menggelinding jatuh dari bak ditikungan tajam saat perjalanan. jatuh dan trailer terguling.
trailer saat pengangkutan.

TIDAK DIPASANG POSISI TIANG RADIUS TIKUNGAN KECIL


KAYU GANJAL/SPI ! TIDAK SIMETRIS ! & ALINYEMEN CURAM !

TRAILER
OVERTURNING!

BAN
PECAH!
16

POLA TUMPUKAN TIANG PANCANG PADA TRAILER

Lapis tumpukan Bobot Lapis tumpukan


Dia. Berat Panjang Total Dia. Berat Panjang Bobot Total
(mm) (kg/m) (m) 1 2 3 4 5 (ton) (mm) (kg/m) (m) (ton)
1 2 3 4 5
300 113 9 8 8 8 8 6 38,65 800 641 9 3 3 34,62
12 8 8 8 7* 42,04 12 3 1 30,77
15 8 8 8 40,68 16 3 30,77
350 145 9 7 7 7 7 36,54 1000 946 9 2 2 34,06
12 7 7 7 3 41,76 12 2 22,71
15 7 7 5 41,33 16 2 30,28
400 191 9 6 6 6 5* 39,54 1200 1237 9 2 22,27
12 6 6 6 41,26 12 2 29,69
15 6 6 2 40,11 16 2 39,59
450 232 9 5 5 5 3 37,58
12 5 5 5 41,76 * Apabila tumpukan tiang pada lapis teratas penempatanya tidak cosentris
15 5 5 2* 41,76 terhadap lapis dibawahnya maka tiap tumpuan tiang tersebut harus
500 290 9 5 5 5 39,15 menggunakan 2 buah kayu tumpu yang kuat menopang beban tiang.
12 5 5 2* 41,76
15 5 5 43,50
Keterangan :
600 393 9 4 4 2 35,37
- Ukuran Bak trailer : Lebar 2,4m ; Panjang 12m s/d 14m
12 4 4 37,73
- Kapasitas angkut trailer : maks. 50 ton
16 4 2 37,73
17

PENGANGKUTAN TIANG PANCANG DENGAN TONGKANG/BARGE

Persyaratan :
1. Draft akibat muatan barge/tongkang berada pada level yang telah ditentukan.
2. Deck/lantai barge dalam kondisi rata dan side board barge/tongkang kokoh
3. Kekuatan mesin kapal penarik (tug boat) ideal untuk menarik berat total tongkang
4. Tinggi side board cukup menahan apabila tumpukan tiang tergelincir
5. Tiang pancang ditumpuk berlapis dalam pola seimbang/simetris pada tongkang dengan arah sejajar memanjang tongkang .
6. Tiap lapisan tiang pancang dipasang kayu ukuran 6/12 sebagai tumpuan tumpukan tiang pancang dengan jarak tumpuan maksimum 3m.
7. Bagian sisi luar tiang pancang untuk setiap lapis dipasang ganjal kayu/spi untuk mencegah tiang pancang tidak bergeser.
8. Rangkaian tiang pancang diikat/di-lasing ke tongkang dengan jarak per 3m.
9. Tiang pancang dengan diameter lebih kecil dan panjang lebih pendek diletakkan pada lapisan tumpukan bagian atas.
10. Pelat sambung dilapisi cat meni (cat dasar besi yang melindungi besi teroksidasi dengan oksigen pada udara atau air).

SIde board 0,5 0,5


Lasing & s.d. s.d.
tumpuan Lasing dan tumpuan maks. 3m
1m 1m
18

POLA TUMPUKAN TIANG PANCANG PADA TONGKANG/BARGE

Dia. Maksimum tumpukan Tinggi tumpukan


(mm) (lapis) (m)
300 7 2,52
350 6 2,46
400 6 2,76
450 6 3,57
Catatan :
500 6 3,36
- Tumpuan Kayu 6/12 max per 3m.
600 6 3,96
- Lantai deck kokoh terhadap beban tumpukan tiang
800 5 4,30
- Tinggi side board kuat menahan apabila tumpukan tiang
1000 4 4,24
tergelincir
1200 3 3,78

Kayu Lasing
ganjal/spi dia. 20mm
POLA PENUMPUKAN 1 POLA PENUMPUKAN 2
Kayu tumpuan Kayu tumpuan
Lasing Lasing
dia.20mm Side board Lasing Kayu
Side board
ganjal/spi

Kayu
tumpuan
Kayu
ganjal/spi

1 Tiang pancang ditumpuk dengan seimbang/simetris diatas tumpuan kayu. 3 Bagian tepi dipasang ganjal kayu/spi.
2 Tiang pancang di-lasing ke tongkang dengan jarak maksimum 3m. 4 Tinggi side board dapat mencegah tiang jatuh dari tongkang.
19

DILARANG!
Tiang pancang ditumpuk tanpa kayu tumpuan. Berbahaya!
Resiko tiang pancang di-reject karena retak/cacat akibat
berbenturan antar tiang.

TIANG DITUMPUK TANPA


KAYU TUMPUAN !

DILARANG!
Posisi tumpukan tiang tidak seimbang. Sangat berbahaya!
Resiko tongkang tenggelam akibat tidak stabil.

POSISI TUMPUKAN TIANG


TIDAK SEIMBANG !
20

DILARANG!
Tumpuan tiang tidak dilasing ke tongkang. Berbahaya!
Resiko tumpukan tiang pancang jatuh/runtuh saat
terjadi gelombang.

TUMPUKAN TIANG TIDAK


DIIKAT LASING !

DILARANG!
Benda/barang di letakan diatas tumpukan
tiang pancang. Berbahaya! Resiko tiang
pancang di-reject karena retak/cacat.

TIDAK DIPASANG KAYU


GANJAL/SPI !
21

Side board

Depth (D)

Breadth (B)

Lenght Over All (LoA)

DIMENSI FLAT TOP CARGO BARGE

Panjang (LoA) Breadth (B) Depth (D)


Kapasitas (ton) Tinggi
m ft m ft m ft GRT/NRT Sideboard

42,7 140 12,2 40 2,4 8 302/91 2,4m


45,7 150 15,2 50 3,0 10 531/159 2,4m
54,9 180 18,3 60 3,7 12 898/270 2,4m
61 200 18,3 60 3,7 12 1004/302 2,4m
70,1 230 19,5 64 4,3 14 1475/442 2,4m
76,2 250 24,4 80 4,9 16 2305/691 3,0m
79,2 282 27,4 90 5,5 18 3374/1021 3,0m
91,7 300 24,4 80 5,5 18 3160/995 3,6m
22

PENANGANAN TIANG PANCANG DI LAPANGAN


Persyaratan :
1. Kontur lahan stock yard relatif rata dan area cukup untuk stock tiang pancang.
2. Kondisi tanah dasar padat/tidak amblas akibat tumpukan tiang pancang.
3. Tiang pancang diletakkan diatas permukaan tanah menggunakan tumpuan kayu pada posisi marking rantai pada tiang.
4. Posisi kayu tumpuan satu garis vertikal (cosentris) antar lapis tumpukan.
5. Kedua sisi luar/tepi tiap lapisan tumpukan tiang dipasang kayu ganjal/spi.
6. Jumlah tumpukan maksimal 2 lapis untuk tiang pancang ≤ dia. 800mm, sedangkan tiang pancang > dia.800mm tidak boleh ditumpuk.
7. Jumlah tumpukan tiang dapat ditambah apabila daya dukung tanah dasar dapat menahan beban tumpuan dan tumpuan menggunakan landasan beton.

TIANG PANCANG ≤ DIAMETER 800mm 1/5 L


1/5 L 3/5
3/5LL 1/5 LL
1/5

Kayu
ganjal/spi

Kayu
tumpuan Kayu tumpuan
(6/12) Kayu tumpuan Kayu tumpuan (6/12)
(6/12) (6/12)

TIANG PANCANG > DIAMETER 800mm


1/5 L 3/5 L 1/5 L

Kayu
ganjal/spi

Kayu tumpuan (6/12)


Kayu tumpuan (6/12)
23

DILARANG!
Tiang pancang ditumpuk sembarang.
Berbahaya! Resiko tiang pancang di-reject
karena retak/cacat.

TIANG DITUMPUK SEMBARANG


TANPA KAYU TUMPUAN !

DILARANG!
Daya dukung tanah lahan stock yard rendah. Sangat
berbahaya! Resiko tiang terguling karena tidak stabil dan
tiang retak akibat tumpukkan tiang ditopang oleh badan
tiang yang bertemu permukaan tanah.

TANAH DASAR LUNAK !


24

DILARANG!
Benda/barang di letakan diatas tumpukan tiang
pancang. Berbahaya! Resiko tiang pancang di-
reject karena permukaan retak/cacat.

TIANG DIBEBANI BENDA/


BARANG BERAT !

DILARANG!
Tiang pancang lapis bawah ditumpuk oleh tiang
pancang yang lebih besar/berat. Sangat berbahaya!
Resiko tiang pancang tiang pada lapis bawah retak
akibat beban tumpukan.

TIANG YANG BESAR/BERAT


PADA LAPIS ATAS !
25

DILARANG!
Tiang pancang ditumpuk sembarang diatas tiang pancang.
Berbahaya! Resiko tiang pancang di-reject karena retak/cacat.

TIANG DITUMPUK DI ATAS TIANG


SEMBARANG !

DILARANG!
Tiang pancang tidak menumpu sempurna akibat lahan bergelombang.
Berbahaya! Resiko tiang pancang di-reject karena retak/cacat.

TANAH DASAR BERGELOMBANG !


26

DILARANG!
Tiang pancang terendam genangan air.
Berbahaya! Resiko tiang pancang di-reject
akibat pelat sambung korosi.

TIANG TERENDAM AIR !

DILARANG!
Tiang pancang ditumpuk sembarang.
Berbahaya! Resiko tiang pancang di-reject
karena retak/cacat.

TIANG DILETAKAN SEMBARANG !


27

ALAT PANCANG (PILLING RIG)

Persyaratan :
1. Alat pancang/pilling rig dan service crane memiliki Surat Ijin Alat (SIA). Leader
2. Operator alat memiliki Surat Ijin Operator (SIO) sesuai jenis kualifikasinya Sling Anvil
angkat Leader
yang masih berlaku. tiang
Striker plate
3. Pilling rig dan service crane dalam kondisi baik dan layak digunakan.
Hammer cushion
4. Sling angkat yang digunakan tidak berkarat dan tidak rantas. Nilai faktor Hammer Drive cap
keamanan sling angkat > 3 terhadap beban. adapter/helmet
5. Area sekitar yang berdampak pada manuver pengangkatan/ Drive Pile cushion
cap/
pemancangan dan beresiko tinggi saat terjadi harus steril dari orang helmet Drive cap insert
yang tidak berkepentingan terhadap operasi alat.
6. Landasan pilling rig dan crane service stabil dan kuat menopang beban Pile
alat.
7. Tipe hammer dan cushion tiang ditentukan dari hasil analisa
pemancangan (driving analysis) dengan persamaan rambat gelombang
(wave analysis) sesuai data lapisan tanah lokasi pemancangan. Tiang
8. Berat hammer minimal 1%-2% dari daya dukung ultimit pondasi rencana pancang
(Ru)
9. Pemancangan menggunakan hammer yang disetujui pengawas dan
mampu menghasilkan energi yang cukup untuk memancang tiang
sampai dengan rata-rata penetrasi min. 2mm per pukulan (1/8” per-blow).
10. Untuk mereduksi tegangan yang terjadi pada tiang, gunakan hammer
berat dengan tinggi jatuh yang rendah (shorth stroke) daripada
menggunakan hammer yang ringan dengan kecepatan jatuh hammer
yang tinggi (long stroke).
11. Drive cap berbentuk bulat dipasang sesuai ukuran kepala tiang dengan Tipikal konfigurasi alat pancang (pile rig)
kondisi tidak terlalu longgar untuk memastikan kelurusan sumbu
hammer terhadap sumbu tiang.
12. Drive cap juga tidak boleh sempit agar memungkinkan tiang dapat
Penentuan tipe hammer dan cushion ditentukan dari hasil
berotasi bebas saat merespon terhadap penetrasi tiang ke lapisan tanah
analisa pemancangan (driving analysis) dengan persamaan
dan pergerakan leader alat pancang.
rambat gelombang (wave analysis) sesuai data lapisan tanah
di lokasi pemancangan.
28

INSTALASI TIANG PANCANG (IMPACT HAMMER)

Persyaratan :
1. Umur beton tiang minimal sudah berusia 14 hari dan kuat tekan beton mencapai 80% dari kuat tekan rencana.
2. Gunakan pile cushion dari plywood/multiplex kering pada kepala tiang untuk mencegah kerusakan pada kepala tiang.
3. Ganti pile cushion apabila sudah tidak elastis (highly compression), sudah hangus atau terbakar saat pemancangan tiang.
4. Penegakan tiang pancang dengan mengikat sling angkat pada posisi marking untuk penegakan pada tiang pancang.
5. Titik pemancang sesuai layout titik pondasi dan panjang segmen tiang cukup untuk mencapai kedalaman rencana.
6. Posisi tiang pancang dan leader pancang sejajar pada posisi tegak lurus atau sesuai sudut rencana kemiringan tiang (batter pile)
7. Sumbu tiang pancang cosentris (satu garis) terhadap sumbu impact hammer.
8. Tiang disambung dengan pengelasan penuh pada grooving/celah pelat sambung.
9. Pemancangan tiang sambungan dilanjut setelah suhu las sambungan sudah rendah.
10. Kondisi tiang sambungan cosentris terhadap tiang yang akan disambung.
11. Setelah penyambungan, untuk lokasi non-korosif pelat sambung di-coating cat zinc chromate, sedangankan untuk lokasi korosif di-coating cat epoxy.
12. Sambungan tiang pada daerah pasang surut (Splash Zone) dipasang pile tape.
13. Nilai pile set minimal 25mm/10 pukulan untuk menghindari kerusakan tiang pada bagian kepala/bawah tiang.

