Anda di halaman 1dari 16

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU

MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK

In-Situ Organic Fertilizer Development Potency for Organic Agricultural


Practices Acceleration

Valeriana Darwis dan Benny Rachman

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian


Jl. A. Yani No. 70, Bogor 16161
E-mail : valerianadrwis@yahoo.co.id

Tanggal naskah diterima : 11 April 2013 Tanggal naskah disetujui terbit : 17 Juni 2013

ABSTRACT

Organic fertilizer in-situ application is the beginning of organic farming. In-situ organic fertilizer raw
materials can be obtained from straw and dung. National straw production is 30.4 million tons per year and cow s
dung production is 3.8 million tons per month. Technology for organic fertilizer production is simple, namely
through stacking the straw and flipping it. Solid fertilizer organic fertilizer cost is Rp 417 per kg and that of liquid
organic fertilizer is Rp 3,510 per liter. Accelerating organic farming implementation can be carried out through: (1)
use of straw, (2) sustainable cattle and livestock integration program, (3) price subsidy policy, (4) provision of
organic fertilizer processing equipments, composting houses, and organic fertilizer processing units, and (5)
standardization and labeling of farmers-produced organic fertilizer.

Keywords: agriculture, organic, and fertilizers

ABSTRAK

Pemakaian pupuk organik in-situ di tingkat petani merupakan awal dalam mewujudkan pertanian
organik. Bahan pupuk organik in-situ dapat diperoleh dari jerami dan kotoran hewan (kohe). Potensi jerami
secara nasional dalam satu tahun sebesar 30,4 juta ton dan kohe sapi 3,8 juta ton per bulan. Teknologi membuat
pupuk organik sangat sederhana yaitu dengan cara menumpuk dan membalik-baliknya. Biaya yang dikeluarkan
dalam membuat satu kilogram pupuk organik padat sebesar Rp 417 dan Rp 3.510 per liter untuk pupuk organik
cair. Percepatan implementasi pertanian organik dapat dilaksanakan melalui : (1) kebijakan pemakaian jerami
secara bijak, (2) program integrasi sapi dan ternak secara berkelanjutan, (3) penerapan kebijakan subsidi harga
pupuk organik yang lebih menarik, (4) memberikan bantuan pembuatan pupuk organik secara berjenjang dimulai
dari pemberian alat pengolah pupuk organik, kemudian diteruskan ke pemberian Rumah Kompos dan terakhir ke
pemberian unit pengolah pupuk organik, (dan 5) standarisasi dan pelabelan pupuk organik produksi petani.

Kata kunci : pertanian, organik, dan pupuk

PENDAHULUAN bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai


dengan standar produksi organik dan
disertifikasi oleh otoritas atau lembaga
Pertanian organik adalah sistem sertifikasi resmi.
pertanian yang holistik yang mendukung dan Berdasarkan data Statistik Pertanian
mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan Organik Indonesia (2011) pertanian organik di
aktivitas biologi tanah. Sertifikasi produk Indonesia mengalami perkembangan yang
organik yang dihasilkan, penyimpanan, positif, hal ini direpresentasikan dari
pengolahan, pasca panen dan pemasaran perkembangan luas areal pertanian organik
harus sesuai standar yang ditetapkan oleh dari 40.970 ha pada tahun 2007 menjadi
badan standarisasi (IFOM, 2008). Organik 225.063 ha pada tahun 2011. Hal yang senada
menurut Badan Standarisasi Nasional (2002) sebelumya ditulis pada hasil penelitian Aliansi
adalah istilah pelabelan yang menyatakan Organis Indonesia (2011) dimana makin
POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

51
banyaknya produk organik dengan komoditas Sesuai dengan sasaran penggunaan-
yang beragam, seperti beras, telur, sayuran, nya, sistem pengadaan pupuk organik dapat
kopi, teh, madu hutan dan rempah-rempah. bersifat non komersial dan komersial. Penga-
Pertanian organik didasari pada daan pupuk organik non komersial dilakukan
pengurangan pemakaian pupuk kimia dan dengan cara pemberdayaan masyarakat
pestisida sintetis. Pupuk kimia yang dikurangi petani/kelompok tani untuk memproduksi
biasanya diganti dengan pemakaian pupuk pupuk organik sendiri, terutama bagi petani
organik. Organik artinya bahan baku pengguna di lahan sawah dan lahan kering
pembuatannya bersumber dari zat yang ada dengan memanfaatkan bahan organik insitu
dan diambil dari mahluk hidup. seperti sisa tanaman, kotoran ternak dan sisa
Penggunaannya bisa langsung maupun panenan. Sedangkan pengadaan pupuk
melalui proses fermentasi atau composting organik komersial diutamakan untuk petani
terlebih dahulu. Pertanian organik merupakan pengguna yang mengusahakan komoditas
jawaban dampak negatif dari penerapan bernilai ekonomi tinggi seperti sayuran, buah-
revolusi hijau yang digalakkan pada tahun buahan dan tanaman perkebunan (PSEKP,
1960-an yang menyebabkan berkurangnya 2005).
kesuburan tanah dan kerusakan lingkungan Lahan Pertanian di Indonesia baik
akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia lahan sawah (Karama et al.,1990) maupun
yang secara berkelebihan (Mayrowany. H. lahan kering (Setyorini, 2005) mempunyai
2012). Sebagian besar penggiat pertanian kandungan bahan organik yang rendah (<2%).
organik memilih cara-cara pembuatan pupuk Terabaikannya pengembalian bahan organik
organik sebagai pintu masuk memperkenalkan ke dalam tanah dan intensifnya penggunaan
pertanian organik (Batara L.N. 2011). pupuk kimia pada lahan sawah, telah
Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/ menyebabkan mutu fisik dan kimiawi tanah
2006, tentang pupuk organik dan pembenah menurun atau kelelahan lahan (fatigue land)
tanah, mengemukakan bahwa pupuk organik (Sisworo, 2006). Salah satu usaha untuk
adalah pupuk yang sebagian besar atau kembali menyuburkan lahan sawah dan
seluruhnya terdiri dari bahan organik yang meningkatkan produktivitas adalah mengu-
berasal dari tanaman dan atau hewan yang rangi pemakaian pupuk kimia dan menambah
telah melalui proses rekayasa, dapat pemakaian pupuk organik.
berbentuk padat atau cair yang digunakan Dalam mewujudkan pertanian organik
untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki yang ramah lingkungan dan aman untuk
sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pembenah dikonsumsi bukan merupakan pekerjaan yang
tanah adalah bahan-bahan sintesis atau alami, mudah, karena berhubungan dengan masalah
organik atau mineral berbentuk padat atau cair kebiasaan bagi yang mengusahakannya.
yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan Salah satu usaha awal dalam mempercepat
biologi tanah. Sumber bahan organik dapat pertanian organik antara lain dimulai dari
berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, adopsi teknologi budidaya dengan cara
sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol mengurangi pemakaian pupuk kimia dan
jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah memperbanyak pemakaian pupuk organik
ternak, limbah industri yang menggunakan insitu. Dengan penjelasan tersebut maka
bahan pertanian, dan limbah kota. tulisan ini bertujuan memotret potensi pupuk
Pupuk organik sebagai salah satu insitu, kendala dan peluang dalam pemakaian
unsur penting dalam peningkatan produksi dan pupuk insitu serta biaya pembuatannya.
produktivitas sudah sejak lama dikenal dan
dimanfaatkan petani. Selain mampu KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
menyediakan berbagai unsur hara bagi PERTANIAN ORGANIK INSITU
tanaman, pupuk organik juga berperan penting
dalam memelihara sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah. Seiring dengan perkembangannya, Sumber bahan baku untuk pupuk
peluang memproduksi pupuk organik terbuka organik sangat bervariasi, seperti dari limbah
luas karena selain bahan bakunya melimpah pertanian dan non pertanian dengan
dan bersifat terbarukan, jenis pupuk ini bisa karakteristik sifat fisik dan kandungan
dibuat dan diproduksi oleh berbagai kalangan kimia/hara yang sangat beragam, sehingga
termasuk pengusaha kecil-menengah (UKM) kualitas pupuk organik yang dihasilkan
dengan memanfaatkan berbagai sumber cenderung bervariasi. Oleh karena itu,
limbah pertanian insitu (seperti sisa tanaman, pengaruhnya terhadap produktivitas tanah dan
sisa panen) dan limbah peternakan. tanaman pada lahan kering dan lahan sawah

