Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN DAN LAPORAN KASUS

THYPOID

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Profesi Ners Stase Keperawatan anak

Disusun Oleh:

Heni Nur Septiani

214120135

PROGRAM PROFESI NERS

UNIVERSITAS JENDERAL AHMAD YANI BANDUNG

TAHUN 2021
A. DEFINISI
Thypoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella (Smeltzer & Bare. 2012. Keperawatan
Medikal Bedah II. Jakarta: EGC). Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang
disebabkan oleh kuman salmonella Thypi (Mansjoer, Arif. 2009. Kapita Selekta Kedokteran,
Jakarta : Media Aesculapius.).
Demam thypoid adalah suatu penyakit infeksi oleh bakteri salmonella thypi dan bersifat
endemic yang termasuk dalam penyakit menular ( Cahyono,2010). Sedangkan menurut
Elsevier 2013, demam thypoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh salmonella thypi.
Jadi, demam thypoid merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri gram
negative (bakteri salmonella thypi) yang merupakan sistem pertahan tubuh dan masuk melalui
makanan dan minuman yang terkontaminasi.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. ANATOMI

2. FISIOLOGI
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya
menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta
membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut
dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.

C. TANDA DAN GEJALA


Manifestasi klinik tergantung pada umur yang di bedakan yaitu usia sekolah sampai
adolesen, bayi sampai umur 5 tahun, dan pada neonates (Widagdo, 2011). Anak usia sekolah
dan adolesen. Awalnya penyakit ini samar. Gejala awal demam, lesu, anoreksia, mialgia, sakit
kepala dan sakit perut gejala ini berlangsung selama 2-3 hari. Mual dan muntah bila timbul
pada minggu ke-2 atau 3 merupakan tanda adanya komplikasi. Mungkin dijumpai gejala
mimisan dan batuk, dan lateragi. Suhu badan naik secara remiten dan meningkat dalam 1
minggu, kemudian menetap pada suhu 400C. Dalam minggu ke-2, suhu bertahan tinggi, dan
gejala yang ada nampak makin berat.

D. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya demam tifoid adalah bakteri Salmonella Typhi, kuman salmonella
typhi berbentuk batang, gram negative, tidak berspora, berkapsul tumbuh baik di suhu 37oC.
Manusia merupakan satu satunya natural reservoir. Kontak langsung atau tidak langsung
dengan individu yang terinfeksi merupakan hal penting terjadinya infeksi (Ardyansyah, 2012).

E. PATOFISIOLOGI
Kuman Salmonella Typhi yang masuk ke saluran gastrointestinal akan ditelan oleh sel-sel
fagosit ketika masuk melewati mukosa. Sebagian dari Salmonella Typhi ada yang dapat masuk
melalui usus halus mengadakan invaginasi ke jaringan limfoid usus halus. Kemudian
Salmonella Typhi, masuk melalui folikel limpa ke saluran limpatik dan sirkulasi darah sistemik
sehingga terjadi bakterimia. Bakterimia pertama-tama menyerang system retikulo endothelial
(RES) selanjutnya akan di kolonisasi melalui saluran limfe. Limfe yang mengalir duktus
torasikus menghantarkan organisme masuk melalui aliran darah, dari sini terjadi desminasi ke
seluruh organ jauh. Sel retikulo di sumsum tulang, hati, dan limpa meamakan bakteri yang
menyebar secara hematogen, yang kadang menimbulkan fokus infeksi. Organisme yang
menyebar melalui darah kemudian selanjutnya mengenai seluruh organ didalam tubuh seperti
di sitem saraf pusat, ginjal, dan jaringan limpa (Rudholph, 2014).
F. PATHWAY
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia
dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada
kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi
atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk
diagnosa demam typhoid.
2. Pemeriksaan SGOT Dan SGPT
SGOT Dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali
normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah
negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil
biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
a. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini
disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan
berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat
positif kembali.
c. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam
darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
d. Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba
pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
e. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan
typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan
pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di
laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin
dalam serum klien yang disangka menderita tthypoid.
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman
Salmonella typhi. Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4 kali
lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O > 1/320, titer H > 1/60
(dalam sekali pemeriksaan) Gall kultur dengan media carr empedu merupakan
diagnosa pasti demam tifoid bila hasilnya positif, namun demikian, bila hasil kultur
negatif belum menyingkirkan kemungkinan tifoid, karena beberapa alasan, yaitu
pengaruh pemberian antibiotika, sampel yang tidak mencukupi. Sesuai dengan
kemampuan SDM dan tingkat perjalanan penyakit demam tifoid, maka diagnosis klinis
demam tifoid diklasifikasikan atas:
1) Possible Case dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala
demam,gangguan saluran cerna, gangguan pola buang air besar dan
hepato/splenomegali. Sindrom demam tifoid belum lengkap. Diagnosis ini hanya
dibuat pada pelayanan kesehatan dasar.
2) Probable Case telah didapatkan gejala klinis lengkap atau hampir lengkap, serta
didukung oleh gambaran laboraorium yang menyokong demam tifoid (titer widal
O > 1/160 atau H > 1/160 satu kali pemeriksaan).
3) Definite Case Diagnosis pasti, ditemukan S. Thypi pada pemeriksaan biakan atau
positif S.Thypi pada pemeriksaan PCR atau terdapat kenaikan titerWidal 4 kali
lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O> 1/320, H > 1/640 (pada
pemeriksaan sekali)

(Widodo, D. 2007. Buku Ajar Keperawatan Dalam. Jakarta: FKUI).

