Anda di halaman 1dari 6

Kelompok II

1. Sary Lasmaduma Siringoringo, S.E.


2. Ferdyna Widya Ningrum, S.H.
3. Irma Renatha Ginting, S.E.
4. Emia Krisna Pepayosa, S.Kesos.
5. Maurens Anastasya, S.E.

STRATEGI PENINGKATAN KEMAMPUAN AKTUALISASI NILAI-NILAI ANEKA

Untuk menjadi seorang pelayanan publik diperlukan nilai-nilai ANEKA (Akuntanbilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen mutu, Anti Korupsi). Kondisi-kondisi saat ini yang tejadi dilingkungan PNS
secara umum yaitu :

1. BANYAKNYA PNS YANG TERLIBAT KASUS KORUPSI

HAMPIR 2.000 PNS KORUP DIPECAT

Jakarta - Badan Kepegawaian Negara (BKN) memberhentikan sebanyak 1.906 Pegawai Negeri Sipil
(PNS) pelanggar tindak pidana korupsi (Tipikor) berkekuatan hukum tetap (BHT). Para PNS tersebut
telah menerima surat keputusan (SK)
pemberhentian dengan tidak hormat
(PTDH).

Berdasarkan keterangan resmi BKN, Senin


(12/8/2019), totalnya ada 2.357 SK PTDH
yang seharusnya diterbitkan Pejabat
Pembina Kepegawaian (PPK). Dengan kata
lain saat ini baru 88% yang sudah selesai.

Berdasarkan data BKN, SK PTDH yang sudah diserahkan untuk PNS instansi pusat adalah 84, dan
instansi daerah adalah 1.822. Angka penyelesaian PTDH PNS Tipikor BHT masih akan terus bergerak
sejalan dengan proses penuntasan yang masih berlangsung antara BKN dengan K/L/D yang terdata
memiliki PNS Tipikor BHT di instansinya.

sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4662537/hampir-2000-pns-korup-
dipecat?_ga=2.35578408.884268457.1620364247-221707061.1620364247
2. BANYAK PNS YANG TIDAK DISIPLIN

SANKSI 83 PNS YANG LANGGAR DISIPLIN


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Menpan-RB) Tjahjo Kumolo mengimbau Pegawai Negeri Sipil (PNS) berhati-hati menjaga kedisiplinan.
Tjahjo yang juga Ketua Badan Pertimbangan
Kepegawaian (Bapek) berpesan kepada para
anggotanya agar tetap berpegang pada tiga
pertimbangan, yaitu kepada putusan pimpinan,
pengaduan para pihak, dan putusanpengadilan.

“Beberapa hal-hal yang masih abu-abu kita harus


berhati-hati, terutama yang menyangkut dengan nasib
dan nama baik orang,” ujar Tjahjo di Kantor Kemenpan-RB, Rabu (8/1).

Ia mengatakan 83 PNS pada kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang dianggap melanggar
peraturan disiplin PNS telah diberi sanksi oleh Kemenpan-RB. Sebanyak 73 PNS dijatuhi hukuman
Pemberhentian Dengan Hormat Tidak Atas Permintaan Sendiri (PDHTAPS).

Kemudian, delapan pegawai lain dijatuhi sanksi berupa penurunan pangkat tiga tahun, serta dua orang
yang dijatuhi hukuman penurunan pangkat satu tahun. Dari jumlah 83 PNS tersebut, sebanyak 49
pegawai tersandung pelanggaran tidak masuk kerja lebih dari 46 hari.

Sumber : https://nasional.republika.co.id/berita/q3s2lx366/tjahjo-sanksi-83-pns-yang-langgar-disiplin

3. TIDAK MENJADI PELAYAN PUBLIK YANG BAIK

OMBUDSMAN: KELUHAN MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN PUBLIK SEMAKIN


MENINGKAT

JAKARTA, KOMPAS.com - Ombudsman RI


mencatat terjadi peningkatan laporan masyarakat
terhadap kondisi pelayanan publik. Masyakarat
kini tidak ragu melaporkan buruknya pelayanan
yang diberikan. Komisioner Ombudsman RI
Ninik Rahayu mengatakan, pihaknya menerima
hampir 6.000 laporan dari masyarakat. Kemudian, pada tahun 2016, jumlah itu meningkat menjadi
hampir 11.000 pelapor. "Di awal 2017 yang baru tiga bulan ini laporan yang masuk sudah hampir 3.000
laporan. Kami apresiasi kepada masyarakat yang mulai tidak ragu untuk melaporkan persoalan pelayanan
publik," kata Ninik di kantor Ombudsman, Jakarta, Senin (13/3/2017). Ninik menyebutkan, berdasarkan
jumlah laporan tersebut, kasus pertanahan menempati posisi tertinggi. Beberapa contoh kasus pertanahan
seperti hak guna bangunan. Kemudian, diikuti kasus yang terkait dengan pemerintahan daerah. Misalnya,
hak atas pendidikan dan hak atas kesehatan. Selain itu, kinerja kepolisian menempati urutan ketiga yang
mendapat sorotan dari masyarakat. "Mulai dari urusan SIM (Surat Izin Mengemudi), urusan STNK (Surat
Tanda Nomor Kendaraan), urusan tindak lanjut terhadap laporan yang tidak ditindaklanjuti oleh pihak
kepolisian," ujar Ninik. Tak hanya itu, lembaga peradilan juga masuk dalam pengaduan masyarakat.
Lembaga peradilan, lanjut Ninik, menyumbangkan 20 persen buruknya pelayanan publik. Menurut Ninik,
laporan yang datang ke Ombudsman karena tidak adanya tindak lanjut dari instansi yang bersangkutan.
"Ombudsman beharap sekali semua lembaga pemerintah yang menggunakan anggaran negara untuk
merespon keluhan-keluhan masyarakat ini," ujar Ninik.

