Anda di halaman 1dari 5

NAMA : RIKA WIRYANI

MATA KULIAH : MANAJEMEN RISIKO DAN ASURANSI

SOAL:

1. Asuransi dapat mengcover risiko-risiko yang akan dihadapi. Jelaskan risiko-risiko yang


dapat dicover oleh asuransi dan berikan contohnya.

2. Identifikasi dan jelaskan risiko yang tidak dapat dicover asuransi dan berikan contohnya

3. Industri asuransi memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri lainnya. Salah satu
yang membedakan adalah dalam hal menentukan tarif. Pada saat menentukan tarif,
sebaiknya harus memperhatikan beberapa faktor-faktor agar diperoleh tarif ideal.

A. Jelaskan perbedaan tersebut.

B. Jelaskan unsur-unsur apa saja agar dapat menetapkan tarif yang ideal.

Tugas diketik dengan huruf Times New Roman font 12 dan di-upload dalam format Pdf. pada
tempat yang disediakan. Hindari plagiasi, jika mengutip pendapat orang lain silakan disebutkan
sumbernya

JAWABAN:

1. Berikut ini risiko-risiko yang dapat dicover oleh asuransi dan contohnya:

A. Kerugian karena Risiko Bisa ditentukan dan Diukur

Jika kerugian tidak bisa diukur maka perusahaan asuransi tidak akan bisa membut
kontrak asuransi. Secara teoritis sebagian besar risiko bisa ditentukan dan diukur,
tetapi dalam praktik , penentuan dan oengujuran risiko tidak semudag yang
dibayangkan.

Sebagai contoh, perusahaan asuransi bersedia menanggung asuransi ketidakmampuan


bekerja lagi (disability) dengan menerima premi tertentu. Kemudian orang tersebut
mengalami iecelakaan dan mengklaim tidak bisa lagi bekerja, dan karena itu
menuntut uang pertanggungan. Bagaimana menentukan bahwa klaim orang tersebut
sudah benar? Apa definisi tidak mampu lagi bekerja? Sering kali perusahaan asuransi
percaya saja dengan klaim nasabahny. Setelah kejadian tersebut ditentukan,
pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar kerugian yang husa dibayarkan?
Bagaimana jika nasabah mengklaim mengalami penderitaan akibat kecelakaan
tersebut senilai Rp1.000.000.000? Nilai atau kerugian dari penderitaan atau kesedihan
semacam itu akan sulit ditentukan. Biasanya pengadilan yang akan memutuskan
seberapa besar ganti rugi yang pantas (meskipun mungkin juga tidak ada dasar yang
memuaskan untuk sampai pada angka ganti rugi tersebut).

B. Risiko yang Mempunyai Kemiripan dan Banyak

Salah satu persyaratan penting dari sudut pandang perusahaan asuransi adalah risiko
yang diasuransikan bisa diperkirakan di muka. Perusahaan asuransi bisa
memperkirakan lebih baik jika risiko tersebut cukup banyak dan mirip satu sama lain.
Jika hanya satu risiko terjadi dalam waktu sekian lama, maka perusahaan asuransi
akan menghadapi ketidakpastian yang sama dengan pihak yang mengasuransikan
(insured).

Contoh tipe risiko semacam itu adalah risiko kematian manusia. Risiko kematian
untuk individu kerupakan suatu yang sangat tidak pasti. Tetapi juka dikelompokkan
dalam jumlah besar, risiko tersebut menjadi bisa diperkirakan lebih akurat.
Perusahaan asuransi sudah menghitung risiko semacam itu jika dikelompokkan dalam
jumlah besar, dan karenanya bisa dihitung (menjadi lebih pasti)

C. Kerugian Harus Terhadi karena Ketidaksengajaan atau Karena Kecelakaan

Risiko muncul karena adanya ketidakpastian. Jika ketidakpastian bisa dihilangkan,


maka tidak ada risiko, dan karenanya tidak akan ada asuransi. Jika seseorang sudah
memperkirakan besarnya risiko makan dia tidak akan membutuhkan asuransi.
Kesengajaan merupakan contoh lain dari kepastian. Jika seseorang sengaja membakar
pabriknya untuk memperoleh tanggungan asuransi, makan oranf tersebut tidak
menghadapi risiko, krena dia sudah merencanakan tindakannya.

