Anda di halaman 1dari 8

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : ADIYATMA FIRMANSAH

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 041850903

Tanggal Lahir : 12 November 1992

Kode/Nama Mata Kuliah : ADPU4332/HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

Kode/Nama Program Studi : 311/ILMU HUKUM

Kode/Nama UPBJJ : 78/UPBJJ-UT Mataram

Hari/Tanggal UAS THE : RABU /16 DESEMBER 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama Mahasiswa : ADIYATMA FIRMANSAH

NIM : 041850903

Kode/Nama Mata Kuliah : ADPU4332/HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

Fakultas : HUKUM

Program Studi : ILMU HUKUM

UPBJJ-UT : MATARAM

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

SELONG, 16 DESEMBER 2020

Yang Membuat Pernyataan

ADIYATMA FIRMANSAH
1.A
Pola operasi pemerintah dalam memberikan bantuan subsidi kepada masyarakat
semuanya sudah baik adanya tanpa terkecuali karena antara satu bantuan dengan bantuan
yang lain terjadi kesinambungan, selanjutnya, strategi utama yang akan dilakukan dalam
jangka pendek adalah dengan mendorong pemulihan kembali sektor-sektor yang terkena
dampak paling besar dan menyerap banyak tenaga kerja (labor intensive). Berbagai insentif
dan stimulus program pemulihan ekonomi nasional yang sudah dilakukan pada tahun 2020,
dapat terus dijalankan untuk mempercepat proses normalisasi pasca pandemic Covid-19.
Dari sisi fiskal, kebijakan yang dilakukan diantaranya melalui potongan pajak ataupun
pajak ditanggung Pemerintah untuk Pajak Penghasilan Badan maupun orang pribadi,
penundaan pembayaran kredit, dan berbagai bantuan sosial yang dimaksudkan untuk
menjaga agar sektor ekonomi tetap berjalan dan menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain,
kebijakan moneter yang akomodatif juga dapat mendukung upaya pemulihan pelaku usaha
di berbagai sektor. Bauran kebijakan dimaksud diyakini akan mengurangi potensi tambahan
pengangguran, dan menjaga daya beli masyarakat sehingga pemulihan ekonomi
berlangsung lebih cepat. Untuk mendukung perbaikan indikator kesejahteraan agar kembali
on track, Pemerintah akan menempuh berbagai langkah kebijakan untuk memitigasi
dampak dan melakukan pemulihan sosial ekonomi. Pemulihan sosial ekonomi dilakukan
dengan berbagai langkah stimulus ekonomi, baik melalui jalur konsumsi untuk melindungi
masyarakat miskin dan rentan maupun stimulus dukungan terhadap dunia usaha. Stimulus
dunia usaha diharapkan dapat membantu aktivitas produksi agar tetap mampu bergerak
sehingga mampu menopang dunia tenaga kerja. Langkah kebijakan tersebut dapat dilihat
dari kebijakan fiskal Pemerintah yang diusahakan akan tetap countercyclical pada tahun
2021. Kebijakan fiskal yang countercyclical tersebut akan diwujudkan melalui pemberian
berbagai program perlindungan sosial dalam kerangka Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan
stimulus ekonomi dengan cara memperluas cakupan dan mempertebal nilai bantuan
program regular, serta memberikan program nonregular yang menyasar rumah tangga
miskin baru (non DTKS) yang terkena dampak ekonomi akibat Covid-19. Program regular
dimaksud adalah program sembako, PKH, dan subsidi listrik. Sementara untuk program
nonregular adalah Bansus sembako jabodetabek, Bantuan Sosial Tunai (BST).
Pada tahun 2021, Pemerintah berinisiatif untuk melanjutkan jaring pengaman sosial
(JPS) dan mengembangkan register sosial dengan cakupan universal seluruh penduduk.
Namun JPS pada 2021 akan berbeda dibandingkan 2020, Pemerintah akan melakukan
penyesuaian baik dari sisi manfaat maupun cakupan program.
Selain itu, pengembangan register sosial nantinya akan mencakup data kondisi
sosialekonomi penduduk yang termutakhirkan secara berkala. Register sosial ini
memungkinkan Pemerintah untuk mengidentifikasi pekerja sektor informal berdasarkan
nama dan alamat (by name by address). Informasi ini akan memudahkan perluasan jaring
pengaman sosial atau program pemberdayaan ekonomi pada saat terjadi guncangan
(ekonomi, sosial, bencana alam, atau wabah penyakit), terutama terhadap pekerja sektor
informal yang terdampak. Dengan cara ini pekerja sektor informal akan lebih terlindungi
dalam berbagai situasi. Berbagai upaya tersebut diharapkan mampu kembali menekan
tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran di 2021 yang sebelumnya diperkirakan
melonjak akibat pandemic Covid-19 di tahun 2020