sumber: https://nasional.kompas.com/read/2017/03/14/00574011/ombudsman.keluhan.masyarakat.terhad
ap.pelayanan.publik.semakin.meningkat.
Penulis : Lutfy Mairizal Putra

KONDISI YANG DIHARAPKAN

Berdasarkan kasus diatas, kami sebagai Calon ASN kita bisa merefleksikan diri untuk tidak melakukan
tindak pidana korupsi dengan cara menerapkan nilai-nilai ANEKA ketika melaksanakan tugas dan fungsi
yang sudah diamanahkan.
TEKNIK ANALISIS YANG DIGUNAKAN

PRA ANALISIS

No Kasus Urgency Seriousness Growth Score Prioritas


1 Korupsi 5 4 5 14 I
2 Kurang Disiplin 4 4 4 12 III
3 Pelayanan Publik yang Kurang 4 5 4 13 II
Baik
Keterangan : berdasarkan skala likert 1-5 (5=sangat besar, 4=besar, 3=sedang, 2=kecil, 1=sangat kecil)

Berdasarkan tabel di atas, teknik analisis yang kami gunakan adalah teknik USG merupakan salah satu
cara menetapkan urutan prioritas masalah dengan metode teknik scoring. Proses untuk metode USG
dilaksanakan dengan memperhatikan urgensi dari masalah, keseriusan masalah yang dihadapi, serta
kemungkinan bekembangnya masalah tersebut semakin besar. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Urgency atau urgensi, yaitu dilihat dari tersedianya waktu, mendesak atau tidak masalah tersebut
diselesaikan.
2. Seriousness atau tingkat keseriusan dari masalah, yakni dengan melihat dampak masalah tersebut
terhadap produktifitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan, membahayakan system atau tidak.
3. Growth atau tingkat perkembangan masalah yakni apakah masalah tersebut berkembang sedemikian
rupa sehingga sulit untuk dicegah.

Dari tabel diatas, kasus yang kami analisis adalah kasus korupsi karena termasuk masalah yang sangat
urgensi, tingkat keseriusan masalahnya besar dan pertumbuhan kasusnya sangat besar.
ANALISIS

Penyebab

TIDAK BERTANGGUNG
JAWAB TERHADAP
TUGASNYA

AKUNTABILITAS

MENYALAHGUNAKAN
WEWENANG

TIDAK MENERAPKAN
NASIONALISME
NILAI-NILAI PANCASILA

MELANGGAR KODE ETIK


ETIKA PUBLIK ASN DAN UU YANG
BERLAKU

KORUPSI
TIDAK BEKERJA SESUAI
DENGAN KAPASITASNYA

KOMITMEN MUTU

TIDAK BEKERJA SECARA


EFEKTIF DAN EFESIEN

TIDAK JUJUR

ANTI KORUPSI SERAKAH

MEMENTINGKAN DIRI
SENDIRI

Berdasarkan mindmap diatas penyebab-penyebab terjadinya tindak pidana korupsi di kalangan ASN
(Aparatur Sipil Negara) adalah sebagai berikut :

1. Tidak bertanggungjawab terhadap tugas dan fungsinya sebagai ASN


2. Menyalahgunakan wewenang pada jabatan yang diberikan kepada ASN yang bersangkutan
3. Tidak mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam
menjalankan pekerjaan sebagai ASN
4. Melanggar Kode Etik sebagai ASN serta melanggar Undang-Undang yang berlaku
5. Tidak bekerja sesuai dengan kapasitasnya sebagai ASN
6. Tidak mengerjakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien
7. Tidak berperilaku jujur dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai ASN
8. Bersikap serakah dan tidak bersyukur dengan pendapatan yang diperoleh
9. Lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan kepentingan publik
Dampak

Dampak yang ditimbulkan dari Tindak Pidana Korupsi yang dilakukan oleh seorang ASN, antara lain :

1. Mencemarkan nama baik instansi, keluarga, dan diri sendiri


2. Berkurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja ASN
3. Merugikan kas negara

Rekomendasi

Melihat situasi yang terjadi di lapangan, terdapat banyak ASN yang masih melakukan tindak pidana
korupsi. Hal ini bisa dicegah dengan memberikan pemahaman lebih mengenai nilai-nilai ANEKA melalui
penyuluhan-penyuluhan tentang arti penting nilai-nilai anti-korupsi. Selain itu, peran instansi juga sangat
penting dengan adanya sistem laporan keuangan secara transparan. Kemudian juga diperlukan
pengawasan yang lebih ketat di setiap instansi. Peran pemerintah juga diperlukan dengan meningkatkan tugas
dan fungsi dari Auditor Internal maupun Eksternal. Dan peran masyarakat turut mengawasi dengan cara melaporkan
setiap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ASN serta tidak ikut terlibat dalam tindak pidana korupsi tersebut,
misalnya dalam hal pungutan liar (PUNGLI) yang banyak terjadi di masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai