Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Seorang manusia membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain, karenapada

dasarnya seorang individu tidak mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhannya sendiri.

Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani

manusia bisa dikatakan sehat jasmani dan rohaninya apabila kedua unsur tersebut

seimbang dan saling terpenuhi kebutuhan kebutuhannya. Apabila jasmani dan

rohaninya tidak seimbang, maka yang lainnya akan mengalami ketidakseimbangan.

Dalam ilmu kedokteran hal ini disebut “psikomatik” yaitu suatu penyakit yang

berhubungan antara jasmani dan rohani. Salah satu fungsi agama adalah membimbing

manusia kejalan yang benar.Agama Islam di isyaratkan Allah SWT sebagai aturan

untuk segala kebutuhan manusia, baik jasmani maupun rohani. Dalam hal ini, agama

berperan penting dalam ilmu kedokteran terutama dalam membantu pemulihan

kesehatan mental bagi pasien, sebagai akibat dari penyakit yang diderita oleh pasien

tersebut.

Bimbingan dan Penyuluhan Agama adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh

seorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami

kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar orang orang tersebut

mampu mengatasinya sendiri, karena timbul kesadaran atau penyerahan diri terhadap

kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya

harapan kebahagian hidup sat sekarang dan masa depannya. (Arifin, 1978 :24)

“Sakit” bukan hanya masalah fisik semata tetapi lebih luas dari itu yaitu

menyangkut masalah psiko juga.Dengan demikian kepedulian terhadap mereka yang

sakit seharusnya perlu dilihat secara utuh dan menyeluruh dari segi bio, psiko, sosio,

spiritual.Menyadari akan hal itu, maka mulai mengembangkan pola pelayanan terpadu

1
yang disebut “Pola Pelayanan Holistik”. Pelayanan ini dilakukan oleh sebuah tim, yang

terdiri dari berbagai profesi salah satunya perawat dimaksudkan untuk dapat

menjangkau dan membantu mengatasi masalah-masalah kesehatan pada pasien, dan

asuhan keperawatan profesional yang sangat dibutuhkan dalam proses pengobatanya.

dan tanggung jawab sebagai perawat profesional agar dapat memberikan pelayanan

keperawatan yang optimal dalam memberikan asuhan keperawata pada pasien. Perawat

harus selalu memperhatikan dari segi, Bio,Psiko,Sosiodanspiritual.

(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/32_PelaynSosiomedikdiRSPGICikini91.

pdf/32_PelaynSosiomedikdiRSPGICikini91.html.14, 7, 14. 12:28).

Rumah sakit merupakan tempat orang-orang yang sakit, baik itu sakit lahir

biasanya identik dengan penyakit fisik ataupun non fisik. Banyak hal yang dialami

olehsetiap manusia yang berada dirumah sakit umum daerah kota bandung (Ujung

Berung). Berbagai masalah yang ditangani dokter maupun oleh perawat baik itu

perawat rumah sakit ataupun perawat rohani islam yang berkaitan dengan spiritual.

Bagaimana caranya supaya meningkatkan spiritual terhadap pasien yang mengalami

distres diruang penyakit dalam ketika pasien itu akan melaksanakan operasi ketika

dokter menyatkan bahwa pasien akan melaksanakan operasi,dalam hal ini yang terjadi

terhadap pasien adalah rasa cemas, hawtir ,bingung dan distres itu muncul.Rasa

cemas/distres bisa diraskan oleh setiap manusia, tetapi bagaimana cara memberikan

bimbingan spiritual terhadap pasien yang mengalami distress? Dalam masalah ini maka

adanya bimbingan untuk menumbuhkan spiritual terhadap pasien dalam mengurangi

distress ketika pasien akan melaksanakan operasi dengan penyakit yang dialaminya.

Dalam hal ini perlu adanya peningkatan bimbingan spiritual yang harus dilakukan oleh

perawat rohani islam sebagai tugas tersendiri,ketika dokter sudah menyatakan vonis

bahwa seseorang harus melakukan operasi,maka disini perlu adanya bimbingan

spiritual terhadap pasien dalam mengurangi distress ketika akan melaksanakan operasi

2
diruang penyakit dalam,seorang perawat harus lebih menumbuhkan bimbingan

spiritualnya terhadap pasien yang mengalami kecemasan,dan distress itu datang ketika

pasien takut akan harus melaksanakn operasi.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah di uraikan, sebagai berikut:

1. Bagimana Kondisi Pasien Distress diRSUD Ujung Berung Kota Bandung Sebelum

diberikan Bimbingan?

2. Bagaimana Proses Bimbingan Spiritual Dalam Mengurangi Tingkat Distress Pasien

di Ruang Penyakit Dalam RSUD Ujung Berung KotaBandung?

3. Bagaimana Hasil Bimbingan Spiritual dalam Mengurangi Tingkat Distress Pasien di

Ruamg Penyakit Dalam RSUD Ujung Berung Kota Bandung?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah di uraikan sebelumnya, maka tujuan dari

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kondisi pasien distress di RSUD Ujung Berung Kota Bandung

2. Untuk mengetahui proses bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress

pasien di ruang penyakit dalam RSUD Ujung Berung Kota Bandung.

3. Untuk mengetahui hasil bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress

paisen di ruamg penyakit dalam RSUD ujung berung Kota Bandung.

