Anda di halaman 1dari 61

Mini Project

Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap

Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah Kerja

Puskesmas Air Tawar Padang.

Oleh:

dr. Arif kumala

dr. Nova Yunetti

dr.Saddam Kusuma

dr.Wulan Octaviani

Dokter Pendamping:

dr. Sayang

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PUSKESMAS AIR TAWAR

SUMATERA BARAT

2019
DAFTAR ISI

DaftarIsi............................................................................................................... i

Bab IPendahuluan

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 3

1.3 Tujuan Mini Project ................................................................................. 3

Bab II TinjauanPustaka

2.1 Stunting ................................................................................................... 4

2.1.1 Pendahuluan .................................................................................... 4

2.1.2 Epidemiologi Stunting ..................................................................... 5

2.1.3 Faktor Resiko Stunting .................................................................... 9

2.1.4 Upaya Pencegahan Stunting ............................................................ 13

2.2 Defenisi Gizi............................................................................................ 15

2.2.1 Prinsip Gizi Seimbang ..................................................................... 18

2.2.2 Gizi Seimbang Anak Usia Dini ....................................................... 20

2.2.3 Makanan Anak Usia Dini ................................................................ 21

2.2.4 Mengatasi Susah Makan Anak ........................................................ 30

Bab IIILaporanKegiatan

3.1 Metode..................................................................................................... 31

3.2 Desain Penelitian..................................................................................... 31

i
3.3 Subjek Penelitian .................................................................................... 32

3.4 Penyajian Data ........................................................................................ 33

3.5 Variabel Penelitian .................................................................................. 33

3.6 Defenisi Operasional ............................................................................... 33

3.7 Prosedur Penelitian ................................................................................. 34

3.8 Tempat dan Waktu .................................................................................. 34

Bab IV Gambaran Umum

3.1 Geografis.................................................................................................. 35

3.2 Demografi ............................................................................................... 36

3.3 Kondisi Sosial Budaya dan Ekonomi ..................................................... 36

3.4 Sarana dan Prasarana Umum .................................................................. 37

3.5 Sarana dan Prasarana Khusus ................................................................. 39

3.6 Ketenagaan .............................................................................................. 39

3.7 Visi, Misi, Strategi, dan Tujuan............................................................... 41

3.8 Fungsi Puskesmas.................................................................................... 42

Bab V Hasil Penelitian

5.1 Karakteristik Balita.................................................................................. 43

5.2 Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap

Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting.............................................. 43

Bab VI Pembahasan

6.1 Jenis Kelamin......................................................................................... 45

6.2 Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap

Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting............................................ 45

ii
Bab VII Kesimpulan dan Saran

7.1 Kesimpulan ............................................................................................ 48

7.2 Saran ...................................................................................................... 48

DaftarPustaka...................................................................................................... 49

Lampiran.............................................................................................................. 55

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan

atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau

keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain

seusianya (WHO, 2006). Ini adalah indikator kesehatan anak kekurangan gizi

kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi

lingkungan dan keadaan sosial ekonomi. Asupan zat gizi adalah salah satu faktor

yang berpengaruh langsung terhadap stunting (Hestuningtyas, 2014). Stunting

terjadi lantaran kekurangan gizi dalam waktu lama pada masa 1.000 hari pertama

kehidupan (HPK) (Kementrian desa, 2017). Pertumbuhan fisik berhubungan

dengan faktor lingkungan, perilaku dan genetik, kondisi sosial ekonomi,

pemberian ASI serta kejadian BBLR merupakan faktor-faktor yang berhubungan

dengan kejadian stunting.

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius

terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang

menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya kasus anak balita pendek

(stunting). Prevalensi stunting (tinggi badan per umur)di Indonesia menurut hasil

Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 mencapai 37,2 %. Hasil Riskedas tahun 2018

balita stunting sebanyak 30,8% yaitu balita sangat pendek sebanyak 11,5% dan

balita pendek 19,3% meningkat lebih tinggi daripada tahun 2007 yaitu balita

pendek sebanyak 18%. Pemantauan Status Gizi Tahun 2016 stunting pada balita

1
mencapai 27,5 % sedangkan batasan WHO < 20%. Hal ini berarti pertumbuhan

yang tidak maksimal dialami oleh sekitar8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3

anak Indonesia mengalamistunting. Lebih dari 1/3 anak berusia di bawah 5 tahun

di Indonesia tingginyaberada di bawah rata-rata (Kementrian desa, 2017).

Hasil Riskesdas menunjukkan bahwa angka stunting di Sumatera Barat

menurun dari tahun 2013 sebanyak 39,5% menjadi 29% pada tahun 2018. Jumlah

anak stunting di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar dengan 3 desa tahun 2018

yaitu sebanyak 197 anak. 3kelurahan tahun 2019 yaitu sebanyak 157 anak jumlah

stunting terbanyak didapatkan di KelurahanAir Tawar Barat sebanyak 127 anak

pada tahun 2018 dan 105 anak dari bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2019

dan yang kedua terbanyak di KelurahanUlak Karang Utara sebanyak 53 anak pada

tahun 2018 dan 37 dari bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2019 (Data

PPDGM status BALITA PUSKESMAS AIR TAWAR, 2018, 2019).

Upaya untuk meningkatkan status gizi balita salah satunya adalah dengan

memaksimalkan promosi kesehatan dengan memberikan komunikasi, informasi,

edukasi, (kie) dan konseling gizi serta memberdayakan keluarga agar sadar gizi

dan menumbuhkan pola hidup sehat. untuk itu perlu dilakukan penyuluhan

kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan tindakan ibu tentang gizi

dan berpengaruh terhadap perubahan status gizi balita setelah dilakukan

penyuluhan.

Dalam suatu penelitian didapatkan oleh Viona tahun 2006 pendidikan gizi

dapat meningkatkan pemahaman dalam memilih makanan yang sehat dan bergizi

berdasarkan latar belakang diatas kami tertarik melakukan penelitian mengenai

2
Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap Peningkatan

Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar Padang.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang

terhadap Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas

Air Tawar Padang.

1.3 Tujuan Mini Project

1. Mengetahui karateristik belita stunting wilayah kerja Puskesmas Air

Tawar berdasarkan jenis kelamin

2. Mengetahui pengaruh pemberian penyuluhan menu makanan seimbang

terhadap peningkatan tinggi badan balita stunting wilayah kerja Puskesmas

Air Tawar Padang

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Pendahuluan

Stunting atau malnutrisi kronik merupakan bentuk lain dari kegagalan

pertumbuhan. Definisi lain menyebutkan bahwa pendek dan sangat pendek adalah

status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau

tinggi badan menurut umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted

(pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Kategori status gizi berdasarkan

indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur

(TB/U) anak umur 0-60 bulan dibagi menjadi sangat pendek, pendek, normal

tinggi. Sangat pendek jika Z-score < -3 SD, pendek jika Z-score -3 SD sampai

dengan -2 SD normal jika Z-score -2 SD sampai dengan 2 SD dan tinggi jika Z-

score > 2 SD. Seorang anak yang mengalami kekerdilan (stunted) sering terlihat

seperti anak dengan tinggi badan yang normal, namun sebenarnya mereka lebih

pendek dari ukuran tinggi badan normal untuk anak seusianya. Stunting sudah

dimulai sejak sebelum kelahiran disebabkan karena gizi ibu selama kehamilan

buruk, pola makan yang buruk, kualitas makanan juga buruk, dan intensitas

frekuensi menderita penyakit sering. Berdasarkan ukuran tinggi badan, seorang

anak dikatakan stunting jika tinggi badan menurut umur kurang dari -2 z score

berdasarkan referensi internasional WHO-NCHS. Stunting menggambarkan

kegagalan pertumbuhan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama, dan

dihubungkan dengan penurunan kapasitas fisik dan psikis, penurunan

4
pertumbuhan fisik, dan pencapaian di bidang pendidikan rendah. (The World

Bank, 2010;UNICEF)

2.1.2Epidemiologi Stunting

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang

dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga

tahun terakhir pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah

gizi lainnya seperti gizi kurang kurus, dan gemuk.Prevalen balita pendek

mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun

2017.

Gambar 2.1 Masalah Gizi di Indonesia Tahun 2015-2017

Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia

sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%.

Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu

5
menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil

Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang

sudah diupayakan olehpemerintah.

Gambar 2.2 Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2007-2013

Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi kegiatan dan

capaian program. Berdasarkan hasil PSG tahun 2015, Prevalen balita pendek di

Indonesia adalah29%. Angka ini mengalami penurunan padat ahun 2016 menjadi

27,5%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada

tahun 2017.

