Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ALIRAN MURJI’AH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tauhid

Dosen Pengampu : M. Mustholiq Alwi, M.Pd

Disusun Oleh :

1. Safira Nur Afifah 43010200154


2. Mar’atus Sholehah 43010200168
3. Indira Putri Nurfadilla 43010200187

PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

2020
DAFTAR ISI

Cover

Daftar Isi

Kata Pengantar

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Munculnya Alirah Murji’ah


B. Macam-macam Sekte Dalam Aliran Murji’ah
C. Paham-paham Alirah Murji’ah
D. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Murji’ah

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami bisa menyelesaikan makalah mata
kuliah “ TAUHID ”. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad
SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk
keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Al-Qur’an di progam studi
Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah pada Institut Agama Islam Negeri
Salatiga. Selanjutnya kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak
Mustholiq Alwi, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Tauhid dan kepada segenap pihak
yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini,
maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang dari pembaca agar kai dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat untuk
pembaca.

Semarang,10 November 2020

Penyusun

Kelompok 5
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aliran Murji’ah merupakan salah satu aliran yang dipelajari dalam teologi
Islam. Munculnya aliran ini dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal
kekhalifahan. Setelah terbunuhnya khalifah Usman bin Affan, umat Islam
terpecah dalam dua kelompok besar yaitu kelompok Ali dan kelompok
Mu’awiyah. Kelompok Ali kemudian terpecah juga kedalam dua golongan yaitu
yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali
(disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu
Syiah dan Khawarij dalam merebut kekuasaan, yaitu Mu’awiyah kemudian
membentuk Dinasti Umaiyah. Syiah dan Khawajir bersama-sama menentang
kekuasaannya. Syiah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah
merebut kekuasaan yang milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij
tidak mendukung Mu’awiyah karena dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Di
tengah-tengah pertikaian antara ketiga golongan tersebut, muncul sekelompok
orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang
terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal-usul alirah Murji’ah?
2. Apa saja sekte-sekte yang terdapat dalam aliran Murji’ah?
3. Bagaimana paham-paham yang terdapat dalam aliran Murji’ah?
4. Apa kelebihan dan kekurangan alirah Murji’ah?

C. Tujuan
1. Mengetahui asal-usul aliran Murji’ah
2. Mengetahui sekte-sekte yang tedapat dalam aliran Murji’ah
3. Mengetahui paham-paham yang terdapat dalam aliran Murji’ah
4. Mengetahui kelebihan dan kelebihan aliran Murji’ah
BAB II