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

52
juga beragam. Pada prakteknya, penggunaan sawah garapannya. Setelah itu bantuan
pupuk organik/kompos secara in situ di lahan ditingkatkan dalam bentuk Rumah
pertanian tidak memerlukan pengawasan dan Kompos/pupuk organik. Rumah ini menjadi
pengaturan tertentu. Sedangkan untuk sentra produksi pupuk organik insitu dan
produksi pupuk organik komersial (pabrikan) diharapkan petani yang mempergunakan
perlu pengawasan dan monitoring standar pupuk organik semakin bertambah. Setelah
kualitas, agar terhindar dari kandungan logam menjadi kebiasaan bagi petani untuk membuat
berat serta unsur berbahaya lainnya. dan mempergunakan pupuk organik insitu baru
Mengantisipasi semakin banyaknya bantuan ditingkatkan menjadi pemberian
peredaran pupuk organik dalam berbagai jenis, bantuan Unit Pengolah Pupuk Organik
bentuk dan kualitas yang belum terjamin dan (UPPO). Adapun bantuan yang diterima dalam
teruji kebenarannya serta dikhawatirkan kegiatan UPPO adalah : pembangunan rumah
berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, kompos, pembangunan bak fermentasi,
maka dibutuhkan pengawasan dan monitoring pengadaan peralatan dan mesin pembuatan
yang ketat terhadap kualitas dan mutu pupuk pupuk organik, pembangunan kandang
organik seperti yang tertuang dalam komunial, pengadaan ternak sapi dan satu unit
Permentan No. 02/2006. Pemanfaatan pupuk kendaraan motor roda dua. Apabila ini
organik bersama pupuk an-organik dalam dilaksanakan selain ada proses pembelajaran,
sistem Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi pemakaian pupuk organik dilahan sawah
seperti tertuang dalam Permentan No. 40/2007 sudah terbiasa dan sudah merasakan adanya
tentang Rekomendasi Pupuk N,P,K Padi pemanfaatan penggunaan pupuk organik,
Sawah Spesifik Lokasi untuk meningkatkan selain itu juga bisa menghemat bantuan
produktivitas padi sawah perlu disosialisasikan karena tidak perlu lagi memberikan bantuan
lebih intensif. Untuk mengetahui kesesuaian alat pengolah pupuk organik dan rumah
komposisi pupuk organik dan pembenah tanah kompos.
dengan persyaratan teknis minimal, perlu
dilakukan pengujian mutu pupuk organik di MANFAAT ORGANIK TERHADAP
laboratorium yang terakreditasi. PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN
Kebijakan pemerintah yang berisikan LINGKUNGAN
paket teknologi pemberian bantuan pupuk
organik sudah banyak diterapkan, diantaranya
adalah (1) Bantuan Langsung Pupuk per Pada periode tahun 1960-an,
hektar sebanyak 200 kg untuk pupuk organik pertanian di Indonesia terutama padi sawah
granula dan 2 liter pupuk organik cair. (2) sedikit sekali yang menggunakan pupuk
Program System of Rice Intensification salah anorganik dan lebih mengandalkan kesuburan
satu paket teknologinya pemberian bantuan tanah secara alami dengan pengelolaan bahan
pupuk organik 10 ton per hektar. (3) organik yang tersedia secara insitu (dilokasi
Pemberian bantuan Alat Pengolah Pupuk setempat). Sumber bahan organik pada saat
Organik, Rumah Kompos/pupuk organik itu antara lain berasal dari: (1) kotoran ternak,
sampai Unit Pengolah Pupuk Organik. Dalam (2) sisa tanaman dan (3) pergiliran tanaman
pelaksanaanya bantuan ini umumnya hanya dengan mengusahakan tanaman leguminosae
dilaksanakan oleh petani penerima saja dan setelah padi dan palawija (Kasdi P., 2008).
pelaksanaannya hanya seumur proyek. Selain Pupuk organik yang biasa disebut juga
itu masalah lainnya adalah bertambahnya kompos adalah hasil dekomposisi bahan-
biaya tenaga kerja dalam memupuk, cara bahan organik atau proses perombakan
memupuk tidak seefisien pupuk anorganik senyawa yang komplek menjadi senyawa yang
yang tinggal ditabur/disebar dan hasilnya tidak sederhana dengan bantuan mikro organisme
langsung kelihatan. (Nugroho, 2011). Pupuk organik sangat
Untuk merubah kebiasaan petani yang bermanfaat bagi peningkatan produktivitas
sudah terbiasa mempergunakan pupuk pertanian, mengkonservasi hara, mengurangi
anorganik beralih ke pupuk organik bukan pencemaran lingkungan, serta meningkatkan
pekerjaan yang mudah, dibutuhkan waktu dan kualitas lahan secara berkelanjutan. Bahan
pembelajaran. Pembelajarannya bisa dimulai dasar pupuk organik dapat berasal dari
dari pemberian bantuan Alat Pengolah Pupuk berbagai sumber limbah pertanian insitu
Organik (APPO). Setelah petani tahu seperti sisa tanaman, sisa panen, pangkasan
bagaimana mengolah bahan biomas yang ada tanaman pagar, sisa media tanam jamur,
dilingkungan sekitarnya menjadi pupuk organik eceng gondok, serta kotoran hewan. Menurut
insitu dan pupuk tersebut dicoba dilahan Ratri (2009) bahwa pertumbuhan eceng