6
Gambar 2.3 Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2015-2017

Prevalensi balita sangat pendek dan pendek usia 0-59 bulan di Indonesia tahun

2017 adalah 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu

prevalensi balita sangat pendek sebesar 8,5% dan balita pendek sebesar 19%.

Provinsi dengan prevalensi tertinggi balita sangat pendek dan pendek pada usia 0-

59 bulan tahun 2017 adalah Nusa Tenggara Timur, sedangkan provinsi dengan

prevalensi terendah adalah Bali.

7
Gambar 2.4. Peta Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2017

Menurut WHO, prevalensi balita pendek menjadi masalah kesehatan

masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih.Karenanya persentase balita pendek

di Indonesia masih tinggi dan merupakan masalah kesehatan yang harus

ditanggulangi. Dibandingkan beberapa negara tetangga, prevalensi balita pendek

di Indonesia juga tertinggi dibandingkan Myanmar (35%), Vietnam (23%),

Malaysia (17%), Thailand(16%) dan Singapura (4%) (UNSD, 2014). Global

Nutrition Report tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara,

di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting

dan overweight pada balita.

2.1.3 Faktor Resiko Stunting

1. Pendidikan Ibu

Penelitian mengenai hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian

stunting yang dilakukan di Kenya memberikan hasil bahwa anak-anak yang

dilahirkan dari ibu yang berpendidikan beresiko lebih kecil untuk mengalami

malnutrisi yang dimanifestasikan sebagai wasting atau stunting daripada anak-

anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak berpendidikan. Hasil yang sama juga

diperlihatkan dari hasil penelitian yang dilakukan di Mesir, dimana semakin tinggi

8
tingkat pendidikan ibu, resiko anak yang dilahirkan stunting semakin kecil.

Grossman dan Kaestner (1997) juga mengatakan bahwa ibu yang berpendidikan

akan lebih mudah menerima dan memproses informasi kesehatan dibandingkan

dengan ibu yang tidek berpendidikan. (Frost et al, 2004; Zottarelli et al, 2007;

Shrestha & Findeis, 2007; Abuya et al,2010).

2. Sanitasi

Sanitasi dasar adalah sarana sanitasi rumah tangga yang meliputi sarana

buang air besar, sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga.

(Kepmenkes No 852 tentang strategi nasional sanitasi total berbasis

masyarakat).Sanitasi yang buruk merupakan penyebab utama terjadinya penyakit

di seluruh dunia, termasuk didalamnya adalah diare, kolera, disentri, tifoid, dan

hepatitis A.Sanitasi yang baik sangat penting terutama dalam menurunkan risiko

kejadian penyakit dan kematian, terutama pada anak-anak. Sanitasi yang baik

dapat terpenuhi jika fasilitas sanitasi yang aman, memadai dan dekat dengan

tempat tinggal tersedia. (Water and Sanitation Program-East Asia and The Pasific)

3. Air Bersih

Anak-anak yang bertahan hidup dengan sumber air minum yang

terkontaminasi kemungkinan besar akan menderita malnutrisi, stunting, dan

perkembangan otak (intelektual) yang terhambat. (Clean Water ChangedLives)

4. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Berat bayi lahir rendah (BBLR) diartikan sebagai berat bayi ketika lahir

kurang dari 2500 gram dengan batas atas 2499 gram. Banyak faktor yang

mempengaruhi kejadian BBLR terutama yang berkaitan dengan ibu selama masa

9
kehamilan. Berat badan ibu kurang dari 50 kg, keluarga yang tidak harmonis

termasuk didalamnya adalah kekerasan dalam rumah tangga dan tidakadanya

dukungan dari keluarga selama masa kehamilan, gizi ibu buruk terutama selama

masa kehamilan, kenaikan berat badan selama kehamilan kurang dari 7 kg, infeksi

kronik, tekanan darah tinggi selama kehamilan, kadar gula darah ibu tinggi selama

kehamilan, merokok, alkohol, dan genetik merupakan beberapa faktor penyebab

bayi yang dilahirkan BBLR (Reyes & Manalich, 2005).

Berat bayi lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat

yang banyak terjadi di negara-negara miskin dan berkembang.Diperkirakan 15 %

dari seluruh bayi yang dilahirkan merupakan bayi dengan berat lahir rendah. Berat

bayi lahir rendah erat kaitannya dengan mortalitas dan morbiditas janin dan bayi,

penghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif dan penyakit kronik ketika

menginjak usia dewasa seperti diabetes tipe II, hipertensi, dan jantung (UNICEF,

2004).

5. ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah kondisi dimana bayi hanya diberi ASI saja, tanpa

tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan

tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur

nasi, dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu

setidaknya selama 4 bulan, namun rekomendasi terbaru UNICEF bersama World

Health Asssembly (WHA) dan banyak Negara lainnya adalah menetapkan jangka

waktu pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Pemberian makanan padat atau

10
tambahan yang terlalu dini dapat menggangu pemberian ASI eksklusif serta

meningkatkan angka kesakitan pada bayi (Roesli, 2000)

6. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan landasan yang penting

dalam proses pertumbuhan. Di seluruh dunia sekitar 30 % anak dibawah 5 tahun

yang mengalami stunting merupakan konsekuensi dari praktek pemberian

makanan yang buruk dan infeksi berulang. Meskipun bayi mendapatkan ASI dari

ibu secara optimal, namun jika setelah berusia 6 bulan tidak mendapatkan

makanan pendamping yang cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas, anak-

anak akan tetap mengalami stunting. Diperkirakan sekitar 6% atau 600.000

kematian anak dibawah 5 tahun dapat dicegah dengan memastikan bahwa anak-

anak tersebut diberi makanan pendamping secara optimal.(WHO, 2011;

UNICEF,2008)

7. Asupan Makanan (Konsumsi Energi danProtein)

Asupan makanan berkaitan dengan kandungan nutrisi (zat gizi) yang

terkandung didalam makanan yang dimakan.Dikenal dua jenis nutrisi yaitu

makronutrisi dan mikronutrisi.Makronutrisi merupakan nutrisi yang menyediakan

kalori atau energi, diperlukan untuk pertumbuhan, metabolisme, dan fungsi

tubuhlainnya.Makronutrisi ini diperlukan tubuh dalam jumlah yang besar, terdiri

dari karbohidrat, protein, dan lemak (WHO, 2011; Macronutriens, 2008).Tanpa

nutrisi yang baik akan mempercepat terjadinya stunting selama usia 6-18 bulan,

11
ketika seorang anak berada pada masa pertumbuhan yang cepat dan

perkembangan otak hampir mencapai 90% dari ukuran otak ketika anak tersebut

dewasa(Children at Risk of Stunting and Wasting).

8. Pengeluaran Rumah Tangga (Ekonomi)

Besarnya pendapatan yang diperoleh atau diterima rumah tangga dapat

menggambarkan kesejahteraan suatu masyarakat. Di negara yang sedang

berkembang, pemenuhan kebutuhan makanan masih menjadi merupakan prioritas

utama, dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan gizi (Consumption and

Cost)Hartoyo et al. (2000). Bahwa keluarga terutama ibu dengan pendapatan

rendah biasanya memiliki rasa percaya diri yang kurang dan memiliki akses

terbatas untuk berpartisipasi pada pelayanan kesehatan dan gizi seperti Posyandu,

Bina Keluarga Balita dan Puskesmas, oleh karena itu mereka memiliki resiko

yang lebih tinggi untuk memiliki anak yang kurang gizi (Martianto et al., 2008).

2.1.4 Upaya Pencegahan Stunting

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan

prevalensibalita pendek di Indonesia sebesar 36,8% walau pada tahun 2010,

terjadi sedikit penurunan, namun prevalensi balita pendek kembali meningkat

pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Hasil yang tidak jauh berbeda dengan

Pemantauan status gizi, terjadi peningkatan prevalensi balita pendek dari 2016 ke

2017 dengan hasil akhir 29,7%. Hal ini memperlihatkan bahwa balita pendek kian

meningkat jumlahnya, oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan

12
stunting pada kelompok umur terutama pada 1000 hari pertama kehidupan anak

(Pusdatin Kemenkes, 2018).

