Anda di halaman 1dari 11

Kumpulan Artikel

Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H


Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Bismillahirrohmannirrohiim

Mencari Jodoh Masa Ini.


oleh : Herlini Amran

Fenomena beberapa tahun akhir-akhir ini, kita melihat betapa banyaknya muslimah-muslimah yang menunggu
kedatangan jodoh, sehingga tanpa terasa usia mereka semakin bertambah, sedangkan para pemuda, bukannya tidak ada,
mereka secara ma'isyah belum berani maju untuk melangkahkan kakinya menuju mahligai rumah tangga yang
mawaddah wa rohmah.
Kekhawatiran jelas tampak, ditengah-tengah perekonomian yang semakin terpuruk, sulit bagi mereka untuk memutuskan
segera menikah.

Gejala ini merupakan salah satu dari problematika dakwah dewasa ini. Dampaknya kaum muslimah semakin
membludak, usia mereka pelan namun pasti beranjak semakin naik. Untuk mencari solusinya, dengan tetap berpegangan
kepada syariat Islam yang memang diturunkan untuk kemashlahatan manusia, beberapa kiat mencari jodoh dapat
dilakukan:

Yang paling utama dan lebih utama adalah memohonkannya pada sang Khalik, karena Dialah yang menciptakan
manusia berpasang-pasangan (QS 4:1).
Permohonan kepada Allah SWT dengan meminta jodoh yang diridhoiNya, merupakan kebutuhan penting manusia
karena kesuksesan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh esar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang

Melalui mediator, antara lain:

Orang tua. Seorang muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut criteria yang
ia inginkan

Guru ngaji (murobbiyah). Jika memang sudah mendesak untuk menikah, seorang muslimah tidak ada salahnya untuk
minta tolong kepada guru ngajinya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Dengan keyakinan bahwa jodoh
bukanlah ditangan guru ngaji. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.

Sahabat dekat. Kepadanya seorang muslimah bisa mengutarakan keinginannya untuk dicarikan jodoh. Sebagaia
gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi SAW dengan Khadijah ra. Diawali dengan ketertarikan Khadijah ra
kepada pribadi beliau yang pada saat itu berstatus karyawan pada perusahaan bisnis yang dipegang oleh Khadijah ra.
Melalui Nafisah sebagai mediatornya akhirnya Nabi SAW menikahi Khadijah ra.

Biro jodoh. Biro jodoh yang islami dapat memenuhi keinginan seorang muslimah untuk menikah. Dikatakan Islami
karena prosedur yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam.

Langsung, dalam arti calon sudah dikenal terlebih dahulu dan ia berakhlak islami menurut kebanyakan orang-orang yang
dekat dengannya (temannya atau pihak keluarganya).

Namun pacaran tetap dilarang oleh Islam. Jika masing-masing sudah cocok maka segera saja melamar dan menikah.
Kadang kala yang tertarik lebih dahulu adalah muslimahnya, maka ia dapat menawarkan dirinya kepada laki-laki sholeh
yang ia senangi tersebut (dalam hal ini belum lazim ditengah-tengah masyarakat kita). Seorang sahabat pernah dating
kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau.

Maka seorang wanita mengomentarinya: Betapa sedikit rasa malunya...Ayahnya yang mendengar komentar putrinya itu
menjawab: Dia lebih baik dari pada kamu, di menginginkan Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau. Sebuah
cerita bagus dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh pengarang buku Tahrirul Mar'ah, bahwa ada seorang
temannya itu merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya: "Apakah aku mengajak anda untuk berbuat haram?.
Aku hanya mengajak anda untuk kawin sesuai sunnah Allah dan RasulNya "Maka terjadilah pernikahan setelah itu.

Hal : 1 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Semua upaya tersebut hendaknya dilakukan satu persatu dengan rasa sabar dan tawakal tidak kenal putus asa. Disamping
seorang muslimah sambil menunggu sebaiknya ia mengaktualisasi-kan kemampuannya. Lakukan apa yang dapat
dilakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah. Jika seorang muslimah kurang pergaulan, bagaimana ia
dapat mengenali orang lain yang ingin menikahinya. Barangkali perlu mengadakan evaluasi terhadap criteria pasangan
hidup yang ia inginkan. Bisa jadi standar ideal yang ia harapkan menyebabkan ia terlalu memilih-milih. Menikah dengan
orang hanif (baik keagamaannya) merupakan salah satu alternatif yang perlu diperhatikan sebagai suatu tantangan
dakwah baginya.