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

53
gondok yang tidak terkendali menimbulkan 80 : 1 pada jerami gandum hingga 20 : 1 pada
banyak permasalahan, diantaranya adalah tanaman legum.
eutrofikasi perairan. Namun demikian Secara kimiawi, pemupukan bahan
biomassa eceng gondok juga memiliki potensi organik dapat meningkatkan KTK tanah,
untuk dikembangkan sebagai biogas dan meningkatkan ketersediaan hara makro dan
pupuk organik. mikro, mengikat kation yang mudah tersedia
Bahan baku insitu lainnya adalah bagi tanaman, mencegah kehilangan hara
jerami dan pengembalian jerami ke tanah akibat pencucian, katalisator dalam
lahan sawah dapat memperlambat pemiskinan pembentukkan chelat (ikatan organik) terhadap
K dan Si tanah (Lamid, 2010). Dengan unsur mikro Fe, Zn, Mn sehingga tetap
membenamkan jerami 5 ton/ha/musim selama tersedia bagi tananam (Lamid, 2010).
4 musim disamping dapat mensubstitusi Terhadap sifat biologi tanah, kandungan
keperluan pupuk K, jerami dapat meningkatkan bahan organik yang tinggi dalam tanah dapat
produksi melalui perbaikan sifat fisik dan kimia menyediakan energi bagi kehidupan mikroba
tanah. Di lahan sawah irigasi pada jenis tanah tanah sehingga mendorong pertumbuhan
hidromorf kelabu pemberian bahan organik mikroba secara cepat, sehingga efektif
dalam pendekatan PTT meningkatkan hasil memperbaiki aerasi tanah.
padi sekitar 14,8 persen (Pirngadi et al., Komposisi hara dalam pupuk organik
2002a). Pemberian pupuk kandang 5 t/ha di sangat tergantung dari sumbernya, dan pupuk
lahan sawah alluvial di samping 250 kg N/ha organik dapat diidentifikasi berasal dari
meningkatkan hasil padi walik jerami sekitar kegiatan pertanian dan non pertanian
7,3 persen (Pirngadi et al., 2002b). Pemberian (Lampiran 1). Dari pertanian dapat berupa sisa
pupuk kandang 5 t/ha pada lahan sawah tadah panen dan kotoran ternak, sedangkan dari non
hujan alluvial meningkatkan hasil padi gogo pertanian dapat berasal dari sampah organik
rancah sebesar 17,3 persen (Pirngadi dan kota, limbah industri dan sebagainya. Kotoran
Pane, 2004) hewan yang berasal dari usaha tani pertanian
Menurut Ditjen Tanaman Pangan antara lain adalah ayam, sapi, kerbau, babi,
(2009), bahwa penerapan Crop-Livestock kambing. Komposisi hara pada masing-masing
System (CLS) dapat mengurangi penggunaan kotoran hewan sangat bervariasi tergantung
pupuk sebesar 25-35 persen, meningkatkan pada jumlah dan jenis makanannya (Lampiran
produktivitas padi sebesar 20-29 persen dan 2). Secara umum, kandungan hara dalam
meningkatkan pendapatan petani sebesar 8,4 kotoran hewan lebih rendah dari pada pupuk
persen. Bila teknologi tersebut diterapkan kimia. Oleh karena itu dosis pemberian pupuk
secara nasional, diperkirakan dapat meng- kandang jauh lebih besar dari pada pupuk an-
hemat penggunaan pupuk urea sebesar 950 organik.
ribu ton, SP-36 (285 ribu ton), KCL sebesar Komposisi hara dalam sisa tanaman
411 ribu ton. sangat spesifik dan bervariasi, tergantung dari
Kendatipun bahan organik sangat jenis tanaman. Hasil penelitian BBSDL (2006)
penting dalam meningkatkan kesuburan tanah, mengungkapkan bahwa pada umumnya rasio
namun dari segi kualitas pupuk organik yang C/N sisa tanaman bervariasi dari 80 : 1 pada
dikomposkan sangat dipengaruhi oleh bahan jerami gandum hingga 20 : 1 pada tanaman
dasarnya. Oleh karena itu sangat penting legum. Sekam padi dan jerami mempunyai
untuk membuat kriteria dan seleksi terhadap kandungan silika sangat tinggi namun
bahan pembuat kompos untuk mengawasi berkadar nitrogen rendah. Sisa tanaman
mutunya. Hasil penelitian BBSDL (2006) legum seperti kacang kedelai, kacang tanah,
menginforfamasikan : (1) bahan dasar yang dan serbuk kayu mengandung nitrogen cukup
berasal dari sisa tanaman dapat dipastikan tinggi. Sedangkan kentang dan ubi jalar
sedikit mengandung bahan berbahaya, seperti mengandung kalium yang tinggi. Kandungan
logam berat (Pb, Cd, Hg, As). Sebaliknya, Ca tanaman yang tinggi dijumpai pada tanaman
penggunaan pupuk kandang, limbah industri kacang tanah dan serbuk gergaji kayu (Lampiran
dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos 3).
cukup mengkhawatirkan karena banyak Kandungan unsur kimia dan logam
mengandung bahan berbahaya logam berat berat dari limbah cair industri sangat bervariasi
dan asam-asam organik yang dapat tergantung jenis industri. Limbah dari industri
mencemari lingkungan; dan (2) komposisi hara makanan relatif rendah logam beratnya,
dalam sisa tanaman sangat spesifik dan namun analisis kimia tetap perlu dilakukan
bervariasi, tergantung dari jenis tanaman, untuk menjamin kualitas limbah. Limbah dari
dimana rasio C/N sisa tanaman bervariasi dari peternakan mengandung sedikit logam berat

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

54
sehingga dapat digunakan secara pupuk pengkayaan dengan hara lain. Khusus untuk
organik. Limbah dari industri oli dan beverage limbah panen padi (jerami), hasil penelitian
mengandung logam berat cukup tinggi Puslitbangtanak menunjukkan bahwa dosis
sehingga tidak direkomendasikan sebagai jerami 5 ton/ha secara nyata dapat
pupuk organik (Lampiran 4). meningkatkan produksi padi, dan dapat
Manfaat penggunaan pupuk organik mensubsitusi pupuk KCl sebesar 50 kg/ha.
selain dapat menyuburkan lahan dan Apabila jerami dikomposkan, maka dosis
meningkatkan serta memperbaiki kualitas anjuran kompos jerami adalah 2 ton/ha.
lingkungan juga mengurangi biaya produksi Penyusutan dari jerami segar menjadi kompos
pertanian. Beberapa hasil penelitian jerami sekitar 40-50 persen.
mengatakan bahwa pertanian organik Dengan asumsi produksi jerami 5
memberikan keuntungan yang lebih besar dan ton/ha dan penyusutan 50 persen, maka
berpengaruh nyata terhadap pendapatan potensi bio-masa dari jerami di pulau Jawa
petani padi (Da Costa, 2012; Rahmawati, et al pada tahun 2010 bisa mencapai 15,3 juta ton
2012). Hal yang senada dikemukakan oleh dan secara nasional potensi pupuk organik
Mayrowani et al (2010) dimana petani padi dari bahan baku jerami sebesar 30,4 juta ton.
mendapatkan kenaikan pendapatan sebesar Dengan asumsi yang sama bisa kita ketahui
20-30 persen setelah mempergunakan pupuk potensi jerami yang berasal dari jagung dan
organik. kedelai (Tabel 1). Dalam kenyataannya di
lapang tidak semua jerami dimanfaatkan
sebagai sumber pupuk organik, tetapi juga
POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK digunakan untuk kepentingan lainnya, seperti
ORGANIK INSITU pakan ternak, media jamur, bahan baku kertas.
Jerami sebagai limbah hasil panenan sekitar
Biomas adalah bahan organik yang 75-80 juta ton, banyak digunakan untuk
dihasilkan melalui proses fotosintesis, baik keperluan industri (kertas, karton, jamur
berupa produk maupun buangan. Indonesia merang) dan di sawah bahan organik ini lebih
sebagai negara tropis memiliki sumberdaya banyak dibakar (Pirngadi et al., 2006; Makarim
bio-mas dan keragaman mikro organisme yang dan Sumarno, 2006).
sangat potensial untuk pengembangan pupuk Selain jerami, kotoran hewan (kohe)
organik. Bahan dasar pupuk organik dapat merupakan bahan baku penting dalam
berasal dari berbagai sumber limbah pertanian pembuatan pupuk organik. Diantara kotoran
insitu seperti sisa tanaman, sisa panen hewan, kotoran ayam banyak digunakan oleh
(jerami), pangkasan tanaman pagar, sisa petani dalam proses pembuatan pupuk
media tanam jamur, serta kotoran hewan. organik/kompos non komersial. Sedangkan
Bahan-bahan tersebut dapat dijadikan pupuk kotoran sapi banyak digunakan sebagai bahan
organik melalui teknologi pengomposan utama pembuatan kompos komersial dengan
sederhana maupun dengan penambahan campuran bahan lain. Ternak sapi dewasa,
mikroba perombak bahan organik serta kuda, dan kerbau dapat memproduksi kotoran
rata-rata 9 kg/ekor/hari, sedangkan kambing

