Anda di halaman 1dari 10

KETRAMPILAN PERILAKU ETIS KONSELOR

A. Kepribadian Konselor
1.      Memiliki Kepribadian Yang Kuat.
Tanda kepribadian yang tidak sehat, misalnya dalam hidup setiap hari sering dijumpai hal
yang aneh-aneh, antara lain bila bertemu dengan seseorang terus merasa benci atau sebaliknya
terus merasa simpati. Juga dasar pengalaman yang aneh-aneh, misalnya sewaktu dia dulu anak-
anak pernah dipukul oleh orang yang tampangnya kurus, tinggi, dan berkumis.
Pengalaman ini terpendam. Setiap kali dia bertemu dengan orang yang kurus, tinggi, dan
berkumis, dia terus terpancing. Ini semua tanda kepribadian yang tidak sehat. Seorang konselor
harus mampu mengontrol gejala seperti ini di dalam dirinya sendiri.
2.      Bersikap menerima seseorang sebagaimana adanya.
Menerima seseorang sebagaimana adanya. Apabila klien datang (masuk) dengan celana
pendek, misalnya, atau memaki-maki, atau tersenyum, jangan terus terpengaruh oleh
kemampuan klien.
Menerima seseorang sebagaimana adanya adalah ciri pendekatan. 
3.      Empati(Emphaty).
Seorang konselor harus menanamkan perasaan empati di dalam dirinya. Empati ialah
mampu merasakan problem seseorang seperti orang itu merasakannya (bndk. Karo: kepate),
namun konselor tidak bisa hanyut dalam perasaan klien..
4.      Jaminan-Emosional.
Seorang konselor harus mempunyai jaminan emosional (emotional security). Apabila
klien menangis, misalnya, konselor tidak usah ikut menangis. Apabila konseli tertawa, konselor
tidak perlu ikut tertawa. Seandainya klien mengharapkannya, cukuplah tersenyum saja. Tujuan
kita berbuat demikian agar kita (konselor) berfungsi sebagai cermin bagi klien, agar dia melihat
dirinya sendiri melalui sikap kita (konselor).
5.      Menghindari-nasihat-nasihat.
Memberikan nasihat-nasihat adalah pekerjaan yang paling mudah, akan tetapi yang
paling sulit adalah menolong. Konselor harus menahan diri untuk tidak memberikan atau
menjejali nasihat-nasihat, kecuali di akhir pertemuan. Ini pun hanya bila perlu. Menasihati sering
disebut directive counseling.
Menasihati berarti konselor yang terus berbicara. Cara ini tidak baik. Keadaan klien
jangan kita tinjau dari sudut moral dan lantas kita memarahinya (misalnya, bagaimana klien telah
mencuri uang ibunya, dan lain-lain). Jangan memberikan penilaian moral (moral evaluation)
dalam konseling agar yang bersangkutan tidak takut.
6.      Ilmu jiwa-dalam atau psikologi dan psikoterapi.
Konselor seharusnya telah mendapatkan latihan-latihan konseling dan memahami ilmu
jiwa-dalam, Penyakit gangguan jiwa ditentukan oleh ada atau tidaknya rasa rendah diri yang
tidak wajar (MC) sebagai hasil persaingan ketika dia kalah. Belajarlah tentang psikoterapi, dan
sebaiknya seorang konselor pernah dikonseling (dianalisis).
Seorang konselor  yang professional harus memenuhi beberapa kriteria dalam bersikap:
a.       Konselor harus menunjukkan adaptasi yang luwes sekali  terhadap klien,  terutama sekali dalam
pembicaraan yang pertama,  jadi seorang konselor  harus selalu  berusaha menempatkan diri
kedalam situasi klien dan berusaha mengerti klien.
b.      Konselor  jangan sekali-kali mengambil norma-norma moral dengan maksud agar norma
tersebut berlaku untuk klien. Jadi tidak pantaslah seorang klien disalahkan atau di benarkan
tindakannya.
c.       Tiap-tiap hubungan yang diadakan antara konselor dengan klien meninggalkan kesan yang baik
bagi klien. Kesan merupakan  bagian inhtegral dari hubungan konseling yang diadakan itu.
d.      Konselor harus mempertahankan pembicaraan dengan teguh. Tiap-tiap sikap yang verbal
haruslah mencerminkan integrasi yang teguh. Konselor harus sopan santun, penuh perhstian dan
berkewibawaan.
e.       Mengarahkan seseorang dalam mengatasi peliknya kehidupan klien[3].
f.       Seorang konselor harus menawan hati, memilki kemampuan bersikap tenang ketika bersama
klien dan memiliki kapasitas untuk berempati.[4]
Kepribadian yang harus dimiliki oleh konselor sebagai berikut[5]:
a.       Empati
Kemampuan seorang untuk merasakan secara tetap apa yang dirasakan orang lain  dan
mengkomunikasikan persepsinya.
b.      Respek[6]
Konselor harus bisa  menghargai martabat dan nilai-nilai yang dimiliki klien sebagai
manusia. Seorang konselor  harus  menerima kenyataan bahwa klien memiliki hak untuk member
i arahan.
c.       Keaslian (genuiness)
Kemampuan konselor menyatakan dirinya secara bebas dan mendalam tanpa pura-pura
tidak bermain peran dan tidak mempertahankan diri.
d.      Kekonkretan (concreteness)
Ekspresi yang khusus mengenai perasaan dan pengalaman orang lain.
Kekonkretan yang dimiliki konselor seperti apa yang berikan konselor kepada klien nya
baik  berupa arahan maupun bimbingan yang bertujuan melegakan klien dari permasalahannya
dan perubahan yang terjadi pada diri klien benar-benar dapat dirasakan.
e.       Konfrontasi (confrontation)
Konfrontasi terjadi  jika terdapat kesenjangan antara apa yang dikatakan klien dengan apa
yang dialami atau antara apa yang dikatakan klien pada suatu saat dengan apa yang dia katakan
sebelumnya.
f.       Membuka diri
Penampilan perasaan, sikap, pendapat, dan pengalaman –pengalaman pribadi konselor
