Anda di halaman 1dari 11

ETIKA PROFESI AKUNTAN

“INDEPENDENSASI DAN PROFESSIONAL COMPETENCE AND


DUE CURE”

DISUSUN OLEH :

NURFUADI

A031181511

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2020
Definisi Independensi Akuntan Publik

            Independensi dapat juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam
mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak
dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

            Dalam melaksanakan proses audit, akuntan publik memperoleh kepercayaan


dari klien dan para pemakai laporan keuangan untuk membuktikan kewajaran laporan
keuangan yang disusun dan disajikan oleh klien. Oleh karena itu, dalam memberikan
pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa, auditor harus
bersikap independen terhadap kepentingan klien, para pemakai laporan keuangan,
maupun terhadap kepentingan akuntan publik itu sendiri.

            Penilaian masyarakat atas independensi auditor independen bukan pada diri


auditor secara keseluruhan. Oleh karena itu, apabila seorang auditor independen atau
suatu Kantor Akuntan Publik lalai atau gagal mempertahankan sikap
independensinya, maka kemungkinan besar anggapan masyarakat bahwa semua
akuntan publik tidak independen. Kecurigaan tersebut dapat berakibat berkurang atau
hilangnya kredibilitas masyarakat terhadap jasa audit profesi auditor independen.

            Supriyono (1988) membuat kesimpulan mengenai pentingnya independensi


akuntan publik sebagai berikut :

1)      Independensi merupakan syarat yang sangat penting bagi profesi akuntan publik
untuk memulai kewajaran informasi yang disajikan oleh manajemen kepada pemakai
informasi.

2)      Independensi diperlukan oleh akuntan publik untuk memperoleh kepercayaan


dari klien dan masyarakaat, khususnya para pemakai laporan keuangan.

3)      Independensi diperoleh agar dapat menambah kredibilitas laporan keuangan


yang disajikan oleh manajemen.

4)      Jika akuntan publik tidak independen maka pendapat yang dia berikan tidak
mempunyai arti atau tidak mempunyai nilai.
5)      Independensi merupakan martabat penting akuntan publik yang secara
berkesinambungan perlu dipertahankan.

            Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas auditnya, seorang auditor tidak
hanya dituntut untuk memiliki keahlian saja, tetapi juga dituntut untuk bersikap
independen. Walaupun seorang auditor mempunyai keahlian tinggi, tetapi dia tidak
independen, maka pengguna laporan keuangan tidak yakin bahwa informasi yang
disajikan itu kredibel.

            Independensi secara esensial merupakan sikap pikiran seseorang yang


dicirikan oleh pendekatan integritas dan obyektivitas tugas profesionalnya. Hal ini
senada dengan America Institute of Certified Public Accountant (AICPA) yang
menyatakan bahwa independensi adalah suatu kemampuan untuk bertindak
berdasarkan integritas dan objektivitas. Meskipun integritas dan objektivitas tidak
dapat diukur dengan pasti, tetapi keduanya merupakan hal yang mendasar bagi
profesi akuntan publik. Integritas merupakan prinsip moral yang tidak memihak,
jujur, memandang dan mengemukakan fakta seperti apa adanya.

            Di lain pihak, objektivitas merupakan sikap tidak memihak dalam


mempertimbangkan fakta, kepentingan pribadi tidak terdapat dalam fakta yang
dihadapi. Selain itu AICPA juga memberikan prinsip-prinsip berikut sebagai panduan
yang berkaitan dengan independensi, yaitu sebagai berikut.

1)      Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal keuangan terhadap
klien.

2)      Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik kepentingan


yang akan mengangggu obyektivitas mereka berkenaan dengan cara-cara yang
mempengaruhi laporan keuangan.

3)      Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien yang
akan menganggu obyektivitasnya auditor.
            Dalam aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik disebutkan bahwa dalam
menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental
independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam Standar
Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen
tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan
(in appearance).

