Anda di halaman 1dari 3

Di minggu keenam ini, silahkan teman-teman jelaskan apa saja perubahan kebudayaan yang

terjadi di masyarakat teman-teman masing-masing.

Revolusi maupun evolusi budaya yang terjadi akibat adanya wabah virus corona ini
merupakan bagian dari relativitas kebudayaan yang kapan pun bisa berubah, baik itu
dipengaruhi oleh faktor pendidikan pelakunya, faktor lingkungan, dan sebagainya. Relativitas
kebudayaan ini menjadi penyebab terjadinya pergeseran kebudayaan di tengah-tengah
pandemik virus corona. Untuk itu, penyederhanaan budaya yang berakibat terhadap
pergeseran kebudayaan pada masa pandemik virus corona ini, berkaitan erat dengan teori
perubahan kebudayaan menurut Agusyanto (2019: 7.3). Perubahan kebudayaan pada suatu
masyarakat bagaimanapun tidak dapat di hindari. Akibanya ada kalangan yang merasa
diuntungkan dan ada juga yang merasa dirugikan. Dikuatkan dengan dua teori perubahan
kebudayaan yaitu:
a. Teori Evolusi. Perubahan terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit dalam jangka
waktu yang cukup panjang.
b. Teori Difusi. Adanya pergerakan unsur-unsur kebudayaan dari suatu masyarakat ke
masyarakat lainnya.

Contoh perubahan kebudayaan budaya masyarakat Lombok yang banyak mendapat sorotan
adalah budaya Merariq yang merupakan adat pernikahan Lombok, Adat istiadat merupakan
tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi kegenerasi lain sebagai warisan
sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat (Kamus besar bahasa
Indonesia, (1988:5,6). Menurut JC. Mokoginta (1996:77), adat istiadat adalah bagian dari
tradisi yang sudah mencakup dalam pengertian kebudayaan. Karena itu, adat atau tradisi ini
dapat dipahami sebagai pewarisan atau penerimaan norma-norma adat istiadat”.

Seiring dengan perkembangan zaman budaya Merariq ini sudah mulai ditinggalkan oleh
masyarakat Lombok, sehingga terjadi perubahan kebudayaan yang mengakibatkan
kehilangan kebudayaan (culture loss), namun unsur-unsur budaya merariq tidak mengubah
budaya merariq.
Penyebab perubahan budaya Merariq disebabkan oleh adanya faktor-faktor perubahan
dari dalam (intern) masyarakat serta dari luar (ekstern) masayarakat itu sendiri. Faktor intern
merupakan faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri yang menyebabkan perubahan
kebudayaan. Faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar masyarakat melalui
interaksi sosial yang mendorong terjadinya suatu perubahan kebudayaan, (Soekanto, 1990).
Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap budaya merariq, seperti yang
dikatakan oleh Mulyana (2000: 75) setiap orang memiliki gambaran yang berbeda-beda
mengenai realitas disekelilingnya.

Dengan adanya penyederhanaan budaya, khususnya dalam tradisi pernikahan ini menjadikan
kaum yang tidak berduit (golongan bawah) merasa diuntungkan. Sedangkan, bagi kalangan
borjuis (golongan atas) sedikit merasa dirugikan.

Kalangan proletar akan diuntungkan karena tidak harus memaksakan diri untuk
menyelengarakan prosesi pesta (begawe: bahasa Sasak) yang bisa saja memaksa pelaku atau
pelaksana acara untuk berhutang ke sana ke mari demi terselenggaranya pesta adat tersebut,
karena kalau tidak bisa saja menajadi aib di mata masyarakat. Tetapi, dengan adanya kondisi
yang diakibatkan oleh wabah virus ini, masyarakat dari kalangan proletariat sedikit merasa
diuntungkan dan bisa menjadi momen untuk mengatakan bahwa budaya bukan alat untuk
merendahkan martabat suatu kaum, melainkan budaya merupakan suatu wadah memuliakan
dan meluhurkan suatu kaum. Menurut Agusyanto (2019: 7.14-7.15). Faktor-faktor penyebab
perubahan kebudayaan adalah:
a. Faktor yang berkaitan dengan unsur material (perspektif materialisme)
b. Faktor yang berkenaan dengan unsur ide-ide atau gagasan (perspektif idealisme)
c. Faktor yang berkaitan dengan unsur interaksi sosial (perspektif interaksionisme)

Dengan demikian, masyarakat proletariat ketika berhadapan dengan kondisi ini, mereka
punya satu dasar, disaat mereka tidak memiliki apa-apa untuk merayakan atau mensyukuri
jodoh yang dianugrahi Tuhan, melainkan hanya dengan ucapan syukur dan hanya bisa
mengundang tetangga dekat untuk membaca zikir dan doa. Dasar atau alasan yang dimaksud
yakni taat terhadap protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah.