Tabel 1. Produksi dan Potensi Pembuatan Pupuk Organik dari Jerami di Jawa dan Indonesia, 2010

Luas Panen (Ha) Potensi (ton)


Komoditas
Jawa Nasional Jawa Nasional
Padi 6.116.897 12.147.637 15.292.242 30.369.093
Jagung 2.138.864 4.131.676 5.347.160 10.329.190
Kedelai 439.594 660.823 1.098.985 1.652.058
Jumlah 8.695.355 16.940.136 21.738.687 42.350.341
Sumber : Ditjen Tanaman Pangan 2011
Keterangan: Produksi padi = GKG; Limbah panen padi = Jerami Produksi jagung = pipilan; Limbah
panen Jagung = Daun/kulit jagung Produksi kedelai = ose; Limbah panen kedelai =
Hijauan pohon kedelai

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

55
dan domba rata-rata 1 kg/ekor/hari. Dengan pemberian aerasi dengan menggunakan
asumsi angka tersebut, maka secara nasional blower mekanik. Selanjutnya tumpukan kom-
potensi pupuk organik kohe dalam sebulan pos ditutup dengan terpal plastik. Keunggulan
untuk ternak kerbau, sapi perah dan sapi teknik ini adalah waktu pengomposan dapat
potong masing-masing mencapai sebesar lebih singkat yaitu hanya butuh waktu 3-5
540.000 ton;131.760 ton dan 3.667.140 ton minggu. Teknik yang kedua adalah dengan
(Tabel 2). aerated compos bins. Pengomposan dilakukan

Tabel 2. Produksi dan Potensi Pembuatan Pupuk Organik dari Kohe di Jawa dan Indonesia, 2010

Populasi (ekor) Potensi (ton/bln)


Komoditas
Jawa Nasional Jawa Nasional
Domba 9.310.832 10.725.000 279.324 321.750
Kambing 9.442.807 16.620.000 283.284 498.600
Kerbau 458.033 2,000.000 123.669 540.000
Sapi Perah 480.594 488.000 129.760 131.760
Sapi Potong 5.988.329 13.582.000 1.616.849 3.667.140
Sumber: Ditjen Peternakan 2011

Kelayakan Produksi Pupuk Organik Insitu dengan menggunakan blower. Adapun


Untuk memproduksi pupuk organik lamanya pengomposan adalah sekitar 2-3
dapat dilakukan oleh pabrikan/industri pupuk minggu dan kompos matang diperoleh sekitar
dan/atau oleh petani/kelompok tani dengan 2 bulan.
menggunakan bahan baku yang tersedia di Pada sistem pengomposan dengan
lokasi setempat (insitu). Secara umum proses teknologi tinggi adalah dilakukan dengan
pembuatan pupuk organik diawali dengan menggunakan peralatan yang dirancang
kegiatan pengomposan. Menurut Crawford secara khusus untuk mempercepat proses
(1999) pengomposan merupakan proses pengomposan. Pengaturan dilakukan secara
dekomposisi parsial, dipercepat secara mekanis. Sistem ini dapat dilakukan didalam
artificial dari campuran bahan organik oleh drum yang berputar atau pengomposan dapat
populasi berbagai macam mikroba dalam dilakukan dalam kotak skala besar. Pada
kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan sistem ini bahan-bahan kompos dicampur
aerobic. Beberapa teknik pengomposan yaitu secara mekanik. Proses pengomposan dilaku-
pengomposan dengan teknologi sederhana, kan dalam beberapa bak dan pengontrolan
teknologi sedang, dan teknologi tinggi. dilakukan dengan menggunakan komputer.
Dalam penerapan teknologi seder- Bak pengomposan dibagi menjadi dua zona
hana, teknologi pengomposan dengan window untuk bahan yang masih mentah dan
compositing tergolong teknologi sederhana. selanjutnya diaduk secara merata dengan
Kompos ditumpuk dalam barisan yang peralatan mekanik dan diberi aerasi. Kompos
tumpukan yang disusun secara sejajar. selanjutnya akan masuk pada bak zona kedua
Tumpukan secara berkala dibolak-balik untuk dan dilakukan proses pematangan kompos.
meningkatkan aerasi, menurunkan suhu Di tingkat petani teknologi sederhana
kompos yang terlalu tinggi, serta menurunkan yang paling banyak dipergunakan, yaitu
kelembaban kompos. Teknologi ini sesuai dengan cara menumpuk dan membolak-balik
untuk pengomposan skala besar. Waktu yang (fermentasi). Hal ini juga sesuai dengan hasil
dibutuhkan untuk pengomposan berkisar penelitian Rachman et al (2012) di lokasi yang
antara 3 sampai 6 bulan, yang tergantung mendapatkan bantuan UPPO, secara umum
pada karakteristik bahan yang dikomposkan. teknologi pembuatan pupuk organik non
Pada pengomposan dengan teknologi komersial (insitu) masih tergolong sederhana
sedang terdapat dua sistem yaitu aerated (fermentasi). Dari 35 ternak yang dipelihara
static pile, yaitu gundukan kompos diaerasi kelompok tani, dalam 1 hari rata-rata diperoleh
secara statis. Sistem ini hampir sama dengan kotoran ternak sekitar 3 kuintal dan urinenya
sistem yang pertama, namun dilakukan dapat ditampung sekitar 35 liter. Untuk
pembuatan pupuk organik padat, setiap bahan

