Anda di halaman 1dari 4

SESAT PIKIR

TUGAS 1

LOGIKA

NAMA : BAIQ NUNUNG RIANA HAPSARI


NIM : 041020573

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL, DAN ILMU POLITIK (FHISIP)

UNIVERSITAS TERBUKA
SESAT PIKIR

Orang akan berpikir ketika mendengar istilah sesat pikir dipahami sesuatu yang
menimbulkan kekacauan. Namun dalam konsep logika kesesatan berpikir atau “Sesat Pikir”
(fallacy), bisa terjadi karena dalam pembuatan kesimpulan tidak mengikuti prinsip penalaran
dan prinsip-prinsip penyimpulan atau melanggar kaidah-kaidah logika. Dalam
berargumentasi, seseorang tidak mungkin lepas dari sebuah kesalahan, tapi bukan
kesalahan dalam substansi melainkan kesalahan dalam logika. Kesalahan-kesalahan dalam
argumentasi tersebut dalam ilmu logika dikenal dengan Logical Fallacy atau dalam bahasa
Indonesia disebut sesat pikir.
Kesesatan berfikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak
logis, salah arah dan menyesatkan. Ini karena adanya suatu gejala  berfikir yang disebabkan
oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.
Menurut Noor Muhsin Bakry, et.al (2019: 2.38) Sesat Pikir adalah kekeliruan dalam
penalaran berupa pembuatan kesimpulan dengan langkah-langkah yang tidak sah karena
melanggar kaidah-kaidah logika maupun berupa berupa perbincangan yang bercorak
menyesatkan karena sengaja atau tidak sengaja memasukan hal-hal yang membuat
kesimpulannya tidak sah.
Menurut E. Sumaryono (1999) Kesesatan berfikir adalah proses penalaran atau
argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah dan menyesatkan. Ini karena adanya
suatu gejala  berfikir yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa
memperhatikan relevansinya.
Irving M. Copy (dalam Noor Muhsin Bakry, et.al (2019: 2.38) menyatakan ada dua
macam kelompok sesat pikir, yaitu sesat pikir formal (formal fallacies) dan sesat pikir in
formal (in formal fallacies). Sesat Pikir In Formal (in formal fallacies) terbagi dua yaitu, sesat
pikir pertalian dan sesat pikir kemagmagandaan.
Selanjutnya The Liang Gie (dalam Noor Muhsin Bakry, et.al (2019: 2.38-2.40)
menyatakan menurut para ahli logika sesat pikir dibedakan tiga jenis yaitu, sesat pikir formal
(formal fallacies), sesat pikir verbal (verbal fallacies) dan sesat pikir material (material
fallacies).
1. Sesat Pikir Formal
Kekeliruan penalaran berdasarkan bentuk atau sering disebut sesat pikir menurut logika
(logical fallancies). Sesat pikir ini banyak macamnya misalnya “mengiyakan suatu pilihan
dalam suatu susunan pikir pengatauan yang merangkum”. pengatauan yang merangkum
disebut silogisme disjungsi inklusif. Pangkal pikirnya berupa pernyataan pengatauan yang
dapat merangkum yang dirumuskan dalam bentuk p atau q, sehingga dapat disusun dalam
susunan berpikir yaitu :
P atau q
dan, ternyata p
maka, kesimpulannya bukan q
Kesimpulannya perbincangan diatas tidak senantiasa benar, misalnya:
- Peserta kursus adalah mahasiswa atau guru,
- dan, ternyata mahasiswa yang kursus,
- Berarti, dia bukan guru.
- Kritis adalah reinterpretasi atas pandangan universalitas atau partikularitas,
- Ternyata reinterpretasi atas pandangan partikularitas,
- Berarti, kritis.
Penyimpulan seperti perbincangan diatas meragukan. Sesat pikir ini sering dilakukan
orang sebab mirip dengan cara menetapkan salah satu bagian kesimpulannya mengingkari.
2. Sesat Pikir Verbal
Sesat Pikir Verbal adalah kekeliruan penalaran berdasarkan kata-kata, yakni bertalian
dengan penggunaan yang salah atau kemagnagandaan dari sesuatu kata, dan dikenal juga
sebagai sesat pikir arti kata (semantic fallacies). Sesat pikit ini banyak ragamnya, salah satu
misalnya “susunan pikir terdiri dari atas empat konsep”. Aturannya tiga konsep, tetapi
konsep perbandingannya bermaknaganda.
Dalam silogisme kategori (categorical syllogism) ada tiga konsep, yaitu konsep sebagai
objek, konsep sebagai predikat, dan konsep tengah yang menjembatani subjek dan predikat
tersebut menjadi kesimpulan. Ini terjadi karena dipergunakan konsep yang bermaknaganda
bagi konsep tengahnya, misalnya :
Semua rumah mempunyai halaman
Modul logika ini mempunyai halaman
Maka, modul logika ini adalah rumah.
Kata “halaman” yang berperan sebagai konsep tengah yang bermaknaganda sehingga
susunan pikir tersebut mengandung empat konsep, yakni rumha, mempunyai halaman
(pelataran), buku, dan mempunyai halaman (pagina).
3. Sesat Pikir Material
Sesat Pikir Material adalah kekeliruan penalaran berdasarkan isi, yaitu menyangkut
kenyataan-kenyataan yang sengaja atau tidak sengaja disesatkan.
Sesat pikir ini banyak ragamnya, misalnya “perumuman yang tergesa-gesa”.
Sesat pikir ini masuk kategori perbincangan induksi karena membuat umum sesuatu hal
berdasarkan hal-hal khusus, misalnya:
Setelah mengamati sekeranjang apel yang dijajakan di tepi jalan dan melihat
sekelompok apel diatas cukup besar-besar.
Kemudian menyimpulkan bahwa setiap apel dalam keranjang itu besar-besar.
Percakapan diatas tergolong perumuman yang terlampau luas dari bahan yang ada dan
jauh melampau lingkup bahan pembuktiannya atau tergesa-gesa dalam menyimpulkan.
Penetapan sampel yang jumlahnya sangat terbatas berdasarkan berita di televisi, misalnya:
Kita melihat banyak Kepala Daerah yang ditangkap KPK karena korupsi, kemudian
menyimpulkannya, semua Kepala Daerah ditangkap KPK karena korupsi.

Pemilihan sampel yang salah dalam berita di televisi tersebut menjadi sebab terjadinya
sesat pikir.

Referensi :

1) Muhsin Bakry (dkk). (2019). Pengantar Logika. Yogyakarta: Universitas Terbuka.


2) http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/
3) The Liang Gie (dkk). (1979). Pengantar Logika Modern. Yogyakarta: Karya Kencana.
4) E. Sumaryono (1999). Dasar-Dasar Logika. Yogyakarta: Kanisius.