Anda di halaman 1dari 22

TUGAS PANCASILA

OLEH

NAMA : NI PUTU DESI ANTINI


KELAS : I B /D III FSRMASI
NIM : 1909484010067

PRODI D-III FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

2019/2020

1
“PERAN GENERASI MILLENIAL DALAM PELESTARIAN BUDIDAYA
BATIK DI INDONESIA”

OLEH

NAMA : NI PUTU DESI ANTINI


KELAS : I B /D III FSRMASI
NIM : 1909484010067

PRODI D-III FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

2019/2020

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal sebagai negara kaya akan
sumber alam dan budaya,baik budaya berupa benda maupun tidak benda.
Kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan warisan dari nenek
moyang bangsa Indonesia. Budaya tersebut diwariskan secara turun temurun
dari generasi ke generasi. Kegiatan kehidupan yang dilakukan oleh bangsa
Indonesia memiliki nilai histori yang berbeda di setiap daerah. Hal ini
menggambarkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa besar
yang dapat menjadi aset bangsa dan nilai jual untuk kepentingan diplomasi
Indonesia di dunia internasional. Warisan budaya itu semua adalah cerminan,
bahwa leluhur bangsa Indonesia memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam
menciptakan karya budaya beserta symbol filosofinya. Salah satu kekayaan
budaya yang miliki oleh Indonesia adalah batik.
Batik merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia saat ini.
Batik merupakan salah satu warisan nusantara yang unik. Keunikannya
ditunjukkan dengan barbagai macam motif yang memiliki makna tersendiri.
berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata
mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau
melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik
artinya melempar titik berkali-kali pada kain. Adapula yang mengatakan
bahwa kata batik berasal dari kata amba yang berarti kain yang lebar dan kata
titik. Artinya batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang
lebar sedemikian sehingga menghasilkan pola-pola yang indah.
Dijaman sekarang, dimana kemajuan teknologi telah demikian pesat, tak
seharusnya bangsa ini lalai dengan peninggalan yang bersejarah, karena
muatan nilai luhur bangsa Indonesia tersimpan di setiap karya-karya itu.
Kemajuan teknologi internet dengan kemampuannya menembus batas

3
geografis, bahkan seakan dunia tak berjarak, bukanlah penghalang untuk tetap
melestarikan budaya yang ada. Diera millennial ini, peran internet menjadi
sangat massif di kalangan masyarakat. Dalam perkembangannya, internet
memberikan berbagai layanan komunikasi dan yang paling sering dikunjungi
akhir-akhir ini adalah Instagram, twitter, whasapp, dan beberapa lainnya.
Setiap orang dapat dengan mudah berbagi pengalaman ataupun memuat
tulisan apa saja disana. Hal ini mendorong terjadinya pertukaran informasi
secara global dengan cepat.
Dengan kondisi yang seperti ini, para pemuda generasi millennial
seharusnya tidak kehilangan akal dalam rangka mengembalikan posisi
kearifan local yang mulai tergeser oleh budaya asing, generasi millennial
harus bisa menjaga budaya tradisi asli bangsa Indonesia, karena ini adalah
identitas dan bernilai luhur dari nenek moyang bangsa Indonesia ,kemajuan
teknologi justru bisa dimanfaatkan untuk mengemas secara kreatif budaya asli
bangsa Indonesia untuk diperkenalkan di dunia Internasional, mencintai
budaya asli Indonesia bukanlah hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Justru
akan bernilai positif jika bisa daengan kreatifitas menampilkan dan
memperkenalkan kepada dunia. Banyaknya orang asing yang belajar tentang
budaya Indonesia telah membuktikan, bahwa budaya Indonesia mempunyai
nilai yang tinggi dan layak untuk dipelajari dan bahkan harus dilestarikan.
Tidak cukup sampai disitu, juga dibutuhkan jiwa-jiwa kreatif yang mampu
menjawab tantangan zaman ini. Untuk mempublikasikan kearifan lokal yang
dimiliki Indonesia tidaklah cukup dengan menuangkannya pada halaman
buku bacaan. Akan menjadi solusi brilian jika kearifan lokal ini
diprogandakan dengan cara-cara yang millennial juga yaitu dalam bentuk
tulisan-tulisan yang dibagikan melalui media internet baik berupa karya
ilmiah, maupun bacaan santai dijejaring sosial. Aksi ini dapat membantu
mengedukasikan nilai-nilai kearifan lokal yang mampu mereduksi resiko
terjangkit budaya asing yang merugikan.

