Anda di halaman 1dari 15

KONSEP DAN IMPLEMENTASI PENDEKATAN SISTEM DALAM PENDIDIKAN

MIKRO,MESO DAN MAKRO

Disusun sebagai pemenuhan tugas ujian tengah semester (UTS) matakuliah Pendidikan
Sistem

Dosen Pengampu:

Dr. Sudiyanto, M.Pd

Oleh:

Dini Wahyu Mulyasari (S812102002)

PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2021
PROGRAM PASCASARJANA FKIP UNS
PRODI MAGISTER (S2) TEKNOLOGI PENDIDIKAN

UJIAN TENGAH SEMESTER GASAL T.A. 2021


Mata Kuliah/Kode : Pendekatan Sistem/TP1104
Semester/Sks : Satu/2 Sks
Hari/Tanggal : Rabu/5 Mei 2021
Waktu : 14.10-15.50 WIB
Dosen : Dr. Sudiyanto, M.Pd.

Petunjuk Mengerjakan:
Kerjakan semua soal di bawah ini dalam suatu file diberi nama UTS PENSIS (Nama/ Nim Mahasiswa)
dikumpulkan dalam waktu satu minggu paling lambat tanggal 12 Mei 2021 melalui email
soeddie.fkipuns@gmail.com

SOAL:
1. Dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas kepada masyarakat kita sering
dihadapkan kepada berbagai masalah yang kompleks. Permasalahan dapat terjadi baik pada
tingkat mikro (pembelajaran kelas), meso (pendidikan sekolah), maupun makro (pendidikan
nasional). Salah satu cara penyelesaian masalah yang paling efektif adalah pendekatan sistem.
a. Apakah pendekatan sistem itu? Jelaskan secara rinci!
b. Apakah kelebihan dan keterbatasan pendekatan sistem itu? Jelaskan secara rinci!
c. Bagaimanakah prosedur pendekatan sistem? Jelaskan secara lengkap!
2. Sebagian besar ahli menyatakan bahwa pembelajaran di kelas, pendidikan di sekolah, dan
pendidikan nasional dapat dipandang sebagai suatu sistem.
a. Apakah yang dimaksud dengan sistem? Jelaskan dengan contoh!
b. Apakah komponen-komponen suatu sistem? Jelaskan masing-masing dengan contoh!
c. Apakah karakteristik umum suatu sistem? Jelaskan masing-masing dengan contoh!
3. Pendekatan sistem dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah di bidang pendidikan,
baik pada tingkat pembelajaran kelas, pendidikan sekolah, maupun pendidikan nasional.
a. Buatlah contoh pendekatan sistem dalam memecahkan masalah pembelajaran kelas!
b. Buatlah contoh pendekatan sistem dalam memecahkan masalah pendidikan sekolah!
c. Buatlah contoh pendekatan sistem dalam memecahkan masalah pendidikan nasional!
Selamat Mengerjakan Semoga Sukses
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

A. Konsep Pendekatan Sistem


1. Definisi Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem merupakan salah satu upaya sistematis untuk mengoordinasi
semua aspek masalah dalam mencapai suatu tujuan tertentu, pendekatan sistem
merupakan suatu teknik yang didasarkan pada konsep sistem dan bertindak sebagai
penghubung antara perangkat keras dan lunak.
Maka pendekatan sistem dalam pendidikan dapat didefinisikan sebagai metode
tertentu dalam mengeksplorasi suatu permasalahan untuk menemukan cara efektif yang
didalamnya terdapat berbagai hal dimulai dari merancang dan mengatur situasi dalam
pelaksanaan pembelajaran.
2. Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Sistem
a. Kelebihan Pendekatan Sistem
1) Pendekatan sistem membantu mengidentifikasi kesesuaian sumber daya baik
SDA maupun SDM dalam mencapai tujuan tertentu.
2) Dalam pendekatan sistem harus melibatkan kemajuan teknologi sehingga dapat
digunakan untuk menyediakan berbagai fasilitas, media dan SDM untuk
mencapai tujuan yang ditentukan.
3) Pendekatan sistem membantu menilai kebutuhan sumber daya dan fasilitas
sehingga membantu mengidentifikasi faktor lain yang berkaitan serta waktu
yang dibutuhkan dalam merancang dan melaksanakan sistem serta mencapai
tujuan tersebut.
4) Pendekatan sistem memungkinkan mengidentifikasi dan menjabarkan
komponen-komoonen penting yang dibutuhkan dalam pembelajaran siswa
sehingga menentukan keberhasilan suatu sistem tersebut.
5) Pendekatan sistem juga mengantisipasi keadaan dimasa yang akan datang serta
sebagai cara untuk mengevaluasi sistem tersebut secara berkelanjutan.
b. Keterbatasan Pendekatan Sistem
1) Guru serta pelaksana sistem pendidikan masih belum mengenal dan memahi
pendekatan sistem sebagai suatu cara dalam mencapai tujuan atau memecahkan
masalah.
2) Kurangnya pemahaman terhadap pendekatan sistem sehingga menyulitkan
serta menghambat dalam pelaksanaannya.
3) Dalam pendekatan sistem akan membutuhkan ketrampilan khusus serta
ketelitian dan kerja keras dari setiap divisi yang bersangkutan sehingga
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

