Anda di halaman 1dari 21

Program Studi :Kebidanan Program Sarjana (Transfer)

Nama matakuliah: Psikologi Praktek Kebidanan

Pengajar :Wahyu Kristiningrum, S.SiT., M.H


Kompetensi Inti :
Mahasiswa mampu memahami Peran Bidan Dalam Mempromosikan
Kesehatan Mental Yang Baik/Positif Pada Perempuan Dalam Masa
Reproduksi.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa mampu menjelaskan Peran Bidan Dalam Mempromosikan
Kesehatan Mental Yang Baik/Positif Pada Perempuan Dalam Masa
Reproduksi
I. Pendahuluan :
1.1 Cakupan atau Ruang Lingkup Materi Pembelajaran

Peran Bidan Dalam Mempromosikan Kesehatan Mental Yang Baik/Positif Pada


Perempuan Dalam Masa Reproduksi
1.2 Sasaran Pembelajaran
Mahasiswa Kebidanan Program Sarjana Semester 3 (Transfer)

1.3 Perilaku awal mahasiswa

Mahasiswa harus menguasai materi tentang Peran Bidan Dalam Mempromosikan


Kesehatan Mental Yang Baik/Positif Pada Perempuan Dalam Masa Reproduksi

1.4 Manfaat,beri penjelasan apa pentingnya mempelajari materi ini

Materi ini berguna bagi mahasiswa untuk dapat mengenal bagaimana Peran Bidan
Dalam Mempromosikan Kesehatan Mental Yang Baik/Positif Pada Perempuan
Dalam Masa Reproduksi

1.5 Urutan Pembahasan

II. Penyajian materi


a. Pengertian Promosi Kesehatan
b. Peran Bidan Dalam Promosi Kesehatan
c. Fungsi Bidan Dalam Promosi Kesehatan
d. Pengertian Kesehatan Mental
e. Peran Bidan Dalam Penyelesaian Masalah Kesehatan

1.6 Petunjuk Belajar

Sebelum mempelajari bahan ajar Peran Bidan Dalam Mempromosikan Kesehatan


Mental Yang Baik/Positif Pada Perempuan Dalam Masa Reproduksi harus :
a. Baca Kompetensi yang akan dicapai setelah mempelajari bahan ajar
b. Baca manfaat yang diperoleh setelah mempelajari bahan ajar
c. Baca dan pahami urain materi
d. Baca contoh penerapan bahan ajar berkaitan dengan capaian pembelajaran atau
kompetensi lulusan.
e. Kerjakan tugas mandiri
f. Kerjakan Soal tes formatif
g. Baca umpan balik dan tindak lanjut kegiatan belajar

II. PENYAJIAN

A. Pengertian Promosi Kesehatan

Menurut WHO Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan


kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain
itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial,
maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan
fisik, sosial budaya dan sebagainya).

Promosi Kesehatan ( Health Promotion ) adalah ilmu dan seni membantu


masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal
didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan
intelektual. Agar promosi kesehatan dapat berjalan secara sistematis, terarah dan
terencana sesuai konsep promosi kesehatan bahwa individu dan masyarakat bukan
hanya sebagai objek/sasaran yang pasif menunggu tetapi juga sebagai pelaku maka
perlu pengelolaan program promosi kesehatan mulai dari pengkajian, perencanaan,
penggerakan pelaksanaan, pemantauan dan penilaian.
Dan agar promosi kesehatan berjalan secara efektif dan efesien maka pesan
harus sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan / masalah sasaran. Sasaran utama
promosi kesehatan adalah masyarakat khususnya perilaku masyarakat. Karena
terbatasnya sumber daya, akan tidak efektif apabila upaya atau kegiatan promosi
kesehatan langsung dialamatkan kepada masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan
pentahapan sasaran promosi kesehatan.

B. Peran Bidan Dalam Promosi Kesehatan

1. Peran Sebagai Advokator

Advokasi adalah suatu pendekatan kepada seseorang/ badan organisasi yang di


duga mempunyai pengaruh terhadap keerhasilan suatu program atau kelancaran
suatu kegiatan.

Bentuk kegiatan advocator :

 Seminar
 Bidan menyajikan masalah kesehatan di wilayah kerjanya
 Bidan menyampaikan masalah kesehatan menggunakan media dalam
bentuk lisan, artikel, berita, diskusi, penyampaian pendapat untuk
membentuk opini public.

