Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 1

TUGAS AKHIR PROGRAM

DEBORA INTANIDA NOVIYANTI

041839528

S1 AKUNTANSI

UPBJJ UT DENPASAR

TUGAS TUTORIAL KE 1
Soal:
No Tugas Tutorial
1 Menjelaskan mengenai perkembangan akuntansi
yang ada di Indonesia secara singkat

2. Menjelaskan perbedaan antara auditing dengan


jasa assurance

3. Menjelaskan mengenai penjelasan dan perbedaan


utama dari pendekatan saintifik dan naturalis dalam
penelitian akuntansi

4. Menyebutkan dan Menjelaskan dampak jika sebuah


perusahaan tidak melakukan aktivitas
pertanggungjawaban sosial
5. Menjelaskan hubungan antara akuntansi
internasional dengan International Financial
Standar Reporting Statement (IFRS)
Jawaban:
1. Menjelaskan mengenai perkembangan akuntansi yang ada di Indonesia secara
singkat
Akuntansi mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1642, akan tetapi bukti yang
jelas terdapat pada pembukuan Amphioen Societeit yang berdiri di Jakarta sejak 1747.
Selanjutnya akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanah paksa dihapuskan
pada tahun 1870. Hal ini mengakibatkan munculnya para pengusaha swasta Belanda
yang menanamkan modalnya di Indonesia. Praktik Akuntansi di Indonesia dapat
ditelusuri pada era Penjajahan Belanda sekitar abad 17 atau sekitar tahun 1642
(Soemarso, 1995). Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat
di temui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen
Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta (Soemarso, 1995). Pada era ini Belanda
mengenalkan sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) sebagaimana
yang dikembangkan oleh luca pacioli.
Awal sejarah adanya standar akuntansi keuangan di Indonesia adalah ketika
menjelang diadakan pasar modal aktif di Indonesia tahun 1973. Pada tahun 1973
terbentuk panitia penghimpunan bahan-bahan dan struktur GAAP dan GAAS. Pada
tahun tersebut juga dibentuk komite prinsip akuntansi Indonesia (komite PAI) yang
bertugas menyusun standar keuangan. Ini merupakan masa awal IAI menerapkan sistem
standar akuntansi di Indonesia yang dituangkan di dalam buku berjudul “Prinsip
Akuntansi Indonesia (PAI)”. Komite PAI telah bertugas selama empat periode
kepengurusan  IAI sejak tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang selalu di
perbarui. Selanjutnya pada periode kepengurusan IAI tahun 1994 – 1998 nama komite
PAI diubah menjadi komite standar akuntansi keuangan (komite SAK), kemudian pada
kongres VIII, tanggal 23 – 24 September 1998 di Jakarta, komite SAK diubah menjadi
Dewan Standar AKuntansi Keuangan untuk masa bakti 1998 – 2000 dan diberikan
otonomi untuk menyusundan mengesahkan PSAK. Pada tahun 1984, komite PAI
membuat sebuah revisi standar akuntansi dengan cara lebih mendasar jika dibandingkan
PAI 1973 dan mengkondisikan ke dalam sebuah buku berjudul “Prinsip Akuntansi
Indonesia 1984” Prinsip tersebut memiliki tujuan untuk membuat suatu kesesuaian
terhadap ketentuan akuntansi yang dapat diterapkan di dalam dunia bisnis.
Pada tahun 1994, IAI telah melakukan berbagai langkah harmonisasi menggunakan
standar akuntansi internasional di dalam proses pengembangan standar akuntansi dan
melakukan revisi total pada PAI 1984 dan sejak itu mengeluarkan Standar Keuangan
yang diberi nama Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan sejak 1 Oktober
1994. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) ditetapkan sebagai standar akuntansi yang
baku di Indonesia. Perkembangan standar akuntansi ketiga ini ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan dunia usaha dan profesi akuntansi dalam rangka mengikuti dan
mengantisipasi perkembangan Internasional. Banyak standar yang dikeluarkan itu sesuai
atau sama dengan standar akuntansi internasional yang di keluarkan oleh IASC.

