Anda di halaman 1dari 4

Yth, Tutor

Garry dan Anne adalah pasangan suami istri warga negara Inggris yang
berdomisili di Indonesia selama belasan tahun. Keduanya menikah di
Inggris sebelum datang ke Indonesia, tetapi kemudian memutuskan
bercerai pada saat mereka masih tinggal di Indonesia. Hukum Indonesia
mengakui asas nasionalitas sedangkan hukum Inggris mengakui asas
domisili.

Setelah bercerai dengan Anne, Garry bermaksud melangsungkan


pernikahan dengan Marvin yang berkewarganegaraan Belanda di pulau
Bali. Mereka berdua adalah pasangan sesama jenis dan berdasarkan
hukum Belanda pernikahan tersebut dapat dilegalkan.

Diskusikan :

Hukum negara manakah yang digunakan dalam kasus perceraian Gary


dan Anna berdasarkan Teori Renvoi? Uraikan jenis dan alur
penunjukannya.

TUGAS 2 - SESI 5

Dalam hukum perdata internasional paling Tidak Dikenal dua prinsip yang
sampai sekarang masih sangat berpengaruh dalam menentukan status
personal seseorang yaitu prinsip nasionalitas (kewarganegaraan) dan prinsip
domisili, selain juga dengan berkembangnya prinsip habituelle residence.
Masalah akan timbul apabila kedua prinsip ini bertemu satu dengan lainnya.
misalnya berkaitan dengan menentukan status personal seseorang yang
berasal dari negara yang menganut prinsip domisili yang mempunyai tempat
tinggal di negara yang menganut prinsip nasionalitas negara asal orang
tersebut menentukan bahwa status personal seseorang tunduk pada hukum
tempat seseorang itu mempunyai domisili sedangkan negara tempat orang
tersebut mempunyai tempat tinggal menentukan bahwa status personal
seseorang tunduk pada hukum nasionalnya atau hukum dari negara tempat ia
menjadi warga negara. Hal inilah yang menimbulkan permasalahan
penentuan hukum yang berlaku untuk status personal seseorang. masalah ini
dapat diselesaikan menggunakan teori penunjukan kembali atau renvoi.
Pembahasan teori penunjukan kembali atau renvoi ditujukan untuk
menentukan status personal seseorang. dalam beberapa literatur asing, ada
yang menghubungkan Teori ini dengan bidang-bidang hukum yang lain
seperti perbuatan melawan hukum atau kepailitan. Walaupun demikian
tampaknya tidak banyak para akademisi dan praktisi yang mendukungnya
sehingga tetaplah penggunaan teori penunjukan kembali atau renvoi lebih
diutamakan dengan masalah status personal seseorang.

Masalah lain yang kemudian mungkin timbul akibat digunakannya teori


penunjukan kembali atau renvoi adalah menentukan apa yang dimaksud
dengan istilah hukum asing. jikalau sistem hukum perdata internasional suatu
negara menunjukkan memberlakukan hukum asing yang menjadi pertanyaan
Apakah penunjukan hukum asing itu hanya pada kaidah-kaidah hukum Insan
negara asing tersebut atau penunjukan lebih luas lagi ketika termasuk kaidah-
kaidah HPI negara asing tersebut.

Ketika kita teliti lebih jauh negara Inggris menganut teori double renvoi. Teori
Double renvoi ini merupakan model penunjukan hakim di Inggris ketika
mengadili perkara HPI seolah-olah ia berada di kursi hakim negara asing yang
terkait. Sedangkan teori penunjukan kembali di Indonesia sampai saat ini
masih menganut Pasal 16,17,18 Algemene Bepalingen (AB) berdasarkan S.
1847-23. Pasal tersebut Sampai sekarang masih menjadi acuan karena Sejak
Indonesia merdeka belum ada aturan yang menggantikan keberadaan ketiga
pasar ini. penggunaan ketiga pasal tersebut berdasarkan pasal 2 aturan
peralihan UUD 1945 (Sebelum Amandemen) Yang sekarang ini menjadi pasal
1 aturan peralihan UUD 1945 setelah amandemen keempat titik dalam pasal
16 AB yang mengatur status personal orang Kawula Hindia Belanda
(sekarang warga negara Republik Indonesia) adalah prinsip nasionalitas
(kewarganegaraan).

Pasal 16 AB

Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang mengenai status dan wewenang


seseorang tetap berlaku bagi kawula negara Hindia Belanda, apabila ia
berada di luar negeri. Akan tetapi apabila ia menetap di Negeri Hindia
Belanda atau di salah satu daerah koloni Hindia Belanda, selama ia
mempunyai tempat tinggal di situ, berlakulah mengenai bagian tersebut dan
hukum perdata yang berlaku di sana. (KUHPerd. 83.)
Pasal 17 AB

Terhadap barang-barang yang tidak-bergerak berlakulah undang-undang dari


negeri atau tempat di mana barang-barang itu berada. (AB. 18.)

