Anda di halaman 1dari 21

Kejahatan Genosida Terhadap Etnis Rohingya, Myanmar Ditinjau Dari

Aspek Hukum HAM Internasional

JURNAL HUKUM

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat


guna menyelesaikan Program Sarjana (S1) Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh :
HADY PRAYOGO
NIM. 11010113120227

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2020
HALAMAN PENGESAHAN

Kejahatan Genoisida Terhadap Etnis Rohingya, Myanmar Ditinjau Dari


Aspek Hukum HAM Internasional

JURNAL HUKUM

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas

dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan

Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum

Oleh :

HADY PRAYOGO

11010113120227

Penulisan hukum dengan judul di atas telah disahkan

dan disetujui untuk diperbanyak

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

H.M. Kabul Supriyadhie, S.H., M.Hum. Prof. Dr. Rahayu, S.H., M.Hum.
NIP 195507271981031023 NIP. 196205051986032001
Kejahatan Genoisida Terhadap Etnis Rohingya, Myanmar Ditinjau Dari

Aspek Hukum HAM Internasional

Hady Prayogo*, H M Kabul Supriyadhie, Rahayu


Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro
Email : hadyyogo@gmail.com

ABSTRAK
Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat secara kodrati pada setiap
umat manusia sebagai anugrah dari Tuhan. Oleh karena itu hak tersebut harus
dihormati tidak boleh dikurangi atau dirampas maupun dilanggar oleh siapapun.
baik itu oleh individu maupun oleh pemerintah suatu negara. Di era modern ini
sering diserukannya Penegakan HAM namun masih pula terjadi Pelanggaran
terhadap HAM khusunya yang dialami golongan minoritas.Salah satu bentuk
pelanggaran HAM yang melukai rasa kemanusiaan sehingga menggerakkan
masyarakat internasional untuk segera mengatasinya adalah kejahatan genosida.
Genosida adalah suatu kejahatan yang dilakukan dengan tujuan memusnahkan
begitu saja, dalam keseluruhan apapun sebagian, suatu kelompok, bangsa, etnis,
rasial atau agama seperti yang terjadi pada muslim rokhinnya di Myanmar
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan hukum ini adalah bentuk
pelanggaran HAM yang terjadi serta bagaimana penyelesaiannya menurut hukum
HAM Internasional.

Metode penulisan hukum ini menggunakan metode pendekatan yuridis


normatif. Dengan menganalisis norma hukum serta instrumen Hukum HAM
Internasional. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini berupa data
sekunder, yang diperoleh dari studi pustaka. Penelitian dilaksanakan melalui
mengumpulkan data untuk disusun serta dikelompokkan kemudian dianalisis
secara kualitatif dan membuat pembahasan serta menarik kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penyelesaian Pelanggaran HAM yang


dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Etnis Rohingnya di Myanmar
belum berjalan dengan sangat baik. Masih diketemukannya bukti bukti
Pelanggaran HAM berat yang mengarah kepada kejahatan Genoisida terhadap
etnis Rohingnya, Berdasarkan pandangan Hukum HAM Internasional mekanisme
penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM tersebut adalah melalui Komisi kebenaran
dan Rekonsiliasi. Penyelesaian ini diharapkan mempunyai peran besar dalam
menghilangkan praktik kekebalan hukum (impunity) atau perlakuan istimewa
lainnya yang sebelumnya didapatkan oleh para pemimpin negara dan aparat
negara di tingkat tinggi yang melanggar hak asasi manusia di masa lalu.
Kata Kunci : Pelanggaran Ham Berat, Genoisida Etnis Rohingnya,
Penyelesaian Kasus.
Human rights are rights inherently inherent in every human being as a gift
from God. Therefore these rights must be respected and must not be reduced or
deprived of or violated by anyone. both by individuals and by the government of a
country. In this modern era, human rights enforcement is often called, but there
are still violations of human rights especially those experienced by minorities.
One form of human rights violations that hurts humanity so that it moves the
international community to immediately address them is a crime of genocide.
Genocide is a crime committed with the aim of wiping out, in whole whatever
part, a group, nation, ethnicity, racial or religion as happened to the Muslim
Rokhinnya in Myanmar As for the problem in writing this law is a form of human
rights violations that occur as well as how is the solution according to
international human rights law.
This legal writing method uses the normative juridical approach. By
analyzing legal norms and instruments of international human rights law. The data
source used in this research is secondary data, obtained from literature study.
Research is carried out through collecting data to be compiled and grouped and
then analyzed qualitatively and making discussions and drawing conclusions.
The results showed that the Human Rights Violation Settlement conducted by
the Myanmar government against the Rohing Ethnic in Myanmar has not been
going very well. Still found evidence of gross human rights violations that lead to
crimes Genoisida against ethnic Rohingnya, Based on the view of international
human rights law the mechanism for resolving cases of human rights violations is
through the Truth and Reconciliation Commission. The settlement is expected to
have a large role in eliminating the practice of impunity or other special treatment
previously obtained by state leaders and state officials at high levels that violated
human rights in the past.
Keywords: Severe Ham Violations, Rohingya Ethnic Genocide, Case
Resolution

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia sebagai makhluk kesejahteraan umat manusia, oleh