Sekarang ini standar akuntansi yang disusun :


 PSAK IFRS
 PSAK ETAP
 PSAK Syariah
 PSAK EMKM
 SAP

2. Menjelaskan perbedaan antara auditing dengan jasa assurance


Auditing adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti
secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan
menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
Sedangkan Jasa Assurance adalah jasa profesional independen yang meningkatkan
mutu informasi bagi pengambil keputusan. Pengambil keputusan memerlukan informasi
yang andal dan relevan sebagai basis untuk pengambilan keputusan. Jasa assurance
bermanfaat untuk meningkatkan kualitas informasi yang akan dijadikan basis
pengambilan keputusan. Jasa assurance dapat disediakan oleh profesi akuntan publik
atau berbagai profesi lain. Salah satu kategori jasa assurance yang diberikan oleh akuntan
public adalah jasa atestasi, sedangkan jasa assurance yang diberikan oleh profesi lain
adalah jasa pengujian berbagai produk oleh organisasi konsumen (non profit
organization), jasa pemeringkatan televisi (television rating), dan lain-lain.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a) Jasa assurance merupakan lingkaran besar yang mencakup salah satunya
adalah jasa auditing, jasa atestasi dll. Jasa assurance lebih umum daripada jasa
auditing
b) Objek yang dituju adalah informasi berupa asersi.
c) Sama-sama memiliki standar umum, standar pelaporan, dan standar lapangan
d) Membutuhkan indepedensi auditor
e) Menekankan pada peningkatan kualitas informasi yang digunakan decision
maker

3. Menjelaskan mengenai penjelasan dan perbedaan utama dari pendekatan


saintifik dan naturalis dalam penelitian akuntansi

Perbedaan dari penelitian menggunakan metode saintifik atau ilmiah dengan


pendekatan naturalis, yaitu:
a) Pendekatan Saintifik:
 Menggunakan struktur teori
 Struktur teori digunakan untuk membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis
 Pendekatan ilmiah melakukan setting artifisial misalnya dengan metode eksperimen
dengan manipulasi beberapa variabel
 Pendekatan saintifik menolak bahwa teori membumi di datanya dan beragumentasi
bahwa “facts do not speak for themselves”
 Pendekatan saintifik membutuhkan pengujian secara kuantitatif dan statistik.

b) Pendekatan Naturalis:
 Tidak menggunakan struktur teori karena lebih bertujuan menemukan teori, bukan
memverifikasi teori, kecuali jika tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau
menemukan keterbatasan suatu teori
 Hipotesis jika ada sifatnya implisit, tidak eksplisit
 Pendekatan naturalis menolak bentuk terstruktur dari riset. Pendekatan naturalis juga
menolak pengaturan-pengaturan riset secara artificial. Penelitian naturalis lebih
menggunakan dan menjaga setting alamiah dimana phenomena atau perilaku yang
akan diamati terjadi
 Sejalan dengan konsep grounded theory yang dikembangkan oleh Glaser dan Straus
(1967) yang percaya bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori
adalah dengan menemukannya dari data. Pendekatan ini mengganggap bahwa teori
grounded di datanya
 Pengikut grounded theory termasuk yang mengembangkan metode penelitian
eksplorasi yang tidak menggunakan data kuantitatif dan tidak menggunakan teknik
statistik untuk menyimpulkan hasil yang diobservasi. Metode naturalis dan metode
eksplorasi bersifat kualitatif menggunakan data kuantitatif.

4. Menyebutkan dan Menjelaskan dampak jika sebuah perusahaan tidak


melakukan aktivitas pertanggungjawaban social

Setiap bentuk perusahaan mempunyai tanggungjawab untuk mengembangkan


lingkungan sekitarnya melalui program-program sosial seperti program pendidikan
dan lingkungan dan lain sebagainya. Yang demikian itu disebut corporate social
responsiblity (CSR) Wibisono (2007:7). Corporate Social Responsibility (CSR)
merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan
memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat
ataupun masyarakat luas, bersaman dengan peningkatan taraf hidup pekerja beserta
keluarganya (Wibisono, 2007:7).