pendekatan sistem yang dilakukan dapat menghasilkan sistem baru yang


memenuhi kebutuhan sehingga seluruh aspek harus siap bekerja keras.
4) Mental dalam menerima hal baru serta menyadari bahwa diperlukan
pendekatan sistem sehingga setiap aspek dalam pendidikan ikut berpartisipasi
dalam berbenah (terkadang masih banyak yang tidak dapat menerima cara atau
sistem baru dalam pendidikan).
3. Prosedur Pendekatan Sistem
Tiga proses dalam pendekatan sistem yang harus diperhatikan yakni:
a. Input (Guru, Kurikulum, Siswa, Administrator, Materi Pembelajaran, Tugas
setiap divisi, lokasi sekolah (desa atau kota), serta fasilitas sekolah.
b. Process (sesuatu yang mengacu pada hal-hal yang terjadi dalam suatu sistem
berdasarkan input sistem tersebut).
c. Output (merupakan hasil dari suatu sistem, output ini diidentifikasi sehingga
dapat digunakan sebagai bahan perbaikan suatu sistem).

Sehingga dari tiga proses tersebut terdapat tiga langkah dalam melaksanakan
pendekatan sistem, sebagai berikut:
a. Analisis suatu sistem
b. Mendesain dan mengembangkan suatu sistem baru
c. Pelaksanaan suatu sistem serta evaluasi sistem tersebut
B. Konsep Sistem
1. Definisi Sistem
Kata sistem berasal dari bahasa latin yakni “systema”. Menurut Craw Ford
Rob sistem merupakan suatu organisasi yang sitematis dari elemen yang beroperasi
dengan cara unik. Dalam sistem terdapat beberapa bagian atau anggota maupun hal-
hal yang salih berhubungan sehingga dapat dikatakan sekumpulak objek dan elemen
yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Komponen Dalam Sistem
a. Input (Guru, Kurikulum, Siswa, Administrator, Materi Pembelajaran, Tugas setiap
divisi, lokasi sekolah (desa atau kota), serta fasilitas sekolah.
b. Process (sesuatu yang mengacu pada hal-hal yang terjadi dalam suatu sistem
berdasarkan input sistem tersebut).
c. Output (merupakan hasil dari suatu sistem, output ini diidentifikasi sehingga dapat
digunakan sebagai bahan perbaikan suatu sistem).
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