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

56
baku kotoran ternak 1 ton dapat menghasilkan Sementara itu, untuk pembuatan
pupuk organik sebanyak 650 kg. Proses pupuk alam cair (PAC) pada setiap bahan
pembuatan pupuk organik dalam satu siklus baku urine ternak 120 liter dapat menghasilkan
pembuatan dilakukan selama 5-6 minggu. PAC sebanyak 100 liter. Proses pembuatan
Jenis dan bahan-bahan yang dibutuhkan pada pupuk organik cair dalam satu siklus
kedua lokasi relatif sama, yaitu : (1) Satu ton pembuatan dilakukan selama 6 minggu. Untuk
kotoran hewan (dari usaha ternak kelompok), kedua lokasi tidak terdapat perbedaan yang
(2) Arang sekam 100 kg, (3) Jerami padi spesifik dalam pembuatan pupuk organik cair,
sebanyak 50 kg dilembutkan, (4) Kalsit 20 kg, dimana bahan baku yang dibutuhkan adalah :
(5) Stardeck (pengurai) sebanyak 2 kg, dan (6) (1) seratus dua puluh liter urine ternak sapi
tenaga kerja sebanyak 8 orang. (dari usaha ternak kelompok), tidak dibeli, (2)
Lebih lanjut hasil penelitian Rachman calsil sebanyak 3 kg, (3) limbah karbit
et al (2012) juga mengemukakan biaya sebanyak 3 kg, (4) belerang 10 kg, (5) EM-4
pembuatan pupuk organik menurut bentuk sebanyak 1 liter, dan (6) botol untuk kemasan
(cair dan padat) serta membandingkan antar 100 biji, dan (7) tenaga kerja sebanyak 8
provinsi. Hasil penelitiannya menyebutkan orang. Dari keseluruhan bahan baku, rata-rata
bahwa pupuk cair adalah larutan yang mudah total biaya yang dibutuhkan di Jawa Barat
larut, berisi satu atau lebih pembawa unsur (Kabupaten Cianjur dan Bandung) yaitu Rp
yang dibutuhkan tanaman. Pupuk padat 351.000 per liter, dan Rp 346.500 per liter di
adalah pupuk organik yang bentuknya padat, Jawa Tengah (Kabupaten Grobogan dan
remah, tidak berbau, jika dilarutkan kedalam Wonosobo). Harga jual PAC berkisar Rp 6.000
air tidak mudah larut. Rata-rata total biaya hingga Rp 7.000 per liter, sehingga rata-rata
pembuatan pupuk organik padat di Jawa Barat pendapatan bersih per 100 liter mencapai Rp
(Kabupaten Cianjur dan Bandung) adalah Rp 349.000 di Jawa Barat dan Rp 253.500 di
271.000, dan Rp 268.000 di Jawa Tengah Jawa Tengah, atau Rp 3.490 dan Rp 2.535 per
(Kabupaten Grobogan dan Wonosobo) dengan liter (Lampiran 6).
rata-rata biaya produksi sekitar Rp 400/kg, Menurut hasil penelitian Peni dan
harga tersebut tanpa adanya subsidi dari Teguh (2007) hasil perhitungan biaya yang
pemerintah. Harga jual di tingkat distributor dibutuhkan untuk pembuatan kompos curah,
(sesuai pesanan) berkisar Rp 500 Rp 525 blok, granula dan bokhasi yang dilakukan di
per Kg, sehingga pendapatan bersih berkisar kandang percobaan Loka Penelitian Sapi
Rp 52.000 Rp 124.000,- (per 650 kg pupuk Potong yang menggunakan bahan utama
organik) atau Rp 83 - Rp 112,-/kg (Lampiran kotoran sapi dari kandang kelompok (berisi 10
5). ekor sapi) disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Biaya Pembuatan Pupuk Organik dari Kohe Sapi

Jenis Kompos Jumlah Satuan Harga Satuan Biaya


Kompos Curah
- kotoran sapi 1 kg 100 100
- kemasan plastik 1 buah 50 50
- biaya operasional 1 kg 100 100
Jumlah biaya 250
Kompos Blok
- kotoran sapi 1 kg 100 100
- kemasan plastik 1 buah 50 50
- biaya operasional 1 kg 100 100
Jumlah biaya 250
Kompos Granula
- kotoran sapi 1 kg 100 100
- kemasan plastik 1 buah 250 250
- biaya operasional 1 kg 100 100
Jumlah biaya 450
Kompos Bokashi
- kotoran sapi 1 kg 100 100
- kemasan plastik 1 buah 1000 1000
- biaya operasional 1 kg 100 100
Jumlah biaya 1200
Sumber : Peni dan Teguh. (2007)

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

57
PERMASALAHAN PENGEMBANGAN yang menggunakan pupuk organik diartikan
PERTANIAN ORGANIK INSITU sebagai usahatani pertanian organik. Padahal
sistem pertanian organik mempunyai falsafah
dan orientasi pandang yang berbeda dari
Sebagai penyeimbang unsur hara dan hanya sekadar menggunakan pupuk organik
pembenah tanah, pupuk organik memiliki karena memerlukan persyaratan lain yang
potensi dan peluang pengembangan yang lebih spesifik.
prospektif. Namun pengembangan pupuk
organik juga dihadapkan pada berbagai Kelima, sumber bahan untuk pupuk
kendala teknis dan non teknis. organik sangat bervariasi seperti dari limbah
pertanian dan nonpertanian dengan karak-
Pertama, Indonesia yang tergolong teristik sifat fisik dan kandungan kimia/hara
daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi, yang sangat beragam, sehingga kualitas
tingkat perombakan bahan organik berjalan pupuk organik yang dihasilkan juga bervariasi
relatif cepat, sehingga pupuk organik mutunya. Oleh karena itu, pengaruhnya
diperlukan dalam jumlah besar. Hal ini terhadap produktivitas tanah dan tanaman
menimbulkan kesulitan dalam pengangkutan pada lahan kering dan lahan sawah juga
dan penggunaannya, terlebih bila pupuk bervariasi.
organik harus didatangkan dari tempat yang
cukup jauh dari lahan usahanya. Keenam, pupuk organik terutama yang
berasal dari sampah kota atau limbah pabrik
Kedua, komposisi hara dalam pupuk bisa mengandung logam berat. Jika pupuk
organik relatif rendah dan sangat bervariasi tersebut digunakan pada tanah berdrainase
sehingga manfaatnya bagi tanaman tidak buruk akan menimbulkan akumulasi logam
langsung dan dalam jangka panjang. Oleh berat yang dapat berbahaya bagi ternak dan
karena itu penggunaan pupuk organik tetap manusia, baik langsung maupun melalui
harus dikombinasikan dengan pupuk an- tanaman yang menyerap logam berat tersebut.
organik dengan takaran yang lebih rendah.
Apabila hanya menggunakan pupuk organik Berdasarkan permasalahan dan ken-
saja dikhawatirkan produktivitas tanah dan dala yang dihadapi, maka strategi yang dapat
tanaman akan terus merosot karena tanaman dilakukan untuk mendorong implementasi
menguras hara dalam tanah tanpa penggunaan bahan organik atau pupuk
pengembalian unsur hara yang memadai. organik adalah :
Penggunaan pupuk organik dengan bahan (a) Menerapkan teknologi yang relatif murah
yang sama terus menerus akan menimbulkan dan mudah dikerjakan petani, misalnya
ketidak seimbangan hara, dalam tanah dengan pengadaan pupuk organik in situ
sehingga dapat terjadi akumulasi hara K dan secara alley cropping, strip cropping
defisiensi Mg. Penggunaan pupuk organik ataupun menanam cover crop.
dengan C/N rasio tinggi dan belum matang (b) Mendorong tumbuhnya industri kecil, yaitu
dapat menimbulkan defisiensi N (Setyorini, industri kompos di daerah sentra produksi
2008) untuk mengatasi masalah yang ada
Ketiga, beberapa bahan dasar terutama pengangkutan karena jumlah
pembuatan pupuk organik yang terdiri dari pupuk organik yang diperlukan relatif
bahan-bahan berserat panjang dan keras besar jumlahnya.
sehingga menyulitkan proses produksinya. (c) Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
Untuk itu diperlukan alat pengolah/pemotong pemberian bantuan alat pengolah kompos
(chopper) agar menjadi lebih kecil atau pendek dan atau mikroba dekomposer dalam
sehingga mudah dikomposkan. Pupuk organik upaya mempercepat proses pengomposan
dapat membawa patogen dan telur serta kepada kelompok tani di sentra usahatani
serangga yang mengganggu tanaman. Pupuk lahan sawah maupun lahan kering.
kandang seringkali mengandung benih gulma
atau bibit penyakit bagi manusia. (d) Melaksanakan pengawasan mutu pupuk
organik dan menerapkan standar kriteria
Keempat, kurangnya pemahaman dan pupuk organik yang ramah lingkungan.
terbatasnya informasi tentang pupuk organik
menyebabkan kerancuan berpikir bagi (e) Membangun kesepahaman tentang arah
sebagian kalangan dalam hal pengembangan pengembangan pupuk hayati dan pupuk
dan pemanfaatannya. Masih adanya pema- organik, etika komersialisasi, pentingnya
haman yang menyatakan bahwa usahatani baku mutu dan payung hukum, serta
sosialisasi pemanfaatannya.