ciptaan Tuhan yang mengemban Pencipta-Nya dianugerahi hak asasi
tugas mengelola dan memelihara untuk menjamin keberadaan harkat
semesta dengan penuh ketaqwaan dan martabat kemuliaan dirinya serta
dan tanggung jawab untuk keharmonisan lingkunganya.
Soetandyo Wignjosoebroto martabat dan hak-hak yang sama.3
mengartikan hak asasi manusia Pasal 2 DUHAM juga menyatakan
(HAM) sebagai bagian dari harkat bahwa setiap orang berhak atas
dan martabat merupakan hak dasar semua hak dan kebebasan-kebebasan
yang secara kodrati melekat pada diri yang tercantum di dalam Deklarasi
manusia dan diakui secara universal, ini tanpa pengecualian apapun
oleh karena itu harus dilindungi, seperti perbedaan ras, warna kulit,
dihormati, dipertahankan dan tidak jenis kelamin, bahasa, agama,
boleh diabaikan, dikurangi, atau politik, atau pandangan lain, asal-
dirampas oleh siapapun. Muladi juga usul kebangsaan atau
mengemukakan pengertian HAM kemasyarakatan, hak milik, kelahiran
sebagai hak yang melekat secara atau kedudukan yang lain.4
ilmiah (inherent) pada diri manusia
sejak manusia lahir, dan tanpa hak Maka dari itu, tidak akan
tersebut manusia tidak dapat tumbuh diadakan pembedaan atas dasar
dan berkembang sebagai manusia kedudukan politik, hukum atau
yang utuh.1 kedudukan internasional dari negara
atau daerah dari mana seseorang
HAM bersifat inherent (melekat berasal, baik dari negara yang
pada manusia), universal (berlaku merdeka, yang berbentuk wilyah-
untuk semua orang di dunia), wilayah perwalian, jajahan atau yang
inalienable (tidak dapat diingkari), berada di bawah batasan kedaulatan
indivisible (tidak dapat dipisahkan), yang lain”. Saat ini, tidak ada
interdependent (saling tergantung), satupun aspek kehidupan yang kita
harus dihormati satu sama lain, dan jalankan, bisa keluar dari HAM.
tidak boleh dikurangi atau dirampas
oleh siapapun. Berdasarkan hal
tersebut dapat dikemukakan bahwa
3
HAM adalah hak-hak manusia yang Universal Declaration of Human Rights
asasi, yang tanpa hak-hak tersebut 1948, (Article 1).
seseorang tidak bisa dikatakan “All human beings are born free and equal
sebagai manusia sepenuhnya, bahkan indignity and rights. They are endowed with
jika hak-hak tersebut dikurangi atau reason and conscience and should act
towards one another in a spirit of
dilanggar, maka berkurang pula
brotherhood.”
kualitasnya sebagai manusia ciptaan 4
Universal Declaration of Human Rights
Tuhan.2
1948, (Article 2).
Di dalam Deklarasi Universal “Everyone is entitled to all the rights and
Hak-hak Asasi Manusia (Universal freedoms set fourth in this
Declaration of human Rights) atau declaration,without distinction of any kind,
such as race, colour, sex, language,
DUHAM terdapat pernyataan umum
religion, political or other opinion, national
mengenai HAM. Pasal 1 DUHAM
or social origin, property, birth or other
menyatakan bahwa semua orang
status. Furthermore, no distinction shall be
dilahirkan merdeka dan mempunyai
made on the basis of the political,
jurisdictional or international status of the
1
Rahayu, Hukum Hak Asasi Manusia country or territory to which a person
(HAM), (Semarang, Badan Penerbit belongs, whether it be independent, trust,
Universitas Diponegoro, 2010), halaman. 2. non-self-governing or under any other
2
Ibid., halaman 3-4. limitation of sovereignty.”
Maka pembahasan utama saat ini fundamental hak-hak korban, melalui
adalah permasalahan HAM.5 tindakan criminal yang dilakukan
oleh Negara termasuk
Namun pengekangan kebebasan penyalahgunaan kekuasaan. Pada
atas hak-hak yang dimiliki Pasal 188 Declaration of Basic
seseorang, pendiskriminasian suatu Principles of Justice for Vistims of
etnis sampai pada pemusnahan suatu Crime and Abuse of Power 1985
kelompok tertentu masih saja yang dimaksud dengan korban
terjadi. Pelanggaran-pelanggaran adalah orang yang secara individu
tersebut masih ada dan terjadi di atau kolektif telah menderita
tengah-tengah masyarakat kerugian, termasuk luka fisik atau
internasional yang menjunjung tinggi mental, penderita emosional,
persamaan dan martabat kehidupan kerugian ekonomi, atau gangguan
manusia. Tindakan tindakan tersebut fundamental hak-hak korban, melalui
merupakan salah satu bentuk dari tindakan yang menurut hukum
pelanggaran HAM.6 nasional bukan merupakan
pelanggaran, namun disadari secara
Pelanggaran HAM secara
internasional adalah perbuatan yang
implicit terdapat di dalam Pasal 1
melanggar HAM.
dan Pasal 18 Declaration of Basic
Principles of Justice for Victims of Salah satu bentuk pelanggaran
Crime and Abuse of Power 1985. berat HAM yang melukai rasa
Pada Pasal 17 Declaration of Basic kemanusiaan sehingga
Principles of Justice for Vistims of menggerakkan masyarakat
Crime and Abuse of Power 1985 internasional untuk segera
disebutkan bahwa yang dimaksud mengatasinya adalah kejahatan
korban adalah yang secara individu genosida. Genosida termasuk dalam
atau kolektif telah menderita delicta jure gentium (delicta jure
kerugian, termasuk luka fisik atau gentium digunakan untuk
mental, penderitaan emosional, menggantikan istilah commune
kerugian ekonomi, atau gangguan hostis hominem yang berarti musuh
5
umat manusia).9
Hamid Awaludin, HAM : Politik, Hukum,
& Kemunafikan Internasional, Kompas,
Jakarta, 2012, Hal. 13.
6
Boer Mauna , Hukum Internasional : 8
Declaration of Basic Principle of Justice
Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, edisi ke-2, Alumni, for Victims of Crime and Abuse of Power
Bandung, 2005, Hal. 672 1985, (Article 18 ).
7
Declaration of Basic Principle of Justice “Victims means person who, individually or
for Victims of Crime and Abuse of Power collectively, have suffered harm, including
1985, (Article 1 ). physical or mental injury emotional
“Victims means person who, individually or suffering, economic loss or substantial
collectively, have suffered harm, including impairment of their fundamental rights,
physical or mental injury, emotional throught acts or omissions that to not yet
suffering, economic loss or substantial constitude violations of national criminal
impairment of their fundamental rights, laws but of internationally recognized
through acts or omissionthat are in norms relating to human roghts.”
9
violations of criminal laws operactive within Eddy O S Hiariej, Pengadilan atas
Member States, including those laws Beberapa Kejahatan Serius terhadap HAM,
proscribing criminal abuse of power” (Jakarta, Erlangga, 2010), halaman, 2.
Kejahatan genosida merupakan suatu Barat. Populasi Rohingya
tindak kejahatan yang menhantui terkonsentrasi di dua kota utara
umat manusia dan telah negara bagian Rakhine yang
menyebabkan banyak korban jiwa. sebelumnya bernama Arakan. Etnis
Konvensi tentang Pencegahan dan Rohingya tinggal di perbatasan
Penghukuman terhadap Kejahatan Myanmar dan Bangladesh sejak
Genosida 1948 (Convention on wilayah tersebut masih menjadi
Prevention and Punishment of Crime jajahan Inggris, sampai pada saat
of Genocide 1948) menyebut kedua negara itu merdeka. Etnis
genosida sebagai kejahatan yang Rohingya mendapat perlakuan buruk
bertentangan dengan rasa dari pemerintah Myanmar. Selama
kemanusiaan, tujuan-tujuan PBB, etnis Rohingya tinggal di negara
dan dikutuk oleh dunia yang bagian Rakhine Utara yang masih
beradab.10 dalam wilayah negara Myanmar,
perlakuan buruk terus menerus
Dewasa ini dunia internasional dilakukan oleh pemerintahannya
sedang goncar-goncarnya sendiri sehingga etnis Rohingya
menyerukan penegakan HAM harus mengungsi di negaranya
kepada seluruh umat manusia, sendiri.11
namun pada saat yang bersamaan,
pelanggaran berat HAM masih Junta Militer Myanmar yang
terjadi terhadap umat manusia. berkuasa menerapkan dua cabang
Pelanggaran berat HAM yang terjadi kebijakan yaitu de-Islamisasi di
pada etnis Rohingya di Rakhine Myanmar yang berupa pemusnahan
Myanmar masih terus terjadi hingga isik atau pembersihan etnis Rohingya
saat ini. Bukti-bukti pelanggaran di Rakhine dan asimilasi budaya
berat HAM yang terjadi pada etnis etnis Rohingya yang sebagian besar
Rohingya dapat diindikasikan bahwa beragama Islam. Tujuan utama junta
telah terjadi tindakan genosida pada militer pada saat itu adlah untuk
etnis Rohingya. mengubah daerah yang ditempati
etnis Rohingya yang mayoritas
Rohingya adalah etnis yang beragama Islam menjadi daerah
mayoritas beragama Islam di negara Budha Myanmar dengan
bagian Rakhine Utara di Myanmar memindahkan Muslim ke tempat
10
yang tidak signifikan atau tidak bisa
Convention on Prevention and Punishment
dikelola. Tindakan-tindakan tersebut
of Crime of Genocide 1948, (Preamble)
mengindikasikan telah terjadinya
“The Contracting Parties. Having
considered the declaration made by the
scenario pembasmian etnis terhadap
General Assembly of the United Nations in
etnis Rohingya.12
this Resolutions 96 (I) dated 11 December
11
1946 that genocide is a crime under Kisah Tragedi Pembantaian Etnis Muslim
