Anda di halaman 1dari 6

Tugas.

1. Bagaimana hubungan hukum obyektif dengan tujuan hukum keadilan, ketertiban atau
kepastian, dan kemanfaatan. Berikan contoh-contohnya?.

Marwan Mas (dalam Nandang Alamsah Delianoor (2020: 5.2). Hukum Objektif
adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua orang atau lebih yang berlaku
untuk umum.

Bahwa di dalam hukum terdapat tiga nilai dasar, yakni: (1) Keadilan (Gerechtigkeit);
(2) Kemanfaatan (Zweckmassigkeit); dan (3) Kepastian Hukum (Rechtssicherheit).

Selanjutnya bagaimana bagaimana hubungan hukum obyektif dengan tujuan hukum


keadilan, ketertiban atau kepastian, dan kemanfaatan.

Hubungan Hukum Obyektif dengan Keadilan.

Keadilan dalam tujuan hukum merupakan persamaaan hak dan kewajiban di dalam
hukum. Dapat disebut dengan suatu wewenang. Setiap orang memiliki hak yang sama
yaitu memperoleh perlindungan terhadap hukum maupun memperoleh pembelaan di
dalam hukum. Setiap manusia memperoleh hak yang harus terpenuhi. Sedangkan
kewajiban setiap orang adalah taat dan tunduk terhadap hukum yang berlaku di
Indonesia, menjalankan peraturan-peraturan yang ada, dan tidak melanggar aturan
tersebut. Antara hak dan kewajiban orang harus terpenuhi dan harus seimbang
sehingga dapat terciptanya suatu keadilan.

Dari uraian diatas dapat diartikan dimana hubungan hukum obyektif dengan keadilan
berhubungan erat karena dari orientasi keadilan dapat di terima secara hukum
obyektif, dimana setiap orang memiliki hak yang sama yaitu memperoleh
perlindungan terhadap hukum maupun memperoleh pembelaan di dalam hukum.
Sehingga dalam tujuan hukum keadilan hukum di dahulukan terlebih dahulu karena
keadilan harus seimbang antara setiap orang, tidak memihak golongan tertentu.
Setelah keadilan terpenuhi maka kepastian hukum dapat tercapai sebagaimana
mestinya sesuai yang di harapkan oleh masyarakat berbangsa dan bernegara.

Di Negara kita menurut saya, tingkat keadilan masih dapat dikatakan rendah dalam
penerapannya dalam hukum, masyarakat berpendapat bahwa didalam suatu
pengadilan atau di dalam suatu hukum keadilan tidak dijalankan oleh para badan-
badan penegak hukum dalam penyelesaian suatu perkara sehingga kualitas hukum
akan hilang yang diakibatkan oleh keadilan dan kepastian hukum tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenaran dan keasliannya.

Contoh Kasus:

Kasus Baiq Nuril seorang guru honorer yang mengalami pelecehan seksual dari
telepon yang dilakukan oleh kepala sekolah. Dalam hal itu Nuril memberanikan diri
untuk merekam pembicaraan kepala sekolah tersebut. Teman kerja Nuril meminta
rekaman tersebut sehingga rekaman tersebut dapat tersebar luas. Kepala sekolah Nuril
melihat rekaman tersebut merasa bahwa tindakan tersebut merugikan dirinya.
Sehingga kepala sekolah Nuril melaporkan Nuril ke dalam polisi setempat. Pada akhir
Maret 2017. Nuril di tahan menjadi tahanan, namun para saksi mengaku bahwa Nuril
terbukti tidak bersalah karena tidak menyebarkan rekaman telepon tersebut. Jaksa
mengajukan banding teradap mahkamah agung yang berpendapat bahwa Nuril telah
melakukan tindakan pelanggaran ITE, akibatnya Nuril dianggap bersalah dan
mendapatkan hukuman berupa penjara 6 bulan dan sejumlah uang denda.