MULAI
29

SURVEY :
1. Survey & stake out titik pancang

PERSIAPAN :
Persiapan 1. Mobilisasi tiang pancang
pengangkatan tiang 2. Mobilisasi alat pilling rig dan service crane ke lokasi
pancang 3. Pengaturan poisisi pilling rig dan service crane terhadap Las pada pelat
jangkauan radius lifting boom sambung terisi TIDAK
4. Persiapan peralatan las untuk penyambungan tiang penuh

TIDAK
TIDAK YA
Penyambungan
tiang
1. Titik pancang sesuai
2. Sling diikat pada marking penegakan
tiang Instalasi tiang Ketegakan/sudut
3. Pile cushion terpasang di kepala tiang pancang ke alat tiang sesuai
4. Marking kedalaman tiang pancang/pilling rig rencana pondasi
TIDAK

PEMANCANGAN TIANG : Kedalaman


sesuai atau
1. Monitoring tinggi jatuh hammer
indikasi
2. Pencatatan jumlah pukulan & penetrasi tiang
pile set

TIDAK
YA

Pembuatan YA
Pile set Kalendering
driving record tercapai pemancangan

SELESAI
30

PEMILIHAN TIPE HAMMER PEMILIHAN TIPE HAMMER

Penentuan tipe hammer dan cushion ditentukan dari hasil Untuk mereduksi tegangan pada tiang, gunakan hammer
analisa pemancangan (driving analysis) dengan persamaan berat dengan tinggi jatuh yang rendah (short stroke) daripada
rambat gelombang (wave analysis) sesuai data lapisan tanah menggunakan hammer yang ringan dengan kecepatan jatuh
lokasi pemancangan. hammer yang tinggi (long stroke).

IMPACT
HAMMER

IMPACT
HAMMER

LONG SHORT
STROKE STROKE
31

CUSHION TIANG PANCANG CUSHION TIANG PANCANG

Gunakan pile cushion dari plywood/multiplex dalam kondisi Cek berkala kondisi pile cushion, segera ganti pile cushion
kering pada kepala tiang untuk mencegah kerusakan pada apabila sudah tidak elastis (highly compression), hangus/
kepala tiang saat pemancangan. terbakar saat pemancangan tiang atau jumlah pukulan sudah
mencapai 1000 -1500 pukulan. Untuk pengambilan kalendering
Ukuran diameter cushion harus sama dengan ukuran diameter pile cushion sudah menerima minimal 100 pukulan.
tiang.

Diameter cushion

Tebal Pile cushion


cushion

Kepala tiang IMPACT IMPACT


pancang CUSHION
MAMPAT HAMMER HAMMER
ATAU
TERBAKAR

Kedalaman Tebal cushion Material


≤15m Min. 100mm Plywood/
≥15m 150mm - 200mm multiplek
32

DRIVE CAP TIANG PANCANG MARKING KEDALAMAN PEMANCANGAN

Drive cap tidak terlalu longgar untuk memastikan kelurusan Marking posisi kedalam tiang yang terpancang pada badan
sumbu hammer terhadap sumbu tiang. tiang sesuai urutan pemancangan untuk tiap titik pancang

Drive cap juga tidak boleh sempit agar memungkinkan tiang


dapat berotasi bebas saat merespon terhadap penetrasi tiang
ke lapisan tanah dan pergerakan leader alat pancang.

Drive cap insert

Pile cushion

Marking
kedalaman
pemancangan

Marking
penegakan
tiang
33

PERSIAPAN TIANG PANCANG PENEGAKAN TIANG PANCANG

Sling angkat diikat pada posisi marking penegakan tiang. Pasang Tiang ditegakkan dan di-set pada hammer dengan menggunakan
drive cap insert dan pile cushion pada kepala tiang. Sling angkat sling angkat pilling rig. Area sekitar yang berdampak pada
layak pakai, tidak berkarat dan memiliki faktor keamanan SF > 3 manuver pengangkatan dan beresiko tinggi saat kegagalan
pengangkatan tiang harus steril.
Posisi pilling rig dapat menjangkau stok tiang dan titik peman-
cangan tanpa berjalan.

JARAK ANTARA AS
KE AS TIANG TIDAK
BOLEH KURANG DARI
UMUR BETON TIANG YANG 2,5 DIAMETER TIANG
DIPANCANG MINIMAL PANCANG
SUDAH BERUSIA 14 HARI
DAN KUAT TEKAN BETON
MENCAPAI 80% DARI KUAT
TEKAN RENCANA.

Min. 1m
Sling angkat

Drive cap insert


& Plywood
cushion
34

SETTING KELURUSAN TIANG PANCANG SETTING KELURUSAN TIANG PANCANG

Tiang pancang dan leader dalam posisi sejajar. Setting Sumbu tiang pancang dan sumbu alat impact hammer harus
ketegakan atau sudut tiang (batter pile) dilakukan dengan cosentris (berada pada garis sumbu yang sama). Apabila
mengatur posisi “backstay” dan pengecekan ketegakan terdapat eksentrisitas tiang terhadap impact hammer, bagian
dengan waterpass. kepala tiang beresiko pecah!

Leader alat
pancang

Kontrol ketegakan
tiang dan leader
dengan alat waterpass
Impact
hammer

Tiang
pancang
Kontrol ketegakan tiang
dengan Theodolite dan
unting-unting
Garis sumbu
35

PEMANCANGAN TIANG PANCANG PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG

Impact hammer yang digunakan mampu menghasilkan Penyambungan tiang pancang dengan cara pengelasan penuh
energi yang cukup untuk memancang tiang dengan rata-rata alur/groove pelat sambung antar tiang pancang. Untuk
penetrasi min. 2mm per pukulan (1/8” per blow) pada saat menjamin hasil sambungan, pengelasan dilakukan oleh tenaga
penentuan final set. welder yang bersertifikat.

Monitoring tinggi jatuh hammer dan catat jumlah pukulan


untuk setiap 50cm penetrasi tiang.

Untuk tiang segmen Sambungan


las
pertama, bagian bawah
tiang diklem terhadap
leader dengan pile
gate agar tiang
tidak bergeser saat
pemancangan.

APABILA DITEMUKAN CACAT PADA LAS, PERBAIKI


DENGAN CARA MENGUPAS/GRINDING BAGIAN
YANG CACAT DAN DIISI KEMBALI DENGAN LAS

Alur/groove 7mm-12mm Alur/groove > 12mm

Pile gate

2 lapis pengelasan 3 lapis pengelasan


36

PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG COATING SAMBUNG TIANG PANCANG

Untuk mencegah luka bakar dari percikan api listrik gunakan Pada pengelasan berlapis, setiap selesai mengelas lapisan
sepatu, pakaian pelindung, sarung tangan kulit yang memiliki segera bersihkan terak/slag dengan palu sebelum pengelasan
insulasi dan juga sarung tangan katun untuk menyerap lapis berikutnya (gunakan kacamata terng saat pembersihan
keringat pada tangan. terak).

Pembersihan Coating cat


terak las pelat sambung

Bersihkan terak hasil pengelasan dengan palu las dan kawat


las kemudian sambungan las dibiarkan dingin alami sampai
dengan suhu 200-250�C sebelum pemancangan dimulai
kembali.

Lapisi pelat sambung dengan cat besi atau coating yang


disyaratkan oleh proyek.
37

KALENDERING TIANG (PILE SET) PEMOTONGAN TIANG PANCANG

Saat penetrasi tiang sudah rendah, segera ambil data Pasang dan kencangkan sling ikat pada bagian atas tiang
kalendering (pile set) pemancangan. Pemancangan dihentikan kemudian potong tiang pancang pada level cut-off yang sudah
saat nilai kalendering (pile set) rencana tercapai atau kedalaman ditentukan dengan alat potong tiang (electric pile cutter).
tiang sesuai rencana.
Sling crane

Electric Pile Cutter

PEMANCANGAN DENGAN NILAI PILE SET LEBIH KECIL


DARI 25MM/10PUKULAN BERESIKO MENYEBABKAN
KERUSAKAN TIANG PADA BAGIAN BAWAH.

SLING IKAT UNTUK MENGANGKAT SEGMEN YANG SUDAH


DIPOTONG DAN MENGHINDARI SEGMEN JATUH MENIMPAH
PEKERJA SAAT PROSES PEMOTONGAN TIANG
38

PENGANGKATAN POTONGAN TIANG PEMBOBOKAN KEPALA TIANG

Angkat dan pindahkan bagian atas tiang pancang yang Potong melingkar beton bagian luar tulangan tiang pancang
dipotong dengan crane angkat. Sling angkat yang digunakan dengan pile cutter atau alat grinding.
dalam kondisi baik, tidak berkarat dan memiliki faktor
keamanan SF > 3

Rencana
Panjang
PC bar

Bobok tiang bagian atas dengan palu (5kg) sampai semua


beton diatas bersih. Pembobokan jangan merusak badan tiang
rencana
39

DILARANG! DILARANG!
Sling angkat berkarat dan tidak layak pakai. Sangat Sling angkat tiang pancang di luar marking penegakan tiang.
berbahaya! Resiko tiang pancang jatuh saat penegakan berbahaya! Resiko tiang pancang retak akibat terbentur
tiang pancang dan korban jiwa akibat tertimpah tiang. leader saat proses penegakan tiang pancang.

SLING POSISI
ANGKAT IKAT SLING
PILLING RIG ANGKAT
TIDAK LAYAK TERLALU
PAKAI ! KETENGAH !

TIANG
TERBENTUR!
40

DILARANG! DILARANG!
Terjadi eksentrisitas antar sumbu impact hammer dengan Nilai kalendering pemancangan (pile set) di bawah 25mm/10
tiang pancang. Sangat berbahaya! Resiko bagian kepala tiang pukulan. Berbahaya! Resiko tiang pancang pecah/retak pada
pancang pecah akibat distribusi tegangan tidak merata pada bagian kepala atau ujung bawah tiang pancang.
kepala tiang.

SUMBU NILAI PILE


HAMMER SET DIBAWAH
DENGAN 25mm/10
TIANG TIDAK PUKULAN !
SEGARIS
(COSENTRIS)

KEPALA TIANG
PECAH!
41

DILARANG! DILARANG!
Pemancangan tidak menggunakan pile cushion atau kondisi Posisi tiang pancang yang disambung tidak pada satu sumbu
cushion plywood sudah fatik / terbakar. Sangat berbahaya! yang sama (terdapat eksentrisitas). Sangat berbahaya!
Resiko kepala tiang pancang pecah akibat tumbukan Resiko tiang pancang pecah di sambungan atau sambungan
hammer saat pemancangan. tidak sekuat spesifikasi sambungan.