untuk kebaikan klien.
g.      Kesiapan (immediacy)
Sesuatu yang berhubungan dengan perasaan diantara kiien dengan konselor pada waktu
itu.
h.      Kesanggupan (potensi)
Kesanggupan dinyatakan sebagai charisma, sebagai suatu kekuatan yang dinamis dan
magnetis dari kualitas pribadi konselor.
Seorang konselor sejati dan professional  haruslah mempunyai kompetensi  dan target
dalam menjalani aktivitas konseling. Ini  tertuang dalam SK Mendikbud 045/u/2002 yaitu ;
“kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki
seseorang sebagai syarat dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas  tertentu”.
[7]
Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa kompetensi merupakan hasil konstruksi
kemampuan (compose skill) sehingga seorang mampu melaksanakan tugas sesuai peran, posisi
atau profesi.Dalam hal tersebut konselor harus memilki kompetensi sebagai berikut;[8]
a.       Paedagogik
Kompetensi paedagogik bagi konselor dimaknai sebagai kemampuan membantu peserta
didik untuk memahami diri, menerima diri dan mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya
secara utuh, serta mengaktualisasikan potensi dirinya.
b.      Kepribadian
Kompetensi  kepribadian bagi konselor sama dengan kompetensi pendidik
pada  umumnya.
c.       Profesional
Kompetensi professional konselor adalah penguasaan konselor atas karakteristik pribadi
peserta didik.
Kompetensi yang harus menjadi pegangan oleh konselor adalah” Standar
Kompetensi  Konselor Indonesia (SKKI)”  dalam konteks “PP 19/2005”
Setiap konselor dalam kehidupan kesehariannya, baik sebagai pribadi maupun dalam
menjalankan tugasnya, terikat oleh SKKI yang dijabarkan sebagai berikut :
1.      Kompetensi Paedagogik[9]
Pada kompetensi ini, sub kompetensi dan indikatornya adalah ;
a.       Memahami landasan keilmuan pendidikan (filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi) berisi :
         Memahami hakikat kebenaran dan system nilai yang mendasari proses-proses pendidikan.
         Memahami proses pembentukan perilaku individu dalam proses pendidikan.
         Memahami karakteristik individu berdasarkan usia, gender, ras,etnisitas, status sosial dan
ekonomi.
b.      Menguasai konsep dasar dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan, berisi :
         Memahami hubungan antar unsure-unsur pendidikan (pendidik, peserta didik, tujuan
pendidikan, metode pendidikan dan lingkungan pendidikan)
         Mampu memilih dan menggunakan alat-alat pendidikan (kewibawaan, kasih saying,
kelembutan, keteladanan dan hukuman mendidik).
2.      Kompetensi  Kepribadian[10]
Pada kompetensi kepribadian ini, sub kompetensi sebagai berikut :
a.       Menampilkan keutuhan kepribadian konselor yaitu:
         Menampilkan perilaku membantu berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada tuhan YME.
         Mengkomunikasikan secara verbal atau non verbal  niat yang  tulus membantu orang lain.
         Mendemonstrasikan sikap  hangat dan penuh perhatian.
         Secara verbal dan non  verbal mampu mengkomunikasikan rasa hormat konselor terhadap klien
sebagai pribadi yang berguna dan  bertanggung  jawab.
         Mengkomunikasikan  harapan, mengekspresikan keyakinan bahwa klien memilki kapasitas
untuk memecahkan problem, menata dan mengatur hidupnya.
         Mendemonstrasikan integritas dan stabilitas kepribadian serta konrol diri yang baik.
         Mendemonstrasikan sikap empati  secara  tepat.
         Memiliki toleransi   yang tinggi terhadap stress  dan frustasi.
         Mendemonstrasikan berpikir positif terhadap orang lain dan lingkungan.
b.      Berperilaku etik dan professional, yaitu:
         Menyadari bahwa nilai-nilai pribadi konselor dapat mempengaruhi respon-respon konselor
terhadap klien.
         Menghindari sikap prasangka dan pikiran streotipe terhadap klien.
         Tidak memaksakan nilai-nilai pribadi terhadap klien.
         Memahami kekuatan dan keterbatasan  personal dan professional.
         Mengelola diri secara efektif.
         Bekerja  sama secara produktif dengan teman sejawat dan anggota profesi lainnya.
         Secara konsisten menampilkan perilaku sesuai dengan kode etik profesi.
3.      Kompetensi Profesional[11]
Pada umumnya kompetensi ini, sub dan indikatornya adalah :
a.       Memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan professional, ini meliputi  :
         Menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang secara etik dapat
dipertanggungjawabkan bagi semua klien.
         Berperilaku objektif terhadap pandangan, nilai-nilai dan reaksi emosional klien yang berbeda
dengan konselor.
         Memiliki inisiatif dan terlibat dalam pengembangan profesi dan pendidikan lanjut  untuk
meningkatkan keahlian dan keterampilan professional.
         Memiliki kepedulian untuk aktif dalam organisasi profesi konseling .
b.      Memahami kaidah-kaidah perilaku individu dan kelompok, meliputi:
         Menjelaskan mekanisme perilaku menurut berbagai pendekatan.
         Menjelaskan mekanisme pertahanan diri agar tidak larut dalam masalah yang di hadapi
                                                            