2. Peran Sebagai Edukator

Memberikan pendidikan kesehatan dan konseling dalam asuhan dan pelayanan


kebidanan di setiap tatanan pelayanan kesehatan agar mereka mampu memelihara
dan meningkatkan kesehatan mereka.

Fungsi bidan sebagai educator :

 Melaksanakan pendidikan kesehatan dan konseling dalam asuhan dan


pelayanan kebidanan.
 Membina kader dan kelompok masyarakat
 Mentorship dan preseptorsip bagi calon tenaga kesehatan dan bidan
baru.

3. Peran Sebagai Fasilitator

Bidan mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan, mengkondisikan iklim


kelompok ang harmonis, serta menfasilitasi terjadinya proses saling belajar dalam
kelompok.

4. Peran Sebagai Motivator

Upaya yang di lakukan bidan sebagai pendamping adalah menyadarkan dan


mendorong kelompok untuk mengenali potensi dan masalah, dan dapat
mengembangkan potensinya untuk memecahkan masalah itu.

Tetapi Dalam melaksanakan profesinya bidan memiliki peran sebagai


pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti.

1. Peran Sebagai Pelaksana

Tugas-tugas mandiri bidan, yaitu:

a. Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan


kebidanan yang diberikan, mencakup:

 Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan


asuhan klien.
 Menentukan diagnosis.
 Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah
yang dihadapi.
 Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang
telah disusun.
 Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan.
 Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan.
 Membuat pencatatan dan pelaporan kegiatan/tindakan.

b. Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan


dengan melibatkan mereka sebagai klien, mencakup:

 Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja


dan wanita dalam masa pranikah.
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan dasar.
 Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas
mendasar bersama klien.
 Melaksanakan tindakan/layanan sesuai dengan rencana.
 Mengevaluasi hasil tindakan/layanan yang telah
diberikan bersama klien.
 Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan
bersama klien.
 Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

Peran bidan dalam kesehatan Reproduksi Remaja

 Untuk memperoleh dukungan masyarakat terhadap


kesehatan remaja dilakukan tindakan advokasi .
upaya upaya advokasi dapa difokuskan untuk membuat
perubahan di tingkat lokal, daerah, atau nasional dengan
menargetkan penerimaan informasi dan pelayanan
kesehatan reproduksi bagi para remaja .
 Program program kesehatan reproduksi untuk remaja

Program program kesehatan reproduksi untuk remaja cenderung


akan mencapai keberhasilan maksimal jika program program
tersebut :

 secara akurat mengidentifikasi dan memahami


kelompok yang akan dilayani
 melibatkan remaja dalam perencananan programnya
 bekerjasama dengan para pemuka masyarakat dan orang
tua
 melepaskan hambatan hambatan kebijakan dan
mengubah pra anggapan para pemberi layanan
 membantu remaja melatih keterampilan interpersonal
untuk menghindari resiko
 menghubungkan informasi dan saran dengan pelayanan
 kaum remaja dilibatkan dalam aktivitas yang bermanfaat
 Memberikan informasi mengenai HIV & PMS di
kalangan remaja, kehamilan dini , pendidikan seks
bebasis sekolah dan memberikan pelayanan klinik bagi
remaja.

Melibatkan Wanita Dalam Pengambilan Keputusan

Cara melibatkan wanita dalam mengambil keputusan:

 mendukung keputusan yang diambil pleh seorang ibu


 memastikan keputusab yang diambil ibu adalah yang
terbaik
 meyakinkan ibu bertanggung jawab atas keputusan yang
ia ambil
 memberikan pandangan akibat yang akan di timbulkan
atas keputusan yang ia ambil

c. Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan


normal, mencakup:

 Mengkaji status kesehatan klien yang dalam keadaan


hamil.
 Menentukan diagnosis kebidanan dan kebutuhan
kesehatan klien.
 Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien
sesuai dengan prioritas masalah.
 Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
yang telah disusun.
 Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan bersama
klien.
 Membuat rencana tindak lanjut asuhan yang telah
diberikan bersama klien.
 Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan
bersama klien,
 Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan
yang telah diberikan.

d. Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinar


dengan melibatkan klien/keluarga, mencakup:

 Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada klien dalam


masa persalinan.
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan
dalam masa persalinan.
 Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien
sesuai dengar prioritas masalah.
 Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
yang telah disusun.
 Mengevaluasi asuhan yang telah diberikan bersama
klien.
 Membuat rencana tindakan pada ibu selama masa
persalinan sesuai dengan prioriras.
 Membuat asuhan kebidanan.
e. Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, mencakup:

 Mengkaji status keselhatan bayi baru lahir dengan


melibatkan keluarga.
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan
pada bayi baru lahir.
 Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai prioritas.
 Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
yang telah dibuat.
 Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan.
 Membuat rencana tindak lanjut.
 Membuat rencana pencatatan dan pelaporan asuhan
yang telah diberikan.

f. Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan


melibatkan klien/keluarga, mencakup:

 Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam


masa nifas.
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan
pada masa nifas.
 Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan
prioritas masalah.
 Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana.
 Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang
telah diberikan.
 Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan
bersama klien.

g. Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang


membutuhkan pelayanan keluarga berencana, mencakup:
 Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada
pus (pasangan usia subur)
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan.
 Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas
masalah bersama klien.
 Melaksanakan asuhan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat.
 Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan.
 Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama
klien.
 Membuat pencatatan dan laporan.

2. Peran Sebagai Pengelola

Sebagai pengelola bidan memiliki 2 tugas, yaitu tugas pengembangan


pelayanan dasar kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim.

a. Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan


Bidan bertugas; mengembangkan pelayanan dasar kesehatan,
terutama pelayanan kebnjanan untuk individu, keluarga kelompok
khusus, dan masyarakat di wilayah kerja dengan melibatl;can
masyarakat/klien, mencakup:

 Mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan


kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan serta
mengembangkan program pelayanan kesehatan di wilayah
kerjanya bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat.
 Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil pengkajian
bersama masyarakat.
 Mengelola kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan
masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak serta
keluarga berencana (KB) sesuai dengan rencana.
 Mengoordinir, mengawasi, dan membimbing kader,
dukun, atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan
program/kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak-serta
KB.
 Mengembangkan strategi untuk meningkatkan keseharan
masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak serta KB,
termasuk pemanfaatan sumber-sumber yang ada pada
program dan sektor terkait.
 Menggerakkan dan mengembanglran kemampuan
masyarakat serta memelihara kesehatannya dengan
memanfaatkan potensi-potensi yang ada.
 Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan
praktik profesional melalui pendidikan, pelatihan, magang
sena kegiatankegiatan dalam kelompok profesi.
 Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah
dilaksanakan.

b. Berpartisipasi dalam tim

Bidan berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program


kesehatan dan sektor lain di wilayah kerjanya melalui
peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan, serta
tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam
wilayah kerjanya, mencakup:

 Bekerja sama dengan puskesmas, institusi lain sebagai


anggota tim dalam memberi asuhan kepada klien dalam
bentuk konsultasi rujukan dan tindak lanjut.
 Membina hubungan baik dengan dukun bayi dan kader
kesehatan atau petugas lapangan keluarga berencaca
(PLKB) dan masyarakat.
 Melaksanakan pelatihan serta membimbing dukun bayi,
kader dan petugas kesehatan lain.
 Memberi asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi.
 Membina kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat, yang
berkaitan dengan kesehatan.

3. Peran Sebagai Pendidik

Sebagai pendidik bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan


penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader.

a. Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada klien


Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada
klien (individu, keluarga, kelompok, serta maryarakat) tentang
penanggulangan masalah kesehatan, khususnya yang
berhubungarn dengan kesehatan ibu, anak, dan keluarga
berencana, mencakup:

o Mengkaji kebutuhan pendidikan dan penyuluhan kesehatan,


khususnya dalam bidang kesehatan ibu, anak, dan keluarga
berencana bersama klien.
o Menyusun rencana penyuluhan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan yang telah dikaji, baik untuk jangka pendek
maupun jangka panjang bersama klien.
o Menyiapkan alat serta materi pendidikan dan penyuluhan sesuai
dengan rencana yang telah disusun.
o Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan
kesehatan sesuai dengan rencana jangka pendek serta jangka
panjang dengan melibatkan unsur-unsur terkait, termasuk
klien.
o Mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan bersama
klien dan menggunakannya untuk memperbaiki serta
meninglcatkan program dl masa yang akan datang.
o Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan/
penyuluhan kesehatan secara lengkap serta sistematis.