PEMANCANGAN TIDAK PLYWOOD CUSHION POSISI SUMBU BIDANG PELAT


MENGGUNAKAN PILE TIPIS, MAMPAT ATAU TIANG TIDAK SAMBUNG TIDAK
CUSHION ! TERBAKAR ! SEGARIS ! BERTEMU !
42

DILARANG! DILARANG!
Pekerja pengelasan sambungan tiang tidak menggunakan Cacat pada pengelasan sambungan. Sangat berbahaya!
APD pengelasan. Sangat berbahaya! Resiko korban cedera/ Resiko degradasi kekuatan pondasi akibat kekuatan
meninggal tersengat listrik, terkena percikan api las & cahaya sambungan tiang tidak sekuat spesifikasi kekuatan badan
ultraviolet pengelasan. tiang pancang.

CACAT PADA PENGELASAN !


PEKERJA TIDAK
MENGGUNAKAN APD
KHUSUS PENGELASAN !

FATALITY!

RETAK PENETRASI TIDAK BELITAN


CUKUP TERAK

PIT OVERLAP UNDER CUT BLOW HOLE


43

DILARANG!
Tiang pancang tidak diikat sling saat proses pemotongan
tiang. Sangat berbahaya! Resiko pekerja cedera/meninggal
akibat tertimpah bagian atas tiang yang dipotong.

SEGMEN ATAS TIANG


TIDAK DIIKAT SLING
ANGKAT !

FATALITY!
44

PERMASALAHAN PADA PEMANCANGAN

TIANG PANCANG RETAK LONGITUDINAL/MEMANJANG TIANG

PENYEBAB

DILARANG!
Tekanan besar pada sekeliling dinding tiang dari
bagian dalam rongga (internal radial pressure) yang
dapat ditimbulkan akibat :
1. Pemancangan tiang menggunakan tipe ujung
bawah terbuka (open ended) pada lokasi
tanah sangat lunak/rawa dan muka air tahan
tinggi/pemancangan di air. Akibat efek hidrolik
pukulan hammer saat proses pemancangan, air
atau lumpur akan terpompa naik pada rongga
dalam tiang.
2. Lumpur/tanah masuk kedalam rongga dan naik
keatas mengisi rongga tiang akibat kerusakan
pada sepatu tiang pancang. TANAH SANGAT LUNAK/ TEKANAN DARI DALAM
RAWA DAN MUKA RONGGA TIANG
AIR TAHAN TINGGI/ BERKURANG
PEMANCANGAN DI AIR
PENCEGAHAN
1. Menyiapkan lubang ventilasi pada bagian Lubang
atas kepala tiang pancang untuk mengurangi ventiliasi
tekanan dari dalam rongga tiang pancang saat pada kepala
tiang
proses pemancangan.
2. Penggunaan sepatu masif pada tiang pancang Retak
bagian bawah untuk mencegah tanah/lumpur longitudinal
masuk kedalam rongga.
Air/lumpur
45

TIANG PANCANG PATAH DI DALAM TANAH


DILARANG!
PENYEBAB
Tiang pancang menggunakan tipe sepatu pensil pada kondisi lapisan
tanah yang memiliki lensa/lapisan tanah keras miring. Akibat lensa/
lapisan miring dan sudut sepatu pensil, tiang bagian bawah terdorong
menyesuaikan kemiringan lensa/ lapisan keras yang mengakibatkan patah.

PENCEGAHAN
1. Profil tanah rencana titik pancang sudah diidentifikasi dari hasil uji
geoteknik untuk mendeteksi kemungkinan ada kontur lensa/lapisan
tanah keras yang, menentukan metode pemancangan, kedalaman
dan spesifikasi tiang pancang.
2. Gunakan sepatu tiang pancang khusus seperti tipe flat mamira/
cross fin /point shoe agar tiang pancang bertumpu pada lensa/
lapisan tanah keras yang miring.

TIANG PATAH!
Sepatu tipe flat
mamira/cross fin/
point shoe

LENSA/LAPISAN
TANAH KERAS Lensa/lapisan
MIRING tanah keras
miring
46

PEMANCANGAN DI TANAH BERBATU/BERANGKAL

PENYEBAB
Tiang pancang dipancang pada lokasi titik pemancangan terdapat lapisan
berangkal atau timbunan batu. DILARANG!
Lokasi pada titik pemancangan
PENCEGAHAN terdapat berangkal/timbunan batu.

1. Profil tanah rencana titik pancang sudah diidentifikasi dari hasil uji Tiang pancang beresiko pecah akibat
geoteknik untuk mendeteksi kemungkinan ada kontur lensa/lapisan dipaksa masuk menembus berangkal
tanah keras yang, menentukan metode pemancangan, kedalaman batu.
dan spesifikasi tiang pancang.
2. Metode pemancangan dengan membuat lubang dengan preboring
sampai menembus lapisan berangkal/batu
47

Buat lubang dengan preboring sampai menembus lapisan Pancang tiang hingga nilai kalendering/pile set tercapai,
berangkal/batu dengan diameter lubang lebih besar 2inch setelah itu isi celah antar rongga preboring dan tiang pancang
(50mm) dari diameter tiang pancang dengan material pasir.
48

INSTALASI TIANG PANCANG DI AIR (DENGAN PONTOON)

Persyaratan :
1. Profil tanah titik pancang sudah di-identifikasi dari uji geoteknik untuk menentukan metode pemancangan dan
kedalaman tiang pancang.
2. Pontoon platform alat pancang stabil dan dijangkar kencang menyilang.
3. Pemancangan dilakukan saat kondisi cuaca baik, hentikan pemancangan saat arus air kuat, gelombang tinggi dan angin
kencang/badai.
4. Panjang segmen tiang pancang pertama disesuaikan dengan posisi tanah dasar agar penyambungan dapat dilakukan di
atas permukaan air.
5. Apabila dilakukan penyambungan tiang pancang di darat, pastikan rangkaian tiangpancang aman diangkat terhadap
berat sendiri saat proses pengangkatan/penegakan tiang pancang.
6. Persyaratan pemancangan mengacu pada persyaratan pemancangan dengan alat impact hammer (halaman 28-29).

Hammer Tongkang tiang


Stok material pancang
tiang pancang
Pile frame

Pontoon alat
Pile pemancang
Mooring Pontoon alat
winch pemancang

Crossed mooring rope


Crossed mooring rope
49

INSTALASI TIANG PANCANG METODE JACKING


(HIDRAULIC STATIC PILE DRIVER-HSPD)
Persyaratan :
1. Alat HSPD dan service crane memiliki Dokumen Surat Ijin
Alat (SIA)
2. Operator memiliki Surat Ijin Operator (SIO) sesuai jenis
kualifikasinya dan masih berlaku
3. Alat HSPD, service crane dalam kondisi baik dan layak
1
digunakan.
4. Sling angkat yang digunakan tidak berkarat dan tidak rantas.
Nilai faktor keamanan sling angkat > 3 terhadap beban.
5. Area sekitar yang berdampak pada manuver pengangkatan/
2
pemancangan dan beresiko tinggi saat terjadi harus steril
dari orang yang tidak berkepentingan terhadap operasi alat. 3
6. Landasan alat HSPD dan crane service stabil dan kuat 4
menopang beban crane saat proses pengangkatan dan 5
penekanan tiang pancang.
7. Peralatan HSPD seperti clamping box, clamping hydraulic 6
cylinder, pressing hydraulic cylinder, dial gauge, alat nivo 7
sudah dikalibrasi dan dapat berfungsi baik.
8. Sistem hidrolik untuk mekanisme pergerakan alat HSPD
dapat berfungsi dengan baik.
9. Pile clamping memiliki min. 8 (delapan) penjepit wedge
untuk memegang tiang bulat, posisi wedge cosentris http://www.sym.co.id
8
dengan sumbu tiang dan kondisi grip pada clamping tidak
haus. KETERANGAN : 9
10. Besar tekanan clamping harus menghasilkan tegangan
1 Crane
melingkar yang seragam agar tidak mengakibatkan
kerusakan pada tiang. 2 Vertical motion mechanism 6 Side piling installation set
3 Piling platform 7 Assistant cantilever
4 Pile clamping box 8 Cross motion & rotary mechanism / Short base
5 Main cabin 9 Longitudinal motion mechanism / Long base
50

INSTALASI TIANG PANCANG (JACKING PILE)

1. Lahan pemancangan memiliki permukaan padat, rata, bersih dari sisa pondasi lama dan memiliki daya dukung mencukupi terhadap beban operasi alat
HSPD.
2. Umur beton tiang yang dipancang minimal sudah berusia 14 hari dan kuat tekan beton mencapai 80% dari kuat tekan rencana.
3. Berat total alat HSPD ditambah beban counter saat pemancangan minimal memiliki bobot 2,5 kali dari beban penekanan tiang rencana.
4. Alat HSPD pada posisi rata horisontal. Pengaturan level sesuai dengan “alat nivo (level indicator)” pada ruang operator dan pemeriksaan menggunakan
waterpass yang diletakan pada posisi chasis panjang (long-boat) alat HSPD.
5. Tiang pancang diangkat dan di-setting pada alat HSPD dengan cara mengikat sling angkat pada posisi marking untuk penegakan pada tiang pancang.
6. Untuk memastikan ketegakan tiang, lakukan pengechekan vertikalitas per-50cm penekanan tiang dengan waterpass sampai ke kedalaman 2m.
7. Tiang pancang ditekan pada titik rencana pondasi secara kontinyu sampai kriteria penekanan tiang terpenuhi.
8. Tiang disambung dengan pengelasan penuh pada grooving/celah antar pelat sambung.
9. Kondisi tiang sambungan cosentris terhadap tiang yang akan disambung.
10. Penekanan dihentikan saat nilai pile set (penurunan tiang) akibat penekanan tiang sebesar 200% dari beban rencana selama 30-60 detik sebanyak 2(dua)
kali penekanan harus ≤ 20mm, atau mengacu pada persyaratan yang telah ditetapkan.
11. Untuk tiang pancang yang didesain sebagai pondasi tiang friksi, maka pemancangan harus mencapai kedalaman rencana.
12. Pemotongan kelebihan tiang yang tidak tertanam harus rata dengan permukaan tanah agar alat tidak membentur kepala tiang saat proses perpindahan
alat HSPD.
51

SURVEY :
1. Survey & stake out titik pancang
MULAI
PERSIAPAN :
1. Mobilisasi tiang pancang
2. Mobilisasi alat HSPD ke lokasi
3. Rencana pelaksanaan penekanan tiang dan gambar posisi Las pada pelat
Persiapan dan manuver urutan penekanan tiang pancang sambung terisi TIDAK
pengangkatan tiang 4. Persiapan peralatan las untuk penyambungan tiang penuh
pancang

YA
TIDAK Penyambungan
tiang

1. Titik pancang sesuai Instalasi tiang Alat HSPD posisi rata


TIDAK 2. Sling diikat pada marking YA pancang ke alat horisontal & tiang
penegakan tiang hspd pada posisi vertikal
3. Marking kedalaman tiang
TIDAK
YA

PEMANCANGAN TIANG : Kedalaman


sesuai atau
1. Monitoring tekanan silinder untuk penekanan tiang
indikasi
2. Catat gaya tekanan terhadap kedalaman tiang pile set

YA
TIDAK

Potong kelebihan YA Pile set


tiang pancang tercapai

SELESAI
52

CLAMPING PILE / PENJEPIT TIANG PENAMPANG TIANG

Dimensi tiang pancang bulat/tidak lonjong sehingga tekanan


Gunakan penjepit (wedge) penjepit dapat merata pada permukaan tiang.
tiang minimal 8 pcs dan
kondisi grip penjepit tidak
haus agar tekanan jepitan
lebih merata dan tidak slip
saat proses penekanan.

Clamping wedge Tiang bulat

DILARANG! DILARANG!
Jumlah penjepit wedge Penampang tiang tidak bulat/
hanya 4 keping. Berbahaya! lonjong. Berbahaya! Resiko
Resiko tiang retak melingkar tiang retak melingkar akibat
akibat konsentrasi tekanan tekanan penjepitan tidak
penjepitan tidak merata merata (terjadi konsetrasi
(terjadi konsetrasi tekanan). tekanan).

PENAMPANG TIANG LONJONG !