d. Analisis dan umpan balik (sistem memantau seluruh proses pelaksanaan dari sistem
itu sendiri dengan baik, sehingga memberikan umpan balik kepada pelajar dan guru.
Sistem dapat beroperasi dalam lingkungan fisik dan sosial akan tetapi suatu sistem
tidak dapat beroperasi di luar batas konteks dan lingkungan dari suatu sistem
tersebut.
3. Karakteristik Umum Suatu Sistem
a. Dalam suatu sistem memuat istilah-islilah umum sehingga juga berlaku untuk
bidang pendidikan
b. Sistem bersifat dinamis sehingga harus fleksibel menyesuaikan kebutuhan
c. Komponen sistem berfungsi secara keseluruhan untuk mencapai suatu hasil yang
diinginkan.
d. Komponen dalam sistem merupakan satu kesatuan yang terintegrasi sehingga
harus dijalankan seluruhnya.
C. Contoh pendekatan sistem dalam memecahkan masalah pembelajaran di kelas,
pendidikan di sekolah dan pendidikan nasional.
1. Pendekatan sistem dan Pemecahan Masalah Pembelajaran di Kelas.
a. Tujuan Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem ini bertujuan untuk membantu guru dalam menyelesaikan
permasalahan pemecahan soal cerita dalam pembelajaran matematika.
b. Alasan dilakukanya pendekatan sistem
Siswa masih sulit memahami maksud dan intruksi yang diminta dalam soal cerita
matematika sehingga memberikan jawaban yang salah atau bahkan tidak dapat
menjawab pertanyaan yang diajukan.
c. Hipotesis dalam pendekatan sistem
Setelah diberikan pembelajaran serta cara dalam memecahkan masalah soal
menurut model yang diungkapkan oleh Soejadi serta strategi scafolding siswa
mampu menjawab dan memecahkan soal cerita matematika.
d. Komponen Dalam Pendekatan Sistem
Input :Siswa, Guru, Strategi Pembelajaran (scafolding), materi matematika soal
cerita.
Proses : siswa dibimbing secara intens oleh guru (fasilitator) menggunakan strategi
pembelajaran (scafolding) dalam memecahkan permasalahan penyelesaian soal
cerita matematika.
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

Output : siswa mampu menyelesaikan soal-soal cerita matematika dengan baik dan
benar.
e. Implementasi dan Langkah-langkah Pemecahan Masalah
Berikut ini langkah-langkah dalam memecahkan soal matematika menurut
model pembelajaran yang dikemukakan Soejadi: untuk menyelesaikan soal
matematika umumnya dan terutama soal cerita, dapat ditempuh langkah-langkah
berikut:
1) Memahami masalah
Hal-hal apa saja yang diketahui dan tidak diketahui, bagaimana kondisi data,
apakah data tersebut sudah cukup untuk menyelesaikan masalah atau
berlebihan, atau datanya bertentangan.
2) Menyusun Rencana Pemecahan Masalah
Pada langkah ini terlebih dahulu ditentukan hubungan antar hal yang diketahui
dengan hal yang tidak diketahui. Selanjutnya disusun sebuah rencana
pemecahan masalah, yaitu membuat model matematika dengan memperhatikan
hal-hal berikut: apakah siswa pernah menemukan masalah itu sebelumnya?
Apakah siswa dapat menggunakan aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah
tersebut? Untuk masalah yang lebih luas apakah dapat diselesaikan bagian
demi bagian dari masalah tersebut?
3) Melaksanakan Rencana pemecahan masalah
Melaksanakan rencana pemecahan masalah seperti yang telah disusun pada
langkah sebelumnya. Pelaksanaan rencana pemecahan masalah dengan
menyelesaikan model dengan aturan-aturan tertentu.
4) Peninjauan kembali hasil pemecahan masalah
Tujuan dari langkah ini adalah untuk memeriksa langkah-langkah penyelesaian
yang telah dilakukan dan menguji hasil-hasil pemecahan masalah yang telah
diperoleh.

Berikut ini akan diberikan contoh pembelajaran dengan menggunakan


langkah-langkah pemecahan masalah bentuk cerita pada materi program linear.
Masalah:

“Seorang tukang jahit mempunyai 120 m bahan wool dan 80 m bahan katun.
Akan dibuat dua model pakaian seragam. Pakaian seragam model A
memerlukan 3 m bahan wool dan 1 m bahan katun. Pakaian seragam model B
memerlukan 2 m bahan wool dan 2 m bahan katun. Keuntungan pakaian
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

seragam model A Rp 12.500,- dan keuntungan pakaian seragam model B Rp


10.000,-. Berapa banyak pakaian seragam model A dan pakaian seragam model
B yang harus dijahit, agar penjahit mendapatkan keuntungan yang maksimum”.
Untuk menyelesaikan soal di atas dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah
yang telah diuraikan di atas.

