Anda di halaman 1dari 2

1.

The Accounting and Auditing Organization for Islamic Finacial Institutions (AAOIFI)
menjadi organisasi nirlaba internasional yang memiliki kompetensi untuk menyusun standar-
standar akuntansi keuangan dan auditing untuk Bank dan Lembaga Keuangan Syariah di dunia.
Organisasi ini memiliki tujuan antara lain:
a. Mengembangkan pemikiran akuntansi dan auditing yang relevan dengan lembaga
keuangan.
b. Menyamakan pemikiran dibidang akuntansi dan auditing yang relevan bagi lembaga
keuangan dan penerapannya melalui pelatihan, seminar, publikasi jurnal yang merupakan
hasil riset.
c. Menyajikan, mengumumkan, dan meginterpretasikan standar-standar akuntansi dan
auditing bagi lembaga-lembaga keuangan syariah.
d. Mereview dan mengamandemen standar-standar akuntansi dan auditing bagi
lembagalembaga keuangan syariah.

2. Fungsi dan peran Bank Syariah dijabarkan oleh AAOIFI adalah sebagai berikut:
a. Manajer investasi, yaitu Bank Syariah dapat mengelola investasi dana nasabah.
b. Investor, yaitu Bank Syariah dapat menginvestasikan dana yang dimiliki maupun dana
nasabah yang dipercayakan kepadanya.
c. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, Bank Syariah dapat melakukan
kegiatan-kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya.
d. Pelaksana kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, Bank
Syariah juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun,
mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.

3. Asumsi Dasar dalam akuntansi entitas syariah


a. Dasar Akrual
Untuk mencapai tujuannya , laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan
dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada
saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan diungkapkan dalam catatan akuntansi
serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada priode yang bersangkutan. Laporan
keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak
hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga
kewajiban pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yangmerepresentasikan kas
yang akan diterima di masa depan.

b. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun tas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas
syariah dan akan melanjutkan usahanya di masa depan. Oleh karena itu, entitas syariah
diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara
material skala usahanya. Jika maksud atau keingina tersebut timbul, laporan keuangan
mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus
diungkapkan.

4. Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai kewajiban. Hal ini karena entitas
syariah tidak berkewajiban ketika mengalami kerugian, untuk mengembalikan jumlah dana awal
dari pemilik dana kecuali akibat kelalaian atau wanprestasi entitas syariah. Di sisi lain, dana
syirkah temporer tidak apat digolongkan sebagai ekuitas karena mempunyai waktu jatuh tempo
dan pemilik dana tidak mempunyai hak kepemilikan yang sama dengan pemegang saham, seperti
hak voting dan hak atas realisasi keuntungan yang berasal dari aset lancar dan aset noninvestasi.

5. Pada intinya Akuntansi Keuangan membahas tentang ketersediaan informasi untuk membantu
pengguna dalam pembuatan keputusan. Hal ini sejalan dengan Firman Alllah SWT dalam surat
Al-Baqarah: ayat 168. Tujuan-tujuan akuntansi keuangan bank dan lembaga keuangan
konvensional lainnya, sebagian besar disusun oleh negara-negara non muslim. Secara alamiah,
hal ini tentu saja berbeda dengan apa yang disusun oleh Bank dan Lembaga Keuangan Syariah
lain. Perbedaan utama terletak pada perbedaan tujuan informasi akuntansi yang dibutuhkan. Hal
ini bukan berarti kita menolak keberadaan hasil-hasil perumusan tujuan-tujuan akuntansi yang
telah dibuat oleh para pakar negara-negara muslim. Hal ini karena adanya kesamaan tujuan
umum antara pengguna muslim dan non muslim yaitu penyediaan informasi akuntansi.
Sebagai tambahan, beberapa alasan lain yang menghasilkan perbedaan tujuan dari
Akuntansi Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, antara lain:
a. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah harus patuh terhadap prinsip-prinsip dan aturan
syariah dalam semua aspek keuangan dan aspek lain yang terkait.
b. Fungsi dari Bank dan Lembaga Keuangan Syariah sangat berbeda dengan Bank dan
Lembaga Keuangan Konvensional lain yang mengadopsi model lembaga keuangan barat.
c. Hubungan antara Bank dan Lembaga Keuangan Syariah dengan pihak-pihak lain yang
mempunyai urusan dengannya berbeda dengan hubungan yang dibentuk dengan model
Bank dan Lembaga Keuangan Konvensional. Tidak seperti Bank dan Lembaga Keuangan
Konvensional, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah tidak menggunakan bunga dalam
investasi dan transaksi keuangannya, tempat Bank dan Lembaga Keuangan Konvensional
meminjam dan memberikan pembiayaan menggunakan dasar bunga sebagai pembentuk
harganya. Bank Syariah menghimpun dana dengan pola investasi berdasarkan akad
Mudharabah (misalnya pembagian keuntungan antara investor(Shahibul Maal) dan Bank
Syariah sebagai Mudharib) dan menyalurkan dana yang berhasil dihimpun dengan model
bagi hasil, jual beli maupun sewa yang sesuai dengan ketentuan syariah.