B.  Keterampilan Yang Dimiliki oleh Konselor
Tujuan dari keterampilan konselor adalah mengeksplorasi keterampilan dari kualitas
yang berkaitan dengan konseling yang efektif. Pendekatan keterampilan sangat berhastrat untuk
menemukan cara alternative memahami perilaku konselor
5 Jenis Keterampilan Dasar Konseling,yang harus dimiliki oleh konselor
Sebagai fasilitator penyelenggaraan konseling, seorang konselor harus memiliki berbagai
keterampilan dasar konseling agar mencapai tujuan konseling yang efektif
  Keterampilan Atending
Keterampilan atending merupakan usaha pembinaan untuk menghadirkan klien dalam
proses konseling. Keterampilan dasar ini harus dikuasai oleh konselor karena keberhasilan
membangun kondisi awal akan menentukan proses dan hasil konseling yang diselenggarakan.
Penciptaan dan pengembangan atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap
empati, menghargai, wajar dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan
yang dirasa klien.
Aspek-aspek keterampilan atending adalah:
a.       Posisi badan(termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka)
  Duduk dengan badan menghadap klien
  Tangan kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang
dikomunikasikan secara verbal.
  Merespon dengan ekspresi wajah, seperti senyum spontan atau anggukan kepala sebagai tanda
setuju.
  Badan tegak lurus tetapi tidak kaku atau kalau perlu bisa dicondongkan ke arah klien untuk
menunjukkan kebersamaan.
b.      Kontak mata
  Melihat klien terutama pada waktu bicara.
  Menggunakan pandangan spontan yang menunjukkan minat atau keinginan untuk merespon.
c.       Mendengarkan
  Memelihara perhatian penuh yang terpusat pada klien.
  Mendengarkan apapun yang dikatakan klien.
  Mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata-kata, perasaan dan perilakunya)
  Memahami keseluruhan pesannya.
Keterampilan Mengundang Pembicaraan Terbuka
Keterampilan ini digunakan ketika konselor melakukan wawancara dengan klien. Ajakan
terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan
dukungan pewawancara.
Pertanyaan terbuka membuka peluang klien untuk mengemukakan ide perasaan dan
arahnya tanpa harus menyesuaikan dengan setiap kategori yang telah ditentukan oleh
pewawancara.
Contoh-contoh pertanyaan yang disarankan adalah:
a.       Membantu memulai wawancara
   “Apa yang akan Anda bicarakan hari ini?”
b.      Membantu menguraikan masalah
  ”Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu!”
  ”Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?”
c.       Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus sehingga pewawancara dapat
memahami dengan lebih baik apa yang dijelaskan oleh klien.
  ”Apa yang Anda rasakan pada saat Anda menceritakan hal ini kepada saya?”
  ”Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada saat itu?”
Keterampilan Paraprase
Paraprase adalah suatu keterampilan dasar dalam konseling yang bertujuan untuk
memperbaiki hubungan antar pribadi. Esensi dari keterampilan ini adalah pengulangan kata-kata
atau pemikiran-pemikiran kunci dari klien yang dirumuskan oleh konselor sendiri. Maksud dari
kegiatan paraprase adalah:
1)      Menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien, dan konselor     berusaha
memahami apa yang dinyatakan klien.
2)      Mengkristalisasi komentar klien dengan lebih singkat sehingga membantu mengarahkan
wawancara.
3)      Memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi konselor. Kegiatan paraprase bukan
merupakan upaya untuk membaca apa yang terlintas di benak, tetapi suatu bantuan untuk
memperoleh klarifikasi tambahan yang cermat.
Cara memparaprase adalah sebagai berikut:
a.       Dengarkan pesan utama klien.
b.      Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara sederhana    dan singkat.
c.       Amati pertanda atau meminta respon dari klien tentang kecermatan paraprase.
Berikut paraprase yang tidak disarankan:
a.       Analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien yang dimaukkan dalam respon
konselor.
b.      Respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien, bukan tema utamanya.
c.       Pemakaian kata-kata paraprase atau prase yang tidak tepat dalam wawancara (kata-kata teknis,
istilah psikologi yang berlebihan)
Keterampilan Refleksi  Perasaan
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespon keadaan perasaan
klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Kemampuan ini akan mendorong dan merangsang
klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang
dihadapinya. 
Merefleksi perasaan klien merupakan suatu teknik yang ampuh, karena melalui tindakan
keterampilan tersebut akan terwujud suasana keakraban dan sekaligus pemberian empati dari
konselor kepada klien. Esensi dari keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang
klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.