international law, contrary to the spirit and Rohingya Dari dulu Hingga Kini,
aims of the United Nations and condemned http://demokrasiindonesia.com/2015/07/29/k
by the civilized world. Recognizing that all isah-tragedi-pembantaian-etnis-muslim-
periods of history genocide has inflicted rohingya-dari-dulu-hingga-kini/, diakses
great losses on humanity, and Being pada tanggal 31 Maret 2018.
12
convinced that, in order to liberate mankind Hikmahbudhi Desak Myanmar Tinjau UU
from such an odious scourage,international Kewarganegaraan,http://hminews.com/new
co-operation is required.” s/hikmahbudhi-desak-myanmar-tinjau-uu-
Pemerintah Myanmar atas pembantaian etnis ini tidak bisa
melakukan pembunuhan, atau dibenarkan.
pembersihan, pengusiran dan
perampasan harta kekayaan etnis Kasus tersebut sangat menarik
Rohingya. Pada tanggal 28 Maret untuk diteliti, sehingga dilakukan
1945, telah terjadi apa yang disebut penelitian yang akan membahas
mereka sebagai Rohingya’s mengenai tindakan-tindakan
Massacre. Peristiwa tersebut telah kekerasan yang dialami oleh etnis
menewaskan hamper 100.000 orang Rohingya di Rakhine Myanmar.
di Arakan. Berikutnya Kalagong Permasalahan dibatasi pada hal
Massacre Juli 1945, sekitar 600 etnis pengidentifikasian tindakan-tindakan
Rohingya tewas. Operasi Naga Min yang dapat dikategorikan sebagai
(King Dragon Operations) Yang pelanggaran berat HAM berupa
dikendalikan oleh pemerintah genosida dan bagaimana
Myanmar. King Dragon Operations penyelesaian kasus tersebut dalam
merupakan suatu peristiwa besa perspektif hukum HAM
karena laki-laki, perempuan, tua internasional. Berdasarkan hal
muda, disiksa, diperkosa, dan tersebut maka dilakukan penulisan
dibunuh di Desa Ahyab, sebelah hukum dengan judul “Kejahatan
Utara Arakan. Secara faktual rezim Genoisida Terhadap Etnis
militer Budha telah menjadi Rohingya, Myanmar Ditinjau Dari
penguasa yang brutal, biadab, dan Aspek Hukum Internasional”
tirani.13
B. RUMUSAN MASALAH
Adanya berbagai perlakuan 1. Apakah kekerasan terhadap
kejahatan yang melanggar HAM etnis Rohingya merupakan
dilakukan oleh otoritas Myanmar pelanggaran berat hak asasi
terhadap etnis Rohingya tidak bisa manusia?
dibenarkan. Di tengah-tengah
2. Bagaimana penyelesaian
maraknya kampanye dalam
kasus tersebut dalam
penegakan HAM oleh masyarakat
perspektif hukum hak asasi
internasional tidak dibarengi dengan
manusia internasional?
kenyataan yang dialami oleh etnis
Rohingya. Padahal seharusnya C. TUJUAN PENELITIAN
negara menjamin kehidupan yang Adapun tujuan penelitian yang
layak dan bebas dalam menentukan ingin dicapai melalui penelitian ini
nasibnya sendiri oleh warga adalah :
negaranya seperti yang dicantumkan 1. Untuk mengetahui dan
dalam Universal Declaration of menganalisis apakah
Human Rights (UDHR) Pelanggaran tindakan-tindakan kekerasan
yang terjadi pada etnis
Rohingya itu merupakan
kewarganegaraan/, diakses pada tanggal 31 pelanggaran berat HAM yang
Maret 2018. berupa genosida dengan
13
Jawahir Thontowi, Perlakuan Pemerintah melalui instrument-instrumen
Myanmar terhadap Minoritas Muslim yang mengaturnya dan
Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum dibuktikan dengan peristiwa
Internasional, (Jurnal Pandecta, Volume 8, yang terjadi terhadap etnis
Januari, 2013), halaman 45.
Rohingya di Rakhine mengetahui bagaimana keadaan yang
Myanmar. ada pada teori dan praktek, sehingga
2. Untuk mengetahui cara diharapkan pada akhir kegiatan dapat
penyelesaian kasus dan memecahkan masalah yang ada.
melalui mekanisme apa saja Oleh karena itu, penulis
yang memungkinkan jika menggunakan penelitian deskriptif
terjadi pelanggaran berat analitis dengan maksud untuk
HAM oleh etnis Rohingya memberikan gambaran mengenai
dalam perspektif hukum hak kondisi dan kenyataan yang terjadi di
asasi manusia internasional. lapangan secara objektif, untuk
kemudian secara objektif, untuk
II. METODE PENELITIAN kemudian dapat dilakukan analisis
hukum terhadap temuan-temuan
Metode pendekatan yang yang didapatkan selama penelitian,
dipergunakan dalam penelitian mengenai hal-hal yang berkaitan
hukum ini adalah pendekatan yuridis dengan objek yang diteliti.
normatif. yaitu jenis pendekatan
dengan menggunakan ketentuan III. HASIL PENELITIAN DAN
perundang-undangan yang berlaku PEMBAHASAN
pada suatu Negara atau metode A. Eksistensi Etnis Rohingya
pendekatan hukum doktrinal yaitu di Rakhine Myanmar
teori-teori hukum dan pendapat para 1. Sejarah Perkembangan
ilmuwan hukum terutama yang Etnis Rohingya di
berkaitan dengan permasalahan yang Rakhine Myanmar
dibahas.14 Pendekatan doktrial Rohingya adalah etnis muslim
mengandung arti pendekatan dari ketiga terbesar di Burma atau yang
aspek teori hukumnya, dalam hal ini sekarang bernama Myanmar. Etnis
pendapat para ilmuan yang menjadi Rohingya bermukim di negara
landasan bahwa tindakan yang bagian Arakan atau Rakhine yang
dilakukan oleh pemerintah Myanmar berbatasan dengan Bangladesh.
Terhadap etnis Rohingnya sangat Rakhine merupakan tempat yang
tidak sesuai dengan Instrumen cukup terkenal bagi para pelaut yang
Hukum HAM Internasional. berasal dari Timur Tengah sebelum
Penelitian ini menggunakan agama Islam masuk ke Rakhine.
spesifikasi penelitian bersifat Agama Islam pertama kali masuk ke
deskriptif analitis. Bersifat deskriptif Rakhine dibawa oleh bangsa Arab
karena penelitian ini mempunyai yang dipimpin oleh Muhammad bin
maksud untuk memberikan Hanafiya pada tahun 680 M. pada
gambaran secara rinci, sistematis, tahun 680 M Rakhine dikuasai oleh
dan menyeluruh mengenai segala kelompok kanibal yang dipimpin
sesuatu yang berhubungan dengan oleh Ratu Kaiyaputri. Muhammad
penulisan skripsi ini.15 Analisa bin Hanafiya datang ke Myanmar
penelitian ini diharapkan dapat untuk menyebarkan agama Islam dan
14
berhasil menaklukan Ratu
Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum
dan Jurimetri, (Jakarta: Ghalia Indonesia, Kaiyaputri, sehingga Ratu Kaiyaputri
1998), hlm. 24. ikut memeluk agama Islam dan
15
Hadari Nawawi dan Mimi Martini, menikah dengan Muhammad bin
Penelitian Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Hanafiya. Dakwah Islam pun meluas
Mada University Press, 1994), hlm 73.
ke seluruh daerah Rakhine oleh Dewasa ini Rakhine adalah
pedagang dan pelaut yang berasal wilayah yang didiami oleh dua
dari keturunan asli dari Muhammad komunitas etnis, yaitu Budha Arakan
bin Hanafiya fan Ratu Kaiyaputri atau Rakhaing dan etnis Rohingya.
serta oleh para pedagang dan pelaut Etnis Rakhaing menempati wilayah
dari Timur Tengah.16 Rakhine Selatan sedangkan etnis
Bangsa Arab, Moor, Turki, Rohingya tinggal di Rakhine Utara
Moghuls, dan Bengal banyak yang terutama di daerah Buthidaung dan
datang ke Rakhine sebagai pedagang, Maungdaw.19
prajurit, dan ulama. Pendatang dari Etnis mayoritas Rohingya di
Timur Tengah datang melalui jalur Myanmar menjadi suatu masyarakat
darat dan laut. Pendatang dari Timur yang memiliki nasib sama yaitu
Tengah mayoritas tinggal di Rakhine terkucilkan di tanah kelahirannya.
dan bercampur dengan penduduk Faktor sejarah, hukum, social dan
setempat, percampuran tersebut ekonomi dapat menjelaskan alasan
membentuk etnis baru yang etnis Rohingya menjadi korban
dinamakan etnis Rohang. Etnis keganasan pemerintah junta militer
Rohang sudah menetap di Rakhine Myanmar.
sejak abad ke-7. Etnis Rohang Berdasarkan factor sejarah,
terbentuk dari percampuran berbagai etnis Rohingya merupakan keturunan
suku yang berbeda. Etnis Rohang kaum imigran yang datang ke
tersebut yang menjadi cikal bakal Myanmar beberapa abad silam. Kata
lahirnya etnis Rohingya di Rohingya berasal dari bahasa Arab
17
Myanmar. Rahama yang digunakan Kesultanan
Rakhine yang sebelumnya Bengal, artinya adalah kasih saying.
bernama Arakan dan pada mulanya Postur tubuh dan bahasa yang
dinamakan Rohang, merupakan digunakan etnis Rohingya cenderung
bangsa yang beridri sendiri sejak memiliki kesamaan dengan bangsa
awal mula sejarah bangsa itu dikenal. Bangladesh.Bahasa sehari-hari yang
Etnis yang tinggal di daerah Arakan digunakan oleh Etnis Rohingya
(Rohang) dinamakan etnis Rohang merupakan bahasa yang berkaitan
karena etnis tersebut tinggal di dengan bahasa Chitagonian.Bahsa
daerah yang awalnta bernama Chitagonian digunakan oleh
Rohang, kini daerah tersebut mayoritas penduduk yang tinggal di
bernama Rakhine dan etnis yang wilayah perbatasan Bangladesh
tinggal di daerah tersebut berganti dengan Myanmar Barat. Secara
nama yang dikenal dengan sebutan geografis meyoritas dari etnis
etnis Rohingya. Arakan merupakan Rohingya tinggal di daerah rakhine
kata jamak dari rukn yang berasal yaitu daaerah perbatasan antara
dari bahasa Arab yang artinya ‘tiang- Bangladesh dengan Myanmar
tiang’.Kata tersebut mencirikan ke- Barat.Pada zaman pendudukan
Islaman dari etnis Rohingya.18 Jepang, etnis Rohingya terkucilkan