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat menambah hasanah ilmu pengetahuan,

yakni dapat memberikan informasi mengenai beberapa program yang dapat digunakan

kepada pasien berkaitan dengan bimbingan spiritual.Sedangakn secara praktis

penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi para konselor khususnya

konselor islam, terafist menegenai pelaksanaan penerapan yang digunakan terhadap

pasien distress.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Bimbingan Spiritual

Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau

mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agamanya, menjalin hubungan

penuh rasa percaya dengan Tuhan serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau

pengampunan dan mencintai. Betapa penting dan besarnya peranan kecerdasan emosi

dalam mempengaruhi kesehatan tubuh jasmani, serta emosi juga akan cerdas jika

keadaan rohani kita sehat dan kuat.untuk dapat memandang kehidupan ini dengan baik,

kita perlu sadar diri, tidak tinggi hati, atau merasa diri paling hebat. Sesungguhnya

banyak hal yang menjadi keberhasilan yang telah kita capai dipengaruhi oleh bantuan

dan dorongan orang lain yang ada di sekitar kita.(Junaidi,2006:136). Bimbingan

spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Apabila

seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat,

mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada

yang mampu membangkitkannya dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta. Dalam

pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan harus memiliki peran utama

dalam memenuhi kebutuhan spiritual.Perawat dituntut mampu memberikan pemenuhan

yang lebih pada saat pasien kritis atau menjelang ajal.Dengan demikian, terdapat

keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan kesehatan, dimana kebutuhan dasar

manusia yang diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya berupa aspek

biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat membantu membangkitkan

semangat pasien dalam proses penyembuhan.

(http://keperawatancianjur.blogspot.com/2012/06/bimbingan-spiritual-pada-pasien-

dan.html. 30, 8, 14,9:04) Untuk memiliki kecerdasan spiritual, hubungan kita yang terus

menerus dengan Tuhan atau Yang Maha Kuasa merupakan obat penawar dari kekuatan

4
yang merusak di dalam dunia.Untuk mendapatkan ketenangan kita perlu belajar

menaati tuhan, ini bukan berarti memiliki pengetahuan yang luas tentang ajaran agama

atau sibuk menjalani aktifitas keagamaan karena anjuran ini memiliki makna yang lebih

dalam.Tuhan menyediakan tempat yang indah bagi kita semua, nsmun kita harus “rajin”

berusaha untuk menuju kesana, yaitudengan bersandar,percaya,berserah, serta

mengandalkan kekuatanNya. (Junaidi,2006:139). Pengkajian kebutuhan spiritual

meliputi 4 area yaitu konsep klien tentang tuhan, sumber kekuatan atau harapan,

praktek religious dan hubungan anatara keyakinan spiritual dengan status kesehatan.

Diagnosa Keperawatan utama yang berkaitan dengan keadaan spiritual pasien adalah

Kurang pengetahuan tentang pelaksanaan praktek ibadah, gangguan praktik ibadah,

kesiapan Untuk Peningkatan Praktik ibadah, risiko gangguan praktik ibadah, distress

spiritual, risiko distress spiritual, kesiapan untuk peningkatan kesejahteraan spiritual.

Outcome yang sering muncul pada diagnose-diagnosa spiritual diantaranya :

meningkatnya pengetahuan tentang praktik ibadah pada orang sakit, meningkatnya

praktik ibadah ritual, stabilitas emosi, memiliki keterampilan interaksi social yang baik,

memiliki harapan, kesejahteraan spiritual, sejahtera, hidup yang berkualitas, mencapai

kematian yang husnul khatimah. Intervensi yang dapat dilakukan: meningkatkan

pengetahuan tentang praktik ibadah pada orang sakit, meningkatakan kegiatan ibadah

ritual, konseling, klarifikasi nilai, dukungan emosi, dukungan sipiritual, fasilitasi

peningkatan spiritual, meningkatkan harapan, dukungan kelompok dan dying care.

Menurut Dr. Howard Clinebell yang dikutif oleh Dadang Hawari (1996) menyebutkan

sepuluh kebutuhan dasar spiritual manusia yaitu :

1. Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), yang senantiasa secara teratur terus-

menerus diulang guna membangkitkan kesadaran akan sesuatu yang lebih tinggi dari

kekuasannya.

5
2. Kebutuhan akan makna hidup, tujuan hidup dalam membangun hubungan yang

selaras, serasi dan seimbang dengan Tuhannya (vertical) dan dengan sesame

manusia (horizontal) serta alam sekitarnya.

3. Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dalam hidup keseharian.

Disini pengalaman agama atau ritual keyakinannya terintegrasi dalam amal

kesehariannya.

4. Kebutuhan akan pengisian spiritualnya dengan selalu secara teratur mengadakan

hubungan dengan sumber spiritualnya. Hal ini dimaksudkan agar spiritualnya tetap

terjag, tidak melemah.

5. Kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah (horizontal)dan berdosa (vertikal). Rasa

bersalah dan berdosa ini merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik

bagi kesehatan jiwa.

6. Kebutuhan akan penerimaaan diri dan harga diri (self acceptance dan self esteem).

Dua hal tersebut amat penting bagi kesehatan jiwa seseorang. Setiap diri ingin

diterima dan dihargai oleh lingkungannya, tidak ingin dilecehkan atau dipinggirkan

7. Kebutuhan akan rasa aman, terjamin dan keselamatan terhadap harapan masa depan.

8. Kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang semakin tinggi sebagai

pribadi yang utuh (integrated personality).

9. Kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesamamanusia. Setiap

orang membutuhkan orang lain serta sumber daya alam untuk membantu

kelangsungan hidupnya.

