Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

KONSEP ASKEP PADA ANAK SAKIT BRONKITIS

Disusun Oleh :

Nurul Izzah (PO0220219030)

A.Maria Ulfa (PO0220219001)

POLTEKKES KEMENKES PALU


PRODI DIII KEPERAWATAN POSO
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena telah memberikan kesehatan dan kesempatan pada
kami untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah berjudul “Askep paada anak sakit Bronkitis” tepat waktu. Makalah ini
disusun guna memenuhi tugas pada mata kuliah Keperawatan Anak. Selain itu, kami juga
berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Kami juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses
penyusunan makalah ini sehingga makalah ini bisa terselesaikan. Kami menyadari makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami
terima demi kesempurnaan makalah ini.

Poso, 16 Maret 2021

Kelompok 3

DAFTAR ISI

1
Kata Pengantar ...........................................................................................................................1
Daftar Isi ......................................................................................................................................2
BAB I : PENDAHULUAN .............................................................................................................3
A. Latar Belakang ...............................................................................................................3
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................3
C. Tujuan ............................................................................................................................3
BAB II : TINJAUAN TEORI .........................................................................................................4
A. Definisi bronkitis .............................................................................................................4
B. Etiologi ...........................................................................................................................4
C. Tanda dan gejala klinis...................................................................................................5
D. Patofisiologi ....................................................................................................................5
E. Pemeriksaan diagnostik ................................................................................................8
F. Penatalaksanaan ...........................................................................................................8
BAB III : KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK SAKIT BRONKITIS.....................10
A. Pengkajian .....................................................................................................................10
B. Klasifikasi data/analisa data...........................................................................................11
C. Diagnosa keperawatan ..................................................................................................12
D. Intervensi keperawatan .................................................................................................13
E. Implementasi .................................................................................................................28
F. Evaluasi .........................................................................................................................29
BAB IV : PENUTUP ....................................................................................................................30
Kesimpulan .................................................................................................................................30
Daftar pustaka .............................................................................................................................31

BAB 1

2
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bronkitis merupakan penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang menyerang bronkus.
Penyakit ini banyak menyerang anak-anak yang lingkungannya banyak polutan, misalnya orang
tua yang merokok didalam rumah, asap kendaraan bermotor, asap hasil pembakaran pada saat
masak yang menggunakan bawan bakar kayu.

Menurut World Health Organization (WHO). Saat ini, penyakit bronkitis diderita oleh sekitar
64 juta orang di dunia. Penggunaan tembakau, polusi udara dalam ruangan/luar ruangan dan
debu serta bahan kimia adalah faktor resiko utama.

Angka kejadian bronkitis di Indonesia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun,
bronkitis merupakan salah satu bagian dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang terdiri
dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan dari keduanya.

Secara umum bronkitis dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor host/penderita.
Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi polusi udara, merokok dan infeksi.
Infeksi sendiri terbagi menjadi infeksi bakteri (staphylococcus, pertusis, tuberculosis,
mikroplasma), infeksi virus (RSV, parainfluenza, influenza, adeno) dan infeksi fungi (monilia).
Faktor polusi udara meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya bronkitis.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada anak yang mengalami bronkitis?

C. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memhami konsep asuhan keperawatan pada anak sakit
bronkitis.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Bronkitis

Bronkitis adalah suatu infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan inflamasi yang
mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi sebagai batuk, dan
biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. Bronkitis umumnya disebabkan oleh irus
seperti Rhinoirus, RS, irus influenza, virus para influenza, Adenoirus, virus rubeola, dan
Paramyxovirus dan bronkitis karena bakteri biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneunomia,
Bordetella perussis atau Corynebacterium diptheriae (Rahajoe,2012).

Br Corynebacterium dipthariae onkitis dibagi menjadi dua :


1. Bronkitis akut
Merupakan infeksi saluran pernapasan akut bawah. Ditandai dengan awitan gejala yang
mendadak dan berlangsung lebih singkat. Pada bronkitis jenis ini, inflamasi (peradangan bronkus
biasanya disebabkan oleh pemaparan terhadap iritan, seperti asap rokok, udara kotor, debu,
asap kimiawi, dll.
2. Bronkitis kronis
Ditandai dengan gejala yang berlangsung lama (3 bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-
turut). Pada bronkitis kronik peradangan bronkus tetap berlanjut selama beberapa waktu dan
terjadi obstruksi/hambatan pada aliran udara yang normal di dalam bronkus.

