Anda di halaman 1dari 11

A.

    TENDENSI SENTRAL

Tendensi sentral adalah kecenderungan memusat atau mengelompoknya suatu data. Ukuran
tendensi sentral ini sangat diperlukan untuk mengetahui dimana sekumpulan data itu
berada/memusat.
Ukuran tendensi sentral yang lazim digunakan adalah :
1. Mean
2. Median
3. Modus
Bertujuan untuk mendapatkan ciri khas tertentu dalam bentuk sebuah nilai bilangan yang
merupakan ciri khas dari bilangan tersebut. Ada 3 bentuk tendensi sentral yang sering digunakan:

Salah satu tugas dari statistic adalah mencari suatu angka disekitar mana nilai-nilai dalam
suatu distribusi memusat. Angka yang menjadi pusat sesuatu distribusi disebut “tendensi
sentral”.

Ada tiga macam tendesi sentral, yang sangat penting untuk dibicarakan disini. Ketiga tendensi
sentral itu adalah(Sutrisno, 1986) :

1.      MEAN

Adalah angka rata-rata. Dari segi aritmetik, Mean adalah jumlah nilai-nilai dibagi dengan
jumlah individu.

Mean = X1 + X2 + X3 + … Xn-1 + Xn

Keterangan :

X1, X2 dan seterusnya adalah nilai-nilai individual

N = jumlah individu dalam distribusi

Σ  = jumlah

M = Mean

M =  

Contoh :

M = 15 + 10 + 20 / 3 =  45 / 3 =  15

a.        MEAN yang ditimbang

Contoh : ada  4 orang berpenghasilan 10 rupiah

1 orang berpenghasilan 15 rupiah

1 orang berpenghasilan 20 rupiah, maka :

Penghasilan (X) Frekuensi (f) Fx

20 1 20

15 1 15

10 4 40

N=6 ΣfX = 75

 =  = 12,50

b.      MEAN dari distribusi bergolong


Rumusnya tida beda dengan distribusi tunggal, hanya saja nilai X disini tidak lagi mewakili nilai
variabel individual, melainkan mewakili “titik tengah” interval kelas.

Contoh :

Interval nilai Titik tengah (X) F Fx

145 – 149 147 1 147

140 – 144                 142 3 426

135 – 139 137 5 685

130 – 134 132 8 1056

125 – 129 127 11 1397

120 – 124 122 17 2074

115 – 119 117 21 2457

110 – 114 112 22 2464

105 – 109 107 24 2568

100 – 104 102 20 2040

95 – 99 97 15 1455

90 – 94 92 12 1104

85 – 89 87 6 522

80 – 84 82 2 164

Jumlah                                                         N = 167 ΣfX = 18559

= = 111,13

c.        MEAN dari distribusi bergolong dengan rumus terkaan

Istilah terkaan jangan diartikan raba-raba, sebab akhirnya kesalahan oleh terkaan itu dikoreksi
kembali. Mean terkaan boleh juga disebut Mean Kerja, sebab Mean terkaan itu digunakan untuk
pangkal bekerja.

Langkah-langkah untuk menghitung Mean dengan Mean terkaan  adalah sebagai berikut :

a.       Menerka sesuatu Mean Terkaan ini boleh semau kita

b.      Mencari deviasi nilai-nilai individual dari Mean terkaan itu. Deviasi-deviasi diatas mean
terkaan diberi tanda plus, sedang dibawahnya diberi tanda minus

c.       Mengalikan deviasi tiap-tiap nilai itu dengan frekuensinya

d.      Menjumlahkan deviasi yang sudah dikalikan dengan frekuensi itu

e.       Mengisikan bahan-bahan yang sudah diperoleh itu kedalam rumus.

Untuk memahami langkah langkah itu baiklah kita lihat contoh dibawah ini :

Interval Nilai F X1 fX1

145 – 149 1 +8 +8
140 -144 3 +7 +21

135 – 139 5 +6 +30

130 – 134 8 +5 +40

125 – 129 11 +4 +44

120 – 124 17 +3 +51                   +258

115 – 119 21 +2 +42

110 – 114 22 +1 +22

105 – 109     ---------- 24        ----------------- 0             -------------- 0              --------------

100 – 104 20 -1 -20

95 – 99 15 -2 -30

90 – 94 12 -3 -36

85 – 89 6 -4 -24                    -120

80 – 84 2 -5 0

Jumlah N = 167 - ∑ fX =                138

Rumus untuk menghitung mean dengan mean terkaan adalah :