PEMBAHASAN

A. Asal-usul Aliran Murji’ah


Murji’ah berasal dari kata irfa atau arja’a yang memiliki dua makna yaitu
mengakhirkan atau menangguhkan dan memberikan harapan. Sedangkan pengertian
Murji’ah sendiri adalah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampi
di pengadilan Allah SWT kelak.
Golongan Murji’ah pertama kali lahir di Damaskus pada akhir abad pertama
Hijriah. Kemunculan aliran Murji’ah dilatarbelakangi adanya permasalahan politik
dan ke-Tuhanan.
Asal-usul aliran Murji’ah dapat dibagi menjadi dua sebab, yaitu :
1. Permasalahan Politik
Munculnya aliran Murji’ah dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu
soal kekhalifahan. Setelah terbunuhnya khalifah Usman bin Affan, umat Islam
terpecah kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok Ali bin Abi Thalib dan
Mu’awiyah. . Kelompok Ali kemudian terpecah juga kedalam dua golongan yaitu
yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali
(disebut Khawarij). Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, dilakukan
tahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Mu’awiyah.
Golongan Syi’ah dan Khawarij memandang bahwa tahkim bertentangan dengan
Al-Qur’an, dengan pengertian tidak bertahkim dengan hukum Allah. Oleh karena
itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim adalah doa besar, dan
pelakunya dapat dihukumi kafir, sama seperti perbuatan dosa besar lain.
Dalam suasana pertentangan inilah timbul suatu golongan baru yang ingin
bersukap netral, tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi
antara golongan yang bertentangan ini. Bagi mereka sahabat-sahabat yang
bertentangan ini merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar
dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa
sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arja’a) yang berarti penyelesaian
persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan.
2. Permasalahan ke-Tuhanan
Dari permasalahan politik, mereka kamu Murji’ah pindah kepada
permasalahan ketuhanan (teologi) yaitu persoalan dosa besar yang ditimbulkan
kaum Khawarij. Kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang
membuat dosa besar, sedangkan kaum Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin.
Pendapat penjatuhan hukum kafir pada orang yang melakukan dosa besar oleh
kaum Khawarij ditentang oleh kaum Murji’ah yang mengatakan bahwa pembuat
dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah
SWT, apakah Dia akan mengampuninya atau tidak.
Aliran Murji’ah menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang
terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah
yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang
melakukan dosa dianggap mukmin dihadapan mereka. Orang mukmin yang
dianggap melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul-Nya. Dengan kata lain
bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan
dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang
tersebut masih mukmin, bukan kafir.
Pandangan golongan ini dapat terlihat dari kata Murji’ah itu sendiri yang
berasal dari kata arja’a yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan
dan memberikan harapan. Menangguhkan berarti bahwa mereka menunda soal
peyiksaan seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan ia akan
langsung masuk surga. Sedangkan jika tidak, maka ia akan disiksa sesuai dengan
dosanya, setelahnya ia akan dimasukkan ke surga. Dan mengakhirkkan
dimaksudkan karena mereka memandang bahan perbuatan atau amal sebagai hal
yang nomor dua bukan pertama. Selanjutnya, kata menangguhkan dimaksudkan
karena mereka menangguhkan keputusan hukum bagi orang-orang yang
melakukan dosa dihadapan Tuhan.
Golongan Murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting dalam kehidupan
beragama adalah aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang masih beriman
berarti dia tetap mukmin, buka kafir meskipun ia melakukan dosa besar. Adapun
hukuman bagi dosan besar itu terserah kepada Tuhan, akan diampuni atau tidak.
Pendapat ini menjadi doktrin ajaran Murji’ah.
B. Sekte-sekte Aliran Murji’ah
Sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah dipicu oleh perbedaan pendapat
dikalangan para pendukung Murji’ah sendiri. Dalam hal ini, terdapat masalah yang
cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murji’ah. Pada
umumnya kaum Murji’ah digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu golongan
moderat dan golongan ekstrim.
a. Golongan Moderat
Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah
kafir dan tidak kekal dalam neraka. Tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai
dengan besarnya dosa yang pernah dilakukannya, kemudian setelah menjalani
hukuman ia akan keluar dari neraka. Dan ada juga kemungkinan bahwa Tuhan
akan mengampuni dosanya, oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali.
b. Golongan Ekstrim
Golongan ekstim ialah golongan bahwa iman adalah keyakinan di dalam
hati. Apabila seseorang di hatinya telah meyakini apabila tidak ada Tuhan selain
Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, meskipun ia menyatakan
kekafiran dengan lidah, menyembah berhala, memuja salib, mengakui trinitas,
kemudian mati, orang ini tetap mukmin yang sempurna imannya disisi Allah dan
ia termasuk golongan ahli surga.
Golongan ekstrim terpecah menjadi beberapa golongan, yaitu :
1. Golongan al-Jamiyah yang dipelopori oleh Jahm Ibn Sofwan. Golongan ini
berpendapat bahwa orang Islam yang percaya pada Tuhan, kemudian
menyatakan kekufurannya secara lisan tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan
iman tempatnya bukan dalam bagian tubuh manusia melainkan dalam hati.
Golongan ini juga meyakini bahwa surge dan neraka tidak abadi, karena
keabadian hanya bagi Allah SWT.
2. Golongan Ash-Shalihiyah dengan tokohnya Abu Hasan as-Salihi. Sama
seperti pendapat al-Jahimiyah, golongan ini berkeyakinan bahwa iman semata-
mata makrifat (mengetahui) kepada Allah SWT, sedangkan kafir tidak
mengetahui Allah SWT. Iman dan kafir tidak dapat bertambah dan berkurang.
Menurut mereka, sholat bukan merupakan ibadah kepada Tuhan, karena yang
disebut ibadah itu adalah iman kepada Allah dalam arti mengetahuin Tuhan.
3. Golongan al-Yunusiah pengikut Ibn an-Namiri. Golongan ini berpendapat
bahwa iman adalah totalitas dari pengetahuantentang Tuhan, kerendahan hati,
dan tidak takabur. Kafir adalah kebalikan dari itu. Iblis dikatakan kafir bukan
karena tidak percaya pada Tuhan, melainkan ketakaburannya. Mereka juga
percaya bahwa perbuatan jahat dan maksiat sama sekali tidak merusak iman.
4. Golongan al-Ubaidiyah yang dipelopori oleh Ubaid al-Maktaib. Pendapatnya
pada dasarnya sama dengan golongan al-Yunusiyah. Sekte ini berpendapat
bahwa jika seseorag meninggal dunia dalam keadaan beriman semua dosa dan
perbuatan jahatnya tidak akan merugikannya.
5. Golongan al-Gailaniyah yang dipelopori oleh Gailan al-Dimas Yaqi.
Berpendapat bahwa iman adalah makrifat (mengetahui) kepada Allah SWT
melalui nalar dan menunjukkan sikap mahabah (cinta) dan tunduk kepadanya.
6. Golongan al-Saubaniyah yang dipimpin oleh Abu Sauban. Prinsip ajarannya
sama dengan sekte al-Gailaniyah, namun mereka menambahkan bahwa yang
termasuk iman adalah mengetahui dan mengakui adanya kewajiban-kewajiban
yang dapat dikethui akal sebelum datangnya syariat.
7. Golongan al-Marisiyah yang dipelopori oleh Bisnyar al-Marisi. Berpendapat
bahwa iman disamping meyakini dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah
SWT dan Muhammad SAW itu rasul-Nya, juga harus diucapkan secara lisan.
Jika tidak diyakini dalam hati dan diucapkan degan lisan, maka bukan iman
namanya.
8. Golongan al-Karaniyah yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Karram.
Berpendapat bahwa iman adalah pegakuan secara lisan dan kufur adalah
pengingkaran secara lisan.
9. Golongan al-Khasaniyah. Golongan ini berpendapat jika seseorang
mengatakan “saya tahu bahwa Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tak
tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini”, orang yang
demikian tetap mukmin dan bukan kafir.