H. PENATALAKSANAAN
1. Medis
a. Anti Biotik (Membunuh Kuman) :
1) Klorampenicol
2) Amoxicilin
3) Kotrimoxasol
4) Ceftriaxone
5) Cefixime
b. Antipiretik (Menurunkan panas) : Paracetamol
2. Keperawatan
a. Observasi dan pengobatan
b. Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas demam atau kurang lebih dari
selam 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi
perforasi usus.
c. Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
d. Pasien dengan kesadarannya yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah pada waktu-
waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia dan dekubitus.
e. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi
konstipasi
f. Diet
1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2)   Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3)   Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
4)  Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari
(Smeltzer & Bare. 2010. Keperawatan Medikal Bedah III. Jakarta: EGC).

I. KOMPLIKASI
Menurut sodikin (2011) komplikasi biasanya terjadi pada usus halus,namun haal
tersebut jarang terjadi. Apabila komplikasi ini terjadi pada seorang anak, maka dapat
berakibat fatal. Gangguan pada usus halus dapat berupa :
1. Perdarahan usus
Apabila perdarahan terjadi dalam jumlah sedikit, perdarahan tersebut hanya dapat
ditemukan jika dilakukan pemeriksaan feses dengan benzidin, jika perdarahan banyak
maka dapat terjadi melena yang bisa disertai nyeri perut dengan tanda- tanda renjatan.
Perforasi usus biasanya timbul pada minggu ketigaatau setelahnya dan terjadi pada
bagian usus distal ileum.
2. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di
rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan
diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
3. Peritonitis Peritonitis biasanya menyertai perforasi, namun dapat juga terjadi tanpa
perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut seperti nyeri perut yang hebat, dinding
abdomen tegang (defebce musculair) dan nyeri tekan.
4. Komplikasi diluar usus Terjadi lokalisasi peradangan akibat sepsis (bacteremia), yaitu
meningitis, kolesistisis, ensefalopati, dan lain-lain. Komplikasi diluar usus ini terjadi
karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia.
J. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas, sering ditemukan pada anak berumur di atas satu tahun.

b. Keluhan utama berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing, dan

kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama selama masa inkubasi).

c. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama tiga minggu, bersifat

febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama suhu tubuh

berangsur-angsur naik setiap harinya, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat

lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam

keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur turun dan normal kembali pada

akhir minggu ketiga.

d. Kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak beberapa dalam,

yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi spoor, koma, atau gelisah (kecuali bila

penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Di samping gejala-gejala

tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat

ditemukan reseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler

kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan

pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.

2. Pemeriksaan Fisik

a. Mulut, terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan pecah-pecah

(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (Cated tongue), sementara ujung dan

tepinya berwarna kemerahan, dan jarang disertai tremor.

b. Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung (Meteorismus). Bisa terjadi

konstipasi, atau mungkin diare atau normal.

c. Hati dan limpa membesar disertai dengan nyeri pada perabaan.


3. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1 DS : ibu klien mengatakan Proses Infeksi Hipertermi
badan anaknya panas Salmonelathypi
DO : klien tampak lemas,
akral teraba hangat, suhu
diatas 37,5oC
2 DS : ibu klien mengatakan Proses Inflamasi Nyeri
anaknya nyeri. Skala nyeri 4
DO : wajah klien tampak
menahan nyeri, suhu diatas
37,5oC, klien tampak gelisah
dan merintih, nafsu makan
berkurang
3 DS : ibu klien mengatakan Anoreksia (Mual Resiko nutrisi
nafsu makan berkurang dan dan Muntah) kurang dari
muntah-muntah kebutuhan
DO : klien tampak muntah
dan penurunan berat badan

4. Diagnosa Keperawatan

a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

b. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

c. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia

5. Rencana Tindak Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


1 Hipertermi Setelah dilakukan tindakan a. observasi
berhubungan keperawatan selama ....  jam tanda – tanda vital
dengan proses diharapkan suhu tubuh normal Pantau aktifitas
infeksi dengan KH: Mempertahaankan kejang
suhu tubuh dalam batas normal b. Pantau hidrasi
Berikan kompres
air biasa
c. Pemberian terapi
obat anti piretik
sesuai  progra

2 Nyeri Setelah dilakukan tindakan a. monitor KU


berhubungan keperawatan selama ....  jam b. kaji tingkat nyeri
dengan proses diharapkannyeri  berkurang,dengan intensitas dan skala
inflamasi KH: Skala nyeri menjadi 3 Pasien nyeri
nampak lebih rileks Pasien mampu c. jelaskan penyebab
mengontrol nyeri nyeri
d. ajarkan teknik
distraksi relaksasi
(nafas dalam)
e. posisikan pasien
senyaman mungkin
f. kolaborasi dengan
tim medis
pemberian obat
analgesik
3 Resiko nutrisi etelah dilakukan tindakan a. Kaji pola dan
kurang dari keperawatan selama ....  jam kebiasaan makan
kebutuhan kebutuhan nutrisi adekuat dengan b. Observasi adanya
berhubungan kriteria hasil : n tidak muntah Porsi muntah
dengan makan yang disediakan habis c. Menganjurkan
anoreksia keluarga untuk
memberi makanan
dalam porsi kecil
tapi sering dan
tidak merangsang
produksi asam
(biskuit)
d. Memberikan terapi
pemberian cairan
dan nutrisi sesuai
program
e. Memberikan terapi
pemberian anti
emetik sesuai
program
LAPORAN KASUS