M = MT + [ ] i

Dalam mana M adalah mean yang kita cari, mean yang sebenarnya,

MT      : mean terkaan atau mean kerja

∑ fX    : jumlah deviasi kesalahan akibat terkaan

I           : lebar interval

Langkah 1 : yang kita jadikan mean terkaan dalam distribusi diatas adalah interval 105- 109.
Pada interval ini telah kita beri tanda garis tebal. Titik tengah dari interval adalah 107 karena
mean harus merupakan satu angka, maka titik tengah 107 ini yang kita sebut mean terkaan.

Langkah 2 : huruf  X yang dicantumkan dalam kolom ketiga itu adalah deviasi dari mean
terkaan. Sebab itu, pada baris yang berisi mean terkaan deviasinya sama dengan nol.
Selanjutnya, deviasi deviasi dibawah mean kita beri tanda negativ. Deviasi diatas mean secara
berturut turut dari bawah keatas kita beri kode angka angka +1, +2,+3 dan seterusnya deviasi
dibawah mean kita beri kode dari atas kebawah -1, -2 dan seterusnya.

Langkah 3 : perkalian antara deviasi tiap tiap dengan frekuensinya masing masing kita
cantumkan dalam kolom keempat.

Langkah 4 : deviasi deviasi yang telah dikalikan dengan frekuensi itu kita jumlahkan. Jumlah
dari deviasi deviasi ini disebut jumlah deviasi kesalahan dari distribusi diatas jumlah decviasi
kesalahannya ada 138.

Langkah 5 : apa yang sudah kita ketahui dari bahan-bahan tersebut diatas adalah:

MT = 107

∑f X = 138

N = 167

i=5

            Dengan mengisikan apa yang sudah kita ketahui itu ke dalam rumusnya, maka akan kita
peroleh hasil sebagai berikut:
M = MT + [ ] i = 107 + [ ] = 5 =

=107 + 0,826 x 5 = 107 +4,13 = 111,13

2.      MEDIAN

Dapat dibatasi sebagai “ suatu nilai yang membatasi 50 persen frekuensi distribusi bagian bawah
dengan 50 persen frekuensi distribusi bagian atas”.

Contoh :

Tabel Distribusi Penghasilan Fiktif Untuk Contoh Mencari Median:

Individu Penghasilan

1 Rp. 10

2 12

3 13

4 14

5 16

6 16

7 20

Medianya adalah  14, dimana individu nomor 4 membatasi separuh individu diatas dan separuh
lagi dibawahnya.

a.       Median Pada Distribusi Dengan Frekuensi Genap

Bilamana suatu distribusi mempunyai frekuensi genap, maka median dihitung secara kompromi,
yaitu dengan membagi dua nilai-nilai variabel yang ada ditengah-tengah distribusi.

Misal : ada 4 orang, masing-masing punya tinggi badan 162, 162, 164 dan 166 cm,

Maka median tinggi badan empat orang itu adalah 163. (162 + 164 : 2 = 163

cm)

b.      Mencari Median Dari Distribusi Bergolong

Median = Bb +  [

Keterangan :

Bb      :  batas bawah (nyata) dari interval yang mengandung median

cfb :  frekuensi kumulatif (frekuensi meningkat) dibawah interval yang

mengandung median

fd          : frekuensi dalam interval yang mengandung median

i        :  lebar interval

N       :  jumlah frekuensi dalam distribusi

 Penggunaan rumus itu dapat kita lihat pada pekerjaan dibawah ini :

Interval Nilai F Cf

100 – 104 1 55
95 – 99 3 54

90 – 94 5 51

85 – 89 9        fd 46

80 – 84 (13)  37

75 – 79 106 (24)

70 – 74 4 14

65 – 69 3 8

60 – 64 1 4

55 - 59 1

Jumlah 55 -

            Pertama harus kita ketahui bahwa untuk menghitung median kita selalu menggunakan
kolom yang berisi frekuensi meningkat (frekuensi kumulatif atau cf, periksa kolom ketiga).
Kolom ini diperlukan untuk mencari interal mana yang mengandung median. Hal ini dpat kita
cari dengan membagi dua jumlah frekueninya. Dalam contoh diatas, jumlah frekuensinya 9atau
N) ada 55. Kalau ini kita bagi dua hasilnya sama dengan 27,5 itu. Setelah ½ N ini kita ketemukan
maka langkah selanjutnya adalah menemukan interal kelas yang mengandung frekuensi
kumulatif 27,5 itu. Interval kelas yang kita maksudkan adalah 80 – 84, sebab cf 27,5 terkandung
dalam cf 37.