4
1.2 RUMUSAN MASALAH

1.Bagaimana perkembangan batik dan peran generasi millenial serta


pemerintah dalam melestarikan budidaya batik di Indonesia ?
2. Bagaimana peran batik sebagai warisan budaya bangsan Indonesia di era
globalisasi dalam merealisasikan cinta produk dalam negeri?
1.3 TUJUAN
1.Untuk mengetahui apa saja peran generasi millenial dan pemerintah dalam
pelestarian budidaya batik di Indonesia
2.Untuk mengetahui elemen-elemen pendukung batik sebagai kultural
bangsa Indonesia dalam era globalisasi dalam merealisasikan cinta produk
dalam negeri

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembannga batik dan peran generasi millenial serta pemerintah
dalam melestarikan budaya batik di Indonesia

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan


majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan
batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada
masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian
gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan
keluarga raja-raja Indonesia zaman dahulu. Awalnya batik dikerjakan hanya
terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta
para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar
kraton, maka kesenian batik ini dibawah oleh mereka keluar kraton dan
dikerjakan ditempatnya masing-masing. Dalam perkembangannya lambat
laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas
menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu
senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana,
kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbu-tumbuhan
asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain : pohon mengkudu, soga, nila,
dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah
lumpur. Jadi kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan
Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai
meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya
suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik
yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik
cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.
Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia. Industri batik
di Jawa mengalami pasang surut. Sempat maju dan berkembang pesat pada

6
tahun 1970an. Dan mengalami kemunduran disebabkan oleh krisis moneter
tahun 1997, bom Bali 1 dan 2 yang memperparah keadaan dan juga bencana
alam yang terus saja terjadi sampai saat ini (gempa di Yogya dan lumpur
Sidoarjo). Geliat industri batik memang agak meredup ini dapat dilihat dari
berkurangnya usaha-usaha produksi batik dan mengalihkan ke usaha yang
lain. Misalnya saja industri batik Yogyakarta dari 1200 unit usaha yang ada di
awal 1970-an saat ini tinggal 400 unit usaha yang bertahan. Data dari
Koperasi Batik Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Kobat PPBI)
Yogyakarta dari 116 unit usaha hanya tinggal 16 unit usaha. Yang benar-
benar menjalankan unit usaha tersebut hanya 5 unit usaha. Hal yang sama
terjadi kabupaten lain di DIY yaitu di Gunung Kidul. Menurut data Dinas
Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY, jumlah
batik tulis di Gunung Kidul tahun 2003-2004 berkurang dari 107 unit usaha
menjadi 8 unit usaha. Hal yang sama juga terjadi di Koperasi Kobat Tantama
lebih dari 70 persen dari 132 anggota pengrajin tidak lagi aktif menjadi
produsen batik. Hal yang sama terjadi pada batik Lasem, pada masa jayanya
batik Lasem sering diekspor ke luar negeri khususnya Suriname. Dari sekitar
140 pengusaha batik pada tahun 1950-an, kemudian morosot menjadi 70
pengusaha pada tahun 1970-an Dan saat ini hanya tinggal 12 orang saja yang
bertahan. Salah satu yang menyebabkan pudarnya industri batik Lasem
adalah sumber daya manusia. Karena kebanyakan jenis batik Lasem adalah
batik tulis yang proses pembuatannya rumit sehingga tidak ada regenerasi.
Sedangkan untuk industri batik Pekalongan prospeknya masih menjanjikan
dibandingkan industri batik yang lain. Dari data pemerintah kota Pekalongan
diketahui terdapat 1.719 pengrajin batik yang tersebar di 3 kecamatan yaitu
Pekalongan barat, Pekalongan Timur dan Pekalongan Selatan. Dan terdapat
600 perusahaan batik dan 700 perusahaan garmen. Dan memiliki empat grosir
besar yaitu Sentono (225 kios), Pasar Gamer (350 kios) dan Mega Grosir MM
(180 kios)dan pasar Metono. Tetapi industri batik Pekalongan lebih
menjanjikan di banding dari daerah yang lain. Walaupun menghadapi
masalah yang tidak jauh berbeda yaitu mahalnya biaya produksi. Hal ini