b. Melatih dan membimbing kader

Bidan melatih dan membimbing kader, peserta didik kebidanan


dan keperawatan, serta membina dukun dl wilayah atau tempat
kerjanya, mencakup:

o Mengkaji kebutuhan pelatihan dan bimbingan bagi kader,


dukun bayi, serta peserta didik
o Menyusun rencana pelatihan dan bimbingan sesuai dengan
hasil pengkajian.
o Menyiapkan alat bantu mengajar (audio visual aids, AVA)
dan bahan untuk keperluan pelatihan dan bimbingan
sesuai dengan rencana yang telah disusun.
o Melaksanakan pelatihan untuk dukun bayi dan kader
sesuai dengan rencana yang telah disusun dengan
melibatkan unsur-unsur terkait.
o Membimbing peserta didik kebidanan dan keperawatan
dalam lingkup kerjanya.
o Menilai hasil pelatihan dan bimbingan yang telah
diberikan.
o Menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan program
bimbingan.
o Mendokumentasikan semua kegiatan termasuk hasil
evaluasi pelatihan serta bimbingan secara sistematis dan
lengkap.
4. Peran Sebagai Peneliti/Investigator

a. Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam


bidang kesehatan baik secara mandiri maupun berkelompok,
mencakup:
b. Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan.
c. Menyusun rencana kerja pelatihan.
d. Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana.
e. Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi.
f. Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut.
g. Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan
mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.

C. FUNGSI BIDAN DALAM PROMOSI KESEHATAN

Berdasarkan peran bidan seperti yang dikemukakan di atas, maka fungsi bidan
adalah sebagai berikut.

1. Fungsi Pelaksana

Fungsi bidan sebagai pelaksana mencakup:

a.Melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada individu, keluarga, serta


masyarakat (khususnya kaum remaja) pada masa praperkawinan.
b. Melakukan asuhan kebidanan untuk proses kehamilan normal,
kehamilan dengan kasus patologis tertentu, dan kehamilan dengan
risiko tinggi.
c.Menolong persalinan normal dan kasus persalinan patologis tertentu.
d. Merawat bayi segera setelah lahir normal dan bayi dengan risiko
tinggi.
e.Melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas.
f. Memelihara kesehatan ibu dalam masa menyusui.
g. Melakukan pelayanan kesehatan pada anak balita dan pcasekolah
h. Memberi pelayanan keluarga berencanasesuai dengan wewenangnya.
i. Memberi bimbingan dan pelayanan kesehatan untuk kasus gangguan
sistem reproduksi, termasuk wanita pada masa klimakterium internal
dan menopause sesuai dengan wewenangnya.

2. Fungsi Pengelola

Fungsi bidan sebagai pengelola mencakup:

a.Mengembangkan konsep kegiatan pelayanan kebidanan bagi individu,


keluarga, kelompok masyarakat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
masyarakat setempat yang didukung oleh partisipasi masyarakat.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pelayanan kebidanan di lingkungan
unit kerjanya.
c.Memimpin koordinasi kegiatan pelayanan kebidanan.
d. Melakukan kerja sama serta komunikasi inter dan antarsektor yang
terkait dengan pelayanan kebidanan
e.Memimpin evaluasi hasil kegiatan tim atau unit pelayanan kebidanan.

3. Fungsi Pendidik

Fungsi bidan sebagai pendidik mencakup:

a.Memberi penyuluhan kepada individu, keluarga, dan kelompok


masyarakat terkait dengan pelayanan kebidanan dalam lingkup
kesehatan serta keluarga berencana.
b. Membimbing dan melatih dukun bayi serta kader kesetan sesuai
dengan bidang tanggung jawab bidan.
c.Memberi bimbingan kepada para peserta didik bidan dalam kegiatan
praktik di klinik dan di masyarakat.
d. Mendidik peserta didik bidan atau tenaga kesehatan lainnya sesuai
dengan bidang keahliannya.