53

BERAT ALAT HSPD

Berat alat HSPD dan beban counter saat penekanan minimal


2,5 kali dari beban rencana penekanan DILARANG!
Berat total HSPD dan beban counter terangkat saat
pemancangan. Berbahaya! Resiko tiang pancang retak
karena terpuntir saat alat HSPD terangkat.

HSPD TERANGKAT !
54

TIANG PANCANG RETAK MELINGKAR DAN REMUK PADA BADAN

PENYEBAB
1. Tekanan jepit (clamping) tiang terlalu besar
sehingga dinding tiang hancur. DILARANG!
2. Jumlah wedge penjepit < 8pcs,sehingga
terjadi konsentrasi jepit yangbesar Tiang pancang
3. Penampang tiang tidak bulat /agak lonjong

Pressng
cylinder

Clamping
PENCEGAHAN box
1. Tiang pancang yang akan ditekan berbentuk
bulat/tidak lonjong
2. Pastikan tekanan pada wedge penjepit
bekerja merata saat penjepitan
RETAK SERPIHAN
3. Gunakan spesifikasi wedge penjepit minimal LONGITUDINAL BETON
8 pcs yang alur grip tidak haus
4. Gunakan alat HSPD dengan min 8 grip agar
tekan jepit tiang lebih merata.

RETAK MELINGKAR PADA TIANG TIANG REMUK SAAT PROSES TEKAN


AKIBAT PROSES PENJEPITAN WEDGE AKIBAT PENAMPANG TIANG SUDAH
CLAMPING BOX RETAK
55

TIANG PANCANG RETAK PADA BADAN TIANG

PENYEBAB
1. Alat HSPD terangkat saat penekatan tiang
mengakibatkan badan tiang mengalami DILARANG!
gaya lentur dari rotasi pada alat HSPD yang
terangkat.
2. Tiang pancang mengalami lentur akibat
terdorong pada arah lateral saat pergerakan
alat

PENCEGAHAN
BEBAN COUNTER
1. Berat alat HSPD dan beban counter harus TIDAK CUKUP
lebih besar dari rencana gaya penekanan
tiang pancang.
2. Kelebihan tiang yang sudah ditekan harus
dipotong rata permukaan tanah.

RETAK PADA
ALAT HSPD TERANGKAT SAAT PERMUKAAN/BAGIAN
PROSES PENEKANAN TIANG TIANG YANG TERTANAM
PANCANG
56

INSTALASI TIANG PANCANG METODE INNER BORE


Metode installasi tiang pancang bulat berongga dengan cara melakukan pengeboran tanah menggunakan auger/bor yang dimasukan ke lubang bagian dalam
tiang pancang berongga dan secara bersamaan tiang masuk kedalam tanah yang di bor akibat berat sendiri dan dorongan hopper bucket penampung tanah
hasil pengeboran.

Persyaratan alat:
1. Alat tripod crane dan service crane memiliki Dokumen Surat Ijin Alat (SIA).
2. Operator alat memiliki Surat Ijin Operator (SIO) sesuai jenis kualifikasinya yang masih
berlaku.
3. Alat tripod crane, service crane dalam kondisi baik dan layak digunakan.
4. Sling angkat yang digunakan tidak berkarat dan tidak rantas. Nilai faktor keamanan
sling angkat > 3 terhadap beban.
5. Area sekitar yang berdampak pada manuver pengangkatan/pemancangan dan
beresiko tinggi saat terjadi harus steril dari orang yang tidak berkepentingan terhadap
operasi alat.
6. Landasan alat tripod crane dan crane service stabil dan kuat menopang beban crane
saat proses pengangkatan dan penekanan tiang pancang.
7. Kapasitas genset yang digunakan sesuai dengan arus fasa spesifikasi motor auger.
8. Motor auger dan pompa grouting berfungsi dengan baik.
9. Alat Auger, Screw, Socket Screw harus lurus dan jumlah cukup mencapai kedalaman
rencana penetrasi tiang.
10. Kondisi socket tidak aus, terkoneksi dengan baik dan seal socket tidak bocor.
11. Dril bit (mata bor) terpasang dengan benar, serta kondisi fisik drill bit tidak bengkok,
patah dan tidak aus.
12. Bagian expansion wing berfungsi baik (membuka/menutup sempurna) dan tidak ada
kebocoran oli hidrolik pengerak.
13. Lubang penyemprot grouting pada bagian bawah drill bit tidak mampat/tersumbat
dan one way valve (katup satu arah) berfungsi.
14. Aksesoris Hose Grouting tidak bocor/getas dan memiliki panjang minimal 100 meter
dengan ukuruan diameter 2 inch.
57

Persyaratan pelaksanaan:
1. Aspek Geoteknik, profil tanah rencana titik pancang sudah diidentifikasi dari hasil uji geoteknik untuk menentukan kedalaman tiang pancang.
2. Aspek Material Tiang Pancang :
1. Tiang pancang sesuai dimensi, panjang, speksifikasi tiang.
2. Toleransi tebal badan tiang maksimal +20 mm.
3. Umur beton tiang pancang sudah mencapai minimal 14 hari.
4. Aksesoris friction cutter terpasang dengan tebal standar 12mm untuk mengatasi kondisi tanah N-SPT >30.
3. Pastikan tiang pancang dalam posisi tegak lurus (vertikal) setelah auger dan screw dimasukkan kedalam badan tiang pancang
4. Saat pengeboran lakukan monitoring dan pencatatan nilai ampere meter motor auger sebagai indikator tahanan tanah. Data ini sebagai acuan yang harus
dikorelasi dengan data N-SPT tanah terdekat.
5. Bersihkan lumpur yang menempel pada screw dengan cara
disemprot air yang bertekanan.
6. Tiang disambung dengan pengelasan penuh pada grooving/celah
antar pelat sambung.
7. Kondisi tiang sambungan cosentris terhadap tiang yang akan
disambung.
8. Pekerjaan pengeboran dihentikan setelah proses grouting cement
milk pada bagian ujung bawah tiang sempurna di kedalaman
elevasi yang direncanakan.
9. Persyaratan grouting cement milk memiliki kekuatan minimal 15
MPa dengan rasio air terhadap semen W/C=0,6.
10. Aksesoris Auger dilepas setelah Tiang Pancang ditahan dengan
klem penggantung.
11. Klem penggantung dilepas setelah umur grouting mencapai
minimal 2 jam (set-up).
58

PENCEGAHAN KARAT PADA PELAT SAMBUNG

Di lingkungan yang berhubungan dengan udara terbuka aksesories plat sambung rentan terjadi karat akibat proses reaksi kimia antar material besi pada baja
plat sambung dengan oksigen yang terdapat pada udara atau air pada permukaan pelat sambung. Proses karat ini akan berlangsung lebih cepat di lingkungan
yang asam (pH lebih rendah dari 7)
 
Akibat adanya karat pada plat sambung, dapat menyebabkan masalah degradasi kekuatan bahkan kegagalan struktur yang fatal. Hal ini diakibatkan saat proses
oksidasi/karat ketebalan permukaan baja berkurang seiring bertambahnya waktu.
 
Untuk mencegah terjadinya karat pada sambung tiang pancang maka plat sambung harus segera dilapisi dengan lapisan pelindung karat setelah proses produksi,
begitu juga setelah proses pengelasan penyambungan tiang pancang, lapisan pelindung/coating kembali diaplikasikan untuk memperbaiki lapisan pelindung
yang rusak akibat proses pengelasan sehingga plat sambung memiliki perlindungan korosi untuk jangka panjang.

Contoh lingkungan yang berpotensi memiliki


KONDISI LINGKUNGAN kondisi yang korosif :
DESKRIPSI 1. Di daerah pantai (offshore dan onshore).
NON KOROSIF (NC) KOROSIF (CR) 2. Di daerah yang terkontaminasi limbah.
3. Di daerah sungai, danau, atau yang memiliki
kelembaban tinggi.
Kondisi udara Kering (KR) Basah/lembab (BS) 4. Di daerah sumber belerang (kawah gunung).
Pasang surut (splash zone)

Derajat keasaman pH ≥ 7 (Basa) pH < 7 (Asam)

Kontak langsung (KE)


Kontak terhadap Tidak kontak (TE) (Asam sulfat, Natrium
larutan elektrolit Klorida, Kalium Hidroksida,
Asam Asetat, Asam Klorida)
59

KONDISI PENCEGAHAN FOTO


LINGKUNGAN

Penumpukan di stock yard 1. Penumpukan produk tiang pancang di daerah yang


pabrik dan proses distribusi kering. Untuk lokasi stock yard yang tergenang air,
hindari sentuhan langsung antara plat sambung
dengan air.

2. Plat sambung dilapisi oli, dilakukan sekali saat


penumpukan. Apabila lapisan olie mengering dan
terlihat karat pada plat sambung, maka plat sambung
dilapisi ulang dengan oli.

3. Untuk distribusi produk melalui laut digunakan cat


meni (cat dasar besi yang melindungi besi teroksidasi
dengan oksigen pada udara atau air).

Penumpukan di lokasi :

a. Pada lingkungan 1. Penumpukan produk tiang pancang di daerah yang


non korosif kering. Untuk lokasi stock yard yang tergenang air,
hindari sentuhan langsung antara plat sambung
dengan air.

2. Untuk penumpukan dengan jangka waktu lama (> 1


bln), lapisi plat sambung dengan cat dasar besi (cat
meni).

b. Pada lingkungan Pelapisan plat sambung dengan coating zinc chromate.


korosif
60

KONDISI PENCEGAHAN FOTO


LINGKUNGAN

Kondisi service :

a. Tertanam dalam tanah Pelapisan kembali pelat sambung setelah proses


lingkungan non korosif penyambungan tiang dengan coating zinc chromate

b. Tertanam dalam tanah Pelapisan kembali pelat sambung setelah proses


lingkungan korosif penyambungan tiang dengan coating epoxy (polyamide
curing coal tar epoxy)

c. Daerah pasang surut/ Pemasangan piling tape untuk proteksi sambung tiang
terendam air pada daerah pasang surut (splash zone)

1. Menggunakan sacrificial anode / active corrosion


(Isozin Laminated Zinc Tape dari BAC Corrosion Control
LTD atau yang setara )

2. Menggunakan jacket bolted system. (Denso sea shield


series Dari Denso atau yang setara)
61

PENYAMBUNGAN TIANG DENGAN ARCH WELDING (LAS BUSUR NYALA)


Persyaratan :
1. Mesin las berfungsi baik untuk mensuplai arus listrik yang stabil ke batang las.
2. Kabel Cap tyre menggunakan insulasi dan mempunyai luas penampang yang mencukupi agar tidak panas.
3. Batang las dalam kondisi kering untuk menghindari cacat pada pengelasan.
4. Batang las yang lembab harus dikeringkan oleh alat pengering batang las.
5. Bersihkan karat dibagian alur, embun/kondensasi, lumpur, minyak, cat atau pasta semen agar hasil pengelasan tidak cacat.
6. Pasang pelat pengarah untk mengatur posisi antar tiang bagian atas dan tiang bawah pada sumbu yang sama (cosentris).
7. Pengelasan sambungan dilakukan saat tidak hujan, agar saat penyambungan kondisi pelat sambung kering.
8. Gunakan pemegang kawat las (holder electrode) dari bahan embonit yang memiliki insulasi dan penahan panas yang baik.
9. Untuk mencegah luka bakar dari percikan api listrik gunakan sepatu, pakaian pelindung, sarung tangan kulit/silikon dan sarung tangan katun untuk
menyerap keringat tangan.
10. Gunakan helm/topeng las untuk melindung muka,mata dan kulit dari percikan api las.

