Anda di halaman 1dari 2

1.

ABSTRACT

Research on public service motivation (PSM) has made great strides in terms of study output.

Given the enormous scholarly attention on PSM, it is surprising that considerable conceptual

ambiguities and overlaps with related concepts such as prosocial motivation, and altruism still

remain. This study addresses this issue by systematically carving out the differences and similarities
between these concepts. Taking this approach, this study clarifies the conceptual space of

both PSM and the other concepts. Using data from semi-structured interviews with police officers,

it is illustrated that PSM and prosocial motivation are different types of motivation leading to

different types of prosocial behaviour.

ABSTRAK
Penelitian tentang motivasi pelayanan publik (PSM) telah membuat langkah besar dalam hal
hasil studi.
Mengingat perhatian ilmiah yang sangat besar pada PSM, mengejutkan bahwa konseptual
cukup besar
ambiguitas dan tumpang tindih dengan konsep terkait seperti motivasi prososial, dan
altruisme masih
tetap. Studi ini membahas masalah ini dengan secara sistematis mengukir perbedaan dan
persamaan di antara konsep-konsep ini. Mengambil pendekatan ini, penelitian ini
mengklarifikasi ruang konseptual
baik PSM maupun konsep lainnya. Menggunakan data dari wawancara semi-terstruktur
dengan petugas polisi,
diilustrasikan bahwa PSM dan motivasi prososial adalah jenis motivasi yang berbeda
berbagai jenis perilaku prososial.

2. Government Employees’ Organizational Citizenship Behavior: The Impacts of Public


Service Motivation, Organizational Identification, and Subjective OCB Norms

Perilaku Kewarganegaraan Organisasi Pegawai Pemerintah: Dampak dari Motivasi Layanan

Publik, Identifikasi Organisasi, dan Norma OCB Subyekti

ABSTRACT
This study attempts to provide an increased understanding of the antecedents of public
employees’ organizational citizenship behavior (OCB). Using a field survey involving
public employees working for Korean local government organizations, the data analyses
reveal that public service motivation (PSM), organizational identification, subjective
OCB norms, task interdependence, and procedural justice are important antecedents of
government employees’ OCB, even after partialling out the common method variance,
whereas job satisfaction and distributive justice are not.

ABSTRAK
Penelitian ini berupaya untuk memberikan pemahaman yang meningkat tentang anteseden
perilaku kewargaan organisasional (OCB) pegawai negeri. Menggunakan survei lapangan
yang melibatkan karyawan publik yang bekerja untuk organisasi pemerintah lokal Korea,
analisis data mengungkapkan bahwa motivasi pelayanan publik (PSM), identifikasi
organisasi, norma-norma OCB subyektif, saling ketergantungan tugas, dan keadilan
prosedural adalah anteseden penting OCB pegawai pemerintah, bahkan setelah partialling out
varians metode umum, sedangkan kepuasan kerja dan keadilan distributif tidak.

3. Work motivation and public service motivation: disentangling varieties of motivation


and job satisfaction

Motivasi kerja dan motivasi pelayanan publik: menguraikan varietas motivasi dan kepuasan
kerja
ABSTRACT Research on motivation in the public sector has used public service motivation
(PSM) and self-determination theory (SDT) interchangeably. This paper compares both
theories, develops hypotheses pertaining to their assumptions, and empirically tests them in
two public offices in Switzerland. We then explore their relationship with job satisfaction as
an indicator of predictive validity. We find that SDT and PSM display conceptual
differentiation and SDT has a strongest relationship to job satisfaction. However, moderation
analysis suggests that employees with high levels of PSM have more stable job satisfaction
compared to their low-PSM counterparts

ABSTRAK
Penelitian tentang motivasi di sektor publik telah menggunakan motivasi pelayanan publik
(PSM)
dan teori penentuan nasib sendiri (SDT) secara bergantian. Makalah ini membandingkan
keduanya
teori, mengembangkan hipotesis yang berkaitan dengan asumsi mereka, dan secara empiris
mengujinya di dua kantor publik di Swiss. Kami kemudian mengeksplorasi hubungan mereka
dengan kepuasan kerja sebagai indikator validitas prediktif. Kami menemukan SDT dan PSM
menampilkan diferensiasi konseptual dan SDT memiliki hubungan terkuat dengan pekerjaan
kepuasan. Namun, analisis moderasi menunjukkan bahwa karyawan dengan level tinggi
PSM memiliki kepuasan kerja yang lebih stabil dibandingkan dengan PSM yang rendah

4.