Anda di halaman 1dari 86

SKRIPSI

PENGARUH CURAH HUJAN, KELEMBAPAN UDARA, DAN


LUAS PANEN TERHADAP HASIL PRODUKSI JAGUNG DI
SUMATERA UTARA

Oleh:

FIKRI LATIEF ADRIAN


140501083

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

1
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
PENGARUH CURAH HUJAN, KELEMBAPAN UDARA, DAN LUAS
PANEN TERHADAP HASIL PRODUKSI JAGUNG
DI SUMATERA UTARA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hasil Produksi Jagung di


Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang
diperoleh langsung dari Badan Pusat Statistik dan dinas atau instansi terkait.
Analisis yang digunakan bersifat deskriptif kuantitatif dengan model
analisis linier berganda. Variabel yang digunakan adalah Hasil Produksi Jagung,
Curah Hujan, Kelembapan Udara, dan Luas Panen Tanaman Jagung. Dalam
penelitian ini menggunakan Eviews 8.1 sebagai alat estimasi.
Hasil regresi menunjukkan bahwa Curah Hujan berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap Hasil Produksi Jagung, Kelembapan Udara berpengaruh
negatif signifikan terhadap Hasil Produksi Jagung dan Luas Panen berpengaruh
positif signifikan terhadap Hasil Produksi Jagung. Kemudian adanya hubungan
antara Curah Hujan, Kelembapan Udara, dan Luas Panen dengan Hasil Produksi
Jagung sebesar 85,86 % dan 14,14 % lainnya dijelaskan oleh faktor-faktor lain
yang tidak disebutkan dalam model ini.
Kata Kunci : Hasil Produksi Jagung, Curah Hujan, Kelembapan Udara, Luas
Panen

i
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF RAINFALL, AIR HUMIDITY, AND HARVEST AREA
ON CORN PRODUCTION IN NORTH SUMATRA

The purpose of this study was to determine corn production in the


province of North Sumatra . This study uses secondary data obtained directly
from Badan Pusat Stastik and the department or agency concerned.
The analysis used descriptive quantitative analysis of multiple linear
models . Variables used is Corn Production, Rainfall, Air Humidity, and Harvest
Area. In this study using Eviews 8.1 as an estimation tool.
The regression showed that the Rainfall is not significant positive effect on
the corn production, Air Humidity is significantly negative effect on the corn
production, and Harvest Area is significantly positive effect on the corn
production. Then the relationship between the Rainfall, Air Humidity, and
Harvest Area with Corn Production of 85,86 % and 14,14 % is explained by
other factors not mentioned in this model.
Keywords: Corn Production, Rainfall, Air Humidity, Harvest Area

ii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas petunjuk dan

ridho-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Adapun judul skripsi

ini adalah “Pengaruh Curah Hujan, Kelembapan Udara dan Luas Panen

Terhadap Hasil Produksi Jagung di Sumatera Utara”. Penulisan skripsi ini

merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Sumatera Utara. Skripsi ini teristimewa dipersembahkan kepada kedua orang tua

terkasih, Ayahanda Erwin Mierza Arief dan Ibunda Ratu Evina Dibyantini,

untuk kasih sayang melimpah yang diberikan bagi penulis dan saudara-saudara

kandung saya Qadhli Ja’far Adrian, Ahmad Baqir Adrian, Zakki Muhammad

Arief Adrian dan Ratu Aisyah Ratih Prima Putri yang selalu membimbing saya

dalam menulis Skripi ini, terimakasih kepada Ririn Mahdiana yang selalau

mensupport saya dalam manjalani skripsi ini.

Proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan serta

dukungan dari berbagai pihak, baik berupa dorongan semangat maupun

sumbangan pemikiran. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang

telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier, MP selaku Ketua Program Studi S1

Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera

Utara, dan Ibu Inggrita Sari Nasution, S.E., M.Si selaku Sekretaris Program

Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Sumatera Utara.

iii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin Sembiring, SE., M.Ec. selaku Dosen

Pembimbing yang selama ini bersedia meluangkan waktu dan telah banyak

membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini dari awal hingga

selesainya skripsi ini.

4. Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si dan Ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si

selaku Pembanding I dan Pembanding II skripsi yang telah memberikan

masukan untuk perbaikan skripsi ini.

5. Saudara Muhammad Imam Azhari, SE yang telah membantu dalam penulisan

skripsi.

6. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang

telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis.

7. Teman-teman Kita Kicau, Blue Man dan BAGA terhebat yang telah

membantu dalam mengerjakan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

baik dari segi bahasa maupun isinya, oleh karena itu penulis dengan senang hati

akan menerima kritikan sehat, saran dan masukan dari semua pihak. Semoga hasil

penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukannya.

Medan, September 2018

Penulis,

Fikri Latief Adrian


140501083

iv
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ................................................................................................. i
ABSTRACT ................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ............................................................................... iii
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR TABEL ..................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. ix

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .............................................................. 6
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 7
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................ 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 8


2.1 Definisi Ekonomi Pertanian.................................................. 8
2.1.1 Sejarah Ekonomi Pertanian....................................... 9
2.1.2 Fungsi Ekonomi Pertanian........................................ 9
2.2 Pengertian Palawija .............................................................. 10
2.3 Jagung ................................................................................... 11
2.3.1 Deskripsi Jagung....................................................... 13
2.3.2 Pemanfaatan Jagung ................................................. 14
2.3.3 Jenis-jenis Jagung ..................................................... 15
2.4 Produksi ................................................................................ 21
2.4.1 Pengertian Produksi .................................................. 21
2.4.2 Teori Produksi .......................................................... 21
2.4.3 Prinsip Ekonomi Dalam Proses Produksi ................. 24
2.4.4 Konsep Produksi ....................................................... 25
2.4.5 Tahapan Produksi ..................................................... 27
2.4.6 Faktor-faktor Produksi .............................................. 28
2.5 Curah Hujan .......................................................................... 31
2.6 Kelembapan Udara ............................................................... 32
2.7 Luas Panen ............................................................................ 34
2.8 Penelitian Terdahulu ............................................................. 35
2.9 Kerangka Konseptual............................................................ 37
2.10 Hipotesis ............................................................................... 37

BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 39


3.1 Jenis Penelitian ..................................................................... 39
3.2 Ruang Lingkup Penelitian .................................................... 39
3.3 Jenis Variabel Penelitian ...................................................... 39
3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................... 39
3.5 Defenisi Operasional ............................................................ 40

v
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.6 Analisa Data ......................................................................... 40
3.6.1 Model Analisis Linier Berganda .............................. 41
3.6.2 Uji Asumsi Klasik .................................................... 42
1. Uji Normalitas .................................................... 42
2. Uji Multikolinieritas ........................................... 42
3. Uji Autokorelasi ................................................. 43
4. Uji Heteroskesdastisitas...................................... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 47


4.1 Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara ......................... 47
4.2 Perkembangan Jagung Provinsi Sumatera Utara .................. 52
4.2.1 Perkembangan Hasil Produksi Jagung Provinsi
Sumatera Utara ......................................................... 52
4.2.2 Perkembangan Curah Hujan Provinsi Sumatera
Utara ......................................................................... 53
4.2.3 Perkembangan Kelembapan Udara Provinsi
Sumatera Utara ......................................................... 54
4.2.4 Perkembangan Luas Panen Jagung Provinsi
Sumatera Utara ......................................................... 55
4.3 Analisis Hasil Penelitian ...................................................... 56
4.3.1 Uji Asumsi Klasik .................................................... 56
4.3.2 Regresi Linier ........................................................... 58
4.3.3 Interpretasi Data ....................................................... 59
4.3.4 Goodness of Fit Test (Uji Kesesuaian)..................... 60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 64


5.1 Kesimpulan ........................................................................... 64
5.2 Saran ..................................................................................... 64

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 66

LAMPIRAN

vi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

Tabel 1.1 Sentra Produksi Jagung di Sumatera Utara .............................. 2


Tabel 1.2 Negara Tujuan Ekspor Jagung Indonesia Tahun 2010-2015 ... 3
Tabel 4.1 Kondisi Geografis Sumatera Utara Menurut Kabupaten dan
Kotamadya ............................................................................... 50
Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolinieralitas .................................................... 57
Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi.............................................................. 57
Tabel 4.4 Uji Heteroskesdastisitas ........................................................... 58
Tabel 4.5 Analisis Regresi Curah Hujan, Kelembapan Udara, dan Luas
Panen di Sumatera Utara .......................................................... 59
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Koefisien Determinasi ................................... 60
Tabel 4.7 Hasil Pengujian Signifikan Parsial (Uji-t) ............................... 60
Tabel 4.8 Hasil Pengujian Signifikan Simultan (Uji-F) ........................... 63

vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

Gambar 1.1 Perkembangan Hasil Produksi Jagung Provinsi Sumatera


Utara Tahun 2010-2016 (Ton) ............................................... 2
Gambar 1.2 Curah Hujan (mm) ................................................................. 4
Gambar 1.3 Luas Panen (Ha)..................................................................... 5
Gambar 1.4 Kelembapan Udara (%) ......................................................... 6
Gambar 2.1 Kurva Tahapan Produksi ....................................................... 27
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ............................................................. 37
Gambar 4.1 Hasil Produksi Jagung Sumatera Utara Tahun 2011-2016 .... 52
Gambar 4.2 Curah Hujan Sumatera Utara (mm) ....................................... 53
Gambar 4.3 Kelembapan Udara di Sumatera Utara (%) ........................... 54
Gambar 4.4 Luas Panen Jagung Sumatera Utara (Ha) .............................. 55
Gambar 4.5 Hasil Uji Normalitas .............................................................. 56

viii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul

Lampiran 1 Data
Lampiran 2 Hasil Regresi
Lampiran 3 Hasil Uji Normalitas
Lampiran 4 Hasil Uji Multikolinieritas
Lampiran 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Lampiran 6 Tabel Durbin Watson
Lampiran 7 Tabel t
Lampiran 8 Tabel F

ix
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertanian adalah suatu kegiatan manusia dalam bercocok tanam yang

meliputi kegiatan menghasilkan bahan pangan dengan memanfaatkan sumber

daya tumbuhan. Pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam

pembangunan nasional, hal ini tidak terlepas dari keberadaan Indonesia sebagai

negara agraris karena di Indonesia sebagian besar penduduknya bekerja dan

bermata pencaharian di bagian pertanian. Di dalam pertanian ada banyak sekali

hasil pangan yang dihasilkan oleh para petani Indonesia seperti padi, jagung,

kedelai, ubi kayu, dan sebagainya.

Jagung merupakan salah satu komoditas strategis dan bernilai ekonomis

tinggi karena selain sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras,

jagung merupakan bahan baku industri pakan ternak dan rumah tangga.

Keberadaan jagung sangat dibutuhkan dalam rangka ketahanan pangan di

Indonesia. Pada beberapa tahun terakhir ini, kebutuhan jagung terus meningkat

seiring dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan

peningkatan kebutuhan untuk pakan. Namun demikian, konversi lahan pertanian

yang subur untuk kepentingan non-pertanian terus berlangsung seperti

perumahan, industri, bisnis dan infrastruktur.