Corporate Social Responsibility adalah Suatu tindakan yang bersifat sukarela


maupun yang telah diatur undang – undang, dengan tujuan untuk menunjukan sifat
kepedulian sebuah perusahaan maupun lembaga terhadap karyawan, masyarakat
sekitar perusahaan, masyarakat luas, lingkungan sekitar perusahaan/lingkungan secara
luas sebagai komitmen tanggung jawab berkelanjutan perusahaan dengan
menyisihkan sejumlah dana untuk kemanusiaan. Penerapan program CSR merupakan
salah satu bentuk implementasi dari konsep tata kelola perusahaan yang baik (Good
Coporate Governance).
Adapun bentuk tanggung jawab sosial perusahaan seperti:
a. Tanggung jawab sosial kepada konsumen
Tanggung jawab sosial perusahaan kepada konsumen tidak hanya seputar
masalah penyediaan produk atau jasa saja tetapi juga harus memperhatikan
aspek-aspek lain. Merujuk pendekatan utilitarian, maka perusahaan harus
menghasilkan produk atau jasa yang memiliki banyak manfaat kepada
masyarakat.
b. Tanggung jawab sosial kepada karyawan
Perusahaan wajib memberikan rasa aman dan nyaman kepada karyawannya,
memperlakukan karyawan dengan adil. Selain itu, perusahaan juga
memberikan kesempatan dan fasilitas untuk pengembangan diri karyawan.

c. Tanggung jawab sosial kepada kreditor


Misalnya pada saat perusahaan harus menyelesaikan kewajiban atau
utangnya namun ia sedang memiliki masalah keuangan maka perusahaan
wajib memberitahukan kepada kreditor.

d. Tanggung jawab kepada pemegang saham


Perusahaan juga bertanggung jawab kepada pemegang saham. Sehingga
dalam operasional nya, perusahaan juga harus memastikan keputusan yang
diambil juga untuk kepentingan pemegang saham.

e. Tanggung jawab sosial kepada lingkungan


Tanggung jawab ini berkaitan dengan lingkungan, misal dengan tidak
membuang limbah sembarangan, mencegah polusi disekitar tempat usaha,
mencegah penggunaan bahan berbahaya. Jadi perusahaan diharapkan ramah
terhadap lingkungan.

f. Tanggung jawab sosial kepada komunitas


Tanggung jawab sosial ini dapat dilakukan dengan cara memberikan
corporate social responsibility atau CSR. Memberikan bantuan seperti sarana
prasarana untuk pendidikan, kesehatan, infrastuktur, wadah usaha atau hal
lain yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Berikut beberapa contoh perusahaan yang sudah melakukan CSR :
a) Danone (Air Mineral Aqua)
Danone melakukan program CSR disebut WASH (water access, sanitation,
hygiene program) yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
lingkungan masyarakat pra-sejahtera dan berkontribusi secara aktif serta
berkelanjutan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang berhubungan
dengan penyediaan air bersih di Indonesia. Program inikita kenal dengan “1 liter
aqua untuk 10 liter air bersih”.

b) PT Sinde Budi Sentosa (Larutan Cap Badak)


PT Sinde Budi Sentosa (Larutan Cap Badak) melakukan program CSR dengan
cara melestarikan habitat Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Program
ini atas kerjasama antara Sinde dan WWF Indonesia, dimana sinde mendonasikan
dana dari hasil penjualan produknya untuk program pelestarian Badak Jawa.

c) Pertamina
Pertamina berkomitmen dalam program CSR-nya dengan membantu pemerintah
indonesia dalam memperbaiki indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia
melalui pelaksanaan program-program yang membantu tercapainya target
pembangunan, dan membangun hubungan harmonis serta kondusif dengan semua
pihak stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung tercapainya tujuan
perusahaan terutama dalam membangun reputasi perusahaan.