Masyarakat menganggap bahwa keadilan dalam hukum masih belum berjalan dengan
adil. Dalam kasus tersebut terlihat ketimpangan pembelaan di dalam hukum, dalam
kasus tersebut kepala sekolah seharusnya dihukum sesuai dengan pelanggaran
pelecehan seksual yang di lakukannya. Pada kenyataanya Nuril selaku korban di
hukum penjara dan dihukum dengan membayar sejumlah denda. Dalam kasus
tersebut kepastian di dalam hukum juga belum dapat tercapai sebagaimana mestinya,
karena kasus tersebut sampai saat ini belum terjadi sebuah penyelesaian hukum. Di
dalam hukum kepala sekolah tersebut dapat di pidana mati, penjara, kurungan, denda.

Sedangkan kasus korupsi yang dilakukan oleh penjabat-penjabat tinggi di Indonesia


yang merampas uang negara untuk kepentingan pribadi tidak mendapatkan perlakuan
penegakan hukuman, bahkan kasus tersebut tidak dimasukkan ke dalam pengadilan
negeri. Kasus tersebut tidak ditangani secara lebih lanjut, salah satu alasan yang
mendasar mengenai kasus korupsi yang tidak dilanjutkan adalah para aparat penegak
hukum memperoleh suap-menyuap dari para koruptor.

Harusnya keadilan hukum berfungsi sebagai menjaga dan melindungi setiap hak dan
kewajibanmanusia, menciptakan suatu keteraturandan ketertibansosial, dan
kesejahteraan sosial. Dalam pancasila sila ke-5 yaitu berbunyi “Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia”dalam sila pancasila tersebut bahwa keadilan sangat penting
dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Hubungan Hukum Obyektif dengan Ketertiban atau Kepastian

Setelah keadilan hukum tercapai maka hal yang selanjutnya harus terpenuhi adalah
kepastian hukum. Tanpa adanya kepastian hukum masyarakat tidak pernah mengerti
apakah perbuatan yang akan masyarakat perbuat benar atau salah dan tanpa adanya
suatu kepastian hukum akan menimbulkan berbagai permasalahan yaitu timbulnya
suatu keresahan dalam masyarakat. Dengan adanya suatu kepastian hukum maka
masyarakat memperoleh perlindungan dari tindakan yang sewenang-wenang dari
berbagai aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya yang ada dalam
masyarakat. Kepastian hukum menjadi tolak ukur dalam kejelasan hak dan kewajiban
mereka di dalam suatu hukum. Kepastian hukum harus dapat mengedepankan
pembuktian sehingga hukum tersebut dapat di pertanggungjawabkan.

Contoh: Secara eksplisit untuk menjamin adanya kepastian hukum terhadap


pelanggaran atau tindakan kejahatan lingkungan, diatur dalam UU No. 32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dengan tujuan
menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan melalui upaya preventif
maupun represif.

Pencegahan-pencegahan tersebut tidak terlepas dari adanya masalah-masalah


lingkungan seperti: penggundulan hutan, lahan kritis, menipisnya lapisan ozon,
pemanasan global tumpahan minyak dilaut, ikan mati di anak sungai karena zat-zat
kimia, dan punahnya species tertentu. Kompleksitas permasalahan tersebut apabila
tidak terakomodir oleh norma, maka akan memberikan kerugian semata terhadap
lingkungan.Karenanya kepastian hukum berkaitan dengan efektivitas hukum.
Sehingga kepastian hukum hanya terjamin, bila pemerintah Negara mempunyai
sarana-sarana yang secukupnya untuk memastikan peraturan-peraturan yang ada.

Hubungan dengan hukum obyektif, karena salah satu aspek dari asas kepastian hukum
adalah penegakan hukum. Peran yang komprehensif dari aparat penegak hukum tidak
dapat di biarkan begitu saja. Komponen yang terdiri Polisi, Jaksa, Advokat, dan
Hakim mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Perlu adanya sinergi
dalam meramu hukum saat diimplementasikan sehingga tidak adanya ketimpangan-
ketimpangan saat mempraktikkan hukum di dalam pengadilan maupun diluar
pengadilan.

