Anda di halaman 1dari 10

RIVIEW Pertumbuhan Generatif, Pematangan dan Pengguguran

1. Fotoperiodisme
Fotoperiodismw dapat didefinisikan sebagai respon tumbuhan terhadap panjangnya hari
yang akan dapat merangsang pembungaan (Bidwell, 1973, Gardner et al., 1991)

16 jam siang 8 jam malam Tidak berbunga


16 jam siang 16 jam malam berbunga
8 jam siang 8 jam malam Tidak berbunga
8 jam siang 16 jam malam berbunga

Diagram panjang pendek hari/malam terhadap pada pembungaan Xanthium


tumarium(Bidwel, 1973

 Long day plants


- Tumbuhan berhari panjang berbunga jika siang lebih panjang dari pada
malam. (Malam kurang dari 12 jam)
- Jika bagian siang hari disela dengan pemaparan singkat terhadap kegelapan,
tidak ada pengaruh pada perbungaan.
- Contohnya : Kacang Kapri, Lobak, dan Gandum
 Short day plants
- Tumbuhan berhari pendek berbunga jika malam lebih panjang dari pada siang.
(Siang kurang dari 12 jam)
- Jika bagian malam hari disela dengan beberapa menit pemaparan cahaya,
tumbuhan tersebut tidak akan berbunga.
- Contohnya : Bunga serunai, strawberry dan tembakau
 Intermediate day plants
- Tumbuhan berhari sedang berbunga jika terkena penyinaran kira-kira 12 jam
sehari
- Contohnya : Kacang dan tebu
 Day Netral plants
- Tumbuhan yang tidak terpengaruh oleh panjang pendeknya waktu penyinaran
- Contohnya : Mawar, Bunga Matahari dan Mentimun

 FITOKROM
Merupakan reseptor cahaya, suatu pigmen yang digunakan oleh tumbuhan untuk
menyerap (mendeteksi) tumbuhan.
Dalam tumbuhan dijumpai 2 bentuk fitokrom yaitu :
- Pr yang menyerap cahaya merah (660 nm) dan
- PfR yang dapat menyerap cahaya infra merah (730 nm)

Efek fitokrom dibedakan menjadi 3 kategori berdasarkan pada energi yang dibutuhkan :

- Very low fluence responses (VLFR) / respon yang sangat rendah tapi lancar,
- Low fluence responses (LFR) / respon dan aliran rendah,
- High irradiance reactions (HIR) / reaksi pemancaran yang tinggi.

Hormon yang berperan dalam pembungaan adalah Florigen dan Antesin. Antesin dengen
Gibberelin (GA) akan menghasilkan Forigen sehingga terjadi rangsangan pembungaan

2. Vernalisasi
Vernalisasi merupakan induksi pendinginan yang diperlukan oleh tumbuhan sebelum
mulai perbungaan. Organ tumbuhan yang dapat menerima rangsangan vernalisasi yaitu
biji, akar, embrio, pucuk batang. Pada tanaman rozet diperlakukan dengan gibberelin
akan terjadi pemanjangan batang kemudian diikuti dengan pembungaannya.Tumbuhan
dikatakan sudah berbunga apabila bunga sudah membuka atau mekar. Pada bunga yang
sudah membuka sempurna ditemukan bagian-bagian :
a. Pestil (Karpel):
1. Ovarium
2. Ovulum
3. Stilus
4. Stigma
b. Stamen
1. Filamen
2. Anter
c. Petal (Korola)
d. Sepal (Kalik)

3. Pembungaan

Tanda bahwa tanaman memasuki fase generatif, dimana tanaman dapat melakukan
pertumbuhan dengan melibatkan sel gamet. Pembungaan terjadi di meristem ujung atau
terjadinya perubahan meristem apeks vegetatif menjadi meristem apeks generatif (reproduktif).