B. Etiologi

Bronkitis oleh virus seperti Rinivirus, RSV, virus influenza, virus parainfluenza, Adenovirus,
Virus rubeola, dan Paramyxovirus. Menerut laporan penyebab lainnya dapat terjadi melalui zat
iritan asam lambung, seperti asam lambung, atau polusi lingkungan dan dapat ditemukan dan
setelah pejanan yang berat, seperti saat aspirasi setelah muntah, atau pejanan dalam jumlah
besar yang disesaskan zat kimia dan menjadikan bronkitiss kronis.
Bronkitis karena bakteri biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneumonia yang dapat
menyebabkan bronkitis akut dan biasanya terjadi pada anak usia diatas 5 tahun atau remaja,

4
bordetella pertussis dan Corynebacterium diphtheria biasa terjadi pada anak yang tidak
diimunisasi dan dihubungkan dengan kejadian trakeobronkitis, yang selama stadium kataral
pertussis, gejala-gejala infeksi respiratori lebih dominan. Gejala khas berupa batuk kuat berturut-
turut dala satu ekspirasi yang diikuti dengan usaha keras dan mendadak untuk inspirasi,
sehingga menimbulkan whoop. Batuk biasanya menghasilkan mucus yang kental dan lengket.
(Rahajoe,2012).

C. Tanda dan Gejala Klinis

Tanda dan gejala pada bronkitis akut :


 Batuk
 Terdengar ronchi
 Suara yang berat dan kasar
 Wheezing
 Menghilang dalam 10-14 hari
 Demam
 Produksi sputum

Tanda-tanda dan gejala bronkitis kronis :


 Batuk yang parah pada pagi hari dan pada kondisi lembab
 Sering mengalami infeksi saluran napas (seperti misalnya pilek atau flu) yang dibarengi
dengan batuk.
 Gejala bronkitis akut lebih dari 2-3 minggu.
 Demam tinggi
 Sesak napas jika saluran tersumbat
 Produksi dahak bertambah banyak berwarna kuning atau hijau.

D. Patofisiologi

Menurut Kowalak (2011) Bronkitis terjadi karena Respiratory Syncytial Virus (RSV),Virus
Influenza, Virus Para Influenza, Asap Rokok, Polusi Udara yang terhirup selama masa inkubasi
virus kurang lebih 5 sampai 8 hari. Unsur-unsur iritan ini menimbulkan inflamasi pada

5
precabangan trakeobronkial, yang menyebabkan peningkatan produksi sekret dan penyempitan
atau penyumbatan jalan napas. Seiring berlanjutnya proses inflamasi perubahan pada sel-sel
yang membentuk dinding traktus respiratorius akan mengakibatkan resistensi jalan napas yang
kecil dan ketidak seimbangan ventilasi-perfusi yang berat sehingga menimbulkan penurunan
oksigenasi daerah arteri.
Efek tambahan lainnya meliputi inflamasi yang menyebar luas, penyempitan jalan napas dan
penumpukan mucus di dalam jalan napas. Dinding bronkus mengalami inflamasi dan penebalan
akibat edema serta penumpukan sel-sel inflamasi. Selanjutnya efek bronkospasme otot polos
akan mempersempit lumen bronkus. Pada awalnya hanya bronkus besar yang terlibat inflamasi
ini, tetapi kemudian semua saluran napas turut terkena. Jalan napas menjadi tersumbat dan
terjadi penutupan, khususnya pada saat ekspirasi.
Dengan demikian, udara napas akan terperangkap di bagian distal paru. Pada keadaan ini
akan terjadi hipoventilasi yang menyebabkan ketidakcocokan dan akibatnya timbul hipoksemia.
Hipoksemia dan hiperkapnia terjadi sekunder karena hipoventilasi. Resistensi vaskuler paru
meningkat ketika vasokonstriksi yang terjadikarena inflamasi dan konpensasi pada daerah-
daerah yang mengalami hipoventilasi membuat arteri pulmonalis menyempit. Inflamasi alveolus
menyebabkan sesak napas.