            Carey dalam Mautz mendefinisikan independensi akuntan publik dari segi


integritas dan hubungannya dengan pendapat akuntan atas laporan
keuangan.Independensi meliput i:
1.      Kepercayaan terhadap diri sendiri yang terdapat pada beberapa orang
profesional. Hal ini merupakan bagian integritas profesional.
2.      Merupakan istilah penting yang mempunyai arti khusus dalam hubungannya
dengan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan. Independensi berarti sikap
mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung
pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam
mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak
dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Ada dua jenis independensi yang dikenal, yaitu :


independensi dalam fakta (independence in fact) dan independensi dalam penampilan
(independence in appearance). Untuk independensi dalam fakta, IFAC menggunakan
istilah lain, yaitu independensi dalam pikiran (independece in mind). Independensi
dalam pikiran adalah suatu keadaan pikiran yang memungkinkan pengungkapan suatu
kesimpulan tanpa terkena pengaruh yang dapat mengompromosikan penilaian
profesional, memungkinkan seorang individu bertindak berdasarkan integritas, serta
menerapkan objektivitas dan skeptisme profesional.  Independensi dalam penampilan
adalah penghidaran fakta dan kondisi yang sedemikian segnifikan sehingga pihak
ketiga yang paham dan berfikir rasional-dengan memiliki pengetahuan akan semua
informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan-akan tetap dapat
menarik kesimpulan bahwa skeptisme profesional, objektivitas, dan integritas
anggota firma, atu tim penjaminan (assurance team) telah dikompromikan. Prinsip-
prinsip fundamental etika tidak dapat dinegosiasikan atau dikompromikan bila
seorang akuntan ingin menjaga citra frofesinya yang luhur. 

Ancaman Terhadap Independensi


Ancaman dalam independensi dapat berbentuk:
a) Kepentingan diri (self-interest)
b) Review diri (self-review)
c) Advokasi (advocacy)
d) Kekerabatan (familiarity)
e) Intimidasi (intimidation)

Ancaman Independensi Akuntan Publik


a) Kepentingan diri (self-interest)
Kepentingan  Diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi
atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih luas. 
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan publik, antara lain:
 Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau kepentingan keuangan
bersama pada suatu perusaah klien.
 Kekhawatiran berlebiahan bila kehilangan suatu klien.

Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan bisnis, antara lain:
 Perjanjian kompensasi insentif.
 Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
 Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan.

b) Review diri (self-review)


Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan publik antara lain:
 Temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
 Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan
implementasi sistem tersebut.

Salah contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan bisnis, yaitu keputusan bisnis atau
data yang sedang ditinjau oleh akuntan frofesional yang sama yang membuat
keputusan bisnis atau penyiapan data tersebut.

c) Advokasi (advocacy)
Ancaman Advokasi dapat timbul bila akuntan profesional endukung suatu posisi atau
pendapat sampai titik dimana objektivitas dapat dikompromikan.
Contoh langsung ancaman untuk akuntan publik antara lain :
 Mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana perusahaan
tersebut merupakan klien audit.
 Bertindak sebagai pengacara (penasihat hukum) untuk klien penjaminan
dalam suatu litigasi atau perkara perselisihan dengan pihak ketiga.

d) Kekerabatan (familiarity)
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga akuntan profesional
menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang mempunyai
hubungan dekat dengan akuntan tersebut. Contoh langsung Ancaman Kekerabatan
untuk akuntan publik, antara lain:
 Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang direktur
atau pejabat perusahaan klien.
 Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang karyawan
klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan segnifikan terhadap
pokok dari penugasan.

Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan bisnis, antara lain:


 Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai pengaruh pada
keputusan bisnis.
 Penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya tidak segnifikan.

e) Intimidasi (intimidation)
Ancaman Intimidasi dapat timbul jika akuntan profesional dihalang untuk bertindak
objektif, baik secara nyata maupun dipersepsikan. Contoh Ancaman Intimidasi untuk
Akuntan Publik, antara lain:
 Diancam dipecat atau diganti dalam hubungannya dengan penugasan klien.
 Diancam dengan tuntutan hukum.
 Ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup pekerjaan dengan
maksud untuk mengurangi fee.

Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Bisnis, antara lain:


 Ancaman pemecatan akuntan profesional dalam bisnis atau anggota keluarga
dekat atas ketidaksetujuan penerapan prinsip akuntansi atau cara penerapannya.
 Seseorang yang mempunyai kepribadian yang dominan berusaha
memengaruhi proses pengambilan keputusan

            Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan masyarakat


pada profesi akuntan publik dan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
untuk menilai mutu jasa audit. Independensi akuntan public, yaitu :
1.      Independensi sikap mental
         Independensi sikap mental berarti adanya kejujuran di dalam diri akuntan dalam
mempertimbangkan fakta-fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak
memihak di dalam diri akuntan dalam menyatakan pendapatnya.
2.      Independensi penampilan.
         Independensi penampilan berarti adanya kesan masyarakat bahwa akuntan
publik bertindak independen sehingga akuntan publik harus menghindari faktor-
faktor yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan kebebasannya.
Independensi penampilan berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap
independensi akuntan publik.
3.      Independensi praktisi (practitioner independence)
         Selain independensi sikap mental dan independensi penampilan, Mautz
mengemukakan bahwa independensi akuntan publik juga meliputi independensi
praktisi (practitioner independence) dan independensi profesi (profession
independence). Independensi praktisi berhubungan dengan kemampuan praktisi
secara individual untuk mempertahankan sikap yang wajar atau tidak memihak dalam
perencanaan program, pelaksanaan pekerjaan verifikasi, dan penyusunan laporan
hasil pemeriksaan. Independensi ini mencakup tiga dimensi, yaitu independensi
penyusunan progran, independensi investigatif, dan independensi pelaporan.
4.      Independensi profesi (profession independence)
         Independensi profesi berhubungan dengan kesan masyarakat terhadap profesi
akuntan publik.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Auditor
            Tidak dapat dipungkiri bahwa klien berusaha agar laporan keuangan yang
dibuat oleh klien mendapatkan opini yang baik oleh auditor. Banyak cara dilakukan
agar auditor tidak menemukan kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan
bahkan yang lebih parah lagi adalah kecurangan-kecurangan yang dilakukan tidak
dapat dideteksi oleh auditor.
            Independensi akuntan publik dapat terpengaruh jika akuntan publik
mempunyai kepentingan keuangan atau mempunyai hubungan usaha dengan klien
yang diaudit. Menurut Lanvin (1976) dan Supriyono (1988) independensi auditor
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.      Ikatan keuangan dan usaha dengan klien
2.      Jasa-jasa lain selain jasa audit yang diberikan klien
3.      Lamanya hubungan kantor akuntan publik dengan klien
Sedangkan menurut Shockley (1981) dan Supriyono (1988)independensi akuntan
publik dipengaruhi oleh faktor :
1.      Persaingan antar akuntan publik
2.      Pemberian jasa konsultasi manajemen kepada klien
3.      Ukuran KAP
4.      Lamanya hubungan antara KAP dengan klien
         Dari faktor–faktor yang mempengaruhi independensi tersebut di atas bahwa
independensi dapat dipengaruhi oleh ikatan keuangan dan usaha dengan klien, jasa-
jasa lain yang diberikan auditor selain audit, persaingan antar KAP dan ukuran KAP.
Seluruh faktor yang mempengaruhi independensi akuntan publik tersebut adalah
ditinjau dari independensi dalam penampilan.
Integritas dan Objektivitas
          Kode etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa “Setiap
anggota harus mempertahankan integritas dan objektifitas dalam melaksanakan
tugasnya”. Secara lebih khusus untuk profesi akuntan publik, Kode Etik Akuntan
Indonesia pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa seorang akuntan publik harus
mempertahankan sikap independen. Ia harus bebas dari semua kepentingan yang bisa
dipandang tidak sesuai dengan integritas maupun objektivitasnya, tanpa tergantung
efek sebenarnya dari kepentingan itu.
         Selanjutnya dinyatakan dalam Peraturan No. 1 bahwa setiap anggota harus
mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melakukan tugasnya. Dengan
mempertahankan integritas ia akan bertindak jujur, tegas, tanpa pretensi. Dengan
mempertahankan objektivitas ia akan bertindak adil, tanpa dipengaruhi tekanan atau
