Anda di halaman 1dari 9

ETIKA PROFESI AKUNTAN

" TAXATION AND ETHICAL ISSUES"

Disusun Oleh :
NURFUADI
A031181511

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020
A. Etika dalam Praktik Perpajakan
Etika adalah prinsip moral yang memberikan pegangan bagi tingkah laku
seseorang.Seseorang bertindak secara etis bila memperhatikan dampak dari
tindakannya terhadap lingkungan sosialnya.
Konsultan Pajak adalah setiap orang yang dengan keahliannya dan dalam
lingkungan pekerjaannya, secara bebas dan profesional memberikan jasa perpajakan
kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban
perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.

B. Tanggung Jawab Akuntan Pajak


Tanggung jawab utama praktisi pajak adalah sistem pajak. Suatu sistem pajak
yang baik dan kuat harus terdiri dari entitas administrasi pajak, kongres, administrasi
dan komunitas praktisi. Selain itu ketika secara umum menyetujui bahwa praktisi pajak
mempunyai kewajiban atas kemampuan, loyalitas dan kerahasiaan klien, hal ini
disebut juga tanggung jawab praktisi atas sistem pajak yang baik.
Tanggungjawab praktisi pajak yang terakhir adalah
pentingnya pervasive(peresapan). Dalam hubungan antara praktisi dan klien yang
normal, kedua tanggung jawab dikenali dan dilaksanakan. Namun, situasi ini sulit.
Dalam beberapa situasi praktisi diperlukan untuk memutuskan kewajiban yang berlaku
dan dalam pelaksanaannya dapat disimpulkan bahwa kewajiban atas sistem pajak
yang tertinggi. Praktisi pajak membantu dalam mengatur hukum pajak dengan jujur
dan adil dalam pelayanan dan pengembangan kepercayaan klien dalam integritas dan
kepatuhan terhadap sistem pajak.