Ruang : Anyelir

Tanggal masuk : 8 maret 2021

Jam : 12.30

No.RM : 48 05 36

Identitas Pasien

Nama : An. S

Tgl Lahir : 25 Maret 2006

Agama : Islam

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : -

Status Perkawinan : Belum Kawin

Alamat : soreang

Diagnosa Medis : Demam Thypoid

Tanggal pengkajian : 8 maret 2021

Jam : 17.45

Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. L

Umur : 45 Tahun

Agama : Islam

Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT

Status Perkawinan : Kawin

Alamat : Soreang

Hubungan : Ibu

A. Pengkajian

k. Alasan utama masuk RS

Klien mengatakan nyeri perut sejak 2 hari sebelum masuk RS, demam sejak 3 hari

sebelum masuk RS. Nafsu makan hilang, lemah. Kien tidak berobat sebelum

dibawa ke RS dan tidak minum obat apapun, kemudian klien dibawa ke RSU

Soreang masuk IGD jam 07.10, TD : 110/70 mmHg, N: 90x/ menit, RR 15x/menit,

S: 38C, diberikan terapi IVFD Ringer Lactat 12 tpm, inj. omeprazol 40mg,

inj.ondansentron ,ketorolac 30 mg.

l. Keluhanutama

Nyeri perut

m. Riwayat kesehatan sekarang

Klien mengatakan nyeri perut sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,nyeri

dirasakan seperti di tusuk-tusuk, terus menerus dan tidak menjalar, skala nyeri 5

dari skala 0-10 , nyeri bertambah jika selesai makan dan berkurang bila istirahat

keluhan nyeri disertai demam.

n. Riwayat kesehatan masa lalu

Klien tidak pernah mempunyai penyakit menular seperti tbc ,hepatitis .klien

pernah dirawat 2 tahun yang lalu karena penyakit maag.

Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga klien tidak ada yang menpunyai riwayat pennyakit keturunan seperti

hipertensi,diabetes militus,penyakit jantung,Asma,TBC.


46
17
15
12

45

o. Genogram:

 Keterangan Genogram

= Laki-laki

= perempuan

= Tinggal serumah

= Keluarga yang sakit

= Hubungan keluarga

= Anggota keluarga yang meninggal karena sakit tapi tidak

diketahui penyebab sakitnya. Tidak ada penyakit keturunan dan

penyakit menular keluarga


p. Riwayat pengobatan/alergi : Klien tidak mempunyai riwayat pengobatan, klien juga

tidak mempunyai riwayat alergi baik makanan, minuman, maupun obat

q. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

Sakit sedang

2. Sikap : Gelisah Kesadaran CM GCS = 15 E3 M6 V5

3. Pendengaran

Klien dapat mendengar dengan normal,fungsi telinga kiri dan kanan baik,tidak

memakai alat bantu pendengaran,tidak ada gangguan pendengaran


4. Penglihatan

Klien dapat melihat dengan normal, tidak memakai alat bantu penglihatan,

konjungtiva ananemis, sklera tidak ikterik, pupil isokhor 2/2mm, tidak ada

kebutaan dan tidak ada katarak

5. Pengecapan

Klien mengatakan pengecapannya terasa pahit, lidah kotor, tampak putih.

6. Penciuman

Sistem presepsi sensori penciuman klien baik dan normal,tidak terdapat

gangguan penciuman.

7. Peraba

sistem presepsi sensori perabaan klien baik dan normal,tidak terdapat gangguan

sistem presepsi sensori perabaan.

8. Sistem Pernafasan

Klien tidak mempunyai riwayat bronkitis, asma, tuberkolusis, emfisema,

pneumonia, tidak merokok, bentuk dada simetris, pengembangan dada simetris

antara kanan dan kiri, suara nafas bersih, tidak ada nafas cuping hidung,

fremitus teraba simetris antara kanan dan kiri, tidak sianosis. Pengembangan

paru simetris, irama nafas teratur

9. Sistem Kardiovaskuler

Tekanan Darah : 110/70 mmHg


Nadi : 90 x/m

Suhu : 38,04C

Irama : teratur

Kekuatan : kuat

Akral : hangat

Pengisian kapiler : < 2 detik

Edema : Tidak ada

10. Sistem Saraf Pusat

Kesadaran :Composmetis

GCS :15 E3 M6 V5

Bicara : normal

Pupil : isokor ukuran kanan/kiri :2/2

Orientasi waktu ; Klien dapat menyebutkan waktu dengan baik yaitu saat

pengkajian waktu pagi.

Orientasi orang : Klien dapat menyebutkan nama diri sendiri dan mengenali

orang-orang di sekelilingnya.

Orientasi tempat : Klien mengetahui bahwa dia berada di rumah sakit.

11. Sistem Gastrointestinal

Kehilangan selera makan : klien mengatakan selera makan berkurang.