10.Kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilai-nilai

religious.Perawat harus selalu memperhatikan keadaan secara individual dari segi

Bio, Psiko, Sosial Dan Spiritual.

(http://keperawatancianjur. blogspot.com/2012/06/bimbingan-spiritual-pada-pasien-

dan. html,30, 8, 14, 8:48)

6
a). Pelayanan Secara Bio

Seorang perawat adalah profesi yang diharapkan selalu care (peduli)

terhadap klien pasien yang tidak hanya sebagai objek tapi juga subjek. Salah

satu pelayanan secara bio ikut menentukan keputusan akan pengobatan/

terapi/perawatan terhadap pasien. Salah satu contohnya adalah misalnya klien

mengalami batuk perawat mengkaji Jika klien batuk dan dahaknya sulit keluar,

maka perawat mengajarkan cara bagaimana batuk yang efektif untuk

mengeluarkan dahaknya atau dengan memberikan fisioterapi, memberikan

obat, makanan sesuai dengan keadaan penyakit pasien, dan memberikan

asupan nutrisi-nutrisi untuk mengurangi rasa sakitnya.

b). Pelayanan Secara Psiko

Kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fisik dan

berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada

pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan

yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsanag semua faktor untuk

membantu pasien dalam mempertahankan emosinya.dan peran perawat

melakukan Komunikasi dengan pasien adanya sikap care, memberikan arahan

pada keluarga komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan

keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan bila kurang baik

dilakukan jauh dari pendengaran pasien.

Perawat tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk,

menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya.Selain itu

membicarkan kondisi-kondisi lingkungna dimana dia berada atau cerita hal-

hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan

rasa nyaman.Sehingga hal tersebut dapat memberikan psikologis yang baik

yang dapat membantu dalamprosespenyembuhan.

7
c). Pelayanan secara sosio

Pelayanan yang dilakuakan perawat secara sosio adalah perawat sebagai:

1) Mediator :bertindak sebagai penghubung, perantara atau penengah antara

Pasien dengan pihak-pihakyang terkait dirumah sakit (misal : dokter,

perawat, bagian keuangan, bagian kerohanian) ataupun dengan lembaga-

lembaga di luar rumah sakit yang terlibat dalam upaya pemberian bantuan.

2) Motivator/dinamisator :bertindak sebagai pendorong, pemberi semangat

dan pemberi dukungan kepada pasien maupun keluarganya, agar dapat

mengatasi sendiri masalah yang dialami.

3) Advokasi (pembelaan) :bertindak sebagai pembela, pada kasus-kasus

pasien maupun keluarganya (sebagai pihak yang benar) dirugikan oleh

pihak lain. Bantuan ini dilakukan, jika memang pasien tidak bisa

mengatasi masalahnya sendiri.

4) Fasilitator :bertindak sebagai penyedia informasi, jika pasien kurang

memahami sesuatu. Informasi yang diberikan tidak terbatas (artinya, bisa

mengenai hal apapun) sejauh yang diketahui secara pasti oleh tim.

d). Pelayanan secara spiritual

Spiritualitas (spirituality) merupakan sesuatu yang dipercayai oleh

seseorang dalam hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan),

yang menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan terhadap adanya Tuhan,

danpermohonan maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat

(Alimul.2006). Hubungan keyakinan dengan pelayanan kesehatan

B. Pengertian Spiritual

Spiritualitas (spirituality) merupakan sesuatu yang dipercayai oleh seseorang

dalam hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi tuhan, yang menimbulkan

suatu kebutuhan serta kecintaan terhadap adanya tuhan, dan permohonan maaf atas

8
segala kesalahan yang pernah diperbuat.(Alimul, 2006).

(http://keperawatancianjur.blogspot.com/2012/06/bimbingan-spiritual-pada-pasien-

dan. html. 30,8 , 14,8:48).

Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap

manusia. Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya

pun semakin dekat, mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam

segala hal, tidak ada yang mampu membangkitkannya dari kesembuhan, kecuali Sang

Pencipta. Dalam pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan harus

memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual.Perawat dituntut mampu

memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien kritis atau menjelang

ajal.Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan

kesehatan, dimana kebutuhan dasar manusia yang diberikan melalui pelayanan

kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek

spiritual dapat membantu membangkitkan semangat pasien dalam proses

penyembuhan.(http://ged3kert4.blogspot. pemenuhan.html. 15,07,14.12:16).

Pengelolan Asuhan Keperawatan Spiritual pada pasien tentunya memerlukan

dukungan berbagai aspek, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan perawat dalam

menggali aspek spiritual tetapi juga sangat ditentukan oleh manajemen atau situasi

pengelolaan bangsal yang mendukung. Dalam menciptakan bangsa yang mampu

memberikan pelayanan spiritual dibutuhkan kerjasama yang baik antara perawat, dokter,

perawat rohani dan bagian-bagian lain yang terkait. Bentuk kerjasama ini masih belum

dapat dirumuskan secara detail, tetapi jika mengacu pada hasil Work Shop tentang Asuhan

Keperawatan Rohani Islam di Akper Aisyiyah Bandung pada tahun 2006 yang

merumuskan bahwa aspek kajian pada Askep Rohis adalah:

1. Ibadah Pokok

2. Ibadah tambahan

9
3. Bimbingan dan Penasehatan

4. Konseling

5. Pasien berkebutuhan khusus.

Dapat dibuat pembagian kompetensi dan kewenangan sebagai berikut:

1. Pelayanan terhadap kebutuhan akan ibadah pokok dan ibadah tambahan seharusnya

sudah menjadi suatu kompetensi dasar bagi seluruh perawat muslim.