B.
Iya, Karena pemerintah telah melaksanakan fungsi pemerintahan yaitu memberikan
pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

2.A

1. Aspek Administratif.
Pengamanan aspek ini yaitu menatausahakan BMN dan BMD dalam rangka
mengamankan BMN dari segi administrasinya. Disini letak pentingnya dokumen
administrasi yaitu dokumen yang diterbitkan pihak yang berwenang yang berkaitan
dengan keberadaan BMN dan BMD seperti sertifikat tanah, akta jual beli, keputusan
panitia pengadaan tanah, perjanjian sewa menyewa, perjanjian pinjam pakai, izin
mendirikan bangunan, Berita Acara Serah Terima, STNK, BPKB dan dokumen lainnya.
2. Aspek Fisik
Dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi barang, penurunan jumlah
barang, dan hilangnya barang. Terkait tanah misalnya masih ada tanah BMN dan BMD
yang diibiarkan begitu saja sehingga terlihat seperti tanah terlantar. Ini sangat riskan
sekali karena bisa dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan atau
mendirikan bangunan tanpa seizin atau sepengetahuan pengguna barang. Untuk
pengamanan secara fisik terhadap obyek tanah dapat dilakukan dengan membangun
tanda batas berupa pagar dan juga memasang papan tanda kepemilikan yang ditulis
secara jelas jenis hak atas tanah dan pengguna serta ditambahkan tulisan Dilarang Masuk
atau Memanfaatkan Tanah dengan ancaman pasal 167 (ayat 1) KUHP, pasal 389 KUHP
dan pasal 551 KUHP. Begitu pula dengan pengamanan bangunan, selain membangun
tanda batas dan papan tanda kepemilikan juga dilakukan pemasangan CCTV untuk
kantor, penyediaan alat pemadam kebakaran yg memadai, tenaga satpam dan metal
detector. Selanjutnya, untuk kendaraan, perangkat keamanan kendaraan tidak hanya
satu jenis antara lain alarm dan kunci pengaman yang lain dipastikan ada dan berfungsi
dengan baik. Kemudian penyimpanan kendaraan dilakukan di lingkungan kantor apabila
disimpan ditempat lain pemakai kendaraan harus bertanggungjawab terhadap
keamanannya.
3. Aspek Hukum
Pengamanan dari aspek hukum dilakukan agar BMN dan BMD terjaga/terlindungi dari
potensi masalah hukum seperti sengketa, gugatan, atau beralih kepemilikan kepada
pihak lain secara tidak sah. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif dengan
melengkapi bukti kepemilikan BMN dan BMD misalnya sertifikat Hak Pakai untuk tanah,
IMB untuk bangunan, STNK dan/atau BPKB untuk kendaraan. Selain itu upaya hukum
melalui Tuntutan Ganti Rugi maupun upaya hukum lain melalui litigasi maupun non
litigasi dapat ditempuh misalnya terhadap tanah dan atau bangunan yang disengketakan
atau diambil alih pihak lain.

B.
Di dalam peraturan pemerintah republik indonesia nomor 27 tahun 2014 dalam pasal 4 dan
pasal 5 mengatur tentang penglola BMN dan BMD dengan keterangan sebagai berikut:

Pasal 4
(1)Menteri Keuangan selaku bendahara umum negara adalah Pengelola Barang Milik
Negara.
(2) Pengelola Barang Milik Negara berwenang dan bertanggung jawab:
A.merumuskan kebijakan, mengatur, dan menetapkan pedoman pengelolaan Barang
Milik Negara;
B.meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan Barang Milik Negara;
C.menetapkan status penguasaan dan Penggunaan Barang Milik Negara;
D.mengajukan usul Pemindahtanganan Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau
bangunan yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat;
E.memberikan keputusan atas usul Pemindahtanganan Barang Milik Negara yang berada
pada Pengelola Barang yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
sepanjang dalam batas kewenangan Menteri Keuangan;
F.memberikan pertimbangan dan meneruskan usul Pemindahtanganan Barang Milik
Negara yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat kepada
Presiden;
G.memberikan persetujuan atas usul Pemindahtanganan Barang Milik Negara yang
berada pada Pengguna Barang yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat sepanjang dalam batas kewenangan Menteri Keuangan;
H.menetapkan Penggunaan, Pemanfaatan, atau Pemindahtanganan Barang Milik Negara
yang berada pada Pengelola Barang;
I.memberikan persetujuan atas usul Pemanfaatan Barang Milik Negara yang berada pada
Pengguna Barang;
J.memberikan persetujuan atas usul Pemusnahan dan Penghapusan Barang Milik Negara;
K.melakukan koordinasi dalam pelaksanaan Inventarisasi Barang Milik Negara dan
menghimpun hasil Inventarisasi;
K.menyusun laporan Barang Milik Negara;
M.melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan Barang Milik
Negara; dan
N.menyusun dan mempersiapkan laporan rekapitulasi Barang Milik Negara/Daerah
kepada Presiden, jika diperlukan.
(3)Pengelola Barang Milik Negara dapat mendelegasikan kewenangan dan tanggung jawab
tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna
Barang.
(4)Kewenangan dan tanggung jawab tertentu yang dapat didelegasikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dan tata cara pendelegasiannya diatur dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Pasal 5
(1)Gubernur/Bupati/Walikota adalah pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik
Daerah
(2)Pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah berwenang dan
bertanggungjawab:
a.menetapkan kebijakan pengelolaan Barang Milik Daerah;
b.menetapkan Penggunaan, Pemanfaatan, atau Pemindahtanganan Barang Milik Daerah
berupa tanah dan/atau bangunan;
c.menetapkan kebijakan pengamanan dan pemeliharaan Barang Milik Daerah;
d.menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan Barang Milik Daerah;
e.mengajukan usul Pemindahtanganan Barang Milik Daerah yang memerlukan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
f.menyetujui usul Pemindahtanganan, Pemusnahan, dan Penghapusan Barang Milik
Daerah sesuai batas kewenangannya;
g.menyetujui usul Pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa sebagian tanah dan/atau
bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan; dan
h.menyetujui usul Pemanfaatan Barang Milik Daerah dalam bentuk Kerja Sama
Penyediaan Infrastruktur.
(3)Sekretaris Daerah adalah Pengelola Barang Milik Daerah.
(4)Pengelola Barang Milik Daerah berwenang dan bertanggung jawab:
a.meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan Barang Milik Daerah;
b.meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan Barang Milik
Daerah;
c.mengajukan usul Pemanfaatan dan Pemindahtanganan Barang Milik Daerah yang
memerlukan persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota;
d.mengatur pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Pemusnahan, dan Penghapusan
Barang Milik Daerah;
e.mengatur pelaksanaan Pemindahtanganan Barang Milik Daerah yang telah disetujui
oleh Gubernur/Bupati/Walikota atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
f.melakukan koordinasi dalam pelaksanaan Inventarisasi Barang Milik Daerah; dan
g.melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan Barang Milik Daerah.

3.A
salah satu penyebab masyarakat yang pasif terhadap hak mendapatkan informasi dari
lembaga publik adalah karena literasi yang masih rendah. "Mereka (masyarakat) belum
tergerak menggunakan informasi itu walaupun itu untuk memperjuangkan hak-hak
mereka," ucap Kristiawan. Maka dari itu, menurutnya, Komisi Informasi Pusat (KIP) dan
lembaga pemerintah lainnya yang terkait harus lebih banyak mensosialisasikan UU KIP dan
birokrasi yang harus dilakukan masyarakat ketika menuntut hak mendapatkan informasi
yang diinginkan.
"Tugas sosialisasi ada di KIP dan pemerintah. Mereka harus jemput bola istilahnya, jangan
membebani masyarakat," imbuhnya kemudian. alasan lain yang menghambat masyarakat
menuntut haknya adalah karena birokrasi permintaan informasi yang lama di KIP.
"Kendalanya menurut saya birokrasinya yang lama, bisa 10 sampai 30 hari untuk
mendapatkan data yang diminta, dengan keterbukaan informasi yang tidak dikelola dengan
baik oleh lembaga publik,gejala hoaks makin marak dan masif di masyarakat.
Lembaga publik sejatinya siap dalam menghadapi gelombang hoaks di era digital. Salah satu
caranya dengan terbuka akan informasi sehingga data-data yang sesuai fakta lebih banyak
tersebar dibandingkan hoaks. "Sebenarnya materi UU KIP sudah jelas dalan menghadapi
gejala hoaks ini. Namun, KIP dan pemerintah tidak siap dan implementasi UU yang kurang,"