Sedangkan di sisi yang lain, bagi kaum borjuis, hal ini merupakan sebuah halangan karena
tidak bisa melakukan pesta besar-besaran sebagai wujud syukur dan kalau secara ektrem
dikatakan sebagai ajang penonjolan kekayaan yang dimiliki, meskipun secara tidak langsung
tidak diperlihatkan atau tidak diucapkan. Namun, secara simbolik mereka dengan tidak sadar
telah menunjukkan hegemoni derajat dan penunjukkan identitas.

Pengetahuan masyarakat dengan cara memandang wabah virus corona ini relatif. Dikatakan
relatif, karena antara si A dengan si B dalam cara memandang objek yang sama, pasti
berbeda. Dan hal ini tidak bisa dipaksakan. Sehingga, wajar kemudian banyak terjadi
pelanggaran protokol kesehatan di masyarakat. Ada yang memandang wabah virus ini
sebagai sesuatu hal yang enteng, tetapi ada juga masyarakat yang benar-benar memahami
dampak yang ditumbulkan oleh virus ini. Akibatnya, mereka yang sadar dan paham, pasti
akan mematuhi protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah.

Selanjutnya, cara pandang masyarakat ini menjadi sebuah unifikasi dari relativitas
kebudayaan, karena unsur kebudayaan menurut koentjoroningrat ada, salah satunya ialah
pendidikan.

Penyederhanaan budaya ini juga menjadi bukti adanya relativitas pandangan para pelaku
budaya. Hanya saja, belum dielaborasi menjadi perubahan budaya secara baku, yang
dihasilkan melalui kesepakatan para pelaku budaya. Meskipun hanya bersifat sementara,
penyederhanaaan budaya selama masa pandemik ini, besar kemungkinan akan menjadi dasar
pemikiran kaum intelektual untuk melakukan perubahan budaya. Karena faktornya bukan
sekedar pendidikan, keadaan lingkungan semata melainkan adanya perubahan zaman yang
menuntuk pelaku budaya untuk beradaptasi mengikuti perubahan zaman.

Tidak menutup kemungkinan, alternatif-alternatif yang dilakukan oleh masyarakat di bidang


pendidikan, agama, budaya, dan ekonomi pada masa pandemik ini menjadi gambaran bahwa
dunia sudah menuntut untuk melakukan perubahan. Zaman tatap muka secara langsung bisa
dilakukan dengan cara tatap muka melalui online. Menikah yang sejak beberapa tahun
diterapkan oleh pemerintah, bahwa menikah tidak harus mahal dan mewah, cukup menikah di
kantor KUA tanpa harus mengundang banyak orang, apalagi melakukan prosesi pesta dan
nyongkolan.

Penyederhanaan-penyederhanaa budaya di atas yang nantinya akan menjadi cikal bakal


perubahan budaya, tidak bisa dielakkan oleh pelaku budaya. Dengan demikian, diharapkan
kepada pelaku budaya yang menganggap diri fanatik dalam memanifestasikan kebudayaan,
untuk tidak terlalu bersikap berlebihan dalam merespon perubahan demi perubahan dalam
wilayah/unsur kebudayaan, karena pada prinsipnya yang hakiki itu perubahan, bukan budaya
apalagi pengetahuan.

Referensi:

1. Rudy Agusyanto, dkk. 2019. Pengantar Antropologi. Tangerang: Universitas


Terbuka.
2. Ratmaja, Lalu Bahrie, dan Sudirman. 2012. Jurnal Geo Eco. Prosesi
Perkawinan Masyarakat Gumi Sasak. Lombok Timur: KSU Primaguna.
3. Soekanto. S. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Gatindo

Anda mungkin juga menyukai