Anda di halaman 1dari 3

Teman-teman mahasiswa, dalam materi minggu terakhir ini kita mempelajari tentang globalisasi

dimana kebudayaan masyarakat dunia menjadi cenderung homogen. Namun disisi lain dengan
globalisasi justru muncul etnosentrisme dimana suatu masyarakat merasa kebudayaannya lebih
baik dari masyarakat lainnya. Silahkan teman-teman diskusikan mengapa hal ini bisa terjadi.

Kemajuan IPTEK telah merubah pola-pola pemenuhan hidup baik kebutuhan fisik, sosial dan
psikologi. Perubahan ini memerlukan kemampuan adaptasi kultur baik perubahan terencanan
maupun tidak terencana, perubahan dari luar atau pun dari dalam. Menimbulkan dilema baru antara
eksploitasi atau konservasi terhadap sumber daya alam; antara globalisasi atau proteksi.

Kebudayaan merupakan konsep sentral antropologi sehingga semua kajian antropologi selalu
berusaha mempelajari dan memahami kebudayaan.

Pemahaman konsep antropologi yang berkembang dan mampu melakukan perubahan konsep lama
yang menyatakan bahwa masyarakat yang tidak berpegang nilai-nilai kebudayaan eropa atau barat
dianggap biadab , buas atau tak berbudaya. Dalam perkembangannya dengan modernisasi dan
teknologi mampu merubah pandangan superioritas ras dan kebudayaan yang keliru. Bahwa
antropologis mampu membuktikan bahwa semua manusia di dunia ini mempunyai kebudayaan
sehingga muncul teori relativisme kebudayaan bahwa tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi atau
lebih rendah atau tidak ada manusia yang lebih berbudaya dari masyarakat lainnya.

Dalam kajian antropologi perubahan terjadi melalui:

1. Perubahan dan keteraturan dari kejadian-kejadian disekeliling yang sedang berjalan dan
selalu bergeser, baik itu dalam tempo relatif cepat maupun yang amat lambat.
2. Sosialisasi merupakn proses belajar individu sebagai anggota masyarakat dan kebudayaan,
dari bayi hingga masa tuanya pedoman hidup, sikap dan tindakan, berperilaku di
masyarakat dan kebudayaannya.
3. Internalisasi adalah suatu proses belajar yang panjang sejak seseorang dilahirkan hingga
hampir meninggal dunia dimana proses pembelajaran kebudayaannya diperoleh dari proses
sosialisasi.
4. Enkulturasi proses pembudayaan/mempelajari tentang kebudayaan masyarakat untuk
menyesuaikan diri hasil proses sosialisasi dan internalisasi yang telah dijalaninya.
5. Akulturasi proses sosial yang timbul pada saat suatu kelompok manusia dari kebudayaan
tertentudihadapkan dengan kelompok kebudayaan yang berbeda, sejalan dengan waktu
melalui proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan lain tetapi identitas kebudayaan tidak
berubah.
6. Asimilasi dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda kelompok manusia saling
berinteraksi sosial dengan waktu yang lama saling dimana unsur budaya masing-masing
berubah wujudnya menjadi unsur budaya campuran.
7. Inovasi proses pembaharuan yang bisa terjadi diberbagai lini kehidupan baik mengenai
penggunaan teknologi baru, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan maupun
pembaharuan diberbagi pranata sosial.

Perkembangan IPTEK ini juga menyebabkan hampir semua masyarakat atau kebudayaan di dunia ini
tidak ada lagi ruang batas dengan kemajuan IPTEK pula masyarakat ‘tribal’ saat ini menjadi sulit
ditemukan (seolah-olah menghilang/punah karena berubah menjadi masyarakat yang lebih
kompleks). Hal ini menuntut antropologis untuk menyesuaikan diri atas perubahan-perubahan yang
dialami oleh masyarakat yang tadinya menjadi subyek kajiannya, antara lain perkembangan teori-
teori yang ada di dalam antropologi itu sendiri.

Dampak lain proses modernisasi dan globalisasi ini mendorong masyarakat non industri ke arah
kecendrungan untuk meniru produk, teknologi dan praktek-praktek negara maju, juga terhadap
penolakan unsur-unsur berbau kebudayaan asing, tumbuhnya etnosentrisme baru, dan teror-teror
bom.

Kebudayaan merupakan konsep sentral antropologi sehingga semua kajian antropologi selalu
berusaha mempelajari dan memahami kebudayaan dengan tumbuhnya etnosentrisme baru akibat
dampak teknologi menjadi tantangan dan perhatian antropologis karena tumbuhnya etnosentrisme
baru akan terjadi pergeseran perubahan konsep kebudayaan.

Kajian tumbuhnya etnosentrisme baru akibat dampak teknologi.

Era globalisasi semua akses informasi dapat mudah dan cepat menyebabkan etnosentrisme tumbuh
subur. Dengan media sosial Masyarakat/kelompok dengan mudah dapat diprovokasi dengan berita-
berita isu agama, suku, ras antar golongan menjadi lebih penting daripada kehidupan berbangsa dan
moral itu sendiri sehingga menyebabkan konflik.

Multikulturalisme memicu etnosentrisme baru dengan kondisi sosial yang beragam tersebut,
terkadang timbul perasaan untuk membandingkan hingga terjadi konflik. Hal ini rentan terjadi saat
beberapa kebudayaan saling bertemu. Karena setiap suku bangsa atau ras tertentu pasti memiliki ciri
khas kebudayaan yang sekaligus menjadi suatu kebanggaan mereka.

Tumbuhnya etnosentrisme juga akibat adanya situasi politik saat seorang atau kelompok ingin
mencapai sesuatu kekuasaan yang dilegitimasi atau karena suatu negara menguasai teknologi.
Biasanya akan timbul dengan sendirinya perasaan fanatisme terhadap identitas yang melekat
padanya. Contoh: Suatu Negara yang menguasai teknologi nuklir, informasi, ekonomi timbul
etnosentrisme ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa Negara mereka yang lebih hebat dan
memilik inovasi teknologi yang terbaik.

Selanjutnya dampak negatif etnosentrisme diatas, dapat memicu konflik sosial, menghambat
integrasi budaya, mengurangi tingkat objektivitas ilmu.

Referensi :

Ruddy Agusyanto, dkk. 2019. Pengantar Antropologi. Universitas Terbuka: Tangerang.


(ISIP4210/Modul-9).
Koentjaraningrat. 1993. Masalah Kesuku Bangsaan dan Integrasi Nasional. Jakarta: UI-Pass.

Anda mungkin juga menyukai