Bagan patofisiologi bronkitis :

Bronkitis

Respiratory Syncytial Virus


(RSV),Virus Influenza, Virus Para
Influenza, Asap Rokok, Polusi
Udara

Inflamasi pada precabangan Inflamasi yang menyebar luas,


trakeobronkial penyempitan jalan napas dan penumpukan
mucus di dalam jalan napas penumpukan

Peningkatan produksi Penyempitan atau Edema serta


sekret penyumbatan jalan penumpukan sel-sel
napas
6
Perubahan pada sel-sel yang Efek bronkospasme Semua saluran napas
membentuk dinding traktus respiratorius otot polos turut terkena inflamasi.

Resistensi jalan napas Ketidakseimbangan Mempersempit lumen Jalan napas menjadi


yang kecil ventilasi-perfusi yang bronkus tersumbat dan terjadi
berat penutupan, khususnya
pada saat ekspirasi.

Penurunan oksigenasi Udara napas akan terperangkap di bagian distal


daerah arteri. paru

Hipoventilasi

Ketidakcocokan

Hipoksemia dan hiperkapnia

Inflamasi dan konpensasi pada daerah- daerah yang


mengalami hipoventilasi membuat arteri pulmonalis
menyempit

Resistensi vaskuler paru meningkat ketika vasokonstriksi

Inflamasi alveolus

Sesak napas

7
E. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang dilakukan pada klien bronkitis kronik adalah meliputi rontgen thoraks,
analisa sputum, tes fungsi paru dan pemeriksaan kadar gas darah arteri.

F. Penatalaksanaan

Karena penyebab bronkitis pada umumnya virus maka belum ada obat kausal. Antibiotik
tidak berguna. Obat yang diberikan berikan biasanya untuk penurun demam, banyak minum
terutama sari buah-buahan, obat penekan batuk tidak diberikan pada batuk yang banyak lendir,
lebih baik diberi banyak minum.

Bila batuk tetap ada dan tidak ada perbaikan setelah 2 minggu maka perlu dicurigai adanya
infeksi bakteri sekunder dan antibiotik boleh diberikan, asal sudah disingkirkan adanya asma
atau pertussis. Pemberian antibiotik yang serasi untuk M. pneumonia dan H. influenza sebagai
bakteri penyerang sekunder misalnya Amoksisilin, Kotrimoksazol dan golongan makrolid.
Antibiotik diberikan 7-10 hari dan bila tidak berhasil maka perlu dilakukan foto thoraks untuk
menyingkirkan kemungkinan kolaps paru segmental dan lobaris, benda asing dalam saluran
napas, dan tuberkulosis.

Klien dengan bronkitis tidak dirawat di rumah sakit kecuali ada komplikasi yang menurut
dokter perlu perawatan di rumah sakit, oleh karenanya perawatan lebih di tujukan sebagai
petunjuk pada orang tua. Masalah yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama dan
resiko terjadi komplikasi.

1. Akibat batuk yang lama

Pada bronkitis gejala batuk sangat menonjol, dan sering terjadi siang dan malam terutama
pagi-pagi sekali yang menyebabkan klien kurang istirahatatau tidur, klien akan terganggu rasa
aman dan nyamannya. Akibat lain adalah terjadinya daya tahan tubuh klien menurun, anoreksia,
sehingga berat badannya sukar naik. Pada anak yang lebih besar batuk-batuk yang terus-
menerus akan mengganggu kesenangannya bermain, dan bagi anak yang sudah sekolah batuk
mengganggu konsentrasi belajar bagi dirinya sendiri, saudara, maupun teman-temannya.

8
Untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah banyak
dengan memberikan obat secara benar dan membatasi aktivitas anak untuk mencegah keluar
banyak keringat, karena jika baju basah juga akan mengakibatkan batuk-batuk (karena dingin).
Untuk mengurangi batuk pada malam hari berikan obat terakhir sebelum tidur. Anak yang batuk
apalagi yang bronkitis lebih baik tidak tidur di kamar yang ber-AC atau memakai kipas angin. Jika
suhu udaranya dingin dipakaikan baju yang hangat, lebih baik ada tertutup lehernya. Obat gosok
membuat anak terasa hangat dan dapat tidur tenang. Bila batuk tidak segera berhenti berikan
minum hangat tidak manis.

Pada anak yang sudah agak besar jika ada dahak di dalam tenggorokannya beritahu di
buang karena adanya dahak tersebut juga merangsang batuk. Usahakan mengurangi batuk
dengan menghindari makanan yang merangsang seperti goreng-gorengan, permen, atau minum
es. Jangan memeandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan memandikan dengan air
hangat.