Mual/Muntah: klien tidak mual muntah

Alergi :tidak ada alergi makanan

Masalah mengunyah atau menelan : tidak ada


Berat badan biasa sebelum sakit :41 kg

Berat badan setelah sakit :40 kg

perubahan berat badan : -Berat badan sekarang : 40 kg

Tinggi badan : 140 m

Bentuk badan : normal

Turgor kulit : lembab

Mukosa : membran mukosa

kering

12. Sistem Moskuloskeletal

Rentang gerak : terbatas

Keseimbangan cara berjalan : tegap

Kemampuan memenuhi ADL :dibantu

Kekuatan otot :

5 5

5 5

13. Sistem Intergumen

Warna kulit : putih

Turgor kulit : Baik/ lembab

Memar : Tidak ada

Lain :-

14. Riwayat Immunisasi

f. BCG: tuntas

g. DPT: tuntas
h. Polio: tuntas

i. Campak: tuntas

j. Hepatitis: tidak pernah

15. Riwayat Tumbuh Kembang

c. Pertumbuhan Fisik

- Berat badan : Tidak tahu

- Tinggi badan : Tidak tahu

- Waktu tumbuh gigi : Lupa, bulan, Tanggal gigi: Belum

d. Perkembangan Tiap tahap

- Berguling : Ibu klien mengatakan lupa

- Duduk: Ibu klien mengatakan lupa

- Merangkap: Ibu klien mengatakan lupa

- Berdiri Ibu klien mengatakan lupa

- berjalan 1 Tahun

- Senyum kepada orang lain pertama kali : Ibu klien mengatakan lupa

- bicara pertama kali: Ibu klien mengatakan lupa

- Berpakaian tanpa bantuan: Ibu klien mengatakan lupa


r. Data Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

Tgl pemeriksaan: 1 maret 2021 jam 07.30

Tabel 3.1
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi

Paket Darah Otomatis Hasil Satuan Nilai Normal


Hemoglobin L 11.5 g/dL 11.3-15.5
Leukosit 5.1 10^3/uL 3.6- 11.0
Hematokrit 35 % 35-47
Eritrosit 4.6 10^6/uL 3.80-5.20
Trombosit 300 10^3/uL 150-400
MCH L 25 Pg 26-34
MCHC 33 g/dL 32-36
MCV L 76 Fl 4-8
DIFF COUNT
Eosinofil 1.80 % 1-6
Basofil 0.20 % 0-1
Netrofil 54.30 % 50-70
Limfosit 36.00 % 22-40
Monosit 7.70 % 4-8
Golongan Darah O
Rapid test Negatif
Widal

TYPHI O POS 1/360


TYPHI H Negatif
PARATYPHI Negatif
O-A
PARATYPHI Negatif
O-B
s. Terapi Yang Diberikan

Tabel 3.2
Terapi
Terapi Yang Jam Pemberian
Diberikan
IVFD Ringer
Lactat 12 Tpm
Inj.ceftriaxone 08.00
1 x 1000 mg
Inj.omeprazol 08.00
1x40mg
Inj.ketorolac 3 x 08.00 16.00 24.00
1 amp
Sukralfat 3x 1 08.00 16.00 20.00
cth
Parasetamol 3 08.00 16.00 20.00
x 500 mg
Curcuma 3 x 08.00 16.00 20.00
200 mg
Tabei 3.3
Klasifikasi Data

Data Subyektif Data Obyektif


1. Klien mengatakan nyeri di perut kanan 1. Kesadaran Composmetis
bagian atas. GCS:14 E3 M6 V5
P : Klien merasakan nyeri perut sejak 2. wajah tampak menahan sakit
2 hari sebelum masuk rumah sakit. 3. Klien tampak lemas, pucat, tidak
R : perut bagian kanan atas kuadran 1 nafsu makan.
S : nyeri skala 5 4. klien tampak gelisah
T : nyeri terus-menerus 5. Akral hangat
2. Klien mengatakan lemas 6. Membran mukosa kering
3. Klien mengatakan lidah terasa pahit, 7. BAK 70-80cc, 2-3x/hari
nafsu makan berkurang 8. klien tampak lemah
9. TD :110/70 mmHg
RR : 15 x/menit
N : 88x/menit
S : 38 oC
CRT: < 2 detik
BB sebelum masuk 41
kg BB Sesudah masuk
40 kg THYPI POST
1/360
IMT
17,9kg/m2 Hb
L11,5 g/dL
Limfosit 36%
10. Diit BK, habis ¼ porsi  250cc,
minum 1 gelas 300cc
B. Analisa Data

Nama Klien : An.S Hari / Tgl : senin 8-3-21

No. RM : 48 05 36 Ruang Rawat : anyelir

Tabel 3.4
Analisa Data
SYMPTO ETIOLOGI PROBLEM
M
DS : bakteri masuk ke aliran darah Nyeri akut
- Klien mengatakan nyeri di ↓ inflamasi
perut kanan bagian atas hati & limfa
P : Klien merasakan nyeri ↓ Mengaktifkan
perut sejak 2 hari sebelum mediator kimia
masuk rumah sakit. (Histamin dan bradikinin)
R : perut bagian kanan atas ↓
kuadran 1 Menstimulasi pelepasan
S : nyeri skala 5 prostaglandin di hipotalamus
T : nyeri terus-menerus ↓
DO : Nyeri dipersepsikan(nyeri
- Composmetis (GCS:14 E3 M6 kolik)
V5) ↓
- wajah tampak menahan sakit Nyeri
- TD :110/70 mmHg Akut
RR : 15 x/menit
N : 88x/menit
S : 38 oC
CRT: < 2 detik
- lab THYPI POST 1/400