Untuk mengatasi permasalahan gizi ini,pada tahun 2010 PBB telah

meluncurkan programScalling Up Nutrition (SUN) yaitu sebuah upayabersama

dari pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan visi bebas rawan pangan dan

kuranggizi (zero hunger and malnutrition), melaluipenguatan kesadaran dan

komitmen untukmenjamin akses masyarakat terhadap makananyang bergizi. Di

Indonesia, Gerakan scalingup nutrition dikenal dengan Gerakan

NasionalPercepatan Perbaikan Gizi dalam rangka SeribuHari Pertama Kehidupan

(Gerakan 1000 HPK)dengan landasan berupa Peraturan Presiden(Perpres) nomor

42 tahun 2013 tentang GerakanNasional Percepatan Perbaikan Gizi dengan

sasaran masyarakat, khususnya remaja, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah

usia dua tahun, kader-kader masyarakat seperti Posyandu, Pemberdayaan

Kesejahteraan Keluarga, dan/atau kader-kader masyarakat yang sejenis, perguruan

tinggi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, Pemerintah

dan Pemerintah Daerah, media massa, dunia usaha, dan lembaga swadaya

masyarakat, dan mitra pembangunan internasional (Rosha BC, 2016; Perpres No.

42 Tahun 2013). Dalam upaya penanggulangan stunting, terdapat 2 model

intervensi, yaitu intervensi gizi sensitif, merupakan berbagai kegiatan

pembangunan di luar sektor kesehatan, sasarannya adalah masyarakat umum dan

intervensi gizi spesifik, yang pada umumnya kegiatan ini dilakukan oleh sektor

kesehatan.

13
Gambar 2.5 Pendekatan Multisektor dan Intervensi Terintegrasi dalam Strategi

(Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, 2018)

Intervensi spesifik merupakan kegiatan yang ditujukan langsung atau khusus

pada kelompok sasaran tertentu seperti balita, ibu hamil, remaja putri, dan

lainnya. Dalam The Lancet seri Ibu dan Anak menunjukkan bahwa terdapat 13

intervensi gizi yang telah terbukti dapat mengurangi masalah stunting sebesar

sepertiga dari prevalensi di dunia, yaitu intervensi melalui suplementasi dan

fortifikasi, mendukung pemberian ASI eksklusif, penyuluhan mengenai pola

makan anak, pengobatan untuk kekurangan gizi akut,serta pengobatan infeksi.

Intervensi ini terbukti menghasilkan manfaat yaitu pengurangan biayadengan

rasio 15,8 berbanding 1,7.

Salah satu intervensi spesifik yangdilakukan di Kota Bogor yaitu melalui

kegiatanposyandu. Posyandu merupakan salah satu bentukupaya kesehatan

bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari danbersama


14
masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada

masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita.

Pada beberapa negara yang telah berhasil menjalankan dan meyebarluaskan

intervensi gizi menunjukkan keberhasilan didukung oleh sistem kesehatan yang

berfungsi dengan efektif serta keterlibatan kader kesehatan berbasis dari

masyarakat. Salah satu tujuan kegiatan posyandu adalah sebagai upaya

pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Penelitian Hidayat dan

Jahari menunjukkan bahwa di antara rumah tangga balita yang memanfaatkan

pelayanan kesehatan di posyandu memiliki proporsi balita berstatus gizi baik

(indeks BB/U) dan tidak kurus/ normal(indeks BB/TB) lebih besar.

2.2Definisi Gizi

Zat gizi dari makanan merupakan sumber utama untuk memenuhi

kebutuhan anak tumbuh kembang optimal sehingga dapat mencapai kesehatan

yang paripurna, yaitu sehat fisik, sehat mental, dan sehat sosial. Oleh karena itu,

slogan umum bahwa pencegahan adalah upaya terbaik dan lebih efektif-efisien

daripada pengobatan, harus benar-benar dilaksanakan untuk mencegah

terjadinya masalah gizi pada anak. Hal ini pula yang menjadi tujuan utama

Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015 yang dicanangkan

UNICEFtercapainya keadaan gizi dan kesehatan yang baik sertaseimbang.

Setiap harinya, anak membutuhkan gizi seimbang yang terdiri dari asupan

karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Asupan kandungan gizi tersebut

dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi yang berguna untuk pertumbuhan

otak (intelegensia) dan pertumbuhan fisik. Untuk mengetahui status gizi dan

15
kesehatan anak secara menyeluruh dapat dilihat mulai dari penampilan umum

(berat badan dan tinggi badan), tanda-tanda fisik, motorik, fungsional, emosi dan

kognisi anak. Berdasarkan pengukuran antropometri, maka anak yang sehat

bertambah umur, bertambah berat, dan tinggi dikaitkan dengan kecukupan

asupan makronutrien, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin D, yodium, danzink.

Indonesia memiliki kesepakatan tanda anak sehat bergizi baik yang terdiri dari 10

kriteria, yaitu:

1. Bertambah umur, bertambah padat, bertambah tinggi. Anak dengan

asupan gizi baik akan mempunyai tulang dan otot yang sehat dan kuat karena

konsumsi protein dan kalsiumnya cukup. Jika kebutuhan protein dan

kalsiumterpenuhi, massa tubuh pun akan bertambah dan anak akan

bertambahtinggi.

2. Postur tubuh tegap dan otot padat. Anak yang memiliki massa otot yang

padat dan tubuh tegap didapat adalah ciri anak yang tidak kekurangan protein

dan kalsium. Mengonsumsi susu dapat membantu anak mencapai postur

idealkelaknya.

3. Rambut berkilau dan kuat. Protein dari daging, ayam, ikan dan kacang-

kacangan dapat membuat rambut menjadi lebih sehat dan kuat. Rambut yang

sehat dapat melindungi kepala sianak.

4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat. Kulit dan kuku bersih pada anak

menandakan asupan vitamin A,C,E dan mineralnya terpenuhi. Makanan yang

kaya mineral didapatkan dari kangkung, bayam, jambu buji, jeruk, mangga

danlainnya.

5. Wajah ceria, mata bening dan bibir segar. Mata yang sehat dan bening

16
didapat dari konsumsi vitamin A dan C seperti tomat dan wortel. Bibir segar

didapat dari vitamin B, C dan E seperti yang terdapat dalam wortel, kentang,

udang, mangga,jeruk.

6. Gigi bersih dan gusi merah muda. Gigi dan gusi sehat dibutuhkan untuk

membantu menceerna makanan dengan baik, seperti kalsium dan vitamin B.

7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur. Nafsu makan baik dilihat

dari intensitas anak makan, idealnya yaitu 3 kali sehari. Buang air besar pun

harusnya setiap hari agar sisa makanan dalam usus besat tidak menjadi racun

bagi tubuh yang dapat mengganggu nafsumakan.

2.2.1 Prinsip Gizi Seimbang

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat

gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan

memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik,

kebersihan, dan berat badan ideal. Gizi seimbang di Indonesia divisualisasikan

17
dalam bentuk Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) yang sesuai dengan budaya

Indonesia. TGS dirancang untuk membantu setiap orang memilih makanan

dengan jenis dan jumlah yang tepat sesuai dengan berbagai kebutuhan menurut

usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan kesehatan

(hamil, menyusui, aktivitas fisik,sakit).

Gambar 2.6 Piramida Gizi Seimbang

TGS terdiri dari beberapa potongan tumpeng, yaitu:

 1 potongan besar: golongan makanankarbohidrat,

 2 potongan sedang dan 2 potongan kecil yang merupakan golongan

sayuran danbuah,

 2 potongan kecil diatasnya yang merupakan golongan protein hewani dan

nabati,dan

 1 potongan terkecil di puncak yaitu gula, garam, dan minyak yang

dikonsumsi seperlunya.

 Potongan TGS juga dilapisi dengan air putih yang idealnya dikonsumsi 2

liter atau 8 gelassehari.

 Luasnya potongan TGS ini menunjukkan porsi konsumsi setiap orang per

hari. Karbohidrat dikonsumsi 3 - 8 porsi, sayuran 3 - 5 porsi sedikit lebih

besar dari buah, buah 2-3 porsi, serta protein hewani dan nabati 2 - 3porsi.

 Konsumsi ini dibagi untuk makan pagi, siang, dan malam. Kombinasi

makanan per harinya perludilakukan.

 Dibagian bawah TGS terdapat prinsip gizi seimbang yang

lain,yaitupolahidup aktif dengan berolahraga, menjaga kebersihan dan

18
pantauberat badan.

Prinsip gizi seimbang harus diterapkan sejak anak usia dini hingga usia lanjut.