Ketidaksengajaan merupakan persyaratan dari asuransi. Perusahaan asuransi biasanya


mengeluarkan keruguan yang disengaja dalam polis asuransi mereka. Kerugian
semacam itu tidak akan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Dari sudut pandang
perusahaan asuransi, kesengajaan semacam itu akan mendorong timbulny moral
hazard.

Sebagai contoh, misalkan seseorang membeli asuransi kecelakaan. Misal oranf


tersebut sudah bosan dengan mobil tersebut, dan ingin mengganti sengan yang baru.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menabrakkan mobil tersebut sampai rusak,
kemudian orang tersebut bisa memperoleh ganti rugi kerusakan dari perusahaan
asuransi. Uang ganti rugi tersebut bisa digunakan untuk membeli mobil baru.

D. Kerugian yang tidak Diakibatkan oleh Bencana

Salah satu tujuan mengumpulkan eksposur risiko adalah agar terjadi diversifikasi
yaitu kerugian yang muncul bisa ditanggung oleh premi dari nasabah lainnya yang
tidak mengalami risiko tersebut. Jika sebagian risiko ternyata muncul pada saat yang
bersamaan , makan prinsip “diversifikasi” atau pengumpulan eksposur semacam itu
tidak terjadi. Perusahaan asuransi menghadapi risiko membayar tanggungan yang
sangat besar, yang busa mengakibatkan kebangkrutan perusahaan asuransi tersebut.

Sebagai contoh, misal perusahaan asuransi menjual risiko kerusakan rumah kepada
banyak penduduk di suatu kota. Kemudian, terjadi gempa bumi yang mengakibatkan
kerusakan pada rumah-rumah di kota tersebut, sehingga perusahaan asuransi akan
menanggung kerugian yang sangat besar (bisa mengakibatkan kebangkrutan) karena
risiko tersebut muncul pada saat yang bersamaan. Dalam situasi tersebut, risiko yang
bersifat bencana (catgastrophic) semacam itu tidak ideal untuk diasuransikan.

E. Kerugian yang Besar

Perusahaan atau individu seharusnya mengasuransikan risiko yang mempunyai


potensi kerugian yang hesar. Tidak akan ekonomis jika perusahaan atau individu
mengasuransikan risiko yang potensi kerugiannya kecil. Untuk risiko tersebut,
perusahaan atau individu bisa kenanggung risiko tersebut dengan dana internal, misal
menyiapkan cadangan kerugian, ataunindividu menggunakan sebagian
penghasilannya untuk mendanai kerugian tersebut.

Sebagai contoh, kerugin karena ban mobil pecah barangkali tidak ekonomis untuk
diasuransikan, karena biaya untuk memperbaiki ban pecah tidak akan terlalu tinggi.
Premi untuk risiko tersebut justru akan lebih tinggi dibandingkan dengan cadanga
dari tabungan seseoranf. Tetapi risiko kecelakaan mobil, di mana kerugiannya bisa
mencapai pulugan juta rupiah, akan lebih layak untuk diasuransikan.

F. Probabilitas Terjadi Kerugian Tidak Terlalu Tinggi

Jika probabilitas terjadinya kerugian terlalu tinggi maka premi yang dibebankan oleh
perusahaan asuransi menjadi sangat tinggi. Premi total tersebut menjadi sama dengan
kerugian yang akan ditanggung oleh perusahaan asuransi karena risiko tersbut,
ditambah dengan biaya overhead perusahaan asuransi dan target keuntungan
perusahaan asuransi tersebut.

Dalam situasi semacam itu, pihak mengasuransikan (insured) akan lebih baik jika
tidak usah membeli asuransi, dan menanggung sendiri kerugian tersebut. Keruguan
yang akan ditanggung tersebut akan lebih kecil dibandingkan dengan total premi yang
dibayarkan ke perusahaan asuransi. Dengan demikian, kontrak asuransi tidak akan
terjadi.