Aspek-aspek keterampilan refleksi perasaan adalah:


a.       Mengamati  perilaku klien
Pengamatan ini terutama ditujukan pada postur tubuh dan ekspresi wajah klien.
b.      Mendengarkan dengan baik
Penekanannya pada usaha mendengarkan dengan cermat intonasi suara klien dan kata-
kata yang diucapkan.
c.       Menghayati pesan yang dikomunikasikan klien.
Tindakan ini dimaksudkan untuk memahami dan menangkap isi pembicaraan klien.
d.      Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien.
e.       Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami klien.
f.       Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk melukiskan perasaan klien.
g.      Mengecek kembali perasaan klien.
Untuk meyakinkan apakah respon yang diberikan konselor tepat atau tidak, konselor
hendaknya melakukan pengecekan kembali dengan cara mengamati jawaban dan ekspresi klien
setelah respons itu disampaikan.
Keterampilan Konfrontasi
Konfrontasi dalam wawancara konseling dimaknai sebagai pemberian tanggapan
terhadap pengungkapan kontradiksi dari klien. Konfrontasi yang efektif tidak menyerang klien,
tetapi merupakan tanggapan khusus dan terbatas tentang perilaku klien yang tidak konsisten.
Penggunaan keterampilan ini mensyaratkan beberapa tingkat kepercayaan dalam
hubungan konseling yang telah dikembangkan melalui keterampilan-keterampilan lain. Nada
suara, cara mengintroduksi konfrontasi, sikap badan dan ekspresi wajah, serta tanda-tanda non
verbal lainnya merupakan faktor-faktor utama dalam menerapkan keterampilan inil   

Adapun keterampilan-keterampilan konselor sebagai berikut :


1.      Keterampilan Interpersonal[12]
Konselor yang efektif mampu mendemonstrasikan perilaku mendengar, berkomunikasi,
empati, kehadiran hati dan sensitivitas terhadap suara. Ini semua berpangkal pada mendengar
dalam arti mendengar dengan hati.
Hobson (1985) menyatakan bahwa ikatan antara konselor dan klien tumbuh dari
penciptaan”bahasa perasaan” bersama yaitu cara berbicara  bersama yang mengeluarkan
ekspresi klien.
2.      Keterampilan Komunikasi[13]
Keterampilan komunikasi terdiri dua yakni keterampilan komunikasi non verbal dan
keterampilan komunikasi verbal.
Gibson dan Mitchell membagi komunikasi non verbal atas keterampilan yakni:
1)      Pergerakan anggota tubuh
2)      Nada suara
3)      Gaya berbicara
4)      Posisi ruangan konseling
3.      Keterampilan Diagnostic
Keterampilan ini mensyaratkan konselor terampil dalam mendiagnosa dan memahami
klien, memperhatikan klien, dan pengaruh lingkungan yang relevan.
4.      Keterampilan Memotivasi
Tujuan konseling biasanya untuk membantu perubahan perilaku dan sikap klien. Untuk
memenuhi tujuan ini, seorang konselor harus mempunyai keterampila memotivasi klien.
5.      Keterampilan Manajemen
Keterampilan manajemen adalah perhatian terhadap lingkungan dan pengaturan fisik

Anda mungkin juga menyukai