Ibu hamil, remaja perempuan serta bayi sampai usia 2 tahun merupakan

kelompok usia yang penting menerapkan prinsip gizi seimbang ini. Kelompok

ini adalah kelompok kritis tumbuh kembang manusia yang akan menentukan

masa depan kualitas hidup manusia. Khusus untuk ibu hamil, akan mengalami

periode window of opportunity, kesempatan singkat untuk melakukan sesuatu

yang menguntungkan dan memanfaatkan zat gizi untuk kesehatan ibu dan

janin.Periode ini berkisar dari sebelum kehamilan hingga anak berumur dua

tahun. Prinsip gizi seimbang dinilai efektif dilakukan dalam periode ini karena

jika calon ibu kekurangan gizi dan berlanjut hingga ibu hamil, maka janin akan

kekurangan gizi dan dapat menimbulkan beban ganda masalah gizi. Anak

kurang gizi lambat berkembang, mudah sakit, kurang cerdas, serta ketika

dewasa kegemukan dan beresiko terkena penyakit degeneratif.

2.2.2 Gizi Seimbang Anak Usia Dini

Air susu ibu (ASI) adalah satu-satunya makanan yang mengandung semua zat

gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi 0-6 bulan. ASI eksklusif tanpa

ditambah cairan atau makanan lain merupakan makanan pertama dalam

kehidupan manusia yang bergizi seimbang. Namun sesudah usia 6 bulan

kebutuhan gizi bayi meningkat dan harus ditambah bahan makanan lain sehingga

ASI tidak lagi bergizi seimbang. Sampai usia 2 tahun merupakan masa kritis dan

termasuk dalam periode window of opportunity. Pada periode kehidupan ini sel-

sel otak tumbuh sangat cepat sehingga saat usia 2 tahun pertumbuhan otak sudah

mencapai lebih 80% dan masa kritis bagi pembentukan kecerdasan. Oleh karena
19
itu jika pada usia ini kekurangan gizi maka perkembangan otak dan kecerdasan

terhambat dan tidak dapat diperbaiki. Pola makan bergizi seimbang sangat

diperlukan dalam bentuk pemberian ASI dan MP-ASI yang benar.

Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi

perkembangan motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar

dengan cara berjalan kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada

usia ini anak juga mulai sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan

terhadap penyakit infeksi seperti ISPA dan diare sehingga anak butuh zat gizi

tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal. Sementara ketika

masuk usia 3 tahun, anak mulai bersifat ingin mandiri dan dalam memilih

makanan sudah bersikap sebagai konsumen aktif dimana anak sudah

dapatmemilihdanmenetukanmakananyaningindikonsumsinya.Padarentangusia3-5

tahun kerap terjadi anak menolak makanan yang tidak disukai dan hanya

memilih makanan yang disukai sehingga perlu diperkenalkan kepada mereka

beranekaragammakanan.

Saat ini banyak ditemukan anak yang terlalu gemuk sekaligus kurus, sekitar

14% balita di Indonesia kurus (6% nya sangat kurus) dan sekitar 12% gemuk.

Aktivitas bermain yang meningkat dan mungkin mulai masuk sekolah membuat

anak menunda waktu makan, bahkan orang tua yang tidak memperhatikan bisa

saja membuat anak minta makan menjelang tidur saat ia terlalu lelah beraktivitas

seharian dan baru lapar ketika malam. Pada usia ini anak juga mulai banyak

bermain dengan teman-temannya sehingga mudah tertular penyakit sehingga perlu

ditanamkan kebiasaan makan beragam dan bergizi serta pola hidup bersih.

2.2.3 Makanan Anak Usia Dini


20
2.2.2.1 Makanan untuk usia 6-12bulan

Usia 6 bulan. Pada usia ini sudah diberikan makanan tambahan pendamping

ASI (MP-ASI). Hal ini sudah boleh dilakukan karena bayi sudah mempunyai

reflek mengunyah dengan pencernaaan yang lebih kuat. Makanan tambahan

diberikan dalam bentuk lumat dan rendah serat, misalnya pisang yang

dilumatkan, sari jeruk, labu, papaya dan biscuit yang dilumatkan dengan

susu. Pola pemberian dilakukan secara bertahap sebanyak 2 sendok makan

per waktu makan dan diberikan 2 kali sehari. aKenalkan setiap jenis

makanan 2-3 hari baru lanjutkan mengenalkan jenis makanan yanglain.

Usia 7 bulan. Pada usia 7 bulan mulai dikenalkan bubur tim saring dengan

campuran sayuran dan protein hewani-nabati. Sehingga pola menunya terdiri

dari buah lumat, bubur susu dan timsaring.

Usia 8 bulan. Mulai usia 8 bulan sudah bisa diberi tim cincang untuk

membantu merangsang pertumbuhan gigi, meskipun belum tumbuh gigi,

bayi dapat mengunyah dengan gusi. Untuk meningkatkan kandungan gizi,

makanan pada usia ini dapat ditambah minyak. Minyak akan menambah

kalori dan meningkatkan penyerapan vitamin A dan zat gizilain.

Usia 9 bulan. Secara bertahap mulai dikenalkan makanan yang lebih kental

dan berikan makanan selingan 1 kali sehari. Makanan selingan berupa:

bubur kacang hijau, pudding susu, biscuit susu.

Usia 10 bulan. Kepadatan makanan ditingkatkan mendekati makanan

keluarga, mulai dari tim lunak sampai akhirnya nasi pada usia 12 bulan.

Apa yang harus diperhatikan dalam pemberian MP-ASI?

21
- Buatlah makanan dari bahan segar yang bebas pestisida danpengawet.

- Jangan menggunakan MSG, untuk menggantinya dapat digunkan keju

ataukaldu.

- Kenalkan gula dan garam saat usia 12bulan.

- Variasikan sehingga anak tidak bosan sehingga kelak anak terhindar dari

kesulitan makan di usiaberikutnya.

- Jika membeli makanan bayi dalam kemasan perhatikan tanggal

kadaluarsa.

22
2.2.2.2 Makanan anak usia 1-5tahun

Pada usia ini anak sudah harus makan seperti pola makan keluarga, yaitu:

sarapan, makan siang, makan malam dan 2 kali selingan. Porsi makan pada usia

ini setengah dari porsi orang dewasa. Memasuki usia 1 tahun pertumbuhan mulai

lambat dan permasalahan mulai sulit makan muncul. Sementara itu aktivitas

mulai bertambah dengan bermain sehingga makan dapat dilakukan sambil

bermain. Namun selanjutnya akan lebih baik kalau makan dilakukan bersama

seluruh anggota keluarga dengan mengajarkannya duduk bersama di meja

makan.

Beberapa hal yang harus diperhaikan dalam pemberian makan anak usia 1-5

tahun:

 Selalu variasikan makanan yang diberikan meliputi makanan pokok, lauk

pauk, sayuran dan buah. Usahakan protein yang diberikan juga berganti

sehingga semua zat gizi terpenuhi.

 Variasikan cara mengolah sehingga semua bahan makanan dapat masuk,

misalnya anak tidak mau makan bayam maka bayam dapat dibuat dalam telur

dadar.

 Berikan air putih setiap kali habis makan.

 Hindari memberikan makanan selingan mendekati jam makan utama.

 Ketika masuk usia 2 tahun jelaskan manfaat makanan yang harus dimakan

sehingga dapat mengurangi rasa tidak sukanya.