DS : Bakteri masuk kedalam aliran Hipertermia


- Klien mengatakan lemas darah
DO: ↓
- klien tampak gelisah Bakteri mengeluarkan
- Akral hangat endotoksin
- Membran mukosa kering ↓
- BAK 70-80cc, 2-3x/hari Hipotalamus
- TD :110/70 mmHg ↓
RR : 15x/menit Hipertermi
N :88x/menit
S : 38 oC
DS: Bakteri salmonella thypi Nutrisi kurang
- Klien mengatakan lidah terasa ↓ dari kebutuhan
SYMPTO ETIOLOGI PROBLEM
M
pahit, nafsu makan berkurang Masuk lewat makanan tubuh

DO: Saluran pencernaan
- klien tampak lemah ↓
- Klien tampak lemas, pucat, Lambun
tidak nafsu makan. g
- BB sebelum masuk 41 ↓
kg BB Sesudah masuk Nafsu makan menurun
40 kg ↓
- Diit BK, habis ¼ porsi  Resiko nutrisi kurang dari
250cc, minum 1 gelas kebutuhan tubuh
300cc
- IMT 17,9kg/m2
- Hb L11,5 g/dL
- Limfosit 36%
C. Pathway Kasus Masalah Keperawatan

Salmonella Typhi

Saluran Pencernaan

Usus Halus

Aliran darah

Organ RES (hati & linfa)

Imflamasi

Mengaktifkan Bakteri mengeluarkan Lambung


mediator kimia endotoksin
(Histamin dan
Mual, napsu
bradikinin)
makan menurun
Hipotalamus

Menstimulasi
pelepasan Hiperterm Nutrisi kurang
prostaglandin di i dari
hipotalamus kebutuhan
tubuh
Nyeri
dipersepsikan(nyeri
kolik)

Nyeri Akut
D. Diagnosa Keperawatan (Berdasarkan Prioritas)

Diagnosa Keperawatan (Berdasarkan Prioritas)


Tanggal No Diagnosa Kepeawatan Kode
1/3/21 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera 00132
biologis (imflamsi hati) ditandai dengan:
DS :
- Klien mengatakan nyeri di perut kanan
bagian atas
P : Klien merasakan nyeri perut sejak 2
hari sebelum masuk rumah sakit.
R : perut bagian kanan atas kuadran 1
S : nyeri skala 5
T : nyeri terus-menerus
DO :
- Composmentis (GCS:14 E3 M6 V5)
- wajah tampak menahan sakit
- TD :110/70 mmHg
RR : 15 x/menit
N : 88x/menit
S : 38 oC
CRT: < 2 detik
- lab THYPI POST 1/400

1/3/2021 2 Hipertermia berhubungan proses infeksi 00007


DS :
- Klien mengatakan lemes
DO:
- klien tampak gelisah
- Akral hangat
- Membran mukosa kering
- BAK 70-80cc, 2-3x/hari
- TD :110/70 mmHg
RR : 15x/menit
N :88x/menit
S : 38 oC
1/3/2021 3 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 00002
berhubungan dengan penurunan napsu makan DS:
- Klien mengatakan lidah terasa pahit, nafsu
makan berkurang
Tanggal No Diagnosa Kepeawatan Kode
DO:
- klien tampak lemah
- Klien tampak lemas, pucat, tidak nafsu
makan.
- BB sebelum masuk 41
kg BB Sesudah masuk
40 kg
- Diit BK, habis ¼ porsi  250cc, minum 1
gelas 300cc
- IMT 17,9kg/m2
- Hb L11,5 g/dL
- Limfosit 36%
E. Intervensi Keperawatan

Nama Klien : An. S Hari / Tgl : senin, 8 maret 2021


No. RM : 48 05 36 Ruang Rawat : anyelir

Intevensi Keperawatan
Rencana Tindakan Keperawatan
Hr/Tgl Diagnosa Keperawatan Tindakan
Tujuan/Kriteria Hasil
(NIC)
(NOC)
Senin Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera NOC: NIC:
1-3-21 biologis (imflamsi hati) ditandai dengan: Manajemen Nyeri
DS : Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri
- Klien mengatakan nyeri di perut kanan secara komperhensif
bagian atas 1. Klien melaporkan termasuk lokasi,
P : Klien merasakan nyeri perut sejak 2 nyeri berkurang karakteristik, durasi
hari sebelum masuk rumah sakit. 2. Klien dapat mengenal frekuensi, kualitas dan factor
R : perut bagian kanan atas kuadran 1 lamanya (onset) nyeri presipitasi.
S : nyeri skala 5 3. Klien dapat 2. Observasi adanya petunjuk
T : nyeri terus-menerus menggambarkan faktor nonverbal mengenai
DO : penyebab ketidaknyamanan
- Composmentis (GCS:14 E3 M6 V5) 4. Klien dapat 3. Kendalikan faktor
- wajah tampak menahan sakit menggunakan teknik lingkungan yang dapat
- TD :110/70 mmHg non farmakologis mempengaruhi respon
RR : 15 x/menit 5. Klien menggunakan pasien terhadap
N : 88x/menit analgesic sesuai ketidaknyamanan (misalnya,
S : 38 oC suhu ruangan, pencahayaan,
Rencana Tindakan Keperawatan
Hr/Tgl Diagnosa Keperawatan Tindakan
Tujuan/Kriteria Hasil
(NIC)
(NOC)
CRT: < 2 instruksi suara bising)
detik lab THYPI 4. Ajarkan tentang teknik non
POST 1/360 Pain Level farmakologi (teknik
relaksasi nafas dalam)
1. Klien melaporkan 5. Dukung istirahat/tidur yang
nyeri berkurang adekuat untuk membantu
2. Klien tidak penurunan nyeri
tampak mengeluh
dan menangis Pemberian analgesik
3. Ekspresi wajah 6. Cek adanya riwayat alergi
klien tidak obat.
menunjukkan nyeri 7. Cek perintah pengobatan
4. Klien tidak gelisah meliputi obat, dosis, dan
frekuensi
1.
Monitor tanda-tanda vital
Monitor tekanan darah, nadi,
suhu dan status pernapasan
dengan tepat