2. Bimbingan penasehatan dan Konseling sebaiknya diberikan oleh perawat khusus

yang telah memiliki keilmuan rohani islam yang jauh lebih tinggi.

3. Konseling dan pelayanan pasien berkebutuhan khusus sebaiknya diberikan oleh

Perawat Rohani yang benar-benar telah memiliki kemampuan yang teruji.

C. Pengertian Distress

Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan

mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni, musik,

literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya (Nanda, 2005).Definisi lain

mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan dalam prinsip hidup yang meliputi

seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan biologis dan psikososial (Varcarolis,

2000).(http://mantrigaoll.blogspot.com/2012/02/askep-distres spiritual. html,30, 08, 14,

10:39). Dalam kata lain distress sering berkaitan dengan stres,yang dimaksud stres

(hans selye,1950) adalah respon tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap

tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respons tubuh seseorang manakala yang

bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang berlebihan. Bila ia sanggup

mengatasinya artinya tidak ada gangguan pada fungsi organ tubuh, maka dikatakan

yang bersangkutan tidak mengalami stres. Tetapi sebaliknya bila ternyata ia mengalami

gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat

menjalankan fungsi pekerjaanya dengan baik,maka ia disebut mengalami distress.

(Hawari, 2001 :17). Dengan kata lain kita dapat katakan bahwa distres spiritual adalah

10
kegagalan individu dalam menemukan arti kehidupannya. Karakteristik Distres Spritual

menurut Nanda (2005) (http://mantrigaoll.blogspot.com/2012/02/askep-distres spiritual.

html,30, 08, 14, 10:39) meliputi empat hubungan dasar yaitu :

1. Hubungan Dengan Diri

a). Ungkapan kekurangan

1). Harapan
Arti dan tujuan hidup
Perdamaian/ketenangan
Penerimaan
Cinta
Memaafkan diri sendiri
Keberanian

b). Marah

c). Kesalahan

d). Koping yang buruk

2. Hubungan Dengan Orang Lain

a). Menolak berhubungan dengan tokoh agama

b). Menolak interaksi dengan tujuan dan keluarga

c). Mengungkapkan terpisah dari sistem pendukung

d). Mengungkapkan pengasingan diri

3. Hubungan Dengan Seni, Musik, Literatur, Dan Alam

a). Ketidakmampuan untuk mengungkapkan kreativitas

(bernyanyi,mendengarkan musik, menulis)

b). Tidak tertarik dengan alam

c). Tidak tertarik dengan bacaan keagamaan

4. Hubungan Dengan Kekuatan Yang Lebih Besar Dari Dirinya

a). Ketidakmampuan untuk berdo’a

b). Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan

11
c). Mengungkapkan terbuang oleh atau karena kemarahan Tuhan

d). Meminta untuk bertemu dengan tokoh agama

Untuk menyederhanakan pola pikir, maka penulis membuat kerangka pemikiran

sebagai berikut:

Skema kerangka pemikiran


Bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress pasien di RSUD Ujung Berung
Kota Bandung

Bimbingan spiritual dalam

mengurangi tingkat distress

Proses bimbingan rohani islam

Pembimbing Klien Materi Metode Media Waktu

Terpeliharanya bimbingan spiritual terhadap pasien distress

Hasil pelaksanaan bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress pasien

E. Langkah-Langkah Penelitian

Komponen dalam metode penelitian kualitatif adalah: alasan menggunakan metode

kualitatif, tempat penelitian, instrumen penelitian, sampel sumber data penelitian,

teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan rencana pengujian keabsahan data.

(Sugiono, 2013:292)

1. Metode dan Alasan Penelitian

Dalam penelitian ini metode kualitatif .Hal ini dikarenakan berbagai alasan,

diantaranya:

a. RSUD Ujung Berung Kota Bandung terdapat aktivitas bimbingan rohani islam yang

di embankan kepada Binroh.

12
b. Penilitian di lanjutkan dari praktek profesi mahasiswayang objek penelitiannya

bertempat di Instalansi Binroh RSUD Ujung Berung Kota Bandung.

c. Tersedianya data yang diperlukan peneliti, sehingga bisa menjawab permasalahan-

permasalahan yang dirumuskan oleh peneliti.

d. Objek peneliti sesuai dengan kajian jurusan BKI dalam membuat karya ilmiah.

e. Instalasi Binroh RSUD Ujung Berung Kota Bandung menjadi contoh bagi rumah

sakit mengenai adanya bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress

pasien.

2. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi yang akan penulis teliti bertempat di rumah sakit kota bandung

(ujung berung) Jl.Rumah Sakit No 22, Ujung berung, Bandung. Alasannya ialah

masalah ini sangat penting untuk dipecahkan karena berkaitan dengan tingkat

keilmuan dalam bimbingan spiritual, selain itu juga data yang di perlukan oleh kami

bersumber dari lokasi tersebut dan sekitarnya.

3. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitaif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah

peneliti itu sendiri.Oleh karena itu peneliti sebagai instrumen juga harus di “validasi”

seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun

kelapangan.Validasi terhadap peneliti kualitatif, penguasaan terhadap wawasan

bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki obyek penelitian baik secara

akademik maupun logistiknya. (Sugiono, 2013:222)

4. Sumber Data

a. Sumber data primer

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan

sekunder.Hal ini disesuaikan dengan lokasi penelitian dan untuk

mendapatkan data yang akurat. Adapun data primer yang dimaksud yaitu:

13
1). Bapak Dodi Suhendi S.Ag sebagai Kepala instalasi pemulasaraan jenazah

dan kerohaniaan.

2). Tim Binroh RSUD Ujung Berung Kota Bandung

3). Beberapa pasien rawat inap ruangan penyakit dalam di RSUD Ujung Berung

Kota Bandung.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder di ambil dari buku-buku, catatan, surat kabar, serta agenda

yang relevan dengan penelitian yang diperoleh dari arsip-arsip pelaksanaan Unit

Binroh, Ketua Kabag Diklat, Ketua Kabag Keperawatan Rsud Ujung Berung

Kota Bandung.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk

mengumpulkan data (Riduwan, 2009:37). Dalam penelitian ini dilakukan langkah-

langkah penelitian sebagai berikut:

a. Observasi

Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data melalui pengamatan

secara langsung terhadap subjek penelitian. Di Rumah Sakit Umum Daerah

Kota Bandung Jl.Rumah Sakit No 22, Ujung berung,Bandung,kemudian

mencatat semua suasana dan kondisi/keadaan subjek penelitian. Observasi juga

dilakukan kepada pasien di ruang penyakit dalam, di rumah sakit ujung

berungkota bandung.

b. Wawancara

Yaitu suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh

informasi langsung dari sumbernya.Adapun untuk memperoleh data informasi

ini langsung mewawancarai beberapa responden pasien rumah sakit diruang

penyakit dalam yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan

14
jelas dan lengkap tentang bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress

pasien di ruang penyakit dalam.

Proses wawancara yang dilakukan instalasi Binroh RSUD Ujung Berung Kota

Bandung peneliti bertanya tentang:

1). Bagaimana bimbingan pasien distress di runag penyakit dalam RSUD Ujung

Berung Kota Bandung?

2). Bagaimana proses bimbingan spiritual pasien distress di ruang penyakit

dalam RSUD Ujung berung Kota Bandung?

3). Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.Dokumen bisa

berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

Dokumentasi akan memeliki sebuah kesimpulan yang akurat dengan tujuan

untuk menegaskan kerangka teoretis yang dijadikan landasan berfikir yang

berhubungan dengan bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat

distress. Tujuan diadakan dokumentasi sebagai berikut:

a). Untuk menegaskan kerangka teoritis yang dijadikan landasan berfikir

yang berhubungan dengan bimbingan spiritual.

b). Untuk mempertajam konsep-konsep yang digunakan selama

mempermudah penelitian dalam penyusunan hipotesis

6. Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini menggunakan analisis kualitatif, dengan langkah-langkah

sebagai berikut:

a. Unutisasi Data ( Pemprosesan Satuan Data )

Data yang disusun dikelompokan dalam satuan-satuan direduksi dengan

keperluan dan memberikan kode terhadap data-data yang diperoleh.

b. Kategorisasi Data

15
Klasifikasi data yang diperoleh baik dari data primer berupa wawancara dari

pembimbing Rohani, perawat, serta pasien rawat inap di rsud ujung berung kota

bandung, serta referensi sebagai bahan data yang bersifat teoretis sehingga

dengan klasifikasi tersebut peneliti dapat membagi data otentik dan akurat.

c. Analisis Data

Setelah mengklasifikasi data, maka data tersebut di analisa unutk

mengungkapkan penelitian di hubungkan dengan konsep dan realita yang ada.

d. Penafsiran Data

Penafsiran data yang telah diklasifikasi berdasarkan kerangka pemikiran, yaitu

tentang bimbingan spiritual dalam mengurangi tingkat distress pasien diruang

penyakit dalam RSUD ujung berung kota bandung.

e. Penarikan Kesimpulan

kesimpulan merupakan bagian akhir dari laporan penelitian, maka diperoleh

berdasarkan kepala analisis data-data yang telah terhimpun atau dengan kata lain

bahwa kesimpulan juga merupakan jawaban atas permasalahan penelitian yang

diajukan sebelumnya.

7. Rencana Pengujian Keabsahan Data

Menurut Moleong ’’kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1)

kepercayaan (kreadibility), (2) keteralihan (tranferability),

(3) kebergantungan (dependibility), (4) kepastian (konfermability)9. Dalam

penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain :

a. Kepercayaan (kreadibility)

Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil

dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya.ada beberapa teknik untuk mencapai

kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota,

16
perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan

pengecekan kecakupan refrensi.

b. Kebergantungan (depandibility)

Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya

kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan

menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara

ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti

karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan

bahwa

proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh

ouditor independent oleh dosen pembimbing.

c. Kepastian (konfermability)

Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara

mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung

oleh materi yang ada pada pelacakan audit.

PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

DISTRES SPIRITUAL

Pengkajian

1. Faktor predisposisi

Faktor predisposis pada klien dengan anxietas adalah faktor : Biologis,

adanya infeksi atau penyakit kronis, abuse( Keliat, 20100

Faktor psikologis antara lain status mentas kemungkinan adanya depresi,

marah, harga diri rendah ( Keliat, 2010).

Faktor sosial dan budaya antara lain tidak adekuatnya hubungan

interpersonal pada masa bayi,

2. Faktor presipitasi

17
Faktor presipitasi secara biologis penyakit kronis.

Faktor Psikologis adalah harga diri rendah pemikiran yang bertentangan.