23
Kebutuhan Gizi dan Anjuran Pembagian Makan Sehari

Usia 6-8 bulan: 650 kalori

Bahan makanan Jumlah Selingan Selingan


Pagi Siang Sore
atau penukar porsi (p) pagi sore
Nasi ½ ¼ ¼
Daging
Tempe
Sayur
Buah 1 ½ ½
Susu ½ ½
Minyak
ASI sekehendak
Taburia 1 sachet sehari
Total sehari 650 84 97 28

Contoh set hidangan:

Energi
Waktu Hidangan Bhn makanan Berat (g) Porsi (p)
(kalori)
Bubur Tepung beras 12 ¼
Pagi 117
Susu bubuk 10 2/5
susu
Jam 10 Buahjeruk Jeruk manis 25 ½
52
pepaya Pepaya 60 ½

24
Usia 9-11 bulan: 900 kalori

Bahan makanan Jml Selinganpa Selingans


Pagi Siang Sore
atau penukar porsi (p) gi ore
Nasi 1 ¼ ¼
Daging ½
Tempe ½
Sayur ½
Buah 1½ ½ ½
Susu ½ ½
Minyak ½
ASI sekehendak
Taburia 1 sachet sehari
Total sehari 900 122 36 123 25 143

Usia 12 bulan: 1100 kalori

Bahan makanan Jml porsi Selingan Selingan


Pagi Siang Sore
atau penukar (p) pagi sore
Nasi 2 ½ ½ 1 ½
Daging 1 ¼ ½ ¼
Tempe 1 ¼ ½ ¼
Sayur 1 ¼ ½ ¼
Buah 2 1 1
25
Susu ½ ½
Minyak 1½ ½ ½ ½
ASI Sekehendak
Taburia 1 sachet sehari
Total sehari 1100 144 50 218 126 253

Usia 1-2 tahun: 1300 kal

Bahan makanan Jml Selingan Selingan


Pagi Siang Sore
atau penukar porsi(p) pagi sore
Nasi 2¼ 7/10 ¼ 7/10 6/10
Daging 1¼ ¼ ¼ ½ ¼
Tempe 1½ ½ ½ ½
Sayur 1½ ¼ ¼ ½ ½
Buah 2 ½ 1 ½
Susu
Minyak 1 ½ ¼ ¼
ASI Sekehendak
Taburia 1 sachet sehari
Total sehari 1300 221 149 261 87 235

26
Usia 3-5 tahun: 1400kal

Bahan makanan Jml porsi Selingan Selingan


Pagi Siang Sore
atau penukar (p) pagi sore
Nasi 3 1 1 1
Sayur 2 ¾ ¾ ½
Buah 2½ ½ 2
Tempe 2 1 1
Daging 3 1 1 1
Minyak 2 ½ ¾ ¾
Gula 2 1 1
Susu 1 1
Total sehari 1400 293,75 75 381,25 275 375

Patokan porsi yang digunakan:

1. Nasi 1 porsi= 3/4 gls=100 g=175kal

2. Sayur 1 porsi= 1 gls=100 g=25kal

3. Buah 1 porsi=1-2 bh=50-190 g=50kal

4. Tempe 1 porsi= 2 ptg sdg=50 g=75kal

5. Daging 1 porsi= 1 ptg sdg= 35 g=75kal

6. Minyak 1 porsi= 1 sdt=5 g=50kal

7. Gula 1 porsi= 1 sdm=13 g=50kal

8. Susu bubuk (tanpa lemak) 1 porsi=4 sdm=20 g=75kal

29
2.2.4 Mengatasi Susah Makan Anak

Susah makan merupakan problem yang dihadapi oleh hampir semua ibu-

ibu. Terkadang anak menolak makanan yang diberikan tanpa tahu apa

penyebabnya. Susah makan dapat pula terjadi karena pemberian makan kepada

anak sudah salah sejak awal. Misalnya anak terlalu lama diberi ASI dan

pengenalan M-ASI terlambat, tidak dikenalkan beragam bahan pangan, terlalu

banyak diberi susu formula atau banyak diberi makanan jajanan. Mengatasi

susah makan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah

memberikan suasana makan yang nyaman dan menyenangkan, perhatikan pula

hal-halberikut:

 Ajakan makan harus disampaikan dengan penuh kasih sayang. Lebih ideal

jika disertai dengan menanamkan pemahaman tentang artimakanan.

 Coba dengan menambahkan hal-hal menyenangkan seperti sambil menonton

TV, mendengarkan music atau bermain tetapi usahakan anak tetap duduk

dan sambilberkomunikasi.

 Coba ajak makan bersamatemannya.

 Ajak makan bersama seluruh anggota keluarga dan duduk bersama di meja

makan. Biarkan anak makan sendiri dengan alat makan yang sama dengan

anggota keluarga yanglain.

 Buat jadwal makan secara teratur sehingga lama kelamaan anak akan kenal

dan tahu waktunyamakan.

30
BAB III

LAPORAN KEGIATAN

3.1 Metode

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Quasi

Experiment. Untuk menilai Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan

Seimbang terhadap Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah

Kerja Puskesmas Air Tawar Padang.

3.2 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah dengan rancangan one group pre

and post test design, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan

tujuan utama melihat pengaruh Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu

Makanan Seimbang terhadap Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di

Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar Padang berdasarkan grafik TB/U pada

grafik Z-Score. Pengolahan Data dengan menyajikan data statistik dasar

berupa rerata dan simpangan baku. Untuk mengetahui Pengaruh Pemberian

Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap Peningkatan Tinggi Badan

Balita Stunting dan dilakukan uji statistik T-pait Test jika sebaran data tidak

normal maka akan dilakukan uji alternatif Wilcoxon.

31
3.3 Subjek Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua balita

stunting yang berada di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar

2. Ukuran Sampel

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah multistage random

sampling, yakni mengambil sebagian dari anggota populasi yang

memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan sampel penelitian.

Berdasarkan Rumus didapatkan nilai sampel minimal adalah 80 orang.

Dengan metode sampling :

Z α 2 XPXQ
n=[ ]
d2

Keterangan :

n = Jumlah Sampel
P = Proporsi , proporsi balita stunting Indonesia 0,3
Q = 1-P = 0,7
d = Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan
0,01)
α = Tingkat kemaknaan (ditetapkan 1,96)

32
3. Metode Pengumpulan Sampel

Metode pengumpulan sampel diperoleh melalui data primer dan

sekunder yang diperoleh dari laporan puskesmas mengenai jumlah

penduduk dan jumlah balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Air

Tawar Padang yang memnuhi kriteria inklusi dan ekslusi.Kriteria

inklusi adalah balita yang memiliki TB/U <-2SD, datang ke Posyandu

pada hari H. Kriteria ekslusi adalah balita yang tidak datang kembali

setelah 1 bulan ke Posyandu.

3.4 Penyajian Data

Data yang telah terkumpul akan ditabulasi dan ditampilkan dalam bentuk

tabel, diagram dan penjelasan naratif.

3.5 Variabel Penelitian

Pada penelitian ini, yang menjadi variabel penelitian adalah balita stunting

yang tercatat pada periode 2018 hingga Juni 2019.

3.6 Definisi Operasional

1. Stunting

Definisi : Gabungan dari kategori status giz sangat pendek dan

pendek. Sangat pendek jika Z-Score <3SD, dan pendek

jika Z-Score -3SD- 2SD (Kemenkes)

Alat Ukur : Antropometri

Cara Ukur : Dengan menggunakan WHO-Antropometri TB/U dengan

memperhatikan umur, tanggal survey dan jenis kelamin

Hasil Ukur : Jumlah stunting

33
Skala Ukur : Numerik

2. Kenaikan Tinggi Badan

Definisi : Naiknya kurva TB/U pada skala antropometri WHO Z-

Score setelah 1 bulan penelitian

Alat Ukur : Antropometri

Cara Ukur : Dengan menggunakan WHO-Antropometri TB/U dengan

memperhatikan umur, tanggal survey dan jenis kelamin

Hasil Ukur : Jumlah anak yang mengalami peningkatan tinggi badan

Skala Ukur : Numerik

3.7 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan penelitian,

pengambilan data penelitian, dan pelaporan hasil penelitian.

Persiapan penelitian diawali dengan penentuan tema dan judul penelitian

dengan berdiskusi dengan pihak Puskesmas Air Tawar Padang dan dimulai

pengambilan data sekunder dari data laporan tahunan dan register Balita Stunting

di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar. Hasil yang diperoleh kemudian direkap

dan disusun dalam penyusunan laporan penelitian.

3.8 Tempat dan Waktu

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2019. Pengambilan

data dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar Kota Padang Provinsi

SumateraBarat.