Senin Hippertermia berhubungan proses NOC : NIC:


1/3/2021 infeksi (penyakit) Thermoregulation Perawatan Demam
DS : Kriteria Hasil : 1. Pantau suhu dan tanda- tanda
- Klien mengatakan lemes 1.Suhu tubuh dalam rentang vital lainnya (tekanan darah,
DO: normal nadi dan
- klien tampak gelisah 2.Nadi dan RR dalam rentang pernapasan)
Rencana Tindakan Keperawatan
Hr/Tgl Diagnosa Keperawatan Tindakan
Tujuan/Kriteria Hasil
(NIC)
(NOC)
- Akral hangat normal 2. Monitor warna dan suhu
- Membran mukosa kering 3.Tidak ada perubahan warna kulit
- BAK 70-80cc, 2-3x/hari kulit dan tidak ada keluhan 3. Tutup pasien dengan
- TD :110/70 mmHg pusing selimut atau pakaian ringan
RR : 15x/menit tergantung pada fase demam
N :88x/menit 4. Kompres pasien pada lipat
S : 38 oC paha dan aksila
5. Berikan cairan intravena
6. Kolaborasi pemberian
terapi antipiretik, antibiotik
atau agen anti menggigil

Senin Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh NOC : NIC :


1/3/202 berhubungan penurunan napsu makan Nutritional Status : food Nutrition Monitoring
1 DS: and Fluid Intake 1. Monitor adanya penurunan
- Klien mengatakan lidah terasa pahit, Kriteria Hasil berat badan
nafsu makan berkurang 1. Tidak ada tanda-tanda 2. Monitor interaksi anak atau
DO: malnutrisi orangtua selama makan
- klien tampak lemah 2. Menunjukkan peningkatan 3. Monitor turgor kulit
- Klien tampak lemas, pucat, tidak nafsu fungsi pengecapan dan 4. Monitor kekeringan,
makan. menelan rambut kusam, dan mudah
- BB sebelum masuk 41 3. Tidak terjadi penurunan patah
kg BB Sesudah masuk berat badan yang berarti 5. Monitor mual dan muntah
40 kg 4. Mampu mengidentifikasi 6. Monitor kadar albumin,
- Diit BK, habis ¼ porsi  250cc, minum 1 kebutuhan nutrisi total protein, Hb, dan kadar
Rencana Tindakan Keperawatan
Hr/Tgl Diagnosa Keperawatan Tindakan
Tujuan/Kriteria Hasil
(NIC)
(NOC)
gelas 300cc Ht
- IMT 17,9kg/m2
- Hb L11,5 g/dL
- Limfosit 36%

F. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Nama Klien : An. S Hari / Tgl : Kamis, 12 Juli 2018


