Anda di halaman 1dari 5

TUGAS 3

ILMU HUKUM/PTHI
SISTEM HUKUM INDONESIA

NAMA : BAIQ NUNUNG RIANA HAPSARI


NIM : 041020573

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL, DAN ILMU POLITIK (FHISIP)


UNIVERSITAS TERBUKA
Tugas 3

1. Apa saja komponen sistem hukum menurut Lawrence M. Friedman? Bagaimana prakteknya
komponen sistem hukum tersebut pada saat ini di Indonesia?

Menurut Friedman ada tiga komponen sistem hukum (Three Elemens of Legal Sistem),
merupakan faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu:

1) Komponen struktur hukum

Struktur hukum adalah bagian dari sistem hukum yang bergerak di dalam suatu
mekanisme, berkaitan dengan lembaga pembuat undang-undang, pengadilan, penyidikan,
dan berbagai badan yang diberi wewenang untuk menerapkan dan menegakkan hukum.

Struktur hukum berkaitan dengan lembaga-lembaga atau institusi-institusi pelaksana


hukum atau dapat dikatakan sebagai aparat penegakan hukum. Dalam hal hukum
pidana, maka lembaga yang bertugas melaksanakannya terwujud dalam suatu
sistem peradilan pidana (criminal justice system), yang pada hakikatnya
merupakan sistem kekuasaan menegakkan hukum pidana yang terdiri atas kekuasaan
penyidikan, kekuasaan penuntutan, kekuasaan mengadili dan menjatuhkan putusan
serta kekuasaan pelaksanaan putusan/pidana oleh badan/aparat pelaksana/eksekusi.
dalam prakteknya proses penegakan hukum pidana, unsur-unsur tersebut terwujud
dalam Badan Peradilan, Kepolisian, Badan Penuntutan (Kejaksaan), Lembaga
Pemasyarakatan, Penasihat Hukum, Konsultan Hukum, serta badan-badan penyelesaian
sengketa hukum diluar pengadilan.

2) Komponen substansial hukum

Substansial hukum adalah merupakan keseluruhan asas hukum, norma hukum dan
aturan hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang berada dalam sistem
tersebut.

Prakteknya terhadap putusan pengadilan dalam hal substansi hukum pidana di


Indonesia, maka induk perundang-undangan pidana materil kita adalah Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan induk Perundang-Undangan Pidana Formil
(hukum acaranya) adalah Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

3) Komponen Budaya Hukum (Budaya hukum masyarakat)

Budaya hukum adalah sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum, kepercayaan, nilai,
pemikiran, serta harapannya atau dapat juga dikatakan bahwa budaya hukum adalah keseluruhan
jalinan nilai sosial yang berkaitan dengan hukum beserta sikap tindak yang mempengaruhi hukum,
seperti adanya rasa malu, rasa bersalah apabila melanggar hukum dan sebagainya.

Dalam praktenya pemikiran banyak orang bahwa berbicara masalah perkawinan berarti
berbicara dalam ruang lingkup hukum privat atau dalam permasalahan hukum perkawinan
yang diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tanpa adanya sanksi pidana,
artinya bahwa perkawinan adalah masalah hukum Perdata. Sedangkan dalam ketentuan hukum
positif yang berlaku di Indonesia, ternyata kasus perkawinan khususnya poligami bisa
mempunyai konsekwensi pada hukum publik, dalam hal ini hukum pidana. Dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai perkawinan diatur pada Bab XIII mengenai
kejahatan tentang asal usul dan perkawinan.

2. Sistem hukum apa yang berlaku di Indonesia? berikan contohnya!

Sistem hukum menururt Bellefroid adalah keseluruhan aturan yang disusun secara terpadu
berdasarkan asas tertentu. Menurut Crince Le Roy aturan hukum membentuk dirinya dalam sistem
hukum dan merupakan suatu pohon hukum (the science trees of the law).

Menurut Sunaryati Hartono, pengertian hukum nasional dipakai dalam arti berbeda dengan
pengertian hukum positif, tetapi lebih mengandung arti ius constituendum Indonesia atau sistem
hukum yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia, yang memproklamirkan kemerdekaannya pada
tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya menurut Bagir Manan, legal existing Sistem Hukum Indonesia
itu ada empat yaitu, sistem hukum barat berdasarkan asas konkordansi dari Belanda, sistem hukum
adat terdiri dari banyak sistem hukum, sistem hukum agama, khususnya sistem hukum islam, dan
terakhir sistem hukum yang lahir sejak kita merdeka atau disebut sistem hukum nasional.

Sedangkan jika dilihat dari segi kebiasan atau tradisi hukum negara-negara di dunia maka
terdiri dari empat sistem hukum yakni:

a. Sistem Hukum Anglo Saxon atau Common Law

Adalah sistem hukum dimana yang diutamakan adalah hukum yang tidak tertulis yang
berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang digunakan oleh hakim dalam
menyelesaikan perkara-perkara yang ditujukan kepadanya.