2. Terjadi komplikasi

Bronkits akut yang tidak diobati secara benar cenderung menjadi bronkitis kronik, sedangkan
bronkitis kronik memungkinkan anak mudah mendapat infeksi. Gangguan pernafasan secara
langsung sebagai akibat bronkitis kronik ialah bila lendir tetap tinggal didalam paru akan
menyebabkan terjadinya atelectasis atau bronkiektasis, kelainan ini akan menambah penderitaan
klien lebih lama.

Untuk menghindari terjadinya komplikasi ini pasiean brokitis harus mendapatkan pengobatan
dan perawatan yang benar sehingga lendir tidak selalu tertinggal dalam paru. Berikan banyak
minum untuk membantu mngencerkan lendir; berikan buah dan makanan yang bergizi untuk
mempertinggi daya tahan tubuh.

Pada anak yang sudah mengerti beritahukan bagaimana sikapnya jika ia sendang batuk dan
apa yang harus dilakukan. Pada bayi batuk- batuk yang keras sering di akhiri dengan muntah,
biasanya tercampur dengan lendir. Setelah muntah bayi menjadi agak tenang. Tetapi bila muntah
berkelanjutan, maka dengan keluarnya makanan dapat menyebabkan bayi menjadi kurus serta
menurunkan daya tahan tubuh Untuk mengurangi kemungkinan tersebut setelah bayi muntah
dan tenang perlu di berikan minum susu dan makanan lain.

9
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK SAKIT BRONKITIS

A. Pengkajian

1. Anamnesis

Keluahan utama pada klien dengan bronkitis meliputi batuk kering dan produktif dengan
sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai ≥ 400C dan sesak napas.

2. Riwayat penyakit saat ini

Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkitis bervariasi tingkat keparahan dan
lamanya. Bermula dari gejala batuk – batuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis
yang berat.sebagai tanda – tanda terjadinya toksemia klien dengan bronkitis sering mengeluh
malaise, demam, badan terasa lamah, banyak berkeringat, takikardia, da takipnea. Sebagai
tanda terjadinya iritasi, keluahan yang didapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi/peningkatan
produksi sekret, dan rasa sakit dibawah sternum. Pentingnya ditanyakan oleh perawat mengenai
obat – obat yang telah atau biasa diminum oleh klien untuk mengurangi keluhannya dan
mengkaji kembali apakah obat – obat tersebut masih relavan untuk dipakai kembali.

3. Riwayat penyakit dahulu

Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali klien mengeluh pernah
mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada
pernapasan atas. Perawat haru memperhatikan dan mencatatnya baik – baik.

4. Pengkajian Psiko-sosial-spiritual

Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkitis didapatkan klien sering mengalami
kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya dimana adanya keluahan batuk, sesak
napas, dan demam merupakan stresor penting yang menyebabkan klien cemas. Perawat perlu
memberikan dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi dengan tim medis
untuk pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit dari klien. Kaji pengetahuan klien
dan keluarga tentang pengobatan yang diberikan (nama, cara kerja, frekuensi, efek samping,

10
dan tanda – tanda terjadinya kelebihan dosis). Pengobatan non farmakologi seperti olahraga
secara teratur serta mencegah kontak dengan alergen atau iritan (jika diketahui penyebab
alergi), sistem pendukung, kemauan dan tingkat pengetahuan keluarga.

5. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum dan tanda – tanda vital, hasil pemeriksaan tanda – tanda vital pada klien
dengan bronkitis biasanya didapatkan adanya peningkatan suhu tubuh lebih dari 400 C,
frekuensi napas meningkat dari frekuensi normal, nadi biasanya meningkat seirama dengan
peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernapasan serta biasanya tidak ada masalah dengan
tekanan darah.

 Inspeksi

Klien biasanya mengalami peningkatan usahadan frekuensi pernapasan, biasanya


menggunakan otot bantu pernapasan. Pada kasus bronkitis kronis, sering didapatkan
bentuk dada barrel/tong. Gerakan pernapasan masih simetris, hasil pengkajian lainnya
menunjukan klien juga mengalami batuk yang produktif dengan sputum purulen berwarna
kuning kehijauan sampai hitam kecoklatan karena bercampur darah.
 Palpasi
Taktil fermitus biasanya normal

 Perkusi

Hasil pengkajian perkusi menunjukan adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paruh.

 Auskultasi

Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka suara napas
melemah, jika bronkus paten dan drainasenya baik ditambah adanya konsuldasi disekitar
abses, maka akan terdengar suara napas bronkial dan ronkhi basah.

