Anda di halaman 1dari 6

PANDUAN PERTANGGUNGJAWABAN BANPEM PPPPTK MATEMATIKA

RAB PELAKSANAAN PKP (5 KALI TATAP MUKA)

Harga
NO URAIAN Jumlah
Satuan

DIKLAT PKP 30.000.000

Belanja Bahan/Konsumsi 4.360.000


- Snack 24 Org x 1 Kali X 5 hari 8.000 960.000
I
- Makan Siang 24 Org x 1 Kali X 5 hari 25.000 3.000.000
- Konsumsi Rapat Koordinasi 2 Kali 200.000 400.000
Honor Kepanitiaan 1.100.000
- Honor Penanggung Jawab 1 Org x 1 Keg (1 Siklus) 450.000 450.000
II
- Honor Ketua 1 Org x 1 Keg (1 Siklus) 350.000 350.000
- Honor Anggota 1 Org x 1 Keg (1 Siklus) 300.000 300.000
III Belanja Barang 1.870.000
- ATK dan bahan 1 kls x 1 Keg 660.000 660.000
- Fotokopi Materi 20 Org x 1 Keg 50.000 1.000.000
- STTP 21 Org x 1 Keg 10.000 210.000
Belanja Honor dan Transport 22.000.000
- Honor Narasumber 1 Org x 2 JPL X 1 Keg 300.000 600.000
- Honor Instruktur 1 Org x 50 JPL X 1 Keg 50.000 2.500.000
-Transport
1 Org x 5 Keg 150.000 750.000
IV Pengawas/Pendamping
- Transport Narasumber 1 Org x 1 Kali X 1 Keg 150.000 150.000
- Transport Instruktur 1 Org x 5 Kali X 1 Keg 150.000 750.000
- Transport Peserta 20 Org x 5 Kali X 1 Keg 150.000 15.000.000
- Transport Panitia 3 Org x 5 Kali X 1 Keg 150.000 2.250.000
Belanja Jasa Lainnya 670.000
V - Surat Meny. Dokumentasi dll 1 Dok x 1 Keg 370.000 370.000
- Penyusunan Laporan 1 Dok x 1 Keg 300.000 300.000
Jumlah Total 30.000.000

POLA PELAKSANAAN DIKLAT TATAP MUKA PKP (In) sebanyak 5 kali tatap muka, dapat digambarkan
dalam tabel berikut:
Belanja Bahan/Konsumsi

A. Pola kegiatan tatap muka (in) adalah pertemuan seminggu sekali, sehingga untuk pembelian dan
pembayaran snack dan makan siang dilakukan saat tgl pelaksanaan tatap muka. Sehingga nilai
yang dibelanjakan untuk snack dan makan sebagai berikut:
1. Snack 24 org x 1 kali x Rp. 8.000,- Rp. 192.000,-
2. Makan 24 org x 1 kali x Rp. 25.000,- Rp. 600.000,-
Jumlah Rp. 792.000,- (setiap kali pertemuan in)

Atas pembelian dan pembayaran pengadaan snack dan makan diatas, perlakuan pajaknya
sebagai berikut:

a. Pengadaan konsumsi tidak dikenakan dan dipungut PPN


b. Bila pembelian konsumsi di warung/rumah makan/toko roti:
1. Bentuk penyajian menggunakan box/kotak/kardus
2. Pembelian konsumsi bisa dipecah dalam 2 penyedia yaitu penyedia snack dan penyedia
makan.
3. Status pengadaan adalah pengadaan barang, sehingga terutang PPh pasal 22
4. Nilai pembelian konsumsi yang dilakukan seminggu sekali maksimal sebesar Rp.
792.000,- , tidak dipungut pajak pph pasal 22. Karena nilainya dibawah 2 juta rupiah
maka berlaku ketentuan sebagai yang dikecualikan dari Pemungutan Pajak Penghasilan
Pasal 22 oleh Pemungut Pajak (pasal 3 huruf e PMK No. 107/PMK.010/2015)
c. Bila pembelian konsumsi melalui Penyedia Jasa Boga/Katering:
1. Bentuk penyajian secara prasmanan
2. Status pengadaan adalah pengadaan jasa, sehingga terutang PPh pasal 23.
3. Untuk jasa yang terutang PPh 23 dikenakan pemotongan pajak sebesar 2% bagi
penyedia jasa boga/katering yang memiliki NPWP dan 4% bagi yang tidak memiliki
NPWP.