Wilayah Sumatera Utara memiliki potensi yang cukup besar dan luas

untuk dikembangkan menjadi areal pertanian untuk menunjang pertumbuhan

industri. Laut, darat, sungai merupakan potensi perikanan dan perhubungan

1
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
sedangkan keindahan alam daerah merupakan potensi energi untuk

pengembangan industri, perdagangan dan lain-lain. Berikut dapat dilihat

perkembangan hasil produksi jagung di Sumatera Utara :

Hasil Produksi Jagung Provinsi


Sumatera Utara (Ton)

1519407 1557462
1377718 1294645 1347124 1183011 1159795

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016


1 2 3 4 5 6 7

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010-2016


Gambar 1.1
Perkembangan Hasil Produksi Jagung Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2010-2016 (Ton)
Berdasarkan Gambar 1.1 di atas dapat dilihat bahwa perkembangan hasil

produksi jagung di Provinsi Sumatera Utara tahun 2010-2016 mengalami naik

turun kecuali pada tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami peningkatan. Berikut

dapat dilihat perkembangan hasil produksi jagung menurut sentra produksi :

Tabel 1.1
Sentra Produksi Jagung di Sumatera Utara
Hasil Produksi
Jagung (Ton)
Kota/Kabupaten 2015 2016
Kabupaten Karo 553.208 521.870
Kabupaten Dairi 259.033 217.003
Kabupaten Simalungun 381.685 382.309
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015-2016

2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sentra produksi jagung di Sumatera Utara adalah Kabupaten Karo,

Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Dairi. Berikut dapat dilihat

perkembangan ekspor jagung Indonesia :

Tabel 1.2
Negara Tujuan Ekspor Jagung Indonesia Tahun 2010-2015
Negara Nilai : USD (000)
Tujuan 2010 2011 2012 2013 2014
Jepang 1407 356 1250 952 2146
Pakistan 0 1052 29 0 1326
Bangladesh 0 0 663 0 417
Singapura 106 267 273 213 263
Vietnam 17 3146 8792 6679 178
Malaysia 2904 70 105 79 88
Lainnya 1716 2305 1401 178 31
TOTAL 11288 9422 18983 10591 13218
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010-2015

Jagung memerlukan cahaya matahari langsung untuk tumbuh dengan

normal. Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah

250–5000 mm per tahun, suhu udara 23-27 °C (ideal), kelembapan udara 80%,

dan pH tanah 5,6-7,5 adalah ideal. Jenis tanah tidak terlalu penting, asalkan aerasi

baik dan ketersediaan air mencukupi. Air yang cukup pada fase pertumbuhan

awal, pembungaan, serta pengisian biji adalah kritis bagi produksi jagung pipilan.

Kekurangan air pada fase-fase pertumbuhan tersebut akan secara jelas

menurunkan produksi. Jagung merupakan tanaman model yang menarik,

khususnya di bidang biologi dan pertanian. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini

menjadi objek penelitian genetika yang intensif, dan membantu terbentuknya

teknologi kultivar hibrida yang revolusioner. Dari sisi fisiologi, tanaman ini

tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari.

3
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dalam kajian agronomi, tanggapan jagung yang dramatis dan khas terhadap

kekurangan atau keracunan unsur-unsur hara penting menjadikan jagung sebagai

tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai. Berikut dapat dilihat

perkembangan curah hujan Provinsi Sumatera Utara :

Curah Hujan di Sumatera Utara (mm)


3500

3000

2500

2000

1500 Curah Hujan

1000

500

0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010-2016


Gambar 1.2
Curah Hujan (mm)
Pada beberapa tahun terakhir ini, kebutuhan jagung terus meningkat

seiring dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan

peningkatan kebutuhan untuk pakan. Namun demikian, konversi lahan pertanian

yang subur untuk kepentingan non-pertanian terus berlangsung seperti

perumahan, industri, bisnis dan infrastruktur. Berikut dapat dilihat perkembangan

luas panen jagung di Sumatera Utara :

4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Luas Panen Jagung di Sumatera
Utara (Ha)
300000
250000
200000
150000 Luas Panen Jagung di
Sumatera Utara
100000
50000
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010-2016


Gambar 1.3
Luas Panen (Ha)

Berdasarkan Gambar 1.3 diatas dapat dilihat luas panen jagung dari tahun

ke tahun menurun, kecuali pada tahun 2015 mengalami peningkatan dari 243.772

hektar meningkat menjadi 252.729 hektar. Tanaman tumbuh dipengaruhi oleh

berbagai faktor yang berasal dari tumbuhan itu sendiri disebut faktor internal,

namun faktor yang berasal dari lingkungan disebut faktor eksternal. beberapa dari

faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah kelembaban

udara. Kelembaban udara berarti kandungan uap air di udara. Kelembaban

dibutuhkan oleh tanaman agar tubuhnya tidak cepat kering karena penguapan.

Kelembaban yang dibutuhkan tanaman berbeda-beda tergantung pada jenisnya.

jika ingin mendapatkan produktifitas yang optimal, tanaman ada yang

membutuhkan kelembaban yang tinggi dan ada juga yang membutuhkan

kelembapan yang rendah. Berikut dapat dilihat perkembangan kelembapan udara

di Sumatera Utara :

5
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kelembapan Udara di Sumatera
Utara (%)
81.5
81
80.5
80
79.5 Kelembapan Udara
79
78.5
78
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010-2016


Gambar 1.4
Kelembapan Udara (%)

Berdasarkan Gambar 1.4 diatas kelembapan udara Sumatera Utara tidak

mengalami perubahan yang signifikan atau berada di antara 79-81 %. Hal ini

menunjukkan kondisi kelembapan udara di Sumatera Utara cocok untuk menanam

jagung, yaitu 80%. Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim

tropis hal ini dikarenakan terletak dekat garis khatulistiwa,

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti dan menulis

skripsi dengan judul “ Pengaruh Curah Hujan, Kelembapan Udara, dan Luas

Panen Terhadap Hasil Produksi Jagung di Sumatera Utara ”.

1.2 Perumusan Masalah

Adapun rumusan permasalahan yang dihasilkan berdasarkan uraian latar

belakang masalah di atas adalah sebagai berikut :

1. Apakah Curah Hujan berpengaruh terhadap Hasil Produksi Jagung di Sumatera

Utara?

6
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Apakah Kelembapan Udara berpengaruh terhadap Hasil Produksi Jagung di

Sumatera Utara?

3. Apakah Luas Panen berpengaruh terhadap Hasil Produksi Jagung di Sumatera

Utara?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis pengaruh Curah Hujan terhadap Hasil Produksi Jagung di

Sumatera Utara

2. Untuk menganalisis pengaruh Kelembapan Udara terhadap Hasil Produksi

Jagung di Sumatera Utara

3. Untuk menganalisis pengaruh Luas Panen terhadap Hasil Produksi Jagung di

Sumatera Utara

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai penjelasan atas pengaruh curah hujan, kelembapan udara, dan luas

panen terhadap hasil produksi jagung di Sumatera Utara.

2. Secara akademik, diharapkan bermanfaat sebagai referensi dan bahan kajian

terhadap hasil produksi jagung di Sumatera Utara.

3. Sebagai bahan studi dan tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa/i Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ekonomi Pertanian


Ekonomi pertanian merupakan gabungan dari ilmu ekonomi dengan ilmu

pertanian yang memberikan arti sebagai berikut. Suatu ilmu yang mempelajari

dan membahas serta menganalisis pertanian secara ekonomi, atau ilmu ekonomi

yang diterapkan pada pertanian. (Daniel, 2002; 9)

Dengan pengertian ekonomi pertanian yang demikian, ilmu pertanian

bukan hanya mempelajari tentang bercocok tanam tetapi suatu ilmu yang

mempelajari segala sesuatu tentang pertanian, baik mengenai subsektor tanaman

pangan dan hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, maupun

subsektor perikanan.

Ilmu ekonomi pertanian menjadi satu ilmu tersendiri yang mempunyai

manfaat yang besar dan berarti dalam proses pembangunan dan memacu

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekonomi pertanian mencakup analisis

ekonomi dari proses (teknis) produksi dan hubungan-hubungan sosial dalam

produksi pertanian, hubungan antar faktor produksi, serta hubungan antara faktor

produksi dan produksi itu sendiri. Dalam kebijakan pembangunan nasional,

pembangunan pertanian merupakan langkah awal dan mendasar bagi

pertumbuhan industri. Salah satu subsektor pertanian yang berkembang adalah

subsektor perkebunan.

8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.1.1 Sejarah Ekonomi Pertanian

Ilmu ekonomi pertanian merupakan cabang ilmu yang masih sangat muda.

Kalau ilmu ekonomi moderen dianggap lahir dengan penerbitan buku Adam

Smith yang berjudul Wealth of nations pada tahun 1776 di Inggris, maka ilmu

ekonomi pertanian dilahirkan awal abad ke-20 atau akhir abad ke-19 dengan

terjadinya depresi pertanian pada tahun 1890.

Di Amerika Serikat mata pelajaran Rural Economic pertama-tama

diajarkan pada tahun 1892 di Universitas Ohio. Mata pelajaran Economic of

Agriculture mulai diberikan di Universitas Cornell pada tahun 1901 dan Farm

Management pada tahun 1903. Pada tahun 1910 beberapa universitas di Amerika

Serikat sudah memberikan kuliah-kuliah yang teratur dalam Agricultural

Economics.

Di Indonesia, ilmu ekonomi pertanian baru dikembangkan mulai tahun

1950-an yang di pelopori oleh Prof. Iso Reksohadiprodjo dan Prof. Ir. Teko

Sumodiwirjo, masing-masing dosen di Universitas Indonesia dan Universitas

Gajah Mada. (Mubyarto, 1984)

2.1.2 Fungsi Ekonomi Pertanian

Ekonomi pertanian mempunyai fungsi yang tidak kalah pentingnya dari

ilmu ekonomi maupun ilmu pertanian itu sendiri. Dia bisa berada di awal atau

sebelum ilmu pertanian, bisa seiring dan bisa juga sesudah. Semua fungsinya amat

menentukan akan kemajuan pertanian. Ekonomi pertanian bukan sekedar

gabungan antara ilmu ekonomi dengan ilmu pertanian, tetapi mempunyai arti

yang sangat penting bagi pertanian dan juga bagi ekonomi.

9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Ilmu ekonomi pertanian mempelajari faktor sumber daya atau faktor

produksi dilengkapi dengan permasalahan, potensi dan kebijakan serta kemitraan,

kelembagaan dan faktor pendukung lainnya. Sebelum proses produksi atau usaha

tani dijalankan (baik dalam subsektor tanaman pangan dan hortikultura, subsektor

perkebunan, subsektor peternakan, maupun subsektor perikanan) perlu dilakukan

perencanaan yang matang.

Dalam pelaksanaan di lapangan, pertanian juga membutuhkan ilmu

ekonomi pertanian. Kalau pupuk diberikan sekian banyak, berapa hasil yang akan

diterima, bila pupuk dikurangi atau ditambah berapa keuntungan yang akan

diperoleh. Begitu juga dengan pengaturan tenaga kerja dan obat-obatan. Dalam

ekonomi pertanian, semua itu akan diperhitungkan dan dipelajari secara

mendalam. (Daniel, 2002; 6)

2.2 Pengertian Palawija

Palawija secara harfiah berarti tanaman kedua. Berdasarkan makna dari

bahasa Sanskerta, palawija bermakna hasil kedua, dan merupakan tanaman hasil

panen kedua di samping padi. Istilah palawija berkembang di antara para petani di

Pulau Jawa untuk menyebut jenis tanaman pertanian selain padi. Tanaman

pertanian yang bisa disebut sebagai palawija diantaranya yaitu jagung, sorghum,

kacang hijau, kacang tunggak, kedelai, singkong, kentang, ubi, wortel, dan lain-

lain.

Dalam sistem yang menekankan pertanian berkelanjutan, palawija

merupakan salah satu komponen untuk melakukan rotasi tanaman. Palawija

mampu menghemat air di musim kering sehingga tidak memberikan beban bagi

10
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
irigasi, terutama ketika irigasi tidak mampu memberikan cukup air bagi padi

sawah. Palawija juga mampu menjadi sumber penghidupan di dataran tinggi di

mana padi tidak dapat tumbuh. Di lereng Gunung Merapi, petani melakukan rotasi

tanaman dengan menanam padi yang diselingi palawija untuk memutus siklus

hidup hama tikus. Rotasi tanaman ini terbukti meningkatkan produktivitas hasil

pertanian setempat. Di sisi lain, palawija merupakan tanaman yang cukup rentan

terhadap serangan hama sehingga membutuhkan lebih banyak pestisida. Palawija

juga rentan dengan serangan "hama besar" seperti babi hutan.

Palawija merupakan salah satu kunci dalam menggalakkan diversifikasi

pangan di Indonesia demi mempertahankan ketahanan pangan. Lahan tidur yang

tidak tergarap, misal lahan bekas kehutanan, bisa ditanam palawija karena

penanaman palawija tidak membutuhkan banyak air. Jika terwujud, hal ini dapat

meningkatkan produksi pangan. Berbagai petani juga memilih untuk beralih ke

palawija ketika komoditas utama mereka mengalami penurunan harga, seperti

yang dialami petani tebu di Jawa Tengah.