Hubungan Hukum Obyektif dengan Kemanfaatan.

Eksistensi hukum bertujuan untuk memberikan keamanan dan ketertiban serta


menjamin adanya kesejahteraan yang diperoleh masyarakat dari Negara sebagai
payung bermasyarakat.Kaidah hukum di samping kepentingan manusia terhadap
bahaya yang mengancamnya, juga mengatur hubungan di antara manusia.

Masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum.


Hukum itu untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakkan hukum harus
memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai justru karena
hukumnya dilaksanakan atau ditegakkan malah akan timbul keresahan di dalam
masyarakat itu sendiri.

Putusan hakim akan mencerminkan kemanfaatan, manakalah hakim tidak saja


menerapkan hukum secara tekstual belaka dan hanya mengejar keadilan semata, akan
tetapi juga mengarahkan pada kemanfaatan bagi kepentingan pihak-pihak yang
berperkara dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Artinya, hakim dalam
menerapkan hukum, hendaklah mempertimbangkan hasil akhirnya nanti, apakah
putusan hakim tersebut membawa manfaat atau kegunaan bagi semua pihak.

Dari uraian diatas hubungan hukum obyektif dengan kemanfaatan pada keperntingan
hubungan di antara manusia/masyarakat dalam pelaksanaan hukum.

Contoh Kasus:
Kasus tindakan asusila yang mana pelaku dan korban merupakan anak di bawah
umur. Majelis hakim dalam putusan tersebut menjatuhkan hukuman pidana penjara
kepada tiga terdakwa masing-masing selama dua tahun tiga bulan, denda masing-
masing sebesar enam puluh juta rupiah, dengan ketentuan jika denda tersebut tidak
dibayar maka digantikan dengan Wajib Latihan Kerja selama tiga bulan.
Menurut majelis hakim penjatuhan pidana terhadap para terdakwa bukan untuk
pembalasan dendam melainkan suatu bentuk pemberian bimbingan dan pengayoman
serta suatu terapi kejut.Melalui penjatuhan pidana tersebut diharapkan para terdakwa
tidak mengulangi perbuatannya di masa datang dan perasaan malu yang dihadapi
keluarga terdakwa dapat dimaknai sebagai sebuah sanksi moral. Menurut Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1997 penjatuhan pidana terhadap pelaku anak tidak berbeda
dengan pelaku dewasa, salah satunya dengan pidana penjara. Namun, dalam kasus ini
mengingat pelaku masih di bawah umur hendaknya perkara ini bisa diselesaikan di
luar pengadilan yaitu melalui diversi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

2. Bagaimana penerapan hukum subyektif berkaitan dengan pengenaan sanksi  berikan


contohnya?.

Hukum Subyektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum obyektif dan berlaku
terhadap orang tertentu atau lebih.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja (2000: 27-29). Sanksi hukum diatur oleh hukum,
yang berupa Undang – Undang atau ketentuan perundangan lainnya.

Sanksi hukum adalah sanksi atau hukuman yang dijatuhkan pada seseorang yang
melanggar hukum. sanksi hukum yang diatur oleh hukum baik mengenai ruang
lingkup, cara pelaksanaan, takaran berat ringaannya hukuman maupun upaya yang
tersedia bagi tersangka untuk membuktikan ketidak salahan atau tuduhan untuk

Penerapan hukum subjektif atau dijatuhkannya sanksi bisa mengakibatkan


perampasan kebebasan (hukuman penjara), harta benda (penyitaan), kehormatan
bahkan jiwa seseorang (hukuman mati), maka dalam negara hukum penerapan sanksi
hukum dilakukan menurut tata cara (proses) yang dituangkan dalam hukum acara
pidana yang dimaksudkan agar negara dalam melaksanakan haknya untuk
memaksakan ditaatinya hukum tetap memperhatikan hak tertuduh sebagai
warganegara dan martabatnya sebagai manusia