1) Langkah 1 : Memahami Masalah


a) Agar siswa dapat memahami masalah, maka guru menyuruh siswa untuk
membaca soal cerita tersebut secara keseluruhan, untuk mengetahui seluruh
isi yang terkandung dalam soal tersebut. Kemudian guru bertanya, “Coba
ceritakan kembali isi soal tersebut dengan kata-kata kamu sendiri!”. Jika
siswa masih belum mampu menceritakan isi soal tersebut, maka guru harus
memberikan motivasi. Misalnya, “Kamu jangan takut salah, tidak apa-apa”.
Jika siswa menjawab salah, maka guru memberi respon ataupun memberi
scaffolding kepada siswa, hingga ada siswa yang menjawab benar.
b) Guru memberi perintah “Coba kamu cermati kembali soalnya!”, “Apa yang
dapat dijadikan pemisalan?” Siswa membuat pemisalan dari soal tersebut
untuk memeriksa apakah siswa benar-benar membuat pemisalan. Guru
menghampiri siswa jika ada siswa yang membuat pemisalan yang salah.
Guru di saat tertentu dapat memberikan bantuan dalam pemisalan.
c) Kemudian guru bertanya, “Apa yang ditanya dalam soal tersebut?” Harapan
jawaban dari siswa adalah “Berapa banyak model A dan model B yang
harus dijahit, agar penjahit memperoleh keuntungan yang besar”.
d) Guru bertanya, “Informasi apa saja yang diberikan dalam soal tersebut?”
Misalnya ada siswa yang menjawab “Untuk model A memerlukan 3 m
bahan wool dan 1 m bahan katun dan membuat model B memerlukan 2 m
bahan wool dan 2 m bahan katun. Kemudian guru bertanya kembali
“Adakah informasi penting lain yang belum disebutkan?” Harapan jawaban
dari siswa adalah “Persediaan bahan wool 120 m dan persedian bahan katun
80 m”.
2) Langkah II : Menyusun Rencana Pemecahan Masalah
a) Dalam bagian ini sebaiknya guru berusaha untuk memfokuskan perhatian
siswa terhadap masalah. Siswa dimotivasi agar berani mengemukakan
rencana pemecahan masalah, jika perlu dengan bantuan guru. Guru
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

memerintahkansiswa “Sekarang buatlah model matematika dari apa yang


diketahui!” Jika siswa masih mengalami kesulitan guru boleh menuntun.
b) Guru memerintahkan siswa “Coba kamu buat model matematikanya,
dengan menggabungkan hal yang diketahui dengan hal yang ditanyakan!”
Jika siswa masih mengalami kesulitan, guru dapat mengarahkan siswa
dengan membuat tabel sebagai berikut, sambil mengajak siswa untuk
memperhatikannya.
Bahan Model A Model B Persediaan
Wool 3m 2m 120 m
Katun 1m 2m 80 m
Banyaknya X Y

Kemudian guru kembali mengarahkan: “Coba dipikirkan bagaimana


membuat model matematikanya!” Jika masih ada siswa yang belum bisa
membuatnya, maka guru mengajak siswa untuk memperhatikan tabel yang
telah dibuat.
Hal itu dilakukan terus-menerus hingga siswa dapat menyebutkan “Bahan
wool yang diperlukan untuk membuat model A dan model B sebanyak (3x
+ 2y) meter. Bahan katun yang diperlukan untuk membuat model A dan
model B sebanyak (x + 2y) meter”. Kemudian guru mengingatkan siswa
mengenai sistem pertidaksamaan linear dua variabel, bagaimana
bentuknya?” Jika siswa masih mengalami kesulitan tidak ada salahnya guru
memberikan motivasi maupun scaffolding.
Harapan jawaban dari siswa adalah “Model matematika untuk soal tersebut
adalah 3x + 2y ≤ 120 dan x + 2y ≤ 80”. Guru memberikan arahan sebagai
berikut “Karena tidak mungkin dibuat pakaian seragam yang banyaknya
negatif dan tidak boleh dalam bentuk pecahan, maka x dan y harus
memenuhi pertidaksamaan x ≥ 0 dan y ≥ 0”. Sehingga akhir dari langkah
ini adalah siswa dapat menyebutkan model matematika dari permasalahan
tersebut adalah
3x + 2y ≤ 120
x + 2y ≤ 80
x≥0
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

