Anda di halaman 1dari 4

LENSI JUMIATI -020847954-T2-EKMA4157

1. Perilaku birokrasi pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara individuindividu


dengan organisasinya Thoha (2002:185). Individu membawa ke dalam tatanan
birokrasi kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan dan
pengalamannya. Sedangkan birokrasi sebagai sistem untuk merasionalkan tindakan
manusia dengan adanya keteraturan yang baku, pembagian kerja, tugas jabatan,
wewenang dan tanggung jawab, sistem penggajian serta sistem pengendalian.
Perbedaan-perbedaan karakteristik individu mempengaruhi perilaku organisasi.
Pejabat birokrasi memiliki faktor pribadi yang mempengaruhi sikap dan perilaku
mereka dalam menjalankan tugas organisasi. Karakteristik birokrasi menentukan pola
perilaku pegawai dalam mencapai tujuan organisasi. Faktor struktur, tugas, sistem
reward, sistem pengendalian dan pengawasan serta hubungan hirarki dapat
mempengaruhi pegawai dalam berperilaku. Orientasi utama perilaku adalah mencapai
tujuan organisasi birokrasi. Perilaku birokrasi dapat timbul karena adanya interaksi
antara karakteristik individu dengan birokrasi dalam menjalankan tugasnya. Thoha
(1991), kemudian mengartikan perilaku birokrasi sebagai hasil interaksi antara
individu-individu, organisasi dengan lingkungannya. Dalam penelitian ini yang
dimaksudkan dengan perilaku birokrasi adalah pola interaksi antar individu,
organisasi dan lingkungan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Birokrat memiliki kemampuan, sikap dan motivasi. Sementara birokrasi sebagai suatu
sistem memiliki ciri berupa adanya desain pekerjaan, rentang kendali, sistem karier
dan sistem penghargaan dan sanksi. Keith Davis (1985:223) menyebutkan bahwa
terdapat empat model perilaku organisasi sesuai dengan kecenderungan perubahan,
yaitu model otokratik, model kustodial, model suportif dan model kolegial.
Kecenderungan model ini searah dengan kecenderungan perubahan pengelolaan
organisasi yang menekankan pada kebutuhan tingkat tinggi, yaitu sistem yang
terbuka, orientasi manusia, penyebaran kuasa, motivasi instrinsik, sikap posistif
tentang orang-orang, keseimbangan fokus pada kebutuhan pegawai dan organisasi,
swadisplin dan peran manajemen atas dasar kepemimpinan dan dukungan tim.
Dari perspektif model perilaku organisasi seperti tersebut diatas, Davis, (1985:224)
menjelaskan kecenderungan perubahan perilaku organisasi dari karakteristik yang
tertutup kearah sistem terbuka, dari orientasi materialistik ke orientasi manusia,
pemusatan kekuasaan kearah penyebaran kekuasaan. Pegawai memiliki motivasi
ekstriksik menjadi motivasi instriksik. Setiap orang memiliki sikap negatif terhadap
orang menjadi memiliki sikap positif terhadap orang lain. Dalam penelitian ini pola
perilaku birokrasi mengacu pada pola yang dikemukakan oleh Davis (1985) pola
otokratik, pola kustodial (pemeliharaan), pola suportif dan pola kolegial. Pola
merupakan abstraksi empiris tentang perilaku birokrasi atas kenyataan yang terjadi
sebagai akibat adanya tuntutan dari birokrasi untuk melaksanakan misinya dan
tuntutan birokrat untuk memenuhi kebutuhannya. Pada model di atas jelas terdapat.
dua sumbu yang saling berinteraksi. Sumbu yang satu berkaitan dengan tuntutan dari
birokrasi untuk melaksanakan misinya dengan efisien dan efektif, sementara pada
sumbu yang lain adalah tuntutan pejabat/birokrat untuk memenuhi kebutuhannya.
Jadi, secara ekstrim, perilaku birokrasi yang dapat memenuhi kedua kepentingan,
yaitu kepentingan organisasi dan kepentingan birokrat secara optimal merupakan
model perilaku kolegial. Sebaliknya, perilaku birokrasi yang lebih dominan
memenuhi kepentingan birokrat ketimbang kinerja birokrasi disebut model perilaku
otoriter.