2.3 Jagung

2.3.1 Deskripsi Jagung

Jagung adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang

terpenting di dunia, selain gandum dan padi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan

Selatan, bulir jagung adalah pangan pokok, sebagaimana bagi sebagian penduduk

Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Pada masa kini, jagung juga sudah

menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai

sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Berbagai produk

11
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
turunan hasil jagung menjadi bahan baku berbagai produk industri farmasi,

kosmetika, dan kimia.

Jagung memerlukan cahaya matahari langsung untuk tumbuh dengan

normal. Tempat dengan curah hujan 250–2000 mm per tahun, suhu udara 23-27

°C (ideal), dan pH tanah 5,6-7,5 adalah ideal. Jenis tanah tidak terlalu penting,

asalkan aerasi baik dan ketersediaan air mencukupi. Air yang cukup pada fase

pertumbuhan awal, pembungaan, serta pengisian biji adalah kritis bagi produksi

jagung pipilan. Kekurangan air pada fase-fase pertumbuhan tersebut akan secara

jelas menurunkan produksi. Jagung merupakan tanaman model yang menarik,

khususnya di bidang biologi dan pertanian.Sejak awal abad ke-20, tanaman ini

menjadi objek penelitian genetika yang intensif, dan membantu terbentuknya

teknologi kultivar hibrida yang revolusioner. Dari sisi fisiologi, tanaman ini

tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari.

Dalam kajian agronomi, tanggapan jagung yang dramatis dan khas terhadap

kekurangan atau keracunan unsur-unsur hara penting menjadikan jagung sebagai

tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai.

Tanaman jagung sudah dapat dipanen pada waktu berumur sekitar 100 hari

setelah (HST), tergantung dari jenis benih yang digunakan. Secara fisik, jagung

yang siap dipanen mempunyai karakteristik/ciri yakni terlihat dari daun klobotnya

yang mongering, berwarna kekuningan. Panen yang dilakukan sebelum atau

setelah fisiologisnya akan berakibat pada komposisi kimiawi jagung yang

menentukan kualitasnya.

12
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.3.2 Pemanfaatan Jagung

Produk utama jagung adalah bijiannya (grain). Bijian sebenarnya adalah

buah dan biji yang menyatu.Massa bijian terbesar diisi oleh endosperma yang

kaya oleh karbohidrat. Dari bijian yang dihasilkan, jagung menjadi sumber

pangan pokok manusia ketiga setelah gandum dan beras/padi. Bijian jagung

dimanfaatkan sebagai pakan hewan, baik untuk unggas maupun ternak besar.

Serapan terbesar di Indonesia sekarang adalah sebagai sumber pakan ternak.

Olahan bijian juga diserap dalam industri pangan, farmasi, kosmetika, dan industri

kimia.

Produk jagung penting lainnya adalah jagung tongkol. Jagung tongkol

juga dipanen dalam usia sekitar tiga minggu setelah penyerbukan untuk dijadikan

sayuran atau direbus serta dibakar. Jagung manis biasanya mengisi pangsa ini.

Tongkol jagung yang masih muda dan belum berkembang penuh dipanen sebagai

sayuran segar yang dikenal sebagai jagung semi atau babycorn.

Tanaman jagung utuh yang masih hijau dimanfaatkan oleh usaha tani

peternakan sebagai hijauan. Kandungan protein tanaman jagung cukup tinggi

sebagai sumber pakan bagi sapi dan kerbau.Bidang bioenergi mengembangkan

tanaman jagung dengan kandungan selulosa tinggi untuk dimanfaatkan

biomassanya sebagai sumber energi terbarukan.

1. Pangan

Bagian jagung yang biasa dimakan manusia adalah bijiannya, baik masih

muda ketika isinya belum mengering maupun setelah tua dan mengering. Bijian

kering dapat dihaluskan menjadi tepung jagung (maizena).

13
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Maizena merupakan bahan untuk berbagai kue dan penganan olahan serta

untuk bahan baku pembuatan mie bihun.

Dedak merupakan bijian jagung yang digiling halus. Dedak dapat

dicampur dengan bahan lain sebagai makanan sarapan. Pecahan kasar bijian

jagung diolah di Amerika Serikat sebagai makanan sarapan populer, corn flakes.

Di Jawa Timur terutama, bijian jagung kering ditumbuk agak halus untuk

mendapatkan beras jagung, yang setelah dikukus atau ditanak menjadi nasi

jagung. Nasi jagung ini, murni atau bercampur nasi padi, umum sebagai makanan

pokok terutama di wilayah Jawa Timur yang mendapat pengaruh dari budaya

Madura.

Bijian utuh jagung dapat dipanggang, disangrai, atau digoreng. Gorengan

bijian kering jagung dikenal sebagai marning di Jawa Tengah. Dari bijian jagung

kering varietas tertentu juga dapat dibuat brondong jagung.

Jagung muda biasanya dipasarkan secara utuh bersama tongkolnya.

Jagung manis mengisi kebanyakan pangsa ini, meskipun jagung ladang dan

jagung ketan juga dipanen dalam keadaan demikian. Tongkol direbus,

dipanggang, atau dibakar. Beberapa masakan sayur, seperti sayur asam dan sayur

bening dilengkapi dengan potongan tongkol jagung atau bijian muda yang sudah

dipisahkan dari tongkolnya.

2. Pakan

Untuk unggas dapat diberikan dalam bentuk utuh (pakan burung dara),

dipecah (pakan burung pengicau), dihaluskan, sampai berbentuk bubuk.

14
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Kegunaan Lain

Kegunaan lain dari jagung adalah untuk bahan baku industri bir, farmasi,

dextrin, perekat, tekstil, minyak goring, etanol, dan lain-lain. Saat ini jagung juga

dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat

diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik.

Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik

menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.

2.3.3 Jenis-Jenis Jagung

1. Jagung gigi kuda (Dent corn)

Banyak terdapat di Amerika Serikat dan Meksiko Utara, kemudian di

Eropa. sebagian besar dijadikan makanan ternak. Di Indonesia jenis jagung ini

jarang ditanam karena tidak tahan tarhadap hama bubuk dan cocok untuk dibuat

tepung jagung.

Ciri khas biji jagung kuda adalah adanya lekukan dibagian tengah atau

atau bagian atas biji, batangnya tingi dan panjang tumbuhnya tegap dan umurnya

lama .Setiap batang tumbuhnya 1-2 tongkol. Biji-bijian tanaman jagung kuda

berukuran besar yang terbagi dalam beberapa baris, dan berwarna kuning, putih

atau kadang-kadang berwarna lain, beratnya per 1000 biji antara 300-500 gr. Cara

penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan ke gudang,

disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran yang

seragam, kemudian dikemas dalam wadah dan disimpan didalam wadah yang

dingin.

15
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Bagian pati keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan

pati lunaknya di tengah sampai ke ujung biji. Pada waktu biji mengering, pati

lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut dari pada pati keras,

sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji. Tipe biji dent ini bentuknya

besar, pipih dan berlekuk. Jagung hibrida tipe dent adalah tipe jagung yang

populer di Amerika dan Eropa. Di Indonesia, terutama di Jawa, kira-kira 25% dari

jagung yang ditanam bertipe biji semi dent (setengah gigi kuda).

2. Jagung mutiara (flint corn)

Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat, licin, mengkilap dan keras karena

bagian pati yang keras terdapat di bagian atas dari biji. Pada waktu masak, bagian

atas dari biji mengkerut bersama-sama, sehingga menyebabkan permukaan biji

bagian atas licin dan bulat. Pada umumnya varietas lokal di Indonesia tergolong

ke dalam tipe biji mutiara. Sekitar 75% dari areal pertanaman jagung di Pulau

Jawa bertipe biji mutiara. Tipe biji ini disukai oleh petani karena tahan hama

gudang.Jagung ini banyak terdapat di dunia terutama di Amerika Serikat,

Argentina sebagian digunakan untuk keperluan pakan ternak. Kalau di Indonsia

dimanfaatkan untuk konsumsi manusia dan ternak. Tanaman jagung mutiara dapat

beradaptasi baik di daerah tropis dan subtropis.

Umur tanaman jagung ini agak lama demikian juga jumalah dan tumbuhan

janggel (tongkol bermacam-macam. beratnya per 1000 biji antara 100-700 gr. dan

bentuknya agak bulat dan ukurannya lebih kecil dari pada biji jagung model gigi

kuda, warnanya bervariasi, putih, kuning dan juga agak merah. Permukaan biji

16
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
cerah dan bersinar dan agak keras (horny starch) kandungan zat tepung relatif

sedikit dan terletak dibagian dalam (tengah).

Biji jagung mutiara tidak berkerut saat mengering sehingga lebih tahan

terhadap serangan hama gudang dan gangguan gudang dan gangguan dari luar,

seperti keadaan hujan tidak teratur, sedangkan biji jagung gigi kuda berkerut

(perbedaannnya).

Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis

dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan

disortir ukuran yang seragam, kemudian dikemas dalam wadah dan disimpan

didalam wadah yang suhu yang stabil tidak terlalu dingin.

3. Jagung Manis ( Sweet Corn)

Jagung manis (Z.m.saccharata) diusahakan secara besar-besaran di

Amerika Serikat dan Meksiko. Produksi jagung manis digunakan bahan

pembuatan sirup, karena mengandung zat gula yang sangat tinggi. Sedangkan di

Indonesia jagung manis baru mulai ditanam kurang lebih sekitar tahun 2000 dan

dalam beberapa tahun terakhir ini jagung manis menjad mata dagangan ekspor ke

pasar dunia.

Ciri khas jagung manis adalah biji-biji yang masih muda bercahaya dan

berwarna jernih, biji yang telah masak dan kering berkeriput (mengerut). Untuk

membedakan dapat dilihat dari rambut tongkol berwarna putih .jika rambutnya

berwarna merah berarti jaung biasa. Apabila ada yang berminat menanam jagung

manis ini terlebih kita melihat umur tanam yang berkisar antara 60-70 hari, namun

didataran tinggi mencapai 80 hari.

17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Bentuk biji jagung manis pada waktu masak keriput dan transparan. Biji

jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dari pada

pati. Sifat ini ditentukan oleh satu gen sugary (su) yang resesif. Jagung manis

umumnya ditanam untuk dipanen muda pada saat masak susu (milking stage).

Jagung manis apabila ditanam satu tempat dengan jagung biasa maka akan

berubah rasa manis, karena jagung ini tidak bisa mempertahankan sifat terhadap

penyerbukan silang, sebaiknya menanam jagung manis dan jagung biasa agak

berjauhan (minimal 100 meter) atau pada batas petakan ditanam tanaman

pelindung sebagai pembatas.

Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis

dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan di

sortir ukuran yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah dan disimpan di

dalam wadah yang teduh dan dingin.

4. Jagung Brondong (Pop Corn)

Jagung Berondong (Z.M everta) diusahakan secara besar-besaran di

Amerika terutama Iowa, Nebrazka dan Meksiko. Ciri-cinya bijinya kecil-kecil

seperti terdapat di Mall–Mall atau pertokoan hampir seluruh bentuk (endosperm)

merupakan bagian yang keras, serta jika dipanaskan dapat mengembang 10-30

kali dari volume semula. Biji jagung berondong ini berwarnaa putih atau

kekuning–kuningan dengan bentuk yang agak meruncing dan tongkolnya

berukuran kecil. Bila ditimbang bijinya yang 1000 biji maka beratnya mencapai

antara 80 sampai 130 gr. Jenis jagung ini ada dua tipe satu diberi nama rice pop

corn bedanya bijijnya agak pipih dan meruncing, sedangkan yang satu lagi diberi

18
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
nama pear pop corn bentuk bijinya bulat dan kompak. Jagung ini cocok untuk

snack.

Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis

dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan

disortir ukuran yang seragam, kemudian dikemas dalam wadah dan disimpan

didalam wadah yang dingin.

5. Jagung Pod (Pod Corn)

Jenis Jagung Pod (Z.m.Tunicata) merupakan bentuk primitif yang

dijumpai pertama kali di Amerika Selatan, terutama di Uruguay dan Paraguay. Di

Indonesia tidak ada yang mengusahakan karena jagung ini kurang

menguntungkan ciri khas nya biji dan tongkolnya banyak diselubungi oleh

kelobot bijinya seolah-olah tidak kelihatan. Cara penyimpanannya ditaruh

ditempat yang teduh dan strategis dimasukan ke gudang, disortir dengan

memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran yang seragam, kemudian

dikemas dalam wadah dan disimpan didalam wadah yang dingin.

