Anda di halaman 1dari 5

Pada diskusi kita pada minggu ini coba teman-teman memberikan contoh aktivitas ekonomi yang

terjadi di masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan di Indonesia. Adakah hubungan di antara
keduanya, jelaskan!

Secara umum daerah pedesaan ditandai oleh struktur kegiatan penduduk berbasis agraris atau
pertanian, kepadatan penduduk lebih rendah dibanding kepadatan penduduk perkotaan, cara hidup
ataupun pola budaya yang dekat dengan pemanfaatan sumber daya alam, tempat tinggal
penduduk berkelompok dan tersebar, potensi tenaga kerja dengan pendidikan baik agak langka,
sistem organisasi sederhana berbasis kegiatan subsisten atau primer, dan sebagainya.

Sebaliknya ciri masyarakat perkotaan ditandai oleh struktur masyarakat berbasis perdagangan dan
jasa, kepadatan penduduk rapat, tempat tinggal penduduk berkelompok, tenaga berpendidikan
relatif tinggi, sistem organisasi kerja ya ng kompleks berbasis kegiatan formal. Kawasan perkotaan
juga dianggap sebagai tempat terjadinya proses pemusatan kekuasaan dan perubahan budaya,
pusat kreativitas yang menyebabkan terjadinya pola perkembangan kehidupan masyarakat dan
lingkungan fisiknya sangat berbeda dengan kawasan perdesaan yang biasa disebut pinggiran.

Dari uraian ciri masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan diatas, aktivitas pembangunan
pedesaan hanya dapat tercapai apabila aktivitas pembangunan di wilayah pedesaan selalu
berhubungan dengan pembangunan perkotaan. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan
arus balik dana atau kapital yang selama ini mengalir dari pedesaan ke perkotaan menjadi dari
perkotaan ke perdesaan. Demikian pula arus balik produk atau jasa dari perkotaan ke
perdesaan menjadi dari perdesaan ke perkotaan. (Indrawati, S.M. 2014: 11).

Menurut Rondinelli (1985: 18) menjelaskan tipe keterkaitan desa kota sebagai berikut:

1. Keterkaitan fisik (jaringan jalan, irigasi, transportasi).


2. Keterkaitan ekonomi (pasar, produki, konsumsi, modal, pendapatan, aliran komoditas
sektoral dan interregional).
3. Keterkaitan mobilitas penduduk.
4. Keterkaitan teknologi.
5. Keterkaitan interaksi sosial.
6. Keterkaitan penyediaan pelayanan.
7. Keterkaitan politik, administratif dan organisasional.

Secara umum daerah pedesaan ditandai oleh struktur kegiatan penduduk berbasis agraris atau
pertanian misalnya petani sayur dan buah stroberi di Desa Sembalun Lombok Timur yang secara
tradisional selalu membawa hasil panennya ke pasar-pasar di kota Lombok Timur, kota
Mataram. Sekembali dari dua kota tersebut, para petani ini membawa berbagai kebutuhan
rumah tangga yang tidak dihasilkan di desanya. Ada suatu realitas yang telah berjalan selama
ini bahwa penduduk desa menjadi konsumen barang dan jas pelayanan perkotaan sementara
masyarakat kota juga menjadi konsumen jasa dan barang hasil produksi perdesaan (ESCAP,
2002: 7).

Berdasar pada kondisi seperti itu Tacoli (2004: 19) membagi hubungan desa kota menjadi dua.
Yang pertama hubungan yang berbentuk lintas batas (linkages across space) manusia, uang (dana),
barang dan jasa. Sedangkan yang kedua dalam bentuk hubungan antar sektor (sectoral interactions)
seperti adanya kegiatan industri di pedesaan yang memanfaatkan bahan baku dari daerah
pedesaan itu sendiri namun bahan penunjangnya didatangkan dari perkotaan. Atau semua bahan
baku berasal dari perkotaan namun keseluruhan aktifitas dilakukan di desa oleh penduduk desa
itu sendiri.