16 18
Mohammed Ashraf Alam, A Historical Riza Shibudi, Problematika Minoritas
Background, (Burma, Rohingya Press, Muslim di Asia Tenggara Kasus Moro,
2006), halaman 4. Pattani, dan Rohingya, (Jakarta, PPW-LIPI,
17
John L Espasito, Myanmar, Ensiklopedi 2000), halaman 51.
19
Oxford Dunia Islam Modern, (Bandung, Mohammed Ashraf Alam, Op cit.,
Mizan, 2001), halaman 140. halaman 2.
karena tidak bisa berkolaborasi Etnis Rohingya menjadi warga
dengan penduduk asli Myanmar.20 masyarakat yang tidak memiliki
2. Status Politik Etnis status kewarganegaraan karena
Rohingya dan Perlakuan tindakan diskriminatif yang
terhadap Etnis Rohingya dilakukan oleh pemerintah junta
militer dan berbagai pernyataan
Negara Myanmar berdiri melalui tokoh-tokoh politik Myanmar yang
proses integrasi social dan politik tidak menguntungkan etnis
sibawah pemerintahan Jepang pada Rohingya. Pemerintah junta militer
tahun 1945-an. Lebih dari 130 suku Myanmar menganggap bahwa etnis
melakukan perundingan dan Rohingya bukan sebagai etnis yang
penandatanganan deklarasi dalam terlibat dalam proses pendirian awal
suatu dokumen tentang kemerdekaan Negara Myanmar. Pemerintah
Myanmar. Keterangan yang Myanmar memberikan tanda
diperoleh untuk menjelaskan bahwa pengenal penduduk kepada warga
etnis Rohingya tidak terlibat dalam negaranya sejak dibuatnya Undang-
proses pendirian awal Negara undang (UU) Keimigrasian
Myanmar tidak begitu banyak. Myanmar Tahun 1974.Suku-suku
Dokumen tentang kemerdekaan bangsa keturunan yang tinggal di
Myanmar tersebut yang menjadi Myanmar seperti India, China,
fakta awal timbulnya politik Bangladesh dan suku asli Myanmar
pengucilan di Myanmar terhadap seperti suku Chin dan suku Karen
etnis Rohingya.21 memperoleh kartu identitas sebagai
warga Negara terkecuali kepada etnis
Berdasarkan dokumen Rohingya.Etnis Rohingya hanya
tentang kemerdekaan Myanmar etnis mendapat sertifikat terdaftar orang
Rohingya tidak terlibat dalam proses asing (Foreign Registration
pendirian Negara Myanmar, namun Cards). 23