Manfaat CSR (Corporate Social Responsibility)


1. Manfaat Bagi Masyarakat
CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat, ini akan sangat tergantung dari
orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank
Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR
meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber
daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan
kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR
membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban
sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di
tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan
keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai
koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty).
Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan
masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung,
dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar
ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan
kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan
menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.
Intinya manfaat CSR bagi masyarakat yaitu dapat mengembangkan diri dan usahanya
sehingga sasaran untuk mencapai kesejahteraan tercapai.

2. Manfaat Bagi Perusahaan


a) Meningkatkan Citra Perusahaan
Dengan melakukan kegiatan CSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan
sebagai perusahaan yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi masyarakat.

b) Memperkuat “Brand” Perusahaan


Melalui kegiatan memberikan product knowledge kepada konsumen dengan cara
membagikan produk secara gratis, dapat menimbulkan kesadaran konsumen akan
keberadaan produk perusahaan sehingga dapat meningkatkan posisi brand
perusahaan.

c) Mengembangkan Kerja Sama dengan Para Pemangku Kepentingan


Dalam melaksanakan kegiatan CSR, perusahaan tentunya tidak mampu
mengerjakan sendiri, jadi harus dibantu dengan para pemangku kepentingan,
seperti pemerintah daerah, masyarakat, dan universitas lokal. Maka perusahaan
dapat membuka relasi yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebut.

d) Membedakan Perusahaan dengan Pesaingnya


Jika CSR dilakukan sendiri oleh perusahaan, perusahaan mempunyai kesempatan
menonjolkan keunggulan komparatifnya sehingga dapat membedakannya dengan
pesaing yang menawarkan produk atau jasa yang sama.
e) Menghasilkan Inovasi dan Pembelajaran untuk Meningkatkan Pengaruh
Perusahaan
Memilih kegiatan CSR yang sesuai dengan kegiatan utama perusahaan
memerlukan kreativitas. Merencanakan CSR secara konsisten dan berkala dapat
memicu inovasi dalam perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan peran
dan posisi perusahaan dalam bisnis global.

Dampak jika sebuah perusahaan tidak melakukan aktivitas pertanggungjawaban


social:
1. Melanggar Peraturan Pemerintah
Di Indonesia, kewajiban terkait tanggung jawab sebuah perusahaan diatur dalam
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan
Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perseroan Terbatas. Dalam Pasal 74 ayat 1 UU No. 40 Tahun 2007 disebutkan bahwa,
“Perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan
dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan”. Sedangkan dalam Pasal 2 PP No. 47 Tahun 2012 disebutkan bahwa,
“Setiap Perseroan selaku subjek hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan
lingkungan”. Sebuah perusahaan yang mengabaikan tanggung jawab sosial berarti
tidak menaati peraturan pemerintah. Hal ini dapat berdampak serius terhadap
keberlangsungan dan kesuksesan bisnis perusahaan untuk kedepannya karena akan
berhadapan dengan hukum.

2. Memiliki Citra atau Reputasi yang Buruk


Perusahaan yang tidak menjalankan CSR berpeluang lebih besar memiliki citra buruk
secara sosial dan lingkungan. Perusahaan akan berhadapan dengan hukum karena
tidak mentaati peraturan perundang-undangan. Protes dan penolakan masyarakat
sekitar yang merasa dirugikan oleh keberadaan perusahaan karena dampak
lingkungan yang ditimbulkan juga tak bisa dihindari. Dampak lainnya perusahaan
dapat merugi karena konsumen lebih memilih kompetitor yang menjalankan CSR
dengan baik. Karena jika suatu perusahaan melakukan CSR dengan baik maka dia
akan memiliki reputasi yang baik sehingga digemari oleh masyarakat.
3. Tidak memiliki daya saing
Dengan tidak melaksanakan CSR maka peluang untuk semakin dikenal atau memiliki
karakteristik ataupun citra khusus akan hilang. Disaat perusahaan lain bergerak gesit
melakukan CSR dengan baik sehingga dapat menaikan reputasi serta laba perusahaan
tersebut.

