Anda di halaman 1dari 3

Apakah pertimbangan majelis hakim dalam putusan PTUN Semarang

No.049/G/2015/PTUN.Smg, yang menyatakan “tidak ditemukan adanya


pelanggaran AsasasasUmum Pemerintahan yang Baik (AUPB)” sudah tepat?
Berikan argumentasi anda!.
(Putusan tersebut berkaitan dengan kasus PLTU Batang, yang mana dalam
sengketa tersebut yang menjadi objek gugatan adalah Surat Keputusan Gubernur
Jawa Tengah Nomor: 590/35 Tahun 2015 tentang penunjukan Unit Induk
Pembangunan VIII PT. PLN (Persero) untuk melakukan pembebasan tanah
menggunakan Undang-undang No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi
Kepentingan Umum )
Jawaban
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) merupakan prinsip yang digunakan
sebagai acuan penggunaan wewenang bagi pejabat pemerintahan dalam
mengeluarkan
keputusan dan/atau tindakan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Di Indonesia,
AUPB merupakan salah satu bentuk upaya perlindungan hukum berdasarkan hukum
tidak tertulis.AUPB diterapkan dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggara
pemerintahan serta mendukung pelaksanaan reformasi birokrasi setelah diterbitkannya
Undang-Undang Administrasi Pemerintahan Nomor 30 tahun 2014. Kehadiran UU yang
terdiri atas 89 pasalini dimaksudkan untuk menciptakan hukum, mencegah terjadinya
penyalahgunaan wewenang, menjamin akuntabilitas badan dan/atau Pejabat
Pemerintah, memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat. Prof. Kuntjoro
Purbopranoto dalam bukunya “Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan Dan
Peradilan Administrasi Negara” menjelasakan 13 Asas Umum Pemerintahan yang baih
diantaranya:
1. Asas bertindak cermat (principle of carefulness)
2. Asas motivasi untuk setiap keputusan pangreh (principle of motivation)
3. Asas Kepastian Hukum (principle of legal security)
4. Asas Kesamaan (dalam pengambilan keputusan pangreh) atau (principle of equality)
5. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal (principle of undoing the
consequencesof an annualed decision).
6. Asas menanggapi pengharapan yang wajar (principle of meeting raised expection)
7. Asas kebijaksanaan (sapientia)
8. Asas jangan mencampuradukkan kewenangan (principle of non misuse
ofcompetence)
9. Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasonabless or prohibition of
arbitrariness)
10. Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of public service)
11. Asas keseimbangan (principle of proportionality)
12. Asas permainan yang layak (principle of fair play)
13. Asas perlindungan atas pandangan hidup (principle of protecting the personal way
of life)
Sedangkan menurut UU Administrasi Pemerintahan AUPB terdiri dari 8 (delapan) asas
yaitu:
1. Asas Kepastian Hukum
2. Asas Kemanfaatan
3. Asas Ketidakberpihakan
4. Asas Kecermatan
5. Asas Tidak Menyalahgunakan kewenangan
6. Asas Keterbukaan
7. Asas Kepentingan Umum
8. Asas Pelayanan yang Baik
9. AUPB lain sepanjang dijadikan penilaian hakim dalam suatu putusan.
Dalam putusannya, majelis hakim menolak seluruh gugatan Penggugat atas Surat
Keputusan(SK) Gubernur Jawa Tengah No. 590/35/2015 tertanggal 30 Juli 2015
tentang persetujuan penetapan lokasi pengadaan tanah sisa lahan seluas 125.146
meter persegi untuk pembangunan PLTU Jateng 2×1000 megawatt di Batang. Kuasa
Hukum penggugat mengatakan, yang menjadi persoalan dari sengketa ini adalah
bahwa masyarakat pemilik lahan tidak dilibatkan dalam proses sosialisasi dan
konsultasi publik serta pembuatan Berita Acara Persetujuan pengadaan tanah untuk
pembangunan PLTU Batang. Dari 27 orang pemilik lahan, hanya 1 orang yang hadir
dalam sosialisas jadi terkesan hanya formalitas saja. Sehingga dikatakan penerbitan SK
oleh Gubernur cacat prosedur. Saya menilai penerbitan SK tersebut tidak memenuhi
asas keterbukaan sehingga pertimbangan majelis hakim dalam utusan PTUN
Semarang No. 049/G/2015/PTUN.Smg, yang menyatakan “tidak ditemukan adanya
pelanggaran Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB)” adalah Tidak Tepat.
Keputusan majelis hakim tersebut juga kurang cermat dan adil bagi masyarakat
setempat.
Pembangunan PLTU Batang sudah sejak tahun 2011 hingga sekarang ditentang
keberadaanya oleh masyarakat Batang. Pembangunan ini menghancurkan lahan
seluas 226 hektare lahan persawahan produktif di Kabupaten Batang. Jika
pembangunan ini tetap dilakukan ribuan kepala keluarga di Desa Ujungnegoro, Desa
Karanggeneng dan Desa Ponowareng kehilangan mata pencaharian. Ribuan nelayan
akan terganggu tangkapan ikannya akibat hilir mudik tongkang batubara serta akibat
limbahnya, serta ribuan penduduk lainnya akan terganggu kesehatannya akibat polusi
udara yang ditimbulkan dari operasional PLTU terbesar di Asia Tenggara ini. Akan
banyak pelanggaran hak asasi manusia jika pembangunan PLTU ini tetap
dilaksanakan.
Sumber Referensi:
- BMP ISIP4131/MODUL6 - Sistem Hukum Indonesia
- https://elsam.or.id/ptun-semarang-tolak-gugatan-warga-batang-ajukan-kasasi/
- https://pemerintah.net/asas-asas-umum-pemerintahan-yang-baik-aupb/

Anda mungkin juga menyukai