B. Klasifikasi Data/ Analisa Data

Analisa data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data sampai
dengan semua data terkumpul. Analisa data dilakukan dengan cara mengemukakan fakta,
selanjutnya membandingkan dengan teori yang ada dan selanjutnya dituangkan dalam opini

11
pembahasan. Teknik analisis yang digunakan dengan cara menarasikan jawaban – jawaban dari
penelitian yang diperoleh dari hasil interprestasi wawancara mendalam yang dilakukan untuk
menjawab rumusan masalah penelitian. Teknik analisi digunakan dengan cara observasi oleh
peneliti dan studi dokumentasi yang menghasilakan data untuk selanjutnya diinterprestasikan
oleh peneliti dibandingkan teori yang ada sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi dalam
intervensi tersebut.
Urutan dalam analisis adalah:

1. Pengumpulan data.
Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi, dokumen). hasil ditulis dalam
bentuk catatan lapangan, kemudian disalin dalam bentuk transkip. Data yang dikumpulkan terkait
dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan/implementasi, dan evaluasi.

2. Mereduksi data
Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan dijadikan satu dalam
bentuk transkip. Data yang terkumpul kemudian dibuat koding yang dibuat oleh peneliti yang
mempunyai arti tertentu sesuai dengan optik penelitian yang diterapkan. Data obyektif dianalisis
berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik kemudian dibandingkan nilai normal.Penyajian data
dapat dilakukan dengan tabel, gamabar, bagan maupun teks naratif. Kerahasiaan dari responden
dijamin dengan jalan mengaburkan identitas responden.

3. Kesimpulan
Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan hasil – hasil
penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan
dilakukan denagn metode induksi.

C. Diagnosa Keperawatan

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan posisi tubuh yang menghambat ekspansi
paru.
2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
3. Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi
4. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan napas

12
5. Resiko kekurangan volume cairan

D. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan


1. Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan napas :
efektif berhubungan selama 3x 24 jam, masalah Observasi :
dengan posisi tubuh pola napas tidak efektif dapat 1. Memonitor pola napas
yang menghambat teratasi dengan kriteria hasil : (frekuensi,
ekspansi paru. 1. Frekuensi napas kedalaman, usaha
membaik napas)
2. Pernapasan cuping 2. Monitor bunyi napas
hidung menurun tambahan (mis.
3. Penggunaan otot Gurgling, mengi,
bantu pernapasan wheezing, rochi
menurun kering).
4. Kapasitas vital 3. Monitor sputum
meningkat (jumlah, warna,
5. Dispnea menurun aroma)
6. Ekskursi dada Terapeutik :
membaik 1. Pertahankan
kepatenan jalan
napas dengan head
tilt dan chin-lift (jaw
thrust jika curiga
trauma cervical)
2. Posisikan semi-fowler
atau fowler
3. Berikan minum air
hangat
4. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
5. Lakukan penghisapan
lendir kurang dari 15

13
detik
6. Lakukan
hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
7. Keluarkan sumbatan
benda padat dengan
konsep McGill
8. Berikan oksigen jika
perlu
Edukasi :
1. Anjurkan asupan
cairan 2000 ml/hari,
jika tidak kontaidikasi
2. Ajarkan teknik batuk
efektif
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.
Pemantauan respirasi :
Observasi :
1. Monitor frekuensi,
irama, kedalaman,
dan upaya napas
2. Monitor pola napas
(seperti bradipnea,
takipnea,
hiperventilasi,
kussmaul, Cheyne-
Stokes, Biot, Ataksik)

14
3. Monitor kemampuan
batuk efektif
4. Monitor adanya
produksi sputum
5. Monitor adanya
sumbatan jalan napas
6. Palpasi kesimetrisan
ekspansi paru
7. Auskultasi bunyi
napas
8. Monitor saturasi
oksigen
9. Monitor nilai AGD
10. Monitor hasil x-ray
thoraks
Terapeutik :
1. Atur interval
pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan, jika
perlu
2. Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan Edukasi kesehatan
selama 3x 24 jam, masalah Observasi :
defisit pengetahuan dapat 1. Identifikasi kesiapan
teratasi dengan kriteria hasil : dan kemampuan
1. Kemapuan menerima informasi
menjelaskan 2. Identifikasi faktor-