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa ada hubungan aktivitas ekonomi yang terjadi di
masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan di Indonesia. Dimana sektor pertanian
tampaknya masih tetap menjadi fokus perhatian mengingat sektor ini masih sangat
dominan di pedesaan. Produksi pertanian tetap harus ditingkatkan karena secara
logika peningkatan produksi akan menyebabkan peningkatan pendapatan masyarakat.
Peningkatan pendapatan ini secara otomatis akan mendorong masyarakat untuk membeli
barang-barang di perkotaan atau barang-barang yang dihasilkan di perkotaan. Sehingga
semakin tinggi pendapatan masyarakat pedesaan akan semakin erat pula hubungan antara
wilayah pedesaan dengan perkotaan. Selain itu produk pertanian yang melimpah juga
akan mendorong timbulnya berbagai aktifitas ekonomi di perkotaan seperti industri
pengolah, jasa perdagangan, jasa perbankan dan lain sebagainya. (Braun , J. 2006:3 ; Ibrahim,
M.B (2014: 10). Seperti penyewaan truk dan sarana transportasi lainnya sehingga sewaktu-
waktu dibutuhkan untuk mengangkut hasil panen dapat segera dihubungi. Sistem seperti ini
telah berlaku di Desa Sembalun, Lombok Timur yang selama ini dikenal sebagai produsen sayur
dan buah stoberi. Apabila ada pembeli dari luar daerah yang memerlukan truk, dengan segera
akan ditunjukkan perusahaan ekspedisi yang dapat dipercaya termasuk biaya angkutnya.

Dalam aktivitas ekonomi di Indonesia dimana kawasan perkotaan yang berfungsi melayani
kawasan perdesaan di sekitarnya belum berkembang sebagai pusat pasar komoditas
pertanian; pusat produksi, koleksi dan distribusi barang dan jasa; pusat pengembangan
usaha mikro, kecil dan menengah non pertanian; dan penyedia lapangan kerja alternatif (non
pertanian). Menurut Mulyana, W 2014: 14). Untuk itu salah satu upaya untuk mewujudkan
hubungan aktivitas ekonomi pedesaan dengan perkotaan seperti yang diharapkan adalah dengan
menjadikan kota-kota kecil dan menengah yang sering disebut dengan secondary city menjadi
jembatan penghubung keduanya seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batu di Jawa
Timur dengan membangun sebuah terminal agrobisnis untuk menampung hasil panen
petani sayur di wilayah pedesaan sekitarnya dan sekaligus menjadi tempat transaksi dengan
para pedagang besar dari kota besar seperti Malang dan Surabaya.

Referensi:

1. Ruddy Agusyanto, dkk. 2019. Pengantar Antropologi. Universitas Terbuka: Tangerang.


2. Tarigan, A. 2003. Rural-Urban Economi Linkages. Konsep & Urgensinya Dalam
Memperkuat Pembangunan Desa. Jurnal Forum Inovasi.
3. Nugroho, I. dan R. Dahuri (2002). Pembangunan Wilayah. Perspektif Ekonomi, Sosial
dan Lingkungan .LP3ES.Jakarta.
4. Rondinelli, D. 1985. Locational Planning and Regional Economic Development:
Appropriate Methods in Developing Countries. Sage Journal Online.
Secara umum daerah perdesaan ditandai oleh struktur kegiatan penduduk berbasis agraris atau
pertanian, kepadatan penduduk lebih rendah dibanding kepadatan penduduk perkotaan, cara hidup
ataupun pola budaya yang dekat dengan pemanfaatan sumber daya alam, tempat tinggal
penduduk berkelompok dan tersebar, potensi tenaga kerja dengan pendidikan baik agak langka,
sistem organisasi sederhana berbasis kegiatan subsisten atau primer, dan sebagainya. Sebaliknya
ciri masyarakat perkotaan ditandai oleh struktur masyarakat berbasis perdagangan dan jass,
kepadata n penduduk rapat, tempat tinggal penduduk berkelompok, tenaga berpendidikan relatif
tinggi, sistem organisasi kerja ya ng kompleks berbasis kegiatan formal. Kawasan perkotaan juga
dianggap sebagai tempat terjadinya proses pemusatan kekuasaan dan perubahan budaya, pusat
kreativitas yang menyebabkan terjadinya pola perkembangan kehidupan masyarakat dan
lingkungan fisiknya sangat berbeda dengan kawasan perdesaan yang biasa disebut pinggiran.