Karakteristik dari sistem Common Law adalah: Yurisprudensi sebagai sumber hukum utama,
dianutnya Doktrin Stare Decicis/Sistem Preseden dan Adversary System dalam proses peradilan.

Contoh:

- Yurisprudensi putusan MK, tidak hanya semata-mata putusan badan peradilan di


lingkungan MA, yurisprudensi MK selain mengikat kepada MK jelas akan mengikat juga
kepada badan peradilan lain sepanjang terkait dalam suatu permasalahan hukum
konkret.
- Sebagai suatu wujud penemuan hukum, dasar yang biasa dijadikan rujukan bagi
lahirnya yurisprudensi adalah Pasal 5 ayat (1) UU No. 48/2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman yang menyatakan: “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali,
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat.” Maksud yang terkandung dari pasal itu adalah agar putusan hakim
sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

b. Sistem Hukum Eropa Kontinental (Civil Law)


Sistem hukum yang berlaku di negara-negara Eropa Daratan, seperti Belanda dan negara-
negara bekas jajahannya yang menempatkan peraturan perundang-undangan sebagai sendi utama
sistem hukumnya atau hukum dikodifikasikan sebagai peraturan perundang-undangan tertulis yang
dikodifikasikan secara sempurna dan lengkap.

Berdasarkan Karakteristik Sistem Civil Law adalah: Adanya sistem kodifikasi, Hakim tidak
terikat dengan presiden atau doktrin stare decicis, sehingga undang-undang menjadi rujukan
hukumnya yang utama dan Sistem peradilannya bersifat inkuisitorial.

Contoh:

- Semua peraturan perundang-undangan yang berlaku selama UUDS 1950 diambil alih oleh
UUD 1945 dengan Dekrit Presiden berdasarkan pasal 2 aturan peralihan UUD 1945 dan
peraturan yang dibuat setelah Dekrit Presiden 1959 itu, berlaku sampai sekarang.
- Kodifikasi di bidang hukum acara pidana (UU No. 8 Tahun 1981), tetapi tidak mempunyai
kodifikasi di bidang hukum acara perdata. Dan kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana Militer (KUHPM). dinyatakan secara eksplisit di dalam Pasal 150 KUHPM (UU. No. 39
Tahun 1947 jo. S. 1934 No. 167).

c. Sistem Hukum Sosialis

Sistem hukum yang berlaku di negara Cina dan beberapa negara bekas Uni Sovyet yang
beranggapan bahwa hukum adalah alat (instumen) kebijakan ekonomi dan sosial. Sistem hukum
sosialis yang berbasis doktrin komunis mengabaikan prinsip-prinsip keadalian moral.

d. Sistem Hukum Adat

Sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara asia
lainnya. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum adat tertulis yang tumbuh dan berkembang
dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya.

Contoh:

- Oleh Pemerintah Kolonial Belanda hukum adat diakui secara resmi merupakan hukum
bagi bangsa Indonesia dan sejajar dengan hukum Eropah melalui Pasal 131 ayat (6) IS
yang menyatakan ”hukum bangsa Indonesia adalah hukum positif bagi bangsa Indonesia”.
- Aliran mazhab sejarah menghendaki agar hukum adat yang merupakan pencerminan
nilai-nilai kebudayaan asli Indonesia dipertahankan untuk mencegah terjadinya
pembaratan dalam hukum.
- Dalam Pasal 18B ayat (2) Amandemen UUD 1945 menyebutkan ”Negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
- Pasal 2 UU Perkawinan, “(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam Islam pernikahan dianggap sah
apabila telah terpenuhi rukun dan syarat pernikahan termasuk pencatatannya. Hal ini diatur
Pasal 14 KHI jo Pasal 2 UU Perkawinan.
Dari uraian diatas, dikaitkan dengan penerapan hukum di Indonesia baik undang-undang, peraturan-
peraturan, KUHAP maka saya berpendapat sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan antara
Sistem Hukum Anglo Saxon atau Common Law, Sistem Hukum Eropa Kontinental (Civil Law) dan
Hukum Islam sebagai basis fundamental.

Referensi:

1. Dasar hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.


2. Nandang Alamsah Delianoor (cetakan ke-1:2020). Pengantar Ilmu Hukum/PTHI.
Uviversitas Terbuka: Tangerang. (ISIP4130/Modul 9-10).
3. Mochtar Kusumaatmadja. 1986. Hukum Masyarakat dan Pembinaan Hukum
Nasional. Bina Cipta: Bandung.
4. Mahdi Syahbandir. Jurnal Kedudukan Hukum Adat dalam Sistem Hukum. Kanun No. 50
Edisi April 2010.

Anda mungkin juga menyukai