C. AICPA STATEMENTS ON RESPONSIBILITIES IN TAX SERVICES


Dalam kaitannya dengan etika akuntan pajak, AICPA mengeluarkan Statemet on
Responsibilities in Tax Practice (SRTP). Adapun isinya adalah sebagai berikut:
1. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 1, Tax Return Positions
(Posisi Pengembalian Pajak)
Statemen ini menetapkan standar masa depan yang bisa diterapkan untuk
anggota ketika merekomendasikan tingkat pengembalian pajak dan menyiapkan
atau menandatangani surat pembayaran pajak (termasuk klaim untuk lebih bayar)
yang disimpan dengan mengenakan pajak otoritas. Karena tujuan standar ini,
suatu nilai pajak terutang, (a) mencerminkan tingkat pengembalian pajak seperti
yang mana wajib pajak telah secara rinci membicarakannya dengan anggota atau
(b) suatu anggota mempunyai pengetahuan semua fakta yang bersifat material
dan, atas dasar fakta itu, telah menyimpulkan apakah posisinya sudah sesuai.
Karena tujuan standar ini, suatu wajib pajak adalah klien, pemberi kerja, atau
pihak ketiga lain penerima jasa pajak.
2. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 2, Answers to Questions
on Returns (Jawaban Pertanyaan atas Pengembalian)
Statemen Ini menetapkan standar yang bisa diterapkan untuk anggota ketika
menandatangani suatu pajak kembalian jika atau mempertanyakan kelebihan
pajak kembalian. Istilah questionsincludes meminta informasi untuk pajak
kembalian di dalam perusahaan. Instruksi, atau di dalam peraturan, ya atau
tidaknya dinyatakan format suatu pertanyaan.
3. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 3, Certain Procedural
Aspects of Preparing Returns (Aspek prosedur tertentu dalam menyiapkan
Pengembalian)
Dalam menyiapkan atau menandatangani suatu pajak kembalian, suatu anggota
dengan hati jujur boleh mempercayakan, tanpa verifikasi, atas informasi yang
diberikan oleh wajib pajak atau dengan pihak ketiga. Bagaimanapun, suatu
anggota mestinya tidak mengabaikan tentang implikasi yang melengkapi informasi
tersebut dan perlu membuat pemeriksaan yang layak jika informasi nampak
seperti ada kesalahan, tidak sempurna, atau plin-plan baik di bagian depannya
atau atas dasar lain fakta tidak diketahui oleh suatu anggota. Jika hukum
perpajakan atau peraturan memaksakan suatu kondisi dengan rasa hormat,
seperti pemeliharaan buku dan arsip atau memperkuat dokumentasi wajib pajak
untuk mendukung pengurangan yang dilaporkan ke kantor pajak, suatu anggota
perlu membuat pemeriksaan yang sesuai untuk menentukan kondisi yang dijumpai
untuk memberi kepuasan kepada wajib pajak. Ketika menyiapkan suatu kembalian
pajak, suatu anggota perlu mempertimbangkan informasi yang benar dari pajak
kembalian wajib pajak lain jika informasi berkait dengan pajak kembalian dan
pertimbangannya pajak kembalian itu. Di dalam menggunakan informasi seperti
itu, suatu anggota perlu mempertimbangkan batasan-batasan yang dikenakan
oleh hukum atau aturan manapun yang berkenaan dengan kerahasiaan.
4. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 4, Use of Estimates
(Penggunaan Estimasi)
Kecuali jika yang dilarang oleh undang-undang atau menurut peraturan, suatu
anggota boleh menggunakan taxpayer’s untuk menaksir persiapan suatu pajak
kembalian jika itu bukanlah praktis untuk memperoleh data tepat dan jika anggota
menentukan bahwa perkiraan yang layak adalah didasarkan pada keadaan dan
fakta saat itu yang diperlihatkan kepada anggota. Jika perkiraan dengan
taxpayer’s digunakan, mereka harus diperlihatkan dengan suatu cara yang tidak
menyiratkan ketelitian lebih besar disbanding yang ada.
5. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 5, Departure From a
Position Previously Concluded in an Administrative Proceeding or Court
Decision (Keberangkatan dari suatu posisi yang sebelumnya disampaikan di
dalam suatu kelanjutan administrative atau keputusan pengadilan)
Pajak Kembalian berkenaan dengan memposisikan suatu item ketika ditentukan di
dalam suatu kelanjutan administratif atau keputusan pengadilan/lingkungan tidak
membatasi suatu anggota merekomendasikan dari suatu pajak yang berbeda,
kemudian memposisikannya kembali, kecuali jika wajib pajak dalam pemeriksaan.
Oleh karena itu, ketika disiapkan dalam bentuk Statement onResponsibilities in
Tax Services No.1, pajak kembalian diposisikan, anggota boleh
merekomendasikan sebuah pajak kembalian untuk memposisikan atau
menyiapkan suatu pajak kembalian yang memerlukan pemeriksaan dari suatu item
ketika disimpulkan untuk suatu kelanjutan administratif atau meramahi keputusan
berkenaan dengan suatu kembali wajib pajak.
6. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 6, Knowledge of Error:
Return Preparation (Pengetahuan Kesalahan: Persiapan Kembalian)
Suatu anggota perlu menginformasikan kepada wajib pajak dengan segera atas
suatu kesalahan di dalam suatu pajak kembalian yang disimpan atau ketika sadar
akan kegaalan suatu taxpayer’s untuk memfile suatu kembalian yang diperlukan.
Seorang anggota perlu merekomendasikan ukuran yang diambil untuk melakukan
koreksi, seperti rekomendasi yang diberi dengan lisan. Anggota tidaklah
diwajibkan untuk menginformasikannya untuk mengenakan pajak otoritas, dan
suatu anggota tidak boleh melakukannya tanpa ijintaxpayer’s, kecuali ketika yang
diperlukan di depan hukum. Jika suatu anggota diminta untuk kembalian untuk
tahun sekarang dan wajib pajak belum mengambil tindakan yang sesuai untuk
mengoreksi suatu kesalahan utama di dalam suatu tahun kembalian, anggota
perlu mempertimbangkan apakah untuk menarik dari menyiapkan kembalian itu
dan apakah suatu professional melanjutkan hubungan atau hubungan ketenaga-
kerjaan dengan wajib pajak itu. Jika anggota menyiapkan, seperti itu kembalian
tahun ini, anggota perlu mengambil langkah-langkah layak untuk memastikan
bahwa kesalahan itu tidaklah diulangi.
7. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 7, Knowledge of Error:
Administrative Proceedings (Pengetahuan Kesalahan: Cara kerja
administrasi)
Jika suatu anggota sedang mewakili suatu wajib pajak di dalam administratifnya
untuk suatu kembalian yang berisi suatu kesalahan, maka anggota perlu
menginformasikannya kepada wajib pajak itu. Anggota perlu merekomendasikan
ukuran yang akan diambil untuk mengoreksinya, yang mungkin diberi dengan
lisan. Suatu anggota bukan diwajibkan untuk menginformasikan hal itu
mengenakan pajak otoritas maupun mengijinkan untuk melakukannya tanpa ijin
tax payer’s, kecuali jika yang diperlukan di depan hukum. Suatu anggota perlu
meminta persetujuan tax payer’s untuk menyingkapkan kesalahan kepada pajak
authority.
8. Statement on Responsibilities in Tax Services No. 8, Form and Content of
Advice to Taxpayers (Format dan isi nasihat pada klien)
Suatu anggota perlu menggunakan pertimbangan untuk memastikan bahwa
petunjuk pajak yang disajikan ke suatu wajib pajak mencerminkan kemampuan/
wewenang profesional dan sewajarnya melayani kebutuhan taxpayer’s. Suatu
anggota tidaklah diperlukan untuk mengikuti suatu bentuk standar atau petunjuk
dalam berkomunikasi lisan atau tertulisdalam memberi petunjuk kepada suatu
wajib pajak. Suatu anggota perlu berasumsi bahwa petunjuk pajak yang disajikan
ke suatu wajib pajak akan mempengaruhi cara di mana berbagai hal atau
transaksi yang akan dipertimbangkan. Oleh karena itu, untuk semua petunjuk
pajak diberikan kepada suatu wajib pajak, suatu anggota perlu mengikuti aturan
yang baku dalam Statement on Responsibilities in Tax Services No. 1. Suatu
anggota tidak punya kewajiban untuk berkomunikasi dengan suatu wajib pajak
ketika pengembangan yang berikutnya mempengaruhi petunjuk yang sebelumnya
menyajikan berbagai hal penting, kecuali sedang membantu seorang wajib pajak
di dalam menerapkan prosedur atau rencana yang berhubungan dengan petunjuk
menyajikan atau ketika suatu anggota melakukan kewajiban ini dengan
persetujuan spesifik.