Banyak ahli yakin, walaupun ciri dan kegiatan kedua masyarakat itu berbeda, tidak berarti bahwa
tingkat kesejahteraan harus berbeda. Terlebih lagi seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan
dali'lm memberikan pelayanan antara masyarakat perdesaan dan perkotaan, misalnya terhadap
standar pelayanan kebutuhan dasar, standar pelayanan prasarana, standar pelayanan teknologi
dasar. Kesimpulan sementara ini terhadap terjadinya kesenjangan secara umum disebabkan oleh
ketidakseimbc:ngan kemampuan dan kesempatan yang dipero!ah antara masyarakat perdesaan
dan perkotaan.

Desa merupakan penyebutan untuk sebuah permukiman warga yang letaknya bukan di kota atau di
wilayah terpencil yang terdiri dari permukiman-pemukiman kecil. Tentunya kehidupan masyarakat
desa berbeda dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Begitu juga yang terjadi dengan
perbedaan ekonomi masyarakat desa dan kota. Apa saja perbedaan itu? Berikut ini penjelasannya.

Cenderung Homogen

Perbedaan ekonomi masyarakat desa dan kota terlihat dari kecenderungan masyarakat desa yang
homogen dari pada masyarakat di perkotaan. Salah satu contohnya yaitu mata pencarian,
masyarakat desa memiliki mata pencarian yang cenderung sama antara satu dengan lainnya,
misalnya seperti bertani dan lainnya.

Berbeda, masyarakat kota cenderung hitrogen dan beraneka macam pekerjaan yang dimiliki. Mulai
dari pekerjaan kantoran, wirausahawan dan lain sebagainya. Karena kebutuhan pekerjaan dan
lowongan pekerjaan di kota cenderung lebih banyak di bandingkan di desa.

Pekerjaan Bukan Agraris Bersifat Sambilan


Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya, bahwa pekerjaan utama para masyarakat yang tinggal di
desa adalah agraris. Namun karena musim tanam tergantung pada cuaca dan curah hujan sehingga
tidak setiap hari lahan sawah bisa di tanami. Oleh karena itu masyarakat pedesaan memiliki
pekerjaan lainnya yang bukan di bidang pertanian.

Namun pekerjaan tersebut cenderung memiliki sifat sambilan. Ketika musim tanam sudah kembali
maka masyarakat desa akan kembali menjadi petani dengan menanami lahan mereka sesuai dengan
musim tanam yang ada.

Tingginya Keinginan Untuk Pergi Merantau

Orang-orang desa memiliki kecenderungan untuk merantau dan hidup di luar wilayahnya sendiri. Hal
ini berakibat pada jumlah penduduk yang ada untuk memperbaiki keadaan perekonomian desa.
Orang-orang yang sudah merantau dan merasa dirinya berhasil enggan untuk kembali ke kampung
halamannya karena merasa tinggal di wilayah kota lebih baik.

Padahal sebenarnya perekonomian desa bisa diangkat jika penduduknya yang merantau kemudian
kembali ke kampung halaman dan mengajarkan kepada yang lain apa yang mereka dapatkan di kota.
Dengan cara ini penduduk yang masih di desa bisa mengambil pengalaman tersebut dan
mengaplikasikan di desa.

Kesadaran Pendidikan Yang Minim

Kehidupan ekonomi masyarakat desa tidak terlepas dari tingkat pendidikan yang mereka dapatkan.
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin luas pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya
jika seseorang memiliki pendidikan yang lebih rendah maka keinginan dan wawasan cenderung
kurang.