15
pengetahuan tentang faktor yang dapat
suatu topik meningkatkan dan
meningkat. menurunkan motivasi
2. Kemampuan perilaku hidup bersih
menggambarkan dan sehat
pengalaman Terapeutik :
sebelumnya yang 1. Sediakan materi dan
sesuai dengan topik media pendidikan
meningkat. kesehatan
3. Perilaku sesuai 2. Jadwalkan pendidikan
dengan pengetahuan kesehatan sesuai
meningkat. kesepakatan
3. Berikan kesempatan
untuk bertanya
Edukasi
1. Jelaskan faktor resiko
yang dapat
mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang
dapat digunakan
untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih
dan sehat
3. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan Manajemen hipertemia
selama 1x 24 jam, masalah Observasi :
hipertermia dapat teratasi 1. Identifikasi penyebab
dengan kriteria hasil : ipertermia (mis.
1. Suhu tubuh membaik Dehidrasi, terpapar
2. Tekanan daarah lingkungan panas,
membaik penggunaan

16
inkubator)
2. Monitor suhu tubuh
3. Monitor kadar
elektrolit
4. Monitor pengeluaran
urin
5. Monitor komplikasi
akibat hipertermi
Terapeutik
1. Sediakan lingkungan
yang dingin
2. Longgarkan atau
lepaskan pakaian
3. Basahi dan kipasi
permukaan tubuh
4. Berikan cairan oral
5. Ganti linen setiap hari
atau lebih sering jika
mengalami
hiperhidrosis (keringat
berlebih)
6. Lakukan pendinginan
eksternal (mis.
Selimut hipotermia
atau kompres dingin
pada dahi, leher,
dada, abdomen,
aksila)
7. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
8. Berikan oksigen jika
perlu

17
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena jika perlu
Regulasi temperatur
Observasi :
1. Monitor suhu bayi
sampai stabil (36,5ºC-
37,5ºC)
2. Monitor suhu tubuh
anak tiap 2 jam jika
perlu
3. Monitor tekanan
daraah, frekuensi
pernapasan dan nadi
4. Monitor warna dan
suhu
5. Monitor dan catat
tanda dan gejala
hipotermia atau
hipertermia
Terapeutik
1. Pasang alat pemantau
suhu kontinu jika perlu
2. Tingkatkan asupan
cairan dan nutrisi
yang adekuat
3. Bedong bayi segera
setelah lahir untuk
mencegah kehilangan

18
panas
4. Masukkan bayi BBLR
ke dalam plastik
segera setelah lahir
(mis. Bahan
polyethytene,
polyuurethanu)
5. Gunakan topi bayi
untuk mencegah
kehilangan panas
pada bayi baru lahir
6. Tempatkan bayi baru
lahir di bawah radiant
warmer
7. Pertahankan
kelembabab inkubator
50% atau lebih untuk
mengurangi
kehilangan panas
karena proses
evaporasi
8. Atur suhu inkubator
sesuai keebutuhan
9. Hangatkan terlebih
dahulu bahan-bahan
yang akan kontak
denganbayi (mis.
Selimut, kain
bedongan, stetoskop)
10. Hindari meletakkan
bayi ddi dekat jendela
terbuka atau di area

19
aliran pendingin
ruangan atau kipas
angin
11. Gunakan matras
penghangat, selimut
hangat, dan
penghangat ruangan
untuk menaikkan suhu
tubuh jika perlu
12. Gunakan kasur
pendingin, water
circulating blankets,
icepack atau gel pad
dan intravaskuler
cooling catheterization
umtuk menurunkan
suhu tubuh
13. Sesuaikan suhu
lingkungan dengan
kebutuhan pasien
Edukasi
1. Jelaskan cara
pencegahan
heatexhaustion dan
heatstroke
2. Jelaskan cara
pencegaahan
hipotermi karena
terpapar udara dingin
3. Demonstrasikan
tekhnik perawatan
metode

20
kangguru(PMK) untuk
bayi BBLR
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
antipiretik jika perlu

4. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan Latihan batuk efektif


tidak efektif selama 1x 24 jam, masalah Observasi :
berhubungan dengan bersihan jalan napas tidak 1. Identifikasi
spasme jalan napas efektif dapat teratasi dengan kemampuan batuk
kriteria hasil : 2. Monitor adanya
1. Batuk efektif retensi sputum
meningkat 3. Monitor tanda dan
2. Frekuensi napas gejala infeksi saluran
membaik napas
3. Pola napas membaik 4. Monitor input dan
4. Produksi sputum output cairan (mis.
menurun Jumlah dan
karakteristik)
Terapeutik
1. Atur posisi semi-
fowler atau fowler
2. Pasang perlak dan
bengkok di pangkuan
pasien
3. Buang sekret pada
tempat sputum
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur batuk efektif
2. Anjurkan tarik napas
dalam melalui hidung
selama 4 detik,