B.
Informasi Publik yang dikecualikan sifatnya rahasia dan tidak dapat diakses oleh public
sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Pasal 17 UU KIP. Informasi Publik dikecualikan
secara limitatif berdasarkan pada Pasal 17 UU KIP, yaitu apabila dibuka dapat:
1. Menghambat proses penegakan hukum; yaitu informasi yang dapat:
a. Menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana;
b. Mengungkapkan identitas informan, pelapor, saksi, dan/atau korban yang mengetahui
adanya tindak pidana;
c. Mengungkapkan data intelijen kriminal dan rencana-rencana yang berhubungan
dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional;
d. Membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan/atau keluarganya;
dan/atau
e. Membahayakan keamanan peralatan, sarana, dan/atau prasarana penegak hukum.
2. Mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan
dari persaingan usaha tidak sehat;
3. Membahayakan pertahanan dan keamanan negara, yaitu :
a. Informasi tentang strategi, intelijen, operasi, taktik dan teknik yang berkaitan dengan
penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara, meliputi tahap
perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi dalam kaitan dengan
ancaman dari dalam dan luar negeri;
b. Dokumen yang memuat tentang strategi, intelijen, operasi, teknik dan taktik yang
berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang
meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi;
c. Jumlah, komposisi, disposisi, atau dislokasikekuatan dan kemampuan dalam
penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana
pengembangannya;
d. Gambar dan data tentang situasi dan keadaan pangkalan dan/atau instalasi militer;
e. Data perkiraan kemampuan militer dan pertahanan negara lain terbatas pada segala
tindakan dan/atau indikasi negara tersebut yang dapat membahayakan kedaulatan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau data terkait kerjasama militer dengan
negara lain yang disepakati dalam perjanjian tersebut sebagai rahasia atau sangat
rahasia;
f. Sistem persandian negara; dan/atau
g. Sistem intelijen negara.
4. Mengungkapkan kekayaan alam Indonesia;
5. Merugikan ketahanan ekonomi nasional, yaitu
a. Rencana awal pembelian dan penjualan mata uang nasional atau asing, saham dan
aset vital milik negara;
b. Rencana awal perubahan nilai tukar, suku bunga, dan model operasi institusi
keuangan;
c. Rencana awal perubahan suku bunga bank, pinjaman pemerintah, perubahan pajak,
tarif, atau pendapatan negara/daerah lainnya;
d. Rencana awal penjualan atau pembelian tanah atau properti;
e. Rencana awal investasi asing;
f. Proses dan hasil pengawasan perbankan, asuransi, atau lembaga keuangan lainnya;
dan/atau
g. Hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakan uang.
6. Merugikan kepentingan hubungan luar negeri;
a. Posisi, daya tawar dan strategi yang akan dan telah diambil oleh negara dalam
hubungannya dengan negosiasi internasional;
b. Korespondensi diplomatik antarnegara;
c. Sistem komunikasi dan persandian yang dipergunakan dalam menjalankan hubungan
internasional; dan/atau
d. Perlindungan dan pengamanan infrastruktur strategis Indonesia di luar negeri.
7. Mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun
wasiat seseorang;
8. Mengungkap rahasia pribadi seseorang menyangkut :
a. Riwayat dan kondisi anggota keluarga;
b. Riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang;
c. Kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang;
d. Hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi
kemampuan seseorang; dan/atau
e. Catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan
pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal.
9. Memorandum atau surat-surat antar Badan Publik atau intra Badan Publik yang menurut
sifatnya dirahasiakan, kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan.
10. Informasi Publik yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang-Undang.

4. -

Anda mungkin juga menyukai