2. Berikut ini risiko yang tidak dapat dicover asuransi:

A. Risiko kerugian bisnis selama periode depresi

Alasan tidak layak diasuransikan karena bersifat cathastropluc. Jika terjadi depresi,
semua bisnis akan merugi. Perusahaan asuransi akan membayar pertanggungan yang
terlalu tinggi. Selain itu, pada kondisi depresi semua membeli asuransi. Pada kondisi
baik, tidak ada yang membeli asuransi. Perusahaan asuransi tidak bisa
menyeimbangkan rugi pada depresi dan laba pada kondisi ekonomi baik. Perusahaan
asuransi akan selalu merugi

B. Kerugian karena informasi rahasia yang bocor ke pesaing

Alasan tidak layak diasuransikan karena sulit ditentukan dan diukur besarnya
kerugian karena peristiwa tersebut. Karena sulit, problem moral hazard bisa muncul.
Perusahaan bisa mengaku ngaku bawahwa informasi penting bocor, padahal tidak ada
kejadian seperti itu

C. Kerugian Perdagangan di Bursa Saham

Alasan tidak layak diasuransikan krena sulit ditentukan dan diukur karena kondisi
bursa saham bisa berubah dengan sangan cepat. Bersifat cathastophic, jika kondisi
ekonomi jelek maka bursa saham semuanya mengalami kerugian. Jika kondisi
ekonomi baik, bursa baik, tidak ada yang beli asuransi

3. A. Perbedaan mendasar antara penetapan harga pada asuransi dengan penetapan harga
pada industri lainnya disebabkan oleh hal hal berikut ini:

1) Harga asuransi didasarkan perkiraan

Proses itu dimulai dengan perkiraan biaya, perkiraan kerugian, dan menggolongkan
biaya itu di antara berbagai kelas polis

2) Adanya Peraturan Pemerintah atau Undang-undang

Undang-undang menghendaki agar tarif asuransi wajar, tidak terlalu tinggi dan tidak
bersifat diskriminatif. Untuk itu terdapat beberapa karakteristik tertentu yang harus
dipertimbangkan. Misalnya, tarif itu sebaiknya relative stabil agar masyarakat tidak
gusar oleh bervariasinya gaya hidup secaa mencolok dari tahun ke tahun. Pada saat
yang sama, tariff harus bersifat peka terhadap kondisi yang sedang berubah untuk
menghindari terjadinya ketidaktepatan penetapan kerugian. Jika mungkin, juga
diinginkan bahwa rate tersebut menyediakan sejenis insentif bagi tertanggung
(pemegang polis) untuk mencegah kerugian.

3) Persaingan (competition)

Penentuan tarif bagi perusahaan asuransi harus berhati-hati. Apabila dalam penentuan
tariff terlalu rendah maka perusahaan tidak bisa menutupi biaya operasi (cost of
operation), sedangkan bila tarif terlalu tinggi, mungkin pembeli akan berkurang. Para
pembeli akan melihat perusahaan asuransi sejenis yang menawarkan jenis asuransi
yang sama dengan tariff yang lebih rendah karena banyaknya pesaing antara
perusahaan-perusahaan asuransi.

4) Perubahan struktur perekonomian

B. Tarif yang ideal harus memenuhi beberapa unsur sebagai berikut:

1) Adequate, berarti harus cukup uang untuk membayar kerugian-kerugian dari uang
yang diperoleh dari pengumpulan uang tersebut

2) Notexcessive, yang berarti tarif jangan berlebih-lebihan, harus memperhatikan


pembeli, competitor, dan sebagainya

3) Equity, yang berarti dengan tidak membeda-bedakan risiko yang sama kualitasnya
(adil)

4) Flexible, artinya tarif harus disesuaikan dengan keadaan, bilamana keadaan berubah,
tarif menghendaki perubahan pula.