Anda di halaman 1dari 1

4.

Membedakan Respirasi Klimaterik dan NonKlimaterik pada buah

Berdasarkan aktivitas respirasi, sifat hasil tanaman diklarifikasikan menjadi yang bersifat
klimaterik dan non klimaterik. Buah klimakterik adalah buah yang mengalami lonjakan respirasi
dan produksi etilen setelah dipanen. Sedangkan buah non klimakterik adalah buah yang tidak
mengalami lonjakan respirasi maupun etilen setelah dipanen(Suhardiman,1997). Untuk lebih
jelasnya yaitu sebagai berikut:

1. Buah klimaterik
Buah klimaterik adalah buah yang memiliki kenaikan laju respirasi ke tingkat yang paling
tinggi sebelum pemasakan, sehingga buah cepat mengalami kerusakan atau pembusukan.
Contohnya : meliputi   pisang, mangga, pepaya, advokad, tomat, sawo, apel ,dan sebagainya.
Menurut (Febrianto, 2009). buah klimaterik menghasilkan lebih banyak etilen pada saat matang
dan mempercepat serta lebih seragam tingkat kematangannya pada saat pemberian etilen
Buah-buahan klimakterik yang sudah mature (matang), setelah dipanen secara
normal memperlihatkan suatu laju penurunan respirasi sampai tingkat minimal, yang
diikuti oleh peningkatan laju respirasi yang cepat sampai ke tingkat maksimal, yang
disebut puncak respirasi klimakterik. Bila buah-buahan klimakterik berada pada tingkat
maturitas yang tepat, diekspos etilen dengan konsentrasi tinggi selama beberapa saat,
akan terjadi rangsangan pematangan yang tidak dapat kembali lagi (irreversible
ripening).

2. Buah non-klimaterik
Buah non-klimaterikadalah buah yang tidak mengalami kenaikan atau perubahan
laju respirasi. Proses pematangan buah non-klimaterik terjadi saat buah masih berada
pada pohonnya, sedangkan buah klimaterik akan cepat matang setelah buah dipanen.
Contohnya  : semangka, jeruk, nenas, anggur, ketimun, dan sebagainya.
Pada buah-buahan non klimakterik terjadi hal yang berbeda, yaitu tidak terjadi
kenaikan laju respirasi yang mendadak. Meskipun buah-buahan tersebut diekspos
dengan etilen kadar yang tinggi, laju respirasinya akan sama dengan apabila terekspos
atilen dalam ruangan. Kalaupun ada, peningkatan laju respirasinya kecil saja. Segera
setelah itu, laju respirasi kembali lagi pada laju kondisi istirahat normal, bila etilennya
ditiadakan.

Untuk membedakan buah klimaterik dari buah non-klimaterik adalah responnya terhadap
pemberian etilen yang merupakan gas hidrokarbon yang secara alami dikeluarkan oleh buah-
buahan dan mempunyai pengaruh dalam peningkatan respirasi. Buah non-klimaterik akan
bereaksi terhadap pemberian etilen pada tingkat manapun baik pada tingkat pra-panen maupun
pasca panen. Sedangkan buah klimakterik hanya akan mengadakan reaksi respirasi bila etilen
diberikan dalam tingkat pra klimakterik dan tidak peka lagi terhadap etilen setelah kenaikan
respirasi dimulai. (Pantastico, 1993).