No. RM : 48 05 36 Ruang Rawat : Lambu Barakati Anak

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


Hari/Tgl/ Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
Jam Keperawatan Dx
Senin, Senin , 4 jan 2021 (jam 20.10)
2/3/2021
18.00 1. Monitor tanda-tanda vital 00132, 00007 1 S:
Hasil : & 00002  Klien mengatakan perutnya masih
Tekanan darah: 110/80 mmHg sakit
Nadi : 89 x/menit O:
Suhu : 38,0 oC  Tekanan darah: 100/80 mmHg
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
Pernapasan : 23 x/menit  Skala nyeri 5
 Klien nampak meringis dan
2. Lakukan pengkajian nyeri secara 00132 merintih
komperhensif termasuk lokasi, A:
karakteristik, durasi frekuensi, kualitas  Masalah nyeri belum teratasi
dan faktor presipitasi. P : Intervensi dilanjutkan
Hasil :  Lakukan pengkajian nyeri secara
Klien mengeluh nyeri pada perut bagian komperhensif termasuk lokasi,
uluhati. Dengan skala nyeri 6 dan nyerila karakteristik, durasi frekuensi,
hilang timbul kualitas dan factor presipitasi.
 Observasi reaksi nonverbal dari
18.30 3. Observasi reaksi nonverbal dari 00132 ketidak nyamanan
ketidaknyamanan.  Observasi tanda-tanda vital.
Hasil : Klien nampak meringis dan  Kontrol lingkungan yang dapat
merintih. mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
18.30 4. Memonitor adanya penurunan berat 00002 kebisingan berulang).
badan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
Hasil : BB saat ini 40 dan BB sebelumnya menentukan intervensi.
41 kg  Ajarkan tentang teknik non
farmakologi (teknik relaksasi
18.35 5. Mengajarkan tentang teknik non 00132 nafas dalam)
farmakologi (Teknik nafas dalam)  Berikan analgetik untuk
Hasil : Klien Nampak mengikuti apa yang mengurangi nyeri
diajarkan (teknik relaksasi nafas dalam )
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
6. Memonitor mual dan muntah  Tingkatkan istirahat
18.37 Hasil : klien mengatakan masih mual 00002
tetapi tidak muntah 2 S:
 Ibu pasien mengatan badan
7. Menganjurkan klien untuk meningkatkan anaknya masih hangat
18.38 istirahat. 00132, 00007 O: o
Hasil : klien nampak mengerti dengan & 00002  Suhu : 37,0
apa yang dianjurkan dan akan c
melakukannya.  Kulit teraba hangat
A:
8. Mengompres pasien pada lipat paha dan  Masalah hipertermi belum
18.45 aksila 00007 teratasi
Hasil : mengompres lipatan paha dan P : Intervensi tetap dilanjutkan
perut dengan handuk hangat  Pantau suhu dan tanda-tanda
9. Mengontrol lingkungan yang dapat vital lainnya (tekanan darah, nadi
18.45 mempengaruhi nyeri seperti suhu 00132 & dan pernapasan)
ruangan, pencahayaan dan kebisingan 00007  Monitor warna dan suhu kulit
berulang)  Kompres pasien pada lipat paha
Hasil : Membatasi pengunjung dan dan aksila
mengontrol kebisingan  Berikan cairan intravena
 Kolaborasi pemberian terapi
10. Memonitor interaksi anak atau orangtua antipiretik, antibiotik atau agen
20.10 selama makan 00002 anti menggigil
Hasil : anak nampak malas makan 3
S:
11. Memonitor mual dan muntah
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
Hasil : klien mengatakan masih mual 00002  Klien mengatakan malas makan
tetapi tidak muntah O:
 Klien nampak malas makan
 Porsi makan tidak dihabiskan
 BB : 40 kg
A:
 Masalah nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Selasa, Selasa, 5 jan 2021 (jam 07.200)
2/3/2021
1. Monitor tanda-tanda vital 00132, 00007 1 S:
07.30 Hasil : & 00002  Klien mengatakan perutnya masih
Tekanan darah: 100/80 mmHg sakit
Nadi : 92 x/menit O:
Suhu : 37,0 oC  Tekanan darah: 110/80 mmHg
Pernapasan : 23 x/menit  Skala nyeri 4
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
 Klian nampak merintih
2. Lakukan pengkajian nyeri secara 00132 A:
07.36 komperhensif termasuk lokasi,  Masalah nyeri belum teratasi
karakteristik, durasi frekuensi, kualitas P : Intervensi dilanjutkan
dan faktor presipitasi.  Lakukan pengkajian nyeri secara
Hasil : komperhensif termasuk lokasi,
Klien mengeluh nyeri pada perut bagian karakteristik, durasi frekuensi,
uluhati. Dengan skala nyeri 4 dan nyerila kualitas dan factor presipitasi.
hilang timbul  Observasi reaksi nonverbal dari
ketidak nyamanan
3. Observasi reaksi nonverbal dari 00132  Observasi tanda-tanda vital.
07.36 ketidaknyamanan.
 Kontrol lingkungan yang dapat
Hasil : Klien nampak merintih
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
4. Menganjurkan untuk melakukan teknik 00132 kebisingan berulang).
07.45 non farmakologi (Teknik nafas dalam dan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
distraksi) menentukan intervensi.
Hasil : Klien mengatakan ia melakukan
 Ajarkan tentang teknik non
yang telah diajarkan perawat.
farmakologi (teknik relaksasi
5. Menganjurkan klien untuk meningkatkan 00132, 00007
nafas dalam)
istirahat. & 00002
 Berikan analgetik untuk
Hasil : klien mengatakan ia susah untuk
mengurangi nyeri
tidur
 Tingkatkan istirahat
6. Mengompres pasien pada lipat paha dan 00007
08.48 aksila 2
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
Hasil : mengompres lipatan paha dan S:
perut dengan handuk hangat  Ibu pasien mengatan badan
anaknya masih hangat
7. Mengontrol lingkungan yang dapat 00132 & O: o
10.45 mempengaruhi nyeri seperti suhu 00007  Suhu : 37,0
c
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
berulang)  Kulit teraba hangat
Hasil : Membatasi pengunjung dan A:
mengontrol kebisingan.  Masalah hipertermi belum
teratasi
8. Menyambung cairan 00132, 00007 P : Intervensi tetap dilanjutkan
11.10 Hasil : terpasang cairan RL (20 tpm) & 00002  Pantau suhu dan tanda-tanda
vital lainnya (tekanan darah, nadi
9. Memonitor interaksi anak atau orangtua 00002 dan pernapasan)
11.20 selama makan  Monitor warna dan suhu kulit
Hasil : anak nampak malas makan  Kompres pasien pada lipat paha
dan aksila
10. Memonitor mual dan muntah  Berikan cairan intravena
Hasil : klien mengatakan masih mual  Kolaborasi pemberian terapi
tetapi tidak muntah antipiretik, antibiotik atau agen
3 anti menggigil

S:
 Klien mengatakan malas makan
O:
 Klien nampak malas makan
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
 Porsi makan tidak dihabiskan
 BB : 40 kg
A:
 Masalah nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht

Rabu, Rabu.6 Jan (jam 08.00)