etnis Rohingya mempunyai


perwakilan di dalam parlemen
Myanmar sebelum pemerintah junta Pemerintah junta militer
militer berkuasa pada tahun 1962. Myanmar mengeluarkan Undang-
Perwakilan etnis Rohingya di dalam undang (UU) Kewarganegaraan
parlemen Myanmar bahkan ada yang Tahun 1982. UU Kewarganegaraan
diangkat sebagai Menteri, Sekretaris tersebut menyebabkan situasi
Parlemen dan beberapa posisi semakin sulit bagi etnis Rohingya,
strategis lainnya, namun setelah karena di dalam Undang-undang
pemerintah junta militer berkuasa tersebut masyarakat Myanmar dibagi
secara otomatis hak politik mereka menjadi tiga kelompok, yaitu:24
dicabut dan jabatan-jabatan di dalam
a. Kewarganegaraan Penuh
parlemen Myanmar yang
(Full Citizen)
sebelumnya diduduki oleh etnis
b. Warga Negara Asosiasi
Rohingya diganti oleh orang-orang
(Accociate Citizen)
Budha dari Arakan.22
20
Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 43.
21 23
Ibid, halaman 43. Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 44.
22 24
Nurul Islam, Nurul Islam,
www.rohingya.com/rohi/summary.html, Op www.rohingya.com/rohi/summary.html, Op
cit., diakses pada tanggal 24 Mei 2018. cit., diakses pada tanggal 24 Mei 2018.
c. Penduduk karena Deklarasi Universal Hak-hak Asasi
naturalisasi Manusia/DUHAM (Universal
(Naturalisation Citizen) Declaration of Human Rights).Pasal
Berdasarkan pengelompokan 15 DUHAM mengatakan bahwa
di dalam Undang-undang setiap orang berhak atas sesuatu
Kewarganegaraan Tahun 1982, etnis kewarganegaraan dan tidak
Rohingya tidak termasuk kedalam seorangpun dengan semena-mena
tiga kelompok tersebut sehingga dapat dicabut kewarganegaraannya.26
otomatis etnis Rohingya tidak
memperoleh kewarganegaraan dan Pemerintah Myanmar dapat
hanya memiliki status sebagai orang dikatakan melanggar Pasal 15
asing. Alasan politis etnis Rohingya DUHAM karena etnis Rohingya
tidak mendapatkan kearganegaraan tidak dikategorikan sebagai warga
berdasarkan Undang-undang negara Myanmar menurut Undang-
Kewarganegaraan Tahun 1982 undang tentang Kewarganegaraan
adalah karena etnis Rohingya pernah Tahun 1982. Pelanggaran HAM
menuntut suatu otonomi dengan terhadap etnis Rohingya terbukti
melakukan perlawanan kepada karena peerintah Myanmar telah
pemerintah Myanmar pada tahun mengucilkan etnis Rohingya yang
1948. Tuntutan etnis Rohingya atas tidak memiliki kewarganegaraan dan
klaim otonomi tersebut juga juga tidak diberikan
menyebabkan suku-suku asli kewarganegaraan oleh pemerintah
Myanmar tidak menyenangi suku Myanmar, padahal etnis Rohingya
Rohingya. Pemerintah junta militer telah tinggal di Myanmar sebelum
juga menuduh etnis Rohingya Myanmar merdeka.27
terlibat dalam jaringan Al-Qaeda
Undang-undang Kewarganegaraan
sebagai gerakan teroris yang
Tahun 1982 jelas bertentangan juga
menjadikan citra etnis Rohingya
dengan Pasal 5 butir D Konvensi
menjadi lebih buruk.Sikap
tentang Penghapusan Diskriminasi
antagonistik tersebut mendorong
Rasial Tahun 1965 (Covention on
timbulkan konflik horizontal dan
The Elimination of All Forms of
kekerasan yang terjadi pada etnis
Racial Discrimination 1965).28Di
Rohingya.25
dalam Pasal 5 butir D Konvensi
26
Universal Ddeclaration of Human Rights
B. Pelanggaran Berat Hak 1948, (Article 15)
Asasi Manusia Terhadap “1. Everyone has the rights to a nationality
Etnis Rohingya 2. No one shall be arbitrarily deprived of his
nationality nor denied the right to change
his nationality.”
1. Kekerasan yang Terjadi 27
Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 46.
Terhadap Etnis Rohingya 28
Convention on The Elimination of All
Forms of Racial Discrimination, (Article 5
Tindakan pemerintah point d)
Myanmar membiarkan etnis “in compliance with the fundamental
Rohingya tidak memiliki obligations laid down in article 2 of this
kewarganegaraan (stateless person) Convention, States Parties undertake to
prohibit and eliminate racial discrimination
merupakan pelanggaran terhadap
in all its forms and to guarantee the right of
everyone, without distinction as to race,
25
Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 5. colour, or national or ethnic origin, to
terebut dikatakan bahwa negara merupakan bentuk pelanggaran
menjamin hak-hak setiap orang tanpa terhadap kewajiban negara untuk
membedakan ras, warna kulit, asal tidak membiarkan penggunaan
usul etnis dan mendapatkan kekerasan dalam menyelesaikan
kesederajatan di hadapan hukum, konflik.Laporan International
khususnya dalam menikmati hak-hak Human Rights Watch menegaskan
atas kebebasan berpindah tempat bahwa Tentara Myanmar yang
tinggal, hak untuk meninggalkan seharusnya melindungi dan menjaga
suatu negara, hak atas konflik justru menembaki etnis
kewarganegaraan, hak atas harta Rohingya dan melakukan perkosaan
kekayaan sendiri, hak untuk atas warga etnis Rohingya.30
mewarisi, hak atas berpikir,
kebebasan berpendapat, kebebasan Etnis Rohingya juga
berkumpul. mengalami pengalaman pahit atas
diskriminasi social budaya yang
Pemerintah Myanmar dengan dialami selama bertahun-
sengaja membiarkan konflik dan tahun.Diskriminasi tersebut meliputi
kekerasan yang terjadi antara etnis perlakuan atas agama, suku dan
mayoritas Budha Rakhine dengan posisi etnis Rohingya sebagai
etnis minoritas Muslim Rohingya kelompok minoritas. Pemerintah
yang telah berlangsung terus- Myanmar melakukan pembatasan-
menerus dan sistematik.Pemerintah pembatasan pada etnis Rohingya.
Myanmar tidak hanya membiarkan Pertentangan antara pemerintah
konflik antar etnis tersebut, namun Myanmar dengan etnis Rohingya
pemerintah Myanmar juga bersekutu sebagai akibat dari perbedaan
dengan etnis mayoritas Budha karakteristik yang tidak bisa
Rakhine.29 disatukan antara adat kebiasaan
masyarakat Myanmar yang
Etnis Rohingya yang menjadi mayoritas beragama Budha dengan
korban tewas, luka-luka, hilang dan etnis Rohingya yang mayoritas
korban pengusiran secara paksa oleh beragama Islam.31
pemerintah Myanmar dipandang
sebagai pelanggaran berat HAM Diskriminasi yang dialami
berupa genosida. Pemerintah oleh etnis Rohingya dalam hal sosial
Myanmar tidak melaksanakan budaya adalah ketika etnis
kewajiban internasional yaitu Rohingya akan menjalankan ibadah
mencegah kekerasan haji atau umroh dan untuk
yang mengancam perdamaian menghadiri pertemuan-pertemuan
dunia.Hal tersebut terbukti dari keagamaan di luar negeri.
sebagian aparatur negara seperti Pemerintah Myanmar melakukan
Tentara terlibat dalam pembantaian pembatasan dan pengawasan yang
etnis Rohingya.Penggunaan aparatur ketat serta kesulitan lain yang
negara untuk melakukan tindkan menghadang etnis Rohingya apabila
kekerasan yang sewenang-weang
30
Tentara Myanmar Tembaki Etnis
equality before the law, notably in the Rohingya,
enjoyment of the following rights: http://news.liputan6.com/read/426542/tentar
(d) othe civil rights, in particular: a-myanmar-tembaki-etnis-rohingya, diakses
…….(iii) the right to nationality…” pada tanggal 31 Maret 2018.
29 31
Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 47. Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 60.
ingin menjalankan ibadah haji atau agar perahu tersebut meninggalkan
umroh. Kesulitan yang dihadapi oleh negara Thailand.33
etnis Rohingya contohnya seperti
pembatasan visa, sulitnya dalam hal Lembaga pengamat HAM di
pengurusan passport dan kecurigaan New York (International Human
oleh pemerintah Myanmar terhadap Rights Watch) dalam keterangan
etnis Rohingya apabila etnis persnya pada tanggal 19 Juli 2002
Rohingya ingin bepergian haji atau mendesak PBB agar segera bertindak
umroh. Contoh nyata diskriminasi menyelamatkan etnis Rohingya.
sosial budaya terhadap etnis Laporan International Human Rights
Rohingya pernah terjadi pada tahun Watch mencantumkan data
1962 tentang pengaturan pembatasan kasusserangan yang dialami oleh
haji. Pada tahun 1962 calon jemaah etnis Rohingya. Aksi pelanggaran
haji asal Myanmar mencapai 500 untuk melakukan ibadah dan
orang, namun dengan adanya penghancuran tempat-tempat ibadah
kebijakan yang ketat dari pemerintah etnis Rohingya masih terus terjadi
junta militer Myanmar, maka jumlah menurut laporan International
orang yang akhirnya mempunyai izin Human Rights Watch. Pemerintah
untuk menunaikan ibadah haji hanya Myanmar juga tidak menghukum
sekitar 16 orang. Izin tersebut orang-orang yang melakukan
diberikan hanya kepada orang-orang perusakan tempat-tempat ibadah
tua yang belum pernah menunaikan etnis Rohingya. Menurut laporan
ibadah haji.32 International Human Rights Watch,
aksi kekerasan terburuk terjadi pada
Etnis Rohingya yang bulan Mei dan Sptember tahun 2001,
mengungsi di luar negara Myanmar ketika krisis ekonomi Myanmar jatuh
juga mendapatkan perlakuan yang pada tingkat paling parah. Di daerah
tidak menyenangkan. Di Bangladesh Taungoo wilayah utara Rangoon
pengungsi yang berasal dari etnis lebih dari 1.000 massa dipimpin oleh
Rohingya menjadi obyek pemerasan, biksu Budha yang marah, menyerang
kekerasan dan kerja paksa. Etnis dan membakar toko-toko, rumah dan
Rohingya yang mengungsi di masjid milik etnis Rohingya. Di
Bangladesh juga dilarang menikah dalam laporan International Human
secara resmi, memiliki tanah, Rights Watch juga menyebutkan