21
ditahan selama 2
detik, kemudian
keluarkan dari mulut
dengan bibir mencucu
(dibulatkan selama 8
detik)
3. Anjurkan mengulangi
tarik napas dalam
hingga 3 kali
4. Anjurkan batuk
dengan kuat langsung
setelah tarik napas
dalam yang ke-3
Kolaborasi
1. Kolaaborasi
pemberian mokolitik
atau ekspektoran jika
perlu
Manajemen jalan napas
Observasi
1. Monitor pola napas
(frekuensi,
kedalaman, usaha
napas)
2. Monitor bunyi napas
tambahan (mis.
Gurgling, mengi,
wheezing, ronkhi
kering)
3. Monitor sputum
(jumlah, warna, aroma
Terapeutik :

22
1. Pertahankan
kepatenan jalan
napas dengan head
tilt dan chin-lift (jaw
thrust jika curiga
trauma cervical)
2. Posisikan semi-fowler
atau fowler
3. Berikan minum air
hangat
4. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
5. Lakukan penghisapan
lendir kurang dari 15
detik
6. Lakukan
hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
7. Keluarkan sumbatan
benda padat dengan
konsep McGill
8. Berikan oksigen jika
perlu
Edukasi :
1. Anjurkan asupan
cairan 2000 ml/hari,
jika tidak kontaidikasi
2. Ajarkan teknik batuk
efektif
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian

23
bronkodilator,
ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
Pemantauan respirasi
Observasi :
1. Monitor frekuensi,
irama, kedalaman,
dan upaya napas
2. Monitor pola napas
(seperti bradipnea,
takipnea,
hiperventilasi,
kussmaul, Cheyne-
Stokes, Biot, Ataksik)
3. Monitor kemampuan
batuk efektif
4. Monitor adanya
produksi sputum
5. Monitor adanya
sumbatan jalan napas
6. Palpasi kesimetrisan
ekspansi paru
7. Auskultasi bunyi
napas
8. Monitor saturasi
oksigen
9. Monitor nilai AG
10. Monitor hasil x-ray
thoraks
Terapeutik :
1. Atur interval
pemantauan respirasi

24
sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan, jika
perlu
5. Resiko Setelah dilakukan tindakan Manajemen cairan
ketidakseimbangan selama 1x 24 jam, masalah Observasi :
cairan resiko ketidakseimbangan 1. Monitor status hidrasi
cairan dapat teratasi dengan (mis. Frekuensi nadi,
kriteria hasil : kekuatan nadi,akral,
1. Dehidrasi menurun pengisian kapiler,
2. Mata cekung kelembaban mukosa,
membaik turgor kulit, tekanan
3. Tekanan darah darah)
membaik 2. Monitor berat badan
4. Denyut nadi radial harian
membaik 3. Monitor berat badan
5. Turgor kulit membaik sebelum dan sesudah
dialisis
4. Monitor hasil
pemeriksaan
laboratorium (mis.
Hematokrik NaKCl,
berat jenis urin, BUN)
5. Monitor status
hemodinamik (mis.
MAP,CVP,PAP,PCW
P jika tersedia)
Terapeutik

25
1. Catat intake output
dan hitung balance
cairan 24 jsm
2. Berikan asupancairan,
sesuai kebutuhan
3. Berikan cairan
intravena jika perlu
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
diuretik jika perlu
Pemantauan cairan
Observasi:
1. Monitor frekuensi dan
kekuatan nadi
2. Monitor frekuensi
napas
3. Monitor tekanan darah
4. Monitor berat badan
5. Monitor waktu
pengisian kapiler
6. Monitor elastisitas
atau turgor kulit
7. Monitor jumlah, warna
dan berat jenis urin
8. Monitor kadar albumin
dan protei total
9. Monitor hasil
pemeriksaan
serum(mis.
Osmolaritas serum,
hematokrit, natrium,
kalium, BUN)