6. Jagung Berlilin (Waxy Corn)

Jagung berlilin (Z.m Ceratina) biasa disebut jagung pulen karena kadar

amilopektinnya tinggi dan cirinya lengket apabila dimasak bijinya kecil berwarna

jernih dan mengkilap seperti lilin dan dan zat patinya seperti tepung tapioka dan

memiliki ekonomis tinggi sebab dapat mengganti tepung tapioka dan bahan

pengganti sagu serta dapat dijadikan bahan pakan ternak. Asal mula jagung ini

adalah dari Asia. Endosperma pada tipe jagung waxy seluruhnya terdiri dari

amylopectine, sedangkan jagung biasa mengandung ± 70% amylopectine dan 30%

19
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
amylose. Jagung waxy digunakan sebagai bahan perekat, selain sebagai bahan

makanan.

Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis

dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan

disortir ukuran yang seragam, kemudian dikemas dalam wadah dan disimpan

didalam wadah yang dingin.

7. Jagung Tepung (Flour Corn)

Jenis Jagung Tepung Flour Corn atau (Z.m amilacea) dikembangkan di

Amerika Selatan bagian Peru, Bolivia dan Colombia serta Colombia serta di

Afrika. Zat pati yang terdapat dalam endosperma jagung tepung semuanya pati

lunak, kecuali di bagian sisi biji yang tipis adalah pati keras.

Ciri-ciri jagung tepung adalah hampir seluruh bijinya berisi pati yang

berupa tepung dan lunak, serta apabila terkena panas akan mudah pecah panjang

tongkolnya berkisar 25- 30 cm dan barisan bijinya berkisar 8- 12 baris. Jagung

jenis ini cocok untuk membuat tepung maezena.

Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis

dimasukan kegudang namun sebelumnya dijemur dibawah sinar matahari selama

7 hari atau lebih hingga kadar air mencapai 18 %. Jagung disortir dengan

memisahkan rabut, jagung, tongkol dan disortir ukuran yang seragam , kemudian

dikemas dalam wadah dan disimpan didalam wadah yang dingin. Apabila jagung

kering yang mau dipipil dengan menggunakan alat pemipil maka dikeringkan

kembali sampai kadar airnya 12 % kemudian disimpan digudang yang sejuk dan

kering serta berpentilasi baik.

20
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.4 Produksi

2.4.1 Pengertian Produksi

Produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan

memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat

dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau

masukan untuk menghasilkan output. Hubungan teknis antara input dan output

tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik merupakan fungsi produksi.

Jadi, fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah

maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu.

Dalam ilmu ekonomi istilah produksi mencakup jenis aktivitas yang jauh

lebih luas dibanding pengertian sehari-hari. Menurut konteks ini produksi dapat

diartikan sebagai hubungan fisik antar masukan (input) dan keluaran (output).

Pengertian seperti ini sering disebut sebagai “proses produksi”.

Fungsi yang menggambarkan keadaan seperti itu dinamakan “fungsi

produksi”. Unsur-unsur ekonomi yang berkaitan erat dengan masalah produksi ini

diantaranya adalah pendapatan sekaligus berhubungan dengan laba/rugi, biaya

produksi, efisiensi, produktivitas, dll.

2.4.2 Teori Produksi

Produksi adalah suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai

guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam

memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa

mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah

daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan

21
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
produksi barang. Produksi tidak hanya terbatas pada pembuatannya saja tetapi

juga proses penyimpanan, distribusi, pengangkutan, pengeceran, dan pengemasan

kembali, atau yang lainnya (Millers dan Meiners dalam Togatorop, 2010).

Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai

kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam

jumlah yang mencukupi.

Teori produksi mengambarkan tentang keterkaitan diantara faktor-faktor

produksi dengan tingkat produksi yang diciptakan. Teori produksi dapat

dinyatakan dalam bentuk fungsi produksi dan tingkat produksi yang diciptakan.

Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input, dan jumlah produksi

disebut output (Sadono Sukirno, 2000). Dalam kaitannya dengan pertanian,

produksi merupakan esensi dari suatu perekonomian. Untuk berproduksi

diperlukan sejumlah input, dimana umumnya input yang diperlukan pada sektor

pertanian adalah adanya kapital, tenaga kerja dan teknologi. Dengan demikian

terdapat hubungan antara produksi dengan input, yaitu output maksimal yang

dihasilkan dengan input tertentu atau disebut fungsi produksi

Dalam istilah ekonomi faktor produksi kadang disebut dengan input

dimana macam input atau faktor produksi ini perlu diketahui oleh produsen.

Antara produksi dengan faktor produksi terdapat hubungan yang kuat yang secara

matematis, hubungan tersebut dapat ditulis sebagai berikut (Soekartawi, 1990)

dengan rumus sebagai berikut :

Y= f (X1, X2,.......Xi, ......Xn) ..........................................................(2.1)

22
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dengan fungsi produksi seperti tersebut diatas, maka hubungan Y dan X

dapat diketahui dan sekaligus hubungan X1, X2, ... Xi,...., Xn juga dapat

diketahui. (Soekartawi,1990).

Dalam pengelolaan sumberdaya produksi, aspek penting yang dimasukan

dalam klasifikasi sumberdaya pertanian adalah aspek alam (tanah), modal dan

tenaga kerja, selain itu juga aspek manajemen. Pengusahaan pertanian selain

dikembangkan pada luas lahan pertanian tertentu. Pentingnya faktor produksi

tanah bukan saja dilihat dari luas atau sempitnya lahan, tetapi juga macam

penggunaan tanah (tanah sawah, tegalan) dan topografi (tanah dataran pantai,

dataran rendah, dan atau dataran tinggi). Dalam proses produksi terdapat tiga tipe

reaksi produks atas input (faktor produksi) (Soekartawi, 1990), yaitu :

a. Increasing return to scale, yaitu apabila tiap unit tambahan input

menghasilkan tambahan output yang lebih banyak daripada unit input

sebelumnya.

b. Constant return to scale, yaitu apabila unit tambahan input menghasilkan

tambahan output yang sama daripada unit sebelumnya.

c. Decreasing return to scale, yaitu apabila tiap unit tambahan input

menghasilkan tambahan output yang lebih sedikit daripada unit input

sebelumnya.

Ketiga tipe reaksi produksi tersebut tidak dapat dilepaskan dari konsep

produk marjinal (marginal product) yang merupakan tambahan satu-satuan input

X yangdapat menyebabkan penambahan atau pengurangan satu-satuan output Y,

dan produk marjinal (PM) umum ditulis dengan ∆Y/∆X (Soekartawi, 1990).

23
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dalam proses produksi tersebut setiap tipe reaksi produksi mempunyai nilai

produk marjinal yang berbeda. Nilai produk marjinal berpengaruh besar terhadap

elastisitas produksi yang diartikan sebagai persentase perubahan dari output

sebagai akibat dari persentase perubahan dari input.

2.4.3 Prinsip Ekonomi Dalam Proses Produksi

Beberapa prinsip ekonomi dalam proses produksi sebagai kebijakan

perusahaan, yaitu:

1. Maksimalisasi Output

Kebijaksanaan perusahaan untuk memaksimalisasi output dinyatakan

berdasarkan kendala biaya, berarti perusahaan berupaya untuk

mendapatkan output maksimum dengan mengeluarkan biaya tertentu.

2. Minimalisasi Biaya

Kebijakan perusahaan yang berupaya untuk meminimalisasi biaya

produksi untuk tingkat tertentu.

3. Maksimalisasi Laba

Pengusaha memiliki kebebasan dalam penggunaan input sebagai biaya

produksi guna menciptakan produksi optimal dengan tujuan untuk

mendapatkan laba maksimum. Besarnya laba maksimum perusahaan

sebagai penjualan output adalah selisih diantara jumlah penerimaan

(total revenue) dikurangi dengan jumlah biaya (total cost).

24
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.4.4 Konsep Produksi

Konsep dasar teori produksi sangat diperlukan bagi berbagai pihak,

terutama pihak produsen untuk menentukan bilamana output dapat memberikan

maksimum laba. Beberapa informasi yang perlu diketahui produsen anatara lain

permintaan output maupun informasi ketersediaan berbagai input guna

mendukung proses output. Demikian pula alternatif penggunaan input dan bahkan

pengorbanan terhadap sesuatu output guna kepentingan output lainnya.

Keterangan ini perlu mendapat perhatian para pelaku kegiatan produksi sebagai

suatu kebijaksanaan sekaligus keputusan.

Secara umum, konsep produksi dapat dibedakan menjadi 3 bagian

(Kadariah, 1994; 100), yaitu:

1. Produk Total (Total Product)

Produk total adalah jumlah total produksi yang dihasilkan oleh sebuah

perusahaan selama kurun waktu tertentu dengan menggunakan sejumlah input

yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian produk total

ini merupakan fungsi dari input/faktor-faktor produksi yang tersedia, sehingga

besarnya sangat dipengaruhi oleh kepemilikan terhadap input yang diperlukan.

Dalam hal ini fungsi produksi total dapat dirumuskan sebagai berikut:

TP = f (FP)

Artinya bahwa produksi total merupakan variabel dependen terhadap faktor

produksi (FP) yang dijadikan sebagai variabel independen, dimana:

TP = Total Product (produk total)

FP = Factor of Production (faktor produksi)

25
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Produksi Rata-Rata (Average Product)

Produksi rata-rata adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh setiap unit

(satuan) faktor-faktor produksi. Konsep ini diperoleh dengan cara membagikan

total produksi dengan jumlah faktor produksi (input) yang dimiliki oleh

sebuahperusahaan. Berdasarkan penjelasan tersebut, konsep ini dapat dirumuskan

sebagai berikut:

AP = TP
FP
Dimana:

AP = average product (produksi rata-rata)

TP = total product (total produksi)

FP = jumlah faktor produksi yang digunakan

3. Produksi Marginal (Marginal Product)

Produk marjinal merupakan perubahan (pertambahan atau penurunan)

produksi yang diperoleh seiring dengan dilakukannya penambahan input. Dengan

demikian konsep ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

MP = ΔQ = Qa - Qa-1
Dimana:

MP = produksi marjinal (marginal product)

Qa = total produksi setelah penambahan faktor produksi

Qa-1 = total produksi sebelum penambahan faktor produksi

26
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.4.5 Tahapan Produksi

TP L

I II III

AP

MP L
Sumber: Teori Ekonomi Mikro, Murbanto, 2018;132
Gambar 2.1.
Kurva Tahapan Produksi
Berdasarkan Gambar 2.1 dapat ditemukan tahapan (stage) produksi,

apakah sebagai tahap I, II dan III. Tahap I ditunjukkan dari penggunaan 1 input

tenaga kerja sampai pada perpotongan marginal product dengan average product.

Tahap II dimulai dari MP = AP sampai pada maksimum total product dengan MP

= 0. Tahap III dimulai total product mengalami penurunan dan diikuti oleh

marginal product yang negatif.

Tahap I penggunaan tenaga kerja relatif kecil sehingga total produksi

masih memungkinkan untuk ditingkatkan, tahapan ini merupakan irrational stage

sebagaimana tahap III dimana penambahan jumlah input tenaga kerja justru

menurunkan jumlah produksi. Tahap II merupakan rational stage dimana

27
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
penambahan input tenaga kerja dapat meningkatkan jumlah produksi. Dengan

demikian berdasarkan ketiga tahapan produksi di atas, terbaik terdapat pada tahap

produksi II.

2.4.6 Faktor- Faktor Produksi

1. Tanah

Tanah merupakan bagian lapisan kulit bumi terluar yang tersusun

daribahan mineral dan bahan-bahan organik. Dipengaruhi oleh bahan induk,

iklim, bentuk wilayah dan mikro organism. Unsur pembentuk terdiri dari mineral

(45%), udara (25%), air (25%) dan bahan organik (5%).

Tanah sebagai salah satu faktor produksi yang merupakan pabrik hasil-

hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan dari mana hasil

produksi keluar. Dalam pertanian, terutama di Negara kita, faktor produksi tanah

Mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa

yang diterima oleh tanah dibandingkan dengan faktor-faktor produksi lainnya

(Mubyarto, 1984; 76).