Faktor sosial Budaya perubahan status pekerjaan, fungsi dan peran.

3. Karakteristik distres spiritual :

Hubungan dengan diri, hubungan dengan orang lain dan hubungan dengan

tuhan serta hubungan dengan musik dan literature

Diagnosa Keperawatan

Distress Spiritual

Tujuan Tindakan keperawatan

Klien mampu :

1. Mengenal

2. Melaksanakan cara mengatasi distres spiritual.

TINDAKAN KEPERAWATAN

TINDAKAN UNTUK PASIEN

a. Tentukan konsep ketuhan pasien dengan mengamati buku-buku yang

digunakan disamping tempat tidur.

: Tentukan sumber-sumber harapan dan kekuatan pasien

: Amati apakah pasien sedang berdoa dimalam hari atau saat sedang mau

makan dan melakukan kegiatan

: Apati barang-barang seperti literatur keagamaam

: Dengarkan pandangan-pandangan pasien tentang kepercayaan spiritual dan

kondisi kesehatanya.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Fase orientasi

(Salam terapeutik, evaluasi, validasi, kontrak, topik dan Tujuan )

2. Fase kerja

18
3. Fase terminasi ( evaluasi subyektif, evaluasi obyektif, Rencana tindak lanjut,

kontrak yang akan datang)

PENDOKUMENTASIAN

Pendokumentasian di buat dalam SOAP

Latihan : praktekan komunikasi terapeutik pada klien dengan distres spiritual

Umpan Balik ; mahasiswa mampu mempraktekan role play asuhan keperawatan pada

klien dengan distres spiritual

KONSEP ASKEP PADA NY. X DENGAN DISTRESS SPIRITUAL

A. PENGKAJIAN
Identitas: Umur menentukan peningkatan stress
B. RIWAYAT KESEHATAN

1. Keluhan Utama : Biasanya yang dirasakan adalah pusing kepala

2. Riwayat kesehatan sekarang :  Biasanya sejak kapan timbulnya stress tersebut

3. Riwayat kesehatan dahulu : Biasanya memiliki riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang dideritanya

4. Riwayat kesehatan keluarga : Biasanya keluarga memiliki riwayat penyakit yang


sama atau penyakit lain yang diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik
atau tidak
C. POLA FUNGSI KESEHATAN
Berikut ini adalah 11 Pola Fungsi yang harus dilakukan pengkajian pada pasien Distress
Spiritual :
1. Pola Manajemen Kesehatan dan Persepsi Kesehatan

a. Arti sehat dan sakit

b. Pengetahuan status kesehatan saat ini

c. Perlindungan terhadap kesehatan : Program skrining, kunjungan kepusat layanan


kesehatan, diet, latihan dan olahraga, manajemen, stress, factor ekonomi

d. Pemeriksaan diri sendiri : Riwayat, medis keluarga, pengobatan yang telah


dilakukan

19
e. Perilaku untuk mengatasi masalah

f. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan

2. Pola Nutrisi / Metabolisme

a. Menggambarkan masukan nutrisi & keseimbangan cairan

b. Intake nutrisi (frekuensi, jumlah & komposisi) : (Makan sehari berapa kali,
jumlahnya berapa porsi dalam satu kali makan, jenis makanan apa saja yang
dimakan.)

c. Intake cairan (frekuensi, jumlah & jenis) : (Minum sehari berapa kali, jumlahnya
berapa porsi dalam satu kali makan, jenis minum apa yang diminum.)

d. Nafsu makan : (Baik, tidak ada, berlebihan, kurang, atau sedang)

e. Masalah dengan makan : (Ada atau tidak masalah dalam makan)

f. Makanan kesukaan : (Jenis makanan yang disukai)

g. Alergi makanan : (Mempunyai alergi makanan apa tidak)

3. Pola Eliminasi
a. Eliminasi Urin

b. Pola BAK (frekuensi, waktu, jumlah) : (BAK sehari berapa kali, kapan saja waktu
untuk BAK, jumlah BAK nya berapa ml)

a. Karakteristik (warna, kejernihan, bau, endapan) : (warna urin, jernih atau tidak,
berbau apa tidak, ada endapan atau tidak)

b. Faktor yang mempengaruhi BAK : (faktor yang mempengaruhi px untuk BAK apa
saja)

c. Masalah eliminasi uri : (ada atau tidak)

c. Eliminasi Alvi

a. Pola BAB (frekuensi, waktu) : (BAB sehari berapa kali, kapan saja waktu untuk
BAB)

b. Karakteristik keluaran feses (bau, jumlah) : (berbau apa tidak, jumlah BAB apa saja)

c. Masalah dengan BAB : (ada atau tidak)

20
d. Faktor yang mempengaruhi BAB : (faktoryang mempengaruhi px untuk BAK apa
saja)

e. Penggunaan laksantif : (menggunakan atau tidak)

4. Pola Aktivitas – Latihan

a. Pola aktifitas ysng dilakukan

b. Aktivitas diwaktu luang : (Aktivitas yang ada dalam waktu luang)

c. Masalah dalam aktivitas : (Ada masalah atau tidak dalam beraktivitas)

d. Penggunaan alat bantu : (Menggunakan alat bantu atau tidak)

e. Aktivitas sejak sakit : (Apa saja aktivitas pada saat sakit)