y ≥ 0, x dan y anggota bilangan bulat non negati


3) Langkah III : Melaksanakan Rencana Pemecahan Masalah
a) Guru berkata “Coba selesaikan model matematika yang telah kamu buat!”,
jika siswa mengalami kesulitan, guru boleh mengingatkan kembali cara
menyelesaikan pertidaksamaan linear dua variabel dengan metode
penyelesaian yang ada, misalnya metode eliminasi atau metode substitusi.
b) Adapun hasil yang diharapkan dari penyelesaian sistem pertidaksamaan
linear tersebut adalah x = 20 dan y = 30. berarti kesimpulan dari yang
diperoleh adalah “Agar penjahit memperoleh keuntungan yang maksimal,
maka penjahit tersebut harus menjahit model A sebanyak 20 buah dan
model B sebanyak 30 buah”
4) Langkah IV : Peninjauan Kembali Hasil Pemecahan Masalah
Dalam hal ini guru harus memberitahukan bahwa hasil yang diperoleh
harus dikembalikan pada permasalahan apa yang ditanyakan dalam soal.
Artinya hasil yang diperoleh harus memenuhi sistem pertidaksamaan linear 3x
+ 2y ≤ 120 dan x + 2y ≤ 80. Peninjauan hasil dapat dilakukan dengan
mensubstitusikan hasil yang diperoleh ke dalam sistem pertidaksamaan 3x +
2y ≤ 120 dan x + 2y ≤ 80.
f. Evaluasi Dalam Pendekatan Sistem
Evaluasi dari hasil pendekatan sistem terhadap pembaharuan pembelajaran
yang dilaksanakan ialah menggunakan nilai siswa serta hasil survey yang
dilaknsakana guru kepada siswa. Dengan demikian maka guru akan mengetahui
respon dari siswa sehingga dapat dijadikan bahan perbaikan terhadap pembelajaran
selanjutnya.
2. Pendekatan sistem dan Pemecahan Masalah Pendidikan di Sekolah.
a. Tujuan Pendekatan Sistem
Meningkatkan kualitas, efektifitas, dan efisiensi proses pembelajaran disekolah
demi meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Alasan dilakukanya Pendekatan Sistem
Proses pembelajaran yang cenderung teacher sentris kurang memaksimalkan
dan menggali potensi yang dimiliki siswa sehingga output dan keluaran SDM tidak
mampu bersaing dengan output dari sekolah lain.
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

c. Konsep Desain Pendekatan Sistem Dalam Memperbaharui Proses Belajar


Siswa Di Sekolah
Penerapan sistem moving class di Sekolah, Tujuan dari model Moving Class
yaitu untuk membangkitkan semangat belajar siswa secara aktif dengan cara
menciptakan suasana belajar yang dinamis dengan menitikberatkan pada
lingkungan belajar yang disesuaikan dengan materi pelajaran serta meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam hal penerapaan teori.
Dalam model Moving Class dapat merangsang perhatian siswa untuk ikut aktif
dalam proses belajar mengajar. Karena model Moving Class menjadikan guru tidak
lagi menempatkan diri sebagai subyek dan anak didik sebagai obyek melainkan
menempatkan diri sebagai fasilitator di tengah- tengah siswa yang aktif
mengeluarkan pendapat. Model Moving Class membuat siswa tidak merasa jenuh
dan bisa refreshing dulu sebelum masuk kelas, selain itu juga dimaksudkan agar
kelancaran belajar bisa lebih maksimal, jadi kelas sudah di-setting dulu sebelum
siswa memasuki ruang kelas.
Moving Class pada prinsipnya adalah memudahkan bagi siswa untuk
memahami materi yang akan dipelajari karena dalam kelas sudah dilengkapi
dengan media atau sumber lain yang diperlukan sehingga guru tidak kesulitan
untuk menata ruang serta menata media pembelajarannya layaknya sebuah
laboratorium yang mana di dalam kelas sudah ada model-model pembelajaran yang
lengkap jadi guru tidak lagi mencari-cari alat pembelajaran yang akan dipakai
tetapi guru tinggal mengambil di kelas yang sudah disediakan.
d. Komponen Konsep Model Sekolah Moving Class
1) Input :Siswa, orang tua, Guru Mata Pelajaran, kurikulum yang dimodifikasi,
sumber belajar, sarana dan prasarana pembelajaran.
2) Proses : Pelaksanaan model Moving Class tidak hanya dilakukan di dalam
kelas saja melainkan juga dapat dilaksanakan di luar kelas misalnya di Masjid,
Perpustakaan atau tempat-tempat yang lain selama masih berhubungan dengan
materi yang akan dipelajari. Pelaksanaan model Moving Class sangat menuntut
siswa aktif. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari bukan sekedar menerima.
Dengan kata lain mereka mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan
kepada mereka atau pertanyaan- pertanyaan yang mereka ajukan sendiri.
Mereka mengupayakan atas permasalahan yang diajukan oleh guru. Mereka
tertarik untuk mendapatkan informasi atau menguasai keterampilan guna
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