Tanah adalah faktor produksi yang tahan lama sehingga biasanya tidak

diadakan depresiasi atau penyusutan. Bahkan dengan perkembangan penduduk

nilai tanah selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Tetapi dalam pertanian

tanah yang dikerjakan terus-menerus akan berkurang pula tingkat kesuburannya.

Untuk mempertahankan kesuburan tanah petani harus mengadakan rotasi tanaman

dan usaha-usaha konservasi tanah lainnya (Mubyarto, 1984; 88).

Unsur-unsur sosial ekonomi yang melekat pada tanah dan memiliki

peranan dalam pengelolaan usaha tani cukup beragam, diantaranya adalah:

28
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Kekuatan dan kemampuan potensil dan aktual dari tanah

2. Kapasitas ekonomis, efisiensi ekonomis dan keunggulan

bersaing dari tanah

3. Produktivitas tanah, yang dimaksud dengan produktivitas tanah

adalah jumlah hasil total yang diperoleh dari satu kesatuan

bidang tanah (satu hektar) selama satu tahun dihitung dengan

uang

4. Nilai sosial ekonomis dari tanah, bagi sebuah perusahaan lahan

atau tanah memiliki peranan penting terutama sebagai tempat

pendirian perusahaan dan pabrik-pabrik yang dibutuhkan

dalam proses produksi. Selain itu bagi perusahaan tertentu

tanah dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku, misalnya

melalui pemberdayaan lahan yang dapat mendukung

penyediaan bahan baku yang dibutuhkan sekaligus akan

mengurangi biaya produksi.

2. Tenaga Kerja

Tenaga kerja sering disebut tenaga manusia muthlak dibutuhkan jika ingin

menghasilkan sebuah produk.Tenaga kerja yang tersedia biasanya digunakan

untuk mengoperasikan serta mengendalikan mesin/peralatan yang dimiliki oleh

perusahaan. Untuk kasus tenaga kerja ini terutama tidak dipandang dari kuantitas

(jumlah), tetapi juga mutu (kualitas) yang sangat mempengaruhi kenerja

perusahaan yang bersangkutan.

29
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dengan adanya tenaga kerja yang terdidik dan terlatih maka dipastikan

kesalahan-kesalahan fatal yang merugikan dan membahayakan akan dapat

dicegah. Dalam hal ini perusahaan sangat mengharapkan tenaga kerja yang benar-

benar berpengalaman serta memiliki keahlian yang tinggi sehingga dapat

memberikan kontribusi besar terutama terhadap peningkatan produksi perusahaan.

Selain keahlian dan kejujuran, kedisplinan juga hal yang sangat dibutuhkan dari

seorang tenaga kerja.

Tenaga kerja dalam pertanian di Indonesia dibedakan ke dalam persoalan

tenaga kerja dalam usaha tani kecil-kecilan (usaha tani rakyat) dan persoalan

tenaga kerja dalam perusahaan pertanian yang besar-besaran yaitu perkebunan,

kehutanan, peternakan dan sebagainya. Petani yang memiliki lahan yang tidak

luas tidak membutuhkan tenaga kerja dari luar dan sebaliknya. (Mubyarto, 1984;;

104)

3. Modal

Pengertian modal adalah barang dan jasa yang bersama-sama dengan

faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru. Barang-

barang pertanian yang termasuk barang modal dapat berupa uang, ternak, pupuk,

bibit, cangkul, investasi dalam mesin dan lain-lain. Biasanya semakin besar dan

semakin baik kualitas modal yang dimiliki maka akan sangat mendukung terhadap

peningkatan poduksi yang dihasilkan (Mubyarto, 1984; 91)

4. Manajemen (Skill)

Manajemen berarti proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan

pengawasan usaha-usaha para anggota serta penggunaan sumber daya dalam

30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan. Dari uraian di atas maka factor

produksi ini tidak kalah penting dibanding faktor produksi lain. Perlu diketahui

ada 3 alasan manajemen ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan, yakni:

1. Untuk mencapai tujuan perusahaan

2. Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling

bertentangan

3. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas

2.5 Curah Hujan

Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam

tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Jagung

memerlukan cahaya matahari langsung untuk tumbuh dengan normal dan tempat

dengan curah hujan 250–5000 mm per tahun. Curah hujan 1 (satu) milimeter

artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air

setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Intensitas hujan

adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu tertentu. Apabila dikatakan

intensitasnya besar berarti hujan lebat dan kondisi ini sangat berbahaya karena

berdampak dapat menimbulkan banjir, longsor dan efek negatif terhadap tanaman.

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri

dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun

dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari

awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian

menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga.

Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembapan dari laut

31
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun

kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai

untuk mengulangi daur ulang itu semula. Intensitas curah hujan adalah jumlah

curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan

waktu, yang terjadi pada satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi. Besarnya

intensitas curah hujan berbeda-beda tergantung dari lamanya curah hujan dan

frekuensi kejadiannya. Intensitas curah hujan yang tinggi pada umumnya

berlangsung dengan durasi pendek dan meliputi daerah yang tidak luas. Hujan

yang meliputi daerah luas, jarang sekali dengan intensitas tinggi, tetapi dapat

berlangsung dengan durasi cukup panjang. Kombinasi dari intensitas hujan yang

tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, tetapi apabila terjadi berarti sejumlah

besar volume air bagaikan ditumpahkan dari langit. Adapun jenis-jenis hujan

berdasarkan besarnya curah hujan (definisi BMKG), diantaranya yaitu hujan kecil

antara 0 – 21 mm per hari, hujan sedang antara 21 – 50 mm per hari dan hujan

besar atau lebat di atas 50 mm per hari.

2.6 Kelembapan Udara

Kelembapan udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air

selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat

lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak

mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat

menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara

yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.

32
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jagung dapat tumbuh dengan normal pada kelembapan udara 80%. Macam-

macam kelembapan udara sebagai berikut :

1) Kelembapan relatif / Nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air di udara

dengan yang terkandung di udara pada suhu yang sama. Misalnya pada

suhu 270C, udara tiap-tiap 1 m3 maksimal dapat memuat 25 gram uap air

pada suhu yang sama ada 20 gram uap air, maka lembab udara pada waktu

itu sama dengan 20 x 100 % = 80 %

2) Kelembapan absolut / mutlak yaitu banyaknya uap air dalam gram pada 1

m3. Contoh : 1 m3 udara suhunya 250C terdapat 15 gram uap air maka

kelembapan mutlak = 15 gram. Jika dalam suhu yang sama, 1 m3 udara

maksimum mengandung 18 gram uap air, maka Kelembapan relatifnya =

15/18 X 100 % = 83,33 %.

Pengaruh Kelembapan Udara dalam Bidang Pertanian

Dalam bidang pertanian kelembapan udara biasanya digunakan untuk

meningkatkan produktifitas dan perkembangan tumbuhan budi daya. Dengan

mengetahui kelembaban udara yang ada dilingkungan tempat yang akan di tanam

tumbuhan, kita dapat menentukkan pemilihan jenis tanaman yang sesuai,

misalnya tanaman bakau yang ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi,

bakau tersebut akan berkembang dan berproduktifitas dengan maksimal,

sebaliknya jika bakau tersebut di tanam pada daerah yang mempunyai

kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak akan berproduktifitas dan

berkembang secara maksimal.

33
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pengaruh kelembapan relatif terhadap Produksi Tanaman secara langsung

mempengaruhi hubungan air tanaman dan secara tidak langsung mempengaruhi

pertumbuhan daun, fotosintesis, penyerbukan, terjadinya penyakit dan hasil

akhirnya ekonomi. Pertumbuhan daun tidak hanya tergantung pada kegiatan

sintetis yang dihasilkan dari proses biokimia tetapi juga pada proses fisik dari

pembesaran sel. Secara garis besar, pengaruh kelembaban pada bidang pertanian

yaitu mengurangi evapotranspirasi, meningkatkan beban panas tanaman,

mempengaruhi penutupan Stomata, Mengurangi serapan CO2, mengurangi

pengaruh transpirasi translokasi bahan makanan dan nutrisi.

2.7 Luas Panen

Tinggi rendahnya tingkat produksi hasil pertanian ditentukan oleh tingkat

penggunaan faktor produksi. Salah satu faktor produksi yang turut menentukan

tingkat produksi hasil pertanian adalah luas lahan.Luas panen adalah luas tanaman

yang dipungut hasilnya paling sedikit 11% dari keadaan normal. Khusus untuk

jagung dan kedelai, luas tanaman yang dipanen adalah yang bertujuan

menghasilkan pipilan kering (jagung) dan biji kering (kedelai).

1. Luas panen muda

Luas panen muda merupakan luas tanaman yang dipungut hasilnya dengan

tujuan tidak menghasilkan pipilan kering (jagung) atau biji kering (kedelai).

Sedangkan khusus untuk tanaman baby corn tidak tercakup dalam pengumpulan

data tanaman pangan. Tanaman jagung yang dipungut hasilnya waktu masih muda

(belum dapat dipipil) yang digunakan untuk sayuran dsb, dimasukkan ke dalam

tanaman yang dipanen muda.

34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Luas Panen untuk Hijauan Pakan Ternak

Luas panen untuk hijauan pakan ternak merupakan luas tanaman jagung yang

dipungut hasilnya dalam bentuk daun, batang dan buah (seluruh bagian tanaman)

dengan tujuan digunakan untuk pakan ternak.

2.8 Penelitian Terdahulu

Penelitian Wulani Eka Sundari (2013) yang berjudul “ Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Hasil Produksi Jagung Di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-

2011“. Penelitian ini menggunakan analisis regresi dengan metode OLS

(Ordinary Least Square). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh

semua variabel bebas secara bersama-sama (simultan) dan mempengaruhihasil

produksi jagung di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-2011. Nilai koefisien

determinasi (R2) yang tinggi 0.992 menunjukkan bahwa besarnya pengaruh semua

variabel bebas (X1, X2, X3) adalah sebesar 99 % sedangkan sisanya 1 %

dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain.

Penelitian Taufiq Remedy (2015) yang berjudul “ Analisis Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Produksi Jagung (Studi Kasus: di Kecamatan Mranggen

Kabupaten Demak) “. Penelitian ini menggunakan data cross section yaitu data

yang menggambarkan keadaan pada waktu tertentu. Jumlah sampel yang diambil

dalam penelitian ini adalah sebanyak 88 petani pemilik sekaligus penggarap.Alat

analisis yang dipakai dalam penelitian yaitu regresi dari fungsi produksi Cobb-

Douglas yang perhitungannya menggunakan persamaan regresi linear berganda.

Hasil estimasi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

produksi jagung adalah luas lahan, modal, benih, pupuk dan tenaga kerja. Nilai

35
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
efisiensi input lahan sebesar -0,04111; modal -0,19480; benih 1,55431; pupuk

0,04923; dan tenaga kerja 0,58471. Dapat diartikan bahwa variabel luas lahan,

modal, benih, pupuk dan tenaga kerja memiliki nilai efisiensi harga kurang dari

satu (<1).Hal tersebut berarti untuk variabel lahan, modal, pupuk, dan tenaga kerja

tidak efisien secara harga sehingga harus dikurangi. Ditinjau dari return to scale,

produksi jagung di daerah penelitian menunjukkan bahwa terdapat Decreasing

Return to Scale (DRS) dalam produksi jagung yaitu 0,9689 tetapi relatif kecil atau

mendekati konstan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa proporsi

penambahan faktor produksi memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan

nilai produksi yang diperoleh.

Penelitian Sawa Suryana (2007) yang berjudul “ Analisis Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Produksi Jagung Di Kabupaten Blora (Studi Kasus Produksi

Jagung Hibrida di Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora) “. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa keseluruhan model produksi jagung yang diestimasikan

memberikan hasil yang positif karena semua variabel independent yang diamati

terlihat bahwa variansi Luas Lahan (X1), Varietas Bibit (X2), Jarak dan Jumlah

tanaman (X3), Biaya Tenaga Kerja (X4) dan variabel Biaya Pembelian Pupuk

berpengaruh secara signifikan terhadap hasil produksi Jagung Hibrida (Y).Nilai F

hitung sebesar = 32,197 adalah signifikan , karena p > .05. Dengan demikian, Ho1

yang menyatakan tidak ada pengaruh luas lahan, varietas bibit, jarak dan jumlah

tanaman, biaya tenaga kerja, biaya pembelian pupuk terhadap hasil produksi

jagung hibrida, ditolak, dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.