5. Pola Istirahat Tidur

a. Kebiasaan pola tidur (waktu, jumlah, kualitas) : (Kapan saja tidur, tidur berapa kali
sehari, sering terbangun atau tidak)

b. Dampak pola istirahat tidur terhadap aktivitas sehari – hari : (Ada atau tidak dampak
yang dialami)

c. Kesulitan tidur : (Merasa kesulitan tidur atau tidak)

d. Alat bantu tidur : (Mengguanakan alat bantu tidur atau tidak)

6. Pola Kognitif Perseptual

a. Kemampuan panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman) : (Mamp


mendengar, melihat, mencium bau secara normal atau tidak)

b. Pemakaian alat bantu pendengaran, penglihatan : (Menggunakan alat bantu atau


tidak)

c. Masalah perseptual : (Mempunyai masalah sensori perseptual)

d. Perubahan memori : (Selama sakit mengalami perubahan memori atau tidak)

e. Presepsi nyeri & penanganan nyeri (P,Q,R,S,T)  : (Penyebab nyerinya apa, kualitas
nyerinya bagaimana, dibagian mana yang mengalami nyeri, skala nyerinya berapa,
kapan saja waktu yang dialami ketika nyeri)

7. Konsep Diri / Persepsi Diri

21
a. Konsep diri :
Body Image : (Merupakan gambaran tubuh atau diri ketika sakit) 
Self Ideal : (Merupakan ideal diri ketika sakit) 
Self Esteem : (Harga diri ketika sakit) 
Role : (Peran selama sakit terganggu atau tidak)
Identitas : (Menjelaskan tentang identitas)
8. Pola Hubungan – Peran

a. Keefektifan peran : (Selama sakit peran yang dilakukan efektif atau tidak)

b. Hubungan dengan orang terdekat : (Bagaimana hubungan dengan orang terdekat


selam sakit)

c. Efek perubahan peran terhadap hubungan : (Ada atau tidak efek perubahan peran
terhadap hubungan dengan orang sekitar)

9. Pola Seksualitas – Reproduksi

a. Dampak sakit terhadap seksualitas : (Ada atau tidak dampak sakit terhadap
seksualitas)

b. Riwayat haid : Masih mengalami haid apa tidak)

c. Tindakan pengendalian kelahiran : (Ada atau tidak tindakan yang dilakukan untuk
pengendalian kelahiran)

d. Riwayat penyakit hubungan seksual : (Punya atau tidak riwayat penyakit hubungan
seksual)

10. Pola Koping – Toleransi Stress

a. Penggunaan sistem pendukung : (Sistem pendukung apa yang digunakan)

b. Stressor sebelum sakit :( (Adakah stres atau penyebab lain yang dapat
menyebabkan sakit)

c. Metode koping yang biasa digunakan :  (Metode apa saja yang biasnya digunakan
agar tidak menyebabkan stres)

d. Faktor – faktor yang mempengaruhu koping : (Apa saja faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi koping)

e. Efek penyakit terhadap tingkat stress : (Penyakit yang diderita menjadikan efek
peningkatan stres atau tidak)

22
f. Penggunaan alkohol & obat lain untuk mengatasi stress : (Apakah mengguanakan
alkohol dan obat lain untuk mengatasi stres)

11. Pola Nilai – Kepercayaan

a. Agama : (Agama apa yang dianut)

b. Kegiatan keagamaan & budaya : (Ba gaimana kegiatan dalam keagamaan dan
budayanya selama sakit)

D. PEMERIKSAAN FISIK

1. Kepala dan Leher :

a. Rambut : Rambut bersih atau tidak, warna raambutnya apa, beruban atau tidak,
rambutnya rontok apa tidak, ada benjolan atau tidak.

b. Wajah : Bentuk wajahnya simetris apa tidak, ada lukaapa tidak.

c. Mata : Simetris atau tidak kanan dan kiri, konjungtiva berwarna merah mda,
pucat, atau icterus, sklera putih atau tidak,reaksi pupil bai atau tidak.

d. Hidung : Bersih atau tidak, terdapat serumen atau tidak.

e. Telinga : Simetris atau tidak, bersih atau tidak, terdapat lesi atau tidak.

f. Mulut : Mukosa bibir kering apa tidak, warna bibirnya apa, ada sariawan atau
tidak.

g. Gigi : Ada gigi palsu apa tidak, jumlah gigi yang masih ada berapa, ada karies
apa tidak

h. Leher : Ada benjolan atau tidak, edema atau tidak.

2. Pemeriksaan Thorak
Pulmonum
Inspeksi : Bentuk dada simetris atau tidak, frekuensi pernafasan dalam batas normal
apa tidak (normal: 16-20 kali/menit) pola pernafasan cupnca atau tidak, menggunakan
alat bantu pernfasan atau tidak
Palpasi : Tactil fremitus
Perkusi : Suara paru sonor, redup, pekak
Auskultasi : Suara nafas (vesikuler, bronkovesikuler, bronkhial), suara tambahan
(wheezing, ronkhi, dan lain-lain)

