Anda di halaman 1dari 3

NAMA : Liana Septyani

NIM : 030270063

TUGAS TUTORIAL 2

Praktek Proteksionisme

Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok akan semakin memanas dan
memberikan kejutan bagi seluruh negara dalam pusaran ekonomi dan politik,
setelah berpaling dari ekonomi dunia menjadi “America First”, akhirnya Amerika
menarik semua projek ekonomi mereka di luar negeri yang tidak memberikan
keuntungan yang nyata bagi Amerika.

Menurut anda , apakah kebijakan ini masih kondusif untuk perdagangan


internasional saat ini?

Apa dampak yang mungkin terjadi dari negara-negara yang bekerjasama dengan AS
? Dan keuntungan apa yang didapat dari negara pesang Tiongkok atas kebijakan
tersebut

Apakah akan ada dampaknya terhadap perdagangan dengan Indonesia, sebagai


salah satu negara berkembang,?

JAWABAN TUGAS 2

1. Proteksionisme adalah praktik mengikuti kebijakan perdagangan proteksionis. Kebijakan


perdagangan proteksionis memungkinkan pemerintah suatu negara untuk mempromosikan
produsen dalam negeri, dan dengan demikian meningkatkan produksi barang dan jasa dalam
negeri Produk Domestik Bruto (PDB) Produk domestik bruto (PDB) adalah ukuran standar
kesehatan ekonomi suatu negara dan indikator standar hidupnya. Selain itu, PDB dapat digunakan
untuk membandingkan tingkat produktivitas antara berbagai negara. dengan memberlakukan tarif
atau membatasi barang dan jasa asing di pasar. Kebijakan proteksionis juga memungkinkan
pemerintah melindungi industri dalam negeri yang sedang berkembang dari pesaing asing yang
sudah mapan.
Menurut pendapat saya, disatu sisi praktek ini baik karena bisa menguntungkan bagi industry
dalam negeri. Tapi jika ditanyakan mengenaik bisnis internasional, ada baiknya praktek ini tidak
digunakan.
Dana Moneter Internasional mengingatkan negara-negara anggota untuk menghindari praktek
proteksionisme dalam perdagangan internasional.Christine Lagarde, Managing Director IMF,
menuturkan laporan terbaru  Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengindikasikan tendensi
proteksionisme di sejumlah negara."Ini tidak datang dari IMF, tapi dari laporan terbaru WTO,
bahwa salah satu yang cukup mengkhawatirkan (alarming) adalah meningkatnya proteksionisme.
Pertemuan G20 di London, Inggris, juga berpesan agar negara-negara menjauhi praktek
proteksionisme dan memastikan agar perdagangan berlanjut dengan prinsip yang adil dan saling
menguntungkan (reciprocity form) Karena perdagangan baik dan bermanfaat bagi negara,
masyarakat dan perusahaan. Lagarde menilai perdagangan merupakan upaya untuk meningkatkan
perekonomian negara-negara emerging market guna mengakselerasi pembangunan dan mereduksi
angka kemiskinan.Pada kesempatan ini, Lagarde juga menilai perekonomian Indonesia berjalan
baik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 6% dan inflasi yang terkendali.

2. Perang dagang tentu mempunyai pengaruh yang berdampak cukup besar bagi suatu negara atau
bahkan dunia. Seperti yang terjadi pada China dan Amerika Serikat yang melakukan pembatasan
impor justru merugikan perekonomian dalam negeri. engan naiknya biaya bea masuk tarif impor
untuk baja dan aluminium dari China, maka jumlah impor kedua produk tersebut akan berkurang.
Kedua produk ini pula akan sulit ditemukan di pasar Amerika Serikat dan mengakibatkan
terhambatnya proses produksi dari perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat yang menggunakan
bahan baku baja dan aluminium.
Dengan langkanya kedua produk tersebut, pastinya harga kedua produk tersebut akan sangat
mahal. Selanjutnya, harga produk akhir siap jual yang terbuat dari kedua bahan tersebut pun juga
akan mahal.
Tidak beda dengan Amerika Serikat, China pun juga akan terima imbasnya. Dengan pembatasan
produk impor produk dari Amerika Serikat, seperti kedelai, minuman anggur, buah, mobil,
pesawat, dan lainnya juga akan berpengaruh pada perekonomian China.
Bukan hanya China dan Amerika Serikat saja yang akan terkena dampaknya. Nyatanya, negara-
negara lain pun akan terkena imbas dari perang dagang. Namun, dampaknya bisa saja positif
ataupun negatif. Dampak positifnya, negara-negara lain memiliki kesempatan untuk menjadi
pemasok atau mengekspor produk ke negara-negara yang terlibat perang dagang.
Adanya pembatasan impor yang dilakukan oleh China dan Amerika Serikat tentu akan
mempengaruhi keterbatasan produk di kedua negara. Dengan naiknya bea masuk tarif impor yang
diberlakukan, tentu akan mendorong kedua negara tersebut untuk mencari alternatif yang mampu
memasok produk-produk kebutuhan. Selain dampak positif, dampak negatif dari perang dagang ini
untuk negara-negara lain adalah dengan pembatasan impor produk-produk tersebut, pastinya akan
membuat kedua negara ini mencari pasar lain.
Seperti Cina yang akan menjual baja dan aluminium dengan jumlah yang lebih banyak ke negara
lainnya, termasuk Indonesia. Tentu ini akan membuat produsen baja dalam negeri resah dengan
kehadiran baja impor dari Cina, padahal sebelumnya produsen dalam negerilah yang merajai pasar
lokal.

3. Akibat perang dagang itu, Indonesia punya potensi untuk mengekspor barang ke kedua negara itu.
Tidak cuma itu, Indonesia juga bisa jadi negara ketiga yang "mengambil jatah" ekspor China dan
Amerika. Indonesia bisa jadi negara ketiga untuk beberapa produk yang dihasilkan China atau
Amerika yang menggunakan input kedua negara itu supply menjadi terhambat.
Dampak lain adalah menurunnya ekspor bahan baku atau bahan penolong Indonesia ke China dan
Amerika. Serta, karena persaingan pasar akibat perang dagang itu, akan terjadi trade diversion.
Hal ini  terjadi akibat adanya intensif penurunan tarif, misalnya Indonesia yang sebelumnya selalu
mengimpor gula dari China beralih menjadi mengimpor gula dari Thailand karena lebih murah.
Dengan adanya eskalasi perang dagang itu memang risiko berinvesatsi di negara berkembang
termasuk Indonesia jadi meningkat. Indonesia juga masih memiliki peluang yang besar untuk
menarik investasi asing di dalam negeri. Sebab, dalam dua tahun ke depan pertumbuhan ekonomi
Amerika Serikat diprediksi bakal tertekan dan bank sentral setempat yang sempat agresif
menaikkan suku bunga satu tahun terakhir, tidak akan lagi menaikkan suku bunganya.