7
menyebabkan pembeli batik asal Perancis dan Kanada mulai merelokasi order
batik dari Indonesia ke Vietnam karena harganya lebih murah 25 % dari
Indonesia. Akibatnya ekspor batik Indonesia yang diperkirakan mencapai
US$ 100 juta/tahun menjadi berkurang. Ini disebabkan pembeli asing mencari
batik printing dengan harga lebih murah. Apalagi saat ini negara kompetitor
yaitu Vietnam dan China sudah mengembangkan mesin batik printing yang
lebih canggih. Tidak hanya Perancis dan Kanada yang merelokasi order,
pembeli dari Timur Tengah dan Afrika juga mulai mencari batik yang lebih
murah. Sehingga ekspor berkurang sebanyak 40 %. Hal lain yang menjadi
masalah bagi industri batik adalah kurangnya bahan baku, sehingga
kebanyakan pengusaha batik mengimpor sehingga biaya produksi semakin
meningkat dan harga jual semakin mahal. Sementara itu pasar domestik juga
bersaing dengan batik printing dari Cina yang lebih murah. Masalah lain yang
dihadapi oleh industri batik Indonesia adalah hak paten. Kebanyakan desain
dan corak batik Indonesia ditiru oleh Cina, Malaysia dan Vietnam. Apalagi
saat ini Malaysia telah mempatenkan batik sebagai produk Malaysia dan
mempunyai hak untuk ekspor. Ini sangat merugikan industri batik di
Indonesia. Sehingga masalah hak cipta ini membuat para pengrajin batik
dirugikan. Dan lagi selama ini batik telah dikenal sebagai identitas bangsa
Indonesia. Dan ini menjadi polemik jika para pengrajin tidak diarahkan untuk
mempatenkan desain yang mereka buat untuk menghindari penjiplakan.
Untunglah saat ini batik sudah diakui oleh lembaga PBB yaitu UNESCO
sebagai bagian warisan budaya dari Indonesia. Hari Batik Nasional yang jatuh
pada 2 Oktober lalu merupakan momen tepat untuk berintrospeksi mengenai
sejauh mana pengetahuan kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki batik
sebagai salah satu warisan budaya.
Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi
bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Jika pada zaman dahulu batik hanya
diperuntukan bagi keluarga raja-raja saja, kini seiring perkembangan zaman,
batik di Indonesia ikut berkembang menjadi kesenian yang hampir ada di
seluruh wilayah Indonesia.

8
Pada tahun 2009, peresmian batik Indonesia sebagai warisan budaya oleh
dunia internasional melaui United Nations Educational, Scientifit, and
Cultural Organization (UNESCO) menuntut masyarakat Indonesia agar lebih
bertanggungjawab dalam mempertahankan kelestarian batik sebagai warisan
budaya. Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki kewajiban untuk
menjaga dan melestarikan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, dan
salah satunya adalah batik. Hal ini perlu kita lakukan agar kebudayaan seni
batik tidak akan punah termakan zaman meskipun di era globalisasi seperti
saat ini.
Selain itu, pelestarian ini juga diperlukan agar kesenian batik tidak pernah
bisa diklaim oleh bangsa lain. Saat ini, batik tidak hanya digandrungi oleh
warga lokal, namun banyak orang luar negeri dan wisatawan asing yang
datang ke Indonesia juga menyukai batik. Tak jarang dari mereka membeli
dan mengenakan pakaian bermotif batik. Dulu hampir semua orang Indonesia
merasa tidak bangga dengan batik, bahkan merasa tidak pede saat
mengenakannya. Jangankan ikut berpartisipasi melestarikan batik,
keberadaannya saja tidak dianggap sama sekali. Namun setelah kesenian ini
sempat diklaim oleh negara lain, kini antusiasme mereka untuk menjaga dan
melestarikan batik sangat tinggi.

Namun sekarang Batik Indonesia telah terkenal luas dalam mancanegara


karena di lihat dari corak atau modif yang sangat indah, banyak orang
mengagumi akan keindahan batik di Indonesia .Sementra itu generasi
millenial harus bisa menjaga pelestarian dari batik dari warisan luluhur kita.
Adapun cara melestarikan batik antara lain:
Bangga menggunakan Batik,menjadi warisan budaya bukan berarti kain
Batik hanya disimpan di museum atau bahkan lemari Anda. Dengan
menggunakannya, Anda telah membantu mempromosikan Batik kepada
orang lain secara tidak langsung. Tentunya dengan mempromosikan kain
khas Indonesia ini akan membuatnya semakin terkenal dan masyarakat
seluruh dunia tahu bahwa Batik adalah milik Indonesia.

9
Melibatkan generasi muda untuk memproduksi Batik,memproduksi Batik
dengan orang-orang tua yang sudah berumur. Jika hal ini terus dibiarkan,
maka tidak akan ada anak muda yang akan meneruskan kesenian membantik.
Oleh sebab itu, mengajarkan generasi muda untuk membatik bisa membantu
melestarikan Batik agar tetap hadir sebagai warisan budaya Indonesia.
Dukungan pemerintah kepada pelaku bisnis Batik,kain Batik bisa hadir di
tengah-tengah masyarakat saat ini tidak lepas dari kerja para produsen dan
pelaku bisnis kerajinan ini. Jika para pebisnis berperan untuk memproduksi
Batik, maka peranan pemerintah ialah mendukung para pebisnis ini. Caranya,
cukup bantu mereka memasarkan produk Batik hingga ke mancanegara.
Dengan begitu, pemerintah telah melakukan langkah besar untuk
melestarikan Batik nusantara.
Memperkenalkan Batik ke kancah Internasional,banyak negara yang
menggelar pameran bertema Produk Khas Luar Negeri yang bisa diikuti oleh
berbagai negara di seluruh dunia. Dengan mengikuti acara ini, Indonesia bisa
melestarikan Batik dan kain khas lainnya.

Cara generasi milenial melestarikan batik Indonesia, di tengah maraknya


teknologi informasi yang malang melintang menebarkan berbagai macam
pola hidup dan budaya asing. Di antaranya adalah:

Berkunjung ke tempat-tempat wisata batik, seperti museum batik atau desa


wisata batik. Di museum batik yang terdapat di sejumlah kota di Indonesia,
kita bisa menambah pengetahuan seputar batik, mulai dari sejarahnya, cara
pembuatannya, sampai melihat keberagaman batik Indonesia dari zaman dulu
sampai sekarang. Beberapa museum batik bahkan menyediakan fasilitas
untuk kita yang ingin belajar membatik, contohnya saja Museum Tekstil di
Jakarta. Sementara itu di desa-desa wisata batik, selain berbelanja kita juga
bisa melihat langsung proses pembuatan batik. Dengan berkunjung ke
tempat-tempat wisata batik itu, pengetahuan dan kecintaan kita terhadap batik

10
jadi bertambah, tempat yang kita kunjungi pun jadi memperoleh pemasukan
yang bisa membantunya bertahan dari gempuran zaman.

Menanamkan kecintaan terhadap batik kepada anak, keponakan, atau anak-


anak kecil di sekitar kita. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa kita di
masa yang akan datang. Agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak
melupakan budaya bangsanya, tentu kita bertanggung jawab untuk
menanamkan rasa cinta terhadap batik kepada mereka sedari dini. Misalnya
saja dengan memberi mereka baju batik sebagai oleh-oleh. Atau jika sudah
berkeluarga dan punya anak, kita bisa membuat batik sarimbit untuk seluruh
anggota keluarga yang dapat dipakai kembaran pada acara-acara resmi
tertentu.

Ikut memasarkan batik. Di daerah-daerah, ada banyak pengrajin batik yang


kurang bisa memasarkan batik buatannya. Sayang sekali kalau mereka sampai
berhenti membatik, atau generasi penerusnya tidak mau melanjutkan
pekerjaan ini karena penghasilan yang dirasa kurang. Jika kebetulan
mengetahui kasus semacam ini, kita bisa coba memasarkan dan menjualkan
batik-batik mereka. Dengan menjual batik, kita bisa belajar berwirausaha dan
memperoleh untung, orang-orang di sekitar kita jadi terpengaruh untuk
membeli dan memakai batik jualan kita, pengrajinnya mendapat penghasilan,
batik pun semakin lestari.

Generasi milenial harus bisa menjaga budaya tradisi asli bangsa Indonesia,
karena ini adalah identitas dan bernilai luhur dari nenek moyang bangsa
Indonesia.

11
Kemajuan teknologi justru bisa kita manfaatkan untuk mengemas secara
kreatif budaya asli bangsa Indonesia untuk diperkenalkan di dunia
internasional.

Mencintai budaya asli Indonesia bukanlah hal yang kuno dan ketinggalan
jaman. Justru akan bernilai positif jika bisa dengan kreatifitas menampilkan
dan memperkenalkan kepada dunia. Banyaknya orang asing yang belajar
tentang budaya Indonesia telah membuktikan, bahwa budaya Indonesia
mempunyai nilai yang tinggi dan layak untuk dipelajari dan bahkan harus
dilestarikan.

Peran Pemerintah dalam upaya Melestarikan Batik di Indonesia adalah


mendorong pelaku bisnis yang bergerak di industri kerajinan batik. Sehingga
para pengrajin batik dapat memasarkan produk mereka hingga ke
mancanegara guna mendapatkan konsumen yang lebih luas. Upaya ini
bertujuan untuk memperkenalkan produk asli Indonesia ke dunia
internasional, serta mempertegas bahwa batik merupakan milik bangsa
Indonesia.
mewajibkan seluruh PNS menggunakan batik atau kain tradisional. Batik
yang wajib dipakai adalah Batik Indonesia. Peraturan ini berlaku untuk setiap
hari Jum’at. Kebijakan pemerintah ini diatur dalam Peraturan Bupati No. 18
Tahun 2010 tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan
Pemerintah Indonesia. Dalam melestarikan batik Indonesia sangat
membutuhkan peran dari pemerintah. Kewenangan pemerintah dalam
melestarikan Batik Indonesia dijadikan dasar bagi pembuatan serta penetapan
kebijakan. Jika terjadi masalah dalam melestarikan batik dapat diselesaikan
dengan baik melalui kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sejalan
dengan pendapat Budiardjo (2008:20) menyatakan bahwa kebijakan
merupakan suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau
kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk mencapai
tujuan itu. Jadi kebijakan ini dilakukan dengan cara untuk mengeluarkan