2. Kompleksitas menunjukkan derajat diferensiasi (perbedaan) yang


terjadid a l a m sebuah organisasi, baik diferensiasi ke arah
horizontal, vertikal, m a u p u n spasial (menurut ruang atau
d a e r a h ) . D i f e r e n s i a s i h o r i z o n t a l menggambarkan derajat perbedaan
antara unit-unit organisasi, yaitu unit- unit yang masingmasing
menjalankan fungsi berbeda atau menunjukkan perbedaan antarunit-unit
organisasi ke arah horizontal. Diferensiasi vertikal menunjukkan
b a n y a k n y a h i e r a r k i a t a u t i n g k a t a n y a n g t e r d a p a t d a l a m struktur
organisasi atau menggambarkan perbedaan antar unit-unit organisasisecara vertikal.
Penyebaran atau kompleksitas spasial menunjukkan luas cakupan organisasi
secara geografis, baik yang menyangkut personel maupun f a s i l i t a s n y a . A p a b i l a
d e r a j a t a t a u k a d a r s a l a h s a t u d a r i k e t i g a d i m e n s i tersebut bertambah
maka kompleksitas organisasi akan meningkat.Diferensiasi horizontal
menunjukkan tingkat perbedaan antarunit organisasimenurut orientasi personel,
jenis tugas yang dijalankan, maupun persyaratanpendidikan yang diperlukan untuk
menjalankan tugas tersebut. Makin banyakterdapat jenis dan tugas berbeda dalam
organisasi, yaitu tugas-tugas yangm a s i n g m a s i n g memerlukan
p e n g e t a h u a n d a n k e t e r a m p i l a n k h u s u s (spesialisasi) berarti bahwa
tingkat kompleksitas organisasi semakin tinggi. Tingkat kompleksitas yang
lebih tinggi ini terjadi karena perbedaan orientasiantarunit yang semakin kuat dan
akan membuat komunikasi antara anggotaorganisasi yang berada di unit-unit yang
berbeda akan menjadi lebih sulit, danselanjutnya juga akan membuat manajemen
menghadapi kesulitan ataupunhambatan yang lebih besar untuk melakukan
koordinasi.Semakin banyak posisi atau jabatan spesialisasi yang mengandung
tugas-t u g a s b e r s i f a t k h u s u s d a l a m o r g a n i s a s i m a k a o r g a n i s a s i a k a n
menjadi semakin kompleks sehingga memerlukan metode koordinasi
yang l e b i h sempurna dan tentunya lebih sulit dilaksanakan. Cara
mengelompokkan parap e k e r j a s p e s i a l i s i n i d i s e b u t d e p a r t e m e n t a s i , d i
mana organisasi d i b a g i menjadi departemen-departemen yang
masingmasing mengerjakan tugas yang bersifat khusus. Dengan demikian,
departementasi dapat dikatakan s e b a g a i c a r a y a n g d i g u n a k a n o l e h
o r g a n i s a s i u n t u k m e n g k o o r d i n a s i k a n secara horizontal tugas-tugas yang
saling berbeda.Departementasi bisa ditetapkan melalui perhitungan sederhana,
berdasarkanfungsi, berdasarkan jenis produk atau jasa yang dihasilkan, berdasarkan
jenisklien, berdasarkan lokasi ataupun cakupan geografis, dan juga
berdasarkanproses. Organisasi berukuran besar biasanya menggunakan
lebih banyakcara departementasi. Contoh, segmentasi pertama dilakukan menurut
fungsi(misalnya, dalam suatu organisasi muncul fungsi-fungsi keuangan,
produksi,pemasaran, penjualan, dan lain-lain). Selanjutnya, fungsi-fungsi
ternyata dibagi-bagi lagi secara geografis, baik menurut lokasinya ataupun
menurut besarnya.

3. Organisasi dapat digolongkan atas beberapa klasifikasi. Klasifikasi yang sangat umum
yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Selain itu organisasi dapat juga
diklasifikasi dengan membedakan organisasi primer dan organisasi-organisasi
sekunder, serta digolongkan berdasarkan sasaran/ kepentingan organisasi itu sendiri.
Organisasi formal mempunyai ciri-ciri:
1) bersifat impersonal dan objektif,
2) kedudukan setiap individu berdasarkan fungsi-fungsi masingmasing,
3) terdapat relasi formal berdasarkan alasan-alasan ideal dari status resmi dalam
organisasi, dan
4) memiliki suasana kerja dan komunikasi yang didasarkan pada
kompetisi/persaingan dan efisiensi.
Adapun ciri-ciri organisasi informal adalah:
1) terintregasi dengan baik,
2) di luar kelompok informal terdapat kelompok lebih besar,
3) setiap anggota secara individual mengadakan interelasi berupa jaringan perikatan
yang pribadi atau personal disertai komunikasi akrab,
4) terdapat hubungan psikis suka atau tidak suka, serta
5) setiap anggota mempunyai sikap yang pasti.

Anda mungkin juga menyukai