36
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.9 Kerangka Konseptual

Berdasarkan konsep teori diatas maka dapat digambarkan kerangka

konseptual dari penelitian, yaitu sebagai berikut :

konseptual dari penelitian, yaitu sebagai berikut :

Curah Hujan (X1)

Kelembapan Udara Hasil Produksi Jagung


(X2) (Y)

Luas Panen (X3)

Gambar 2.2
Kerangka Konseptual
2.10 Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu jawaban sementara terhadap suatu

permasalahan yang ada. Hal ini berarti bahwa hipotesis yang ada bukan berarti

jawaban akhir, namun menjadi kesimpulan sementara yang harus diuji

kebenarannya dengan data-data yang mempunyai hubungan, ataupun dengan

melihat fakta yang terjadi di lapangan.

Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Curah hujan berpengaruh positif terhadap hasil produksi jagung

Sumatera Utara. Artinya jika curah hujan masih dalam kondisi normal

37
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
250-5000 mm per tahun maka akan meningkatkan hasil produksi

jagung di Sumatera Utara

2. Kelembapan udara berpengaruh positif terhadap hasil produksi jagung

Sumatera Utara. Artinya jika kelembapan udara masih dalam kondisi

normal, yaitu 80% maka akan meningkatkan hasil produksi jagung di

Sumatera Utara

3. Luas panen berpengaruh positif terhadap hasil produksi jagung

Sumatera Utara. Artinya semakin banyak luas panen maka akan

meningkatkan hasil produksi jagung di Sumatera Utara

38
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam

bentuk time series yang bersifat kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka-

angka. Penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk menjelaskan berbagai

fenomena, situasi atau berbagai variabel yang diangkat menjadi objek penelitian.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini memfokuskan mengenai hasil produksi jagung di Sumatera

Utara. Di mana variabel bebasnya adalah curah hujan, kelembapan udara, dan luas

panen. Sedangkan hasil produksi jagung sebagai variabel terikatnya.

3.3 Jenis Variabel Penelitian

Jenis variabel penlitian dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel

bebas (Independent Variable) dan satu variabel terikat (Dependent Variable).

Variabel – variabel tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Variabel Bebas (Independent Variable) meliputi curah hujan,

kelembapan udara, dan luas panen.

2. Variabel Terikat (Dependent Variable) meliputi hasil produksi jagung di

Sumatera Utara.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh melalui Laporan

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara dan data pendukung lainnya

yang diperoleh dari jurnal, buku dan penelitian sebelumnya.

39
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.5 Definisi Operasional

Dalam menghindari salah penafsiran dalam memahami pembahasan dalam

penelitian ini, maka diberikan definisi variabel-variabel sebagai berikut:

1. Hasil Produksi Jagung (Y) merupakan banyaknya hasil produksi jagung di

Provinsi Sumatera Utara dalam kurun waktu 1986-2016 yang di hitung

berdasarkan satuan ton.

2. Curah Hujan (X1) merupakan ketinggian air hujan yang turun di Sumatera

Utara dalam kurun waktu 1986-2016 yang dinyatakan dalam satuan milimeter.

3. Kelembapan Udara (X2) merupakan jumlah kandungan uap air yang ada

dalam udara di Provinsi Sumatera Utara dalam kurun waktu 1986-2016

dinyatakan dalam satuan persen.

4. Luas Panen (X3) merupakan luas tanaman jagung yang dapat dipungut

hasilnya di Sumatera Utara dalam kurun waktu 1986-2016 yang dinyatakan

dalam hektar.

3.6 Analisis Data

Metode analisis data merupakan proses penyederhanaan dalam proses

yang lebih mudah di baca dan diinterpretasikan. Metode yang dipilih dalam

analisis data harus sesuai dengan pola penelitian dari variabel yang diteliti.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis

regresi linear berganda.

Untuk menganalisis curah hujan, kelembapan udara, dan luas panen

terhadap hasil produksi jagung di Sumatera Utara maka pengelolahan data

dilakukan dengan metode analisis dengan model Ordinary Least Square (OLS).

40
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Metode OLS digunakan untuk memperoleh estimasi dalam menganslisis pengaruh

variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Metode OLS dipilih

karena merupakan salah satu metode sederhana dengan analisis regresi yang kuat

dan populer, dengan asumsi-asumsi tertentu (Gujarati, 2003).

3.6.1 Model Analisis Linier Berganda

Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan model regresi

berganda. Analisis yang digunakan adalah regresi berganda karena variabelnya

lebih dari satu atau dua. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk

mengetahui besarnya hubungan dan pengaruh variabel bebas (X1, X2, dan X3)

terhadap variabel terikat (Y). Untuk memperoleh hasil yang lebih terarah, maka

peneliti menggunakan bantuan perangkat lunak software Eviews 8.1.

Tahapan pengujian hipotesis menggunakan regresi linear berganda

ditempuh dengan langkah menentukan persamaan regresinya adalah :

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + e

dimana :

Y = Hasil produksi jagung

α = Konstanta

β1 = Koefisien X1

β2 = Koefisien X2

β3 = Koefisien X3

X1 = Variabel curah hujan

X2 = Variabel kelembapan udara

X3 = Variabel luas panen

41
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
e = Error term

3.6.2 Uji Asumsi Klasik

Model regresi linier berganda (multiple regression) dapat disebut sebagai

model yang baik jika model tersebut memenuhi Kriteria BLUE (Best Linear

Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi Asumsi Klasik.

Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil analisis

regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini

terbebas dari penyimpangan asumsi klasik yang meliputi uji normalitas,

multikolinieritas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Adapun masing-masing

pengujian tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi

linier variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal

atau tidak (Ghozali, 2005 : 111). Model regresi yang baik adalah memiliki

distribusi data normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, untuk

mendeteksi normalitas data dilakukan dengan pengujian Jarque Bera.

Dalam uji ini, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan

adalah:

a. Jika nilai signifikan > 0.05 maka distribusi normal, dan

b. Jika nilai signifikan < 0.05 maka distribusi tidak normal.

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya

hubungan linear yang sempurna atau eksak diantara variabel-variabel bebas dalam

42
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
model regresi (Situmorang dan Lufti, 2012 : 133). Adanya multikolinearitas dapat

dilihat dari Tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas

Tolerance value adalah 0,1 dan batas VIF adalah 5. Apabila Tolerance value < 0,1

atau VIF > 5 maka terjadi multikolinieritas. Tetapi jika Tolerance value > 0,1 atau

VIF < 5 maka tidak terjadi multikolinearitas.

3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi linier ada korelasi antara kesalahan pada periode t (tahun sekarang) dengan

periode t-1 (tahun sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada

problem autokorelasi (Ghozali, 2005 : 95). Untuk menguji ada tidaknya gejala

autokorelasi maka dapat dideteksi dengan uji Durbin-Watson. Pengambilan

keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut :

a. Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif,

b. Angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi,

c. Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

4. Uji Heteroskesdastisitas

Menurut Imam Ghozali (2005 : 105), uji heteroskedastisitas bertujuan

menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari

residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Konsekuensinya adanya

heteroskedastisitas dalam model regresi adalah penaksir yang diperoleh tidak

efisien, baik dalam sampel kecil maupun besar. Untuk mengetahui ada tidaknya

heteroskedastisitas juga dapat diketahui dengan melakukan uji Breusch-Pagan-

43
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Godfrey. Jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel

terikat, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.

Untuk mengetahui tingkat signifikan dari masing-masing koefisien regresi

variable independen (variabel bebas) terhadap variabel dependen (variabel terikat)

maka menggunakan uji statistik diantaranya:

2
1. Analisis Koefisien Determinasi (R-Square / R )

2
Koefisien Determinasi (R ) pada intinya mengukur kebenaran model

2
analisis regresi. Dimana analisisnya adalah apabila nilai R mendekati angka 1,

maka variabel independen semakin mendekati hubungan dengan variabel

dependen sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan model tersebut dapat

dibenarkan. Model yang baik adalah model yang meminimumkan residual berarti

variasi variabel independen dapat menerangkan variabel dependennya dengan α

sebesar 0,05 (Gujarati, 2003), sehingga diperoleh korelasi yang tinggi antara

variabel dependen dan variabel independen.

Akan tetapi ada kalanya dalam pengunaan koefisien determinasi terjadi

biasanya terhadap satu variabel independen yang dimasukkan dalam model.

Setiap tambahan satu variabel independen akan menyebabkan peningkatan


2
R , tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap

variabel dependen (memiliki nilai t yang signifikan).

44
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Analisis Uji Parsial (T-Test)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing varibel

independen secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap

varibel dependen. Dengan kata lain, untuk mengetahui apakah masing-masing

varibel independen dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel

dependen secara nyata.

Untuk mengkaji pengaruh variabel independen tehadap dependen secara

individu dapat dilihat hipotesis berikut: H0 : β 1= 0 → tidak berpengaruh, H1 : β1 >

0 → berpengaruh positif, H1 : β1 < 0 → berpengaruh negatif. Dimana β1 adalah

koefisien variabel independen ke-1 yaitu nilai parameter hipotesis. Biasanya nilai

β dianggap nol, artinya tidak ada pengaruh variabel X1 terhadap Y.

Bila thitung > ttabel maka Ho diterima (signifikan) dan jika thitung< ttabel Ho

diterima ( tidak signifikan). Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah

hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu

0,025 persen (pengujian dua arah).

3. Analisis Uji Keseluruhan (f-Test)

Uji signifikan ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membuktikan secara

statistik bahwa seluruh variabel independen yaitu, Curah Hujan (X1),

Kelembapan Udara (X2), Luas Panen (X3) berpengaruh secara bersama-sama

terhadap variabel dependen yaitu Hasil Produksi Jagung di Sumatera Utara (Y).

Uji F digunakan untuk menunjukkan apakah keseluruhan variabel independen

dengan menggunakan level of siginificance 5 persen. Kriteria pengujiannya

apabila nilai F-hitung < F-tabel maka hipotesis diterima yang artinya seluruh

45
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
variabel independen yang digunakan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

variabel dependen. Apabila F hitung > F tabel maka hipotesis ditolak yang berarti

seluruh variabel seluruh variabel independen berpengaruh secara signifikan

terhadap variabel dependen dengan tarif signifikan tertentu.

46
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara

1. Kondisi Geografis

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera,

Indonesia dan beribukota di Medan. Provinsi Sumatera Utara berada di bagian

barat Indonesia yang terletak pada garis 1° - 4° LU dan 98° - 100° BT. Luas

daratan Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 . Sumatera Utara

berbatasan dengan :

a. Sebelah Utara : Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

b. Sebelah Timur : Negara Malaysia dan Selat Malaka

c. Sebelah Selatan: Provinsi Riau dan Sumatera Barat

d. Sebelah Barat : Samudera Hindia

Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah

pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatera (Malaka).

Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil

lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di

Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.

Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini,

Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi.

Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera

Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh,

Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.

47
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdasarkan letak dan kondisi alamnya, Sumatera Utara dibagi atas tiga

kelompok wilayah, yaitu:

1. Pantai Barat (Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Padang

Lawas, Padang Lawas Utara, Sibolga, Padangsidimpuan, Gunungsitoli, Nias,

Nias Utara dan Nias Barat).

2. Dataran Tinggi (Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan,

Pakpak Bharat, Simalungun, Pematang Siantar, Karo, dan Dairi).

3. Pantai Timur (Medan, Binjai, Batu Bara, Asahan, Langkat, Tebing Tinggi,

Asahan, Tanjung Balai, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu

Selatan ).

Berdasarkan Undang-undang Darurat No. 7 Tahun 1956, Undang-undang

Darurat No. 8 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No. 9 Tahun 1956, Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 4 Tahun 1964, Provinsi Sumatera

Utara terdiri dari 17 kabupaten/Kota. Tetapi dengan terbitnya Undang-undang No.