PASAL 18 AB

Bentuk tiap tindakan hukum akan diputus oleh pengadilan menurut


perundang-undangan dari negeri atau tempat, di mana tindakan hukum itu
dilakukan. (KUHPerd. 83, 945; KUHD 517c, 533c.). Untuk menerapkan pasal
ini dan pasal di muka, harus diperhatikan perbedaan yang diadakan oleh
perundang-undangan antara orang-orang Eropa dan orang-orang Indonesia.

Jadi dapat kita tentukan alur dan penunjukannya bahwa negara Inggris
menganut prinsip domisili Dan juga menganut teori double renvoi sedangkan
Indonesia menganut prinsip nasionalitas sehingga permasalahan penunjukan
kembali atau renvoi muncul apabila pasal 16 AB ini diterapkan kepada orang-
orang asing yang negaranya menganut prinsip domisili dimana dalam kasus
ini adalah Gerry dan Anna yang merupakan Warga Negara Inggris. Bagi
orang asing yang berasal dari negara yang mempunyai sistem HPI
berdasarkan prinsip domisili, apabila dia berdomisili di Hindia Belanda
(sekarang dibaca Indonesia), berdasarkan surat edaran tersebut akan
diberlakukan ketentuan yang berlaku bagi golongan Eropa yaitu berdasarkan
ketentuan-ketentuan yang ada di dalam BW. Hal inilah yang membuktikan
diterimanya teori penunjukan kembali atau renvoi dalam praktik administratif
di Indonesia.

Lebih jauh lagi, dikarenakan Gary dan Anne akan bercerai di Indonesia, maka
Jenis teori yang digunakan dalam kasus perceraian mereka adalah teori
double renvoi yang dianut oleh Inggris yang juga menganut prinsip domisili
dan Indonesia yang menganut prinsip nasionalitas. ini dapat terjadi karena
adanya dua prinsip yang berbeda antara 2 negara ini yakni Indonesia dan
Inggris. karena dalam hal ini terjadi keterkaitan antara prinsip nasionalitas
dengan prinsip domisili dalam satu kasus. ada dua orang warga negara
Inggris yang Sudah berdomisili di Indonesia hampir belasan tahun dan akan
bercerai di Indonesia. dalam hal ini yang akan mengatur segala sesuatu
mengenai perceraian tersebut ditentukan oleh hukum Indonesia. mengapa hal
itu bisa terjadi? Bukankah menurut pasal 16 a b berlaku hukum nasional
masing-masing? jadi dalam hal ini akan berlaku hukum Inggris. air tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
A--------------------------B
--------------------------

A: Hukum Indonesia
B: Hukum Inggris

Dalam kasus perceraian dua orang Inggris tersebut dapat dikemukakan


bahwa hukum Indonesia berdasarkan pasal 16 AB akan menunjuk kepada
hukum Inggris sebagai hukum nasional pihak tersebut. tetapi hukum Inggris
sendiri karena menganut prinsip domisili untuk masalah status personalnya
akan menunjuk kembali kepada hukum Indonesia. Dalam teori umum HPI,
Menunjukkan hukum nasional kepada hukum asing tersebut dapat dalam arti:

1. Sachnormen-verweisung, artinya penunjukan tersebut hanya kepada


hukum intern dari hukum asing bersangkutan. Dengan demikian
penunjukan kembali atau renvoi.
2. Gesamt-verwisung, Berarti yang ditunjuk tersebut bukan hanya hukum
intern dari hukum asing itu Tetapi termasuk pula kaidah-kaidah HPI-
nya.

Dalam kasus warga negara Inggris di atas, penunjukan oleh hukum Indonesia
adalah dalam arti Gesamt-verwisung. Sebagaimana diketahui, ketentuan HPI
Inggris mengenai status personal para warganya menganut prinsip domisili.
Dengan demikian bagi warga negara Inggris dimanapun ia berada akan
berlaku hukum domisilinya. Disini kita saksikan pertama kali hukum Indonesia
berdasarkan pasal 16 AB Akan menunjuk hukum Inggris sebagai hukum
yang berlaku tetapi hukum Inggris menunjuk kembali kepada hukum
Indonesia. Terserah kepada Indonesia (dengan yang ditunjuk kembali itu)
Untuk menerima atau menolak penunjukan kembali atau renvoi tersebut. bila
renvoi diterima akan berlaku hukum intern Indonesia Tetapi bila renvoi ditolak
akan berlaku hukum Intern Inggris.

Sumber :
1. Buku Materi Pokok HKUM4304 - Hukum Perdata Internasional : Modul
4 - Teori Penunjukan Kembali (Renvoi) dan Teori Kualifikasi
2. Teori- teori umum hukum perdata internasional yang dapat
mengesampingkan berlakunya hukum asing dengan memberlakukan
hukum nasional sang hakim - Zulfa Djoko Basuki

Anda mungkin juga menyukai