34
BAB IV

GAMBARAN UMUM

4.1 Geografis
Puskesmas Air Tawar mempunyai wilayah kerja kurang lebih 3,28 km 2
dengan akses jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat,
yang terdiri dari tiga (3) kelurahan:
a) Kelurahan Air Tawar Barat
b) Kelurahan Air Tawar Timur
c) Kelurahan Ulak Karang Utara
Puskesmas Air Tawar berbatasan dengan :
a) Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Koto Tangah
b) Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah kerja puskesmas Ulak
Karang
c) Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Nanggalo
d) Sebelah barat berbatasan dengan samudra Indonesia

PETA WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR TAWAR

35
4.2 Demografi
Wilayah Puskesmas Air Tawar dengan jumlah penduduk sekitar 31.182
jiwa dengan jumlah laki laki sebanyak 15.597 jiwa dan perempuan sebanyak
15.585 jiwa.Puskesmas Air Tawar terdiri dari 23 RW dan 95 RT serta mempunyai
3 LMPK .
Adapun rincian data penduduk perkelurahan seperti pada Tabel 2.1
dibawah ini:
LUAS JUMLAH PENDUDUK JUMLAH
NO KEL WILAYAH RUMAH
L P Total
(km2) TANGGA
1 ATB 1,10 8114 7.437 15.551 1.980
2 ATT 0,60 4239 5.097 9.336 423
3 UKU 1,50 3244 3.051 6.295 756
JUMLAH   3,2 15.597 15.585 31.182 3.159
Tabel 2.1 Distribusi Penduduk perkelurahan tahun 2018

Dari tabel 2.1 didapat data sasaran program tahun 2018 sebagai berikut di tabel
2.2
No Kel Bumil Bufas Bayi 6-11 bln Bayi 0-11 bln Balita 0 -5 thn

L P Total L P Total L P Total


1 ATB 304 294 33 34 67 141 138 279 683 677 1360
2 ATT 123 117 84 84 168 56 58 114 272 264 536
3 UKU 185 176 50 49 99 84 84 168 409 400 809
Jumlah 612 587 167 167 334 281 280 561 1364 1341 2705
Tabel 2.2 Data Sasaran Program Tahun 2018

4.3 Kondisi Sosial Budaya dan Ekomoni


Dari sisi hubungan sosial kemasyarakatan, warga Kecamatan Padang Utara
khususnya wilayah kerja Puskesmas Air Tawar termasuk cukup harmonis dalam
pluralitas budaya dan agamanya. Dengan semakin banyaknya penduduk
pendatang, sikap mental dan tingkat kepedulian warga masyarakat atas
lingkungannya perlu ditingkatkan melalui kegiatan kerja bakti dan kegiatan
gotong royong lainnya.Untuk mengantisipasi dampak sosial akibat remaja putus

36
sekolah atau angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan, perlu adanya
pembinaan/pelatihan ketrampilan.
Kelompok utama pekerjaan masyarakat di wilayah Puskesmas Air Tawar
adalah PNS/TNIPOLRI, wiraswasta, nelayan dan lain-lain sedangkan tingkat
pendidikan yang utama adalah SLTA, SLTP, SD, PT

4.4 Sarana dan Prasarana Umum


Sarana dan Prasarana umu yang dimiliki Puskesmas Air Tawar tahun 2018 :
1. Sarana ibadah: mesjid dan mushalla.
2. Sarana-sarana lingkungan: Perumahan,Tempat-Tempat Umum
(TTU), Tempat Pengolahan Makanan (TPM), Sarana Air Bersih
(SAB) dan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL).
3. Sarana pendidikan: dari PAUD hingga PT, SLB dan PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini)
4. Sarana pelayanan kesehatan terdiri dari sarana kesehatan milik
pemerintah, UKBM dan swasta. Sarana kesehatan pemerintah selain
Puskesmas Air Tawar juga terdapat 3 Puskesmas Pembantu,
Sedangkan UKBM berupa Posyandu balita berjumlah 31 posyandu.
5. Untuk sarana pelayanan kesehatan swasta antara lain adalah :
a) Klinik Swasta : 3
b) Dokter Praktek Umum : 10 Orang
c) Dokter Praktek Spesialis : 1 Orang
d) Bidan Praktek Swasta : 5 Orang
e) Kader aktif : 87 Orang
f) Posyandu Balita : 25
g) Posyandu Lansia : 6
h) Apotik : 6
i) Toko Obat : 6
j) Batra : 15

Data Sarana Umum dan Lingkungan


No Sarana umum dan Jumlah

37
lingkungan
1 TPM 80
2 TTU 39
3 Sarana Air minum 27
4 Jamban sehat 3928
5 SPAL 3815
Tabel 2.3 Data Sarana Umum dan Lingkungan Tahun 2018
Wilayah kerja Puskesmas Air Tawar memiliki sarana pendidikan dari
berbagai jenjang, mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
lanjutan hingga perguruan tinggi yang tersebar di tiga kelurahan. 1 perguruan
tinggi Negeri dan 2 swasta terletak di kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Air
Tawar.
Semua murid dan siswa di semua sarana pendidikan dasar dan lanjutan
adalah sasaran pelayanan kesehatan Puskesmas Air Tawar, melalui program-
program Promkes, UKS, UKGS, KIA-Anak dan Imunisasi.
Data sarana pendidikan Tahun 2018 secara rinci dapat dilihat pada Tabel
2.4. di bawah ini :

Kel TK SD SMP SMA


PT
ATB 6 8 2 2 1
ATT 3 5 0 0 1
UKU 0 2 1 1 1
jumlah 9 15 3 3 3
Tabel 2.4 Data Sarana Pendidikan Tahun 2018
Dilihat dari jumlah sekolah ini terlihat dengan 3 perguruan tinggi,
sehingga jumlah mahasiswa cukup banyak dari populasi di wilayah kerja
Puskesmas dengan mobilitas yang agak tinggi.

4.5 Sarana dan prasarana Khusus


Untuk melaksanakan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat dalam
wilayah kerja, Puskesmas Air Tawar memiliki sarana dan prasarana yang cukup.
Secara umum sarana dan prasarana tersebut meliputi:

38
1. Sarana fisik gedung
2. Sarana transport
3. Sarana pelayanan dan penunjang pelayanan
4. Sarana penunjang administrasi dan sistem informasi
Puskesmas Air Tawar memiliki 1 buah Puskesmas induk, dan 3 buah
Puskesmas pembantu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar yaitu :
1. Puskesmas Pembantu Air Tawar Barat I
2. Puskesmas Pembantu Air Tawar Barat II
3. Puskesmas Pembantu Air Tawar Timur
Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas Air
Tawar mempunyai satu buah kendaraan roda empat (Ambulance) dan 2 (dua)
buah kendaraan roda dua.

4.6 Ketenagaan
Data Ketenagaan Tahun 2018
Status
Jenis Kelamin
Kepegawaian
No Jenis Tenaga Pendidikan Jumlah
Lk Pr Kontrak
PNS
BLUD
1 Dokter Umum S1 2 0 2 1 1
2 Dokter Gigi S1 2 0 2 2 0
3 Ka TU S1 1 0 1 1 0
S1 1 0 1 1 0
4 Perawat D3 3 0 3 3 0
SPK 2 0 2 2 0
5 Bidan D3 8 0 8 8 0
D4 1 0 1 1 0
6 Analis
D3 1 0 1 1 0
7 Apoteker S1 1 0 1 1 0
2
8 AA SMF/SAA 2 0 2 0
(1 tubel)
9 Sanitasi D4 1 0 1 1 0
10 Perawat Gigi D3 1 0 1 1 0
11 Gizi D4/D3 2 0 2 2 0
S1 1 0 1 1 0
12 Administrasi
D3 2 0 2 0 2
13 Rekam Medis D3 1 0 1 1 0
14 Akuntan S1 1 0 1 0 1
15 Supir SLTP 1 1 0 0 1 /honor
Jumlah 34 1 33 29 5

39
Tabel 2.5 Data Ketenagaan Puskesmas Tahun 2018

Tahun 2018 Puskesmas Air Tawar mengalami perubahan jumlah


ketenagaan yaitu 1 orang perawat pensiun, 2 orang pindah ke instansi lain dan
tambahan 1 orang rekam medis.

4.7 Visi, Misi, Strategi dan Tujuan


1. Visi Puskesmas
Visi Puskesmas Air Tawar :
Masyarakat Air Tawar Yang Peduli Sehat, Mandiri, Berkualitas, dan
Berkeadilan.

2. Misi Puskesmas
Misi Puskesmas Air Tawar :
a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.
c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan yang
berkualitas.
d. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan
melayani.

3. Strategi Puskesmas

40
Untuk mewujudkan Visi dan misi Puskesmas Air Tawar .Puskesmas Air

Tawar terus berusaha memberikan pelayanan prima dengan strategi:

a. Peninjauan kembali peran dan fungsi lintas sektor dalam

pemberdayaan masyarakat

b. Penerapan SOP dalam setiap kegiatan di Puskesmas

c. Pengembangan kualitas SDM di Puskesmas.

d. Kelengkapan kebijakan kebijakan dalam administrasi Puskesmas

4. Tujuan Puskesmas
Sebagai tujuan akhir yang akan dicapai dari penjabaran visi, misi dan
strategi Puskesmas Air Tawar adalah meningkatnya kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Air Tawar sehingga tercipta lingkungan sehat .