12 Tahun 1998, tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dan

Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Undang-undang No. 4 Tahun 2001 tentang

pembentukan Kota Padangsidimpuan, Undang-undang No. 9 Tahun 2003 tentang

pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat,

serta Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten

Samosir dan Serdang Bedagai, dan pada tahun 2007 dibentuk Kabupaten Batu

Bara melalui Undang-undang No. 5 Tahun 2007, kemudian pada tanggal 10

Agustus 2007 disahkan Undang-undang No. 37 Tahun 2007 tentang pembentukan

Kabupaten Padang Lawas Utara, Undang-undang No. 38 Tahun 2007 tentang

48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pembentukan Kabupaten Padang Lawas. Pada tahun 2008 kembali diterbitkan

Undang-undang No. 22 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten

Labuhanbatu Selatan, Undang-undang No. 23 Tahun 2008 tentang pembentukan

Kabupaten Labuhanbatu Utara, Undang-undang No. 45 Tahun 2008 tentang

pembentukan Kabupaten Nias Utara, Undang-undang No. 46 Tahun 2008 tentang

pembentukan Kabupaten Nias Barat, Undang-undang No. 47 Tahun 2008 tentang

pembentukan Kota Gunungsitoli, dengan demikian wilayah Provinsi Sumatera

Utara pada Juli 2009 sudah menjadi 25 Kabupaten dan 8 Kota. Untuk lebih jelas,

dapat dilihat dari tabel berikut ini :

49
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 4.1
Kondisi Geografis Sumatera Utara Menurut Kabupaten dan Kotamadya
No Kabupaten/Kota Luas (km²)
Kabupaten
1 Nias 1.842
2 Mandailing Natal 6.134
3 Tapanuli Selatan 6.031
4 Tapanuli Tengah 2.188
5 Tapanuli Utara 3.791
6 Toba Samosir 2.328
7 Labuhan Batu 2.156
8 Asahan 3.702
9 Simalungun 4.369
10 Dairi 1.927
11 Karo 2.127
12 Deli Serdang 2.241
13 Langkat 6.262
14 Nias Selatan 1.825
15 Humbang Hasundutan 2.335
16 Pakpak Bharat 1.218
17 Samosir 2.069
18 Serdang Bedagai 1.901
19 Batubara 922
20 Padang Lawas Utara 3.918
21 Padang Lawas 3.892
22 Labuhanbatu Selatan 3.596
23 Labuhanbatu Utara 3.571
24 Nias Utara 1.202
25 Nias Barat 473

Kota
71 Sibolga 41
72 Tanjung Balai 107
73 Pematang Siantar 55
74 Tebing Tinggi 31
75 Medan 265
76 Binjai 59
77 Padang Sidimpuan 114
78 Gunung Sitoli 281
Sumatera Utara 71.681
Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2016

50
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara

tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan

Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar hanya

beberapa meter diatas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 33˚C,

sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan

sebagian lagi berada pada daerah ketinggian yang suhu minimalnya bisa mencapai

15˚C.

2. Potensi Wilayah

Wilayah Sumatera Utara memiliki potensi yang cukup besar dan luas

untuk dikembangkan menjadi areal pertanian untuk menunjang pertumbuhan

industri. Laut, darat, sungai merupakan potensi perikanan dan perhubungan

sedangkan keindahan alam daerah merupakan potensi energi untuk

pengembangan industri, perdagangan dan lain-lain.

Kota medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara disamping

merupakan pusat pengembangan wilayah Sumatera Utara sekaligus juga

merupakan pusat pengembangan wilayah Sumatera memiliki fasilitas komunikasi,

perbankan, dan jasa-jasa perdagangan lainnya yang mampu mendorong

pertumbuhan wilayah belakangnya.

Di Sumatera Utara juga terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan

penelitian seperti perguruan tinggi, balai penelitian dan balai pelatihan kerja yang

mampu membentuk tenaga pembangunan terdidik dan terampil serta hasil-hasil

penelitian yang bermanfaat bagi pembangunan daerah.

51
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2 Perkembangan Jagung Provinsi Sumatera Utara

4.2.1 Perkembangan Hasil Produksi Jagung Provinsi Sumatera Utara

Berikut dapat dilihat perkembangan hasil produksi jagung di Sumatera Utara :

Hasil Produksi Jagung Sumatera Utara


(Ton)
1800000
1600000
1400000
1200000
1000000
Hasil Produksi Jagung
800000
(Ton)
600000
400000
200000
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2011-2016, BPS Sumut


Gambar 4.1
Hasil Produksi Jagung Sumatera Utara tahun 2011-2016

Dari data di atas dapat dilihat bahwa hasil produksi jagung mengalami

naik-turun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah

satunya adalah semakin dikitnya lahan pertanian dan kurang memadainya

teknologi yang dimiliki oleh petani.

52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2.2 Perkembangan Curah Hujan Provinsi Sumatera Utara

Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam

tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Jagung

memerlukan cahaya matahari langsung untuk tumbuh dengan normal dan tempat

dengan curah hujan 250–5000 mm per tahun. Berikut dapat dilihat perkembangan

curah hujan di Sumatera Utara :

Curah Hujan Sumatera Utara (mm)


4000
3500
3000
2500
2000
Curah Hujan (mm)
1500
1000
500
0
2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2000-2016, BPS Sumut


Gambar 4.2
Curah Hujan Sumatera Utara (mm)

Dari data di atas dapat dilihat bahwa Sumatera Utara memiliki rata rata

curah hujan 2000 mm per tahunnya. Hal ini berarti jagung dapat ditanam di

Sumatera Utara. Letak kondisi geografis Provinsi Sumatera Utara juga

memenuhi untuk tanaman jagung karena Sumatera Utara beriklim tropis

53
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2.3 Perkembangan Kelembapan Udara Provinsi Sumatera Utara

Berikut dapat dilihat perkembangan kelembapan udara di Sumatera Utara :

Kelembapan Udara Sumatera Utara


(%)
86

84

82
Kelembapan Udara (%)
80

78

76
2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2000-2016, BPS Sumut


Gambar 4.3
Kelembapan Udara di Sumatera Utara (%)

Dari data di atas dapat dilihat bahwa kelembapan udara Sumatera Utara

tiap tahunnya naik-turun, hal ini dikarenakan kondisi alam dan rata-rata

kelembapan udara Provinsi Sumatera Utara yaitu 81 %. Nilai kelembapan udara

tersebut mendukung untuk tanaman jagung.

54
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2.4 Perkembangan Luas Panen Jagung Provinsi Sumatera Utara

Berikut dapat dilihat luas panen jagung di Sumatera Utara :

Luas Panen (Ha)


300000

250000

200000

150000
Luas Panen (Ha)
100000

50000

0
2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2000-2016, BPS Sumut


Gambar 4.4
Luas Panen Jagung Sumatera Utara (Ha)
Dari data diatas dapat dilihat bahwa perkembangan luas panen jagung

Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2000 sampai 2016 cenderung mengalami

penurunan. Hal ini dikarenakan konversi lahan pertanian yang subur untuk

kepentingan non-pertanian terus berlangsung seperti perumahan, industri, bisnis

dan infrastruktur

55
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.3 Analisis Hasil Penelitian

4.3.1 Uji Asumsi Klasik

Adapun hasil uji penyimpangan asumsi klasik pada penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak.


8
Series: Residuals
7 Sample 1986 2016
Observations 31
6
Mean -7.89e-10
5 Median 3561.225
Maximum 393696.7
4 Minimum -396565.7
Std. Dev. 168359.6
3 Skewness -0.158643
Kurtosis 3.367225
2
Jarque-Bera 0.304219
1 Probability 0.858894

0
-400000 -200000 1 200001 400001
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)
Gambar 4.5
Hasil Uji Normalitas

Hasil uji normalitas residual di atas adalah: nilai Jarque Bera sebesar

0,3042 dengan p value sebesar 0,858 dimana > 0,05 yang berarti residual

berdistribusi normal.

56
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Uji Multikolinieritas

Hasil Output Eviews terlihat seperti Tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2
Hasil Uji Multikolinieritas
Variance Inflation Factors
Date: 05/26/18 Time: 15:51
Sample: 1986 2016
Included observations: 31
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF
C 3.43E+12 3375.823 NA
X1 6948.779 43.70571 1.057947
X2 4.89E+08 3247.617 1.440401
X3 0.387736 14.08116 1.461653
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

Berdasarkan Tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa nilai VIF dari masing-masing

variabel bebas lebih kecil dari 5,00. Artinya tidak terjadi korelasi diantara variabel

bebas (tidak terjadi multikolinieritas) pada model regresi.

3. Uji Autokorelasi

D-W test digunakan untuk mengetahui apakah dalam model terdapat auto

korelasi ataupun antara disturbance error-nya.

( ( ))

Bentuk hipotesis dari uji D-W sebagai berikut :

H0 : р = 0 berarti tidak ada autokorelasi

Ha : р ≠ 0 berarti ada autokorelasi

Tabel 4.3
Hasil Uji Autokorelasi
Durbin-Watson stat 1.045656
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

Dengan jumlah sample dan jumlah variabel independent tertentu,

diperoleh nilai kritis dL dan dU dalam distribusi Durbin Watson untuk berbagai

57
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
nilai α yaitu nilai dL = 1,229 dan dU = 1,650. Berdasarkan hasil output program

eviews diperoleh nilai D-W hitung yaitu sebesar 1.045, angka ini terletak diantara

-2 dan +2. Dari pengamatan ini dapat disimpulkan, bahwa tidak terjadi

autokorelasi positif maupun autokorelasi negatif dalam penelitian ini.

4. Uji Heteroskesdastisitas

Hasil Output Eviews terlihat seperti Tabel 4.8 berikut :

Tabel 4.4
Uji Heteroskesdastisitas

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 1.697461 Prob. F(3,27) 0.1911


Obs*R-squared 4.919044 Prob. Chi-Square(3) 0.1778
Scaled explained SS 4.416664 Prob. Chi-Square(3) 0.2198
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa nilai p value yang

ditunjukkan dengan nilai Prob. chi square(3) pada Obs*R-Squared yaitu sebesar

0.1778. Oleh karena nilai p value 0.1778 > 0,05 maka Ho diterima atau dengan

kata lain tidak ada masalah asumsi non heteroskedastisitas.

4.3.2 Regresi Linier

Dari hasil analisis regresi linier berganda dengan menggunakan metode

OLS, dapat ditarik suatu bentuk model persamaan untuk Pengaruh Curah Hujan,

Kelembapan Udara, dan Luas Panen Terhadap Hasil Produksi Jagung di Sumatera

Utara. Model estimasi persamaannya adalah sebagai berikut :

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3

58
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan data telah diolah

dengan menggunakan program computer Eviews 8.1 dapat dilihat hasilnya dalam

tabel di bawah ini :


Tabel 4.5
Analisis Regresi Curah Hujan, Kelembapan Udara, dan Luas Panen
di Sumatera Utara
No Keterangan Nilai
1 Constant 6888053
2 Curah Hujan 120.3285
3 Kelembapan Udara -89766.06
4 Luas Panen 4.805422
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil regresi sebagai berikut :

Y= 6888053 + 120.3285 X1 - 89766.06 X2 + 4.805422 X3

4.3.3 Interpretasi Data

Dari persamaan regresi pada Tabel 4.5 di atas dapat dibuat suatu

interpretasi model sebagai berikut :

1. Curah Hujan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap hasil produksi

jagung di Sumatera Utara. Dimana setiap kenaikan 1 mm jumlah curah hujan

mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 120.3285 ton dengan

asumsi ceteris paribus.

2. Kelembapan Udara berpengaruh negatif signifikan terhadap hasil produksi

jagung di Sumatera Utara. Dimana setiap penurunan 1 % jumlah kelembapan

udara mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 89766.06 ton

dengan asumsi ceteris paribus.

3. Luas Panen berpengaruh positif signifikan terhadap hasil produksi jagung di

Sumatera Utara. Dimana setiap kenaikan 1 hektar luas panen jagung

mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 4.805422 ton dengan

asumsi ceteris paribus.