Tahap-Tahap Pembungaan

1) Induksi bunga (evokasi)  ketika meristem vegetatif diprogram untuk berubah menjadi
meristem generatif (reproduktif) yang terjadi di dalam sel dan dapat dideteksi dengan
cara kimiawi yaitu dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein yang akan
diperlukan saat pembelahan dan diferesiasi sel.
2) Inisiasi bunga  ketika tunas vegetatif menjadi bentuk kuncup generatif bisa dideteksi
dengan cara makroskopis (bentuk dan ukuran kuncup) hingga tahap selanjutnya sampai
membentuk organ generatif.

3) Kuncup bunga menuju anthesis  terjadi proses megasporogenesis dan


mikrosporogenesis serta pematangan organ reproduksi jantan dan betina.

4) Anthesis  pemekaran bunga dan bunga siap menerima serbuk sari.

Faktor yang Berpengaruh pada Fase Reproduktif :


Faktor Internal :
1. Tingkat Kedewasaan setiap jenis tanaman
2. Status Nutrisi (C/N ration) pada tanaman
Faktor Eksternal :
1. Suhu
2. Stress air
3. Cahaya
4. Unsur Hara
Faktor Budidaya :
1. Pemberian ZPT
2. Ringing/Girdling dan Strangulasi
3. Pemangkasan

4. Penyerbukan

Tumbuhan yang sudah berbunga mekar sempurna, akan ditemukan :


Mikrosporogenesis dan Mikrogametogenesis
Mikrosporogenesis
1) Mikrosporogenesis terjadi di stamen, lebih tepatnya di anthera.
2) Di dalam anthera terdapat kantung polen dan sel tapetum.
3) Mikroporosit merupakan sel induk dari mikrospora.
4) Mikroporosit mengalami pembelahan meiosis yang menghasilkan tetrad.
5) Tetrad berpisah menjadi 4 mikrospora/polen.
Mikrogametogenesis
1) Masing-masing mikrospora mengalami pembelahan mitosis yang menghasilkan inti
vegetatif dan sel generatif.

Megasporogenesis
1) Megasporosit (2n) mengalami pembelahan meiosis dua kali dan menghasilkan 4
megaspora (masing-masing bersifat n).
Megagametogenesis
1) 3 diantaranya mengalami degenerasi dan 1 nya akan mengalami pembelahan mitosis
sebanyak 3 kali, menghasilkan 8 inti sel.

Macam-macam penyerbukan
1. Asal serbuk sarinya
- Penyerbukan sendiri (autogami)
- Penyerbukan tetangga (geitonogami)
- Penyerbukan silang (alogami)
- Penyerbukan bastar (hibridogami)
2. Vektornya
- Angin (Anemogamy)
- Air (Hidrogamy)
- Manusia (Antropogamy)
- Hewan (Zoidiogamy)

Fertilisasi yaitu Peleburan gamet jantan dan gamet betina setelah terjadi penyerbukan

Tahapan fertilisasi :
• Polen membelah secara mitosis di kepala putik dan dibantu oleh sukrosa serta boron dan
kalsium.
• Buluh serbuk sari bergerak menuju bakal biji (ovulum)
• Buluh serbuk sari memasuki mikrofil dan menembus nuselus
• Petal menjadi layu
• Embrio istirahat
• Sel sinergid dan antipoda melebur
• Dinding ovarium berkembang
• Endosperm mengalami sitokinesis dengan bantuan hormon
• Embrio tumbuh

Fertilisasi terbagi :

1. Fertilisasi angiospermae Pembuahan ganda  biji dan buah


2. Fertilisasi gymnospermae Pembuahan tunggal  biji

Pematangan pada Buah

1. Pertumbuhan atau growth,  adalah hasil dari pembelahan serta pembesaran sel yang
menentukan ukuran dari buah tersebut.

2. Pemasakan atau maturation,  adalah proses sebelum pertumbuhan berhenti, dan


melibatkan aktivitas tumbuhan tersebut, serta pertumbuhan dan pemasakan termasuk
tahap perkembangan buah

3. Ripening atau pematangan,  adalah proses ini terjadi ketika awal masa pemasakan, pada
proses ini kulit buah mulai menarik tapi buah masih berkembang dalam pematangan

4. Senesen atau senescene, adalah periode pergantian atau perombakan, buah atau tumbuhan
ke penuaan dan kematian jaringan.