Akhirnya, semua usaha yang telah dilakukan diserahkan kembali kepada Allah SWT. Ia Maha Mengetahui jalan
kehidupan setiap manusia dan kepadaNyalah tempat berserah diri.

TA'ARUF

Istilah Ta'aruf dalam kerangka proses pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang akan menikah ( =pra khitbah)
merupakan istilah yang baru. Sebab pada era kenabian orang tua/wali memiliki kewajiban mengasuh dan mendidik anak
perempuannya kemudian ialah yang bertanggung jawab memilihkan suami yang sholeh baginya dengan criteria ad-dien
sebagai acuan utamanya. Bahkan Rasulullah saw memerintahkan para orang tua agar berhati-hati dalam
memilih calon menantunya. Jadi tanggung jawab dalam mencarikan jodoh pada seorang perempuan terletak ditangan
orang tua atau walinya, bahkan pemerintahpun ikut campur tangan dalam membantu mahar bagi pasangan yang hemdak
menikah. Bisa dihitung dengan jari seorang wanita pada masa itu mencari sendiri pasangan hidupnya.

Saat ini ta'aruf merupakan suatu kebutuhan yang harus dilalui oleh pasangan yang akanmenikah. Ta'aruf ini akan sulit
dilakukan secara personal langsung tanpa ada yang memperantarai, karena hal ini tidak bedanya dengan pacaran yang
hanya dapat mengamat kepribadian seseoarng secara semu. Oleh kkarena itu diperlukan mediator yang dapat
menjembatani proses ta'aruf tersebut.

Sebelum ta'aruf dilaksanakan, maka ada baiknya masing-masing pihak yang terkait dalam hal ini telah memiliki
informasi tentang kepribadian masing-masing dan mereka juga melihat (nazor) si perempuan tanpa sepengetahuannya,
sebagaimana mazhab Syafi'I, Maliki, Ahmad dan Jumhur yang mengatakan kebolehan memandang calon yang akan
dikhitbah tanpa sepengetahuannya. Maka boleh jadi ia tidak tertarik setelah melihat wanita dan membatalkan maksudnya
tanpa meninggalkan ketersinggungan dipihak yang lain (wanita).

Apabila masing-masing pihak telah berkenan setelah melihat foto dan biodata, selanjutnya diadakan ta'aruf atau
perkenalan secara lahiriyah dengan melibatkan pihak ketiga (mediator atau keluarga dan kerabat mereka). Yang
dilakukan saat ta'aruf iniadalah untuk mengetahui/menggali lebih dalam lagi tentang calon pasangan hidupnya baik
secara jasadiyah (fisik) seperti bentuk, rupa dan penampilannya, atau fikriyah (pemikiran) yang berupa wawasan,
intelektual atau cara pandang kehidupan dll, maupun nafsiyah (kepribadian/sifat, karakter, watak dan akhlak). Dari
semua hal tersebut yang terutama dan utama dalam pemilihan tersebut adalah dengan
mengedepankan akhlak dan ad-dien diatas segala-galanya.

Sangat dianjurkan dalam proses ini bagi pasangan yang berniat menikah agar melakukan sholat istikharoh untuk
meminta taufik (pertolongan) dan kemudahan kepada Allah SWT. Jabir bin Abdullah berkata : Rasulullah saw mengajari
kami istikhorohdalam semua perkara sebagaimana beliau mengajari kami surat al-quran, beliau bersabda : Apabila salah
seorang dari kamu
berkepentingan terhadap suatu urusan, maka hendaklah ia melakukan sholat dua rakaat yang bukan fardhu, kemudian
berdoa: Allohumma inni astakhiruka bi'ilmika wa astaqdiruka biqudrotika wa as'aluka min fadhlikal 'azim, fainnaka
taqdiru wala aqdiru wa ta'lamu anna hazal
amra khoirun li fi diini wama 'asyi wa'aqibati amri faqdurhu li wayassurhu li tsumma barikli fihi. Wainkunta ta'lamu
anna hazal amra syarrunli fi diini wama 'asyi wa'aqibati amri fashrifhu 'anni, washrifni 'anhu, waqdurliyal khoira haitsu
kaana tsumma radhdhini bihi.(Ya Allah, sesungguh-nya aku memohon pilihan kepadaMu dangan kekuasanMu, dan aku
memohon sebagian dari karuniaMu yang agung. Karena sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa sedang aku tidak
berkuasa. Engkaulah yang mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara-
perkara gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat
urusanku, maka tentukanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku, kemudia berilah aku berkah padanya. Dan jika
Engkau mengetahui bahwa hal ini jelek bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka

Hal : 2 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tentukanlah untukku kebaikan dimana saja ia berada, kemudian
jadikanlah aku ridho kepadanya)

Maksud istikhoroh ini agar si hamba bertawakal kepada Allah dan menyerahkan urusan kepadaNya untuk dipilihkan
yang terbaik dimanapun ia berada. Setelah sholat istikhoroh dilaksanakan, ia hendaknya melaksanakan urusan tersebut,
selama urusannya mudah tanpa kendala, semoga inilah jodohnya yang terbaik. Sebab bila dibiarkan berlama-lama bisa
jadi yang bersangkutan akan menjadi bimbang karena hati dan perasaannya bolk-balik dari waktu ke waktu. Namun
apabila setelah ta'aruf salah satu pihak tidak berminat lagi melanjutkannya
dengan alas an tertentu seperti tidak disetujui oleh orangtua maka pasrahkanlah persoalan tersebut kepada Allah SWT,
dan teruskan doa semoga Ia memberi penggantinya yang lebih baik lagi.
KHITBAH

Khitbah atau dalam bahasa Indonesianya berarti lamaran/pinangan merupakan permintaan dan janji untuk mengadakan
suatu pernikahan. Hal ini telah disyariatkan Allah SWT sebelum aqad nikah dilaksanakan. Tujuannya adalah agar
masing-masing pihak mengetahui karakter, sifat dan tingkah laku dari pasangan yang akan menjadi pendamping
hidupnya. Jadi arti penting masa khitbah adalah sebagai sebagai tenggang waktu yang baik untuk penyesuaian diri,
kecocokan dan keharmonisan antara kedua belah pihak. Tentu saja hal ini berbeda dengan pacaran yang menganut
prinsip kebebasan dan tidak memperhatikan norma-norma agama, serta tidak selalu bertujuan untuk menikah. Dalam
melakukan khitbah ini perlu diperhatikan adab-adabnya, antara lain:

Tidak boleh meminang pinangan orang lain. Umar bin Khatab berkata dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim : Nabi SAW melarang sebagian kamu menawarkan atas penawaran sebagaian yang lain, dan tidak boleh
seseorang meminang pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau mengizinkannya.

Memperlakukan si peminang sebagai laki-laki asing (bukan mahrom). Karena khitbah ini bukanlah aqad nikah, maka
statusnya masih sebagai orang asing (bukan mahram), dan tidak diperkenankan untuk berkhalwat. Hal ini perlu
ditekankan, untuk menghindari perbuatan yang tidak dibenarkan Islam, disamping ini kemungkinan batalnya khitbah
bisa saja terjadi.

Dianjurkan menemui dan memberi hadiah. Pertemuan yang sopan bagi laki-laki yang meminang dan wanita yang
dipinang ialah dengan kehadiran mahram wanita, karena hal tersebut akan menambah kemudahan untuk saling
mengenal. Dengan pemberian hadiah dari peminang kepada wanita yang dipinang diharapkan akan mempererat lagi tali
silaturrahim diantara mereka. Hadiah diberikan sesuai dengan kemampuan bagi yang bersangkutan, tidak diperkenankan
berlebih-lebihan, apalagi dengan niat pamer, atau memaksakan diri dengan berhutang hanya untuk memberikan hadiah
kepada pihak wanita yang akan dipinang.

Proses khitbah ini tidak perlu disiarkan kepada semua pihak, hanya kepada orang-orang tertentu saja seperti saudara
dekat dan kerabat dekat lainnya. Hal ini untuk meminimalisir keadaan yang tidak diinginkan jika khitbah tersebut
menjadi batal. Apabila khitbah terpaksa batal disebabkan oleh beberapa hal, maka adab yang perlu diperhatikan oleh
masing-masing pihak adalah tetap menjaga hubungan baik, merahasiakan informasi yang berkaitan dengan calon
pasangan sebab Allah memerintahkan kita untuk menutup aib saudara sesama muslim. Berkaitan dengan hadiah yang
telah diberikan maka menurut ulama Maliki, apabila pembatalan dilakukan oleh pihak laki-laki, maka ia tidak berhak
meminta hadiah yang telah diberikan, sedangkan apabila pembatalan dilakukan oleh pihak perempuan itu sendiri, maka
hadiah yang telah diberikan harus dikembali-kan. Setelah menyelesaikan khitbah, dianjurkan menyegerakan pernikahan.
Dan tidak ada patok-an waktu antara lamanya masa khitbah dengan pernikahan, semakin cepat tentu semakin baik, dan
hal ini merupakan "isti'jal" (tergesa-gesa) yang diperkenankan agama

Hal : 3 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Meriahkan Dunia Dengan Menikah


Oleh : Ir. Drs. Abu Ammar, MM

Jakarta PeKa Online, Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak
ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh
nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi
sekalian alam.

Dalam masalah pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Mulai dari bagaimana mencari kriteria bakal calon
pendamping hidup hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya.
Begitupula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan
berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam.

Begitupula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam menga-jarkannya.

Menikah merupakan jalan yang paling bermanfa'at dan paling afdhal dalam upaya merealisasi-kan dan menjaga
kehormatan. Dengan menikah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang di-haramkan Allah SWT. Oleh sebab itulah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan
memberantas kendala-kendalanya.

Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia. Nikah mengangkat cita-cita
luhur yang kemudian dari persilangan syar'i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan. Melalui
perannya bumi ini menjadi semakin semarak.

Melalui risalah (tulisan) singkat ini, anda saya ajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara pernikahan Islam
yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggal-kan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh
dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berke-panjangan dan melelahkan. Mestikah kita bergelimang dengan
kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..? Na'udzu billahi tsumma na'udzu billahi min dzalik.
Wallahu musta'an.

Muqaddimah

Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan serta dibahas. Persoalan
ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang
luhur dan sentral yaitu rumah tangga.
Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlaq.
Lembaga ini merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam yang kelak mempunyai peranan kunci dalam
mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di muka bumi ini. Menurut Islam, Bani Adamlah yang memperoleh
kehormatan untuk memikul amanah Illahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta'ala: Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi".
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Al-Baqarah: 30).

Pernikahan merupakan persoalan penting dan besar. 'Aqad nikah (pernikahan) adalah sebagai suatu perjanjian yang
kokoh dan suci (MIITSAAQON GHALIIZHOO), sebagaimana firman Allah Ta'ala: Bagaimana kamu akan
mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan
mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat". (An-Nisaa': 21). Karena itu, diharapkan semua
pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara
sunguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab.

Hal : 4 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran
menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan 'khitbah' (peminangan), mendidik anak, memberikan jalan
keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberikan nafkah) dan harta waris,
semua diatur oleh
Islam secara rinci dan detail.

Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang pernikahan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-
Qur'an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih). Melalui rujukan ini kita akan dapati
kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi
di masyarakat.

Tentu saja semua persoalan tersebut tidak dapat saya (penulis) tuangkan dalam tulisan ini. Hanya beberapa persoalan
yang perlu dibahas yaitu tentang: Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan
Penyimpangan Dalam Perkawinan.

Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan Agama Islam adalah agama fithrah dan manusia dicipta-kan Allah Ta'ala cocok
dengan fitrah ini. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar
tidak terjadi penyelewengan dan penyimpa-ngan. Dengan demikian manusia dapat berjalan di atas fitrahnya tersebut.

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan ('gharizah insaniyah'/naluri kemanusiaan). Karena itu Islam menganjurkan untuk
menikah. Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan
syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.

Firman Allah Ta'ala: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.

Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-
Ruum: 30).

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagi satu-satunya sarana
untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi serta sarana untuk membina keluarga yang Islami.
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan
separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam
memelihara yang separuhnya lagi". (Hadist Riwayat Thabrani dan
Hakim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak
mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami
untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras". Dan beliau bersabda: "Artinya: Nikahilah
perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para
Nabi kelak di hari kiamat". (Hadits Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang
peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang
berkata: "Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus". Yang lain berkata: "Adapun saya akan menjauhi
wanita, saya tidak akan kawin selamanya"....

Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda: "Benarkah kalian telah
berkata begini dan begitu ?. Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi
aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa
yang tidak
menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan memilih

Hal : 5 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

hidup membujang. Menurut Syaikh Hussain Muhammad Yusuf: "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering
dan gersang. Hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan.

Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan
mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab".

Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu
yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu berada dalam
pergolakan melawan fitrahnya.

Kendati ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan
melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

Jadi orang yang enggan menikah baik laki-laki atau wanita, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling
sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian hidup, baik kesenangan
bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.

Islam menolak sistem ke-'rahib-an' karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusia-an. Sikap itu melawan
sunnah dan kodrat Allah Ta'ala yang telah ditetapkan bagi semua mahluknya. Sikap enggan membina rumah tangga
karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada
di alam rahim.
Manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang diakaruniakan Allah, misalnya ia berkata: "Bila saya hidup sendiri gaji saya
cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!".

Perkataan ini adalah perkataan yang batil dan bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk nikah. Seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu
dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan
suatu pertolongan kepada orang yang nikah. Firman-Nya: "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu
dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui".
(An-Nur : 32).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya: "Ada t iga golongan manusia yang
berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka,
dan seorang yang menikah karena ingin meme-lihara kehormatannya". (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu
Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu 'anhu).

Para salafus shalih sangat menganjurkan untuk nikah. Mereka anti membujang dan tidak suka berlama-lama hidup
sendiri. Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu pernah berkata : "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka
menikah daripada aku harus menemui Allah
SWT sebagai seorang bujangan". (Ihya Ulumuddin hal. 20).

Tujuan Pernikahan dalam Islam


Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi. Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk
memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang amat kotor
menjijikan seperti cara-cara orang sekarang seperti: berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain
sebagainya yang telah menyimpang jauh dan diharamkan oleh Islam.
Untuk membentengi ahlak yang luhur. Sasaran utama dari disyari'atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah
untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji yang telah menurunkan dan meninabobokan
martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk
memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan
untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih

Hal : 6 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah
ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim,
Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Untuk menegakkan rumah tangga yang islami. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq
(perceraian). Jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah:
"Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara
yang baik.

Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya
khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang
diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah
hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka
itulah orang-orang yang zhalim". (Al-Baqarah : 229).

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila
keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat diatas: "Kemudian
jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dinikahkan
dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas
suami yang pertama dan istri) untuk nikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum
Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui". (Al-Baqarah: 230).

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Islam dalam rumah tangganya.
Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan
muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon
pasangan yang ideal yaitu: (a) sesuai kafa'ah; dan (b) shalih dan shalihah.

Kafa'ah menurut konsep islam


Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orangtua. Tidak sedikit pada zaman sekarang ini orang tua yang memiliki
pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan,
status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat,
sepadan) hanya diukur lewat materi saja.

Menurut Islam, kafa'ah (atau kesamaan/kesepadanan/ sederajat dalam pernikahan) dipandang sangat penting karena
dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang
Islami Insya Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah
menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang. Allah memandang sama derajat
seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya.

Tidak ada perbedaan dari keduanya kecuali derajat taqwanya. Firman Allah: "Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Al-Hujurat: 13).

Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para
orangtua, pemuda, pemudi untuk meninggalkan faham materialis dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang
Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Wanita dikawini karena empat hal: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikan-nya, dan karena
agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan
celaka". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Memilih yang shalih dan shalihah


Lelaki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih.
Menurut Al-Qur'an: "Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada,
olkeh karena Allah telah memelihara (mereka)". (An-Nisaa: 34). Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di

Hal : 7 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah : "Ta'at kepada Allah, ta'at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang
menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab
32). Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, ta'at kepada orangtua dalam kebaikan, ta'at kepada suami
dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya".

Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi
penerus umat.

Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.


Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari
sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih disamping ibadah dan
amal-amal shalih yang lain. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suami-istri) pun termasuk ibadah (sedekah).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!."
Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: "Wahai Rasulullah, seorang suami yang
memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?"

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan
selain istrinya, bukankah mereka berdosa? "Jawab para shahabat: "Ya, benar". Beliau bersabda lagi: "Begitu pula kalau
mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat
yang halal), mereka akan memperoleh pahala!". (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang
Shahih).

Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah.


Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman: "Allah telah
menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan
cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan
mengingkari nikmat Allah ?". (An-Nahl: 72).

Yang tak kalah pentingnya, dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan
membentuk generasi yang berkualitas yaitu mencetak anak yang shalih dan Shalihah serta bertaqwa kepada Allah SWT.
Keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan tarbiyah Islam (pendidikan Islam) yang benar. Disebutkan
demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan metodanya tidak Islami. Sehingga banyak terlihat
anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami sebagai akibat pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri
bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Islam memandang bahwa pembentukan keluarga merupakan salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang
lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan
mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

Tatacara Pernikahan Dalam Islam

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara pernikahan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih
(sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih). Secara singkat saya (penulis) sebutkan tahapannya dan jelaskan
seperlunya:

Khitbah (meminang). Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu,
karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang
sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq 'alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang
(Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Darimi).