4. Fungsi Peneliti

Fungsi bidan sebagai peneliti mencakup:

a.Melakukan evaluasi, pengkajian, survei, dan penelitian yang dilakukan


sendiri atau berkelompok dalam lingkup pelayanan kebidanan.
b. Melakukan penelitian kesehatan keluarga dan keluarga berencana.

D. Pengertian Kesehatan Mental

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam
keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati
kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi


dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan
positif dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu
akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi
yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk.

Penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari,


tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga
dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. oleh sebab itu, sudah
saatnya kita menjalankan pola hidup sehat. Terdapat beberapa jenis masalah kesehatan
mental dan berikut ini adalah jenis kondisi yang paling umum terjadi.
1. Stres

Stres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat,
baik secara emosi maupun mental. Seseorang yang stres biasanya akan tampak
gelisah, cemas, dan mudah tersinggung. Stres juga dapat mengganggu
konsentrasi, mengurangi motivasi, dan pada kasus tertentu, memicu depresi. Stres
bukan saja dapat memengaruhi psikologi penderitanya, tetapi juga dapat
berdampak kepada cara bersikap dan kesehatan fisik mereka.

Berikut ini adalah contoh dampak stres terhadap perilaku seseorang:

 Menjadi penyendiri dan enggan berinteraksi dengan orang lain.


 Enggan makan atau makan secara berlebihan.
 Marah-marah, dan terkadang kemaharan itu sulit dikendalikan.
 Menjadi perokok atau merokok secara berlebihan.
 Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
 Penyalahgunaan obat-obatan narkotika.

Berikut ini adalah masalah kesehatan yang dapat timbul akibat stres:

 Gangguan tidur
 Lelah
 Sakit kepala
 Sakit perut
 Nyeri dada
 Nyeri atau tegang pada otot
 Penurunan gairah seksual
 Obesitas
 Hipertensi
 Diabetes
 Gangguan jantung
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres, sebagian
di antaranya adalah masalah keuangan, hubungan sosial, atau tuntutan di dalam
pekerjaan. Untuk mengatasi stres, kunci utamanya adalah mengidentifikasi akar
permasalahan dan mencari solusinya. Penanggulangan stres juga bisa dilakukan
dengan mengaplikasikan nasihat-nasihat yang disarankan dalam manajemen stres
yang baik, seperti:

 Belajar menerima suatu masalah yang sulit diatasi atau hal-hal yang tidak dapat
diubah.
 Selalu berpikir positif dan memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di
dalam hidup ada hikmahnya.
 Meminta saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang sedang
dialami.
 Belajar mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi.
 Melakukan aktivitas fisik, meditasi, atau teknik relaksasi guna meredakan
ketegangan emosi dan menjernihkan pikiran.
 Melakukan hal-hal baru yang menantang dan lain dari biasanya guna
meningkatkan rasa percaya diri.
 Menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
 Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu orang lain.
Cara ini dapat membuat seseorang lebih tabah dalam menghadapi masalah,
terutama jika bisa membantu seseorang yang memiliki masalah lebih berat dari
yang dialaminya.
 Menghindari cara-cara negatif untuk meredakan stres, misalnya merokok,
mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan
narkoba.
 Bekerja dengan mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen
waktu lebih baik dan hidup juga lebih seimbang.

2. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami
rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak
buruk terhadap kehidupan sehari-harinya. Bagi sebagian orang normal, rasa cemas
biasanya timbul pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi
ujian di sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan
kecemasan, rasa cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang
mengalami kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu. Selain
gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala psikologis lain yang bisa muncul
pada penderita gangguan kecemasan adalah berkurangnya rasa percaya diri,
menjadi mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.
Sementara itu, gejala fisik yang mungkin menyertai masalah gangguan kecemasan
antara lain:

 Sulit tidur
 Badan gemetar
 Mengeluarkan keringat secara berlebihan
 Otot menjadi tegang
 Jantung berdebar
 Sesak napas
 Lelah
 Sakit perut atau kepala
 Pusing
 Mulut terasa kering
 Kesemutan