D. KODE ETIK KONSULTAN PAJAK


a. Kode Etik IKPI
1. Kode Etik IKPI adalah kaidah moral yang menjadi pedoman dalam berfikir,
bersikap dan bertindak bagi setiap anggota IKPI.
2. Setiap anggota IKPI wajib menjaga citra martabat profesi dengan senantiasa
berpegang pada Kode Etik IKPI.
3. Kode Etik IKPI juga mengatur sanksi terhadap tidak dipenuhinya kewajiban
atau dilanggarnya larangan oleh anggota IKPI.
b. Dalam hal kepribadian
Konsultan Pajak Indonesia wajib:
1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Patuh pada hukum dan peraturan perpajakan, serta menjunjung tinggi
integritas, martabat dan kehormatan profesi Konsultan Pajak.
3. Melakukan tugas profesi dengan penuh tanggung jawab, dedikasi tinggi dan
independen.
4. Menjaga kerahasiaan dalam menjalankan profesi.

Konsultan Pajak Indonesia dilarang:


1. Melakukan kegiatan profesi lain yang terikat dengan pekerjaan sebagai
pegawai negeri, kecuali dibidang riset, pengkajian dan pendidikan.
2. Meminjamkan ijin praktik untuk digunakan oleh pihak lain.
3. Menugaskan karyawannya atau pihak lain yang tidak menguasai pengetahuan
perpajakan untuk bertindak, memberikan nasehat dan menangani urusan
perpajakan.
c. Dalam hal hubungan dengan teman seprofesi
Konsultan Pajak Indonesia dilarang:
1. Menarik pelanggan yang diketahui atau patut dapat diketahui bahwa pelanggan
tersebut merupakan pelanggan Konsultan Pajak lain.
2. Membujuk karyawan dari Konsultan Pajak lain untuk pindah menjadi
karyawannya.
3. Menerima pelanggan pindahan dari Konsultan Pajak lain tanpa
memberitahukan kepada Konsultan Pajak lain tersebut, dan harus secara jelas
dan meyakinkan secara legal bahwa pelanggan tersebut telah mencabut
kuasanya dari Konsultan Pajak lain tersebut.
d. Dalam hal hubungan dengan wajib pajak
Konsultan Pajak Indonesia wajib:
1. Menjunjung tinggi integritas, martabat dan kehormatan dengan memelihara
kepercayaan masyarakat; bersikap jujur dan berterus terang tanpa
mengorbankan rahasia penerima jasa; dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak boleh menerima
kecurangan atau mengorbankan prinsip; mampu melihat mana yang benar, adil
dan mengikuti prinsip obyektivitas dan kehatihatian.
2. Bersikap profesional: senantiasa menggunakan pertimbangan moral dalam
pemberian jasa yang dilakukan; senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan dan menghormati kepercayaan masyarakat dan pemerintah;
melaksanakan kewajibannya dengan penuh kehati-hatian, dan mempunyai
kewajiban mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan.
3. Menjaga kerahasiaan dalam hubungan dengan Wajib Pajak: Harus
menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
menjalankan jasanya, dan tidak menggunakan atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali ada hak atau kewajiban legal profesional
yang legal atau hukum atau atas perintah pengadilan untuk
mengungkapkannya. Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa
staf atau karyawan maupun pihak lain dalam pengawasannya dan pihak lain
yang diminta nasihat dan bantuannya tetap menghormati dan menjaga prinsip
kerahasiaan.
Konsultan Pajak Indonesia dilarang:
1. Memberikan petunjuk atau keterangan yang dapat menyesatkan Wajib Pajak
mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan.
2. Memberikan jaminan kepada Wajib Pajak bahwa pekerjaan yang berhubungan
dengan instansi perpajakan pasti dapat diselesaikan.
3. Menetapkan syarat-syarat yang membatasi kebebasan Wajib Pajak untuk
pindah atau memilih Konsultan Pajak lain.
4. Menerima setiap ajakan dari pihak manapun untuk melakukan tindakan yang
diketahui atau patut diketahui melanggar peraturan perundang-undangan
perpajakan.
5. Menerima permintaan Wajib Pajak atau pihak lain untuk melakukan rekayasa
atau perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perpajakan.