Oleh karena itu, pembangunan perekonomian harus dibarengi dengan pembangunan sumber daya
manusia yang ada. Meskipun tidak mengenyam pendidikan yang tinggi setidaknya seseorang mampu
dan dibekali dengan berbagai keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupannya. Keterampilan
bisa bisa didapatkan dalam latihan khusus atau pelatihan kilat yang tidak membutuhkan waktu yang
lama.

Jika di bandingkan dengan wilayah perkotaan, sangat sedikit wirausahawan di wilayah pedesaan.
Kenapa bisa begitu? Hal ini tidak terlepas dari kecenderungan masyarakat pedesaan yang mengikuti
arus yang ada. Mereka lebih nyaman dalam mengerjakan pekerjaan yang sudah ada turun menurun
sejak lama.
Sebagai contoh anak akan meneruskan pekerjaan dari ayah atau ibunya dan hal ini selalu berulang.
Sedikit sekali yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang sudah diwariskan dan mengeluti
pekerjaan yang disukai.

Itulah sekilas gambaran perbedaan ekonomi masyarakat desa dan kota. Gambaran ini tentunya
menjelaskan bahwa sulitnya perekonomian desa di karenakan banyak alasan. Karena kurangnya
informasi dan pengalaman yang didapatkan masyarakat desa membuat perekonomian di desa
tumbuhnya cenderung lambat.

Tidak heran jika banyak masyarakat pedesaan yang kondisi perekonomiannya cenderung tidak
seimbang. Selain itu kondisi perekonomian desa akan berpengaruh pada kondisi pedesaan teresbut.
Banyak sekali kondisi desa yang sangat tertinggal bisa dilihat bagaimana kondisi perekonomian
penduduknya.

Untuk memperbaiki kondisi perbedaan ekonomi masyarakat desa dan kota harus di lakukan secara
bertahap dan butuh bimbingan. Mulai dari pembenahan infrastruktur desa oleh pemerintah,
menanamkan kepedulian terhadap sesama, menanam pentingnya pendidikan untuk masyarakat dan
dukungan munculnya industri kecil dari desa.

Tujuan dari perbaikan kondisi perkonomian desa adalah perkembangan desa antara yang satu dan
lainnya tidak ada ketidakseimbangan. Sehingga perkembangan desa rata antara satu dengan lainnya.

Terdapat 30 desa yang berada di Kabupaten Nias, Sumatera Utara yang hingga kini masih
masuk dalam kategori desa terisolir. Hal itu disampaikan oleh Bupati Nias, Sokhiatulo Laoli pada hari
Sabtu lalu, terkait dengan penyelenggaraan musyawarah rencana pembangunan penyusunan
rencana kerja Pemda Kabupaten Nias untuk periode tahun 2020. Faktor yang menyebabkan desa-
desa tersebut masuk kategori desa terisolir adalah akses dari dan menuju desa-desa tersebut masih
belum dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat. Karena kondisi tersebut, Pemkab Nias akan
melakukan peningkatan infrastruktur di desa-desa tersebut, peningkatan itu sendiri dimasukkan ke
dalam target Rencana Kerja Pemerintah Daerah atau RKPD tahun 2020.

Dengan adanya pembangunan di desa tersebut, potensi-potensi desa terisolir dapat


terangkat dan selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraaan masyarakat di desa-desa terisolir
tersebut. Akses jalan sendiri bisa membantu mengurangi biaya produksi untuk melaksanakan
pembangunan di desa tersebut, dan pada akhirnya dapat memudahkan masyarakat setempat untuk
meningkatkan perekonomian di desanya. Bagi desa terisolir yang dapat menjadi desa wisata, akses
jalan merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan jumlah pengunjung, selain itu
bagi perindustrian desa sendiri akses jalan sangat penting sekali dalam menunjang kegiatan
industrinya, seperti untuk pengiriman hasil industri ke daerah-daerah perkotaan. Pada akhirnya
pembangunan di desa-desa terisolir memang bukan pekerjaan yang mudah, ada banyak tahapan
yang harus ditempuh, namun perlu segera dilaksanakan agar dapat membantu roda perekonomian
di desa-desa tersebut.

Anda mungkin juga menyukai