            Batas bawah (nyata) atau Bb dari interal yang mengandung median itu adalah 79,50.
Separo dari jumlah frekuensinya, atau ½ N, adalah 55,2, sama dengan 27,50. Frekuensi
kumulatif dibawah interval yang mengandung median adalah 24 (24 adalah cf dibawah 37,
sedang cf 37 adalah cf yang mengandung median). Frekuensi dalam interval adalah 13, sedang
lebar interval atau i-nya ada lima. Diisikan dalam rumus :

Mdn = Bb [ ] i = 79,50 + [ ] 5

            = 79,50 +  = 79,50 + 1,346 = 80,846 atau 80,85     

            Jadi, median dari distribusi tersebut ada 80,85. Ini adalah nilai ariael yang terdapat dalam
interal kelas 80 – 84, dan menjadi batas antara 50 persen frekuensi disebelah bawah distribusi.
Dengan kata lain, separuh dari frekuensi variable yaitu 27,5 orang mendapat nilai diatas 80,85
dan separuh lagi yaitu 27,5 orang, mendapat nilai dibawah 80,85 itu.

            Catatlah bahwa langkahlangkah yang paling kritis adalah mencari interal kelas mana
yang mengandung median. Ini dicari dengan membagi dua jumlah frekuensi seluruhnya (atau
N:2), setelah ½ N ini kita temukan, kita tandai frekuensi kumulatif yang mengandung ½ N itu,
dan kita tarik garis tebal pada garis yang mengandung frekuensi kumulatif itu. Dengan demikian,
interal kelas yang kita maksudkan telah kita temukan. Batas bawah (nyata) dari interal adalah
separuh dari batas bawah semu interval itudengan batas atas semu interaval bawahnya. Dalam
contoh diatas batas bawah nyatanya adalah separuh dari 80 ditambah 79 atau sama dengan 79,50.
Langkah selanjutnya adalah menemukan cf. ingat, cf adalah frekuensi kumulatif dibawah
interval yang mengandung median. Ingat juga, fd adalah frekuensi dalam interal yang
mengandung median, bukan frekuensi kumulatif di dalam, di atas, atau di bawahnya.

            Nah kalau semuanya telah kita temukan, tinggal lagi kita mengisikannya ke dalam
rumusnya.
3.     MODE

Adalah : adalah   nilai data yang sering muncul(frekuensi terbesar) dalam rangkaian data itu.
(www.academia.edu)

Berdasarkan jenis distribusinya mode dapat dibatasi sebagai :

1.      Dalam distribusi tunggal ; nilai variabel yang mempunyai frekuensi tertinggi  dalam
distribusi

2.      Dalam distribusi bergolong ; titik tengah interval kelas yang mempunyai frekuensi tertinggi
dalam distribusi

a.       Mode Dalam Distribusi Tunggal

Dalam serangkaian nilai-nilai 5,6,7,7,7,8,8,8,8,9,9 nilai yang timbul paling banyak adalah nilai 8.
Nilai 8 itu disebut mode dari distribusi nilai-nilai itu.

Nilai Frekuensi

10 1

9 0 Kalau suatu distribusi sudah disusun dalam tabel, maka


8 15 untuk mencari modenya kita melihat pertama dalam
frekuensi. Dalam kolomm frekuensi itu kita cari frekuensi
          7       ← 18 yang tertinggi, kemudian kita baca nilai variabel yang
6 4 sebaris dengan frekuensi yang tertinggi itu. Nilai itu adalah
dari distribusi yang telah disusun menjadi tabel itu. Untuk
5 3 jelasnya periksa tabel
4 1 Frekuensi yang tertinggi dari distribusi tersebut adalah 18.
3 1 Nilai yang mempunyai frekuensi tertinggi adalah nilai 7.
Jadi yang menjadi modenya dalah nilai 7.

Kalau misalnya nilai variabel yang tercantum dalam distribusi tabel 18 adalah nilai suatu mata
pelajaran maka yang menjadi nilai 7.artinya, daripadanya nilai-nilai lainnya, sebagian terbesar
murid-murid memperoleh nila 7 dalam mata pelajaran itu.