melakukan perjalanan ke luar desa bahwa junta militer Myanmar telah
yang menjadi tempat pengungsian melakukan perkosaan terhadap
dan mendaftarkan anak-anak ke wanita-wanita etnis Rohingya secara
pendidikan formal. Etnis sistematis. Pemerintah junta militer
Rohingya yang akan mengungsi ke Myanmar menggunakan kekuatan
negara Thailand juga mendapatkan senjatanya untuk menghabisi wanita-
perlakuan yang tidak menyenangkan. wanita etnis Rohingya setelah
Di provinsi Ranong, pemerintah memperkosanya.34
provinsi setempat justru
memerintahkan pada aparatnya untuk 33
Bachtiar Abdullah, Derita Muslim
mendorong perahu yang ditumpangi Rohingya Tak Pernah Surut,
http://m.inilah.com/read/detail/1887317/deri
oleh etnis Rohingya kembali ke laut
ta-muslim-rohingya-myanmar-tak-pernah-
surut, diakses pada tanggal 26 Mei 2018.
34
Mike Jendrzeiczyk, International Human
32
Ibid, halaman 62. Rights Wacth Press Release, 19 Juli 2002.
2. Identifikasi Pelanggaran Pemerintah Myanmar telah
Berat Hak Asasi Manusia berlaku kejam dan diskriminatif
terhadap etnis Rohingya yang
Tindak kekerasan berupa mengarah pada meluasnya tragedi
pengusiran secara paksa, kemanusiaan terhadap minoritas
pembunuhan massal, kekerasan yang etnis Rohingya sebagai korban
menyebabkan luka fisik atau mental genosida atau genocide. Pemerintah
yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar melakukan pembunuhan
Myanmar terhadap etnis Rohingya massal, pengudiran dari wilayah
mengarah pada pelanggaran berat tempat tinggal secara paksa dan
HAM berupa kejahatan genosida. perampasan harta kekayaan milik
Berdasarkan fakta-fakta yang telah etnis Rohingya. Pada tanggal 28
diungkapkan pada sub bab Maret 1942 telah terjadi apa yang
sebelumnya, semakin jelas bahwa disebut dengan Rohingya’s
pemerintah Myanmar telah Massacre di daerah Arakan yang
melakukan pelanggaran berat HAM sekarang bernama Rakhine.
berupa genosida terhadap etnis Peristiwa tersebut telah menewaskan
Rohingya. lebih dari 100.000 jiwa etnis
Berdasarkan Pasal 2 Konvensi Rohingya di Rakhine. Peristiwa
mengenai Pencegahan dan berikutnya adalah Kalagong
Penghukuman Kejahatan Genosida Massacre yang terjadi pada tanggal 7
Tahun 1948, genosida berarti setiap Juli 1945 dan menewaskan lebih dari
daari perbuatan-perbuatan yang 600 jiwa etnis Rohingya. Kebijakan
dilakukan dengan tujuan yang diambil oleh pemerintah
memusnahkan begitu saja, dalam Myanmar berupa pengusiran dan
keseluruhan ataupun sebagian suatu pembunuhan massal terhadap etnis
kelompok bangsa, etnis, rasial atau Rohingya adalah cara untuk
agama seperti: membunuh para pemupusan sejarah dan budaya
anggota kelompok, menyebabkan nenek moyang etnis Rohingya dari
luka-luka pada tubuh atau mental tanah kelahiran etnis Rohingya (the
para anggota kelompok, dengan history and culture to their ancestral
sengaja menimbulkan pada land was convieniently ignored).36
kelompok itu kondisi hidup yang Pembunuhan massal terhadap
menyebabkan kerusakan fisiknya etnis Rohingya masih terus berlanjut
dalam keseluruhan atau sebagian, setelah tahun 1945. Operasi militer
mengenakan upaya-upaya yang yang terbessar sepanjang sejarah
dimaksudkan untuk mencegah negara Myanmar terjadi pada tanggal
kelahiran di dalam kelompok itu, 6 Februari 1978 di desa yang
dengan paksa mengalihkan anak- berpenduduk etnis Rohingya terbesar
anak suatu kelompok ke kelompok
lain.35 as such: (a) Killing members of the group,
(b) Causing serious bodily or mental harm
35 to members of the group, (c) Deliberately
Convention on The Prevention and
inflicting on the group conditions of life
Punishment of the Crime of Genocide 1948, calculated to bring about its physical
(Article 2) destruction in whole or in part, (d) Impasing
“ In the present Convention, genocide measures intendend to prevent births within
means any of the following acts committed the group, (e) Forcibly transferring children
with intent to destroy, in whole or in part, a of the group to another group.”
36
national, ethnical, racial or religious group, Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 62.
yaitu di desa Sakkipara di Akyab bagi etnis Rohingya yang datang
masih dalam wilayah Rakhine. mengungsi ke Bangladesh.38
Operasi militer yang diberi nama
Operasi Naga Min merupakan Kebijakan pemerintah Myanmar
tindakan pembunuhan massal yang yang melarang etnis Rohingya untuk
paling banyak menimbulkan korban memiliki lebih dari dua anak sangat
jiwa dari etnis Rohingya. Operasi bertentangan dengan isi Pasal 2 butir
Naga Min merupakan salah satu D Konvensi tentang Pencegahan dan
bukti suatu operasi yang Penghukuman Kejahatan Genosida
dikendalikan oleh pemerintah 1948. Berdasarkan Pasal 2 butir D
Myanmar. Operasi Naga Min Konvensi tersebut pada intinya
merupakan suatu peristiwa adalah yang dimaksud dengan
pembunuhan massal terbesar, karena genosida adalah setiap perbuatan
laki-laki, perempuan, orang tua dan yang tercantum dalam Pasal 2
anak muda disiksa, diperkosa dan Konvensi yang dilakukan dengan
dibunuh di desa Akyab, sebelah utara tujuan memusnahkan keseluruhan
Rakhine. Jenderal Ne Win sebagai ataupun sebagian suatu kelompok,
komandan dari pemerintah junta bangsa, etnis, rasial atau agama
militer Myanmar dan juga sebagai termasuk mengenakan upaya-upaya
komandan tertinggi dalam Operasi yang dimaksudkan untuk mencegah
Naga Min, memerintahkan kelahiran di dalam etnis yang
prajuritnya untuk melakukan dimaksud.39
pembersihan etnis Rohingya dari
Berdasarkan data, dapat
wilayah Rakhine karena menganggap
diketahui kejadian yang menimpa
etnis Rohingya adalah imigran ilegal.
etnis Rohingya adlah pelanggaran
Operasi Naga Min atau King Dragon
berat HAM berupa genosida.
Operation membunuh sebanyak
Berdasarkan data yang telah
200.000 jiwa etnis Rohingya. Etnis
diungkapkan, unsur-unsur untuk
Rohingya yang berhasil melarikan
suatu perbuatan yang dapat
diri dari Operasi Naga Min terpaksa
38
melarikan diri ke Bangladesh agar Esther Kiragu, States of Denial: A Review
of UNHCR’s Response to the Protacted
tidak menjadi korban keganasan dari Situation of Stateless Rohingya Refugees in
pemerintah junta militer Myanmar.37 Bangladesh, (Geneva, Policy Development
and Evaluation Service United Nations High
Pengungsi Rohingya yang Commissioner for Refugess, 2011).
berjumlah sekitar 250.000 jiwa 39
Convention on The Prevention and
membanjiri Bangladesh setelah Punishment of the Crime of Genocide 1948,
militer Myanmar melancarkan (Article 2)
operasi Phy Thaya di Rakhine pada “ In the present Convention, genocide
tahun 1991 dan 1992. Pemerintah means any of the following acts committed
with intent to destroy, in whole or in part, a
Myanmar tidak henti-hentinya
national, ethnical, racial or religious group,
melakukan tindakan represif kepada as such: (a) Killing members of the group,
etnis Rohingya. Pemerintah (b) Causing serious bodily or mental harm
Bangladesh menyediakan 20 tempat to members of the group, (c) Deliberately
pengungsian di distrik Cox’s Bazar inflicting on the group conditions of life
calculated to bring about its physical
destruction in whole or in part, (d) Impasing
measures intendend to prevent births within
the group, (e) Forcibly transferring children
37
Loc.cit of the group to another group.”
dikategorikan sebagai genosida telah kehidupan. Pada Undang-undang
terpenuhi. Peristiwa yang berkaitan tersebut diatur bahwa pemerintah
dengan terpenuhinya unsur-unsur Myanmar tidak mengakui
kejahatan genosida adalah: keberadaan dan tidak mengakui
keraeganegaraan rtnis Rohingya
a. Membunuh para anggota kelompok karena pemerintah Myanmar
yang dilakukan dengan tujuan menganggap bahwa etnis Rohingya
memusnahkan begitu saja, dalam adalah imigran ilegal yang tinggal
keseluruhan ataupun sebagian, di wilayah Myanmar, padahal etnis
suatu kelompok bangsa, etnis, rasial Rohingya sudah sejak berabad-abad
atau agama, peristiwa pembunuhan lalu tinggal di daerah Rakhine yang
terhadap etnis Rohingya jelas sekali dulunya bernama Arakan. Nenek
terjadi, sebanyak lebih dari 300.000 moyang etnis Rohingya adalah
etnis Rohingya telah dibunuh oleh pedagan-pedagang dan ulama dari
pemerintah junta militer maupun Timur Tengah yang berlayar
oleh masyarakat Rakhine yang sampai ke tanah Myanmar. Etnis
mayoritas beragama Budha, serta Rohingya tidak diakui sebagai
kurang lebih 4 (empat) operasi warga negara oleh pemerintah
militer telah dilakukan selama itu Myanmar menyebabkan kehidupan
untuk memusnahkan etnis ekonomi, politik, sosial, dan
Rohingya dari wilayah Myanmar. budaya tergangggu. Dalam hal
masalah ekonomi, etnis Rohinga
b. Perbuatan yang dilakukan dengan yang mayoritas hidup dari bercocok
tujuan menyebabkan luka-luka tanam karena mereka tidak
pada tubuh atau mental para dianggap sebagai warga negara
anggota kelompok dan Myanmar, tanah, sawah, dan ladang
memusnahkan begitu saja sebagian eetnis Rohingya yang digunakan
atau keseluruhan; unsur tersebut untuk bercocok tanam dirampas
jelas sekali terpenuhi. Selama oleh penduduk Rakhine yang
terjadinya operasi militer selain mayoritas beragama Budha karena
terjadi pembunuhan terhadap etnis penduduk Rakhine merasa bahwa
Rohingya, etnis Rohingya yang tanah tersebut adalah milik umat