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

58
(f) Pemanfaatan pupuk organik baik berupa secara massal dengan tingkat harga yang
kompos, pupuk kandang atau bentuk terjangkau. Pengembangan pupuk organik
lainnya perlu didukung dan dipromosikan saat ini juga mulai dikembangkan oleh
lebih intensif, baik dilihat dari sisi positif kelompok tani ternak dengan diinisiasi melalui
maupun negatifnya. Sangat diperlukan program pengembangan Unit Pengolahan
regulasi dan peraturan mengenai persya- Pupuk Organik (UPPO) dan juga industri
ratan pupuk organik agar memberi man- pupuk organik skala kecil dalam rangka
faat maksimal bagi petani, mengurangi meningkatkan pemanfaatan limbah. Oleh
dampak negatif bagi kesehatan dan karena itu, regulasi dalam hal produksi perlu
pencemaran lingkungan. dilakukan dengan menyeimbangkan antara
pembinaan produsen pabrikan dan kelompok
tani. Sehingga tidak menimbulkan distorsi
AKSELERASI PENGEMBANGAN PUPUK dalam hal pemasaran pupuk organik
ORGANIK INSITU DAN PERTANIAN dimasyarakat.
ORGANIK
Dalam kebijakan investasi dan
pelayanan, paling tidak terdapat dua kebijakan
Pengembangan pupuk organik, baik publik yang perlu dipertimbangkan dalam
pada skala kecil (kelompok tani) maupun skala pengembangan pupuk organik baik industri
komersial dengan manajemen mutu dan pabrikan, skala kecil maupun kelompok tani
standar kualitas terjamin akan mendorong ternak. Kebijakan tersebut adalah kebijakan
penggunaan pupuk organik secara massal investasi dan pelayanan. Kebijakan investasi
dengan tingkat harga yang terjangkau. Hal ini mencakup: (1) pengembangan sarana dan
dapat terwujud melalui dukungan kebijakan prasarana pada daerah yang digunakan
berupa regulasi mengenai etika komersialisasi, sebagai pengembangan produsen/industri
baku mutu dan payung hukum, serta pupuk organik, agar lebih meringankan biaya
sosialisasi pemanfaatannya. Dengan demi- angkut pupuk organik yang bersifat
kian, produk pupuk organik yang dihasilkan volumenous, (2) pengembangan fasilitas
dapat bermanfaat bagi petani, dan mengurangi pendukung pengembangan produsen/industri
dampak negatif bagi kesehatan dan pen- pupuk organik, (3) pengembangan infrastruktur
cemaran lingkungan. produsen/industri pupuk organik di daerah
Untuk mendapatkan pupuk organik sentra peternakan maupun di daerah sentra
yang berkualitas baik, diperlukan dukungan pertanian, dan (4) penyediaan mikro
kebijakan pemerintah dalam sistem produksi organisme yang sesuai untuk mempercepat
pupuk organik yang meliputi teknik produksi pematangan bahan organik.
hingga manajemen pendistribusiannya. Secara Kebijakan pelayanan publik menca-
spesifik, regulasi yang diperlukan adalah kup: (1) tersedianya beberapa komponen
dalam bentuk kebijakan untuk mendukung teknologi sepertI: mikro organisme, budidaya
pengembangan pupuk organik, mencakup hijauan ternak, ternak, sistem panen dan
(Anonim, 2008) : (1) kebijakan penelitian dan pasca panen, (2) terbangunnya sistem inovasi,
pengembangan, (2) kebijakan investasi dan diseminasi dan adopsi teknologi secara cepat
pelayanan, (3) kebijakan diseminasi dan dan tepat sasaran, (3) terbangunnya sistem
pendampingan, (4) kebijakan standardisasi informasi dalam hal sistem produksi, distribusi,
dan mutu produk pupuk organik, (5) kebijakan dan potensi permintaan pupuk organik disentra
subsidi pupuk organik, dan (6) kebijakan dalam produksi pertanian, dan (4) terbangunnya
mendorong peran swasta dan fasilitasi sistem pengembangan produksi dan distribusi
pemerintah dalam pengembangan pupuk pupuk organik yang seimbang antara pelaku:
organik. pabrikan, industri kecil dan produsen kelompok
Kebijakan penelitian dan pengem- tani ternak.
bangan teknologi pupuk organik ke depan Kebijakan diseminasi dan pendam-
perlu didasarkan atas pertimbangan: spesifik pingan meliputi : (1) pembuatan pupuk organik
lokasi (lahan dan kesuburan), spesifik khususnya kepada para pengguna terutama
komoditas, serta skala ekonomi pengusahaan pada kelompok tani dan industri pupuk organik
(kecil, menengah dan besar). Pengembangan skala kecil, (2) meningkatkan kualitas
pupuk organik pada skala komersial dengan sumberdaya pelaku pembuatan pupuk organik
manajemen mutu dan standar kualitas terjamin terutama pada kelompok tani dan industri
akan mendorong penggunaan pupuk organik pupuk organik skala kecil melalui advokasi dan