12
keputusan, strategi, perencanaan, dilapangan menggunakan instrument
tertentu. Peran pemerintah selanjutnya adalah pemerintah melalui Dinas
Sosial, Dinas Koperasi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan
pelatihanpelatihan agar seni kerajinan batik In donesia tidak kehilangan
pengrajinnya dan sekaligus peminatnya. Selain itu peran pemerintah tidak
berhenti pada pelatihan saja. Selain memberikan bantuan yang berupa
keterampilan dengan instruktur batik yang handal, pemerintah juga
memberikan bantuan berupa modal uang dan modal peralatan untuk
membatik. Modal peralatan ini sangat berguna untuk para pengrajin. Begitu
juga dalam pemasaran dan promosi, peran pemerintah sudah terlihat.
Pemerintah melakukan promosi batikIndonesia melalui internet seperti blog,
facebook, dll

2.2 Elemen -elemen pendukung batik sebagai kultur warisan budaya bangsa
Indonesia di era globalisasi dalam merealisasikan cinta produk dalam negeri
Dalam perkembangan dunia yang sudah modrn ini generasi millenial harus
bisa mempertahankan warisan lelehur yang sudah di turunkan dari dulu salah
staunya batik ,dalam mempertahankan batik salah satunya batik harus
mempunyai nilai-nilai mengapa batik harus di lestarikan.
Event Bertema Batik “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai
budayanya, Indonesia layak disebut bangsa yang berbudaya.” Itulah kutipan
kalimat dari Nelson Mandela, seorang pejuang apartheid yang pernah
menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan. Penghargaan batik sebagai warisan
budaya sendiri inilah yang mengantarkan negara Indonesia mendapatkan
pengakuan dunia yang diwakili oleh UNESCO bahwa Batik adalah Indonesia
Cultural Heritage dan masuk dalam daftar World Heritage. Pengakuan dunia
atas batik Indonesia juga harus diikuti oleh tindakan nyata bangsa Indonesia
untuk melestarikan warisan budaya seni batik. Salah satu tindakan nyata
untuk membangkitkan kesadaran akan rasa memiliki batik dan
melestarikannya yaitu dengan menyelenggarakan event atau acara-acara

13
bertema batik. Event lokal bertema batik sudah rutin diselenggarakan di
berbagai daerah seperti di Solo ada “Solo Carnival: Batik is my Life” yang
dijadwalkan pada 21 Februari 2016; Java Expo 2016, Pameran Nasional yang
mengkolaborasikan sektor pariwisata, perdagangan dan investasi yang diikuti
oleh peserta di wilayah Indonesia dan dijadwalkan pada tanggal 4-8 Mei
2016; Solo Investment Trade and Tourism Expo 2016, merupakan kolaborasi
pameran investasi, perdagangan dan pariwisata untuk memperkenalkan
potensi investasi dan pariwista di Solo; Solo Batik Carnival yakni karnaval
yang menganbil tema batik yang dijadwalkan pada Juli 2016; Solo Batik
Fashion, menampilkan desain batik yang bisa digunakan sebagai tolok ukur
busana batik nasional dan event ini dijadwalkan pada Oktober 2016; Pasar
Seni Balekambang, yakni pasar seni budaya yang beraneka ragam dan
dijadwalkan pada Oktober 2016. Membatik yang diadakan oleh Tembi
Rumah Budaya di Bantul dan diadakan setiap Minggu yang bertujuan untuk
mengenalkan budaya batik pada masyarakat; TEBAKIN merupakan pameran
tenun, batik dan kain khas Nusantara dijadwalkan pada bulan Agustus 2016;
Jogja Fashion Week akan digelar bulan Mei 2016. Sementara itu di beberapa
kota lain juga menyelenggarakan event-event yang mendukung karya seni
batik. Di Pekalongan ada Pekan Batik Internasionl yang dijadwalkan bulan
Oktober tahun ini. Selain itu ada juga Kirab Budaya Kota Pekalongan dan
Karnaval Batik Pekalongan. Acara ini menampilkan seluruh potensi budaya
di Pekalongan. Adapun Lasem juga menyelenggarakan Karnaval Batik Lasem
yang baru diluncurkan pada tahun 2013 silam. Sedangkan Bali yang menjadi
maskot pariwisata Indonesia mengusung Pesta Kesenian Bali. Acara ini bulan
Juni pada hari Sabtu minggu kedua dan hari Sabtu minggu kedua bulan Juli.
Acara ini merupakan pameran berbagai macam karya seni dan pencapaian
seni yang dikunjungi oleh turis domestik dan manca negara. Sedangkan
Cirebon juga menyelenggarakan event budaya seperti Pagelaran Seni Keraton
Kasepuhan. Pagelaran ini menampilkan bermacam karya seni termasuk batik
yang sudah dipakai para aristokrat di sana sejak dulu. Di dalam acara ini
termasuk lomba Duta Batik Cirebon. Adapun pemerintah juga berperan aktif