Aqad nikah. Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang
harus dipenuhi yaitu:
Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

Hal : 8 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Adanya Ijab Qabul.


Adanya Mahar.
Adanya Wali.
Adanya Saksi-saksi.

Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan 'khutbah' terlebih dahulu yang dinamakan 'Khutbatun Nikah atau
Khutbatul Hajat'.

Walimah 'urusy (resepsi pernikahan). Walimatul 'urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin.
Hendaknya diundang juga orang-orang miskin. Rasulullah saw bersabda: "Makanan paling buruk adalah makanan
dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak
diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya".
(Hadits Shahih Riwayat Muslim dan Baihaqi dari Abu Hurairah).

Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin. Sabda Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan
makananmu melainkan orang-orang yang taqwa". (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad
dari Abu Sa'id Al-Khudri).

Sebagian Penyelewengan Seputar Pernikahan

Pacaran.
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya "berpacaran" terlebih dahulu. Hal ini biasanya
dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih
terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini melahirkan konsensus (persepsi) bersama antar berbagai pihak
untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah
anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang
berlainan jenis. Terjadi saling pandang, saling sentuh antara
lawan jenis yang sudah jelas haram hukumnya menurut syari'at Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama
mahramnya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk
berpacaran dan berpacaran itu hukumnya haram.

Tukar cincin.
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat,
nashiruddin Al-Bani)

Menuntut mahar yang tinggi.


Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak
wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

Mengikuti upacara adat.


Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara (upacara dan adat istiadat yang bertentangan
dengan Islam) maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan
menyanjung adat istiadat setempat, sehingga
sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan (sesuai
pengamatan dan perbincangan penulis).

Sungguh sangat ironis...!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam,
berarti mereka belum yakin kepada Islam.

Hal : 9 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang
lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?". (Al-Maaidah : 50). Orang-orang yang mencari
konsep, peraturan, dan tatacara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di akhirat mereka
akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang mencari agama selain
agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang
yang rugi". (Ali-Imran : 85).

Mengucapkan ucapan selamat ala jahiliyah.


Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata 'Birafa' Wal Banin', ketika mengucapkan selamat kepada kedua
mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam. Dari Al-
Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan
ucapan jahiliyah : 'Birafa' Wal Banin'. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata: "Janganlah kalian ucapkan
demikian !. Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya: "Lalu apa
yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?". 'Aqil menjelaskan:
"Ucapkanlah: Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum" (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan
melimpahkan atas kalian keberkahan).

Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi
Syaibah, Darimi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah: "Baarakallahu laka wa
baarakaa 'alaiyka wa jama'a baiynakumaa fii khoir" Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah: 'Artinya: Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada
seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a: Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'a baiynakuma fii khoir
(mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam
kebaikan). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Adanya ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita).


Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan
antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita
sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. (untuk yang satu ini masyarakat kita belum terbiasa dengan sunnah
Rasulullah SAW, bahkan sangat asing dengan nilai-nilai yang dibawa oleh ajaran Islam)

Pelanggaran lain.
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar, memakan hidangan
yang disediakan sambil berdiri, dsb.

Khatimah Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi 'sakinah' (ketentraman
jiwa), 'mawaddah' (rasa cinta) dan 'rahmah' (kasih sayang). Allah ber-firman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga)
telah menjadikan di antaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (Ar-Ruum : 21).

Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihan-nya serta harus tahu
pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab. Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha'an
Allah SWT dapat terealisir.

Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan
selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia
mendadak dilanda "kemelut" perselisihan dan percekcokan. Bila sudah diupayakan untuk damai (sebagaimana
disebutkan dalam surat An-Nisaa : 34-35) namun tetap gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu "perceraian".

Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami.
Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.
Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala (Ali-Imran: 19). "Ya Tuhan kami,

Hal : 10 dari 11 hal


Kumpulan Artikel
Koleksi : Nasrul Budiyanto , Ir. H
Alamat : Jl. Gandaria No. 152 Depok
Telepon : (021) 771 0152

anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi
orang-orang yang bertaqwa". (Al-Furqan; 25:74 ). Amiin.

***

Wassalam
-Eri Riefika-

Hal : 11 dari 11 hal