berhasil bertahan dari serangan Budha Rakhine. Rtnis Rohingya
operasi-operasi tersebut dan menjadi tidak mempunyai mata
akhirnya mengungsi ke Bangladesh pencaharian dan kesulitan untuk
mengalami luka-luka pada memenuhi kebutuhan sehari-hari.
tubuhnya akibat penganiayaan yang Para pemuda etnis Rohingya juga
dilakukan oleh rezim militer pada dilarang untuk sekolah dan belajar.
saat itu. Sekolah-sekolah dihancurkan oleh
c. Dengan sengaja menimbulkan pada rezim militer menyebabkan pemuda
kelompokitu kondisi hidup yang etnis Rohingya tidak bisa
menyebabkan kerusakan fisiknya bersekolah lagi dan banyak dari
dalam keseluruhan ataupun pemuda etnis Rohingya yang tidak
sebagian; unsur tersebut jelas sekali bisa mendaftar sebagai Pegawai
terpenuhi. Dengan diberlakukannya Negeri, Polisi, ataupun Tentara
Undang-undang Kewarganegaraan karena tidak diakui sebagai warga
Tahun 1982 maka etnis Rohingya negara Myanmar. Kondisi tersebut
menjadi menderita atas kondisi menyebabkan keterpurukan bahkan
kematian bagi etnis Rohingya harta benda milik etnis Rohingya
karena tidak bisa melanjutkan dilakukan oleh kalangan militer dan
hidup dengan layak, maka dari itu pemerintah yang berkuasa tidak
banyak dari etnis Rohingya yang melakukan tindakan untuk
lari untuk mengungsi ke berbagai menghukum pelaku serta
negara demi mendapatkan hidup membiarkan pelanggaran tersebut
yang layak. terjadi.
3. Penyelesaian Sengketa
Pelanggaran HAM Penyelesaian kasus pelanggaran
Terhadap Etnis Rohingya berat HAM yang terjadi pada etnis
di Myanmar Rohingya dilakukan dengan
membentuk Komisi Kebenaran dan
Mekanisme dalam penyelesaian Rekonsiliasi atau KKR. KKR adalah
pelanggaran berat HAM mempunyai fenomena yang timbul di era transisi
beberapa cara. Mekanisme tersebut politik dari suatu rezim otoriter ke
dapat berupa mekanisme nasional, razim demokratis, terkait dengan
mekanisme internasional, mekanisme persoalan penyelesaian kejahatan
pengadilan campuran atau hybrid kemanusiaan yang dilakukan rezim
tribunal, dan mekanisme Komisi sebelumnya.41 Mekanisme KKR
Kebenaran dan Rekonsiliasi atau yaitu dengan membentuk komisi
KKR. yang fokus penyelidikannya pada
kasus masa lampau, dibentuk dalam
Kasus pelanggaran berat HAM waktu yang sementara, lalu komisi
yang terjadi pada etnis Rohingya tersebut mempunyai beberapa
sebenarnya dapat diselesaikan kewenangan untuk menggambarkan
dengan mekanisme pengadilan seluruh pelanggaran berat HAM
nasional, namun apabila kasus yang terjadi di Myanmar. Komisi
pelanggaran berat HAM tersebut yang terbentuk terdiri dari anggota
diselesaikan dengan mekanisme Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia
pengadilan nasional, maka akan PBB dan anggota dari Human Rights
menimbulkan impunity. Impunity Watch ASEAN.
yang dimaksud adalah suatu tindakan
kekuasaan yang tidak mengambil Tata cara yang paling mungkin
tindakan hukum apapun atas suatu dan efektif untuk menyelesaikan
kejahatan yang dilakukan (absence permasalahan pelanggaran hak asasi
of punishment).40 manusia terhadap Etnis Rohingya
ialah dengan cara menggunakan
Impunity akan terjadi pada saat metode penyelesaian Konsiliasi yang
pemegang kekuasaan tertinggi di merupak metode yang
pemerintahan Myanmar masih menggabungkan cara-cara iquiry
diduduki oleh junta militer dan pada dengan mediasi. Penyelesaian secara
kasus tersebut pelaku dari konsiliasi merupakan penyelesaian
pelanggaran berat HAM berupa yang dapat dianggap berbeda dimana
kejatahan genosida terhadap etnis terjadi perluasan peran bagi pihak
Rohingya berasal dari junta militer ketiga untuk melakukan penyelidikan
Myanmar. Hal tersebut dibuktikan untuk mencari fakta-fakta kemudian
dengan tindakan-tindakan kekerasan memberikan rangkaian usulan formal
dan penganiayaan serta perusakan
40 41
Suparman Marzuki, Op cit., halaman 48. Rahayu, Op cit., halaman 116.
bagi penyelesaian permasalahannya. merupakan sebuah kebijakan yang
Tujuan Konsiliasi sebagai suatu diambil pemerintah dalam
metode penyelesaian yang bersifat menyelesaikan persoalan negara
internasional berkaitan dengan dalam masa transisi berdasarkan
proses penyelesaian pertikaian pada prinsip-prinsip keadilan yang
dengan dapat membentuk suatu ada tersebut. Proses ini diharapkan
komisi oleh para pihak baik sifatnya mempunyai peran besar dalam
permanen ataupun sementara. menghilangkan praktik kekebalan
hukum (impunity) atau perlakuan
Diskriminasi, kekerasan bahkan istimewa lainnya yang sebelumnya
pemusnahan suatu golongan yang didapatkan oleh para pemimpin
dialami oleh etnis Rohingya di negara dan aparat negara di tingkat
Myanmar hingga menimbulkan tinggi yang melanggar hak asasi
jatuhnya korban, secara harfiah manusia di masa lalu.
keseluruhannya dapat dinilai sebagai
pelanggaran terhadap hak asasi Penyelesaian masalah melalui
manusia. Persoalan hak asasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
manusia yang erat kaitannya dengan terhadap etnis Rohingya di Myanmar
persoalan politik tentu dapat ini, apabila diterakan seperti yang
mengancam HAM itu sendiri. terjadi di Afrika Selatan bahwa
Persoalan yang dimaksud ditujukan Komisi ini dibentuk terlebih dahulu
pada agenda penyelesaian kejahatan melalui Kongres Nasional Afrika
hak asasi manusia yang seringkali dengan melakukan penyelidikan dan
berujung pada kekecewaan pada pemberian laporan kepada
mekanisme hukum sehingga masyarakat tentang pelanggaran hak
menguatkan desakan agar asasi manusia yang mereka lakukan
penyelesaian pelanggaran hak asasi sendiri di masa lampau, terlebih
manusia masa lalu dilakukan melalui komisi ini terdapat pula mekanisme
pembentukan Komisi Kebenaran dan yang memberi kesempatan
Rekonsiliasi.Hal itu diharapkan agar tanggapan atas tuduhan yang
Pemerintah Myanmar untuk diberikan, dan para korban, melalui
mempertegas keseriusan pemerintah para pengacara, diberi kesempatan
dalam mengungkap para pelaku untuk memberikan penjelasan pula.
terkait pelanggaran hak asasi KKR Afrika terdiri atas 3 komisi
manusia terhadap etnis Rohingya di yaitu pertama, Subkomisi
Myanmar tersebut. Pelanggaran Hak Asasi Manusia
yang bertanggungjawab memberi
Proses penerapan komisi ini erat status korban kepada individu-
kaitannya dengan perubahan politik individu. Komisi ini menerima
pemerintahan yang biasanya terjadi kedatangan pihak-pihak terkait untuk
pasca rezim otoritarian menuju membuat pernyataan. Juga bertugas
pemerintahan demokratis. Penjelasan menerima dan memeriksa kesaksian
tersebut sesuai dengan kondisi yang publik mengenai sejumlah kasus.
terjadi di negara Myanmar bahwa Kedua, Subkomisi Amnesti yang
telah terjadi proses demokrasi dalam bertanggungjawab memberi amnesti
peralihan pimpinan yang sebelumnya kepada para pelaku yang terbukti
dimiliki oleh Junta Militer. Hal membuat tindakan, kesalahan, dan
tersebut memiliki keterkaitan dengan kejahatan politis. Ketiga, Subkomisi
konsep transitional justice yang
dan Rehabilitasi dengan bertugas penuntutan dan persidangan di
membuat rekomendasi ketetapan pengadilan pidana.44
reparasi dan rehabilitasi para korban,
termasuk rekomendasi pencegahan di Komisi berada dalam posisi
masa depan.42 untuk menyediakan bantuan praktis
bagi para korban dan secara spesifik
Berdasarkan hasil temuan Komisi mengidentifikasi dan membuktikan
bahwa pemerintah Myanmar tidak individu-individu atau keluarga yang
melakukan upaya pencegahan dan menjadi korban kejahatan masa
tidak memberikan hukuman kepada lampau. Berdasarkan hal teresbut
pasukan militer Myanmar yang korban pelanggaran berat HAM
memperkosa, membunuh, mengusir secara hukum berhak untuk
secara paksa dan melakukan mendapatkan bentuk reparasi dii
penahanan massal terhadap etnis amsa yang akan datang.45
Rohingya. Pekerja kemanusiaan
dihalangi masuk ke Rakhine. Polisi Komisi Kebenaran dan
dan Tentara tidak menghentikan Rekonsiliasi telah memaparkan
pembunuhan atas etnis Rohingya, fakta-fakta yang terjadi di Myanmar
pasukan militer menembak mati etnis terhadap adanya tindak pelanggaran
Rohingya yang berusaha melarikan berat HAM berupa genosida, namun
diri. Temuan fakta tersebut sampai saat ini belum ada tindakan
menunjukkan bahwa pihak nyata dari pemerintah Myanmar
pemerintah menjadi pihak yang yang saat ini kedudukan tertinggi di
mendukung pemusnahan etnis pemerintahan dijabat oleh Presiden
Rohingya dan pengusiran etnis Thein Shein. Presiden Thein Shein
Rohingya dari Myanmar (state justru mengatakan “Myanmar akan
sponsored of discrimination mengirim kaum Rohingya pergi, jika
prosecution). 43 ada negara lain yang mau menerima
mereka, kami akan mengambil
Komisi telah mendapatkan bukti- tanggungjawab atas suku-suku etnik
bukti dari pelanggaran yang terjadi kami, tapi tidak mungkin menerima
terhadap etnis Rohingya, namun orang-orang Rohingya yang ada di
Komisi Kebenaran bukanlah negara kami”.46
lembaga yang menggantikan fungsi
pengadilan karena memang bukan Pelanggaran berat HAM yang
lembaga peradilan, bukan terjadi terhadap etnis Rohingya harus
persidangan hukum dan tidak diikuti dengan adanya
memiliki wewenang untuk pertanggungjawaban negara untuk
mengirimkan seseorang ke penjara menghukum para pelaku dan
atau memvonis seseorang karena
suatu kejahatan. Komisi Kebenaran 44