14
dalam mengusung seni batik yang diwujudkan dalam event-event nasional
dan diikuti oleh para perajin di Indonesia diantaranya Festifal Batik Bordir
dan Tenun Nusantara 2016 di Graha Manggala Siliwangi Bandung; Pameran
Produk Unggulan Koperasi, UKM, dan PKBL 2016 di Java Mall Semarang;
Pameran Fashion Batik Handycraft di Bellevue Mall Lebak Bulus Jakarta;
Batik Bordir Accessories Fair di Grand City Surabaya; Gebyar Wisata
Budaya dan Nusantara 2016 di JCC Jakarta; Gelar Batik Nusantara di JCC
Jakarta; Inacraft di JCC yang menampilkan beragam karya seni Indonesia.
Kegitan tersebut diatas dilakukan secara kontinyu dan terencana sehingga
lambat laun membentuk kesadaran masyarakat pada warisan seni batik yang
akhirnya dilekatkan sebagai identitas budaya bangsa. Selain itu, kegiatan
tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan gairah industri pariwisata yang
dapat menarik wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara agar turut
mengenal dan mempopulerkan ciri khas seni adiluhung dari Indonesia berupa
seni batik.
Tujuan Wisata Setelah diakui oleh UNESCO bahwa batik merupakan
Indonesian Cultural Heritage, maka geliat industri batik dan pariwisata batik
semakin terlihat nyata. Digelarnya event-event rutin yang bertema batik
setiap tahun telah mengundang para turis baik domestik dan luar negeri untuk
datang melihat, membeli dan bahkan investasi. Virus positif akan kegiatan ini
terbaca dari maraknya penjualan batik, padatnya akomodasi dan perhotelan,
larisnya restoran yang otomatis mengangkat kemakmuran masyarakat yang
bersinggungan dengan acara tersebut. Gema wisata juga didengungkan di
Kampoeng Batik – kampoeng Batik yang tidak hanya memproduksi dan
menjual batik akan tetapi juga menawarkan wisata edukasi. Salah satu jenis
wisata edukasi di kampoeng batik yaitu melihat proses pembatikan dan diajari
cara membatik menggunakan canting dengan media kain kecil seukuran sapu
tangan atau taplak meja. Para pengunjung akan mempraktekkan cara
membatik dengan canting yang nantinya akan di berikan kepada pengunjung
sebagai kenang kenangan. Pengalaman membatik sendiri inilah yang menjadi
suguhan unik sehingga banyak pengunjung yang penasaran dan ingin

15
mencoba. Selain kampoeng batik, ada juga trade center atau pusat batik yang
menjual berbagai macam kain batik dan baju batik jadi. Wisatawan bisa
membeli batik di tempat ini secara eceran dan kodian. Tugas bangsa
Indonesia dalam melestarikan batik khususnya di industri pariwisata yakni
bagaimana caranya membawa batik sebagai “souvenir wajib” sehingga tidak
afdol kiranya jika berkunjung ke Indonesia tanpa membeli kain batik.
Perajin Batik dan Industri Batik Pada awalnya, seni batik hanya ada di
lingkungan keraton. Hal ini sebagai salah satu cara untuk menunjukkan
eksistensi para aristokrat pada karya seni yang dihasilkan. Namun pada waktu
sekarang, seni batik sudah menyebar luas di masyarakat bahkan profesi
sebagai pembatik sudah menjadi mata pencaharian masyarakat terkhusus
kaum perempuan. Di daerah Jawa Tengah telah berkembang pesat para
perajin batik/pembatik dan industri batik seperti di Yogyakarta dan Surakarta.
Di Yogyakarta, industri batik juga mengalami pasang surut. Menurut
Nurainun (2008), pada tahun 1970an, terdapat 1200 unit usaha batik dan
sampai dengan tahun 2008, tinggal 400 unit usaha yang bertahan. Sementara
itu dari data Koperasi Batik Persatuan Pengusaha Batik Indonesia di
Yogyakarta, dari 116 unit usaha batik, kini tinggal 16 usaha saja, sedangkan
yang benar-benar menjalankan usah batik hanya 5 unit. Sementara itu di
Gunung Kidul, data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi DIY
menyatakan bahwa jumlah industri batik tulis dari tahun 2003-2004 menurun
drastis dari 107 unit usaha menjadi 8 unit saja. Tren penurunan jumlah unit
usaha juga terjadi di koperasi Kobat Tantama bahwa lebih dari 70%
anggotanya sudah tidak aktif lagi bergerak di sektor industri batik dari total
anggota berjumlah 132 perajin. Tren penurunan unit usaha juga terjadi pada
batik Lasem. Diawali pada tahun 1950an, terdapat 140 pengusaha batik
kemudian merosot menjadi 70 pengusaha batik di tahun 1970an. Di tahun
2008, hanya 12 orang saja yang bertahan menjalani bisnis batik. Hal utama
yang mendasari pudarnya sinar industri batik Lasem yaitu sumber daya
manusia. Tidak ada regenerasi pembatik muda karena batik Lasem sebagian
besar merupakan batik tulis. Adapun industri batik di Pekalongan masih