Kawat las
Helm/ Tiang bawah disisakan
topeng las ketinggian 1m s/d 1,5m
dari tanah agar pekerjaan CARA MENGETAHUI BATANG LAS LEMBAB ATAU TIDAK :
pengelasan mudah
1. Chek bunyi, jika lembab maka bunyi lemah
2. Flux terkelupas jika batang las lembab dibengkokan
3. Setelah mengeluarkan busur listrik taruh diatas pelat besi,
pelat besi akan menyisakan air bila batang las lembab.
4. Terjadi percikan besar dan banyak saat pengelasan

Mesin las Kabel las


62

MULAI SELESAI
PERSIAPAN :
Persiapan 1. Pemilihan mesin las
pengelasan 2. Pemilihan batang las
3. Penyimpanan batang las
4. Pengechekan teknisi
Pemancangan
tiang
PERIKSA :
PERSIAPAN : 1. Arus listrik pengelasan
Persiapan 1. Pembersihan pelat 2. Tegangan busur listrik
sambungan tiang sambung tiang yang 3. Kecepatan pengelasan
di-las 4. Pergerakan elektroda
Coating
TIDAK
pelat
sambung
Pelat yang akan
disambung bersih dan Las titik di Mengelas
tidak basah Beberapa lokasi sambungan
YA

TIDAK
YA
YA
Suhu
Sambungan las
1. Alur/groove Mak. 200◦C
Setting tiang Ketegakan/sudut
segmen atas penuh terisi las
tiang sesuai 2. Las tidak cacat TIDAK

TIDAK Pemeriksaan suhu


YA dan hasil las
63

PENYAMBUNGAN TIANG DENGAN las

Persyaratan :
1. Batang/kawat las minimal setara dengan AWS A.5.1 E6013 (co. RB-26 ex nikko steel atau setara)
2. Gunakan helm/topeng las untuk melindung muka,mata dan kulit dari percikan api las.
3. Karena sudut alur/groove +/- 300, agar las mengisi penuh maka layer pertama pengelasan menggunakan batang las dengan diameter kurang dari 4mm.
4. Pada pengelasan berlapis, setelah selesai mengelas lapisan pertama bersihkan terak/slag dengan palu las sampai bersih (gunakan kacamata terng saat
pembersihan terak), setelah itu lakukan pengelasan pada lapisan berikut.
5. Gunakan 2 lapis pengisian las untuk kedalaman alur/groove ≤12mm. Sedangkan untuk ke dalam alur/groove > 12mm gunakan 3 lapis pengisian las.
6. Apabila ditemukan cacat pada las, perbaiki dengan cara mengupas/grinding bagian yang cacat dan diisi kembali dengan las.
7. Lapisi pelat sambung tiang pancang dengan coating cat zinc chromate untuk lokasi non korosif, coating cat epoxy untuk lokasi yang korosif atau pile tape
untuk pelat sambung pada daerah pasang surut air.
8. Pemancangan dilakukan setelah pelat sambung yang sudah di-las dibiarkan mendingin secara alami hingga mencapai suhu 2000 C s/d 2500 C.

URUTAN PENGISIAN LAPISAN LAS

Alur/Groove 7-12mm Alur/Groove > 12mm

RB26- (ex nikko steel) A.5.1 E6013


4 3 4 2
LB52- (ex nikko steel) A.5.1 E7013

2 3 Identifikasi batang/kawat las : EXXXX (co: E6013)


>45�C
>45�C 1 2
1 E = Elektroda jenis SMAW (steel mild Arc Welding)
60 (2 angka awal) = kuat tarik dalam ksi
6 6 1 (angka ke-3) = Posisi pengelasan yang bisa dilakukan elektroda.
7mm 12mm
(1: semua posisi; 2: flat & horisontal, 3: flat saja)
3 (angka ke-4) = jenis pelapisan & arus yang digunakan elektroda.
64

JENIS CACAT HASIL PENGELASAN DAN PENANGANANNYA

CACAT PENYEBAB PENANGANAN

Penetrasi tidak cukup 1. Kecepatan mengelas terlalu cepat atau 1. Kecepatan pada saat mengelas harus tepat, agar
terlalu lambat. terak/slag tidak mendahului.
2. Arus listrik saat mengelas rendah. 2. Meninggikan arus listrik saat mengelas sampai
3. Sudut torch atau posisi yang dituju tidak dengan 450 – 500A.
tepat 3. Sudut torch dipertahankan 20-30°, posisikan
bagian kedalaman alur/groove yang cukup bisa
meleleh.

Belitan Terak/ Slag 1. Kecepatan mengelas terlalu cepat atau 1. Terak/Slag lapisan sebelumnya dihilangkan dengan
terlalu lambat. sempurna.
2. Arus listrik saat mengelas rendah. 2. Meninggikan arus listrik saat mengelas, agar terak/
3. Sudut torch atau posisi yang dituju tidak slag tidak mendahului kecepatan
tepat 3. Mengelas torch dengan urutan kebelakang
(0-45°).

1. Tegangan busur nyala listrik terlalu tinggi 1. Menggunakan tegangan busur nyala listrik yang
Blow hole 2. Bagian sambungan tercampur cairan dan tepat, yaitu 26-30V.
material lainnya 2. Sebelum mengelas bersihkan bagian alur dan
3. Kawat las lembab hilangkan secara menyeluruh cairan, lumpur,
4. Panjang kawat sudah terlalu pendek minyak, karat dan lain-lain.
3. Menyimpan kawat untuk mengelas dengan baik,
pada saat digunakan harus dikeringkan kembali.
4. Panjang kawat yang tepat saat diganti sekitar 30-
50mm
65

CACAT PENYEBAB PENANGANAN

Pit 1. Kawat las lembab 1. Menyimpan dengan baik kawat untuk mengelas,
2. Sambungan yang akan dilas tercampur pada saat digunakan harus dikeringkan kembali.
cairan dan material lainnya 2. Sebelum mengelas bersihkan bagian alur dan
3. Tegangan dan besaran arus listrik tidak hilangkan secara menyeluruh cairan, lumpur,
tepat minyak, karat dan lain-lain.
3. Melakukan pengelasan dengan cakupan sesuai
kondisi standar pengelasan

Undercut 1. Arus listrik saat pengelasan terlalu tinggi 1. Turunkan arus listrik pada lapisan terakhir dalam
2. Sudut torch atau posisi yang dituju tidak cangkupan 350-400A.
tepat 2. Menjaga sudut torch antara 0-15°, ini untuk
3. Kecepatan pada saat pengelasan terlalu mencegah timbulnya busur nyala listrik dari alur
cepat pancang bagian atas.
4. Tegangan busur nyala listrik terlalu tinggi 3. Memperlambat kecepatan pengelasan agar
kuantitas las cukup.
4. Menurunkan tegangan busur listrik menjadi 26-
28V

Overlap 1. Arus listrik las terlalu rendah 1. Meningkatkan arus listrik untuk mempercepat
2. Perpindahan elektroda terlalu lambat perpindahan elektroda
2. Mempercepat perpindahan elektroda

Retak 1. Bagian sambungan tercampur cairan dan 1. Sebelum mengelas bersihkan bagian alur dengan
material lainnya baik dan hilangkan secara menyeluruh dari cairan,
2. Bagian yang dipengaruhi oleh panas jadi lumpur, minyak, karat dan lain-lain.
mengeras dan mudah retak 2. Memanaskan terlebih dahulu sebelum dilas
3. Kawat yang digunakan kondisinya lembab 3. Menyimpan dengan baik kawat las yang digunakan
untuk mengelas dan mengeringkannya kembali
saat akan digunakan.
66

PERLENGKAPAN PENYAMBUNGAN LAS


ALAT SPESIFIKASI

Mesin Las
1. Mesin las arus bolak balik (AC), arus searah (DC) atau arus ganda (AC DC)
2. Kapasitas transformator las 200-500 A
3. Tegangan listrik 55 – 85 Volt
4. Kebersihan terjaga untuk menghindari konslet akibat zat cair
5. Sumber listrik dari generator stabil

Kabel Las
1. Ukuran kabel dan diameter kabel las sesuai dengan arus listrik yang
mengalir dari mesin las dan panjang kabel yang digunakan.
2. Kabel menggunakan insulasi

Pemegang
Kawat Las 1. Bahan pemegang elektrode terbuat dari logam kuningan.
2. Pemegang kawat las menggunakan penyekat (biasanya embonit) sebagai
insulator.
3. Bagian penjepit kawat las harus bersih.
67

ALAT SPESIFIKASI

Welding 1. Batang las/Elektroda untuk Steel Mild Arc Welding (SMAW) RB-26 atau
Electrodes setara
2. Ukuran kawat las diameter 3,2 - 4mm

Sikat 1. Serabut sikat terbuat dari bahan kawat-kawat baja yang tahan panas dan
Kawat Las elastis
2. Tangkai sikat terbuat dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian
yang disikat.

Palu Las 1. Handle palu berbentuk peer yang membuat pegangan nyaman dan aman
2. Dua ujung palu yang berbeda penggunaannya, ujung runcing untuk memukul
sudut rigi-rigi dan ujung yang berbentuk pahat untuk membersihkan
permukaan rigi-rigi & las yang menempel pada permukaan.

Topeng/ 1. Terbuat dari bahan plastik yang tahan panas


Helm Las 2. Terdiri dari 3 kaca (bening – hitam dan bening) untuk melindungi mata dari
sinar pengelasan.
3. Nomor kaca menyesuaikan dengan ukuran kegelapan kaca yang cocok
dengan mata terhadap ampere yang digunakan untuk pengelasan.
68

ALAT SPESIFIKASI

Sarung 1. Sarung tangan dari bahan kulit/silikon /asbes lunak yang memiliki sifat
Tangan Las insulasi.

Apron Las 1. Apron/baju las dari bahan kulit

Sepatu Safety 1. Sepatu las terbuat dari kulit dan bagian depan sepatu terdapat plat baja
yang berfungsi melindungi kaki dari kejatuhan benda berat dan tajam.
2. Bersifat isolator untuk melindungi dari sengatan listrik.
69

KERUSAKAN PADA TIANG PANCANG SAAT PEMANCANGAN

CACAT PENYEBAB PENCEGAHANNYA

PECAH ATAS /KEPALA TIANG


a. Retak merata Konsentrasi tegangan tekan tinggi (over
compression) pada bagian atas/kepala tiang
akibat :
1. Pile Cushion kurang tebal /tidak elastis 1. Gunakan pile cushion dari kayu lunak plywood/
akibat termampatkan/kondisi rusak multiplex pada kepala tiang untuk mencegah
dan berubah bentuk /terbakar sehingga gompal pada kepala tiang.
tidak efektif mereduksi tegangan akibat 2. Ganti pile cushion apabila sudah tidak elastis
tumbukan hammer dan menyebabkan (highly compression), sudah hangus atau terbakar
tegangan tekan yang tinggi pada bagian saat pemancangan tiang
atas/kepala tiang. 3. Gunakan hammer berat dengan tinggi jatuh yang
2. Beton kepala tiang fatik akibat kombinasi rendah (short stroke) daripada menggunakan
dari tegangan tekan yang tinggi pada hammer yang ringan dengan kecepatan jatuh
kepala tiang dan frekwensi/jumlah hamer yang tinggi (long stroke) untuk mereduksi
pukulan yang tinggi tegangan yang terjadi pada tiang

b. Retak miring Konsentrasi tegangan tekan tidak merata


(eksentrisitas gaya aksial) pada bagian atas/
kepala tiang akibat :
1. Posisi tiang terhadap hammer tidak 1. Drive cap berbentuk bulat dipasang sesuai ukuran
pada satu sumbu sehingga terdapat kepala tiang dengan kondisi tidak terlalu longgar
eksentrisitas saat pemancangan yang untuk memastikan kelurusan sumbu hammer
menyebabkan konsentrasi tegangan yang terhadap sumbu tiang.
berlebih. 2. Cek ketegakan tiang pancang dan leader dengan
2. Ketebalan cushion yang tidak rata atau waterpass untuk memastikan posisi sejajar
kondisi cushion tidak elastis akibat vertikal.
termampatkan, rusak dan berubah 3. Ganti pile cushion apabila sudah tidak elastis
bentuk /terbakar (highly compression), sudah hangus atau terbakar.
70

CACAT PENYEBAB PENCEGAHANNYA

PECAH BAGIAN BAWAH/ Konsentrasi tegangan tekan tinggi (over


SEPATU TIANG compression) pada bagian bawah/sepatu tiang
akibat :
1. Posisi bawah tiang bertumpu pada lapisan 1. Gunakan metode preboring untuk agar tiang
tanah keras/ boulder/batu dapat menembus lensa tanah keras.
2. Pile Cushion kurang tebal /tidak elastis 2. Gunakan pile cushion dari kayu lunak plywood/
akibat termampatkan/kondisi rusak multiplex pada kepala tiang untuk mereduksi
dan berubah bentuk /terbakar sehingga tegangan pada tiang. Ganti pile cushion apabila
tidak efektif mereduksi tegangan akibat sudah tidak elastis (highly compression), sudah
tumbukan hammer dan menyebabkan hangus atau terbakar saat pemancangan tiang
tegangan tekan yang tinggi pada bagian
bawah/sepatu tiang.
3. Beton sepatu tiang fatik akibat kombinasi 3. Gunakan hammer berat dengan tinggi jatuh yang
dari tegangan tekan yang tinggi pada rendah (short stroke) daripada menggunakan
sepatu tiang dan frekwensi/jumlah hammer yang ringan dengan kecepatan
pukulan yang tinggi jatuh hammer yang tinggi (long stroke) untuk
mereduksi tegangan pada tiang.