5. Struktur Organisasi
Kegiatan yang akan dilakukan pada program Puskesmas tergambar
dalam struktur organisasi Puskesmas sebagai wadah penanggung jawab dari
pelaksanaan masing-masing program yang tercermin dalam struktur
organisasi Puskesmas yang dapat kita lihat pada lampiran laporan tahunan ini.

4.8 Fungsi Puskesmas


1. Sebagai Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.
Puskesmas selalu berupaya menyelenggarakan dan memantau
penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat
dan dunia usaha diwilayah kerjanya sehingga berwawasan dan
mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu aktif memantau dan
melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan program diwilayah
kerjanya khususnya untuk pembangunan kesehatan dan pencegahan
penyakit dan pemulihan kesehatan.
2. Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat

41
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan, masyarakat, pemuka
masyarakat, dan keluarga serta dunia usaha memiliki kesadaran,
kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk
hidup sehat, berperan dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan,
pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat dengan
memeperhatikan kondisi dan situasi masyarakat setempat.
3. Sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama, yang memberikan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan seimbang yang
menjadi tanggung jawab Puskesmas dan meliputi pelayanan kesehatan
perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

42
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Balita

Subjek penelitian sebanyak 80orang balita yang diketahu stunting terdiri

dari 48 (60%) orang berjenis kelamin laki-laki dan 32 orang berjenis kelamin

perempuan. Hasil ini bisa dilihat di Tabel 5.1 dan Tabel 5.2

Tabel 5.1 Karakteristik Balita Stunting berdasarkan Jenis Kelamin di Wilayah


Kerja Puskesmas Air Tawar

Jenis Kelamin f %

Laki-Laki 48 60
Perempuan 32 40
Jumlah 80 100

5.2Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan


SeimbangterhadapPeningkatan Tinggi Badan Balita Stunting

Pada tabel 5.3 hampir seluruh balita setelah dilakukan penyuluhan

didapatkan peningkatan tinggi badan yaitu sebanyak 77 orang balita (96,3%).

Tabel 5.3 Perubahan Status Gizi (TB/U) Berdasarkan Umur Balita setelah
Penyuluhan
Status Peningkatan f %
Meningkat 96.3
Tidak meningkat
Jumlah 100.0

Berdasarkan analisis uji statistik dengan uji wilcoxon, didapatkan rata-rata

peningkatan tinggi badan balita stunting dengan hasil sangat bermakna (p<0,01),

maka dapat dikatkan bahwa ada pengaruh yang sangat bermakna mengenai

pengaruh penyuluhan terhadap peningkatan tinggi badan balita stunting. Pada

43
bulan ke 2 rata-rata tinggi badan balita adalah 80,50 dan mengalami peningkatan

setelah bulan ke 6 yaitu rata-rata 116,17. Hasil ini dapat dilihat pada tabel 5.4

Tinggi Badan Mean SD Media p-value


n
Tinggi badan bulan ke-2 80.50 9.82 25
Tinggi Badan bulan ke-6 116.1 146.95 88.5 <0.01
7

Tabel 5.4 Rata-Rata Nilai Tinggi Badan Balita Sebelum dan sesudah Peyuluhan

44
BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian dari 80 anak anak stunting di dapatkan data

jenis kelamin pada anak yang mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Air

Tawar yaitu terdiri dari 48 (60%) orang berjenis kelamin laki-laki dan 32 (40%)

orang berjenis kelamin perempuan.. Hal ini senada dengan penelitian yang

dilakukan di Bangladesh, Libya dan Indonesia oleh Ramli et al (2009) tetapi,

penelitian yang dilakukan di perkotaan amazon, diperoleh hasil bahwa tidak

terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan keadian stunting (Sinaga, 2016).

Tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan risiko stunting adalah

karena pada anak-anak belum terlihat adanya perbedaan kecepatan dan

pencapaian pertumbuhan pada laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut akan

mulai terlihat ketika memasuki usia remaja, dimana perempuan akan terlebih

dahulu mengalami peningkatan kecepatan pertumbuhan. Hal ini menyebabkan

resiko stunting pada laki-laki dengan perempuan tidak menunjukkan perbedaan

yang bermakna sehingga keduanya dapat terkena risiko stunting dengan

kemungkinan yang sama (Ma’artussalehah A, 2013).

6.2 Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang

terhadapPeningkatan Tinggi Badan Balita Stunting

Berdasarkan hasil uji wilcoxon terdapat peningkatantinggi badan pada

hampir seluruh balita stunting dengan hasil sangat bermakna berdasarkan rerata

peningkatan tinggi badan menjadi 116,17cm setelah dilakukan penyuluhan menu

45
makanan seimbang. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Sinaga pada tahun 2016

dimana terdapat peningkatan indeks TB/U setelah diberikan penyluhan pada ibu

dengan balita stunting walaupun tidak bermakna secara statistik. Susanti pada

tahun 2010 yang melakukan penelitian tentang pengaruh penyuluhan gizi

terhadap perilaku ibu dalam penyediaan menu seimbang untuk balita di desa

Ramunia-I Kecamatan pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010,

dimana hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan gizi

terhadap tindakan ibu dalam penyediaan menu seimbang untuk balita (p <

0,05)

Hasil penelitian dari Rahmawati (2006) yang dalam penelitiannya

menyatakan bahwa penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan

tindakan ibu tentang gizi dan berpengaruh terhadap perubahan status gizi

balita setelah dilakukan penyuluhan. Begitu juga dengan penelitian yang

dilakukan oleh Fiona (2006) dalam penelitiannya melaporkan bahwa

pendidikan gizi dapat meningkatkan pemahaman dalam memilih makanan

yang sehat dan bergizi (Ma’artussalehah A, 2013).

Menurut UU No.36 tahun 2009, penyuluhan kesehatan

diselenggarakan guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan

kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, dan aktif berperan serta dalam

upaya kesehatan. Penyuluhan kesehatan diselenggarakan untuk mengubah

perilaku seseorang atau kelompok masyarakat agar hidup sehat melalui

komunikasi, informasi, dan edukasi. Salah satu bentuk dari penyuluhan

kesehatan adalah penyuluhan gizi. Penyuluhan gizi merupakan salah satu

unsur penting dalam meningkatkan status gizi masyarakat untuk jangka

46
panjang. Melalui sosialisasi dan penyampaian pesan-pesan gizi yang praktis

akan membentuk suatu keseimbangan bangsa antara gaya hidup dan pola

konsumsi masyarakat. Seseorang yang berpengetahuan gizi baik cenderung

memilih makanan yang lebih baik mutu maupun jumlahnya (Depkes RI, 2002).

47
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

1. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada perempuan pada belita

stunting wilayah kerja Puskesmas Air Tawar

2. Terdapat pengaruh yang bermakna pada pemberian penyuluhan menu

makanan seimbang terhadap peningkatan tinggi badan balita stunting

wilayah kerja Puskesmas Air Tawar Padang

7.2 Saran

Terdapat banyak faktor resiko lain mengenai stunting selain faktor asupan

nutrisi yang kurang seperti, sosio ekonomi orang tua, lingkungan tempat tinggal,

tingkat pendidikan orang tua, faktor prenatal, imunisasi, ASI ekslusif dll.

Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan stunting dengan

faktor lainnya agar penatalksaan komprehensif.

48
DAFTAR PUSTAKA

1. Abuya, A.A., Kimani, K.J., & Elijah, O.O. (2010). Influence of maternal

educationon child health in Kenya.

http://paa2010.princeton.edu/download.aspx?submissionId=100182

2. American Thyroid Association. (2011). Iodine deficiency.

http://www.thyroid.org/patients/patient_brochures/iodine_deficiency.html

3. Anderson, J., & Young, L. (2008). Fat-soluble vitamins.

http://www.ext.colostate.edu/pubs/foodnut/09315.html

4. Arisman. (2008). Gizi dalam daur kehidupan : buku ajar ilmu gizi, ed. 2.

Jakarta : EGC.

5. Astari, L.D., Nasoetion, A., & Dwiriani, C.M. (2005). Hubungan

karakteristik keluarga, pola pengasuhan dan kejadian stunting anak

usia 6-12 bulan. Media Gizi & Keluarga, 29 (2) : 40-46.

6. Bobroff, L.B., & Jensen, N.C. (2009, Desember). Facts about vitamin A.

http://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/fy/fy20600.pdf

7. Brown, J.E. (2005). Nutrition through the life cycle (2nd ed.). USA :

Wadsworth.B vitamins. (2011).