permintaan pihak tertentu atau kepentingan pribadi.
          Objektivitas berarti tidak memihak dalam melaksanakan semua jasa. Sebagai
contoh, asumsikan seorang auditor yakin bahwa piutang usaha mungkin tak tertagih,
tetapi kemudian menerima pendapat manajemen tanpa mengevaluasi kolektibilitas
secara independen. Auditor telah mendelegasikan pertimbangannya dan karenanya
kehilangan objektivitas.
          Misalkan seorang akuntan publik sedang menyiapkan SPT untuk sebuah klien,
dan sebagai penasehat klien, menganjurkan klien itu untuk mengadakan pengurangan
pada SPT nya yang menurutnya sah, dengan sejumlah pendukung tetapi tidak
lengkap. Ini bukan merupakan pelanggaran baik atas objektivitas ataupun integritas
karena dapat diterima seorang akuntan publik menjadi penasehat klien untuk
perpajakan dan jasa manajemen. Jika akuntan publik ini menganjurkan klien untuk
mengadakan pengurangan tanpa pendukung sama sekali, tetapi hanya karena sedikit
kemungkinannya akan diketahui oleh kantor inspeksi pajak, maka berarti telah terjadi
pelanggaran. Pelanggaran itu adalah salah pernyataan atas fakta sehingga integritas
akuntan publik itu ternoda.
            Bebas dari pertentangan kepentingan berarti tidak adanya hubungan yang
dapat mengganggu objektivitas dan integritas. Misalnya, tidak layak bagi auditor,
yang juga seorang pengacara, untuk membela klien dalam perkara pengadilan.
Pengacara adalah pembela klien, sedangkan auditor harus bersikap tidak memihak.
            Di Amerika Serikat terdapat aturan-aturan perilaku bagi anggota AICPA
(American Institute of Certified Public Accountants) yang berkaitan dengan standar
teknis, yaitu Peraturan 201 sampai dengan 203.
a.       Peraturan 201- Standar Umum
          Setiap anggota harus menaati standar-standar berikut dan setiap interpretasinya
yang dibuat oleh lembaga-lembaga yang ditunjuk oleh Dewan.
 Kompetensi profesional. Hanya melaksanakan jasa-jasa profesional yang dirasa
mampu diselesaikan oleh pegawai atau kantor akuntan publiknya dengan
kompetensi profesional.
 Kemahiran profesional. Mempergunakan kemahiran profesi dengan seksama
dalam melaksanakan jasa profesional.
 Perencanaan dan pengawasan. Merencanakan dengan cermat dan mengawasi
pelaksanaan jasa profesional.
 Data relevan yang mencukupi. Mendapatkan data relevan yang mencukupi guna
mendapatkan dasar yang layak untuk membuat kesimpulan atau memberi
rekomendasi dalam kaitan dengan jasa profesional yang dilakukan.
b.      Peraturan 202 – Ketaatan pada Standar
            Seorang anggota yang melaksanakan audit, review, kompilasi, bantuan
manajemen, perpajakan atau jasa profesional lainnya harus taat pada standar yang
dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang ditetapkan oleh Dewan.
Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
(Professional competence and due care)
1. Prinsip kompotensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian professional
mewajibkan setiap praktisi untuk memelihara pengetahuan dan keahlian
profesional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberian jasa profesional yang
kompeten kepada klien atau pemberi jasa, dan menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan saksama sesuai dengan standar profesi dan kode etik
profesi yang berlaku.
2. Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan pertimbangan yang
cermat dalam menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional.
3. Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran dan
pemahaman yang berkelanjutan terhadap perkembangan teknis profesi dan
perkembangan bisnis yang relevan. Pengembangan dan pendidikan
profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan dan
memelihara kemampuan praktisi agar dapat melaksanakan pekerjaannya
secara kompeten dalam lingkungan profesional.
4. Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap praktisi
untuk bersikap dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh, dan tepat waktu,
sesuai dengan persyaratan penugasan.
5. Setiap praktisi harus memastikan tersedianya pelatihan dan penyeliaan yang
tepat bagi mereka yang bekerja dibawah wewenangnya dalam kapasitas
profesional.
6. Bila dipandang perlu, praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional
yang diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa profesional
lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran atas pernyataan
pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang diberikan.