RETAK MELINGKAR/TEGAK Tegangan tarik aksial berlebih yang terjadi


LURUS BADAN TIANG (over tension) pada badan tiang akibat :
1. Pemancangan dengan hammer yang 1. Gunakan hammer berat dengan tinggi jatuh yang
terlalu ringan dengan kecepatan jatuh rendah (short stroke) daripada menggunakan
hammer yang tinggi (long stroke) pada hammer yang ringan dengan kecepatan
kondisi tahanan ujung yang sangat tinggi. jatuh hammer yang tinggi (long stroke) untuk
mereduksi tegangan pada tiang,
2. Pemancangan pada kondisi tahanan 2. Kurangi tinggi jatuh hammer saat awal pada
ujung tiang kecil atau tidak ada kondisi tanah lunak atau saat peralihan dari
seperti pemancangan di tanah lunak, lapisan tanah keras ke lapisan tanah lunak.
pemancangan menembus dari tanah
keras ke lapisan lapisan tanah lunak
atau pemancangan dengan waterjet dan
preboring.

Kombinasi gaya geser (shear moment) dan axial 1. Pastikan landasan pilling rig stabil saat
tarik (tension) akibat tiang pancang terdorong pemancangan untuk mencegah leader ber-rotasi.
pada arah horisontal saat pemancangan
71

CACAT PENYEBAB PENCEGAHANNYA

RETAK DIAGONAL BADAN TIANG Kombinasi tegangan tarik yang tinggi (over
tension) dan moment putar/torsi (twisting
moment) pada badan tiang akibat :
1. Driving cap pada kepala tiang pancang 1. Drive cap juga tidak boleh sempit agar
terlalu sempit sehingga tiang tidak dapat memungkinkan tiang dapat berotasi bebas saat
berputar halus saat bereaksi terhadap merespon terhadap penetrasi tiang ke lapisan
tahanan tanah saat tiang sudah masuk tanah dan pergerakan leader alat pancang.
sebagian kedalam tanah.
2. Driving cap pada kepala tiang pancang 2. Pastikan landasan pilling rig stabil saat
terlalu sempit sehingga tiang mengalami pemancangan untuk mencegah leader ber-rotasi.
puntir saat terjadi pergerakan atau rotasi
leader alat pancang

RETAK LONGITUDINAL Tekanan besar pada sekeliling dinding tiang dari


/MEMANJANG BADAN TIANG bagian dalam rongga (internal radial pressure)
yang dapat ditimbulkan akibat :
1. Pemancangan tiang menggunakan tipe 1. Menyiapkan lubang ventilasi pada bagian atas
ujung bawah terbuka (open ended) kepala tiang pancang untuk mengurangi tekanan
pada lokasi tanah sangat lunak/rawa. dari dalam rongga tiang pancang saat proses
Akibat efek hidrolik hammer saat proses pemancangan.
pemancangan, air akan terpompa naik
pada rongga dalam tiang.
2. Tanah masuk kedalam rongga dan naik 2. Penggunaan sepatu masif pada tiang pancang
keatas mengisi rongga tiang akibat bagian bawah untuk mencegah tanah/lumpur
penggunaan tipe tiang open ended atau masuk kedalam rongga.
akibat kerusakan pada sepatu tiang.
72

PERBAIKAN TIANG PANCANG

Metode perbaikan tiang : Pelat


sambung
1. Potong sisi luar beton sedalam selimut beton dibawah posisi retak dengan
jarak 40 x dia PC bar Angkur
2. Bobok beton pada sisi yang diperbaiki dengan palu.

40xdb
3. Bersihkan permukaan tulangan PC Bar dan spiral dari debu/ kotoran.
4. Pasang stoper grouting dari kayu di dalam rongga tiang pancang pada kedalam PC Bar
2 x dia.tiang
5. Setting pelat sambung pengganti yang sudah dipasang besi angkur pada tiang
pancang dengan memasukan PC Bar dari tiang ke lubang PC bar pada pelat
sambung sebagai pengarah.
6. Pasang pelat seng sebagai cetakan dinding melingkar sesuai diameter tiang.

2x Dia. tiang
7. Pastikan permukaan pelat sambung dalam posisi rata dengan alat waterpass
8. Aduk grouting sesuai takaran dengan mixer elektrik sampai adukan merata &
seragam.
9. Tuangkan material grouting kedalam cetakan dan rongga tiang sampai terisi Tiang
penuh.
10. Buka cetakan setelah umur grouting minimal 3 hari
11. Potong PC Bar yang muncul di permukaan pelat sambung
12. Pemancangan dilakukan setelah kuat tekan grouting > kuat tekan
beton tiang pancang
Stopper
cor

Dia. tiang
73

Peralatan Material
1. Pile Cutter / alat grinding 1. Pelat sambung + besi angkur
2. Palu 5kg 2. Kayu multipek
3. Waterpass 3. Pelat seng
4. Alat Mixer grouting 4. Material grouting
5. Ember

Grouting rongga Setelah 3 hari, buka


Potong beton Bobok dinding beton Pasang stoper Pasang Pelat Pasang detakan tiang hingga penuh cetakan dinding.
sisi luar tiang tiang multiplek sambung + angkur dinding & pastikan
pancang permukaan
pelat rata
74

UJI BEBAN PADA TIANG PANCANG


Persyaratan :
1. Tiang pancang yang diuji harus dibuat pile cap (Pile head treatment).
2. Hidrolik Jack, pompa hidrolik, dial gauge dan load cell yang digunakan sudah dikalibrasi dan berfungsi dengan baik.
3. Untuk uji beban tekan, tumpuan beban kentledge dalam posisi stabil dan beban kentledge atau reaction pile lebih besar dari rencana beban tekan/lateral
maksimum.
4. Untuk uji beban tarik, sistem sambungan tarik kuat menahan gaya tarik beban uji rencana.
5. Profil Test beam dan transfer beam kuat dan cukup kaku terhadap beban pengujian.
6. Reference beam untuk pengukuran pergerakan tiang dipasang melintang, tertanam pada tanah.
7. Pelaksanaan uji beban dilakukan 30 hari setelah pemancangan.
8. Uji beban dilakukan sebesar 200% dari beban rencana dengan metode pembebanan siklik secara bertahap (cyclic maintained load).

UJI BEBAN LATERAL

DILARANG!
Load
Pile Cap Kepala tiang tidak
Dial
cell Gauge dibuat pile cap!

Hidrolik Beam
Jack reference TIANG
RETAK!
Tiang TIANG RETAK !
uji
75

UJI BEBAN AKSIAL TEKAN UJI BEBAN AKSIAL TARIK

Kentledge Sambungan tarik menggunakan


tulangan/stress bar dari pile cap.
Transfer beam Load cell
Tulangan/
Load cell Hidrolik Jack stress bar
Hidrolik Jack
Test beam
Pile Cap
Dial
Gauge

Tiang
uji Tiang uji Pile Cap

DILARANG! Kentledge DILARANG!


Kepala tiang tidak Transfer beam Sambungan tarik
dibuat pile cap! menggunakan PC
Bar PC BAR PUTUS!

TIANG
RETAK!

PC BAR PUTUS
AKIBAT TARIKAN
DISTRIBUSI GAYA
TARIK TIDAK MERATA
PADA TIAP PC BAR
76

HIGH STRAIN DYNAMIC LOAD TESTING DENGAN ALAT PDA / UJI PDA

Uji beban dinamis menurut ASTM D4945 :


1. Pasang strain transducers dan accelerometer pada jarak dari
kepala tiang minimal 1-1,5 diameter tiang.
2. Koneksikan kabel transducer dan accelerometer ke perangkat alat
PDA (Pile Dynamic Analyzer) untuk merekam dan menampilkan
saat uji dinamik.
3. Gunakan pile cushion dan helm pancang pada kepala tiang saat
pengujian, setting posisi sumbu hammer dan sumbu tiang pancang
pada satu sumbu yang sama.
4. Hammer yang digunakan saat pengujian seberat 1%-2% dari
beban ultimit yang diharapkan.
5. Untuk pengambilan data dinamis, kepala tiang dipukul dengan
hammer pancang minimal 10 kali untuk memperoleh nilai
regangan dan akselerasi akibat pukulan.
6. Catat tinggi jatuh hammer dan nilai penetrasi tiang akibat pukulan
hammer.
77

SKEMA UJI PDA


Hammer Cushion

Striking Plate

Hammer Cushion

Drive cap adapter/helmet


Pile cushion

Pile
Minimal
1,5D sd 2D
Pile
Connection Apparatus for
Strain box
Transducers reducing data

Acceleromoters
Acceleromoters
Strain Dari uji beban dinamis dapat diperoleh :
Transducers
1. Daya dukung tanah dan keutuhan
struktur pondasi
Recording 2. Mengetahui efisiensi/performa hammer
apparatus pancang dan tegangan pada tiang saat
Display Apparatus pemancangan.
78

UJI KEUTUHAN TIANG PONDASI

LOW STRAIN PILE INTEGRITY TEST / UJI PIT

Pemeriksaan keutuhan (integrity) tiang pondasi menurut ASTM D5882 :


1. Kepala tiang dalam kondisi baik, tidak mengalami kerusakan akibat proses pemancangan.
2. Permukaan kepala tiang berada dapat dijangkau, berada diatas air, bersih dari tanah atau kotoran akibat proses pemancangan.
3. Haluskan permukaan tempat pemasangan accelerometer dengan mengamplas permukaan beton.
4. Koneksikan kabel sensor accelerometer pada perangkat PIT, kemudian letakan accelerometer pada permukaan beton yang sudah dihaluskan dengan
dilapisi materil perekat seperti vaselin atau gel.
5. Pukul kepala tiang dengan palu ringan yang permukaannya dilapisi oleh plastik keras (low strain impact) pada posisi maksimal 300mm dari sensor
accelerometer untuk menghasilkan gelombang yang merambat dengan kecepatan yang konstan pada badan tiang. Data rambatan tersebut akan dibaca
oleh sensor accelerometer dan di interpretasikan oleh perangkan PIT.
6. Lakukan pukulan dan perekaman rambatan gelombang minimal 10 kali untuk mendapatkan data rata-rata yang akurat sebagai dasar evaluasi nilai
keutuhan (integritas) tiang pondasi. Kalau diperlukan dapat mengamplifikasi gelombang dengan mengunakan palu yang lebih berat.

Accelerometer
2 Accelerometer
Palu 1
② ③
3 Palu
1 PIT Computer
2
PIT
Tiang
Computer pancang
Tiang
① pancang
3
79

Tujuan uji PIT :


1. Mengevalusi ada atau tidaknya
kerusakan, cacat atau retak pada
pondasi tiang.
2. Menentukan kedalaman aktual
dari pondasi tiang yang tidak
diketahui panjang nya
80

UJI KUAT LENTUR TIANG PANCANG

BENDING STRENGTH TEST

Kuat lentur badan tiang :


1. Saat beban uji mencapai nilai spesifikasi momen retak
(cracking moment), kondisi badan tiang pancang harus
bebas dari retak visual selebar 0,05mm.
2. Saat uji kuat lentur hancur tiang (breaking moment), nilai
moment badan saat tiang hancur tidak boleh lebih kecil dari :
- 1,5 nilai spesifikasi Mcrack untuk klas A
- 1,8 nilai spesifikasi Mcrack untuk klas B
- 2,0 nilai spesifikasi Mcrack untuk klas C

Kuat lentur sambungan tiang : Beban vertikal P bekerja pada tengah bentang pada tiang yang
diletakan diatas 2(dua) tumpuan dengan posisi tumpuan dari
1. Kuat tekan lentur sambungan tiang harus lebih besar dari nilai ujung tiang adalah 1/5 dari panjang tiang.
kuat tekan lentur badan tiang pancang .
2. Nilai defleksi dan kurva defleksi saat beban uji mencapai beban
moment retak (cracking moment) mendekati nilai defleksi untuk
pengujian badan tiang
Pelaksanaan uji kuat lentur tiang pancang menurut JIS
5335-1987 :
1. Untuk verifikasi nilai moment retak (cracking moment), tiang ditekan oleh
beban vertikal Pretak yang menyebabkan badan tiang mengalami lentur
sebesar nilai moment retak. Beban ditahan saat mencapai nilai Pretak
kemudian dilakukan pengamatan permukaan tiang. Permukaan tiang
Inspeksi untuk kekuatan badan tiang pancang harus bebas dari retak visual selebar 0,05mm.
dilakukan dengan cara melakukan uji bending untuk 2. Untuk pengujian kuat moment hancur (breaking moment) , tiang ditekan
beban moment retak (cracking moment) tiang untuk 2 oleh beban vertikal Phancur hingga menyebabkan tiang hancur. Nilai kuat
sample uji. moment hancur tiang dihitung dari moment yang terjadi akibat vertikal
maksimum tersebut.
81

PT. WIJAYA KARYA BETON. Tbk

LAMPIRAN
LAMPIRAN - PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG
LAMPIRAN - TIPE HAMMER TIANG PANCANG
LAMPIRAN - UJI BEBAN PADA TIANG PANCANG
82

LAMPIRAN : PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG

LAS BUSUR NYALA LISTRIK (ARC WELDING) :

Pengelasan yang dilakukan dengan cara mengubah arus listrik menjadi panas untuk melelehkan atau
mencairkan permukaan benda yang akan disambung dengan membangkitkan busur nyala listrik
melalui elektrode.

Pengelasan dengan pelelehan nyala busur listrik ini diperoleh dengan cara mendekatkan elektrode
las ke benda kerja pada jarak beberapa milimeter (jarak antara elektroda dan benda kerja disebut
panjang busur nyala), sehingga terjadi aliran arus listrik dari elektroda ke benda kerja yang disebabkan
karena adanya perbedaan tegangan antara elektrode dan benda kerja yang menimbulkan suhu
busur nyala ini bisa mencapai 50000C sehingga mampu melelehkan elektroda dan benda kerja untuk
membentuk paduan.

Setelah nyala busur listrik terjadi, elektroda akan berkurang sehingga jarak ujung elektroda (panjang
busur nyala) dengan benda kerja akan semakin renggang, sehingga harus diturunkan dengan jarak
tertentu untuk menjaga agar busur listrik tetap menyala. Baik buruknya hasil pengerjaan las sangat
ditentukan oleh pergerakan elektroda pada waktu pengelasan dan tegangan listrik yang digunakan.

WELD APPEARANCE SKEMA PENGELASAN POSISI PENGELASAN


83

lampiran : TIPE HAMMER PANCANG

Pemilihan Hammer : Hal yang diperhatikan oleh Engineer :


1. Pemancangan harus menggunakan Impact Hammer
yang disetujui pengawas/konsultan. Drop Hammer :
2. Impact hammer mampu menghasilkan energy yang - Pastikan berat hammer yang digunakan sesuai dengan rencana, apabila ragu
cukup untuk memancang tiang sampai dengan rata- hammer harus ditimbang untuk mendapat berat sebenarnya
rata penetrasi min. 2mm per pukulan (1/8” per blow) - Pastikan pengarah jatuh hammer pada posisi lurus dan sambungan rangka
pada saat penentuan final set. pengarah dalam kondisi kencang.
3. Berat hammer dan kecepatan tumbukan hammer saat - Pastikan saat digunakan, tali pengangkat dapat bergerak bebas saat hammer
pemancangan tidak menimbulkan tegangan berlebih dilepas.
(overstress) pada tiang.

Air/Steam hammer :
- Chek kesesuaian dokumen pabrik pembuat hammer terhadap tipe dan
model hammer yang digunakan.
PILE HAMMERS - Pastikan semua komponen hammer yang dipakai dalam kondisi baik.
- Khusus untuk doubel & differential acting, minta grafik yang menyatakan
energi (rate energy) pemancangan terhadap kecepatan operasi hammer
pancangan
Drop Air/Steam Diesel Hydraulic Vibratory
Hammers Hammers Hammers Hammers Diesel hammer :
- Chek kesesuaian dokumen pabrik pembuat hammer terhadap tipe dan
model hammer yang digunakan.
- Pastikan semua komponen hammer yang dipakai dalam kondisi baik.
- Minta grafik yang menyatakan energi (rate energy) pemancangan terhadap
kecepatan operasi hammer pancangan
Single Double Differential Single Double - Untuk single acting hammer : perhatikan tinggi jatuh hammer, tinggi jatuh
Acting Acting Acting Acting Acting
akan bervariable tergantung kondisi tahanan tanah.
- Untuk double acting hammer : Pastikan pembacaan tekanan pada bounce
chamber telah dikalibrasi.
Single Double
Acting Acting
(Open End) (Close End)
84

KARAKTERISTIK HAMMER & PENGUNAANNYA


TYPICAL PILE HAMMER CHARACTERISTICS AND USES

Steam or Air Diesel Hydraulic


Hammer Type Drop VIbratory
Single Acting Double Acting Differential Single Acting Double Acting Single Acting Double Acting
Rated Energy 9 to 81 kJ 10 to 2240 kJ 1 to 29 kJ 20 to 68 kJ 12 to 667 kJ 11 to 98 kJ 35 to 2932 kJ 35 to 2945 kJ --
Range (7 to 60 ft-kips) (7 to 1800 ft-kips) (1 to 21 ft-kips) (15 to 50 ft-kips) (9 to 492 ft-kips) (5 to 73 ft-kips) (25 to 2162 ft-kips) (25 to 2172 ft-kips)

Impact Velocity 7 to 10 2.5 to 5 4.5 to 6 4 to 4.5 3 to 5 2.5 to 5 1.5 to 5.5 1.5 to 7 --


(m/sec)

Blows/minute 4 to 8 35 to 60 95 to 300 98 to 303 40 to 60 80 to 105 30 to 50 40 to 90 750 to 2,000


pulse/minute
Energy Ram weight x Ram weight x (Ram weight + effective piston Ram weight x (Ram weight + Ram weight x (Ram weight + --
(per blow) height of fall ram stroke head area x effective fluid stroke chamber pressure) stroke effective piston
pressure) x stroke x stroke head area x
effective fluid
pressure) x stroke

Lifting power Provided by Steam or air Steam or air Provided by explosion of injected Hydraulic Hydraulic Electricity or
housting engine or diesel fluid hydraulic power
a crane

Maintenance Simple More complex More complex than for single acting More complex than most air impact More complex More complex HIghest
than drop hammer hammers than other impact than other impact maintenance
hammers hammers cost

Hammer All types except Versatile for any Timber, steel H, and pipe piles All type of piles All type of piles All type of piles Steel H and pipe
suitability for concrete piles piles, particularly end bearing piles.
types of piles large concrete and Very effective in
steel pipe granular soils

Major Lowest initial cost Relatively simple Fully enclosed and permit under-water Carry their own fuel from which power Fully variable Energy is variable Can be used for
advantages equipment and moderate cost operation. More productive than single is internally generated. Stroke is a energy can be over a wide range. pulling or driving.
acting. Generic lower dynamic forces. function of pile resistance. delivered. Can be used Fastest operating
DIfferential hammer uses less volume for underwater installation tool.
of air or steam than double acting and driving.
has lower impact velocity.

Major Very high dynamic Need air Cost more than single acting. Need Pollutes air with diesel exhaust. Higher initial cost. HIgher initial cost. High investment
disadvantages forces and danger compressor or air compressor or steam plant. Heavy Higher cost hammer. Low blows per and maintenance,
of pile damage. steam plant. compared with most diesel hammer. minutes at higher strokes for single not reccomended
Lowest pile Heavy compared acting. for friction pile
productivity. with most diesel installation.
hammer

Remarks Becoming obsolete -- Ram accelarates downward under Stroke variable in single acting diesel Newer hammer Newer hammer --
pressure hammer. Very popular hammer type. type and may type and may
Biodiesel models available. require additional require additional
field inspection field inspection
and/or testing and/or testing
85

DROP HAMMER

Drop hammer adalah hammer impact yang diangkat dan


dilepaskan agar jatuh bebas menumbuk kepala tiang pancang.
Drop hammer harus memiliki pengarah agar sumbu hammer
saat menumbuk berada pada sumbu tiang pancang (cosentris).

Ketrampilan operator untuk menentukan waktu menjatuhkan


hammer adalah faktor utama yang menentukan kecepatan
jatuh hammer dimana menentukan energi yang diberikan pada
tiang pancang.

Agar efisien dan mencegah kerusakan pada tiang, berat dari


hammer yang digunakan antara 1 s/d 2 kali berat tiang yang
dipukul dengan tinggi jatuh dijaga rendah dengan tinggi
maksimum 1m.

Kalau energi yang dihasilkan tidak mencukupi ganti dengan


hammer yang lebih berat. Menambah tinggi jatuh akan
menyebabkan kerusakan pada tiang saat menembus lapisan
tanah keras/batu.

Hal yang diperhatikan oleh engineer :


- Pastikan berat hammer yang digunakan sesuai dengan
rencana, apabila ragu hammer harus ditimbang untuk
mendapat berat sebenarnya
- Pastikan pengarah jatuh hammer pada posisi lurus dan
sambungan rangka pengarah dalam kondisi kencang.
- Pastikan saat digunakan, tali pengangkat dapat bergerak
bebas saat hammer dilepas.
86

SKEMATIK SINGLE ACTING AIR/STEAM HAMMER


AIR/STEAM HAMMER
Ram hammer didorong keatas dengan tekanan dari bawah piston, kemudian
setelah terdorong sampai ketinggian tertentu akan memicu pengatur katup
Hammer yang operasi pemancangannya menggunakan sumber energi tekanan untuk menghentikan tekanan dan tekanan dibawah piston keluar
dari alat-alat eksternal seperti panas uap dari boiler atau tekanan udara lewat lubang exhaust. Hammer bergerak kebawah dengan kecepatan
dari kompresor untuk mendorong hammer. tertentu akibat gravitasi dan menumbuk tiang pancang. Hammer kembali
didorong keatas dengan mekanisme yang sama secara berulang.

DOWNSTROKE UPSTROKE
87

DOUBLE ACTING AIR/STEAM HAMMER DIFFERENTIAL ACTING AIR/STEAM HAMMER


Ram hammer didorong keatas dengan tekanan dari bawah piston, kemudian Ram hammer didorong keatas dengan tekanan dari bawah piston, kemudian
setelah terdorong sampai ketinggian tertentu akan memicu pengatur setelah terdorong sampai ketinggian tertentu akan memicu pengatur katup
katup untuk menghentikan tekanan dan tekanan dibawah piston keluar untuk menghentikan tekanan. Secara bersamaan lubang diatas piston yang
lewat lubang exhaust. Secara bersamaan lubang diatas piston yang terbuka terbuka saat piston naik akan tertutup dan tekanan dari piston bawah yang
saat piston naik akan tertutup dan sumber tekanan dipindahkan ke ruang memiliki luas yang lebih kecil disalurkan ke ruang piston bagian atas yang
piston bagian atas dan menekan ke bawah. Hammer bergerak kebawah lebih luas sehingga menekan piston ke bawah. Hammer bergerak kebawah
dengan kecepatan tertentu akibat gravitasi dan tekanan dari atas kemudian dengan kecepatan tertentu akibat gravitasi dan tekanan dari atas kemudian
menumbuk tiang pancang. Hammer kembali didorong keatas dan kebawah menumbuk tiang pancang. Hammer kembali didorong keatas dan kebawah
dengan mekanisme sama secara berulang. dengan mekanisme sama secara berulang.

DOWNSTROKE UPSTROKE DOWNSTROKE UPSTROKE


88

DIESEL HAMMER

Perbedaan yang mendasar antara diesel hammer dengan air/steam hammer adalah sumber energi sistem air/
steam hammer berasal dari luar silinder air/steam hammer sedangkan sumber energi diesel hammer berasal dari
pembakaran bahan bakar pada hammer pancang (internal combustion) dibawah dekat ujung jatuh ram hammer.

Meskipun diesel hammer memiliki bobot yang ringan tinggi jatuh ram hammer yang tinggi tetapi kecepatan saat
tumbukan akan lebih rendah akibat efek pemampatan udara pada ruang pembakaran.

Sumber : ACI 543R guide to design,


manufacture & installation of concrete
piles

SINGLE ACTING DOUBLE ACTING


89

SINGLE ACTING DIESSEL HAMMER DOUBLE ACTING DIESSEL HAMMER

Pada awal pemancangan ram hammer diangkat keatas (TRIPPING), kemudian dilepas Sistem double acting bekerja seperti sistem single acting. Perubahan
sehingga meluncur ke bawah dan pada saat bersamaan bahan bakar di injeksi kedalam utamanya adalah terdapat silinder penutup pada bagian atas yang
silinder dibawah lubang keluar udara (FUEL INJECTION). Saat ram menumbuk (COMPRESSION menyebabkan ketika ram hammer bergerak keatas akan menekan udara
IMPACT) silinder bagian bawah terjadi ledakan akibat pembakaran bahan bakar (EXPLOTION) pada ruang atas (bounce chamber) yang mendorong kembali hammer ke
sehingga mendorong ram hammer kembali keatas. Saat hammer bergerak keatas melewati bawah dan mengakibatkan tinggi jatuh lebih rendah dan jumlah rata-rata
lubang keluar, gas hasil pembakaran akan keluar (EXHAUST) dan karena hammer masih pukulan yang lebih banyak.
terdorong keatas menyebabkan udara luar dari luar masuk tersedot kedalam silinder untuk
pembakaran selanjutnya (SCAVENGING).

Bounce
chamber

TRIPPING FUEL COMPRESSION EXPLOTION EXHAUST SCAVENGING TRIPPING COMPRESSION COMPRESSION EXHAUST SCAVENGING
INJECTION IMPACT IMPACT
90

HYDRAULIC HAMMER

Ada beberapa tipe hammer hidrolik. Tetapi


semua hammer hidrolik menggunakan
sumber energi dari luar untuk mengangkat
ram hammer. Tumbukan Hammer diperoleh
dengan cara menjatuhkan ram hammer
akibat murni gaya gravitasi atau dengan
bantuan tekan dari alat hidrolik.

Sama seperti air/steam hammer, skematik


kerja hammer hidrolik ada yang single acting
dan double acting.

Ram hammer diangkat dengan alat hidrolik,


kemudian setelah pada ketinggian tertentu
dijatuhkan menumbuk striker plate/anvil dan
hammer cushion pada helm tiang pancang.
Ram hammer kemudian diangkat kembali
oleh alat hidrolik untuk pemancangan
selanjutanya.

Tinggi jatuh ram hammer dapat dikontrol


sesuai dengan kondisi pemancangan. Untuk
kondisi pemancangan tanah lunak (easy
driving) tinggi jatuh ram hammer diatur
rendah agar tegangan tarik pada tiang rendah
sedangkan untuk kondisi pemancangan tanah
keras (hard driving) ram hammer diatur jatuh
lebih tinggi.
SINGLE ACTING DOUBLE ACTING
91

lampiran : UJI BEBAN PADA TIANG PANCANG

UJI STATIK BEBAN AXIAL TEKAN


Transfer beam
Persyaratan : Test beam
1. Tiang pancang yang diuji harus dibuat pile cap (Pile head treatment). Loaded
2. Hidrolik Jack, pompa hidrolik, dial gauge dan load cell yang digunakan sudah Hidrolik jack cell
Sambungan
dikalibrasi dan berfungsi dengan baik. tarik
3. Tumpuan beban kentledge dalam posisi stabil dan beban kentledge atau Dial gauge
reaction pile lebih besar dari rencana beban tekan maksimum.
4. Profil balok utama dan balok sekunder cukup kaku terhadap beban pengujian.
5. Balok referensi pengukuran pergerakan tiang dipasang melintang, tertanam
Tiang Tiang Tiang
pada tanah. reaksi uji reaksi
6. Pelaksanaan uji beban dilakukan 4 minggu setelah pemancangan agar tekanan
air dan daya dukung tanah kembali normal
7. Sesuai ASTM D1143, Uji beban dilakukan sebesar 200% dari beban rencana
dengan metode pembebanan siklik secara bertahap (cyclic maintained load).
8. Jumlah uji beban axial tekan statis diambil 1% dari total jumlah tiang dengan Tiang Tiang Tiang
maksimum 20 uji beban. reaksi uji reaksi
9. Jika jumlah uji beban tekan statis >3 , sebagian uji beban tekan statis dapat
dilakukan dengan uji beban dinamis PDA (Pile Driving Analysis) sesuai tabel
berikut : Balok
sekunder
- 4 uji beban statik = 3 uji beban statik + 1 uji PDA
- 5 uji beban statik = 3 uji beban statik + 2 uji PDA Test beam
- 6 uji beban statik = 4 uji beban statik + 2 uji PDA
- 7 uji beban statik = 4 uji beban statik + 3 uji PDA Reference Transfer
- 8 uji beban statik = 5 uji beban statik + 3 uji PDA beam beam
- 9 uji beban statik = 5 uji beban statik + 4 uji PDA dst...
10. Saat pengujian dihasilkan grafik penurunan terhadap beban uji pada pondasi,
Tiang Tiang
kemudian dievaluasi minimal dengan 3 cara, yaitu metode Chin, Mazurkiweuch reaksi reaksi
dan Davisson.

TIANG REAKSI SISTEM


92

UJI BEBAN AXIAL TEKAN (ASTM D1143) Beban


Kentledge
Kubus beton

TAHAPAN PEMBEBANAN UJI BEBAN TEKAN


Tahap 1 (maksimum 100% dari beban rencana) :
1. Tiang diberi beban meningkat dari 0 ke 25%, 50%, 75%, dan 100%
dari beban rencana. Setiap beban mencapai tingkat tertentu, beban
berikutnya ditambahkan ketingkat selanjutnya saat penurunan Transfer beam
(settlement) tiang lebih kecil dari 0,25mm/jam atau setelah 2 jam.
Test
2. Setiap peningkatan, beban kerja dan penurunan tiang yang terjadi beam
Loaded
dicatat saat waktu 1,2,4,8,15,30,60,90,120,240 menit dan setiap 2 jam Hidrolik cell
dengan akurasi pengukuran minimal 0.01mm. jack
3. Beban maksimum dijaga tetap konstan 100% dari beban rencana
selama 24 jam dan dikurangi dari 75%, 50%, 25% dan 0% dari beban Dial
gauge
rencana. Setiap pengurangan beban mencapai tingkat tertentu, beban
berikutnya dikurangkan ketingkat selanjutnya setelah 1 jam.
4. Saat beban 0%, pergerakan rebound akan di catat/record saat Tiang Reference
uji beam
1,2,4,8,15,30,40, 60 menit dan tiap jam hingga diperoleh nilai konstan
penurunan tiang.

Tahap 2 (Quick Test, maksimum 200% dari beban rencana) : SISTEM KENTLEDGE
1. Tiang diberi beban meningkat dari 0 ke 200% dengan interval 5%
dari beban rencana. Setiap beban mencapai tingkat tertentu, beban
berikutnya ditambahkan ketingkat selanjutnya setelah 5 menit
(persyaratan min 4menit max 15menit).
2. Setiap peningkatan, beban kerja dan penurunan tiang yang terjadi Uji beban dinyatakan gagal ketika :
dicatat saat waktu 1 dan 5 menit dengan akurasi pengukuran minimal - Tiang yang diberi beban konstan bergerak turun secara
0.01mm. tiba-tiba
3. Beban dikurangi secara bertingkat dari 200% 175%, 150%, 125%, 100%, - Terlihat keruntuhan pada tiang
75%, 50%, 25% dan 0% dari beban rencana setiap 5 menit. - Terjadi penurunan sebesar 15% dari diameter tiang.
4. Saat beban 0%, pergerakan rebound akan di catat/record saat
1,2,4,8,15,30,40, 60 menit dan tiap jam hingga tidak terjadi rebound
tiang.
93

UJI BEBAN AKSIAL TARIK (ASTM D3689)

TAHAPAN PEMBEBANAN UJI BEBAN TEKAN


Loaded cell
Tahap 1 (maksimum 100% dari beban rencana) : Hidrolik jack

1. Tiang diberi beban tarik meningkat dari 0 ke 25%, 50%, 75%, dan 100% dari Test beam Sambungan tarik
beban rencana. Setiap beban mencapai tingkat tertentu, beban berikutnya
Dial
ditambahkan ketingkat selanjutnya saat pergerakan tiang lebih kecil dari gauge
0,25mm/jam atau setelah 2 jam.
2. Setiap peningkatan, beban kerja dan pergerakan tiang yang terjadi dicatat
saat waktu 1,2,4,8,15,30,60,90,120,240 menit dan setiap 2 jam dengan
akurasi pengukuran minimal 0.01mm.
3. Beban maksimum dijaga tetap konstan 100% dari beban rencana selama
24 jam dan dikurangi dari 75%, 50%, 25% dan 0% dari beban rencana. Reference
beam
Setiap pengurangan beban mencapai tingkat tertentu, beban berikutnya Tiang
uji
dikurangkan ketingkat selanjutnya setelah 1 jam.
4. Saat beban 0%, pergerakan akan di catat/record saat 1,2,4,8,15,30,40, 60
menit dan tiap jam hingga diperoleh nilai konstan pergerakan tiang.

Tahap 2 (Quick Test, maksimum 200% dari beban rencana) :


SISTEM KENTLEDGE
1. Tiang diberi beban tarik meningkat dari 0 ke 200% dengan interval 5% dari
beban rencana. Setiap beban mencapai tingkat tertentu, beban berikutnya
ditambahkan ketingkat selanjutnya setelah 5 menit (persyaratan min 4menit
max 15menit).
2. Setiap peningkatan, beban kerja dan pergerakan tiang yang terjadi dicatat
Uji beban dinyatakan gagal ketika :
saat waktu 1 dan 5 menit dengan akurasi pengukuran minimal 0.01mm.
3. Beban dikurangi secara bertingkat dari 200% 175%, 150%, 125%, 100%, 75%, - Tiang yang diberi beban konstan bergerak naik secara tiba-
50%, 25% dan 0% dari beban rencana setiap 5 menit. tiba
4. Saat beban 0%, pergerakan akan di catat/record saat 1,2,4,8,15,30,40, 60 - Terlihat keruntuhan pada tiang
menit dan tiap jam hingga tidak terjadi pergerakan tiang. - Terjadi pergerakan ke atas sebesar 15% dari diameter tiang.
94

UJI BEBAN LATERAL (ASTM D-3966)

Loaded cell
TAHAPAN PEMBEBANAN UJI BEBAN TEKAN Strut Dial
gauge
1. Tiang diberi beban lateral meningkat dari 0 ke 25%, 50%, 75%, 100%,
125%, 150%, 170%, 180%, 190% dan 200% dari beban rencana.
2. Setiap peningkatan beban lateral tercapai, beban didiamkan dengan
durasi sesuai tahapan sebagai berikut : Hidrolik Reference
jack beam

Beban lateral Waktu tunda Beban Lateral Waktu tunda Tiang


uji
25% 10 menit 180% 20 menit
50% 10 menit 190% 20 menit SISTEM “DEAD MAN”
75% 15 menit 200% 60 menit
100% 20 menit 150% 10 menit
125% 20 menit 100% 10 menit Loaded cell
150% 20 menit 50% 10 menit
Dial
170% 20 menit 0% - gauge

3. Setiap peningkatan beban lateral, beban kerja dan pergerakan tiang yang Strut
Hidrolik
terjadi dicatat saat waktu 1,5 dan 10 menit dengan akurasi pengukuran jack Reference
beam
minimal 0.01mm.
4. Uji beban dinyatakan gagal ketika tiang yang diberi beban konstan
Tiang
bergerak turun secara tiba-tiba atau terlihat keruntuhan pada tiang uji

SISTEM TIANG REAKSI


95
96

PT. WIJAYA KARYA BETON. Tbk


WIKA Tower 1, 2 - 4th Floor,
Jalan D.I Panjaitan kav. 9
Jakarta 13340
https://www.wika-beton.co.id