Ada tiga jenis sanksi yang diterapkan menurut hukum di Indonesia yaitu :

1) Sanksi Pidana Hukum pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang
berlaku di suatu negara, yang mendasarkan aturan – aturan untuk :
- Menentukan perbuatan – perbuatan mana yang boleh dilakukan, dilarang,
dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi
barang siapa melanggar larangan tersebut.
- Menentukan kapan dan dalam hal – hal apa kepada mereka yang telah
melanggar larangan – larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana
sebagaimana yang telah diancamkan.
- Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat
dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan
tersebut. (Moeljatno: 2000: 1).
2) Sanksi Perdata Hukum perdata modern yang tercantum dalam BW baru (Niew
Burgelijk Wetboek) berkenaan dengan tujuan dan struktur yang sepenuhnya
berasal dari hukum romawi, tetapi asas – asas subtansialnya sebagai demikian
ditetapkan (terbentuk) pada masa sekitar revolusi perancis.

Contoh Penerapan Sanksi :

- Sanksi bagi wajib pajak yang terlambat memberikan laporan tentang objek
pajak menurut Pasal 10ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994
Tentang Pajak Bumi dan Bangunan,dapat dikenakan denda administrasi
sebesar 25% dari pajak terutang. Adapun bagiwajib pajak yang terlambat
membayar pajak bumi dan bangunan setelah jatuh tempo,berdasarkan
Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang
PajakBumi dan Bangunan, dapat dikenakan denda administrasi sebesar 2%
dari pajak terutang maksimal 24 bulan sejak jatuh tempo.
- Penerapa sanksi tindak pidana illegal logging. Oknum polisi kehutanan,
terlibat kasus illegal logging di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Tersangka dikenai Pasal 83 ayat (1) huruf b jo pasal 12 huruf e dan/atau
Pasal 88 ayat (1) huruf a jo Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan hutan (P3H) jo 55 ke 1 KUHP,
dengan ancaman hukuman paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda
paling banyak Rp 2,5 miliar.

Kesimpulan:
Dari deskripsi diaras, kadang-kadang tujuan hukum yang begitu ideal disalahgunakan
sehingga hukum dijadikan sebagai kendaraan politik untuk melegitimasi dan
melanggengkan kekuasaan, hukum dijadikan alat untuk menindas kelompok lemah
serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Kini hukum seakan jauh dari
tujuannya untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

Namun pada kurun waktu yang lain, hukum menyimpang jauh dari tujuannya, bahkan
bertentangan dengan tujuan hukum itu sendiri jika hukum dijadikan sebagai alat
kekuasaan oleh para penguasa serta hukum dijadikan sebagai kendaraan politik oleh
para politisi. Dalam kondisi demikian masyarakat menjadi korban, yang benar
disalahkan dan yang salah dibenarkan. Apabila masyarakat kecil (lemah) melakukan
pelanggaran dihukum, sedangkan para penguasa dibiarkan bebas walaupun
melakukan berbagai pelanggaran hukum, termasuk korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN) yang merugikan dan menyengsarakan masyarakat.

Referensi:
1) Dasar hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
2) Nandang Alamsah Delianoor (cetakan ke : 2020). Pengantar Ilmu Hukum/PTHI.
Uviversitas Terbuka: Tangerang. (ISIP4130/Modul 1-5)
3) Apeldoorn, L. J. V. (2000). Pengantar ilmu hukum(Inleiding tot de studie van het
Nederlandse recht). Sadino, O (Ed). Cetakan kedua puluh delapan. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita.
4) Sutedjo, W., & Melani. (2013). Hukum pidana anak edisi revisi. Cetakan
keempat. Bandung: PT. Refika Aditama.