Sumber penjelasan tentang pajak konsumsi dapat dilihat di link berikut:

a. http://www.wibowopajak.com/2012/02/pengenaan-pajak-atas-pengadaan-konsumsi.html
b. https://www.pajak.go.id/id/pph-pasal-22

B. Konsumsi rapat. Rapat dilakukan sebanyak 2 kali, pra pelaksanaan untuk persiapan dan pasca
pelaksanaan untuk penyusunan laporan pertanggungjawaban kegiatan disetiap Pusat Belajar.
Untuk pembelian, pembayaran dan perpajakan mengacu poin A di atas. Pembelian konsumsi bisa
diwujudkan dalam bentuk snack dan makan. Persyaratan dokumen yang harus ada berupa:
1. Daftar hadir peserta rapat
2. Notulen rapat yang ditandatangani oleh pemimpin rapat dan notulis (dilampiri daftar hadir
peserta poin 1)
3. Peserta rapat minimal dari unsur panitia dan instruktur. Bisa pula melibatkan dari unsur dinas
Pendidikan, pengawas yang akan ditugaskan untuk pendampingan, ataupun
karyawan/satpam pusat belajar.
Honor Kepanitiaan

A. Pengangkatan Panitia dilengkapi dengan SK dari Dinas Pendidikan.


B. Unsur Kepanitiaan diserahkan sepenuhnya kepada kebijakan Dinas Pendidikan dengan syarat
kepanitiaan tersebut bisa bertugas dan memperlancar pelaksanaan pelatihan di Pusat Belajar saat
pelaksanaan tatap muka (in) sebanyak 5 kali dan memperlancar dalam pertanggungjawaban
keuangan dan kegiatan.
C. Panitia tidak diperbolehkan merangkap menjadi kepanitiaan beberapa rombongan belajar yang
pelaksanaannya dalam waktu yang sama. Apabila akan merangkap, maka honor yang dibayarkan
hanya bersumber dari satu rombongan belajar.
D. Perpajakan honor panitia, mengacu Perdirjen Pajak Nomor PER-32/PJ/2015 Tentang Pedoman
Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau
Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi,
dengan ketentuan sebagai berikut:
1. PNS, Gol. IV, memiliki NPWP besaran pajaknya 15%
2. PNS, Gol. IV, tidak memiliki NPWP besaran pajaknya 18%
3. PNS, Gol. III, memiliki NPWP besaran pajaknya 5%
4. PNS, Gol. III, tidak memiliki NPWP besaran pajaknya 6%
5. PNS, Gol. II dan I, besaran pajaknya 0% (tidak dipotong pajak)
6. Non PNS, memiliki NPWP, besaran pajaknya 5%
7. Non PNS, tidak memiliki NPWP, besaran pajaknya 6%

Belanja Barang
A. Pembelian ATK dan Bahan digunakan untuk kelancaran administrasi kesekretariatan
1. Barang ATK dan Bahan yang bisa dibeli diantaranya kertas, amplop, tinta printer, ballpoint,
stofmap, stapler, spidol dll. TIDAK diperbolehkan untuk membeli meterai guna kepentingan
kuitansi belanja karena penyediaan meterai menjadi kewajiban penyedia.
2. Status pengadaan adalah pengadaan barang, sehingga terutang PPN dan PPh pasal 22.
3. Karena nilainya dibawah 1 juta maka tidak dipungut PPN (Pasal 4 huruf a KMK Nomor
563/KMK.03/2003).
4. Karena nilainya dibawah 2 juta maka tidak dipungut PPh 22 (pasal 3 huruf e PMK No.
107/PMK.010/2015).