26
10. Monitor intake dan
output cairan
11. Identifikasi tanda-
tanda
hipovolemia(mis.
Frekuensi nadi
meningkat, nadi
teraba lemah, tekanan
darah menurun,
tekanan nadi
menyempit, turgor
kulit menurun,
membran mukosa
kering, volume urin
menurun, hematokrit
meningkat, haus,
lemah, konsentrasi
urin meningkat, berat
badan menurun dalam
waktu singkat)
12. Identifikasi tanda-
tanda hipervolemia
(mis. Dispnea, edema
perifer, edema
anasarka, JVP
meningkat, CVP
meningkat, refleks
hepatojugular positif,
beratbadan menurun
dalam waktu singkat)
13. Identifikasi faktor
resiko

27
ketidakseimbangan
cairan (mis. Prosedur
pembedahan mayor,
trauma atau
perdarahan, luka
bakar, aferesis,
obstruksi intestinal,
peradangan pankreas,
penyakit hginjal dan
kelenjar, disfungsi
intestinal)
Terapeutik
1. Atur interval waktu
pemantauan sesuai
dengan kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan jika perlu

E. Implementasi

Implementasi keperawatan adalah tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai


hasil yang diinginkan dari goal yang telah ditetapkan untuk pasien. Tindakan keperawatan
dilakukan dengan mengacu pada rencana tindakan/intervensi keperawatan yang telah
ditetapkan/dibuat.

F. Evaluasi

28
Evaluasi keperawatan adalah proses sistematis untuk menilai kualitas, nilai, kelayakan
suatu asuhan keperawatan. Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses keperawatan tetapi
bukan merupakan akhir dari proses karena informasi yang diperoleh saat evaluasi digunakan
untuk memulai silkus baru. Dalam proses keperawatan eveluasi merupakan aktivitas yang
direncanakan, terus-menerus, dilakukan petugas kesehatan menentukan kemajuan pasien
terhadap outcome yang dicapai, keefektifan rencana keperawatan. Evaluasi dimulai dan
pengkajian dasar dan dilanjutkan selama setiap kontak antara perawat dan pasien.
Frekuensi evaluasi tergantung pada frekuensi kontak perawat dengan keadaan yang dialami
pasien atau kondisi yang dieveluasi. Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai masalah
keperawatan telah teratasi, atau tidak teratasi atau dengan mengacu pada kriteria evaluasi.

29
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Bronkitis adalah suatu infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan inflamasi yang
mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi sebagai batuk, dan
biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. Bronkitis umumnya disebabkan oleh irus
seperti Rhinoirus, RS, irus influenza, virus para influenza, Adenoirus, virus rubeola, dan
Paramyxovirus dan bronkitis karena bakteri biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneunomia,
Bordetella perussis atau Corynebacterium diptheriae (Rahajoe, 2012).
Menurut Kowalak (2011) Bronkitis terjadi karena Respiratory Syncytial Virus (RSV),Virus
Influenza, Virus Para Influenza, Asap Rokok, Polusi Udara yang terhirup selama masa inkubasi
virus kurang lebih 5 sampai 8 hari. Unsur-unsur iritan ini menimbulkan inflamasi pada
precabangan trakeobronkial, yang menyebabkan peningkatan produksi sekret dan penyempitan
atau penyumbatan jalan napas.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. DPP TPSDP. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator


Diagnostik. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia; 2017. 1-328 p.
2. DPP TPSDP. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia; 2019. 1-193 p.
3. DPP TPSDP. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia; 2018. 1-527 p.
4. Nuga maria rajunita. Karya Tulis Ilmiah “Asuhan Keperawatan pada An. A.Z dengan
Bonkitis di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang .” Karya Tulis Ilm
“Asuhan Keperawatan pada An A.Z dengan Bonkitis di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr
WZ Johannes Kupang .” 2019;2:1–58.
5. Hidayatulloh A. Asuhan Keperawatan pada Klien Bronkitis Kronik dengan Masalah
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas di Ruang Teratai RSUD Bangil Pasuruan. Asuhan
Keperawatan pada Klien Bronkitis Kron dengan Masal Ketidakefektifan Bersihan Jalan
Napas di Ruang Teratai RSUD Bangil Pasuruan. 2018;6:80.
6. Amin Huda Nurarif S.Kep. N, Kusuma, Hardhi S.Kep. N. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosis Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 1. Yogyakarta:
Mediaction Jogja; 2015. 96-98 p.

31

Anda mungkin juga menyukai