Perlu di peringatkan bahwa mode adalah nilai, bukan frekuensi yang tertinggi. Hal ini perlu di
tekankan karna sedikit mahasiswa yang keliru mengartikan mode ini. Baca definisinya, mode
dalam distribusi tunggal adalah nila fariabel yang memperoleh mode terbanyak.

b.      Mode Dalam Distribusi Bergolong

Bila mana kita telah memahami pengertian tentang mode dalam distribusi tunggal, tidak sukar
kiranya kita memahami mode dalam distribusi sergolong. Sebagaimana contoh periksa distribusi
dalam tebel 19 dibawah ini:

Interval Nilai Titik Tengah (x) Frekuensi (f)

195 – 199 197 1

190 -194 192 2

185 – 189 187 4

180 – 184 182 5

175 – 179 177 8

170 – 174 172 10


165 – 169 167 6

160 – 164 162 4

155 – 159 157 4

150 – 154 152 2

145 – 149 147 3

140 – 144 142 1

Frekuensi yang tertinggi dalam distribusi itu adalah 10.interval yang mempunyai
frekuensi tertinggi itu adalah 170-174,dan titik tengah dari interval itu adalah 172.jadi, yang
menjadi mode dalam distribusi itu adalah nilai 172.

B. UKURAN LETAK (KUARTIL, DESIL, DAN PERSENTIL)

Seperti halnya dengan median, kuartil, desil, dan persentil juga menentukan letak data. Kalau
median membagi sekumpulan data menjadi 2 bagian yang sama banyak, maka kuartil
membaginya menjadi 4 bagian yang sama banyak, desil membaginya menjadi 10 bagian yang
sama banyak, dan persentil membaginya menjadi 100 bagian yang sama banyak.

1. Kuartil
Jika sekumpulan data yang sudah disusun menurut urutan nilainya dibagi menjadi 4 bagian yang
sama banyak, maka ketiga bilangan pembaginya disebut dengan kuartil. Ketiga kuartil tersebut
adalah kuartil kesatu, kuartil kedua, dan kuartil ketiga, yang dilambangkan secara berurutan
mulai dari yang paling kecil dengan K1, K2, dan K3.(https://sh4t0s0.wordpress.com)
Cara menentukan kuartil adalah:
1. Data disusun menurut urutan nilainya dari yang paling kecil
2. Menentukan letak kuartil
3. Menentukan nilai kuartil

Rumus :
K i = Bb + [ ] i

Keterangan :
K1 : kuartil pertama yang kita cari
 Bb : batas bawah (nyata) interval yang mengandung K1
N   : jumlah frekuensi dalam distribusi
cf   : frekuensi kumulatif dibawah interval yang mengandung K1, dan
      i     : lebar interval

Contoh ntuk mencari kuartil :

Interal Nilai                                                                                              cf

195 – 199                               1                             ↓                                 34

190 – 194                               5                                                                33

185 – 189                               8                             24                               28

180 – 184                               10                           ↑                                 20

175 – 179    ───────── (6)     ───────────────────   10    


──                            

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                                              ↓
170 – 174                               3                                                                (4)

165 – 169                               1                                                                 1

                                                                              ↑

Jumlah                                   34                                                                -

      Untuk menghitung K1, jumlah frekuensi yang membatasi 25% ujung distribusi sebelah
bawah (dan 75% ujung atas) harus ditemukan dulu. Ini dicari dengan membagi N dengan 4, atau
34:4 sama dengan 8,5. Interval 165-169dan 170-174 bersama-sama mempunyai jumlah frekuensi
4 (atau cbb =4).Untuk menggenapkannya menjadi 8,5 dibutuhkan 4,5 lagi yng kita ambilkan dari
frekuensi diatasnya (fd = 6). Kalau begitu interval yang mengandung K1 adalah interal 175-179,
yaitu interal yang mengandung fd. jika ini sudah ditemukan, kita tinggal lagi mengisi rumusnya
sebagai berikut.