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

59
pelatihan serta pendampingan, dan (3) tungan dalam budidaya karena mengurangi
regulasi mengenai pengawasan dalam hal pembelian pupuk kimia. Pembuatan pupuk
produksi dan distribusi pupuk organik. organik dianjurkan mempergunakan bahan
Kebijakan standarisasi dan mutu baku yang berasal dari limbah pertanian
produk menjadi penting seiring dengan (jerami) dan limbah peternakan (kohe) yang
semakin berkembangnya produksi pupuk ada dilingkungan sekitar (insitu).
organik yang dihasilkan oleh berbagai pelaku Bahan pupuk organik dari jerami selalu
mulai dari pabrikan hingga kelompok tani dan tersedia selama petani menanam padi, yang
industri pupuk organik skala kecil, maka menjadi permasalahan masih ada petani yang
diperlukan kebijakan standardisasi dan mutu membakar jerami setelah panen dan jerami
produk yang lebih selektif. Kegiatan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri
standardisasi mutu produk pupuk organik ini seperti pembuatan kertas dan karton. Untuk
sangat bermanfaat agar kualitas pupuk organik memaksimalkan pemanfaatan jerami maka
yang dihasilkan lebih bermutu dan masyarakat dibutuhkan peraturan pemerintah. Bahan
tani sebagai pengguna dapat secara jelas pupuk organik dari kotoran hewan (kohe) juga
mengetahui penggunaan dan manfaat bagi tersedia, tetapi yang menjadi permasalahan
pertumbuhan tanaman yang diusahakannya. tenaga sapi/kerbau sudah digantikan dengan
Kebijakan pemberian subsidi pupuk traktor, akibatnya tidak banyak lagi petani yang
organik diperlukan atas dasar pertimbangan: memeliharanya. Untuk mengatasinya
(1) agar terpenuhi azas 6 tepat dalam distribusi kebijakan pemerintah dalam kegiatan integrasi
pupuk organik, yaitu: tepat jenis, jumlah, tanaman dan ternak, seperti integrasi padi dan
harga, tempat, waktu dan mutu, sehinga petani ternak sapi perlu diteruskan.
dapat menggunakannya secara seimbang Pada dasarnya teknologi pembuatan
dengan pupuk an-organik sesuai teknologi pupuk organik insitu bisa dilaksanakan cara
spesifik daerah, (2) karena subsidi pada sederhana dengan menumpuk dan membolak-
prinsipnya ditujukan untuk petani, maka baliknya (fermentasi). Biaya untuk membuat
seharusnya subsidi betul-betul dapat dinikmati pupuk organik padat perkilogramnya sebesar
para petani, (3) kebijakan pemberian subsidi Rp. 417 dan apabila dijual harganya bisa
pupuk organik kedepan haruslah seimbang mencapai Rp 500. Sementara biaya pem-
antara pupuk organik yang diproduksi oleh buatan pupuk organik cair per liter sebesar Rp.
pabrikan dan yang diproduksi industri kecil dan 3.500 dan bisa dijual rata-rata Rp 6.500 per
produsen kelompok tani, (4) pemberian subsidi liter. Keuntungan memproduksi pupuk organik
pupuk organik perlu didukung oleh sistem padat sangat sedikit sekali. Oleh karena itu
produksi dan distribusi yang efektif dan efisien, diperlukan adanya kebijakan subsidi harga
dan (5) perlunya sistem dan mekanisme yang lebih menarik agar mampu mendorong
pengawasan yang efektif atas pupuk organik lebih banyak lagi petani memproduksi pupuk
bersubsidi dengan seperangkat aturan yang jenis ini. Kebijakan subsidi harga yang
tegas dan jelas. dahulunya sebesar Rp 500 perkilogram,
Dalam memproduksi pupuk organik kemudian naik menjadi Rp 700 dan sekarang
peran swasta perlu lebih didorong dalam turun lagi menjadi Rp 500 perkilogramnya
rangka penanaman modal atau investasi untuk perlu ditinjau lagi.
pembuatan sarana-prasarana fisik pabrik Agar petani mau memakai dan
pupuk organik atau menjadi penampung serta membuat pupuk organik, sebaiknya kebijakan
mitra distribusi atau pemasaran pupuk organik dalam pemberian pupuk kepada petani
dari kelompok tani pembuat pupuk organik dilakukan secara berjenjang. Jangan langsung
serta industri kecil pupuk organik. memberikan satu Unit Pengolah Pupuk
Organik, tetapi dimulai dari pemberian Alat
Pengolah Pupuk Organik kemudian rumah
PENUTUP kompos, baru terakhir Unit Pengolah Pupuk
Organik. Selain itu kebijakan lain yang
Pemakaian pupuk organik merupakan diperlukan adalah memberikan standarisasi
pintu masuk untuk memperkenalkan pertanian pupuk organik dan pelabelannya, adapun
organik di tingkat petani. Pemakaian pupuk tujuannya agar pupuk organik tersebut bisa
organik selain memberikan dampak dalam dijual bebas dan tidak hanya dimanfaatkan
menyuburkan lahan, juga memberikan keun- dalam kelompok tani saja.

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

60
DAFTAR PUSTAKA Vol 30 No 2 Desember 2012. Pusat Sosial
Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Nugroho. 2011. Petunjuk Penggunaan Pupuk
Aliansi Organik Indonesia. 2011. Produsen dan Organik. Makalah Internet.
Produk Organik Bersertifikat Meningkat.
Bogor. Peraturan Menteri Pertanian Nomor :
http://www.Organicindonesia.org/05infodat 02/Pert/HK.060/2/2006 Tentang Pupuk
a-news.Php?id=221 Organik dan Permbenah Tanah.
Kementerian Pertanian
Anonymous. 2005. Monografi Kecamatan
Pangalengan dan Kejajar. Pirngadi, K.,O.Syahromi dan T.S. Kadir. 2002a.
Model Pengelolaan Tanaman Padi Pada
Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2002. Standar Lahan Sawah Beririgasi. J. Agrivigor. 2 (2):
Nasional Indonesia (SNI) 01-6729-2002. 84-96
Sistem Pangan Organik. Jakarta
Pirngadi, K., A. Guswara, K. Permadi dan H. Pane.
Batara Lily Noviani. 2011. Pertanian Organik, 2002b. Pengaruh Persiapan Lahan dan
Antara Idealita dan Realita. Ekonomi Politik Pemupukan Terhadap Hasil Padi Walik
Pangan. Bina Desa hal : 191-206 Jerami Pada Sawah Tadah Hujan. Dalam:
BBSDL. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Sistem Produksi Pertanian Ramah
Balai Besar Sumber Daya Lahan. Bogor. Lingkungan. J. Soejitno, Hermanto dan
Crawford, J.H. 1999.Composting of Agricultural Sunihardi (Eds.) Puslitbangtan. Bogor.
Wastes. Biotechnology Aplication and P.217-224
Research. PN Cheremissionoff & P Pirngadi,K dan H. Pane. 2004. Pemberian Bahan
Oulette. Organik, Kalium, dan Teknik Persiapan
Direktorat Jenderal Tanaman pangan. 2009. Lahan Untuk Padi Gogo Rancah.
Pengalihan Sebagian Subsidi Pupuk An- Penelitian Pertanian Tanaman Pangan
organik ke Pupuk Organik. Departemen 23(3):177-184
Pertanian. Pirngadi,K dan H.M. Toha. 2006. Penelitian
Da Costa, A. 2012. Can Organic Farming Enhance Pemupukan Pada Pola Tanam Berbasis
Livelihoods For India s Rural Poor? Padi Gogo Sebagai Tanaman
Guardian.co.uk Tumpangsari Hutan Jati Muda Melalui
http://www.guardian.co.uk/global- Pengelolaan Tanaman Terpadu. BB Padi.
development/poverty-matters/2012/mar/ Sukamandi. 15 p
15/organic-farming-india-rural-poor 15 Peni.W.P dan Teguh. 2007. Petunjuk Teknis
march 2012 07.00 GMT Pembuatan Kompos Berbahan Kotoran
IFOAM. 2008. The World of Organic Agriculture Sapi. Badan Penelitian dan
Statistic & Emerging Trends 2008. Pengembangan Peternakan
http://www.soel.de/fachtheraaii Ratri S., Galuh. 2009. Optimasi Pembuatan Bioga
download/s_74_IO.pdf dan Pupuk Organik dari Tumbuhan Eceng
Karama, A.S.,A.R. Marzuki dan I. Manwan. 1990. Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.)
Penggunaan Pupuk Organik Pada Solms.) Dalam Skala Lapangan. SITH-ITB,
Tanaman Pangan. Prosiding. Lokakarya Bandung.
Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk V. Rahmawati, D. Awalia, M. M. Mustajab, Fahriyah.
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2012. Upaya Peningkatan Pendapatan
Badan Litbang Pertanian. Deptan. P 397- Petani Melalui Penggunaan Pupuk
423 Organik. Studi Kasus pada Petani Jagung
Kasdi, P. 2008. Peran Bahan Organik Dalam di Desa Surabayan, Kecamatan Sukodadi,
Meningkatkan Produksi Padi Berkelanjutan Kabupaten Lamogan. Universitas
Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Brawijaya. Malang.
Orasi Pengukuhan Profesor Riset. Rachman, B., H. Mayrowani, D. H. Azahari, A.
Lamid, Z. 2010. Integrasi Pengendalian Gulma dan Iswariyadi, V. Darwis dan Ahmad M. A.
Teknologi Tanpa Olah Tanah Pada 2012. Laporan Hasil Penelitian Kajian
Usahatani Padi Sawah Menghadapi Kebijakan Pengembangan Pupuk Organik.
Perubahan Iklim. Orasi Pengukuhan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Profesor Riset. Pertanian.