B. Fotokopi Materi.
1. Jenis materi yang akan di fotokopi agar berkoordinasi dengan pengajar diklat.
2. Panitia membuat daftar penerimaan Fotokopi materi ke peserta diklat.
3. Status pengadaan adalah pengadaan jasa (Pasal 3 ayat 6 huruf bj PMK 141/PMK.03/2015),
sehingga terutang PPN dan PPh Pasal 23.
4. Apabila pembayarannya paling banyak 1 juta maka tidak dipungut PPN.
5. Dipungut PPh 23 sebesar 2% bagi penyedia yang memiliki NPWP dan 4% bagi yang tidak
memiliki NPWP.

C. STTP digunakan untuk biaya pencetakan STTP.


Anggaran pencetakan STTP bisa dalam bentuk:
1. Berlaku sebagai pengadaan barang apabila digunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan
dalam pencetakan STTP seperti kertas sertifikat, tinta, dll. Karena nilainya dibawah 1 juta
maka tidak dipungut PPN dan tidak dipungut PPh 22.
2. Berlaku sebagai pengadaan jasa apabila proses pengerjaannya diserahkan pihak penyedia jasa
untuk mencetakkan sertifikat, sehingga dikenakan PPh Pasal 23. Dan karena nilainya tidak
sampai 1 juta maka tidak dipungut PPN.

Belanja Honor
A. Honorarium narasumber dan instruktur (seperti tertulis di RAB), dalam dokumen SPJ dilakukan
penyesuaian berdasarkan PMK no. 32/PMK.02/2018 tentang SBM 2019 yaitu kata narasumber
diubah menjadi pengajar diklat eselon, dan kata instruktur diubah menjadi kata pengajar diklat.
B. Untuk pembayaran honorarium pengajar diklat (instruktur), dilakukan pada saat pertemuan ke 5
(semua tahapan sudah terlaksana)
C. Perpajakan honor pengajar diklat eselon dan pengajar diklat mengacu Perdirjen Pajak Nomor PER-
32/PJ/2015. Secara rinci telah disebutkan dalam honor panitia tersebut diatas.
D. Penjadwalan materi diklat sebagai berikut:
Transpor
A. Besaran transport mengacu PMK no. 32/PMK.02/2018 tentang SBM 2019 Lampiran II nomor 3
(halaman 81) yang berbunyi “Satuan biaya transpor kegiatan dalam kabupaten/kota pergi pulang
(PP) Rp. 150.000,-
B. Pemberian biaya transpor dibayarkan secara lumpsum, sesuai PMK no. 113/PMK.05/2012 tentang
Perjadin …, bagian Lampiran III nomor III keterangan 2 yang berbunyi “Biaya Transpor Kegiatan
Dalam Kota dibayarkan secara Lumpsum sesuai Standar Biaya.
C. Pengajar Diklat, Panitia dan Peserta tidak dapat diberikan transpor bila instansi yang bersangkutan
adalah Pusat Belajar yang digunakan untuk kegiatan (walaupun dilaksanakan dihari libur). Hal ini
mengacu pada peraturan sebagai berikut:
1. PMK no. 32/PMK.02/2018 tentang SBM 2019 bagian penjelasan lampiran II nomor 3 (halaman
115) yang berbunyi “Satuan biaya transpor kegiatan dalam kabupaten/kota tidak dapat
diberikan kepada Pejabat Negara/Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Polri/TNI/pihak lain
yang melakukan kegiatan dalam komplek perkantoran yang sama”
2. PMK no. 113/PMK.05/2012 tentang Perjadin …, bagian Lampiran III nomor III keterangan 2
yang berbunyi “Biaya Transpor Kegiatan Dalam Kota dibayarkan secara Lumpsum sesuai
Standar Biaya dan tidak diberikan kepada Pelaksana SPD yang melakukan rapat dalam
komplek perkantoran yang sama”.