Bb  = 174,5                             fd  = 6                          ¼ N  = 8,5


Cfd = 4                                                i    = 5
K1=  174,5 + [ ] 5 = 178,25

2. DESIL
Jika sekumpulan data yang sudah disusun menurut urutan nilainya dibagi menjadi 10 bagian
yang sama banyak, maka kesembilan bilangan pembaginya disebut dengan desil. Kesembilan
desil tersebut adalah desil kesatu, kedua, ketiga, …, kesembilan, yang dilambangkan secara
berurutan mulai dari yang paling kecil dengan D1, D2, D3,…, D9.
Rumus :
D 1 = Bb + [ ] i
D5 = K2 = Mdn
D 6 = Bb + [ ] i
D 9 = Bb + [ ] i

Keterangan :
Bb : batas bawah (nyata interval)
N  : jumlah frekuensi dalam distribusi
Cfb  : frekuensi kumulatif dibawah interval
Fd    : frekuensi dalam interval
I   : lebar interval

Dalam mana Bb, cfd, fd, adalah batas bawah (nyata), frekuensi kumulatif dibawah dan
frekuensi dalam interal yang mengandung desil yang bersangkutan.
Jadi yang berbeda dengan rumus median hanya komponen N nya. Untuk D2, D3, D4, D7, dan
D8. Komponen N nya secara berturut turut adalah 2/10 N, 3/10 N, 4/10 N, 7/10 dan 8/10 N.
karena prinsip prinsip lainnya dari desil ini sama dengan prinsip prinsip median dan kuartil,
maka akan berlebihan kalau disini akan dibicarakan lagi. Demikian juga contoh comtoh untuk
menghitung tap tiap desil. Dua contoh menghitungnya barang kali sudah cukup.
Dengan menggunakan bahan dalam table 20 akan kita cari D3 nya. Pertama yang kita
kerjakan adalah menemukan 3/10 dan frekuensi seluruhnya. Ini kita ketemukan, yaitu 10,2 (dari
3/10 x 34). Dengan memeriksa table 20 kita ketahui bahwa D3 terletak dalam interal nilai nilai
180 – 184. Dari ini apa yang sudah kita ketahui adalah:

Bb = 179,5                                                       fd = 10
Cfd = 10                                                          i = 5
                        3/10 N = 10,2
Diisikan ke dalam rumusnya:
D 3 = Bb +
 = 179,5 +
 = 179,6
     Jadi, nilai 179,6 menjadi batas dari 30 persen frekuensi di bagian bawah distribusi dari 70
persen menjadi bagian atasnya.
     Sekarang dari bahan Tabel 21 kita hendak mencari D7-nya. Pertama kita cari 7/10 (yaitu 527,8
yang diperoleh dari 7/10 kali 758 dari jumlah frekuensi dihitung dari distribusi bagian bawah .
Dengan memeriksa tabel 21 kita ketahui bahwa D7 terletak di suatu titik antara umur 22 tahun
dan 23 tahun. Dengan mengisikan dalam rumus kita peroleh hasil sebagai berikut:
D7 = Bb +
      = 22 tahun +
 = 22 tahun

3. PERSENTIL
Jika sekumpulan data yang sudah disusun menurut urutan nilainya dibagi menjadi 100 bagian
yang sama banyak, maka kesembilan puluh sembilan bilangan pembaginya disebut dengan
persentil. Kesembilan puluh sembilan persentil tersebut adalah persentil kesatu, kedua, ketiga,
…, kesembilan puluh sembilan , yang dilambangkan secara berurutan mulai dari yang paling
kecil dengan P1, P2, P3, …, P99.
Rumus :
P n = Bb + [ ] i

keterangan :
Pn : presentil
Bb : batas bawah (nyata interval)
N  : jumlah frekuensi dalam distribusi
Cfb  : frekuensi kumulatif dibawah interval
Fd    : frekuensi dalam interval
I   : lebar interval

Contoh:

Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Meningkat

150-159 1 60

140-149 2 59

130-139 5 57

120-129 8 52

110-119 14 44

100-109 10 30

90-99 7 20

80-89 6 13

70-79 4 7

60-69 3 3

Jumlah 60 …

P35 = Bb +

 = 99,5 +

 = 100,5

Demikianlah dapat kita lihat bahwa pada prinsipnya mencari persentil sama halnya dengan
mencari median, kuartil, dan desil.
SUMBER :

www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-tendensi/
ainunnajib1994.blogspot.com/2016/03/makalah-ukuran-tendensi-sentraldan.html

https://smartstat.wordpress.com/2010/03/23/ukuran-pemusatan-data-central-tendency/