C. Paham-paham Aliran Murji’ah


Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin-
dokrtin irja’a yang diaplikasikan kedalam banyak persoalan, baik persoalan politik
maupun persoalan teologis. Di bidang politik, doktrin irja’a diimplementasikan
dengan sikap politik netral atau nonblok yang hampir selalu diekspresikan dengan
sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Mur’jiah dikenal pula dengan The Queitists
(kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi jauh sehingga membuat
Murji’ah sesalu diam dalam persoalan politik. Secara umun kelompok Murji’ah
menyusun teori-teori keagamaan yang independen sebagai dasar gerakannya dengan
intisarinya sebagai berikut :
1. Iman
Adalah cukup dengan mengetahui dan percaya kepada Allah dan rasul-
Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan keharusan bagai adanya
iman. Berdasarkan hal ini seseorang tetap dianggap mukmin walaupun ia
meninggalkan apa yang difardhukan kepadanya dan melakukan perbuatan-
perbuatan dosa besar.
2. Dasar keselamatan
Adalah iman semata-mata. Selama masih ada iman dihati, maka setiap
maksiat tidak akan mendatangkan kemudharatan ataupun gangguan atas diri
seseorang. Untuk mendapatkan pengampunan, manusia hanya cukup dengan
menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keaadan akidah tauhid.
Menurut Harun Nasution dalam Anwar menyebutkan bahwa ajaran pokok
dalam aliran Murjia ada empat yang mana sebagai berikut :
a. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa al-
Asyari yang terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah dihari kiamat
kelak.
b. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
c. Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal.
d. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

D. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Murji’ah


Kelebihan dari aliran ini adalah golongan ini tidak akan memudaratkan
perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga sebaiknya “tidaklah akan
memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang terhadap kekafirannya”.
Artinya, tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala perbuatan baik yang
dilakukan oleh orang kafir. Maka dari itu, mereka tidak mau mengkafirkan seseorang
yang telah masuk islam, sebab golongan ini sangat mementingkan kewajiban sesame
manusia.
Kekurangan aliran ini adalah lebih mementingkan urusan dunia daripada
akhirat. Karena menurut mereka, iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu yang
menurut akal wajib dikerjakan. Berarti, kelompok ini mengakui adanya kewajiban-
kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syariat.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam aliran Murji’ah yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah
aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang masih beriman, berarti dia tetap
mukmin bukan kafir meskipun ia melakukan dosa besar. Adapun hukuman bagi dosa
besar itu terserah kepada Tuhan, akan diampuni atau tidak. Dan dikatakan Murji’ah
karena ada sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam
pertentangan politik yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah.

DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun. 2010. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.
Jakarta: UI Press
Rozak,Abdul. 2001. Ilmu Kalam. Bandung
ekonomiislam.blogspot.com
https://wikipedia.org/wiki/Murji%27ah
https://www.scribd.com/doc/45908791/makalahmurjiah
https://wardahcheche.blogspot.co.id/2014/01/aliran-murjiah.html

Anda mungkin juga menyukai