Mayrowani,H., Supriyati, T.Sugiono. 2010. Analisa Setyorini, D. 2005. Pupuk Organik Tingkatkan
Usahatani Padi Organik di Kabupaten Produksi Pertanian. Warta Penelitian dan
Sragen. Laporan Penelitian JIRCAS Pengembangan Pertanian 27 (6):13-15
Mayrowani,H. 2012. Pengembangan Pertanian Setyorini, D. 2008. Arah Pengembangan dan
Organik di Indonesia. Forum Agro Ekonomi Pemanfaatan Pupuk Organik Balai Besar

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

61
Sumberdaya Lahan dan Pertanian (Paper L.Sisworo,M.S. Badan Tenaga Nuklir
tidak dipublikasikan). Nasional.207 p
Sisworo,W.H.2006. Swasembada Pangan dan Sumarno. 2006. Sistem Produksi Padi
Pertanian Berkelanjutan Tantangan Abad Berkelanjutan Dengan Penerapan Revolusi
Dua Satu: Pendekatan Ilmu Tanah, Hijau Lestari. Puslitbangtan. Bul. Iptek
Tanaman dan Pemanfaatan Iptek Nuklir. Tanaman Pangan 1(1):1-15
Penyuting ahli: Prof.Dr. Aang Hanafiah
WS, Prof.Dr.Ir.Mugiono dan Prof.Dr.Elsye

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

62
Lampiran 1. Sumber Bahan dan Bentuk Pupuk Organik yang Umum Digunakan di Indonesia

Sumber Asal bahan Bentuk


Pertanian " pangkasan tanaman legume " padat
" sisa hasil panen tanaman " padat
" limbah ternak besar " padat dan cair
" limbah ternak unggas " padat
" kompos " padat
Non pertanian " limbah organik kota " padat dan cair
" limbah penggilingan padi " padat dan cair
" limbah organik pabrik gula " padat dan cair
" limbah organik pabrik kayu (serbuk gergaji) " padat
" gambut (abu bakar gambut) " padat
" limbah pabrik bumbu masak " padat dan cair
Sumber : BBSDL (2006)

Lampiran 2. Kandungan Hara Sumber Pupuk Organik

Bahan pupuk organik


Kandungan
No Sisa
Hara Kambing Ayam Sapi Tithonia Kirinyu
tanaman
1. C (%) 36,23 31,31 46,99 11,53 18,18 29,96
2. N (%) 3,76 2,43 3,50 1,40 2,01 2,69
3. P (%) 0,46 1,20 1,01 0,34 0,46 0,62
4. K (%) 3,26 2,89 5,92 3,11 5,11 3,73
5. Ca (%) 2.51 2,45 2,96 1,80 2,40 3,84
6. Mg (%) 0,73 0,56 1,34 0,55 0,60 0,74
7. S (%) 0,43 0,34 0,59 0,21 0,30 0,21
8. Mn (ppm) 686 821 786 1779 1279 797
9. Cu (ppm) 39 154 57 55 43 46
10. Zn (ppm) 109 333 1206 162 180 110
11. Pb (ppm) 13 10 28 29 26 19
12. Cd (ppm) 2 2 2 4 4 4
13. C/N 10 18 13 8 9 11
Sumber : BBSDL (2006)

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

63
Lampiran 3. Komposisi Hara dalam Tanaman

N P K Ca Mg Fe Cu Zn Mn B
Tanaman
..& & & & & . % & & & & & & . & & ..& & & . mg/kg & & & & &
Gandum 2,80 0,36 2,26 0,61 0,58 155 28 45 108 23
Jagung 2,97 0,30 2,39 0,41 0,16 132 12 21 117 17
Kc. Tanah 4,59 0,25 2,03 1,24 0,37 198 23 27 170 28
Kedelai 5,55 0,34 2,41 0,88 0,37 190 11 41 143 39
Kentang 3,25 0,20 7,50 0,43 0,20 165 19 65 160 28
Ubi jalar 3,76 0,38 4,01 0,78 0,68 126 26 40 86 53
Jerami padi 0,66 0,07 0,93 0,29 0,64 427 9 67 365 -
Sekam 0,49 0,05 0,49 0,06 0,04 173 7 36 109 -
Serbuk kayu 1,33 0,07 0,60 1,44 0,20 999 3 41 259 -
Sumber: Tan (1993) dalam BBSDL (2006)

Lampiran 4. Kandungan Beberapa Unsur Kimia pada Beberapa Limbah Industri Cair (Sludge) dan
Limbah Kotoran Manusia

Total-C Total-N P2O5 K2O Cu Cr Cd Pb


Sumber
& & & & . (%) & & & & & & & . (mg/kg) & & & ..
Tekstil 30,83 3,73 1,51 0,29 269 411 1 35
Makanan
49,98 3,51 1,52 0,54 103 49 8 65
Peternakan
43,29 5,86 4,68 0,55 72 28 0,4 9
Kertas
30,67 0,48 0,17 0,30 111 42 3 42
Alkohol
38,43 4,28 1,18 0,99 128 24 0,4 67
Beverage
41,75 4,05 2,03 0,56 163 89 17 148
Oil
37,14 1,47 0,70 0,23 43 117 19 191
Kotoran
manusia
32,26 2,27 7,31 0,35 138 43 3 67
Sumber : BBSDL (2006)

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 31 No. 1, Juli 2013 : 51 - 65

64
Lampiran 5. Rata-Rata Biaya Pembuatan Pupuk Organik Padat Non Komersial di Jabar dan Jateng,
2012

No. Uraian Jabar (Rp) Jateng (Rp)


A. Bahan Baku
1. Satu ton kotoran hewan (tidak beli) 0 0
2. Arang sekam 100 kg 14.000 12.000
3. Jerami padi sebanyak 50 kg dilembutkan 10.000 10.000
4. Kalsit 20 kg 7.000 6.000
5. Stardeck (pengurai) sebanyak 2 kg 40.000 40.000
6. Tenaga Kerja, 8 orang 200.000 200.000

Total Biaya 271.000 268.000


(biaya perkilogram) 417 412

B. Penerimaan
· Jabar : 650 kg x Rp 500 325.000 -
· Jateng : 650 kg x Rp 525 - 341.250
C. Pendapatan
· Pendapatan per 650 kg 53.000 73.250
· Pendapatan per kg 83 112

Sumber : Benny Rachman et al (2012)

Lampiran 6. Biaya Pembuatan Pupuk Organik Cair Non Komersial di Jabar dan Jateng, 2012

No. Uraian Jabar (Rp) Jateng (Rp)


A. Bahan Baku

1. 120 liter urine ternak sapi (dari usaha ternak 0 0


kelompok), tidak dibeli,
2. Calsil sebanyak 3 kg, 3.000 3.000
3. Limbah Karbit sebanyak 3 kg, 3.000 3.000
4. Belerang 10 kg 100.000 100.000
5. EM-4 sebanyak 1 liter 20.000 18.000
6. Botol untuk kemasan 100 biji 25.000 25.000
7. Tenaga kerja sebanyak 8 orang 200.000 200.000

Total Biaya 351.000 346.500


(biaya perliter) 3.510 3.465

B. Penerimaan
· Jabar : 100 liter x Rp 7.000 700.000 -
· Jateng : 100 liter x Rp 6.000 - 600.000

C. Pendapatan
1. Pendapatan per 100 liter PAC 349.000 253.500
2. Pendapatan per kg 3.490 2.535
Sumber : Benny Rachman et al (2011)

POTENSI PENGEMBANGAN PUPUK ORGANIK INSITU MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK Valeriana
Darwis dan Benny Rachman

65

Anda mungkin juga menyukai