menyelesaikan tugas serta mereka dapat memecahkan persoalan yang membuat


mereka bergerak untuk mengkaji apa yang mereka nilai dan yakini.
3) Output : meningkatkan proses pembelajaran dan menghasilkan output lulusan
yang mampu bersaing dengan output sekolah lain serta mampu mengikuti arus
perkembangan teknologi.
e. Langkah-langkah Penerapan Model Moving Class
Langkah I : Menetapkan Teknik dalam Pelaksanaan Moving Class
Teknik pelaksanaan meliputi: tata ruang kelas, pendekatan pembelajaran, strategi
serta model pembelajaran.
Langkah II : Menetapkan Sumber Belajar
Dalam pelaksanaan model Moving Class sumber belajar yang digunakan harus
dirancang dengan baik, karena hal tersebut menentukan proses pembelajaran.
Langkah III : Menetapkan Sarana Prasarana
Pelaksanaan model Moving Class membutuhkan lebih banyak sarana prasarana
yang memadahi demi terciptanya lingkungan mata pelajaran yang baik sehingga
pembelajaran yang diciptakan menjadi kondusif dan mengoptimalkan potensi
siswa.
Langkah IV : Pengingkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran
Pelaksanaan model Moving Class membutuhkan yang kompeten di mata pelajaran
tertentu, hal ini dikarenakan pendekatan moving class memungkinkan terjadinya
lebih banyak interaksi antara siswa dan guru, sehingga peran guru sebagai
fasilitator harus benar-benar membantu proses pengupgrade an diri siswa.
f. Evaluasi Pelaksanaan Model Moving Class
Pelaksanaan model Moving Class dapat dilaksanakan dengan secara berkala, guru
dapat melihat proses pembelajaran, antusiasme belajar dan peningkatan
kemampuan dari siswa. Selain itu tertimoni dari siswa juga diperlukan demi
perbaikan sistem dan pembelajaran.
3. Pendekatan sistem dan Pemecahan Masalah Pembelajaran Nasional.
g. Tujuan Pendekatan Sistem
Mewujudkan generasi bangsa yang unggul serta mencetak tenaga kerja
profesional di bidang masing-masing sehingga mewujudkan tujuan pendidikan
indonesia seusai UU No. 20 tahun 2003 bahwa sistem pendidikan nasional harus
mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta
relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu
dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan
h. Alasan Dilakukanya Pendekatan Sistem
Tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, sesuai dengan hasil laporan BPS
(badan pusat stastistik) bahwa BPS mencatat jumlah pengangguran periode Agustus
2020 meningkat pesat. Jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 9,77 juta orang
atau mencapai 7,07% dari seluruh angkatan kerja. Sebelumnya, pada Agustus 2019
jumlah pengangguran di Indonesia hanya 7,10 juta orang atau mencapai 5,23% dari
total angkaran kerja.
i. Desain Pendekatan Sistem Dalam Membangun Kembali Sistem Pendidikan
Di Indonesia.
1) Sistem Pendidikan Baru Kurikulum Kementrian
Konsep desain pendidikan baru di Indonesia ialah Sekolah Kementrian di
Semua Jenjang, melihat kesuksesan beberapa sekolah dibawah naungan
kementrian (kedinasan) seperti STAN, IPDN, STIS, STIN serta kesempatan dan
peluang kerja yang tinggi menjadi salah satu motivasi serta alasan konkret
bahwa sekolah naungan kementrian patut dicoba.
2) Konsep Pendidikan Baru Kurikulum Kementrian
Konsep dari sekolah kurikulum kementrian ialah, bahwa setiap kementrian
harus menangani dan menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan
bidang kementrian. Contoh : Kementrian keuangan wajib menyelenggarakan
program pendidikan mulai jenjang Sekolah Menengah Pertama, Sekolah
Menengah Atas hingga tingkat perguruan tinggi. Kurikulum yang diberikan
berfokus kepada sektor-sektor keuangan seperti statsitika, akutansi, pajak, bea
cukai, manajemen keuangan. Sehingga tujuanya adalah mencetak tenaga
profesional dibidangnya.
Contoh lain kementrian Pariwisata dan Ekonomi kreatif wajib
menyelenggarakan program pendidikan mulai jenjang Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga tingkat perguruan tinggi. Kurikulum
yang diberikan berfokus kepada sektor-sektor pariwisata dan ekonomi kreatif
seperti perhotelan, traveling, pengembangan destinasi, inovasi pariwisata,
pemasaran pariwisata, pembangunan ekonomi kreatif dll.
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