59
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.3.4 Goodness of Fit Test (Uji Kesesuaian)

1. Koefisien Determinasi (R-Square/R2)

Tabel 4.6
Hasil Pengujian Koefisien Determinasi

R-Square Adjusted R-Square


0.858622 0.842913
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

Berdasarkan Tabel 4.10 di atas diperoleh Nilai R2 sebesar 0.858622. Hal ini

menunjukkan bahwa variabel-variabel independen secara bersama-sama mampu

memberi penjelasan mengenai variabel dependen sebesar 85,86 %. Adapun 14,14 %

lagi dijelaskan oleh variabel lainnya di luar model.

2. Uji t-test (Uji Parsial)

Tabel 4.7
Hasil Pengujian Signifikan Parsial (Uji-t)
No Keterangan t-hitung Sig
1 Curah Hujan 1.443491 0.1604
2 Kelembapan Udara -4.058039 0.0004
3 Luas Panen 7.717264 0
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)
Berdasarkan Tabel 4.11 di atas dapat dibuat suatu interpretasi model yang

diambil pada metode penelitian sebagai berikut :

1. Curah Hujan (X1)

a. Ho : b = 0

Ha : b ≠ 0

b. α = 5% : 2 = 0,025

df = n-k = 31-3 = 28

t-hitung = 1.443491

t-tabel = 2.04841

60
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
c. Kriteria pengambilan keputusan :

Ho ditolak jika t-hitung > t-tabel

Ho diterima jika t-hitung < t-tabel

Kesimpulan :

Berdasarkan hasil analisis model estimasi dapat diketahui bahwa t-hitung

< t-tabel (1.443491 < 2.04841). Dengan demikian Ho diterima (Ha ditolak).

Artinya Curah Hujan (X1) tidak berpengaruh terhadap Hasil Produksi Jagung di

Sumatera Utara (Y) pada α = 5%.

2. Kelembapan Udara (X2)

a. Ho : b = 0

Ha : b ≠ 0

b. α = 5%

df = n-k = 31-3 = 28

t-hitung = -4.058039

t-tabel = 2.04841

c. Kriteria pengambilan keputusan :

Ho ditolak jika t-hitung > t-tabel

Ho diterima jika t-hitung < t-tabel

Kesimpulan :

Berdasarkan hasil analisis model estimasi dapat diketahui bahwa t-hitung

< t-tabel (-4.058039 < 2.04841). Dengan demikian Ho diterima (Ho ditolak).

Artinya Kelembapan Udara (X2) tidak berpengaruh terhadap Hasil Produksi

Jagung di Sumatera Utara (Y) pada α = 5%.

61
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Luas Panen Jagung (X3)

a. Ho : b = 0

Ha : b ≠ 0

b. α = 5%

df = n-k = 31-3 = 28

t-hitung = 7.717264

t-tabel = 2.04841

c. Kriteria pengambilan keputusan :

Ho ditolak jika t-hitung > t-tabel

Ho diterima jika t-hitung < t-tabel

Kesimpulan :

Berdasarkan hasil analisis model estimasi dapat diketahui bahwa t-hitung

> t-tabel (7.717264 > 2.04841). Dengan demikian Ho ditolak (Ha diterima).

Artinya Luas Panen Jagung (X3) berpengaruh atau signifikan terhadap Hasil

Produksi Jagung di Sumatera Utara (Y) pada α = 5%.

3. Uji F-Statistik (Uji Keseluruhan)

Uji F-Statistik ini berguna untuk pengujian signifikan pengaruh variabel

independen secara bersama-sama terhadap nilai variabel dependen. Uji ini melihat

seberapa besar pengaruh variabel X1 (Curah Hujan), X2 (Kelembapan Udara),

dan X3 (Luas Panen Jagung) secara bersama-sama terhadap variabel Y

(Hasil Produksi Jagung di Sumatera Utara).

Tabel 4.8
Hasil Pengujian Signifikan Simultan (Uji-F)
F-hitung Sig
54.65906 0
Sumber : Hasil Olahan Data Statistik (2018)

62
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kriteria Pengambilan Keputusan :

Ho ditolak jika F-hitung > F-tabel

Ho diterima jika F-hitung < F-tabel

a. Ho : b = 0

Ho : b ≠ 0

b. α = 5%

c. N1 = k-1 = 3-1 = 2

N2 = n-k = 31-3 = 28

d. F-hitung = 54.65906

e. F-tabel = 3,34

Kesimpulan :

Berdasarkan hasil analisis model regresi pada Tabel 4.12 dapat diketahui

bahwa F-hitung > F-tabel (54.65906 > 3,34), maka Ho ditolak (Ha diterima).

Artinya bahwa secara bersama-sama variabel X1 (Curah Hujan), X2 (Kelembapan

Udara), dan X3 (Luas Panen) berpengaruh secara signifikan terhadap Hasil

Produksi Jagung di Sumatera Utara pada α = 5%.

63
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan dari

hasil estimasi yang didapatkan, yaitu:

1. Curah Hujan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap hasil produksi

jagung di Sumatera Utara. Dimana setiap kenaikan 1 mm jumlah curah hujan

mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 120.3285 ton dengan

asumsi ceteris paribus.

2. Kelembapan Udara berpengaruh negatif signifikan terhadap hasil produksi

jagung di Sumatera Utara. Dimana setiap penurunan 1% jumlah kelembapan

udara mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 89766.06 ton

dengan asumsi ceteris paribus.

3. Luas Panen berpengaruh positif signifikan terhadap hasil produksi jagung

di Sumatera Utara. Dimana setiap kenaikan 1 hektar luas panen jagung

mengakibatkan naiknya hasil produksi jagung sebesar 4.805422 ton dengan

asumsi ceteris paribus.

5.2 Saran

Melihat kondisi hasil produksi jagung Indonesia khususnya Sumatera

Utara agar semakin membaik kedepannya, berdasarkan dari hasil penelitian yang

telah dilakukan oleh penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

64
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Untuk meningkatkan hasil produksi jagung, para petani harus menyesuaikan

tempat penanaman jagung di curah hujan yang baik untuk jagung, yaitu

tempat dengan curah hujan 250–5000 mm per tahun, saran dari penulis untuk

petani dan pemerintah di Sumatera Utara harus memfokuskan penanaman

jagung di Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun karna daerah tersebut

adalah daerah yang paling banyak memberikan hasil produksi jagung di

Sumatera Utara.

2. Untuk meningkatkan hasil produksi jagung, para petani harus menyesuaikan

tempat penanaman jagung dengan kelembapan udara yang baik untuk jagung,

yaitu 80% per tahun. saran dari penulis untuk pemerintah di Sumatera Utara

agar memberikan pengetahuan kepada para petani akan fungsi dari syarat

menanam jagung yang baik sebelum mereka melakukan kegiatan produksi

jagung dengan kondisi alam yang ada di Sumatera Utara.

3. Untuk meningkatkan hasil produksi jagung, pemerintah maupun swasta harus

mendukung lahan yang lebih besar lagi untuk menanam jagung karna sudah

terlalu banyak lahan yang telah beralih fungsi bukan untuk bertani jagung.

Terutama di Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun karna daerah

tersebut adalah daerah yang paling banyak memberikan hasil produksi jagung

di Sumatera Utara.

65
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR PUSTAKA

Daniel, Moehar. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Eka, Wulani. 2013. “Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi jagung di
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-2011”. USU
Ekaputri, Nindia. 2008. “ Pengaruh Luas Panen Terhadap Produksi Tanaman
Pangan dan Perkebunan di Kalimantan Timur “.
EPP.Vol.5.No.2.2008:36-43
Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometri Dasar. Terjemahan: Sumarno Zain,
Erlangga, Jakarta.
Helmi, Syafrizzal Situmorang dan Lufti, Muslich. 2011. Analisis Data, USU
Press, Medan.
Kadariah, 1994. Teori Ekonomi Mikro, LPFE UI, Jakarta.
Kurniati, Dewi. 2012. “Analisis Risiko Produksi dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi pada Usahatani Jagung di Kabupaten Hulu”. Vol 1, No.3.
Mubyarto. 1984. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES
Nasution, Syahrir Hakim, dan H.B Tarmizi. 2006. Teori Ekonomi Mikro. Medan:
USU Press
Salvatore, Dominick. 2006. Mikroekonomi Edisi Empat. New York: McGraw-
Hill, Inc
Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi, dengan Pokok Bhasan Analisis
Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta : Rajawali Press.
________. 2005. Agroindustri Dalam Perspekstif Sosial Ekonomi. Jakarta : Raja
Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2000. Ekonomi Makro. Jakarta : Raja Grapindo Persada.
________. 2004. Makroekonomi Teori Pengantar, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Sinaga, Murbanto. 2018. Teori Ekonomi Mikro. Medan : USU Press
Sumatera Utara Dalam Angka. Sumatera Utara, Berbagai Tahun Terbitan : BPS
Purwanto, Siwi. 2016. “Perkembangan Produksi dan Kebijakan dalam
Peningkatan Produksi Jagung”. Jakarta

66
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
http://mahasiswanulis.blogspot.co.id/2011/10/syarat-tumbuh-tanaman.html
diakses pada 23 April 2018
http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/515-
budidaya-tanaman-jagung-manis diakses pada 23 April 2018

67
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 1

Data Hasil Produksi Jagung (Y), Curah Hujan (X1), Luas Panen (X2),
Kelembapan Udara (X3) Di Sumatera Utara

Hasil Produksi Luas Panen Kelembapan


Tahun Jagung (Ton) Curah Hujan (mm) (Ha) Udara (%)
1986 109373 2194 58866 82
1987 140681 2360 63792 84
1988 168277 2727 82760 84
1989 175991 2808 86818 84
1990 187799 2236 88099 82
1991 222162 2097 93772 83
1992 262412 2017 115974 82
1993 271298 2637 122039 84
1994 311918 2340 140941 85
1995 371578 2788 165230 82
1996 398707 2347 174000 82
1997 459715 1893 198246 82
1998 509809 2360 183332 84
1999 619667 2921 199355 80
2000 666764 2256 221906 84
2001 634162 3595 198709 85
2002 640593 2035 198670 83
2003 687360 3087 210782 84
2004 712560 2507 214885 81
2005 735456 2212 218569 83
2006 682042 2550 200146 82
2007 804850 2513 229882 82
2008 1098969 2442 240413 81
2009 1166548 2744 247782 81
2010 1377718 1946 274822 79
2011 1294645 2042 255291 81
2012 1347124 3175 243098 79
2013 1183011 2799 211750 80
2014 1159795 2148 200603 79
2015 1519407 2803 243772 81
2016 1557462 2830 252729 80

68
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 2
Hasil Regresi
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 03/11/18 Time: 17:34
Sample: 1986 2016
Included observations: 31

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 6888053. 1851935. 3.719382 0.0009


X1 120.3285 83.35934 1.443491 0.1604
X2 -89766.06 22120.55 -4.058039 0.0004
X3 4.805422 0.622685 7.717264 0.0000

R-squared 0.858622 Mean dependent var 692834.0


Adjusted R-squared 0.842913 S.D. dependent var 447761.6
S.E. of regression 177466.7 Akaike info criterion 27.13087
Sum squared resid 8.50E+11 Schwarz criterion 27.31590
Log likelihood -416.5284 Hannan-Quinn criter. 27.19118
F-statistic 54.65906 Durbin-Watson stat 1.045656
Prob(F-statistic) 0.000000

Lampiran 3
Hasil Uji Normalitas
8
Series: Residuals
7 Sample 1986 2016
Observations 31
6
Mean -7.89e-10
5 Median 3561.225
Maximum 393696.7
4 Minimum -396565.7
Std. Dev. 168359.6
3 Skewness -0.158643
Kurtosis 3.367225
2
Jarque-Bera 0.304219
1 Probability 0.858894

0
-400000 -200000 1 200001 400001

69
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 4
Hasil Uji Multikolinieritas

Variance Inflation Factors


Date: 05/26/18 Time: 15:51
Sample: 1986 2016
Included observations: 31
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF
C 3.43E+12 3375.823 NA
X1 6948.779 43.70571 1.057947
X2 4.89E+08 3247.617 1.440401
X3 0.387736 14.08116 1.461653
Lampiran 5
Hasil Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 1.697461 Prob. F(3,27) 0.1911


Obs*R-squared 4.919044 Prob. Chi-Square(3) 0.1778
Scaled explained SS 4.416664 Prob. Chi-Square(3) 0.2198

70
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 6

71
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 7

72
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 8

73
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Anda mungkin juga menyukai