23
Jantung
Inspeksi : Bentuk precodium simetris atau tidak, perubahan bentuk seperti cekung dan
kembung, denyut appeks jantung normal berbentuk tonjolan kecil, denyut nadi ada
dada simetris atau tidak denyut vena pada dada dan punggung normalnya tidak terlihat
Palpasi : Denyut appeks jantung normal biasanya dipalpasi
Perkusi : Jantung kondisi normal bila luas kanan dan kiri seimbang 
Auskultasi : Suara jantung normal bila tidak ada suara bising dan tidak terdengar
melemah
Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen simetris apa tidak, datar(flat), cekung, atau buncit,
umbilicus keluar atau tidak, ada luka atau tidak
Palpasi : Ada nyeri tekan apa tidak, ada pembesaran hepar atau tidak, terdapat
apendisitis atau tidak
Perkusi : Normal(timpani), pekak, atau redup
Auskultasi : Peristaltic usus, normalnya 5-35x/menit atau tiap 5-15 detik sekali.
Genetalia Anus :
Genetalia : Pernah mengalami atau ada kelainan genetalia apa tidak, terpasang kateter
apa tidak
Anus : Pernah mengalami atau ada kelainan pada anus apa tidak
Ekstremitas : Kekuatan otot lemah apa tidak, kekuatan ototnya pada skala berap
Integument : Turgor kulit baik apa tidak, sianosis apa tidak.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Lab

2. Foto Rontgen

3. Usg

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system
pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi
ancaman kematian.
G. INTERVENSI KEPERAWATAN

24
Intervensi (NIC) Rasional

 Bagi klien yang mendapatkan nilai


tinggi pada doa atau praktek spiritual
 Gali apakah klien menginginkan lainnya, praktek ini dapat memberikan
untuk melaksanakan praktek atau arti dan tujuan dan dapat menjadi
ritual keagamaan atau spiritual yang sumber kenyamanan dan kekuatan.
diinginkan bila yang memberi
 Menunjukkan sikap tak menilai
kesempatan pada klien untuk
dapat membantu mengurangi kesulitan
melakukannya.
klien dalam mengekspresikan
 Ekspesikan pengertian dan keyakinan dan prakteknya.
penerimaan anda tentang pentingnya
 Privasi dan ketenangan memberikan
keyakinan dan praktik religius atau
lingkungan yang memudahkan refresi
spiritual klien.
dan  perenungan.
 Berikan prifasi dan ketenangan
 Perawat meskipun yang tidak
untuk ritual spiritual sesuai
menganut agama atau keyakinan yang
kebutuhan klien dapat dilaksanakan.
sama dengan klien dapat membantu
 Bila anda menginginkan tawarkan klien memenuhi kebutuhan
untuk berdoa bersama klien lainnya spritualnya.
atau membaca buku keagamaan.
 Tindakan ini dapat membantu klien
 Tawarkan untuk menghubungkan mempertahankan ikatan spiritual dan
pemimpin religius atau rohaniwan mempraktikkan ritual yang penting
rumah sakit untuk mengatur ( Carson 1989 ).
kunjungan. Jelaskan ketidak setiaan
pelayanan (  kapel dan injil RS ).

BAB III

25
PENUTUP

A. Kesimpulan

Bagaimana caranya supaya meningkatkan spiritual terhadap pasien yang


mengalami distres diruang penyakit dalam ketika pasien itu akan melaksanakan operasi
ketika dokter menyatkan bahwa pasien akan melaksanakan operasi,dalam hal ini yang
terjadi terhadap pasien adalah rasa cemas, hawtir ,bingung dan distres itu muncul.Rasa
cemas/distres bisa diraskan oleh setiap manusia, tetapi bagaimana cara memberikan
bimbingan spiritual terhadap pasien yang mengalami distress? Dalam masalah ini maka
adanya bimbingan untuk menumbuhkan spiritual terhadap pasien dalam mengurangi
distress ketika pasien akan melaksanakan operasi dengan penyakit yang dialaminya.
Dalam hal ini perlu adanya peningkatan bimbingan spiritual yang harus dilakukan oleh
perawat rohani islam sebagai tugas tersendiri,ketika dokter sudah menyatakan vonis
bahwa seseorang harus melakukan operasi,maka disini perlu adanya bimbingan
spiritual terhadap pasien dalam mengurangi distress ketika akan melaksanakan operasi
diruang penyakit dalam,seorang perawat harus lebih menumbuhkan bimbingan
spiritualnya terhadap pasien yang mengalami kecemasan,dan distress itu datang ketika
pasien takut akan harus melaksanakn operasi.

B. Saran
Harus lebih menguasai materi tentang distress spiritual agar dapat melakukan perawatan
sesuai dengan ketentuan yang ada dal tepat dalam penanganannya

DAFTAR PUSTAKA

26
Herdiman, T.Heather.2011. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.
EGC : Jakarta

Nanda 2005-2006, 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan, Jakarta : Prima Medika

NANDA NIC NOC. 2015-2017. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.


EGC : Jakarta

NANDA NIC NOC. 2018-2020. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.


EGC : Jakarta

Perry, dkk. 2005. Buku saku : Keterampilan dan Prosedur Dasar. Jakarta : EGC

Towarto, Wartonal, 2007, Kebutuhan Dasar & Proses Keperawatan Edisi 3, Jakarta
: Salemba Medika

Wilkinson, Judith M. 2007, Diagnosa Keperawatan, Jakarta : EGC

Keliat, B. A., & Akemat. (2010). Model praktek keperawatan Jiwa Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Nanda ( 2005) Nursing diagnosis dan intervemsi, EGC, Jakarta


Stuard, G. W. (2013), Principles and Practice of Psychiatric Nursing (9 ed.).
Missouri: Mosby, inc.
Townsend. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in
Evidence-Based Practice. Sixth Edition. Philadelphia. F.A Davis Company

https://jurnalis-perawat.blogspot.com/2019/04/konsep-lp-dan-askep-distress-
spiritual.html

27