Maka dengan demikian setiap siswa berfokus kepada minat serta dicetak
menjadi seorang profesional dan siap kerja dibidang masing-masing. Tenaga
pendidik yang dipilih harus didelegasikan serta orang-orang yang dipilih
langsung oleh lembaga kementrian penyelenggara. Tujuanya ialah pendidik
yang bertugas adalah seseorang profesional.
Tugas kementrian kebudayaan dan pendidikan ialah menyelenggarakan
pendidikan dasar kepada seluruh siswa serta bekerja sama dengan seluruh
kementrian dalam pelaksanaan sistem sekolah kurikum kementrian dalam
menciptakan sistem pendidikan baru. Beberapa tujuan pendidikan dasar yang
diselenggarakan oleh kemedikbud ialah 1) menggali minat dan bakat siswa
sebagai bekal untuk memilih sekolah kementrian ditingkat selanjutnya, 2)
memberikan ilmu dan membentuk karakter dasar bagi siswa, sebagai bekal
dalam memilih jenjang sekolah berikutnya, 3) membantu mengawasi serta
melaksanakan program sekolah kementrian yang diselenggarakan. Dengan
demikian, beban, tugas dan tuntutan yang diberikan kepada kemendikbud dalam
mwejudukan generasi unggul dan mampu bersaing di dunia global serta mampu
mengadapi tantangan teknologi menjadi semakin ringan karena kerjasama dari
semua pihak.
Kemudian dalam menciptakan tenaga kerja yang lebih profesional secara
karakter, maka di tahun terakhir siswa diwajibkan mengikuti training
ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh kementrian ketenagakerjaan, tujuanya
memberi pengetahuan dan gambaran tentang dunia kerja serta prinsip kerja
kepada siswa.
Alasan kuat sistem pendidikan ini diterapkan sejak sekolah menengah
pertama ialah karena pengetahuan yang dimiliki serta minat siswa terhadap
suatu bidang tertentu harus diapresiasi sejak mereka belia, sehingga ketika
menginjak usia siap kerja siswa telah menguasai bidang keilmuwan yang
mereka pelajari. Alih-alih memaksa seorang yang pandai dan berbakat dalam
bidang komunikasi visual menjadi seorang akuntan, akan lebih baik menjadikan
seseorang tersebut menjadi direktur TV swasta nasional.
j. Komponen-komponen Sistem Pendidikan Baru Kurikulum Kementrian
Input :Siswa, orang tua, psikolog, Guru atau Trainer atas rekomendasi kementrian
penyelenggara, kurikulum yang diajukan kementrian penyelenggara (kurikulum
harus memuat seluruh sistem dan komponen pembelajaran, baik secara materi,
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