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/bvitamins.html

8. Children at risk of stunting and wasting.

http://www.dairyglobalnutrition.org/content.cfm?ItemNumber=88374

9. Consumption and cost.

http://www.jabarprov.go.id/root/dalamangka/dda2003Konsumsi.pdf

49
10. Dietary fats: know which types to choose. (2011, February15).

http://www.mayoclinic.com/health/fat/NU00262

11. Depkes RI. (2004). Sistem Kesehatan Nasional.

http://www.depkes.go.id/downloads/SKN+.PDF

12. Depkes RI. (2008). Strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat.

http://www.depkes.go.id/downloads/pedoman_stbm.pdf

13. Facts for feeding: feeding low birthweight babies. (2006).

http://www.linkagesproject.org/media/publications/FFF_LBW_3-30-

06.pdf

14. Ma’artussalehah A, Bardosono S (2013). Prevalensi Anak Beresiko

Stunting dan Faktor-faktor yang Berhubungan Studi Cross Sectional pada

Anak usia 3-9 tahun di Pondok Pesantren Tapak Sunan Condet pada Tahun

2011. Universitas Indonesia ; Jakarta

15. Norhayati, Noorhayati, Mohammod, Oothuman, Azizi, Fatimah, & Fatmah.

Malnutrition and its risk factors among children 1-7 years old in rural

Malaysian communities. Asia Pasific Journal of Clinical Nutrition

(1997) volume 6, Number 4:260-264.

http://apjcn.nhri.org.tw/server/apjcn/Volume6/vol6.4/norhayatil.html

16. Pengertian dasar imunisasi. (2011).

http://www.artikelkedokteran.com/540/pengertian-dasar-imunisasi.html

17. Rahmawati., 2006. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di

Taman Pendidikan Karakter Sutera Alam Desa Sukamantri Bogor. Skripsi

Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor : Bogor.

50
18. Reyes, L., & Manalich, R. (2005). Long term consequences of low birth

weight. http://www.nature.com/ki/journal/v68/n97s/pdf/4496408a.pdf

19. Shrestha, S.S., & Findeis, J.L. (2007). Maternal human capital and

childhood stunting in Nepal: a multi level modeling approach.

http://ageconsearch.umn.edu/bitstream/9723/1/sp07sh02.pdf

20. Teshome, B., Kogi-makau, W., Getahun, Z., & Taye, G. (2009). Magnitude

and determinants of stunting in children under five years of age in food

surplus region in Ethiopia: the case of West Gojam Zone.

http://ejhd.uib.no/ejhdv23n2/98%20Magnitude%20and

%20determinants %20of%20stunting%20in%20children%20under-.pdf

21. UNICEF. (2004). Low birthweight: country, regional and global

estimate.

http://www.unicef.org/publications/files/low_birthweight_from_EY.pdf

22. UNICEF. (2007). Progress for children.

http://www.unicef.org/publications/files/Progress_for_Children_No_6_re

vised.pdf

23. UNICEF. (2008). Complementary feeding.

http://www.unicef.org/nutrition/index_24826.html

24. University of Maryland Medical Center. (2011). Vitamin C (ascorbic acid).

http://www.umm.edu/altmed/articles/vitamin-c-000339.htm

25. University of Maryland Medical Center. (2011). Vitamin D.

http://www.umm.edu/altmed/articles/vitamin-c-000339.htm

51
26. Water and Sanitation Program-East Asia & The Pasific. Buku penuntun

opsi Sanitasi yang terjangkau untuk daerah spesifik.

http://www.wsp.org/wsp/sites/wsp.org/files/publications/wsp_Opsi_Sanit

asi_yang_terjangkau.pdf

27. WHO. (2011). 10 facts on sanitation.

http://www.who.int/features/factfiles/sanitation/en/index.html

28. WHO. (2011). Nutrition: complementary feeding.

http://www.who.int/nutrition/topics/complementary_feeding/en/index.ht

ml

29. WHO. (2011). 10 facts on nutrition.

http://www.who.int/features/factfiles/nutrition/en/index.html

30. Worthington-Roberts, B.S., & Williams, S.R. (2000). Nutrition throughout

the life cycle (4th ed.). Singapore : McGraw-Hill

31. Fat.(2011).

http://health.nytimes.com/health/guides/nutrition/fat/overview.html

32. Frost, M.B., Forste, R., & Haas, D.W. (2005). Maternal education and child

nutritional status in Bolivia : finding the links. Social Science and

Medicine, 60, 395- 407.

http://www.hawaii.edu/hivandaids/Maternal_Education_and_Child_Nutrit

ional_Status_in_BoliviaFinding_the_Links.pdf

33. Gurung, G. (2009). Investing in mother’s education for better maternal and

child health outcomes. Journal of Rural and Remote Health Research,

52
Education, Practice and Policy.

http://www.rrh.org.au/publishedarticles/article_print_1352.pdf

34. Hong, R., Banta, J.E., & Betancourt, J.A. (2006). Relationship between

household wealth inequality and chronic childhood under-nutrition in

Bangladesh. International Journal for Equity in Health.

http://www.equityhealthj.com/content/pdf/1475-9276-5-15.pdf

35. Hutagalung, H. (2004). Karbohidrat.

http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi- halomoan

36. Immunizations-general overview. (2010)

http://health.nytimes.com/health/guides/specialtopic/immunizations-

general-overview/overview.html

37. Iron. (2011). http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/iron.html

38. Iron deficiency anemia. (2011). http://www.mayoclinic.com/health/iron-

deficiency-anemia/DS00323

39. Iron Disorders Institute. (2009). Iron overload.

http://www.irondisorders.org/iron-overload

40. Lifewater Internasional. Clean water changed lives: the crisis.

http://www.lifewater.org/water-crisis

41. Mbuya, M.N.N., Chidem, M., Chasekwa, B., & Mishra, V. (2010).

Biological, social, and environmental determinants of low

birthweight and stunting among infants and young children in Zimbabwe.

http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNADR633.pdf

53
42. McKinley Health Center. (2008). Macronutriens: the importance of

carbohydrate, protein, and fat.

http://www.mckinley.illinois.edu/handouts/macronutrients.htm

43. National Institute of Health. (2011, June 24). Dietary supplement fact sheet:

vitamin C.http://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminC-QuickFacts

44. Kementrian desa dan transmigrasi. 2007. Buku saku desa dalam

penanganan stunting. Jakarta

45. Hestuningtyas, NR & Noer ER. (2014). Pengaruh konseling gizi terhadap

pengetahuan, sikap, praktik ibu dalam pemberian makan anak, dan asupan

zat gizi anak stunting usia 1-2 tahun di kecamatan semarang timur.

46. Wiyogowati, Citaningrum. (2012). Kejadian stunting pada anak berumur

dibawah lima tahun tahun (0-59 bulan) di provinsi papua barat tahun 2010

(analisis data riskesdas 2010) skripsi. Universitas Indonesia. Jakarta

47. Data PPDGM Puskesmas Air Tawar Padang. Jumlah Balita stunting di

wilayah kerja Puskesmas Air Tawar Padang 2018 dan Juni 2011

54
LAMPIRAN

1. Lampiran Foto Kegiatan

55
56
2. Lampiran Hasil SPSS
jenis kelamin
Valid Cumulative
  Frequency Percent Percent Percent
Valid Laki-laki 48 60,0 60,0 60,0
Paerempuan 32 40,0 40,0 100,0
Total 80 100,0 100,0  

status peningkatan
Valid Cumulative
  Frequency Percent Percent Percent
Valid meningkat 77 96,3 96,3 96,3
tidak meningkat 3 3,8 3,8 100,0
Total 80 100,0 100,0  

Wilcoxon Signed Ranks Test

Ranks

Mean Sum of
  N Rank Ranks
tinggi badan bulan 6 - tinggi Negative Ranks 0a 0,00 0,00
badan bulan 2 Positive Ranks 80b 40,50 3240,00
Ties 0c    
Total 80    
a. tinggi badan bulan 6 < tinggi badan bulan 2
b. tinggi badan bulan 6 > tinggi badan bulan 2
c. tinggi badan bulan 6 = tinggi badan bulan 2

Test Statisticsa

tinggi badan bulan 6 - tinggi


  badan bulan 2
Z -7.781b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

Mean
Tinggi Badan Mean SD Median p-value
Rank
<0.01
Tinggi badan bulan ke-2 80.50 9.82 82.25

Tinggi Badan bulan ke-6 116.17 146.95 88.5  

57
3. Lampiran Brosur

58
59