Meski penyebab gangguan kecemasan belum diketahui secara pasti, beberapa


faktor diduga dapat memicu munculnya kondisi tersebut. Di antaranya adalah
trauma akibat intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di lingkungan luar ataupun
keluarga. Faktor risiko lainnya adalah stres berkepanjangan, gen yang diwariskan
dari orang tua, dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan noradrenalin di
dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati. Gangguan kecemasan
juga dapat dipicu oleh penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang.
Sebenarnya, gangguan kecemasan dapat diatasi tanpa bantuan dokter melalui
beberapa cara, seperti mengonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup tidur,
mengurangi asupan kafein, minuman beralkohol, atau zat penenang lainnya, tidak
merokok, berola raga secara rutin, dan melakukan metode relaksasi sederhana,
seperti yoga atau meditasi. Jika pengobatan mandiri tidak memberikan perubahan,
disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Penanganan dari dokter biasanya
meliputi pemberian obat-obatan antiansietas serta terapi kognitif.

3. Depresi

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya


terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa yang umumnya
berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada depresi bisa berlangsung
hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga dapat menyebabkan


masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara berperilaku
penderitanya. Tidak jarang penderita depresi sulit menjalani aktivitas sehari-hari
secara normal. Bahkan pada kasus tertentu, mereka bisa menyakiti diri sendiri dan
mencoba bunuh diri.

Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi seseorang yang mengalami


depresi:

 Kehilangan ketertarikan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.


 Terus-menerus merasa sedih, bahkan terus-menerus menangis.
 Merasa sangat bersalah dan khawatir berlebihan.
 Tidak dapat menikmati hidup karena kehilangan rasa percaya diri.
 Sulit membuat keputusan dan mudah tersinggung.
 Tidak acuh terhadap orang lain.
 Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Berikut ini adalah dampak depresi terhadap kesehatan fisik yang mungkin
dapat terjadi:

 Gangguan tidur dan badan terasa lemah.


 Berbicara atau bergerak menjadi lebih lambat.
 Perubahan siklus menstruasi pada wanita.
 Libido turun dan muncul sembelit.
 Nafsu makan turun atau meningkat secara drastis.
 Merasakan sakit atau nyeri tanpa sebab.

Ada beragam hal yang dapat memicu terjadinya depresi, mulai dari peristiwa
dalam hidup yang menimbulkan stres, kehilangan orang yang dicintai, merasa
kesepian, hingga memiliki kepribadian yang rapuh terhadap depresi. Selain itu,
depresi yang dialami seseorang juga bisa disebabkan oleh penderitaan akibat
penyakit parah dan berkepanjangan, seperti kanker dan gangguan jantung, cedera
parah di kepala, efek dari konsumsi minuman beralkohol berlebihan dan obat-
obatan terlarang, hingga akibat faktor genetik dalam keluarga. Dianjurkan untuk
berkonsultasi ke dokter jika merasakan gejala-gejala depresi selama lebih dari dua
minggu dan tidak kunjung mereda. Apalagi jika gejala depresi tersebut sampai
mengganggu proses pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial, Penanganan
depresi oleh dokter akan disesuaikan dengan tingkat keparahan depresi yang
diderita masing-masing pasien. Bentuk penanganan bisa berupa terapi konsultasi,
pemberian obat-obatan antidepresi, atau kombinasi keduanya.

E. Peran Bidan Dalam Penyelesaian Masalah Kesehatan

• Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan,


mencakup:
– Mengkaji status kesehatan
– Menentukan diagnosis,
– Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah
– Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana
– Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan,
– Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan,
– Membuat pencatatan dan pelaporan kegiatan/tindakan.
• Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan melibatkan mereka
sebagai klien.
• Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal, persalinan, nifas,
bayi baru lahir
• Memberikan pelayanan kontrasepsi dan wanita dengan gangguan reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Nesi Novita,dkk. 2012. Promosi Kesehatan Pelayanan Asuhan Kebidanan. Salemba :


Yogyakarta.

Kemenkes.2007. bidan menyongsong masa depan 50 tahun IBI Ilmu kebidanan. Jakarta

Tadjuddin norma.2004 Konsep Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Makassar

http://dianhusadarefira.blogspot.com/p/peran-bidan-dalam-promosi-kesehatan.html
http://Menerepkan%20Peran%20dan%20Tugas%20bidan%20dalam%20PHC%20%20%20tu
gaskuliah.htm
http://novi%20khoirotun%20nisak%20%20PROMOSI%20KESEHATAN.htm

Anda mungkin juga menyukai