hanya dapat melakukan beberapa hal


Jawahir Thontowi, Op cit., halaman 49.
penting yang secara umum tidak Suparman Marzuki, Op cit., halaman 70.
dapat dicapai melalui proses 45
Loc.cit
46
Endah Hapsari, Beginilah Nasib Pedih
Muslim Rohingya,
42
Rhona K. Smith. 2008. Hukum Hak Asasi http://www/republika.co.id/berita/internasio
Manusia. Yogyakarta:PUSHAM UII . Hal. nal/global/12/07/14/m74gmu-beginilah-
380. nasib-pedih-muslim-rohingya, diakses pada
43
tanggal 28 Mei 2018.
memberi kompensasi yang wajar melanggar sejumlah instrumen
bagi para korban. Kompensasi yang HAM internasional melalui
wajar untuk etnis Rohingya belum beberapa tindakan tindakaannya
diberikan oleh pemerintah Myanmar, diantaranya dengan mencabut
baik kompensasi tersebut berupa status kewarganegaraan etnis
pemuasan (satisfaction), restitusi Rohingnya yang bertentangan
maupun rehabilitasi. dengan pasal 15 DUHAM,
Melakukan tindakan
IV Kesimpulan sebagaimana tercantum dalam
Berdasarkan hasil penelitian dan Pasal 2 Konvensi mengenai
pembahasan yang telah diuraikan Pencegahan dan Penghukuman
dari bab-bab sebelumnya serta fakta- Kejahatan Genosida Tahun 1948
fakta yang telah dipaparkan, dapat dengan melakukan kekerasan
ditarik kesimpulan bahwa: untuk menghapus suatu ras, serta
membeda bedakan Hak asasi
1. Pemerintah Myanmar terbukti dari etnis rohingnya
melakukan pelanggaran berat sebagaimana bertentangan
HAM berupa kejahatan dengan pasal Pasal 5 butir D
genosida. Lebih dari 300.000 Konvensi tentang Penghapusan
jiwa etnis Rohingya menjadi Diskriminasi Rasial Tahun
korban tewas, yang disebabkan 1965.
oleh 4 (empat) operasi militer
yang digelar oleh pemerintah 3. Berdasarkan perspektif hukum
junta militer Myanmar. Operasi HAM internasional, mekanisme
militer tersebut adalah yang digunakan untuk
Rohingya’s Massacre (1942), menyelesaikan kasus
Kalagong Massacre (1945), pelanggaran berat HAM berupa
Operasi Naga Min (1978) dan genosida yang dialami oleh etnis
Operasi Phy Thaya (1991) yang Rohingya adalah mekanisme
ditujukan untuk memusnahkan Komisi Kebenaran dan
etnis Rohingya. Pemerintah Rekonsiliasi atau KKR.
Myanmar juga menerapkan Mekanisme KKR dipilih untuk
kebijakan bahwa etnis Rohingya mencegah timbulnya impunity.
dilarang untuk mempunyai anak Impunity yang dimaksud adalah
lebih dari dua, hal tersebut sudah suatu tindakan kekuasaan yang
merupakan cara pemerintah tidak mengambil tindakan
Myanmar untuk memusnahkan hukum apapun atas suatu
etnis Rohingya secara tidak kejahatan yang dilakukan
langsung. Berdasarkan hal (absence of punishment).
tersebut tindak kekerasan yang
terjadi terhadap etnis Rohingya
dapat dikatakan sebagai
pelanggaran berat HAM berupa
genosida.

2. Pemerintah Myanmar sebagai


negara yang berdaulad dan
menjunjung tinggi HAM telah