16
bertahan sampai sekarang bahkan cenderung prospektif. Menurut Nurainun
(2008: 125), Dari data pemerintah Pekalongan diketahui terdapat 1719
pengrajin batik yang tersebar di tiga kecamatan yaitu Pekalongan Barat,
Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan. Terdapat 600 perusahaan batik
dan 700 perusahaan garmen. Memiliki empat grosir besar yaitu Sentono (225
kios), Pasar Gamer (350 kios), Mega Grosir MM (150 kios) dan pasar
Metono. Sementara itu industri batik di Solo juga megalami peningkatan
mulai satu dekade silam. Ada dua sentra batik di Solo yang perpusat di
Laweyan dan Kauman. Di Laweyan, telah terbentuk Forum FPKBL yakni
Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan dengan ketua Alpha Febela
Priyatmono. Kampoeng Batik Laweyan didominasi pelaku usaha menengah
dan besar sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. “Ada 93 pelaku usaha di
Laweyan, lebih dari 50 % adalah pelaku usaha kecil yanng pekerjanya kurang
dari 7 orang,” ujar Alpha Febela kepada Tempo, Jumat 3 Mei 2013.
Sementara itu Kampoeng Batik Kauman juga terlihat denyut industri
perbatikannya. Sejak Februari 2006 dibentuklah Paguyuban Kampoeng Batik
Kauman. Saat ini klaster Kampoeng Batik Kauman memiliki 72 anggota dan
yanag sudah bergabung dalam koperasi ada 40an anggota. Sementara di
Cirebon, terdapat Kampung Batik Trusmi yang merupakan pusat industri
wisata batik di Cirebon. Kampung ini mencakup lima desa yaitu Desa Trusmi
Wetan, Trusmi Kulon, Panembahan, Wot Gali, dan Weru. Menurut Kabid
Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon , Supardi
terdapat 402 unit usaha kerajinan batik, namun banyak yang terbentur modal.
Untuk batik Lasem kabupaten Rembang, sumber dari Dinas Indagkop UKM
Kabupaten Rembang tahun 2012 menyebutkan terdapat 54 pengusaha industri
batik Lasem dengan produktifitas per bulan sekitar 16 ribu lembar dan
menyerap tenaga kerja sejumlah 2119 orang. Di tahun 2013, jumlah
pengusaha industri batik naik menjadi 71 orang dengan produktifitas per
bulan mencapai 20 ribuan lembar dan menyerap tenaga kerja sejumlah 4.457
orang. Pada tahun 2014, tren kenaikan terus terjadi, ada 84 orang pengusaha
batik dengan produktifitas per bulan mencapai 24 ribu lembar dan melibatkan

17
4.620 orang. Dari sekian orang yang terjun di industri batik, tercatat sebanyak
7 orang pengusaha batik Lasem yang telah melindungi karyanya dengan
mengajukan merk dagang ke Kementerian Hukum yang terdiri dari Sekar
Mulyo Art, Sorkak Sorgung Art, Batik Kresno Aji, Hamdan Batik, Dampo
Awang Art, Purnama Art, dan Sola Gracia Art (sumber: Radio Citra Bahari
FM Rembang) Adapun di luar pulau Jawa, terdapat batik Madura dan batik
Bali. Di Madura, data dari DISPERINDAG Pamekasan menguraikan bahwa
lokasi kerajinan batik di Pamekasan menyebar di 11 kecamatan dengan
jumlah terbanyak di kecamatan Proppo. Lokasi ini berdekatan dengan keraton
sehingga lumrah jika ada jejak warisan batik yang melimpah di sana.
Pemerintah Kabupaten Pamekasan mengembangkan sentra-sentra industri
batik tulis yang keseluruhannya mencapai 28 sentra, tersebar di tujuh
kecamatan. Adapun rinciannya sebagai berikut: Kecamatan Pamekasan 5
sentra, kecamatan Proppo 12 sentra, kecamatan Palengan 6 sentra, Kecamatan
Waru 1 sentra, kecamatan Pegantenan 2 sentra, kecamatan Galis 1 sentra, dan
kecamatan Tlanakan 1 sentra. Sementara batik Bali terpusat di kota Denpasar
sebagai ibukota Bali. Menurut (Biomantara, 2014: 486) “Industri kain Batik
di kota Denpasar adalah industri terbanyak di Provinsi Bali. Dengan jumlah
61 unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak 417 orang dengan nilai
investasi sebesar 2.037.600.000 rupiah.” Adapun jumlah industri batik di
Kota Denpasar dari tahun 2008 s/d 2010 sejumlah 71 unit industri, tahun
2011 sejumlah 73 unit industri dan tahun 2012 turun menjadi 61 unit industri.
Terdapat satu daerah lagi yang juga memproduksi kain batik yaitu Kabupaten
Badung sebanyak 3 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 58
orang. Dari sekian banyak unit usaha batik yang tersebar, maka mulailah
dikenal istilah yang merujuk pada batik tertentu sesuai dengan motif, ragam
hias dan asal batik tersebut dibuat. Oleh karena itu kini kita mengenal yang
namanya Batik Solo, Batik Yogyakarta, Batik Betawi, Batik Cirebon, Batik
Rembang, Batik Pekalongan, Batik Madura, Batik Semarang, Batik Bali dan
batik lainnya yang tersebar di Nusantara.