5. Menjelaskan hubungan antara akuntansi internasional dengan International


Financial Standar Reporting Statement (IFRS)

Akuntansi Internasional muncul dengan semakin meningkatnya arus


perdagangan antar negara ditengah perekonomian dunia yang semakin tidak ada
batas. Perbedaan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan hukum antara satu negara
dengan negara lainnya menyebabkan standar akuntansi yang diterapkan antara negara
satu dengan negara lainnya berbeda dan tidak serta merta valid untuk langsung
diperbandingkan. Perkembangan akuntansi di dunia ini berjalan sendiri-sendiri.
Masing-masing negara memiliki sistem dan konsep sendiri tentang standar
akuntansinya atau mengikuti kubu tertentu. Misalnya saja AASB (Australia
Accounting Standard Board) di Australia, FASB (Financial Accounting Standard
Board) di Amerika, ASB (Accounting Standard Board) di Inggris dan IAI di
Indonesia. Padahal kualitas dapat diperbandingkan (comparability) merupakan
kualitas utama yang harus dimiliki laporan keuangan.

Kubu standar akuntansi yang paling besar ada dua yaitu Kubu Amerika dan
Kubu Eropa. Eropa mengeluarkan IASB Statement dan FASB Statement. IASB
dipakai perusahaan Eropa dan perusahaan yang terdaftar di pasar modal Eropa
sedangkan FASB dipakai perusahaan Amerika dan perusahaan yang terdaftar di pasar
modal Amerika. Pada tahun 2004 International Accounting Standard Committee
(IASC) Foundation memberikan berbagai rekomendasi agar muncul konvergensi di
antara kedua organisasi besar ini sehingga perusahaan publik yang terdaftar di pasar
modal akan mudah dan tidak banyak mengeluarkan laporan dengan standar yang
berbeda.
Diperlukan standar yang berlaku secara internasional dan umum untuk semua
negara dalam melakukan pelaporan keuangan sehingga muncullah International
Financial Reporting Standards atau IFRS. Seiring dengan perkembangan globalisasi,
banyak negara saat ini sudah mengadopsi IFRS daripada mengembangkan standar
sendiri pada negaranya. Pada tahun 2005, 65 negara tetap mewajibkan International
Financial Reporting Standar (IFRS) untuk perusahaan yang terdaftar di bursa dan
sampai saat ini sudah lebih 800 perusahaan publik menggunakan standar akuntansi
IASC.
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh
International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional
(International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia
yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC),
Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi
Internasioanal (IFAC).
Refrensi

Buku Materi Pokok EKSI4308/3 SKS/Modul 1


https://ecolify.org/blog/mengapa-perusahaan-harus-melakukan-csr
https://solusiakuntansiindonesia.com/perkembangan-akuntansi-di-
indonesia/#:~:text=Akuntansi%20mulai%20diterapkan%20di%20Indonesia,mengakibatkan
%20munculnya%20para%20pengusaha%20swasta
https://dosenakuntansi.com/perkembangan-akuntansi
https://www.ruangguru.com/blog/sejarah-akuntansi-di-dunia-dan-indonesia
http://pustakabakul.blogspot.com/2013/04/defenisi-pengertian-csr-dan-bentuk-csr.html
http://yudiprayudi46.wordpress.com/2012/11/30/definisi-csr-dalam-etika-bisnis/
https://datakata.wordpress.com/2014/11/12/corporate-social-responsibility/
https://accounting.binus.ac.id/2017/06/14/mengapa-perusahaan-harus-melakukan-corporate-
social-responsibility-csr/
http://nazyajunaidi.blogspot.com/2019/11/tugas-akhir-program-eksi4500-hubungan.html
https://chattoer.wordpress.com/2011/07/14/hubungan-ifrs-tanggung-jawab-sosial-dan-
pendidikan-akuntansi-di-indonesia/