Ciri-Ciri Pematangan pada Buah

1. Rasa
Perubahan rasa buah dari asam ke manis disebabkan adanya perubahan asam organik
menjadi gula sederhana.  Pada buah mentah jumlah asam organik terkandung
didalamnya cukup tinggi, sehingga rasa dominan yang didapat adalah rasa asam
tersebut dan terkadang disertai rasa sepat pada lidah. Semakin lama asam oranik
tersebut akan terdegradasi dan semakin berkurang jumlahnya karena . berubah
menjadi gula sederhana yaitu fruktosa dan glukosa.
2. Tekstur
Pada saat mentah, umumnya buah memiliki tekstur yang keras dan semakin melunak
selama proses pematangan. Keras atau lunaknya buah dipengaruhi oleh kandungan
pektin di dalamnya. Pektin dalam buah tekandung dalam bentuk zat pektik yang
mudah terhidrolisa. Selama proses pematangan buah zat pektik akan terhidrolisa
menjadi komponen-komponen yang larut air sehingga total zat pektik akan menurun
kadarnya dan komponen yang larut air akan meningkat jumlahnya yang
mengakibatkan buah menjadi lunak.
3. Warna
Warna hijau pada buah mentah disebabkan oleh kandungan klorofil yang masih tinggi
dan mendominasi warna lainnya yang sebenarnya ada dalam buah tersebut. Selama
proses pematangan buah akan terjadi degradasi klorofil dan muncul warna dari
pigmen-pigmen lain yang “kalah dominan” saat mentah. Sehingga buah berubah
warnanya menjadi kuning, orange, atau merah. 

Respirasi Klimaterik dan NonKlimaterik

1. Buah klimaterik adalah buah yang memiliki kenaikan laju respirasi ke tingkat yang paling
tinggi sebelum pemasakan, sehingga buah cepat mengalami kerusakan atau pembusukan.

Buah-buahan klimakterik yang sudah mature (matang), setelah dipanen secara normal
memperlihatkan suatu laju penurunan respirasi sampai tingkat minimal, yang diikuti oleh
peningkatan laju respirasi yang cepat sampai ke tingkat maksimal, yang disebut puncak
respirasi klimakterik. Bila buah-buahan klimakterik berada pada tingkat maturitas yang
tepat, diekspos etilen dengan konsentrasi tinggi selama beberapa saat, akan terjadi
rangsangan pematangan yang tidak dapat kembali lagi (irreversible ripening).

2. Buah non-klimaterik adalah buah yang tidak mengalami kenaikan atau perubahan laju
respirasi. Proses pematangan buah non-klimaterik terjadi saat buah masih berada pada
pohonnya, sedangkan buah klimaterik akan cepat matang setelah buah dipanen.

Pada buah-buahan non klimakterik terjadi hal yang berbeda, yaitu tidak terjadi kenaikan
laju respirasi yang mendadak. Meskipun buah-buahan tersebut diekspos dengan etilen
kadar yang tinggi, laju respirasinya akan sama dengan apabila terekspos atilen dalam
ruangan. Kalaupun ada, peningkatan laju respirasinya kecil saja. Segera setelah itu, laju
respirasi kembali lagi pada laju kondisi istirahat normal, bila etilennya ditiadakan.

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh pada Tanaman

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam
konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ahli biologi tumbuhan telah mengidentifikasi
5 tipe utama ZPT yaitu auksin, sitokinin, giberelin, asam absisat dan etilen.

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan Fungsinya


ZPT Fungsi Tempat dihasilkannya

Auksin Mempengaruhi pertambahan panjang batang, Meristem apikal tunas ujung, daun
pertumbuhan, diferensiasi dan percabangan akar; muda, embrio dalam biji.
perkembangan buah; dominansi apikal; fototropisme
dan geotropisme.
Sitokinin Mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar; Pada akar, embrio dan buah,
mendorong pembelahan sel dan pertumbuhan secara berpindah dari akar ke organ lain
umum, mendorong perkecambahan; dan menunda
penuaan
Giberelin Mendorong perkembangan biji, perkembangan Meristem apikal tunas ujung dan
kuncup, pemanjangan batang dan pertumbuhan akar; daun muda; embrio.
daun; mendorong pembungaan dan perkembangan
buah; mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi
akar.
Asam Menghambat pertumbuhan; merangsang penutupan Daun; batang, akar, buah berwarna
absisat stomata pada waktu kekurangan air, memper-tahankan hijau
dormansi.
Etilen Mendorong pematangan; memberikan pengaruh Buah yang matang, buku pada
batang, daun yang sudah menua.
yang berlawanan dengan beberapa pengaruh auksin;
mendorong atau menghambat pertumbuhan dan
perkembangan akar, daun, batang dan bunga

AUKSIN

1. Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsi
utama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang.
2. Auksin dihasilkan secara alami oleh tanaman seperti IAA, PAA, dan sisanya yang
merupakan sintetik seperti NAA, 2.4 D, dan MCPA.
Peranan

1. Auksin berperan dalam perpanjangan sel


2. Auksin berperan dalam membentuk akar lateral dan akar adventif

3. Juga berperan sebagai herbisida

4. Mempengaruhi proses differensiasi xylem sekunder

5. Meningkatkan pertumbuhan buah didalam tumbuhan


6. Mempengaruhi pembelahan sel didalam kambium pembuluh

SITOKONIN

1. Sitokinin merupakan ZPT yang mendorong pembelahan (sitokinesis)


2. Beberapa macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal : kinetin, zeatin) dan
beberapa lainnya merupakan sitokinin sintetik.
3. Sitokinin alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif terutama pada akar, embrio
dan buah.
4. Auksin dan Sitokinin bekerja secara berlawanan.
Peranan

1. Mengatur pembelahan dan differensiasi sel


2. Mengontrol dominansi apical/menekan perkembangan tunas aksilar.
3. Menghambat efek penuaan atau pembusukan.

GIBERELIN

1. Ditemukan pada 1926 oleh ilmuwan Jepang (Eiichi Kurosawa)

2. Awalnya ditemukan pada cendawan Gibberella fujikuroi yang menghasilkan suatu


senyawa kimia yang akhirnya diberi nama Giberelin.

3. Saat ini sudah ada lebih dari 110 macam senyawa Giberelin yang biasanya disingkat GA,
tiap GA dikenali dengan angka yang terdapat padanya misalnya GA6 .

Peranan

1. Berperan pada proses perpanjangan batang yaitu perpanjangan dan pembelahan sel.

2. Berperan pada pertumbuhan buah seperti membuatnya lebih besar dan lebih tahan
infeksi.

3. Berperan dalam mempercepat perkecambahan.

ASAM ABSISAT

1. Berperan aktif pada musim panas dan musim dingin untuk membuat tanaman menjadi
dorman (penundaan pertumbuhan).
2. Dinamai dengan asam absisat karena diketahui bahwa ZPT ini menyebabkan
absisi/rontoknya daun tumbuhan pada musim gugur.
3. Dapat menunda pertumbuhan primer dan sekunder jika kondisi tidak cocok untuk
pertumbuhan.
Peranan
1. Menyebabkan dormansi pada biji (menghambat perkecambahan) jika kondisi kurang
menguntungkan.
2. Mencegah kekurangan air pada cuaca kering dengan cara menutup stomata sebelum
kehilangan air lebih banyak lagi.

ETILEN

1. Merupakan hormon perangsang peristiwa klimaterik.


2. Meningkatkan kegiatan enzym-enzym katalase, peroksidase, dan amylase.
3. Termasuk hormon karena besifat mobil dalam jaringan tanaman dan merupakan senyawa
organic.
4. Apabila konsentrasi auxin meningkat maka produksi ethylen pun akan meningkat pula.
5. Pembentukan ethylene dalam jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya
kerusakan-kerusakan mekanis dan infeksi.
6. Aktivitas etilen dapat dipengaruhi oleh suhu.
Peranan
1. Sebagai hormone pematangan
2. Berperan pada proses absisi daun.
3. Mempengaruhi pemeabilitas membrane sel pada tanaman.
4. Sebagai Genetic Depression
5. Merangsang aktivitas ATP-ase dalam metabolisme.