18
Museum Batik Keberadaan museum batik yang memajang karya seni batik
dari batik kuno sampai batik modern menunjukkan kepedulian akan warisan
seni batik para leluhur bangsa Indonesia. Beberapa museum batik yang ada di
Indonesia diantaranya Museum Batik Yogyakarta, Museum Tekstil di Tanah
Abang, Museum Batik Danar Hadi Solo, Museum Batik Pekalongan, dan
Telecenter Museum Batik. Museum batik melakukan berbagai upaya untuk
melestarikan seni batik diantaranya pengadaan koleksi, tindakan konservasi
terhadap koleksi, dan tindakan preventif dalam pelestarian koleksi. Tidak
dipungkiri bahwa saat ini museum menghadapi beberapa kendala dalam
upaya pelestarian batik diantaranya sarana dan prasarana museum, tenaga
kerja, dan pendanaan. Jika melihat peran museum di luar negeri, maka kesan
yang berbeda akan kita temui. Museum di luar negeri memegang peranan
penting dalam pelestarian budaya. Hal ini didukung oleh tingkat kemakmuran
negara tersebut, tingkat pendidikan dan kesadaran kolektif yang semuanya
berpartisipasi aktif melestarikan warisan budayanya. Hal inilah yang patut
kita petik karena sarat pelajaran berharga sehingga nantinya museum batik di
Indonesia juga mengalami perkembangan dan kemajuan dalam peranannya
melestarikan seni batik Nusantara.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Generasi millenial dan pemerintah sangatlah berperan dalam melestarikan


budaya batik di Indonesia . Warisan budaya berupa seni batik tidak boleh
punah ,batik sangat berperan pennting sebagai identitas bangsa indonesasia ,
maka eksistensi batik mengalami pasang surut dalam pencarian dan
penemuan identitas kulturalnya. Kesadaran akan identitas kultural ini melalui
proses panjang dimulai dari unexamied cultural identity, cultural identity
search sampai dengan cultural identity achievement. Saat ini, Indonesia telah
mencapai cultural identity achievement dengan dikukuhkannya batik sebagai
intangible culture dari Indonesia oleh UNESCO. Pencapaian cultural identity
achievement ini mendapatkan tantangan dari globalisasi yang mengusung
panji-panji kapitalisme. Dengan adanya gempuran dahsyat budaya asing yang
mengalir dalam derasnya globalisasi, maka bangsa Indonesia sudah
sepatutnya mengambil sikap yakni mempertahankan nilai-nilai dan beliefs
system melalui karya seni batik yang menjadi ciri khas bangsa Indoesia
karena batik merupakan identitas, penjelasan strata sosial, bahasa
kebudayaan, spiritualitas manusia, penemuan teknologi, dan perjalanan suatu
peradaban yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

20
DAFTAR PUSTAKA

Biomantara, Rai; Martini Dewi. 2014 “Analisis Skala Ekonomis Pada Industri
Kain Batik di Kota Denpasar.” E-Jurnal Ekonomi Pembangunan
Universitas Udayana Vol.3, No. 11, November 2014.
Nurainun, Heriyana; Rasyimah. 2008. “Analisis Industri Batik di Indonesia.”
Fokus Ekonomi, Desember 2008, Vol 7. No.3.
Sularso, 2009. 60 Tahun Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Koperasi Pusat
Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Jakarta.
Moersid, Ananda Feria. 2013.“Re-invasi Batik dan Identitas Indonesia di Arena
Pasar Global” WIDYA. Volume 1 Nomor 2. Juli-Agustus 2013.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, (20 Maret 2007),”Asing alihkan
order batik ke Vietnam.”

21
22

Anda mungkin juga menyukai