Belanja Jasa Lainnya


Diperlakukan sebagai pengadaan barang untuk membeli barang yang dibutuhkan dalam penyusunan
persuratan, laporan, dokumentasi. Karena nilainya dibawah 1 juta maka tidak dipungut PPN dan tidak
dipungut PPh 22

Mekanisme Penyetoran Pajak


1. Penyetoran pajak menggunakan sistem pembayaran secara elektronik (e-billing).
2. Panitia agar meminta bantuan bendaharawan sekolah PB atau bendaharawan dinas
pendidikan untuk membuatkan e-billing atas pajak yang dipotong/dipungut.
3. Dalam hal penyetoran pajak PPh 21 dan/atau PPh 23 menggunakan e-billing Bendaharawan
sekolah/dinas pendidikan, maka NPWP yang dicantumkan dalam e-billing adalah NPWP
sekolah/dinas pendidikan yang bersangkutan
4. Dalam hal penyetoran pajak PPN dan PPh 22 menggunakan e-billing Bendaharawan
sekolah/dinas pendidikan, maka NPWP yang dicantumkan dalam e-billing adalah NPWP
Penyedia barang/jasa yang bersangkutan
5. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman, penggunaan e-
billing sekolah/dinas pendidikan untuk penyetoran pajak kegiatan diklat PKP PPPPTK
Matematika yang dilaksanakan oleh tidak akan menimbulkan permasalahan dalam laporan
perpajakan sekolah/dinas pendidikan yang bersangkutan

Bea Meterai
1. Meterai disediakan oleh pihak penyedia barang/jasa
2. Pengenaan bea materai mengacu pada PP nomor 24 tahun 2000 sebagai berikut:
a. Yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp. 250.000,- tidak dikenakan bea
meterai
b. Yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,-
dikenakan bea meterai dengan tarif sebesar Rp. 3.000,-
c. Yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,- dikenakan bea meterai dengan
tarif sebesar Rp. 6.000,-
3. Penempelan meterai di kuitansi yang dibuat panitia (bukan di nota penyedia barang/jasa)
4. Apabila penyedia barang/jasa kesulitan mendapatkan meterai dengan tarif Rp. 3.000,-, maka
diperbolehkan untuk menggunakan meterai dengan tarif Rp. 6.000,-

Pengembalian Sisa Belanja


A. Apabila dalam pembelanjaan kebutuhan diklat terdapat sisa dari RAB yang sudah ditetapkan,
maka pihak penerima Bantuan Pemerintah berkewajiban menyetorkan sisa anggaran tersebut
melalui aplikasi SIMPONI PPPPTK Matematika.
B. Mekanisme penyetoran sisa anggaran sebagai berikut:
1. Penanggung Jawab Dinas Pendidikan melakukan rekapitulasi sisa belanja disemua rombel,
menggunakan format tabel berikut:
Catatan: Khusus Dinas Pendidikan kab/kota di provinsi Jawa Tengah, agar dibedakan laporan
sisa belanjanya dalam 2 laporan, yaitu (1) sisa dari rombel jenjang SD dan (2) sisa dari rombel
jenjang SMP

Nama DInas :…
Jenjang : SD/SMP/SMA
Jumlah Banpem : Rp. ….
Sisa Anggaran : Rp. ….
Tabel sisa anggaran:
No Pusat Belajar Nilai RAB (Rp) Nilai SPJ (Rp) Sisa (Rp)
1
2

JUMLAH

2. PJ Dinas menyampaikan form pengembalian sisa anggaran ke tim banpem PPPPTK


Matematika yang menjadi admin dalam grup WA yang sudah dibentuk.
3. Tim Banpem akan membuatkan form SSBP melalui aplikasi SIMPONI PPPPTK Matematika
kemudian dikirimkan ke PJ Dinas.
4. PJ Dinas menyetorkan ke Bank menggunakan form SSBP diatas. Pastikan NTPN dalam bukti
setor terbaca dengan jelas. Apabila NTPN dalam print bukti setor tidak jelas, agar dituliskan
secara manual dalam bukti setor tersebut.
5. PJ Dinas menyampaikan kepada tim banpem bahwa sisa anggaran sudah disetor ke kas
negara. Bukti setor agar disimpan dan dijadikan satu dengan laporan pertanggungjawaban
keuangan.