3/1/2021
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
07.20 1. Monitor tanda-tanda vital 00132, 00007 1. S:
Hasil : & 00002  Klien mengatakan perutnya
07.25 Tekanan darah: 110/80 mmHg masih sakit tapi makin
Nadi : 90 x/menit berkurang
Suhu : 37,0 oC
Pernapasan : 24 x/menit O:
 Tekanan darah: 110/70 mmHg
07.25 2. Lakukan pengkajian nyeri secara 00132  Skala nyeri 2
komperhensif termasuk lokasi,
A:
karakteristik, durasi frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi.  Masalah nyeri belum teratasi
Hasil : P : Intervensi dilanjutkan
Klien mengatakan perutnya masih sakit,  Lakukan pengkajian nyeri secara
skala nyeri 3 dan nyeri hilang timbul komperhensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi frekuensi,
07.40 3. Menganjurkan untuk melakukan teknik 00132 kualitas dan factor presipitasi.
non farmakologi (Teknik nafas dalam dan  Observasi tanda-tanda vital.
distraksi)  Kontrol lingkungan yang dapat
Hasil : Klien mengatakan ia melakukan mempengaruhi nyeri seperti suhu
yang telah diajarkan perawat. ruangan, pencahayaan dan
kebisingan berulang).
07.41 4. Menganjurkan klien untuk meningkatkan 00132, 00007  Ajarkan tentang teknik non
istirahat. & 00002 farmakologi (teknik relaksasi
Hasil : klien mengatakan ia susah untuk nafas dalam)
tidur  Berikan analgetik untuk
10.15 5. Mengontrol lingkungan yang dapat 00132 & mengurangi nyeri
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
mempengaruhi nyeri seperti suhu 00007  Tingkatkan istirahat
ruangan, pencahayaan dan kebisingan 2
berulang) S:
Hasil : Membatasi pengunjung dan  Ibu pasien mengatan badan
mengontrol kebisingan. anaknya tidak sehangat seperti
kemarin-kemarin
11.20 6. Menyambung cairan 00132, 00007 O: o
Hasil : terpasang cairan RL (20 tpm) & 00002  Suhu : 36,9
c
 Kulit teraba hangat
12.25 7. Memonitor interaksi anak atau orangtua 00002 A:
selama makan
 Masalah hipertermi teratasi
14.10 Hasil : anak nampak malas makan
P : Intervensi dihentikan
8. Memonitor mual dan muntah 3
Hasil : klien mengatakan masih mual
tetapi tidak muntah S:
 Klien mengatakan masih malas
makan
O:
 Klien nampak malas makan
 Porsi makan tidak dihabiskan
 BB : 40 kg
A:
 Masalah nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
belum teratasi
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
P : Intervensi dilanjutkan
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht

Kamis, Kamus, 7 Jan 2021 (jam 07.45)


4/1/2021
08.05 1. Monitor tanda-tanda vital 00132, 00007 1 S:
Hasil : & 00002  Klien mengatakan perutnya
Tekanan darah: 110/70 mmHg masih sakit namun tidak
Nadi : 84 x/menit mengganggu
Suhu : 36,7 oC
Pernapasan : 25 x/menit O:
 Tekanan darah: 100/70 mmHg
08.10 2. Lakukan pengkajian nyeri secara 00132
komperhensif termasuk  Skala nyeri 2
lokasi, karakteristik, durasi frekuensi,
A:
kualitas dan faktor presipitasi.
Hasil :  Masalah nyeri teratasi
Klien mengatakan sakit perutnya sangat P:
berkurang , skala nyeri 2 dan nyeri hilang
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
timbul  Intervensi dihentikan

08.10 3. Menganjurkan untuk melakukan teknik 00132 2 S:


non farmakologi (Teknik nafas dalam dan  Klien mengatakan masih malas
distraksi) makan
Hasil : Klien mengatakan ia melakukan O:
yang telah diajarkan perawat.  Klien nampak malas makan
 Porsi makan tidak dihabiskan
08.15 4. Menganjurkan klien untuk meningkatkan 00132, 00007
 BB : 40 kg
istirahat. & 00002
A:
Hasil : klien mengatakan ia susah untuk
tidur  Masalah nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
11.00 5. Mengontrol lingkungan yang dapat 00132 & belum teratasi
mempengaruhi nyeri seperti suhu 00007 P : Intervensi dilanjutkan
ruangan, pencahayaan dan kebisingan  Monitor adanya penurunan
berulang) berat badan
Hasil : Membatasi pengunjung dan  Monitor interaksi anak atau
mengontrol kebisingan. orangtua selama makan
 Monitor mual dan muntah
11.20 6. Monitor interaksi anak atau orangtua 00002  Monitor kadar albumin, total
selama makan protein, Hb, dan kadar Ht
Hasil : anak nampak malas makan

7. Memonitor mual dan muntah


Hasil : klien mengatakan masih mual
Hari/Tgl Kode Dx. No
Tindakan Keperawatan Evaluasi
/ Jam Keperawatan Dx
tetapi tidak muntah

12.30 8. Menyambung cairan 00132, 00007


Hasil : terpasang cairan RL (20 tpm) & 00002
DAFTAR PUSTAKA

Ardiyansyah. M. (2012).Medikal Bedah. Jakarta: diva press

Magdalena. (2018). KTI tentang Asuhan Keperawatan Pada "An. S" Dengan
Gangguan Sistem Pencernaan (Demam Thypoid) Di Ruang Lambu
Barakati Anak Rsu Bahteramaskendari. Kendari : Poltekes Kendari.

Rudholph, Abraham M, Julien I.E Hoffman, Colin D. Rudolph. (2014).


Buku ajar pediatric Rudolph volume 1. Jakarta: EGC.

Smeltzer & Bare. (2012). Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC.
Vol. 3 | No. 3 | Desember 2019 | Jurnal Medical Profession 220
(MedPro)

Anda mungkin juga menyukai