startegi, evaluasi), bidang jurusan dari setiap kementrian yang disesuaikan dengan
kebutuhan, program pendidikan dasar kementrian kebudayaan dan pendidikan,
program pelatihan ketenagakerjaan dari kementrian ketenagakerjaan.
Proses : proses di pendidikan dasar berfokus pada minat siswa dalam suatu bidang
tertentu serta memberikan pendidikan yang bersifat dasar sehingga memberikan
gambaran kepada siswa tentang bidang yang di minati. Kemudian siswa bersama
orang tua, dengan bimbingan psikolog diarahkan dan dimintai pendapat tentang
sekolah lanjutan yang diminati serta bakat yang dimiliki siswa, guru membantu
dalam memberikan laporan penilaian kemampuan siswa.
Siswa pada sekolah menengah pertama, atas dan tinggi belajar disekolah yang
sesuai dengan bakat dan minat mereka, kementrian penyelenggara wajib
menyiapkan pelayanan terbaik bagi siswa diseluruh tingkat pendidikan.
Output : menciptakan SDM profesional dan ahli dibidang masing-masing.
k. Langkah -Langkah
1) Langkah I : Menciptakan Kurikulum Disetiap Sekolah Kementrian
Sekolah kementrian harus menciptakan kurikulum sesuai dengan visi-misi dari
kementrian yang bersangkutan, sehingga seluruh proses pembelajaranya sesuai
dengan kebutuhan disetiap kementrian. Kementrian bebas mendirikan jurusan
baru sesuai bidang kajian kementrian tersebut dengan bantuan dan kerjasama
dari kemendikbud.
2) Langkah II : Memilih Tenaga Pendidik Disetiap Sekolah Kementrian
Kementrian penyelenggara pendidikan harus memilih tenaga pendidik
profesional yang akan bertugas di sekolah kementrianya, hal ini tentu harus
bekerja sama dengan kemendikbud. Maka dari itu, kementrian pelaksana harus
menciptakan sistem perekrutan serta standar kompetensi yang harus dimiliki
oleh calon pendidik dan disesuaikan dengan visi-misi kementrian.
3) Langkah III : Menciptakan Kurikulum Sekolah Dasar
Pendidikan dasar yang dilaksanakan kemendikbud menjadi sangat penting
posisinya, hal ini karena pendidikan dasar menjadi penentu seseorang dalam
memilih dan memahami bidang kemampuan mereka, pendidikan dasar menjadi
faktor kunci dalam menentukan masa depan seseorang. Maka kurikulum yang
diciptakan harus kurikulum yang bersifat menggali potensi siswa, bukan
kurikulum yang memberikan banyak beban pelajaran kepada siswa. Visi-misi
UTS PENSIS_S812102002_S2TP DINI WAHYUMULYASARI

kurikulum pendidikan dasar harus memuat seluruh visi-misi sekolah kementrian


di atasnya.
Tenaga pendidik dalam sekolah dasar menjadi faktor penting maka dengan
demikian, kemendikbud harus menetapkan standar tinggi dalam menentukan
tenaga pendidik di sekolah dasar, selain itu dalam sistem pendidikan dasar harus
melibatkan peran orang tua dan psikolog.
4) Langkah IV : Pelaksanaan Secara Bertahap
Perubahan besar-besaran dalam bidang pendidikan tentunya tidak akan mudah
dilakukan, serta diperlukan perencaan dan pelaksanaan selama beberapa tahun.
Maka dalam masa transisi dari pendidikan sekolah hari ini dengan pendidikan
sekolah kurikulum kementrian harus dilaksanakan secara bertahap. Sebagai
contoh, sistem ini dapat dilakukan di perguruan tinggi kemudian dilanjutkan
kepada sekolah menengah atas serta sekolah menengah pertama.
5) Langkah IV : Penyiapan Sarana, prasarana dan Administrasi
Sarana prasarana pendidikan adalah faktor penting dalam pelaksanaan
pendidikan, sarana-prasarana serta sumber dana serta administrasi harus
disiapkan dan direncakan dengan matang serta disesuaikan dengan kementrian
penyelenggara.
l. Evaluasi Pelaksanaan Sekolah Kurikulum Kementrian
Hasil SDM yang di produksi oleh sistem baru tidak dapat dirasakan secara langsung
(output lulusan pertama dari setiap jenjang sekolah), dengan demikian proses
evaluasi para sistem ini ialah dengan menilai pelaksaan pendidikan secara berkala
dan terus menerus. Penilaian ini melibatkan seluruh pelaku pendidik baik, peserta
didik (Siswa), Guru, serta pengamat pendidikan (profesional).