E. Dalam hal publikasi


Konsultan Pajak Indonesia wajib mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Nama kantor konsultan pajak yang dicantumkan pada papan nama adalah
sesuai dengan nama yang tercantum dalam ijin praktek dari Menteri
Keuangan/Direktur Jenderal Pajak
2. Pada papan nama harus dicantumkan nomor ijin praktek Konsultan Pajak
3. Apabila Konsultan Pajak berbentuk persekutuan, Nomor ijin praktek yang harus
dicantumkan pada papan nama adalah nomor ijin praktek salah seorang dari
anggota persekutuan
4. Ukuran dan warna papan nama disesuaikan dengan kebutuhan.
5. Konsultan Pajak Indonesia dilarang memasang iklan untuk mendapatkan
pelanggan.

F. Sanksi atas pelanggaran kode etik profesi


Pasal 13 Kode Etik Konsultan Pajak menegaskan :
1. Sanksi terhadap pelanggaran Kode Etik antar lain berupa :
 Teguran tertulis
 Pemberhentian sementara
 Pemberhentian tetap.
2. Sebelum sanksi yang tersebut pada ayat (1) di atas diberikan, anggota IKPI
yang bersangkutan harus diberi kesempatan membela diri dalam rapat Majelis
Kehormatan dan anggota tersebut dapat disertai oleh sebanyak-banyaknya 3
(tiga) orang anggota IKPI lainnya sebagai pendamping
3. Dalam hal keputusan sanksi pemberhentian tetap, maka keputusan tersebut
baru berlaku setelah yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk membela
diri di depan Kongres
4. Keputusan Kongres merupakan keputusan final dan mengikat.

KEWAJIBAN KONSULTAN PAJAK MENURUT PASAL 10 PERATURAN MENTERI


KEUANGAN NOMOR 98/PMK.03/2005 TANGGAL 13 OKTOBER 2005 TENTANG
PERUBAHAN ATAS PMK NOMOR 485/KMK.03/2003 TENTANG KONSULTAN
PAJAK INDONESIA
Kewajiban Konsultan Pajak:
a. Konsultan Pajak wajib mematuhi semua peraturan perundang-undangan
perpajakan.
b. Konsultan Pajak wajib menyampaikan kepada Wajib Pajak agar melaksanakan
hak dan kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
c. Dalam mengurus pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan dari
Wajib Pajak, setiap Konsultan Pajak wajib:
 memiliki Izin Praktek Konsultan Pajak yang masih berlaku; dan
 memiliki Surat Kuasa Khusus dari Wajib Pajak dan Surat Pernyataan dengan
bentuk sebagaimana ditetapkan dalam peraturan ini.
d. Konsultan Pajak wajib mematuhi prosedur dan tata tertib kerja yang berlaku di
lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dan dilarang melakukan tindakan-tindakan
yang merugikan kepentingan negara.
e. Konsultan Pajak yang telah memiliki Izin Praktek Konsultan Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) wajib mengikuti penataran/pendidikan
penyegaran perpajakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun yang
diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan/atau Ikatan Konsultan Pajak
Indonesia.
f. Konsultan Pajak wajib mematuhi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan
Kode Etik Ikatan Konsultan Pajak Indonesia.
g. Konsultan Pajak wajib membuat Laporan Tahunan yang berisi jumlah dan
keterangan mengenai Wajib Pajak yang telah diberikan jasa di bidang perpajakan
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV
Peraturan Menteri Keuangan ini dan melampirkan fotokopi Sertifikat
penataran/pendidikan penyegaran perpajakan sebagaimana dimaksud pada huruf
e.
h. Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada huruf g disampaikan kepada
Direktur Jenderal Pajak paling lama akhir bulan April tahun takwim berikutnya.
i. Konsultan Pajak dapat mengajukan permohonan penundaan penyampaian
Laporan Tahunan, yang disampaikan secara tertulis untuk paling lama 3 (tiga)
bulan."